Pendahuluan
Olahraga Hockey merupakan salah satu olahraga permainan tertua di dunia dan sudah dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya olahraga Hockey dipertandingkan di Olimpiade London pada tahun 1908. Olahraga Hockey dimainkan di tingkat amatir hingga tingkat profesional. Pada saat ini Hockey dibagi menjadi beberapa nomor yaitu Hockey Outdoor (lapangan), Hockey Indoor (ruangan) dan Hockey 5's. Ada beberapa hal yang membedakan dari tiga nomor olahraga Hockey tersebut diantaranya ukuran lapangan pertandingan, lama permainan, waktu istirahat, jumlah pemain dan beberapa peraturan pertandingan. Hockey 5's adalah format baru yang di rancang untuk meningkatkan olahraga Hockey agar lebih dikenal secara global melalui pertandingan yang cepat, terampil dan mudah diadaptasi dengan peraturan yang sederhana [7].
Waktu sebuah pertandingan Hockey 5's adalah 10 menit untuk setiap babak dan satu pertandingan terdiri dari tiga babak. Hockey merupakan olahraga permainan dengan serangan dan pertahanan secara berturut-turut. Desain lapangan Hockey 5's ditutupi oleh papan pembatas yang membuat bola selalu berada di lapangan sehingga pertandingan Hockey 5's memiliki intensitas yang sangat tinggi. Untuk menunjang intensitas yang tinggi tersebut, kemampuan fisik pemain harus dipersiapkan secara optimal agar performa pemain tetap prima saat menghadapi pertandingan. Banyak cara untuk mengetahui kemampuan fisik para pemain salah satunya dengan cara mengukur denyut jantung pemain. Dalam pertandingan Hockey Indoor dan Hockey Outdoor tuntutan fisiologis pemain cukup tinggi, sehingga diperlukan indikator pemantauan denyut jantung agar intensitas latihan pun bisa diketahui [9].
Selain pemantauan denyut jantung, pergerakan pemain di lapangan merupakan informasi yang berguna yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan kinerja pemain di berbagai posisi. Beberapa teknologi yang bisa digunakan untuk mengukur pergerakan pemain seperti menggunakan sensor magnetik, infra merah, video, frekuensi radio (RF) dan global position system (GPS). GPS adalah teknologi navigasi berbasis satelit awalnya dirancang untuk keperluan militer. GPS digunakan pertama kali untuk pelacakan atlet pada tahun 1997 [13]. Perangkat GPS banyak digunakan karena ringan, kecil, dan relatif murah. GPS memungkinkan entri data yang cepat melalui analisis otomatis dari beberapa pemain secara bersamaan, sehingga mudah saat melakukan proses analisis [2] [6] [11]. Sejak diperkenalkan di olahraga, GPS digunakan untuk mengukur komponen dasar pemain seperti pola gerakan pemain, kecepatan, dan jarak tempuh. Rincian ini dapat dimanfaatkan untuk menganalisis program latihan, analisis saat pertandingan dan membandingkan kinerja pemain.
Pada saat ini penelitian tentang kinerja pemain Hockey sudah dilakukan di Hockey Outdoor dan Hockey Indoor, akan tetapi belum ada penelitian yang memaparkan kinerja pemain Hockey 5's saat pertandingan. Oleh karena itu perlu adanya penelitian yang memaparkan tentang kinerja pemain Hockey 5's seperti mengukur jarak yang ditempuh oleh pemain, rata-rata kecepatan seorang pemain, rata-rata denyut jantung dan pengeluaran energi pemain yang nantinya bisa di jadikan acuan pembuatan program latihan oleh para pelatih Hockey 5's.
Percobaan
Populasi penelitian ini berasal dari salah satu tim Hockey Perguruan Tinggi yang berada di Bandung. Sampel penelitian berdasarkan purposive sampling [8] dimana purposive sampling berdasarkan kriteria dan ketentuan yang sudah peneliti buat untuk diperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitiannya, oleh karena itu sample penelitian ini terdiri dari 14 pemain Hockey putra dengan kriteria pemain tim Hockey perguruan tinggi, telah bermain Hockey lebih dari tiga tahun, dan tidak dalam keadaan sakit fisik dan kejiwaan.
Untuk pengukuran jarak tempuh, kecepatan, denyut jantung dan pengeluaran energi pemain menggunakan alat Polar RC 3 GPS. Data diambil ketika pemain melakukan satu pertandingan yang terdiri dari tiga babak dengan waktu tiap babaknya selama 10 menit. Rekaman terus menerus dicatat untuk semua pemain dalam satu tim kecuali penjaga gawang. Rekaman hanya di ambil ketika pemain bermain di lapangan tidak termasuk saat istirahat tiap babak dan saat pemain berada di bangku cadangan. Dari hasil kecepatan pemain kita dapat mengetahui aktivitas
pemain, aktivitas pemain di klasifikasikan menjadi 6 kategori , yaitu: stationary (0–0.1 km/h), walking (0.1–6.1 km/h), jogging (6.1–10.1 km/h), striding (10.1–14.4 km/h), dan sprinting (14,4 -32.2 km/h) [5]. Dari hasil denyut jantung pemain kita dapat mengetahui intensitas pemain, dimana intensitas dikategorikan menjadi 4 kategori, yaitu: sangat tinggi (>90% HRmax), tinggi (70-89% HRmax), sedang (55- 69% HRmax), dan rendah (35-54% HRmax) [1].
Hasil dan Pembahasan
Profil dan Data Antropometri
Tabel 1 menunjukan antropometri dari seluruh subjek penelitian berdasarkan kuesioner dan hasil pengukuran fisik masing-masing individu untuk mengetahui dan memahami variasi fisik yang ada pada sampel penelitian ini.
Tabel 1 Antropometri Sampel Penelitian
| Kategori | Putra (n=14) |
|---|---|
| Umur (tahun) | 20,00 ± 1,36 |
| Lama Bermain Hockey (tahun) | 5,14 ± 2,21 |
| Tinggi Badan (cm) | 167,86 ±7,32 |
| Berat Badan (kg) | 58,01 ±11,53 |
| Indeks Masa Tubuh (kg/m2) | 21,76±2,06 |
| Persentase Lemak Tubuh (%) | 13,67 ±4,00 |
| VO2 max (ml/kg/menit) | 52,70 ±2,77 |
Rata-rata usia pemain adalah 20 tahun, dengan ratarata bermain selama 5 tahun. Semua pemain berlatih selama 3 hari dalam seminggu dengan durasi latihan 3-4 jam. Rata-rata tinggi badan sampel penelitian adalah 167, 86 ± 7,32 cm dengan berat badan rata-rata 58,01 ± 11,53 kg. Rata-rata indeks masa tubuh pemain adalah 21,76 ± 2,06 kg/m2, dimana kategori tersebut masuk kedalam rentang normal. Rata-rata persentase lemak tubuh sampel penelitian adalah 13,67 dimana rentang 11-20 % merupakan kategori sedang untuk kategori putra. Untuk rata-rata VO2max sampel adalah 52,70 ml/kg/menit dimana nilai tersebut masuk kedalam kategori sangat baik.
Pengukuran Saat Pertandingan
Fokus penelitian ini adalah pengambilan data parameter-parameter fisiologis pada objek penelitian pemain Hockey 5's. Parameter yang diukur adalah denyut jantung (heart-rate), kecepatan, jarak tempuh, serta pengeluaran energy (energy expenditure).
Pada penelitian ini setiap sampel dihitung seberapa lama dia bermain di lapangan selama pertandingan Hockey 5's. Lama pertandingan Hockey 5's adalah tiga babak dimana waktu tiap babak bermain selama 10 menit. Hasil dari pemantauan lama bermain dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Lama Pemain Bermain (detik)
| Kategori | Babak 1 | Babak 2 | Babak 3 | Total |
|---|---|---|---|---|
| Putra | 310,36±23,34 | 306,43±21,30 | 299,36±15,21 | 916,14±44,00 |
Tabel 3 Denyut Jantung Pemain
| babak 1 | babak 2 | babak 3 | total |
|---|---|---|---|
| 178 ± 5 | 182 ± 5 | 184 ± 5 | 181 ± 4 |
**Perubahan signifikan (p < 0,01) antara babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3
Rata-rata pemain bermain berada di lapangan selama 305,38 ± 4,23 detik tiap babaknya, jika dirubah kedalam menit rata-rata seorang pemain bermain selama 5 menit 5 detik. Untuk total selama pertandingan rata-rata pemain Hockey 5's bermain selama 916,14 ± 44,00 detik jika dirubah kedalam menit adalah 15 menit 16 detik.
Denyut Jantung dan Intensitas Pertandingan
Pemantauan denyut jantung (heart-rate) pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas pertandingan Hockey 5's. Penghitungan denyut jantung dipantau tiap detik menggunakan alat heartrate monitor yang dipasangkan kepada seluruh sampel. Hasil dari pemantauan denyut jantung pemain Hockey 5's dapat di lihat di
Rata-rata denyut jantung meningkat tiap babaknya. Denyut jantung pemain paling tinggi di babak 3 (184 ± 5 bpm), selanjutnya babak 2 (182 ± 5 bpm) dan paling rendah pada babak 1 (178 ± 5 bpm). Hasil analisis signifiikansi dengan menggunakan t-test terdapat perubahan yang signifikan antara denyut jantung babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan antara babak 2 ke babak 3.
Denyut jantung rata-rata yang tercatat selama pertandingan Hockey 5's dalam penelitian ini umumnya lebih tinggi daripada yang tercatat di olahraga permainan lain. Denyut jantung yang lebih tinggi di olahraga Hockey 5's mungkin akibat dari beban yang lebih tinggi pada metabolisme anaerobik dibandingkan dengan olahraga tim lain. Secara relative rata-rata denyut jantung pemain Hockey 5's adalah 82% dari denyut jantung maksimal. Jika
pemain melakukan aktivitas lebih dari 80% dari deyut jantung maksimal maka pertandingan tersebut bisa dikategorikan ke dalam kategori sangan berat [4].
Telah banyak penelitian yang menggambarkan denyut jantung pemain Hockey, tetapi belum ada yang meneliti tentang denyut jantung pemain Hockey 5's. Pemantauan denyut jantung pemain Hockey sudah dilakukan dengan sampel pemain nasional Hockey lapangan putra di New Zealand, rata-rata denyut jantung pemain Hockey lapangan adalah 161 bpm [10]. Berbeda halnya pada penelitian Hockey 5's yang telah dilakukan, rata-rata denyut jantung pemain adalah 181 ± 4 bpm untuk kategori putra. Denyut jantung Hockey 5's lebih tinggi dibanding Hockey lapangan dikarenakan semua garis samping Hockey 5's ditutupi oleh papan pantul yang mengakibatkan bola selalu dalam permainan. Selain itu, jeda istirahat untuk pemulihan jantung tidak terlalu lama, jeda setiap babak hanya berkisar 3 menit hal itu mengakibatkan denyut jantung pemain jarang mengalami penurunan di bawah 150 bpm tidak seperti olahraga lain yang memiliki istirahat yang cukup lama di setiap babaknya.
Denyut jantung dapat juga digunakan sebagai parameter untuk mengetahui intensitas suatu pertandingan. Intensitas dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu: sangat tinggi (>90% HRmax), tinggi (70 - 89% HRmax), sedang (55 - 69% HRmax), dan rendah (35 - 54% HRmax) [1]. Untuk itu dilakukan pengklasifikasian denyut jantung yang akan ditunjukan pada Tabel 4.
Tabel 4 : Persentase Intensitas Pertandingan Putra
| rendah | sedang | tinggi | sangat tinggi | |
|---|---|---|---|---|
| babak 1 | 0,22 ± 0,76 | 3,17 ± 2,54 | 41,38 ± 21,47 | 55,22 ± 23,11 |
| babak 2 | 0,00 ± 0,00 | 0,80 ± 1,18 | 33,81 ± 20,56 | 65,39 ± 21,14 |
| babak 3 | 0,00 ± 0,00 | 0,05 ± 0,18 | 26,04 ± 18,46 | 73,92 ± 18,43 |
* Perubahan signifikan (p < 0,05) di kategori sedang babak 2 ke babak 3
** Perubahan signifikan (p < 0,01) di kategori sedang babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3; kategori tinggi babak 1 ke babak 3; dan kategori sangat tinggi babak 1 ke babak 3
Pada Tabel 4 tentang persentase intensitas pertandingan terlihat bahwa dari semua babak intensitas pertandingan sangat tinggi mendapatkan persentase yang paling tinggi dilanjutkan oleh intensitas tinggi, sedang dan intensitas rendah mendapatkan persentase paling sedikit. Setelah dilakukan uji t-test terdapat perubahan yang signifikan pada kategori sangat tinggi dan tinggi antara babak 1 ke babak 3. Untuk kategori sedang perubahan yang signifikan terlihat di semua babak antara babak 1 ke babak 2, babak 1 ke babak 3 dan babak 2 ke babak 3. Di kategori rendah tidak ada perubahan yang signifikan di semua babak.
Grafik pemain ini menunjukan bahwa intensitas sangat tinggi memiliki persentase terbesar dibandingkan dengan kategori lainnya. Hal ini disebabkan oleh kelelahan pemain saat pertandingan dikarenakan tidak adanya pemulihan jantung yang membuat denyut nadi pemain tidak pernah turun.
Kecepatan Berlari
Pada saat bertanding, kecepatan berlari para pemain diukur menggunakan alat Polar RC 3 GPS dimana alat tersebut bisa merekam kecepatan pemain dengan bantuan Global Positioning System. Polar RC3 GPS dipakai oleh semua sampel, alat ini berbentuk jam tangan yang terhubung langsung ke satelit. Tabel 5 menunjukan rata-rata kecepatan berlari pemain Hockey 5's.
Rata-rata kecepatan pemain menurun tiap babaknya. Rata-rata kecepatan berlari pada babak 1 paling tinggi (6,76 ± 0,47 km/h), selanjutnya babak 2 (6,29 ± 0,75 km/h) dan paling rendah pada babak 3 (6,27 ± 0,66 km/h). Hasil analisis signifiikansi dengan menggunakan t-test terdapat perubahan yang signifikan antara kecepatan berlari babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan antara babak 2 ke babak 3.
Untuk kecepatan berlari pemain telah ada penelitian yang menghitung rata-rata kecepatan pemain berlari saat pertandingan. Kecepatan pemain Hockey lapangan dengan sampel tim nasional Polandia dimana hasil dari penelitian tersebut menyebutkan rata-rata kecepatan pemain Hockey lapangan adalah 8,64 km/h [9], berbeda halnya dengan penelitian Hockey 5's bahwa rata-rata kecepatan pemain saat pertandingan 6,44 km/h. Lebih rendahnya kecepatan pemain Hockey 5's dibandingkan dengan Hockey lapangan disebabkan juga oleh ukuran lapangan Hockey 5's yang lebih sempit sehingga membuat para pemain kurang leluasa berlari dengan kecepatan tinggi. Berbeda halnya dengan penelitian yang pemain futsal bahwa rata-rata kecepatan berlari pemain futsal hampir sama dengan rata-rata kecepatan Hockey 5's yaitu 6,62 km/h [14], hal ini dikarenakan ukuran
lapangan futsal hampir sama dengan ukuran lapangan Hockey 5's.
Jarak tempuh dan Aktivitas Pertandingan
Pada saat pertandingan jarak tempuh seluruh pemain diukur, baik itu antar babak maupun selama pertandingan. Tabel 6 menunjukan rata-rata jarak yang ditempuh atlet di setiap babak.
Dari Tabel 6 untuk kategori putra rata-rata jarak tempuh selama satu pertandingan yaitu 1273,52 ± 105,67 meter dalam waktu rata-rata 15 menit 16 detik. Di kategori putra rata-rata jarak tempuh semakin lama semakin menurun, babak 1 memiliki jarak tempuh yang paling jauh (452,69 ± 58,78 m), selanjutnya babak 2 (420,12 ± 47,66 m) dan paling rendah pada babak 3 (400,70 ± 45,30 m). Hasil analisis signifiikansi dengan menggunakan t-test terdapat perubahan yang signifikan di jarak tempuh babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3 tetapi tidak ada perubahan yang signifikan antara babak 2 ke babak 3.
Perlu ditekankan bahwa jumlah jarak tempuh pemain di lapangan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti fisiologis pemain, level pertandingan, posisi bermain, strategi bertanding, karakteristik dari pertandingan itu sendiri, jumlah waktu bermain dan motivasi pemain. Penurunan jarak yang ditempuh pada babak kedua telah diamati juga dalam penelitian sepak bola [3].
Dalam penelitian sebelumnya tentang olahraga Hockey sudah diukur rata-rata jarak tempuh seorang pemain Hockey selama satu pertandingan. Untuk pemain Hockey lapangan putra rata-rata jarak tempuh pemain putra adalah 10.079 meter dengan rata-rata bermain selama 70 menit [9], jika dilihat dalam satu menit seorang pemain Hockey lapangan putra menempuh jarak sejauh 144 meter. Berbeda halnya dengan penelitian di Hockey 5's, rata-rata seorang pemain putra Hockey 5's menempuh jarak 1273 meter dengan rata-rata waktu bermain selama 15 menit 16 detik, jika dilihat dalam satu meter seorang pemain putra Hockey 5's menempuh jarak sejauh 83 meter. Perbedaan jarak tempuh pemain ini disebabkan oleh fisiologis sampel cukup berbeda, pemain Hockey lapangan putra memiliki tinggi badan 178 cm, sedangkan tinggi badan sampel Hockey 5's adalah 168 cm. Perbedaan tinggi badan tersebut berpengaruh terhadap panjang tungkai pemain dimana panjang tungkai tersebut berpengaruh terhadap panjang langkah. Sudah kita ketahui semakin panjang seseorang melangkah maka semakin jauh pula jarak yang ditempuh oleh orang tersebut dibandingkan dengan seseorang yang memiliki langkah pendek dengan waktu yang sama.
Tabel 5 Kecepatan Berlari Pemain Putra
| babak 1 | babak 2 | babak 3 | total |
|---|---|---|---|
| 6,76 ± 0,47 | 6,29 ± 0,75 | 6,27 ± 0,66 | 6,44 ± 0,46 |
*Perubahan signifikan (p < 0,05) di babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3
Tabel 6 Jarak Tempuh Pemain Putra
| babak 1 | babak 2 | babak 3 | total |
|---|---|---|---|
| 452,69 ± 58,78 | 420,12 ± 47,66 | 400,70 ± 45,30 | 1273,52 ± 105,67 |
* Perubahan signifikan (p < 0,05) di babak 1 ke babak 2
Tabel 7 Aktivitas Pemain Putra (meter)
| Stationary | Walking | Jogging | Striding | Sprinting | |
|---|---|---|---|---|---|
| Babak 1 | 0,00 ± 0,00 | 125,04 ± 22,34 | 163,13 ± 32,98 | 114,69 ± 33,17 | 49,83 ± 39,86 |
| Babak 2 | 0,05 ± 0,14 | 143,71 ± 36,86 | 122,91 ± 32,42 | 102,17 ± 45,56 | 51,29 ± 25,78 |
| Babak 3 | 0,11 ± 0,25 | 148,47 ± 25,38 | 118,21 ± 40,07 | 91,48 ± 37,14 | 42,43 ± 30,23 |
*Perubahan signifikan (p < 0,05) di kategori walking babak 1 ke babak 2
Selain rata-rata jarak tempuh yang di nilai, semua aktivitas pemain pun dicatat dalam penelitian ini. Aktivitas pemain di klasifikasikan menjadi 6 kategori, yaitu: stationary (0–0.1 km/h), walking (0.1–6.1 km/h), jogging (6.1–10.1 km/h), striding (10.1–14.4 km/h), dan sprinting (14,4 -32.2 km/h) [5]. Untuk hasil lebih detail dapat dilihat di Tabel 7
Selama pertandingan Hockey 5's di semua babak pemain putra paling banyak melakukan aktivitas walking selama pertandingan disusul dengan jogging, striding, sprinting dan yang paling sedikit melakukan aktivitas stationary. Setelah dilakukan analisis signifikansi dengan menggunakan t-test di kategori
stationary tidak ada perubahan yang signifikan di semua babak, di kategori walking dan jogging terdapat perubahan yang signifikan antara babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3, di kategori striding dan sprinting tidak ada perubahan yang signifikan dari semua babak.
Pengeluaran Energy (Energy Expenditure)
Parameter terakhir yang diukur pada penelitian ini adalah pengeluaran energi (energy expenditure) pada saat melakukan pertandingan Hockey 5's. Tabel 8 menunjukan data pengeluaran energi masing-masing atlet pada saat pertandingan.
Tabel 8 : Pengeluaran Energi Pemain Putra
| babak 1 | babak 2 | babak 3 | total |
|---|---|---|---|
| 99,71 ± 21,19 | 101,07 ± 11,47 | 102,64 ± 10,99 | 303,43 ± 36,65 |
Tabel 8 diatas menunjukan daftar pengeluaran energi pemain saat pertandingan Hockey 5's. Rata-rata total pengeluaran energi pemain adalah 303,43 ± 36,65 kkal. Babak 3 mengeluarkan energi terbanyak (102,64 ± 10,99 kkal) selanjutnya pada babak 2 (101,07 ± 11,47 kkal) dan yang paling sedikit mengeluarkan energi pada babak 1 (99,71 ± 21,19 kkal). Setelah dilakukan analisis signifiikansi dengan menggunakan T-test tidak terdapat perubahan yang signifikan di semua babak.
Untuk pengeluaran energi pemain Hockey sudah ada penelitian yang menghitung berapa bayak energi yang dikeluarkan selama pertandingan Hockey. Pengeluaran energi pemain Hockey lapangan putra adalah 947 ± 125 kkal dengan rata-rata waktu bermain adalah 48 ± 4 menit [9], jika dilihat selama satu menit maka pemain Hockey lapangan rata-rata mengeluarkan energi sebanyak 19,72 kkal. Hampir sama dengan penelitian Hockey lapangan, untuk Hockey 5's ratarata pengeluaran energi pemain adalah 303 kkal dengan rata-rata waktu bermain 15 menit 16 detik, jika dirubah kedalam menit seorang pemain putra
** Perubahan signifikan (p < 0,01) di babak 1 ke babak 3
** Perubahan signifikan (p < 0,01) adi kategori walking babak 1 ke babak 3 dan di kategori jogging babak 1 ke babak 2 dan babak 1 ke babak 3
mengeluarkan energi sebanyak 19,87 kkal selama 1 menit.
Variabel yang secara signifikan berinteraksi dengan pengeluaran energi, dalam penelitian tersebut variabel yang di ujikan adalah denyut jantung, usia, berat badan dan jenis kelamin [12]. Dari penelitian ini di hasilkan bahwa prediktor pengeluaran energi berkorelasi secara signifikan dengan denyut jantung, usia, berat badan dan jenis kelamin. Pada penelitian ini penulis menkorelasikan pengeluaran energi pemain Hockey 5's dengan denyut jantung pemain.

Gambar 1. Korelasi Pengeluaran Energi dan Rata-rata Denyut jantung Pemain Putra
Pada kategori pemain putra pengeluaran energi dan rata-rata denyut jantung pemain dilakukan analisis korelasi dan menghasilkan nilai 0,782 dengan α = 0,01 (1%) artinya, terdapat hubungan yang signifikan antara denyut jantung pemain dan pengeluaran energi pemain.
Kesimpulan
- 1. Denyut jantung pemain Hockey 5's semakin meningkat setiap babaknya, dimana denyut jantung pemain berkisar 181 ± 4 bpm. Perubahan denyut jantung tersebut meningkat secara signifikan di babak 1 ke babak 2 tetapi tidak ada perubahan yang signifikan dari babak 2 ke babak 3. Intensitas pertandingan Hockey 5's berada di kategori sangat tinggi oleh karena itu dibutuhkan metabolisme anaerobik yang baik untuk semua pemain.
- 2. Kecepatan berlari pemain Hockey 5's mengalami penurunan setiap babaknya, dimana kecepatan berlari pemain berkisar 6,44 ± 0,46 km/h. Kecepatan tersebut menurun secara signifikan di babak 1 ke babak 2 tetapi tidak ada penurunan yang signifikan dari babak 2 ke babak 3.
- 3. Jarak tempuh pemain mengalami penurunan tiap babaknya, dimana jarak tempuh pemain berkisar 1273,52 ± 105,67 meter.
- 4. Pengeluaran energi pemain Hockey 5's tiap babaknya mengalami peningkatan tetapi tidak
secara signifikan dimana selama satu pertandingan pemain mengeluarkan energi sebesar 303,43 ± 36,65 kkal. Peningkatan pengeluaran energi setiap babak ini berbanding lurus dengan peningkatan denyut jantung. Setelah dilakukan uji korelasi antara pengeluaran energi dan denyut jantung, ternyata terdapat hubungan yang signifikan antara pengeluaran energi dan denyut jantung.
