Pendahuluan
Atlet remaja memiliki resiko besar terhadap penurunan asupan nutrisi karena meningkatnya kebutuhan energi. Memperoleh asupan kalori yang seimbang menjadi sebuah masalah yang dihadapi oleh remaja karena gaya hidup yang cenderung mengabaikan kandungan nutrisi yang dikonsumsi. Asupan nutrisi seperti sport bar dan minuman untuk memulihkan stamina dianjurkan untuk dikonsumsi, namun masih banyak perdebatan terhadap berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan. Maka dianjurkan untuk menambahkan asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk menunjang energi pada atlet muda, yang mana sangat mudah diperoleh dari susu (Ryan-Krause. 1998).
Jenis susu sapi yang banyak dikonsumsi masyarakat diantaranya adalah susu sapi segar, susu pasteurisasi dan susu UHT (Ultra High Temperature). Susu UHT dengan berbagai macam varian rasa sudah banyak diketahui kegunaannya. Terutama untuk varian rasa
coklat yang sudah diteliti akan manfaatnya terhadap metabolisme tubuh untuk mempercepat penyimpanan energi (Karp JR, 2006) dan mempercepat pemulihan pada otot (Gilson, et al. 2010).
Susu sapi segar merupakan sumber protein, lemak, asam amino, vitamin dan mineral yang sangat baik. Manfaat kesehatan dari susu sudah dijelaskan dan telah banyak dibahas di tempat lain dan juga kandungan karbohidrat yang ada pada susu sapi (Moslehi, 2015; Roy, 2008). Sementara perbedaannya dengan susu pasteurisasi terdapat pada proses pembuatannya. Proses pasteurisasi adalah proses memanaskan susu dalam waktu dan temperatur yang ditentukan untuk membunuh bibit penyakit dan juga memperlambat basi pada susu (LeJeune JT & Rajala-Schultz, 2008). Proses pemanasan susu pasteurisasi menggunakan 161° F (72° C) selama 15 detik, menghentikan aktivitas atau membunuh organisme yang berkembang secara cepat pada susu (Brock, 2013).
Ketika melakukan aktivitas fisik dibutuhkan sistem metabolisme untuk menunjang kerja fisiologis tubuh selama latihan berlangsung. Salah satu sistem metabolisme yang digunakan dalam latihan adalah sistem metabolisme aerobik yang akan berbanding lurus dengan latihan aerobik. Ciri dari latihan aerobik diantaranya intensitas rendah-sedang, berlangsung dalam waktu relatif lama. Latihan aerobik memberikan efek terhadap transportasi laktat pada otot (Scariot, 2016). Semakin tinggi nilai laktat per mmol, semakin tinggi pula intensitas latihan yang dibebankan. Berbicara tentang intensitas latihan akan berhubungan langsung dengan kemampuan kardiovaskular atlet untuk melakukan aktivitas fisik. Cara untuk mengetahui seberapa besar kapasitas kardiovaskular dalam menunjang aktivitas fisik akan dapat diperoleh melalui tes VO2 Max. Tentu saja sistem metabolisme akan bekerja jika ditunjang dengan sumber energi yang cukup agar tidak mengalami kelelahan berarti. Hal ini terjadi karena dengan terpacunya jantung menimbulkan aktivitas yang dapat menguras penyimpanan glukosa sebagai sumber energi.
Maksud dari studi ini adalah untuk menginvestigasi pengaruh asupan dari susu sapi sebagai sumber energi tambahan terhadap kemampuan kardiovaskular melalui tes VO2 Max. Dalam hal ini, susu sapi yang digunakan adalah susu sapi segar dan susu pasteurisasi, yang akan dilihat pengaruhnya terhadap kemampuan kardiovaskular (kapasitas paru-paru
dalam menghirup oksigen) disertai dengan aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.
Percobaan
Subjek Penelitian
Pengambilan subjek penelitian menggunakan purposive sampling (Fraenkel, 2012) Didapat sejumlah subjek penelitian yang terdiri dari 24 atlet sepakbola universitas dan dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok minuman (susu sapi segar, susu pasteurisasi atau air mineral).
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung melalui Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) melakukan review terhadap prosedur penelitian dan menyetujui penelitian ini. Seluruh partisipan atau subjek menyetujui dan menandatangani inform concent sebelum penelitian dilaksanakan.
Protokol Tes
Ketika akan melakukan pengetesan atau pengambilan data ada hal-hal yang harus dilaksanakan oleh setiap subjek penelitian. Dalam hal ini, prosedur yang harus dilakukan ketika tes yang dilakukan saat pre-test (tes yang dilakukan sebelum pemberian minuman) dan post-test (tes yang dilakukan setelah pemberian minuman selama 3 minggu berturut-turut). Berikut adalah protokol tes (Charlie. 2011) ketika pre-test dan post-test.

Gambar 1. Protokol Tes Penelitian
Pemberian minuman (susu sapi segar, susu pasteurisasi dan air mineral) dilakukan sebanyak dua kali yaitu saat 30 menit sebelum melakukan Cooper
Test 2,4 km dan sesaat sebelum melakukan Cooper Test 2,4 km. Jumlah takaran pemberian minuman sebesar 150 ml untuk setiap satu kali minum.
Untuk pengambilan data dilakukan sebanyak dua kali ketika pre-test (sebelum pemberian minuman) dan post-test (tiga minggu setelah pemberian minuman), yang mana pada saat pre-test dan post-test melakukan Cooper test 2,4 km.
Analisis Statistik
Semua hasil yang ditampilkan berupa rata-rata ± SD. Paired t-test digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam setiap grup. Semua analisis statistik dilakukan menggunakan aplikasi PASW Statistics 18, dengan taraf siginifikansi 0,05.
Hasil dan Pembahasan
Berikut adalah kondisi VO2Max pada seluruh subjek penelitian ketika pre-test (sebelum pemberian minuman) dan post-test (setelah pemberian minuman selama tiga minggu berturut-turut. (Gambar 2)
Dengan nilai t hitung < t tabel yaitu -2,240 < 2,069 dapat diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kondisi VO2 Max antara pre-test (sebelum pemberian minuman) dan post-test (setelah pemberian minuman selama tiga minggu berturutturut). Namun jika dilihat dari nilai VO2 Max ketika pre-test dan post-test, terjadi peningkatan meskipun tidak signifikan (p > 0,05).
Atlet remaja memiliki resiko besar terhadap penurunan asupan nutrisi karena meningkatnya kebutuhan energi. Memperoleh asupan kalori yang seimbang menjadi sebuah masalah yang dihadapi oleh remaja karena gaya hidup yang cenderung mengabaikan kandungan nutrisi yang dikonsumsi. Asupan nutrisi seperti sport bar dan minuman untuk memulihkan stamina dianjurkan untuk dikonsumsi, namun masih banyak perdebatan terhadap berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan (Ryan-Krause. 1998). Bahkan pada Juni 2011, American Academy of Pediatrics (AAP) melaporkan hasil pemeriksaan di bagian pemasaran, bahan dan efek negatif yang mungkin timbul dari minuman olahraga dan minuman berenergi. Mereka menyimpulkan bahwa konsumsi sport drink dalam jumlah yang sedikit cocok untuk atlet muda yang berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang berat pada cuaca yang panas dan lembab. Namun untuk kebanyakan atlet muda, sport drink tidak terlalu dibutuhkan dan dapat berkontribusi negatif terhadap kesehatan, seperti peningkatan berat badan dan kerusakan gigi. Berkenaan dengan sport drink, AAP menyimpulkan tidak ada manfaat yang diberikan karena menyebabkan resiko stimulasi berlebihan terhadap sistem saraf, maka tidak perlu dikonsumsi oleh remaja. Konsumsi minuman energi oleh atlet remaja akan menyebabkan sakit yang menyerang secara tiba-tiba (kejang), sakit jantung juga ketidaktentuan detak jantung, bahkan kematian (Rath, 2012). Maka dianjurkan untuk menambahkan asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk menunjang energi pada atlet muda, yang mana sangat mudah diperoleh dari susu (Ryan-Krause. 1998).

Gambar 2. Gambaran kondisi VO2 Max Subjek Penelitian
Tidak terjadinya perbedaan yang signifikan pada nilai VO2 Max pada penelitian ini sesuai dengan pernyataan bahwa peningkatan kadar VO2 Max secara signifikan terjadi selama 3 bulan atau 12 minggu aktivitas fisik rutin (Bacon, 2013). Peningkatan VO2 Max pun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, usia, berat badan, massa otot tubuh, sakit, ketinggian dan geografi (Acevedo & Starks, 2011). Meskipun memang ada penelitian menyebutkan latihan dengan waktu 6 minggu dapat meningkatkan VO2 Max dengan latihan intensitas tinggi (Tabata, 1996).
Kesimpulan
Konsumsi susu sapi selama tiga minggu berturut-turut disertai dengan aktivitas fisik, tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kondisi VO2 Max. Namun jika dilihat dari nilai VO2 Max ketika pre-test dan post-test, terjadi peningkatan meskipun tidak signifikan.
