1. Home
  2. Archives
  3. Vol 3 (2018) Issue 1
  4. Articles

Peran Pendidikan Jasmani Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Siswa

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menggugah kembali pentingnya nilai karakter bangsa Indonesia yang dapat dibina dan implementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di sekolah. Lembaga Pendidikan Tinggi Keolahrgaan (LPTK) sudah semestinya megimplementasikan kurikulum pendidikan tinggi dengan menekankan pada penguatan karakter bagi mahasiswa calon peserta didik. Bagi lulusan LPTK, tidak hanya mengaar PJOK tetapi lebih jauh adalah mendidik agar generasi penerus bangsa mampu memajukan negara Indonesia di mata dunia tanpa menghilangkan jati diri bangsa melalui peletakan dasar karakter bangsa agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Keywords

Pendahuluan

Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa sebagai salah satu tujuan Kemerdekaan di Republik Indonesia telah diupayakan khususnya melalui pendidikan melalui program pembangunan berkelanjutan dengan menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan menjaga kualitas lingkungan hidup yang akan meningkatkan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya

Untuk mengklasifikasikan perkembangan suatu negara berdasarkan ukuran harapan hidup, melek huruf, dan standar hidup dapat diukur melalui Indexs Pembangunan Manusia (IPM). IPM adalah Indikator keberhasilan upaya membangun kualitas hidup manusia. Pendidikan menjadi salah satu aspek dalam Indeks Pembangunan Manusia.

Berdasarkan human development repot tahun 2013, UNDP merilis IPM Indonesia berada pada peringkat 121 dari 185 negara. Di bidang pendidikan Faktor rendahnya capaian kualitas pendidikan disebabkan oleh faktor: Tingkat keakuratan dan akumulasi data yang belum mantap Topografi wilayah indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan daerah yang sulit dijangkau Penyebaran guru yang belum merata sesuai dengan analisis kebutuhan Sarana dan prasana pendidikan yang belum memadai Pada sekolah menengah di daerah, angka putus sekolah masih cukup tinggi Angka melek huruf atau tuna aksara merupakan faktor sangat penting dan masih sangat rendah Faktor birokrasi dan kebijakan yang belum maksimal berpedoman kepada arah kebijakan pendidikan.

Disaat pemerintah terus mengupayakan peningkatan IPM, permasalahan lain muncul dan menajadi fenomena dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang cenderung mengalami penajaman dengan isu utama perbedaan agama, suku dan ras diantara sesama warga negara. Derasnya kemajuan teknologi yang berdampak terhadap mudahnya seluruh komponen bangsa mengakses seluruh kejadian dimanapun tempat dan pelakunya yang kadang-kadang informasinya sepihak atau sepotong-sepotong sering membuat masyarakat cepat dengan mudah menyimpulkan dan memberikan vonis yang sesungguhnya masih perlu dikaji kebenarannya.

Peserta didik sebagai generasi muda penerus bangsa sering dengan sengaja atau tidak sengaja, meniru budaya dari luar negeri yang tidak semaya tepat dijadikan budaya baru di negara tercinta ini, bahkan kecenderungan rusaknya masa depan generasi muda diakibatkan penggunaan berbagai jenis narkoba cenderung meningkat trendnya. Sekalipun operasi penangkapan pengedar dan narkoba sering di informasikan tetapi tidak menghentikan pengedaran dan penggunanya, bahkan tidak sedikit kalangan pelajar menjadi korban dari penylah Gunawan narkoba.

Situasi seperti ini perlu terus dicari solusi dan diupayakan oleh semua pihak agar generasi muda bangsa Indonesia mampu mempertahankan ke bineka tunggal ikan dilandasi karakter yang berbasis kebangsaan tanpa di rusak oleh narkoba atau isu disintegrasi bangsa.

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan yang diajarkan melalui aktivitas fisik yang dipilih sesuai tingkat

perkembangan peserta didik. PJOK merupakan aktivitas pendidikan melalui gerak yang sangat besar potensi untuk menjaga, mempertahankan bahkan meningkatkan kesehatan, kebugaran dan yang paling penting menanamkan nilai karakter yang dapat di bina selama proses pembelajaran PJOK berlangsung.

Pendidikan Jasmani dan Piagam Olimpiade

Regulasi di bidang pendidikan termasuk pendidikan jasmani di dalamnya merupakan produk dari kebijakan publik, dalam pembuatan peraturan sangat dipengaruhi oleh kekuasaan (Power) dan politik (Politic) siapa yang memegang "kekuasaan", hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di Inggris dan negara bagiannya Wales juga mengalami hal yang sama. 1

Upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Nasional melalui Keolahragaan telah menghasilkan regulasiregulasi, diantaranya Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) nomor 3 tahun 2005. Bab II Pasal 4 UU SKN menjelaskan tujuan keolahragaan nasional untuk,

....memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan satuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan.2

Guna mewujudkan tujuan tersebut pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang ruang lingkup olahraga meliputi: 1. Olahraga Pendidikan;2. Olahraga Rekreasi; 3. Olahraga Prestasi.3 Khusus mengenai Olahraga Pendidikan dijelaskan melalui Pasal 18 ayat 1 sampai 9 intinya adalah bahwa Olahraga pendidikan diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan pada jalur pendidikan formal secara terstruktur dan berjenjang maupun nonformal. Pendidikan formal dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler dimulai pada usia dini dibimbing oleh guru/dosen olahraga dan dapat dibantu oleh tenaga keolahragaan yang disiapkan oleh setiap satuan pendidikan dan Setiap satuan pendidikan dapat melakukan kejuaraan olahraga sesuai dengan taraf pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara berkala antar satuan pendidikan yang setingkat pada tingkat daerah, wilayah, nasional, dan internasional.4

Dari kedua Undang-Undang tersebut secara ideal Keolahragaan telah didudukan sebagai satu yang penting bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional. PJOK merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Pengajaran PJOK di sekolah tidak hanya semata-mata untuk mencapai Tujuan Pembelajaran, Tujuan Kurikuler dan Tujuan Institusional, tetapi mengarahkan peserta didik agar dapat mencapai Tujuan Pembangunan Nasional (TPN).5

Dawn Penney dik. (2005:14) menjelaskan bahwa Pendidikan jasmani mengembangkan kompetensi jasmani dan rasa percaya diri siswa, dan menggunakan kemampuan siswa untuk di berbagai kegiatan. Mempromosikan kecakapan fisik, perkembangan fisik dan pengetahuan tentang tubuh dalam tindakan. Pendidikan jasmani memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjadi kreatif, kompetitif dan untuk menghadapi tantangan yang berbeda sebagai individu dan kelompok dalam tim. Hal Ini mendorong sikap positif terhadap gaya hidup aktif dan sehat.6 1. Di sisi lain Pengajaran PJOK yang dilaksanakan mengacu pada TPN seiring dan sejalan dengan filosofi olahraga internasional yang dituangkan dalam 7 Prinsip Dasar Gerakan Olimpiade yaitu: 1. Merupakan filosofi hidup; 2. menempatkan olahraga untuk melayani pengembangan manusia yang selaras; 3. kegiatan yang sudah ditentukan, diatur, menyeluruh dan tetap dibawah pengawasan IOC; 4. Meruapakan hak asasi manusia yang membutuhkan pemahaman bersama dengan semangat persahabatan, persaudaraan dan fair play; 5. Mengakui bahwa olahraga di masyarakat, harus memiliki hak dan kewajiban secara otonomi;6. Hak mendapatkan kesenangan dan kebebasan tanpa diskriminasi apapun; 7. Gerakan Olimpiade harus patuh kepada Piagam Olimpiade dan pengakuan oleh IOC.7

Beradasar kepada 7 prinsip dasar gerakan olimpiade, sudah sangat jelas bahwa kegiatan olahraga merupakan hak asasi manusia tanpa diskriminasi apapun, yang dilakukan dengan beretika tanpa melanggar aturan yang tertera pada Piagam Olimpiade. Bukan kemenangan semata, namun bagaimana kegiatan olahraga di mana dengan baik dan memiliki otonomi sendiri dalam mengembangkan organisasi keolahragaan. Saat ini olimpiade memiliki kedudukan yang paling tinggi dalam kegiatan olahraga dunia, sebuah negara akan di perdengarkan lagu

kebangsaannya ke seluruh dunia ketika atletnya meraih medali emas.

Apabila implementasi UUSPN dan UUSKN dilaksanakan secara terkoordinasi dengan baik antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (KEMENPORA) dengan Kementerian Kebudayaan, Pendidikan dasar dan Menengah (KEMENBUDDIKDASMEN), pencapaian tujuan pembangunan nasional melalui keolahragaan akan berhasil dengan efektif dan efisien dan pada akhirnya Pilar Pendidkan Internasional pada Abad XXI yang meliputi: 1. Learning To Know; 2. Learning To Do; 3. Learning To Be; dan 4. Learning To Live Together, dapat diwujudkan.

Pengembangan Nilai Karakter Melalui PJOK

UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.8

Istilah Karakter berkenaan dengan kualitas kebaikan seseorang berdasarkan pandangan masyarakat. Seseorang yang banyak melakukan kebaikan seperti yang diharapkan oleh masyarakat disebut berkarakter baik. Seseorang yang tidak banyak melakukan kebaikan seperti yang diharapkan oleh masyarakat disebut berkarakter tidak baik. Membentuk karakter baik adalah inti tujuan pendidikan. Karakter atau watak adalah kombinasi kualitas atau sifat yang membedakan seseorang, kelompok, atau sesuatu dari yang lain.

Karakter suatu bangsa memberikan ciri khas dari bangsa tersebut dalam hubungannya dengan bangsa lain Adolf Ogi, Penasehat khusus Sekretaris Jendreal PBB mengemukakan : "Sport teaches life skill-sport remains the best school of life". Jadi olahraga sebagai sarana mengembangkan potensi jasmani, rohani, sosial, dan sekaligus sebagai sekolah kehidupan. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga yang bisa dipelajari dan dijadikan sebagai scholl of life. Olahraga bukan untuk mencari kemenangan tetapi sebagai instrumen meraih kesempurnaan hidup, baik fisik, mental dan sosial (Mutohir, Maksum, 2007). Jadi dalam olahraga banyak nilai-nilai yang penting yang dapat dijadikan sebagai school of life seperti nilai kerjasama, kejujuran, sportifitas, percaya

diri, hormat, disiplin, kerja keras, keberanian, estetika, pantang menyerah, kebersihan, tanggungjawab, taat aturan dan keselamatan. Olahraga bukan semata-mata untuk mengembangkan potensi fisik, tetapi juga potensi mental dan sosial.9

Karakter adalah nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika, sedanaagkan Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada warga sekolah yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil.10

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilainilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhatihati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan (PJOK) merupakan bagian integral dari proses pendidikan, dalam pembelajaran PJOK nilai-nilai karakter yang merupakan bagian dari softskill sangat efektif untuk di ajarkan di kembangkan dan di nilai setiap waktu. Salah satu keunikan dari pembelajaran PJOK di sekolah adalah pembelajaran yang langsung berinteraksi antara pendidik dan peserta didik dalam suasana belajar gerak secara aktif, dengan perilaku yang langsung dapat dilihat saat pembelajaran, maka karakter setiap peserta didik dapat diamati dan dibina.

Tantangan Pembelajaran PJOK pada Masa Yang Akan Datang

Dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Nasional 2015-2019 Buku II Agenda Pembangunan Bidang, Bab II Butir C tentang pendidikan, yang menjadi prioritas diantaranya adalah adalah: Pelaksanaan wajib belajar 12 tahun yang berkualitas, Pemenuhan hak terhadap Pelayanan Pendidikan Dasar yang Berkualitas, Peningkatan Akses Pendidikan menengah yang berkualitas, Peningkatan Kualitas pembelajaran, Penguatan jaminan Kualitas Pelayanan Pendidikan, Penguatan Kurikulum dan Pelaksanaannya, Penguatan Sistem Penilaian Pendidikan dan Peningkatan manajemen Guru, Pendidikan Keguruan dan Reformasi LPTK.11 Sedangkan pada butir E tentang Pemuda dan Olahraga meliputi: 1. Peningkatan Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan; 2. Peningkatan Budaya dan Prestasi Olahraga.12

Isu strategis di bidang pendidikan yang harus diwujudkan tentu tidak akan jauh berbeda dari RPJM sebelumnya seperti pada butir Wajib belajar 12 tahun; SMA/SMK negeri yang ada tidak akan dapat menampung seluruh lulusan SMP/MTs, sementara sekolah swasta biayanya "mahal", karena hal tersebut orang tua yang tingkat ekonominya rendah cenderung tidak melanjutkan puteranya ke SMA/SMK. Dijelaskan Bappeda: bahwa upaya meningkatkan partisipasi pendidikan menengah sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ketersediaan fasilitas (availability), daya jangkau terhadap fasilitas (accessibility), daya jangkau pembiayaannya (affordability), kualitas layanan (quality) yang disediakan, dan persepsi terhadap nilai tambah yang diperoleh.13

Chang, dik (2014) dalam RPJM 2015-2019 Bappenas mengemukakan Berbagai studi mengungkapkan bahwa proses pembelajaran di kelas umumnya tidak berjalan secara interaktif. Hasil studi Bank Dunia (2014) menunjukkan, sekitar 74 persen aktivitas kelas dilakukan oleh guru saja, dan hanya sekitar 11 persen yang dilakukan bersama guru siswa.1 Bahkan waktu belajar sebagian besar digunakan guru untuk menjelaskan materi dan pemecahan masalah, sementara waktu yang digunakan untuk diskusi dan praktik sangat sedikit. Proses pembelajaran demikian tidak akan menumbuhkan kreativitas siswa dan membangkitkan daya kritis dalam berpikir dan kemampuan analisis siswa, suatu kompetensi yang justru sangat vital dimiliki siswa sebagai hasil dari pembelajaran. Proses pembelajaran yang baik akan terjadi bila guru menerapkan metode discovery

learning approach, untuk menggantikan metode expository learning approach.

Kementerian Riset dan pendidikan Tinggi sang salah satunya Lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) tempat mencetak tenaga kependidikan yang pada pemerintahan sekarang dipisahkan kedudukannya dari kementrian Pendidikan Dasar dan menengah, sementara Dikdasmen sebagai pengguna lulusan LPTK harus ada kesinambungan dan keterkaitan yang jelas. Disatukan saja masih banyak permasalahan apakah dengan di pisahkan akan meningkatkan percepatan tujuan pendidikan yang diharapkan?

Di bidang olahraga, berbagai upaya pembinaan dan pengembangan olahraga yang telah dilaksanakan pada tahun 2010-2014 dalam rangka mendukung pembudayaan olahraga, antara lain: (1) penyelenggaraan event olahraga massal, tradisional, petualangan, tantangan dan wisata (olahraga rekreasi); (2) penyelenggaraan festival olahraga layanan khusus; dan (3) pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan. Adapun upaya untuk mendukung peningkatan prestasi olahraga, antara lain: (1) peningkatan mutu tenaga keolahragaan; (2) penyelenggaraan kejuaraan olahraga single dan multievent secara berjenjang dan berkelanjutan; (3) pembinaan dan pengembangan olahragawan andalan; dan (4) fasilitasi pengembangan industri olahraga termasuk peningkatan kemitraan dan kerjasama.

Pembinaan dan pengembangan olahraga tersebut telah menunjukkan berbagai kemajuan. Hal ini ditandai dengan semaraknya kegiatan keolahragaan di berbagai daerah dan meningkatnya prestasi olahraga pada kejuaraan SEA Games dengan diperolehnya peringkat ke-1 (juara umum) pada tahun 2011. Tetapi di Seagames tahun 2013 Indonesia melorot ke peringkat 4 dan pada Seagames tahun 2015 hanya menduduki peringkat 5.

Pembangunan olahraga masih dihadapkan pada permasalahan, antara lain: (1) partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga masih rendah yang ditunjukkan oleh persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan olahraga pada 2012 sebesar 24,99 persen (BPS, 2012); (2) prasarana dan sarana olahraga relatif terbatas. Data Podes 2011 menunjukkan bahwa desa yang memiliki lapangan sepak bola (39.698 desa), bola voli (53.571 desa), bulu tangkis (34.387 desa), bola basket (4.931 desa), tenis (3.575 desa), futsal (3.619 desa), kolam renang (3.809 desa); (3) peran sentra keolahragaan, seperti sekolah khusus olahraga, PPLP/PPLM, Puslatda belum optimal dalam pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi; (4) SDM keolahragaan yang berkualitas masih terbatas yang terdiri dari pelatih, pembina, dan wasit; (5) apresiasi dan penghargaan masih rendah bagi olahragawan, pembina, dan tenaga keolahragaan yang berprestasi; (6) Iptek keolahragaan belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk meningkatkan budaya dan prestasi olahraga; (7) prestasi olahraga pada kejuaraan SEA Games menurun menjadi peringkat ke-4 pada 2013 dan peringkat ke 5 pada Seagames 2015 dari peringkat pertama pada tahun 2011; dan (8) prestasi olahraga pada kejuaraan Asian Games menurun menjadi peringkat ke-16 pada tahun 2014 dari peringkat ke-15 pada tahun 2010.

Tantangan pembangunan olahraga ke depan antara lain: (1) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berolahraga; (2) meningkatkan pembibitan dan pengembangan bakat olahragawan berprestasi; (3) meningkatkan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan keolahragaan; dan (4) meningkatkan kerja sama dan kemitraan pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat termasuk industri olahraga.14

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

6
Citations
0.00
FWCIfield-weighted
23th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20252
20231
20223

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.74
level 1
Art 0.29
level 0

Institution Network

References

  1. BAPPENAS. 2014. Rancangan Awal RPJM 2015-2019. Buku II Bab II Pembangunan Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama
  2. Bompa, Todur O, Carrera, Michael C. 2005. Periodization Training For Sports Science-Based Strength Ana Conditioning Plans for 20 Sports.USA. Human Kinetic
  3. Budiman Rusli, 2009. Kebijakan Publik di Daerah. Makalah. Disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia Dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung November 2009
  4. Dawn Penney and John Evans. 2002. Politics, Policy and Practice in Physical Education. E & FN SPON An imprint of Routledge London and New York
  5. Dawn Penney, dkk. 2005. (Editor).Sport Education in Physical Education Research Based Practice. London Ana New York. Routledge Taylor& Francis Group.P. 14
  6. Mulya, Gumilar. PLPG Rayon XI Universitas Siliwangi Tasikmalaya tahun 2013
  7. Harian Kompas Edisi tanggal 3 Maret 2011
  8. Surat edaran Kemendikbud Nomor 79342/MPK/KR/2014Tanggal 5 Desember 2014
  9. Suyudi, Imam. 2015. Perkuliahan PENGEMBANGAN PROFESI PENJAS DAN OR, tanggal 4 Mei 2015 PPs POR UNJ
  10. Suyudi, Imam. 2015. Materi Perkuliahan Pengembangan Profesi Penjas dan OR. sub materi Peningkatan Kepakaran Tenaga Akademik Dalam Menunjang Keberhasilan Program Studi
  11. Mahendra,Agus. 2011. Asas dan Falsafah Pendidikan Jasmani. Bahan Ajar pada Diklat PLPG Program Sertifikasi Guru Penjas Rayon X - Prov. Jawa Barat
  12. Olympic Charter, In Force As From 8 December 2014, International Olympic Commitee.
  13. Peraturan Menteri Pendidikan Dan kebudayaan Nomor 58, 59 dan 60 tentang Struktur Kurikulum di SMP/MTs, SMA/MA dan SMK. Yang diberlakukan pada Kurikulum 2013
  14. Peraturan Menteri Pendidikan Dan kebudayaan Nomor 58, 59 dan 60 tentang Struktur Kurikulum di SMP/MTs, SMA/MA dan SMK Yang diberlakukan pada KTSP
  15. Tim Instruktur Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, 2013. MODUL PLPG PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN, KONSORSIUM SERTIFIKASI GURU 2013
  16. Undang-Undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembanguna Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025.
  17. Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) nomor 3 tahun 2005. Bab II Pasal 4
  18. Undang-Undang Sistem pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3