PENDAHULUAN
Usia remaja merupakan masa disaat seseorang mencari jati diri. Kegemaran disaat masa remaja biasanya berlangsung sampai seseorang beranjak dewasa. Peranan penting sekolah disaat SD, SMP dan SMA sangat berdampak kepada masa depan siswa.
Termasuk dalam hal kesehatan dan kebugaran. Hal dasar yang memengaruhi kebugaran adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik menjadi hal yang sedang disoroti oleh WHO, karena dampaknya dapat membantu menurunkan tingkat kematian dini dan resiko terkena penyakit.
Seiring dengan perkembangan zaman dan industry, kini banyak hal yang dapat lebih mudah diakses oleh teknologi. Mulai dari kendaraan, yang biasanya harus jalan atau menggunakan sepeda, kini bisa diakses oleh sepeda motor atau bahkan scooter listrik. Kemudian alat komunikasi dan internet membantu segala yang berkaitan dengan kebutuhan manusia, seperti kebutahan terhadap makanan, kini segala sesuatu bisa didatangkan melalui telepon genggam. Dengan kata lain kebutuhan manusia untuk melakukan aktivitas fisik untuk mendapatkan yang diinginkan sudah semakin minim karena banyak terbantu dengan teknologi. Tidak dalam maksud untuk melawan perkembangan zaman dan teknologi, namun sudah seharusnya kita menyadari bahwa kebutuhan tubuh kita untuk tetap bergerak dan beraktivitas fisik tetaplah penting. Oleh karena itu, kampanye peningkatan aktivitas fisik harus terus ditingkatkan seiring dengan perkembangan zaman ini.
Rendahnya tingkat aktivitas fisik banyak dikaitkan dengan resiko penyakit tidak menular (PTM). Diperkirakan pria 47%5 pria mengalami kematian dikarenakan oleh penyakit kardiovaskular. Penyakit kardiovaskular yang dimaksud seperti jantung koroner (PJK) dan penyakit serebrovaskular (stroke), dua bentuk paling umum dari penyakit kardiovaskular, menyumbang lebih dari 90% dari semua kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular pada pria.
Di amerika telah terjadi penurunan penyakit kardiovaskular yang diderita oleh masyarakat dalam decade terakhir (Benjamin, 2017), tetapi tida demikian dengan pria arab yang mengalami peningkatan terutama pada pria muda (Almahmeed, 2012). Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya edukasi terhadap pola makan yang baik, aktivitas fisik yang sehat kepada masyarakat umum (Center of Disease Control and Prevention, 2002).
Di beberapa negara, fenomena minimnya tingkat aktivitas fisik sudah menjadi issue serius yang harus segera ditangani. Karena dapat berdampak kepada generasi penerus bangsa. Berbagai penelitian dilakukan oleh para akademisi untuk mengatasi permasalah tersebut. Lebih dari 1,9 juta kematian di dunia, setiap tahun dapat dicegah dengan tingkat aktivitas fisik yang memadai (Guthold, 2010). Bahkan anak-anak muda di negara-negara berkembang memiliki kebiasaan tingkat aktivitas fisik yang rendah (Chen, 2005). Angka tersebut bukan hanya berbahaya untuk mereka yang telah lanjut usia, akan sangat beresiko jika anak-anak atau remaja yang memiliki kebiasaan beraktivitas fisik rendah. Dampaknya bisa terjadi tidak optimalnya masa pertumbuhan, hingga berbagai gangguan penyakit ketika muda, setelah itu beresiko terjadi penurunan usia harapan hidup (Khairy et al., 2010).
Terlebih tingkat aktivitas fisik lebih banyak terjadi penurunan pada saat remaja, dan kebiasaan tersebut berpotensi terus berlanjut hingga dewasa (Tammelin, 2003). Hal tersebut membuat penetapan bahwa peningkatan aktivitas selama masa remaja mengurangi risiko obesitas ketika dewasa. Beberapa penyebab penurunan aktivitas fisik dikarenakan kebiasaan menggunakan perangkat elektronik, hal tersebut beriringan dengan meningkatnya obesitas (Tremblay, 2011).
Tingkat aktivitas fisik masyarakat Indonesia masih dalam kondisi yang menghawatirkan, data pada tahun 2018 ada 33,5% warga Indonesia yang ada pada kriteria kurang aktivitas fisik, atau mereka yang melakukan olahraga kurang dari 150 menit dalam satu minggu. Angka tersebut terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang berjumlah 26,1% (Riset Kesehatan Dasar, 2018). Meningkatkaya angka kekurangan aktivitas fisik diduga memiliki keterikatan dengan meningkatnya kebiasaan masyarakat terhadap penggunaan alat elektronik sama
seperti hasil penelitian sebelumnya pada tahun 2011 oleh Tremblay. Di daerah perkotaan, tingkat aktivitas fisik semakin rendah, buktinya DKI Jakarta ada pada peringkat tingkat aktivitas fisik paling rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia (Riset Kesehatan Dasar, 2018).
Kebiasaan minim beraktivitas fisik adalah serangkaian kegiatan yang sebenarnya membutuhkan pengeluaran energi, termasuk kegiatan seperti duduk lama di tempat kerja atau sekolah, menonton TV, dan menggunakan komputer atau bermain video game (Biddle, 2010). Waktu yang dihabiskan untuk aktivitas tersebut sebenarnya didefinisikan sebagai jumlah jam per minggu yang dihabiskan selama waktu luang di depan layar, seperti komputer, video game, televisi, dan tablet (Koezuka, 2006). Aktivitas seperti menonton TV setiap hari selama 2 jam atau lebih ada kaitannya dengan penurunan kebugaran dan psikologis. World Health Organization (WHO) merekomendasikan remaja berusia antara 5 dan 17 tahun untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit, dengan intensitas sedang hingga kuat setiap hari untuk meningkatkan atau mempertahankan kesehatan kardiorespirasi dan kebugaran otot (WHO, 2017).
Di Perguruan Tinggi, tingkat aktivitas fisik mahasiswa yang ada di Insititut Teknologi Bandung masuk dalam kategori tinggi, tetapi hal tersebut terjadi karena adanya mata kuliah olahrga yang mahasiswa jalani, dan mewajibkan mahsiswa untuk berolahraga dalam satu minggu tiga kali. Dikaji mendalam, jika tidak ada mata kuliah olahraga, tingkat aktivitas fisik mahasiswa diperkirakan akan masuk dalam kategori rendah (Sunadi, Fisik, & Kebugaran, 2009).
Pengenalan aktivitas fisik yang baik perlu dikenalkan sejak dini, karena hal tersebut akan menjadi kebiasaan yang kemungkinan akan dibawa terus sampai dewasa. Maka dari itu memiliki data tentang tingkat aktivitas
fisik sejak dini penting untuk memetakan berapa orang anak-anak yang masuk dalam kategori tingkat aktivitas fisik rendah untuk segera diberikan perhatian demi masa pertumbuhan yang lebih baik dan masa yang akan datang yang lebih sehat
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan cara pemilihan responden random sampling, melibatkan responden yang tersebar di beberapa Sekolah Menengah Pertama di Kota Bandung. Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ).
Kuesioner memiliki tiga poin utama. Yang pertama data diri yang terdiri dari usia, tinggi badan, berat badan, hingga daftar riwayat penyakit. Bagian kedua terdiri dari inti kuesioner, yaitu tentang kebiasaan beraktivitas fisik harian, mulai dari aktivitas fisik rendah hingga berat. Dan bagian terakhir terdiri dari pertanyaan yang bersifat untuk menjadi data penunjang dari hasil pertanyaan di bagian dua. Luaran dari IPAQ merupakan Metabolic Equvalent (METs).
Total 103 siswa Sekolah Menegah Pertama telah menjadi responden. Proses pengisian kuesioner diawali dengan dikumpulkan para siswa dalam satu kelas, kemudian diberikan sosialisasi dan pendampingan tata cara pengisian serta penjelasan lebih detail tentang maksud dan tujuan setiap poin pertanyaan yang ada dalam kuesioner tersebut. Setelah responden selesai mengisi, para pendamping membantu menyerahkan kuesioner yang telah diisi. Analisis data yang telah terkumpul dilakukan dengan menggunakan SPSS 10.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pengukuran berupa data Metabolic Equivalent (METs), METs merupakan satuan tingkat aktivitas fisik. Hasilnya rata-rata responden dalam penelitian ini berusia 14.7 (±
1.03) tahun, tinggi badan 160.2 (± 2.1), berat badan 49.2 (± 4.6). Kemudian untuk tingkat aktivitas fisik dirata-ratakan masuk dalam kategori sedang, atau dengan angka 1202.2 (±21.1) METs.
Tabel 1 Data Hasil Kuesioner
| Variables | Results |
|---|---|
| Usia | 14.7 (± 1.03) |
| Tinggi | 160.2cm (± |
| 2.1) | |
| Berat | 49.2kg (± |
| 4.6) | |
| METs Total | 1202.2 |
| (±21.1) |
Tingkat aktivitas masuk dalam kategori sedang, hal tersebut dikarenakan banyaknya waktu luang yang siswa habiskan dengan bermain permainan daring, bukan lagi bermain permainan-permainan yang banyak melibatkan fisik. Dalam satu hari siswa bisa menghabiskan lebih dari 2 jam, tentu hal itu bukanlah waktu yang singkat untuk bermain permainan daring. Durasi bermain permainan daring tersebut lebih sering dilakukan selama di sekolah dan ketika di rumah. Tidak hanya beresiko memengaruhi nilai siswa di sekolah, tetapi durasi bermain permainan daring yang terlalu lama tentu akan berdampak negative kepada kesehatan.
Seringnya bermain permainan daring kini menjadi issue yang banyak diperbincangkan, karena beresiko terjangkit Internet Gaming Disorder (IGD) (Charlton & Danforth, 2010). Dampak dari IGD salah satunya menyebabkan adiksi, memengaruhi kognitif, emosi, dan perilaku yang menyebabkan kerusakan secara signifikan dalam area yang berbeda di dalam kehidupan nyata mereka (Cempaka, 2019).
Penelitian IGD di Jogja yang dilakukan oleh Medikarto tahun 2019 mengatakan bahwa 10,8% siswa di Yogyakarta mengalami IGD (Medikarto, 2019). Bahkan di tahun 2018, WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) memutuskan IGD masuk dalam salah satu dari jenis penyakit yang beresiko terhadap gangguan mental (Kemenkes, 2018).
Selain kebiasaan siswa menghabiskan waktu luang terhadap permainan daring, tentu hal yang harus diperhatikan adalah adanya kesediaan atau dukungan dari pihak terkait terhadap penyediaan saran ruang terbuka public yang menunjang dan merangsang masyarakat melakukan aktivitas fisik. Mungkin sarana dan prasarana yang ada belum menjangkau dan menarik perhatian siswa untuk lebih memilih melakukan aktivitas fisik di ruang terbuka tersebut. Begitupun dengan bentuk sosialisasi dan promosi berbagai olahraga permainan atau olahraga tradisional. Dirasa kedua hal tersebut penting dalam meningkatkan tingkat aktivitas fisik dan mengurangi IGD, karena dengan mengenalnya siswa terhadap permainan tradisional diharapkan akan membuat mereka mau memainkannya. Manfaat lain dari siswa yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu bermainan permainan tradisoinal adalah adanya aktivitas fisik yang berlangsung.
Selain itu berbagai jenis kegiatan seperti permainan tradisoinal memberikan manfaat lain selain aktivitas fisik, tetapi ada pula dampak psikologis. Dampak tersebut seperti dapat menurunkan gejala kecamasan dan depresi, pengembangan social, dan meningkatkan rasa percaya diri. Pada akhirnya aktivitas fisik pun dapat membantu anak-anak dan remaja untuk terhindar dari kegiatan negatif seperti merokok, minum alcohol dan narkoba (WHO, 2018).
Dalam penelitian ini responden merupakan siswa kelas tiga di semester satu, yang biasanya kebanyakan SMP ketika memasuki semester akhir banyak mata pelajaran yang tidak berkaitan dengan ujian akhir nasional yang dihilangkan, dengan maksud dan tujuan supaya siswa focus mempersiapkan diri dan belajar mata pelajaran yang akan di uji. Namun dampak lainnya adalah menurunnya tingkat aktivitas fisik siswa, menurunnya tingkat aktivitas fisik siswa justru dihawatirkan berdampak kepada menurunnya tingkat kebugaran dan kesehatan siswa, dan dihawatirkan memengaruhi performa siswa dalam belajar. Terlebih dalam penelitian ini, jenis kegiatan aktivitas fisik berat atau olahraga yang siswa lakukan banyak yang dilakukan hanya saat mata pelajaran berlangsung. Dihawatirkan, ketika mata pelajaran dihilangkan, siswa tidak melakukan aktivitas fisik berat atau olahraga.
KESIMPULAN DAN SARAN
Rata-rata tingkat aktivitas fisik siswa SMP Kota Bandung masuk dalam kategori sedang, hal tersebut dikarenakan waktu luang yang siswa miliki banyak dihabiskan dengan permainan daring. Selain itu, dampak ekstrakulikuler olahraga dan mata pelajaran olahraga membantu siswa untuk meningkatkan aktivitas fisik. Maka diharapkan mata pelajaran olahraga tetap dipertahankan di setiap semester, termasuk di semester akhir ketika siswa mempersiapkan diri menjelang ujian akhir. Demi terciptanya tubuh yang kuat dan akal yang sehat.
