PENDAHULUAN
Paparan polusi udara saat ini merupakan salah satu resiko kesehatan lingkungan terpenting di dunia dan telah dikaitkan dengan berbagai efek kesehatan termasuk gangguan fungsi paru, penyakit pernafasan, kanker, kardiovaskular, aterosklerosis, bahkan kematian dini (Auchincloss et al., 2008). Polusi udara yang menjadi perhatian saat ini yaitu PM2.5 (particulate metter). PM2.5 adalah campuran partikel padat dan cair yang tersuspensi di udara yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dalam proses pemanasan, pembangkit listrik, dan pengoperasian kendaraan bermotor (Xing, Xu, Shi, & Lian, 2016). Paparan jangka panjang dari polusi udara selama bertahuntahun dapat menyebabkan peningkatan laju penurunan fungsi paru-paru pada orang dewasa yang tidak merokok, khususnya pada lansia (Sinharay et al., 2018) dan pada individu dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) (McCreanor et al., 2007).
Ada banyak bukti yang mendokumentasikan tentang efek jangka panjang dan jangka pendek yang disebabkan oleh polusi udara termasuk penurunan FVC dan FEV1 pada orang yang sehat (Gauderman et al., 2008). Kebiasaan individu yang berolahraga di area yang dekat dengan perkotaan seperti stadion dan alunalun sudah menjadi kebutuhan pribadi dengan tujuan untuk menjaga kesehatan. Namun, disisi lain berolahraga juga dapat meningkatkan laju pernafasan, Sehingga apabila hal tersebut dilakukan pada area yang terpapar oleh polusi udara maka akan berdampak negative bagi kesehatan tubuh manusia. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tingginya tingkat polusi udara dapat menyebabkan penurunan konsumsi oksigen maksimal (VO2max) hal ini dikarenakan rendahnya tingkat transportasi oksigen dari alveoli paru (Oliveira et al., 2006).
Dampak polutan terhadap olahraga sangat berpengaruh satu sama lainya. Hal ini terbukti daripada tindakan pemerintah Indonesia pada perhelatan Asian game 2018, yang melakukan sterilisasi udara terhadap polutan dengan cara mengurangi arus mobilitas kendaraan pada saat sebelum dan ketika perhelatan berlangsung. Tentunya hal tersebut dilakukan dengan tujuan yang baik untuk mencegah terjadinya efek negative terhadap performance athlete yang disebabkan oleh polutan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Lin et
al., 2014) yang mengatakan bahwa program mitigasi pencemaran udara selama Asian Games 2010 di Guangzhou mengurangi mortalitas dari total penyakit nonaksidental, kardiovaskular dan pernapasan, yang mungkin terutama disebabkan oleh pengurangan konsentrasi polutan partikulat udara. Temuan ini mendukung upaya untuk mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pembatasan transportasi dan pembatasan emisi industry.
Manfaat dan resiko berolahraga di area yang terpapar oleh polusi udara harus dibandingkan. Hal ini bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh yang di timbulkan oleh polusi udara terhadap kesehatan tubuh manusia termasuk gangguan fungsi paru pada individu yang sehat. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek jangka pendek yang sebabkan oleh polusi udara terhadap FVC dan FEV1 pada individu yang sehat. Penelitian ini diharapkan menjadi parameter bagaimana kondisi lingkungan berpengaruh terhadap individu yang sehat.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode quasi experimental dengan pendekatan one group pretest-postest design. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 8 Mahasiswa FPOK UPI Bandung dengan rata-rata usia 19,87 ± 1,24 tahun; tinggi, 166,81 ± 6,31 cm; dan berat, 56,30 ± 3,79 kg; FAT, 12,95 ± 2,76 %; BMI, 20,06 ± 0,95. Para Subjek adalah atlet dari berbagai cabang olahraga. Kriteria subjek dalam penelitian ini diantaranya, tidak merokok, tidak memiliki riwayat penyakit kronis dan bersedia mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent yang telah di sediakan. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 17-21 September 2019 dimana seluruh atlet di karantina selama masa penelitian berlangsung. Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di Stadion UPI Bandung, lokasi tersebut dipilih karena sering digunakan oleh masyarakat umum untuk berolahraga.
Prosedur dalam penelitian ini yaitu subjek melakukan pengukuran awal (pretest) terhadap antropometri, dan kapasitas vital paru (FVC dan FEV1) dihari selanjutnya peserta melakukan treatment olahraga seperti jogging 15 menit dengan intensitas sedang (64-76 % HRmax) di Stadion UPI Bandung. Pada tahap terakhir setelah fase treatment dijalankan seluruh subjek melakukan posttest yaitu
berupa pengukuran kapasitas vital paru (FVC dan FEV1). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan perbandingan hasil kapasitas vital paru pada saat pretest dan posttest setelah melakukan treatment.
Analisis Data
Hasil data ditampilkan berupa rata-rata dan standar deviasi. peneliti menggunakan uji One Sample T-Test untuk melihat nilai rata-rata dari Usia, Tinggi badan, Berat badan, BMI dan Lemak sedangkan untuk variable polusi udara, FVC, dan FEV1 peneliti menggunakan oneway ANOVA atau uji satu arah. Semua analisis statistik menggunakan aplikasi SPSS versi 22 dengan taraf signifikansi (p< 0.001 atau p <0.05).
HASIL
Data karakteristik antropometri atlet dapat dilihat pada table 1. Peneliti hanya mendeskripsikan data secara kuantitaif tanpa membandingkan variable. Selanjutnya, pada table 3 memperlihatkan bahwa nilai FVC dan FEV1 pada saat posttest mengalami penurunan secara signifikan (p<0.001 untuk FVC) dan (p<0.003 untuk FEV1), jika di bandingkan dengan pretest. Hal ini juga sebandingkan dengan data polusi udara pada saat pre test dengan jumlah polutan PM2.5 sebesar 62,1 ± 15,8 µg/m3 , sedangkan pada saat posttest jumlah polutan PM2.5 sebesar 98,8 ± 9,7 µg/m3 . Data polusi udara dapat dilihat pada table 2.
Tabel 1. Karakteristik Antropometri Atlet
| Variabel | Eksperimen (n=8) | |||
|---|---|---|---|---|
| Rata-rata | Minimal | Maksimal | ||
| Usia (tahun) | 19,87 ± 1,24 | 18.00 | 21.00 | |
| Tinggi Badan (cm) | 166,81 ± 6,31 | 162.00 | 182.00 | |
| Berat Badan (kg) | 56,30 ± 3,79 | 52.10 | 63.30 | |
| FAT (%) | 12,95 ± 2,76 | 8.20 | 16.60 | |
| BMI (kg/m-2 ) | 20,06 ± 0,95 | 19.00 | 21.60 | |
Tabel 2. Karakteristik polusi udara, FVC dan FEV1 pada saat Pre dan Post
| Variabel | Polusi Udara | |||
|---|---|---|---|---|
| Pre-test | Post-test | Baku Mutu | ||
| (µg/m3 PM2.5 ) | 62,1 ± 15,8 | 98,8 ± 9,7 | <65 | |
| (µg/m3 PM10 ) | 129,1 ± 35,9 | 197,1 ± 41,9 | <150 | |
| Temperature (oC) | 21,6 ± 1,7 | 23,2 ± 3,3 | 22.8 - 25.8 | |
| Humidity (%) | 62,8 ± 3,3 | 68,2 ± 9,3 | 45 – 65 | |
PM2.5: Particulate Metter 2.5 (particulate yang berdiameter <2.5), PM10: Particulate Metter 10 (particulate yang berdiameter <10)
hasil table diatas menunjukan bahwa jumlah polutan secara keseluruhan lebih besar pada saat Post test dibandingkan dengan jumlah polusi udara pada saat pre test. Jumlah polutan pada saat post test juga telah melebihi ambang batas yang telah ditetapkan oleh peraturan menteri lingkungan hidup dan kehutanan No 45 tahun 1997.
Table 3. Hasil FVC dan FEV1 pada saat Pre dan Post test
| Variabel | Pengujian | |||
|---|---|---|---|---|
| Pre-test | Post-test | p-value | ||
| FVC (L) | 3,3 ± 0,2 | 2,9 ± 0,1 | 0.001** | |
| FEV1 (L) | 3,2 ± 0,3 | 2,7 ± 0,1 | 0.003** | |
FVC = Forces Volume Capacity, FEV1 = Forced Exspiratory Volume in One Second ** Signifikansi p < 0.001
PEMBAHASAN
Berolahraga di luar ruangan khususnya di area yang dekat dengan perkotaan telah menjadi kebiasaan atau tradisi masyarakat Indonesia. Hal ini sangat penting untuk mempertimbangkan dalam memodifikasi lingkungan dan strategi perlindungan untuk berolahraga diluar ruangan. Polutan udara tertentu, seperti PM, dapat dimodifikasi, dan oleh karena itu intervensi dapat dikembangkan untuk mengurangi tingkat polusi udara. Salah satu strategi untuk mengimbangi ekspansi besar dari urbanisasi adalah mengembangkan ruang hijau yang dapat melawan bahaya kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara dan kemudian mempromosikan perilaku seperti aktivitas fisik di ruang hijau (Janice F. Bell, PhD, Jeffrey S. Wilson, & Gilbert C. Liu, MD, 2009; Mitchell & Popham, 2008). Dengan meningkatnya kendaraan bermotor di Indonesia, mendorong masyarakat untuk menyeimbangkan antara kesehatan dan dampak yang di timbulkan oleh bahaya dari polusi udara, berolahraga diluar ruangan menjadi semakin penting untuk menjaga gaya hidup sehat, memberikan manfaat kesehatan, dan membantu mengurangi lalu lintas bermotor dan emisi berbahaya (Frank & Engelke, 2005; Marshall, Brauer, & Frank, 2009; Mueller et al., 2015).
Para pelaksana kebiasaan harus dididik dalam tindakan pencegahan terhadap polusi dengan menjauh dari lalu lintas yang padat atau kawasan industri (Rundell, Slee, Caviston, & Hollenbach, 2008) atau dengan menghilangkan olahraga ketika tingkat polusi diketahui tinggi (Cutrufello, Rundell, Smoliga, & Stylianides, 2011). Penelitian menunjukkan bahwa peringatan kualitas udara yang teratur dan tepat waktu penting untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang polusi udara yang berbahaya dan untuk membantu orang membuat keputusan tentang terlibat dalam kegiatan fisik (Wen, Balluz, & Mokdad, 2009). Strategi perlindungan lain yang dapat mengimbangi efek buruk kesehatan dari polusi udara termasuk mengambil mengkonsumsi antioksidan, memakai masker khusus olahraga, dan menghindari daerah lalu lintas tinggi (Laumbach, Meng, & Kipen, 2015). Area terakhir yang belum dimanfaatkan adalah penyediaan pendidikan dan informasi untuk penyedia layanan kesehatan tentang risiko potensial untuk berolahraga di luar ruangan pada hari-hari yang sangat tercemar, terutama bagi pasien dengan kondisi medis yang ada.
Temuan dalam penelitian ini memberikan bukti bahwa efek sesaat yang di sebabkan oleh polusi udara dapat menurunkan secara signifikan pada FVC dan FEV1. Namun, meskipun dampak buruk dari pencemaran udara terhadap kesehatan telah diketahui, bukti saat ini dari studi berbasis epidemiologis dan ekologis menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan di lingkungan yang tercemar oleh polusi udara tidak mengurangi efek positif dari olahraga dan tidak boleh sepenuhnya dihindari di lingkungan seperti itu (Gauderman et al., 2008). Tingkat aktivitas fisik yang moderat, seperti kebiasaan berjalan atau bersepeda, mungkin masih bermanfaat bagi individu yang sehat jika dilakukan di mana konsentrasi polusi udara rendah (Kubesch et al., 2015; Zorana Jovanovic Andersen et al., 2015). Namun, bukti kurang pada keseimbangan antara risiko dan manfaat kesehatan pada tingkat polusi yang berbeda dan dalam populasi yang beragam (misalnya, individu yang sehat vs. mereka yang rentan terhadap penyakit tertentu), menunjukkan bahwa strategi yang berbeda mungkin diperlukan untuk subpopulasi yang menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar.
KESIMPULAN
Polusi udara dapat menimbulkan ancaman kesehatan masyarakat yang besar terhadap promosi aktivitas fisik. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa tingginya jumlah polutan di udara dapat berpengaruh terhadap FVC dan FEV1. Dengan tidak adanya penegakan peraturan lingkungan yang berarti untuk meredam pertumbuhan industrialisasi dan urbanisasi, kualitas udara akan terus memburuk, membuat para atlet semakin terpapar oleh polusi udara. Dengan demikian, inisiatif kesehatan masyarakat berskala besar, termasuk penelitian epidemiologis yang diperluas, diperlukan untuk melindungi populasi dan kebiasaan individu maupun masyarakat umum dalam berolahraga di luar ruangan khusus nya di stadion atau alun-alun yang dekat dengan perkotaan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih kepada Program Penelitian Pengabdian Masyarakat dan Inovasi (P3MI) SF-LPPM Institut Teknologi Bandung yang telah mendanai seluruh penelitian ini, dan kepada seluruh Instansi Pemerintah yang sudah mengizinkan kami dalam pengambilan data penelitian
