PENDAHULUAN
Dalam permainan sepakbola diperlukan adanya seseorang yang mampu menjadi penengah untuk menengahi kedua tim yang bertanding. Untuk itu diperlukan seorang wasit sebagai salah satu komponen yang memberi peranan penting dalam lancarnya sebuah pertandingan sepakbola. Wasit sepakbola merupakan seorang pemimpin dalam sebuah pertandingan sepakbola yang bertugas dan bertanggung jawab atas jalannya suatu pertandingan. Wasit bertugas memimpin jalannya pertandingan sepakbola sesuai dengan peraturan permainan sepakbola dengan dibantu oleh dua orang asisten wasit dan satu orang official keempat (FIFA, 2018). Wasit bekerjasama dengan dua asisten wasit memiliki otoritas penuh untuk mengontrol dan mengatur perilaku pemain dan pelatih (Castillo et al, 2015). Baik buruknya suatu pertandingan sepakbola sangat dipengaruhi oleh kinerja wasit. Peran wasit sangat penting dalam sepakbola, terutama di sepakbola profesional, keputusan yang salah mungkin memberikan implikasi yang mendalam pada hasil pertandingan (Castagna et al, 2007). Untuk itu wasit dituntun untuk memiliki tingkat kebugaran jasmani yang tinggi dan pemahaman yang baik tentang peraturan permainan sepakbola. Pengetahuan yang lebih baik dari wasit sepakbola jelas bisa menguntungkan permainan (Castagna et al, 2007).
Banyak insiden yang terjadi di Indonesia terkait pertandingan sepakbola. Banyak tim yang tidak puas dengan kinerja wasit yang memimpin pertandingan. Hal tersebut disebabkan beberapa kekeliruan yang dilakukan oleh seorang wasit. Faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja wasit sangatlah komplek yang terdiri faktor fisik dan faktor psikologi (mental). Kinerja seseorang dipengaruhi latihan dan pengalaman kerja, pendidikan, sikap, kepribadian, organisasi, para pemimpin, kondisi fisik, kemampuan dan motivasi (Mangkunegara, 2000). Tidak optimalnya kinerja wasit di lapangan dapat terjadi karena kondisi fisik yang menurun. Wasit ditututut untuk memiliki kebugaran jasmani yang tinggi untuk dapat menunjang kinerjanya saat memimpin pertandingan. Dalam satu pertandingan kompetitif, seorang wasit elite dapat mencapai jarak 9-13 km, jarak tersebut sama seperti yang dicapai oleh pemain sepakbola khususnya pemain tengah (Castagna, 2002). Dalam satu pertandingan wasit dapat menempuh jarak 10-14 km (FIFA, 2010).
Tipikal wasit setelah 10 km termasuk di dalamnya mengalami 47% jogging, 12% sprinting, 18% reverse running, dan 23% walking dengan rata-rata 165 BPM (Reilly & Gregson, 2006) Hal tersebut menunjukkan bahwa wasit dituntut untuk memiliki kebugaran jasmani yang prima untuk dapat mencapai jarak tersebut. Kondisi fisik yang menurun dapat menyebabkan seorang wasit cepat mengalami kelelahan. Kelelahan terus bertambah sedangkan performa kerja akan terus menurun (Giriwijoyo, 2010). Hal tersebut menandakan bahwa kelelahan yang dialami akan mengganggu kinerja wasit, sehingga sangat memungkinkan seorang wasit melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Sedangkan sepakbola modern ini sudah berkembang dengan tuntutan pemain dengan tingkat kebugaran Prima bersamaan dengan tuntutan fisik tersebut wasit ikut serta mempersiapkan fisik yang optimal (Monea, 2019).
Seorang wasit sering mengalami tekanan yang terjadi dilapangan, baik itu yang dilakukan oleh pemain, official, ataupun penonton. Pada saat kondisi fisik yang menurun pengelolaan emosi seorang wasit sangat diperlukan dalam hal ini. Emotional Quotient (EQ) merupakan kemampuan untuk memotivasi diri, mengendalikan perasaan dan dorongan hati menjaga agar stres tidak mematikan kemampuan berpikir, berempati dan mengaplikasikan kecerdasan emosi secara efektif (Goleman, 2001). Aspek perseptual kognitif ternyata berpengaruh terhadap ketepatan dalam pembuatan keputusan dalam permainan sepakbola (Felipe, 2009). Untuk itu seorang wasit yang sedang dalam kondisi fisik yang menurun harus memiliki kecerdasan emosional agar mampu mengatasi tekanan-tekanan yang muncul. Orang yang memiliki kecerdasan emosi akan mampu menghadapi tantangan dan menjadikan seorang manusia yang penuh tanggung jawab, produtif dan optimis dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, dimana hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam lingkungan kerja (Patton, 1998). Dengan kecerdasan emosi yang dimiliki seorang wasit, ia akan merasa percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki walaupun sedang dalam keadaan yang lelah. Seseorang yang kurang percaya diri cenderung merasa cemas, kurang memusatkan diri pada kekuatan yang dimilikinya, dan konsentrasi terhadap tugas yang sedang dikerjakan mudah terganggu (Weinberg, 1995). Ada hubungan positif antara kecerdasan emosional dan keberhasilan atletik dalam kelompok dan olahraga
individu (Roghayeh, 2011). Keterkaitan antara kebugaran jasmani dan kecerdasan mengelola emosi memiliki kaitan yang sangat kuat (Nurcahya, 2019). Selain itu menurut Guillen & Feltz (2011) terdapat 6 komponen sebagai kunci sukses melaksanakan tugas memimpin pertandingan (wasit) yaitu; a) game knowledge, b) decision-making skill, c) psychological skill, d) strategic skills, e) communication/control of game, dan f) physical fitness. Berdasarkan kajian penelitian dan beberapa fenomena permasalahan yang ada saat ini yaitu; masih minimnya penelitian tentang kebugaran jasmani dalam wasit sepakbola di Indonesia, maka peneliti perlu mencari data autentik apakah kebugaran jasmani yang dimiliki seorang wasit sepakbola memiliki hubungan dengan kinerja wasit sepakbola.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, guna menganalisis hubungan kebugaran jasmani dengan kinerja wasit sepakbola. Populasi dalam penelitian ini adalah wasit sepakbola anggota Asosiasi PSSI Kota Bandung yang berjumlah orang 96 wasit. Teknik penarikan sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria dalam penarikan sample yaitu sample memiliki lisensi wasit nasional dan sudah berpengalaman lebih dari 2 tahun dalam memimpin pertandingan. Diperoleh sampel dalam penilitian ini berjumlah sebanyak 29 orang wasit.
Instrumen dalam penelitian ini untuk mengukur tingkat kebugaran jasmani seorang wasit, dalam menggunakan FIFA Fitness Test for Referee yang terdiri dari dua komponen tes yaitu Sprint test dan Interval test. Dalam pengambilan data tingkat kebugaran jasmani para wasit melakukan test sprint terlebih dahulu sebanyak 6 kali pengulangan dengan limit waktu tidak boleh lebih dari 6 detik. Jika seorang wasit mampu menyelesaikan test sprint tersebut tanpa melewati limit waktu yang ditentukan maka dia berhak melakukan tes berikutnya yaitu tes interval. Penentuan alat ukur untuk menilai kinerja wasit, penulis menggunakan from penilaian wasit yang digunakan atau berlaku di PSSI. Form ini merupakan form resmi yang dikeluarkan oleh FIFA dan sering digunakan oleh PSSI untuk mengukur kinerja wasit sepakbola. Pengisian form penilaian tersebut dilakukan oleh seorang penilai wasit yang berlisensi dan dilakukan dengan pengamatan langsung pada saat wasit memimpin pertandingan. Setelah seluruh data terkumpul selanjutnya data dianalisis menggunakan pearson correlation.
HASIL
Berdasarkan pengolahan dan analisis terhadap data dengan pendekatan statistik deskriptif antara tingkat kebugaran jasmani dengan kinerja wasit sepakbola didapat hasil seperti pada tabel 1.
Tabel 1 Hasil Uji Korelasi
| Kebugaran Jasmani | Kinerja Wasit | ||
|---|---|---|---|
| Kebugaran Jasmani | Pearson Correlation | 1 | .691* |
| Sig. (2- tailed) | .019 | ||
| N | 29 | 29 | |
Selanjutnya untuk mengetahui berhubungan dengan tingkat korelasi antara kebugaran jasmani dengan kinerja wasit didapat hasil dengan grafik 1.
Grafik 1 Uji Korelasi Kebugaran Jasmani dengan Kinerja Wasit
PEMBAHASAN
Kebugaran jasmani tentu saja memiliki hubungan dengan kinerja wasit sepakbola. Suatu pertandingan sepakbola baik dalam sebuah kompetisi maupun
sebuah liga akan berlangsung secara ketat, wasit merupakan faktor penunjang keberhasilan suatu pertandingan. Sama halnya seperti seorang pemain sepakbola, wasit juga membutuhkan kebugaran jasmani yang baik untuk menunjang kinerjanya. Kondisi fisik adalah salah satu syarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seseorang bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi (Sidik, 2011). Persiapan fisik merupakan salah satu yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dari beberapa kasus penting sebagai unsur yang diperlukan dalam latihan untuk mencapai puncak penampilan (Sidik, 2011). Tetapi tentusaja terdapat faktor pendukung lain yang mendukung kinerja wasit sepakbola. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kinerja seorang wasit sepakbola yaitu kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual yang merupakan faktor internal dari seorang wasit (Nurcahya, 2019). Berikutnya, kemampuan kondisi fisik wasit sangat menentukan keadaan kebugaran Jasmani yang diperlukan untuk memimpin suatu pertandingan. Diketahui pada penelitian ini berdasarkan data pearson correlation bahwa, antara kebugaran jasmani dengan kinerja wasit menghasilkan angka 0,691 hal ini menunjukkan tingkat korelasi antara kebugaran jasmani dengan kinerja wasit adalah kuat. Adapun koefisien determinasi (kontribusi kebugaran jasmani terhadap kinerja wasit) sebesar 47,7%. Selanjutnya, terkait penyebaran data yang berhubungan dengan tingkat korelasi antara kebugaran jasmani dengan kinerja terjadi sangat kuat. Yang ditandai dengan penyebaran uji korelasi di sekitar garis diagonal.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan kinerja wasit sepakbola. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan serta titik awal untuk mengkaji lebih lanjut mengenai aspek-aspek lain yang turut berkontribusi terhadap kinerja wasit sepakbola, seperti kecerdasan spasial dan kecerdasan spiritual. Selain itu aspek kebugaran jasmani pun diharapkan dapat diteliti lebih lanjut lagi kontribusinya terhadap kinerja wasit sepakbola, terutama dari komponen kebugaran jasmani yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis ucapkan kepada seluruh responden yang menjadi pendukung dalam penelitian ini.
