PENDAHULUAN
Emosi positif berfokus pada tiga bidang pengalaman manusia: positif subjektif (misalnya, emosi positif, pikiran konstruktif, dan perasaan energi), sifatsifat individu yang positif, dan lembaga positif (misalnya, keluarga, sekolah, bisnis, masyarakat, dan masyarakat) (Fineman, 2006). Maka dari emosi positif tersebut disalurkan pada perilaku relawan olahraga. Perilaku Organisasi Positif (POB) adalah studi dan penerapan kekuatan sumber daya yang berorientasi positif manusia dan kapasitas psikologi yang dapat diukur, dikembangkan dan dikelola secara efektif untuk peningkatan kinerja dalam pekerjaan (Luthans, 2002). Hal ini menyebabkan minat dalam memfasilitasi POB dan mencapai emosi positif antara masyarakat yang disebut sebagai rasa komunitas.
Konsep rasa komunitas digunakan untuk menggambarkan perasaan dari berbagai jenis komunitas (Korti, 2018). Rasa komunitas secara konsisten memprediksi kesejahteraan pekerja dari segi psikologis (Boyd & Nowell, 2014). Relawan yang memiliki kesejahteraan secara psikologis mempunyai hubungan positif antara rasa komunitas dengan kualitas hidup (Boyd & Nowell, 2014) yang akan merasakan kepuasan hidup (Prezza & Costanitini, 1996). Pemberdayaan dalam pengaturan organisasi (Hughey, 2008), kohesi sosial (Wilkinson, 2007), kondisi tempat (Long & Perkins, 2003) dan rasa aman (Zani, B., Cicognani & Albanesi, 2001). Banyak definisi yang ditandai sebagai kegiatan relawan seperti keikhlasan sebagai refleksi dari posisi pribadi adalah prinsip dasar sukarela (Aleksandrovna & Galina, 2016). Setelah memahami pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa emosi positif dari masyarakat dapat membuat sebuah rasa komunitas yang dapat melakukan pemahaman dan perasaan dari relawan tentang acara olahraga. Selain itu motivasi dari relawan secara pribadi perlu diberikan bukti melalui penelitian. Motivasi seseorang dapat membedakan antara relawan dan bukan relawan dalam menjalankan tugasnya dan meninggalkan pekerjaannya (Omoto & Snyder, 1995) untuk memutuskan untuk menjadi seorang relawan (Cnaan & Cascio, 1999).
Relawan olahraga memiliki peran penting untuk bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan atlet dan memfasilitasi selama acara olahraga besar. Hal ini setidaknya karena bagaimana yang dirasakan oleh relawan, dan keterlibatan dengan atlet, dan penonton (Strang, 2018). Dalam kebanyakan kompetisi dan acara olahraga, relawan olahraga sangat diperlukan. Dapat didefinisikan relawan olahraga sebagai orang-orang yang mendapatkan imbalan yang sangat rendah dalam hal gaji (Mostahfezian, Nazari, Sarrami, & Mostahfezian, 2012). Pendapat ahli ini membahas tentang relawan olahraga memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan acara olahraga. Selain itu relawan olahraga tidak perlu gaji besar dalam melaksanakan pekerjaan mereka, karena mereka memiliki semangat yang positif.
Teori pertukaran memberikan penguatan pada penelitian, asumsi peneliti adalah setiap individu memiliki rasa sukarela untuk mencapai tujuan bersama untuk sebuah kepuasan. Ukuran dari kepuasan dan kesejahteraan adalah subjektif yang berasal dari hasil konsumsi seseorang merupakan inti dari utilitas (Stutzer & Frey, 2010). Terdapat tiga tingkat yang berbeda dari rasa kepuasan, yaitu: (1) Pembuktian (pengakuan), (2) emosional (perubahan emosi melalui tindakan saling membantu) dan (3) kekeluargaan (rasa keterikatan dengan keluarga dan temanteman) (Sargeant, Ford, & Barat, 2006). Seseorang menjadi bagian yang terstruktur yang baik dan stabil pada hubungan perasaan komunitas sebagai acuan sebuah kepuasan (Sarason, 1974). Memperkuat bahwa pengakuan pekerjaan seseorang dalam suatu organisasi merupakan penghargaan emosional yang sangat berpengaruh di komunitas. Relawan yang baik adalah mereka yang mempunyai pengalaman melakukan pekerjaan yang sama (Doherty, 2009). Dapat disimpulkan bahwa emosi positif dalam bentuk rasa kebersamaan merupakan salah satu kemungkinan hasil yang positif. Pada bagian berikutnya, kita kaitkan hubungan positif dan emosi positif dengan rasa kebersamaan.
Selanjutnya, dalam menjawab faktor-faktor yang memberikan efek sukarela, penulis mengembangkan hipotesis variabel. hipotesis yang dikembangkan ada tiga bagian penting diadopsi dari penelitian 'Riwayat relawan olahraga tentang rasa komunitas' (Dickson, Hallmann, & Phelps, 2017). Hipotesis yang dikembangkan adalah untuk menghubungkan hubungan emosi positif dengan variabel kejelasan peran, kejelasan tujuan, keterlibatan dan Sikap (orientasi, normatif, sikap, keahlian) dengan sikap komitmen dan rasa
kebersamaan. Variabel-variabel ini menjadi studi literatur yang berhubungan dengan pemahaman relawan dan faktor relawan di acara olahraga.
Kejelasan peran dapat membuat kontribusi yang signifikan terhadap kesuksesan sebuah acara (Allen & Meyer, 1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejelasan peran memiliki efek penting pada persepsi karyawan tentang kualitas layanan (Mukherjee & Malhotra, 2006), menurunkan tingat pemecatan karyawan (Hassan, 2013), saling bekerjasama (Gratton & Erickson, 2007), komunikasi yang baik (Schulz & Auld, 2006) dan keinginan menjadi sukarelawan pada acara selanjutnya (Downward & Ralston, 2006). Kejelasan peran dalam acara olahraga belum terbukti secara empiris, sehingga dalam penelitian ini peran variabel kejelasan peran dalam acara olahraga pada relawan olahraga diperiksa.
Kinerja relawan juga ditentukan oleh kejelasan tujuan. Penelitian membuktikan bahwa kejelasan tujuan berhubungan positif dengan kinerja (Anderson & Stritch 2015). Kejelasan tujuan memiliki hubungan positif dengan manfaat yang dirasakan dari efisiensi dan efektivitas (Ahmad & Rehman, 2011). Perilaku kooperatif dapat memberikan peningkatan nilai misi (Wright & Pandey, 2011) dan dengan diberikannya kejelasan peran pada sebuah organisasi agar pekerjaan tercapai (Arvey & Dewhirst, 1976; Edmondson, 1999). Dalam konteks organisasi publik, dimana tujuan organisasi sering menegaskan menjadi lebih ambigu dan kadang-kadang diamati menjadi lebih beragam dan dinamis daripada organisasi sektor swasta (Rainey, 2014). Jadi arah dari penelitian ini adalah tujuan kejelasan peran menjadi hipotesis yang berkaitan langsung dengan rasa komunitas.
Keterlibatan adalah merupakan bagian dari motivasi, gairah atau minat terhadap kegiatan (Dickson et al, 2017;. Havitz & Dimanche, 1997). Dengan terlibat dalam kegiatan olahraga, penting bagi mereka untuk menghindari stres karya akademis (Daud, Idris, Ashikin, Nazhatul Manaf, & Mudzaffar, 2013). Dalam literatur dan penelitian yang dilakukan keterlibatan secara langsung telah dikaitkan dengan rasa komunitas (Albanesi, Cicognani, & Zani, 2007), pada olahraga atletik (Thomas & Côté, 2009) ditemukan keterlibatan dalam memfasilitasi acara olahraga dan keterlibatan dalam berorganisasi (Peterson et al., 2008). Pendapat di atas mengarah ke hipotesis yang diajukan yaitu: keterlibatan
relawan olahraga secara langsung berkaitan dengan rasa komunitas. Tiga hipotesis dikembangkan untuk membuktikan adanya hubungan antara rasa komunitas, dengan kejelasan peran, kejelasan tujuan, dan keterlibatan dalam olahraga.
Peneliti mengambil dasar rasa komunitas dari studi POB (Donaldson & Ko, 2010) sebagai teori pada peneitian ini. Dengan hubungan yang positif dapat mendukung rasa komunitas pada relawan olahraga dalam acara olahraga. Sikap sukarela dan pelayanan kepada masyarakat adalah fenomena secara kontemporer yang berakar pada tradisi sosial masyarakat di seluruh dunia (Kajal, Hemmatinezhad, Mohammad, & Razavi, 2013). Sikap sukarela dalam acara olahraga dilengkapi dengan komitmen individu yang tercermin dalam masyarakat. Komitmen telah diidentifikasi sebagai variabel yang signifikan berhubungan dengan prestasi karyawan dalam bidang perilaku organisasi dan olahraga (Han et al., 1998). Hubungan yang terjadi pada dua orang dalam sebuah lingkungan pekerjaan dengan tujuan saling menguntungkan merupakan hubungan positif pada tempat kerja (Ragins & Dutton, 2007). Hubungan ini menjadi penting karena dalam konteks pekerjaan dapat menimbulkan efek peningkatan hasil yang berbuah positif pada manajer dan organisasi (Kahn, 2007). Selain itu dalam lingkungan pekerjaan hubungan yang positif dapat mempengaruhi suasana kenyamanan organisasi dalam segi psikologis karyawan (Carmeli & Gittell, 2009), lama masa kerja (Stephens, 2013), kerjasama (Lilius, 2011) dan belajar dari kegagalan (Carmeli & Gittell, 2009).
Berbagai pendapat di atas memberikan pemahaman tentang pentingnya relawan di acara olahraga, karena proses acara olahraga secara tidak langsung dapat memberikan pengetahuan kepada relawan olahraga. Pada bagian berikutnya, kita mengembangkan dan mengusulkan hipotesis penelitian.
METODE
Jenis penelitin yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menekankan pada hakikat hubungan antar varibael yaitu variabel bebas deganvaribale teriikat. Dalam penelitian ini memiliki empat variabel yaitu Kejelasan peran, kejelasan tujuan, sikap, keterlibatan, sikap dan rasa komunitas.
Data dikumpulkan dari relawan olahraga yang bertugas pada acara Peparda (Pekan Paralimpik Daerah) di Provinsi Yogyakarta Indonesia tahun 2019.
Maka populasi dalam peneitian ini adlaah seluruh relawan olahraga yang bertugas pada Peparda DIY 2019 yaitu sebanyak 250 orang. Kemudian dalam pemilihan sampel menggunakan teknik sampling kuota dengan cara memberikan undangan sekaligus kuesioner dalam bentuk link ke survei online melalui google form. Sehingga sampel didapatkan 150 dari responden yang mengisi kuesioner google form.
Intrumen Penelitian dan Teknik Analisis Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini digunakan adalah kuesioner dengan cek list poin. Intrumen yang digunakan untuk mengukur variabel sikap yaitu menggunakan instrumen yang disusun dalam penelitian (Mostahfezian et al., 2012). Variabel sikap mencakup 35 pertanyaan dalam tujuh skala untuk mengidentifikasi kejelasan peran, kejelasan tujuan, keterlibatan, sikap dan rasa komunitas. Instrumen ini memiliki face validity dari kuesioner. Sedangkan untuk reliabilitasnya menggunakan Alpha Chronbach dengan indeks 0,93 (Mostahfezian et al., 2012).
Penelitian ini menggunakan analisis data dengan software Smart PLS versi 2.0.m3. Pendekatan dua langkah terpilih untuk menguji model pengukuran dan setelah itu model struktural (J. C. Anderson & Gerbing, 1988).]
HASIL
Hasil penelitian menunjukan variabel konstruk memiliki nilai lebih tinggi dari 0,6 agar mendapatkan reliabilitas konstruk dan alpha Cronbach melebihi 0,7 dengan demikian dapat dianggap handal (JF Hair, 2010). Rata-rata varians diekstraksi (AVE untuk validitas konvergen) melampaui 0,5 variabel dan korelasi kuadrat dari dua konstruk lebih kecil dari Aves mereka (Fornell & Larcker, 1981). Dengan demikian, validitas diskriminan dapat diterima.
Pengujian hipotesis pada taraf signifikansi dapat menggunakan perbandingan nilai T-tabel dan T-Statistic (Hartono, 2008; Jogiyanto & Abdillah, 2009). Kriteria penarikan kesimpulan adalah jika T-Statistic lebih besar dari T-Tabel maka hipotesis diterima. Penelitian ini menggunakan taraf keyakinan sebesar 95% dengan T-Tabel sebesar 1,9764. Jadi dapat disimpulkan keseluruhan
hipotesis diterima berdasarkan dari T-Statistic > T-Tabel (1,9764). Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 pengujian hipotesis.
Tabel 1. Ringkasan Pengujian Hipotesis
| T Statistics | T Tabel | efek | Hipotesis | |
|---|---|---|---|---|
| Kejelasan Peran > Rasa Komunitas | 2.045 | 1.9764 | + | Diterima |
| Kejelasan Peran > Sikap | 2.619 | 1.9764 | + | Diterima |
| Kejelasan Tujuan > Rasa Komunitas | 2.398 | 1.9764 | + | Diterima |
| Kejelasan Tujuan > Sikap | 2.373 | 1.9764 | + | Diterima |
| Keterlibatan > Rasa Komunitas | 2.175 | 1.9764 | + | Diterima |
| Keterlibatan > Sikap | 2.169 | 1.9764 | + | Diterima |
| Sikap > Rasa Komunitas | 2.072 | 1.9764 | + | Diterima |
Tabel 1 menunjukan bahwa dari masing-masing korelasi antar variabel ditemukan T Statistic > T Tabel, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Dari ringkasan pengujian hipotesis ditemukan pada masing-masing interaksi antar variabel memiliki hubungan yang positif. Sehingga pada terdapat hubungan yang signifikan antara Kejelasan peran, Kejelasan tujuan, Keterlibatan dengan Sikap dan Rasa Komunitas relawan olahraga pada even Peparda DIY 2019
Gambar. Skema Analisis Persamaan Struktur
PEMBAHASAN
Penelitian ini menguji keterkaitan antara kejelasan peran, kejelasan tujuan, keterlibatan dengan Sikap dan Rasa komunitas seorang relawan olahraga pada acara Peparda DIY Indonesia 2019. Pengkajian dari penelitian ini adalah bahwa sikap dan rasa komunitas akan didukung oleh kejelasan peran, kejelasan tujuan dan keterlibatan seorang relawan olahraga. hal ini dikarenakan dalam rasa komunitas terdapat keterkaitannya dengan sikap yang ditunjukan oleh relawan olahraga. Selain itu relawan akan melaksanakan tugasnya secara maksimal jika memiliki kejelasan dalam bekerja. Relawan olahraga secara tidak sadar akan memiliki keterkaitan dengan rekan kerja, atlet dan penonton. Hal ini sesuai dengan teori pertukaran sosial yang menunjukan adanya hubungan timbal balik pada relawan dan sebuah acara (Cropanzano & Mitchell, 2005; Homans, 1958; Thibault & Kelley, 1959). Kontribusi dari relawan olahraga akan meningkat jika didukung dari rasa komunitas yang tinggi. Kejelasan pada relawan juga dapat memberikan sikap keterikatan pada organisasi (Allen & Meyer, 1990). Sehingga ikatan emosional juga akan mengacu pada identifikasi keterlibatan dengan rekan relawan.
Kejelasan tujuan memberikan sebuah motivasi kerja untuk relawan olahraga. Selain itu kejelasan tujuan akan memberikan gambaran kerja sama antar relawan olahraga pada sebuah acara. Keterlibatan pada olahraga juga akan memberikan pengaruh pada sikap dan rasa komunitas. Dengan keterlibatan langsung, maka relawan akan merasa menjadi bagian pada sebuah acara olahraga. Serangkaian kejelasan tersebut akan mempengaruhi sikap relawan olahraga untuk bekerja dalam acara olahraga. Temuan ini tidak sedikit mengubah status meyakinkan sebuah penelitian pada ukuran tim berpengaruh pada rasa masyarakat (Filo, K., Spence & Sparvero, 2013). Melihat dari semua faktor yang mendasari pengaruh sikap dan rasa komunitas relawan olahraga, diperlukan pengalaman untuk menjadi relawan yang baik. Sehingga didapatkan adanya keterikatan, kepedulian, komunikasi, kebersamaan untuk menjadikan sikap relawan dalam rangka meraih keberhasilan even olahraga.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah dalam konteks relawan olahraga paralympic menunjukan perilaku positif memberikan dampak yang baik bagi sikap relawan olahraga sehingga dapat memunculkan rasa komunitas pada diri sendri. Selain itu dalam konteks relawan suatu acara olahraga paralimpic, pertimbangan individual dan kejelasan positif mempengaruhi rasa komunitas. Relawan yang baik harus memiliki sikap yang baik dan rasa komunitas antar relawan olahraga dalam berinteraksi diluar organisasi atau tugasnya. Refleksi yang paling memungkinkan untuk penelitian selanjutnya adalah mereplikasi hasil penelitian dengan keberadaan relawan dalam acara olahraga yang lebih besar lagi. Kejelasan, sikap dan rasa komunitas merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari relawan olahraga dalam menjalankan tugasnya.
