PENDAHULUAN
Rugby adalah olahraga kontak yang mengandalkan power, kecepatan, agility, daya tahan, serta beberapa aspek fisiologi lainnya. Dalam permainan rugby, setiap tim terdiri dari 13 pemain, yang tersusun dalam dua posisi besar yaitu pemain dalam posisi belakang/bertahan, dan pemain dalam posisi depan atau menyerang (Yeomans et al., 2018). Secara lebih spesifik, dalam rugby terdapat beberapa posisi, seperti pemain fullback, wing, centre, pivots, stand-off, scrumhalf, hooker, props, back row, second row, dan loose forward. Beberapa penelitian telah mengukur bagaimana kerasnya karaketristik permainan rugby, sehingga olahraga ini dapat dikatakan sebagai olahraga dengan resiko cedera yang cukup tinggi (Patrick G Campbell, Jonathan M Peake, and Minett, 2017).
Rugby sendiri telah diteliti oleh beberapa ilmuwan olahraga, yang mengatakan bahwa rugby merupakan olahraga intermittent (King, Hume, Gissane, & Clark, 2017). Hal tersebut ditunjukkan dengan karakteristik permainan rugby yang mengandalkan sprint pada beberapa waktu, dan juga jogging pada beberapa waktu ketika suatu pertandingan tersebut dimainkan. Meskipun beberapa penelitian tersebut mengatakan bahwa rugby merupakan olahraga intermittent, namun masih belum diketahui pasti, berapa besar prosentase antara kapasitas aerobic dan kapasitas anerobic yang digunakan setiap pemain dalam melakukan suatu pertandingan (Williams, Trewartha, Kemp, & Stokes, 2013). Mengetahui pentingnya kapasitas aerobic dan kapasitas anerobic sangat penting, untuk mengukur sejauh apa performa suatu atlet dalam menjalankan pertandingan.
Di sisi lain, terdapat penelitian yang mengatakan bahwa penumpukan asam laktat tidak dapat dihindarkan dalam rugby, mengingat olahraga tersebut merupakan olahraga dengan intensitas tinggi dan berkarakteristik intermittent (Ball, Halaki, & Orr, 2019). Asam laktat sendiri merupakan sisa metabolisme tubuh yang dihasilkan di sel otot dan sel darah merah (Hall, Rajasekaran, Thomsen, & Peterson, 2016). Pada umumnya pengukuran kadar asam laktat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana intensitas yang telah dijalankan atlet, sehingga dapat menjadi indikator dalam menentukan tingkat kelelahan atau fatigue seorang atlet (Lucertini et al., 2017). Perlu dicermati, bahwa fatigue merupakan indikator yang dapat menyebabkan resiko terjadinya suatu cedera pada olahraga, tidak terkecuali pada olahraga rugby (Lewis, Kamon, & Hodgson, 1986).
Ubi adalah salah satu bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia untuk dijadikan sebagai bahan pangan pengganti nasi (Bovell-Benjamin, 2007). Pada umumnya ubi dijadikan sebagai bahan pangan pengganti, karena indek glikemiks yang baik, sehingga gampang dicerna oleh tubuh, dan memiliki nilai karbohidrat yang tinggi (Somaratne et al., 2020). Beberapa penelitian terkait ubi atau yang disebut dengan Ipomoea batatas (L.) Lam telah mengatakan bahwa dalam ubi terdapat beberapa kandungan Polyphenols yang dapat bermanfaat bagi sistem metabolisme tubuh. Seperti yang diketahui, Polyphenols sendiri dapat berperan sebagai antibacterial, antiinflammatory, anti-pathogenic, anti-carcinogenic, dan dapat meningkatkan aktivitas cardioprotective (Chang, Hu, Huang, Yeh, & Liu, 2010; Zhou, Gao, Praticò, Chen, & Dragsted, 2019).
Karena beberapa hal terkait karakteristik permainan rugby, serta beberapa fakta yang mengatakan tentang manfaat daripada ubi, maka peneliti tertarik untuk mengukur efektivitas konsumsi ubi terhadap penurunan kadar asam laktat pada atlet. Oleh karena itu, tujuan daripada penelitian ini adalah untuk mengukur efektivitas konsumsi ubi pada penurunan asam laktat atlet rugby. Peneliti memiliki hipotesis bahwa ubi dapat menurunkan kadar asam laktat dengan baik setelah selesai melakukan suatu pertandingan.
METODE
Sampel Penelitian
Dalam penelitian single blind, pre-test-post-test ini, melibatkan subjek 30 atlet PELATDA rugby putra Jawa Barat yang akan mengikuti PON XX di Papua. Pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling dengan tujuan agar data yang didapatkan lebih representatif. Adapun kriteria inklusi yang telah ditetapkan adalah (1) Laki – laki, (2) Rentang usia sampel penelitian antara 18-25 tahun, (3) Memiliki pengalaman bermain rugby selama 2 tahun, (4) Tidak memiliki riwayat
penyakit diabetes, (5) Sampel penelitian harus dalam keadaan sehat dan tidak cedera, (6) Sampel telah mendapatkan penjelasan terkait penelitian yang akan dilaksanakan, membaca dan menyetujui lembar persetujuan penelitian (informed consent). Sedangkan kriteria eksklusi adalah mereka yang mengalami cedera musculoskeletal dalam 6 bulan terakhir. Penelitian ini telah lulus komisi uji etik, yang dikeluarkan oleh POLTEKKES Bandung (08/KEPK/EC/III/2021).
Alur Penelitian
Total 30 peserta dibagi kedalam 3 group, yaitu: Grup 1 berisikan (n = 10) yang mengonsumsi ubi cilembu, Grup 2 berisikan (n = 10) yang mengonsumsi roti tawar, dan Group 3 (n = 10) yang mengonsumsi hanya air mineral saja. Seluruh peserta melakukan pengukuran anthropometry sebelum melakukan pengujian (Hasil karakteristik anthropometry dapat dilihat pada Tabel. 1). Setelah melakukan pengukuran anthropometry, seluruh peserta diwajibkan untuk melakukan uji pertandingan, dan pengukuran kadar asam laktat setelah sesaat uji pertandingan berlangsung (pre-test). Setelah pre-test dilakukan, seluruh peserta diwajibkan untuk mengonsumsi sesuai dengan tugas yang diberikan oleh setiap group selama 7 hari lamanya. Pada hari kedelapan, seluruh peserta kembali mengikuti uji pertandingan, dan pengukuran kadar asam laktat dilakukan segera setelah pertandingan tersebut dilakukan (post-test). Desain penelitian dapat dilihat pada Gambar. 1.
Tabel. 1 Karakteristik anthropometry peserta
| Variabel | Rata-Rata dan Standar Deviasi |
|---|---|
| Usia (Tahun) | 21 ± 1,69 |
| Tinggi Badan (Cm) | 169 ± 5,38 |
| Berat Badan (Kg) | 68 ± 11,22 |
| BMI | 24 ± 3,29 |
Keterangan:
Group 1 mengonsumsi ubi cilembu, Group 2 mengonsumsi roti tawar, dan Group 3 mengonsumsi hanya air mineral.
Analisis Statistik
Data yang ditampilkan dalam penelitian ini adalah rata-rata ± SD. Paired Sample T-Test digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam setiap Group 1, Group 2, dan Group 3. Analisis statistik menggunakan software SPSS 2.2.20. Signifikansi diterima pada taraf p < 0.05.
HASIL
Tabel 1 menjelaskan anthropometry seluruh peserta, sedangkan Tabel 2, 3 dan 4 menjelaskan tentang perubahan kadar asam laktat sebelum dan sesudah uji coba pada Group 1, Group 2 dan Group 3. Hasil statistik menunjukkan bahwa hanya pada group 1 (konsumsi ubi cilembu) yang memiliki penurunan asam laktat yang signifikan antara pre-test dan post-test (p = 0.04), Sedangkan tidak ada perbedaan signifikan pada group 2 (p = 0.07) dan group 3 (p = 0.08) pada laktat setelah pertandingan.
Tabel. 2 perubahan kadar asam laktat sebelum dan sesudah uji coba pada Group 1 (Ubi Cilembu)
| Laktat (mmol/L) | |||
|---|---|---|---|
| Sebelum pertandingan | Setelah pertandingan | ||
| Pre-Test | 2.42± 0.22 | 9.45 ± 0.26 | |
| Post-Test | 2.44 ± 0.59* | 8.32 ± 0.42 | |
Keterangan:
Hasil dalam bentuk rata-rata
Tabel. 3 perubahan kadar asam laktat sebelum dan sesudah uji coba pada Group 2 (Roti Tawar)
| Laktat (mmol/L) | |||
|---|---|---|---|
| Sebelum pertandingan | Setelah pertandingan | ||
| Pre-Test | 2.31± 0.32 | 10.42 ± 0.63 | |
| Post-Test | 3.45 ± 0.65* | 8.37 ± 0.85* | |
Keterangan:
Hasil dalam bentuk rata-rata
*Signifikan antara pre-test dan post-test (p < 0.05)
*Signifikan antara pre-test dan post-test (p < 0.05)
Tabel. 4 perubahan kadar asam laktat sebelum dan sesudah uji coba pada Group 3 (Air mineral)
| Laktat (mmol/L) | |||
|---|---|---|---|
| Sebelum pertandingan | Setelah pertandingan | ||
| Pre-Test | 2.39 ± 0.31 | 10.01 ± 0.37 | |
| Post-Test | 2.28 ± 0.47 | 9.98 ± 0.44 | |
Keterangan:
Hasil dalam bentuk rata-rata
PEMBAHASAN
Berdasarkan tujuan penelitian ini, yaitu mengukur efektivitas konsumsi ubi pada penurunan asam laktat atlet rugby, maka temuan daripada peneilitian ini berhasil menjawab hipotesis awal kami, dimana ubi dapat menurunkan kadar asam laktat dengan baik setelah selesai melakukan suatu pertandingan. Hal ini terlihat daripada signifikansi laktat setelah pertandingan antara pre-test dan posttest. Temuan dalam penelitian ini diharapkan akan menjadi suatu dorongan bagi dunia nutrisi olahraga, sebagai suatu temuan baru yang dapat melengkapi temuan sebelumnya terkait asupan pangan, ataupun suplemen yang dapat membantu meningkatkan recovery atlet, khususnya atlet rugby.
Temuan dalam penelitian ini, telah mendukung penelitian sebelumnya terkait efektivitas ubi terhadap peningkatan performa. Sebagai contoh, Chang, dkk (Chang et al., 2010) melakukan suatu penelitian, terkait efektivitas ubi pada pemain basket. Dalam penelitiannya tersebut, Chang, dkk (Chang et al., 2010)menyatakan bahwa ubi yang dikonsumsi selama 7 hari oleh pemain basket dapat meningkatkan atau memodulisasi status antioksidan seorang atlet basket dan mengurangi kerusakan oksidatif yang diakibatkan oleh latihan basket. Selanjutnya Chang, dkk (Chang et al., 2010)juga mengatakan bahwa ubi dapat melakukan sekresi sitokin pro-inflamasi, sehingga dapat mencegah inflamasi berlebih akibat melakukan olahraga. Meskipun penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini, namun kesamaan manfaat ubi dalam meningkatkan atau mempercepat proses recovery adalah hasil yang sama antara penelitian sebelumnya tersebut, dengan penelitian yang telah kami lakukan.
*Signifikan antara pre-test dan post-test (p < 0.05)
Untuk menjawab temuan atas penelitian ini, kami mendukung terkait literasi sebelumnya yang mengatakan bahwa ubi memiliki polyphenols yang dapat berperan sebagai antibacterial, anti-inflammatory, anti-pathogenic, anticarcinogenic, dan dapat meningkatkan aktivitas cardioprotective (Amagloh, Atuna, McBride, Carey, & Christides, 2017). Peran daripada anti-inflamatory dan aktivitas cardioprotective dinilai berperan penting sehingga dapat mempercepat penurunan kadar asam laktat ketika melakukan suatu pertandingan rugby. Secara spesifik, dengan meningkatnya aktivitas cardioprotective, dapat menghambat laju penumpukan asam laktat pada otot ataupun darah, sehingga hasil akhir akumulasi kadar asam laktat setelah bermain rugby akan rendah, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Hasil dalam penelitian ini dinilai sangat penting untuk membantu para atlet rugby dalam meningkatkan ataupun mempercepat proses recovery. Meskipun kami menyadari bahwa masih terdapat beberapa kekurangan dalam penelitian ini, seperti: (1) kami tidak memperhatikan faktor psikologi, yang mungkin saja dapat menjadi suatu pembeda hasil akhir, dan (2) parameter fisiologi lainnya sangat dibutuhkan seperti cretine kinase activity (CK), fungsi hati (SGOT, SGPT), LDH, serta beberapa biomarker lainnya, yang dapat menjawab pertanyaan yang belum dapat dipecahkan dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menjawab limitasi yang kami uraikan tersebut, terlebih melakukan penelitian efektivitas ubi cilembu kepada atlet wanita, dan juga cabang olahraga lainnya.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi ubi Ipomoea batatas (L.) Lam yang berasal dari cilembu, dapat menurunkan kadar asam laktat setelah selesai bertanding lebih cepat dibandingkan dengan konsumsi roti tawar.
UCAPAN TERIMA KASIH (jika ada)
Peneliti mengucapkan terimakasih kepada Tim PELATDA rugby putra Jawa Barat, yang bersedia menjadi subjek dalam penelitian ini.
REFERENSI
- Amagloh, F. K., Atuna, R. A., McBride, R., Carey, E. E., & Christides, T. (2017). Nutrient and total polyphenol contents of dark green leafy vegetables, and estimation of their iron bioaccessibility using the in vitro digestion/caco-2 cell model. Foods, 6(7), 1–12. https://doi.org/10.3390/foods6070054
- Ball, S., Halaki, M., & Orr, R. (2019). Movement Demands of Rugby Sevens in Men and Women. Journal of Strength and Conditioning Research, 33(12), 3475–3490.
- Bovell-Benjamin, A. C. (2007). Sweet Potato: A Review of its Past, Present, and Future Role in Human Nutrition. Advances in Food and Nutrition Research, 52(06), 1–59. https://doi.org/10.1016/S1043-4526(06)52001-7
- Chang, W. H., Hu, S. P., Huang, Y. F., Yeh, T. S., & Liu, J. F. (2010). Effect of purple sweet potato leaves consumption on exercise-induced oxidative stress and IL-6 and HSP72 levels. Journal of Applied Physiology, 109(6), 1710– 1715. https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00205.2010
- Hall, M. M., Rajasekaran, S., Thomsen, T. W., & Peterson, A. R. (2016). Lactate: Friend or Foe. PM and R, 8(3), S8–S15. https://doi.org/10.1016/j.pmrj.2015.10.018
- King, D., Hume, P., Gissane, C., & Clark, T. (2017). Semi-Professional Rugby League Players have Higher Concussion Risk than Professional or Amateur Participants: A Pooled Analysis. Sports Medicine, 47(2), 197–205. https://doi.org/10.1007/s40279-016-0576-z
- Lewis, D. A., Kamon, E., & Hodgson, J. L. (1986). Physiological Differences Between Genders Implications for Sports Conditioning. Sports Medicine, 3(5), 357–369. https://doi.org/10.2165/00007256-198603050-00005
- Lucertini, F., Gervasi, M., D'Amen, G., Sisti, D., Rocchi, M. B. L., Stocchi, V., & Benelli, P. (2017). Effect of water-based recovery on blood lactate removal after high-intensity exercise. PLoS ONE, 12(9), 1–12.
- https://doi.org/10.1371/journal.pone.0184240
- Patrick G Campbell, Jonathan M Peake, and Minett, G. M. (2017). The specificity of rugby union training sessions in 2 preparation for match demands. International Journal of Sports Physiology and Performance, 13(4), 496– 503.
- Somaratne, G., Ye, A., Nau, F., Ferrua, M. J., Dupont, D., Paul Singh, R., & Singh, J. (2020). Role of biochemical and mechanical disintegration on βcarotene release from steamed and fried sweet potatoes during in vitro gastric digestion. Food Research International, 136, 109481. https://doi.org/10.1016/j.foodres.2020.109481
- Williams, S., Trewartha, G., Kemp, S., & Stokes, K. (2013). A meta-analysis of injuries in senior men's professional Rugby Union. Sports Medicine, 43(10), 1043–1055. https://doi.org/10.1007/s40279-013-0078-1
- Yeomans, C., Kenny, I. C., Cahalan, R., Warrington, G. D., Harrison, A. J., Hayes, K., … Comyns, T. M. (2018). The Incidence of Injury in Amateur Male Rugby Union: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sports Medicine, 48(4), 837–848. https://doi.org/10.1007/s40279-017-0838-4
- Zhou, X., Gao, Q., Praticò, G., Chen, J., & Dragsted, L. O. (2019). Biomarkers of tuber intake. Genes and Nutrition, 14(1), 1–15. https://doi.org/10.1186/s12263-019-0631-0
