PENDAHULUAN
Pada dasarnya manusia tidakkbisa hidupssendiri dan merupakan makhluk sosial yang saling berinteraksi dengan berbagai cara. Interaksi antar manusia sering terjadi tanpa disengaja, karena manusia sering tertarik satussama lain karena kesamaannya sehinggammembentuk membentuk suatuskelompok. Tujuann dari hidup berkelompok merupakan kunci untuk meningkatkannkesejahteraan dan kebahagiaannhidup. Selain itu, manusia jugaamenginginkan sebuahhpengakuan akan keberadaanndirinya. Jika seorang manusia diakui, maka rasa kepercayaan diri tersebut akan tumbuh.
Kepercayaan diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan hidup dan melakukan apa yang diinginkan, bersikap sopan dan hormat kepada
orangglain, dan memilikid dorongan untukusukses (Lauster, 2012). Penjelasan diatassdapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri, tidak merasa takut dan perasaan mampu menyelesaikan segala tantangan hidup tanpa membandingkan kemampuan diri sendiri dengan orang lain. Orang dengan HIVvpositif tidak memiliki kepercayaan diri karena stigma dan ketakutan yang melekat pada masyarakat terhadap mereka.
Di Indonesia, sebagian pengidap HIV diperlakukan sebagai buronan seperti pekerja seks dan pecandu narkoba yang didesak untuk meninggalkan lingkungannya karena virus tersebut dipandang sebagai penyakit yang dapat menular melalui kontak sosial biasa (Irawan, 1994). Orang yang hidup dengan HIV positif seringkali memiliki kepercayaan diri yang rendah karena mereka tahu bahwa harapan hidup mereka lebih pendek, memiliki penyakit tidak lumrah, dan kurang dukungan dari orang yang mereka cintai. Stigma juga membuat segalanya menjadi sulit.
HumannImmunodeficiencyaVirus (HIV)madalah virus yangmmenyerang sel-sel dalam sistemmkekebalanmtubuh manusia (terutama CD42positiftT-sel danmmakrofag). Virus HIV dapat merusak atau bahkan menghancurkan sel-sel tersebut (Seddiki et al., 2013). HIVVadalah virus2yang dapatmmerusak sistem kekebalanmtubuh,mmenyebabkan penurunan kesehatan secara bertahap. Jika seseorang terinfeksi HIV, bukan berarti mereka akan langsungmjatuhmsakit. Seseoranggdapat hidupvdengan HIV selama bertahun-tahunntanpa mengalami gejala atau masalah apa pun. Lamanya masa sehat ini sangat ditentukan oleh motivasi mereka sendiri2danmbagaimana mereka menjaga kesehatannya dengan melakukan polamhidupmsehat (Green et al., 2006). Darimpernyataan tersebut dapat disimpulkanmbahwa seseorang yang positif HIV dapat melakukan aktivitas fisik tanpa mengalami sakit atau masalah kesehatan yang berarti.
Aktivitas jasmani adalah setiap gerakan tubuh yang memerlukan pengeluaran energi. Ketidakaktifan fisik merupakan faktor risiko independent untuk penyakit kronis dan diperkirakan menyebabkan kematian secara keseluruhan secara global. Aktivitas jasmani adalah setiap gerakan tubuh yang memerlukan pengeluaran energi. Ketidakaktifan fisik merupakan faktor risiko independent untuk penyakit kronis dan diperkirakan menyebabkan kematian secara keseluruhan secara global (World Health Organization, 2010).
Aktivitas fisik adalah hasil kerja otot rangka dan menghasilkan pengeluaran energi yang mengarah pada peningkatan kesehatan. Aktivitas jasmani yang dilakukan secara terencana akan memberikan pengalaman-pengalaman, situasi sosial, keterampilan secara langsung dan memberikan pembelajaran yang melekat pada orang dengan HIV positif. Hidup dengan HIV positif membuat kecenderungan menarik diri dari lingkungan karena seseorang yang terkena virus HIV memiliki pandangan bahwa dirinya terbuang, sampah masyarakat dan tak berguna. Penelitian telah menemukan bahwamorangmdengan HIVvpositifmmemiliki kepercayaan diri yangmlebih rendah daripada orang tanpa HIV.
Ini mempengaruhi perasaan mereka tentang kemampuan mereka sendiri, dan kesediaan mereka untuk berbagi informasi atau mendukung orang lain untuk tidak tertular virus HIV. Dampaknya akan menjadi masalah besar, karena mempersulit orang yang hidup dengan virus HIV untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang tanpa virus HIV. Kepercayaan diri adalah kunci untuk hidup sukses, dan orangmdenganmkepercayaanmdiri yangmrendah seringkalimtidak memiliki harapan hidup. Aktivitas jasmani melalui sepakbola memiliki peran penting untuk merubah pandangan terhadap diri orang dengan HIV positif dan stigma masyarakat. Dukungan dari orang tua, teman, relasi dan lingkungan menjadi modal utama terhadap perubahan diri sehingga orang dengan HIV positif merasa diterima, dihargai, dan tidak dijauhi.
Cabang olahraga futsal dapat menjadi sarana yang tepat bagi orang dengan HIV positif untuk meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik mereka untuk menjelaskan isu-isu seputar HIV/AIDS kepada orang tanpa virus HIV sehingga dapat belajar lebih banyak tentang pentingnya kesehatan. Ini dapat membantu orang dengan HIV positif merasa lebih dapat mengendalikan hidup mereka sendiri dan juga membantu orang lain merasa lebih terhubung dengan komunitas HIV/AIDS (Erida, 2021). Olahraga teratur memiliki dampak positif pada sistem kekebalan tubuh dengan menyebabkan perubahan pada jaringan, sel, dan protein (Guenter et al., 1993).
Orang dengan HIV positif yang mengikuti sepakbola memiliki persepsi bahwa seseorang yang memiliki jasmani yang sehat, prestasi yang tinggi akan mudah diterima oleh masyarakat luas walaupun keadaan dirinya tidak sempurna seperti orang yang memiliki kualitas hidup yang baik. Persepsi awal ini akan berdampak baik sehingga memberikan stimulus terhadap orang dengan HIV positif untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Ketikamorang denganmHIV positif merasa nyaman dengan pengalamanmaktivitasmjasmani mereka dan berhasil, mereka akan mengubahmpikiran,mperan, danmsikap mereka. Hal ini akan menimbulkanmrasampercayamdiri. Dengan adanya penelitian ini diharapkan menjadi pertimbangan dalam membangun kepercayaan diri pada orang yang hidup dengan HIV positif melalui media sepak bola.
METODE
Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian kausal komparatif atau ex post facto dan pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling dengan jumlah sampel orang dengan HIV positif sebanyak 5 orang yang mengikuti kegiatan sepak bola di Rumah Cemara Bandung melalui ketentuan orang dengan HIV positif yang menggunakan narkoba jenis jarum suntik yang mengikuti kegiatan sepak bola minimal satu tahun atau lebih dan tidak berpindah-pindah kegiatan yang berusia 25-35 tahun karena pembentukan sikap seseorang dapat terbentuk dari aktivitas sama yang berulang-ulang dalam waktu yang sama. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa jumlah populasi kurang dari 100, sehingga sampel yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh bagian dari populasi itu sendiri, yaitu orang dengan HIV positif.
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner tertutup dan menggunakan skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2014). Beberapa aspek dari kepercayaan diri yang dipaparkan oleh (Lauster, 2012) maka peneliti menyimpulkan dan mengembangkan komponen berdasarkan batasan dari variable penelitian, selanjutnya ditentukan ciri umum dan indicator tersebut. Data yang dikumpulkan melalui kuesioner diolah menjadi bentuk kuantitatif dengan memberikan skor pada jawaban atas pertanyaan yang telah dijawab oleh responden. Skor tersebut didasarkan pada ketentuan yang terdapat dalam kuesioner (Sugiyono, 2014).
Tabel 1. Skor Untuk Soal Positif-Negatif
| Positif | Jawaban | Negatif |
|---|---|---|
| 5 | Sangat Setuju (SS) | 1 |
| 4 | Setuju (S) | 2 |
| 3 | Kurang Setuju (KS) | 3 |
| 2 | Tidak Setuju (TS) | 4 |
| 1 | Sangat Tidak Setuju (STS) | 5 |
Berdasarkan uji validitas kuesioner yang valid sebanyak 28 butir dari 50 butir pernyataan dan uji reliabilitas diperoleh hasil 0,722021 masuk dalam kriteria reliabel.
HASIL
Kriteria penilaian rata-rata kepercayaan diri didapatkan hasil dari jumlah responden sebanyak 5 orang dengan 28 butir tes pernyataan kuesioner kepercayaan diri yang dihasilkan dari setiap item memiliki bobot maksimal 5 maka jumlah keseluruhan tes dari 5 responden sebanyak 514/5 = 102,8 dengan standar deviasi 7,4 yang mengikuti sepak bola.
Tabel 2. Hasil Perhitungan Kuesioner Kepercayaan Diri
| n | Mean ± SD | Nilai Minimal | Nilai Maksimal |
|---|---|---|---|
| 5 | 102,8 ± 7,4 | 94 | 111 |
Untuk mengukur kriteria penilaian dari setiap variabel pada penelitian ini, dapat dihitung persentasemketercapaianmskor yangmdiperoleh seluruhmresponden dimanamkriteriampenilaianmberdasarkanmpersentase skor jawaban sebagai berikut:
Tabel 3. Kriteria Persentase
| Skor | Kriteria | |
|---|---|---|
| 0 – 20% | Sangat Lemah | |
| 21 – 40% | Lemah | |
| 41 – 60% | Cukup |
|---|---|
| 61 – 80% | Kuat |
| 81 – 100% | Sangat Kuat |
Sumber: (Riduwan, 2011)
Untuk kriteria penilaian kepercayaan diri didapatkan hasil dengan jumlah responden sebanyak 5 orang dimana setiap item memiliki bobot maksimal 5 maka total skor ideal variabel kepercayaan diri adalah 700. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa jumlah skor variabel kepercayaan diri adalah 514, maka persentase skor ketercapaian variabel kepercayaan diri adalah sebesar 514/700 x 100% = 73,43%. Hasil tersebut menunjukkan kepercayaan diri orang dengan HIV positif termasuk pada kriteria kuat.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data ditemukan bahwa aktivitas jasmani dapat mempengaruhi kepercayaan diri orang dengan HIV positif. Setelah dipersentasekan hasil kuesioner kepercayaan diri didapat nilai 73,43% untuk orang dengan HIV positif yang mengikuti kegiatan sepak bola. Aktivitas jasmani yang dilakukan secara terencana akan memberikan pengalaman-pengalaman, situasi sosial, keterampilan secara langsung dan memberikan pembelajaran yang melekat pada orang dengan HIV positif.
Temuan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak muda yang lebih aktif dalam olahraga memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk mengatasi stress, gejala kenakalan dan penyimpangan perilaku remaja. Sedangkan dari sisi ekonomi akan mengakibatkan penurunan pengeluaran biaya perawatan Kesehatan karena tubuh lebih sehat, dan menjadi produktif bila kelak menjadi tenaga kerja (Brettschneider, 1999).
Aktivitas jasmani melalui sepak bola menjadi kunci kesembuhan dan pandangan masyarakat untuk menaikkan kepercayaan diri orang dengan HIV positif dengan memberikan sebuah deskripsi kepada masyarakat bahwa seseorang yang terkena virus HIV dapat melakukan hal yang sama seperti masyarakat umum yang HIV negatif. Selain daripada itu, seseorang yang diperbudak narkoba jenis jarum suntik sampai hidupnya dinyatakan HIV positif akhirnya berubah setelah
gigih mengasah fisik dan mental dengan mengalihkan cand uke aktivitas jasmani melalui sepak bola. Orang dengan HIV positif ingin membuktikan bahwa mereka tetap layak mendapat tempat di masyarakat sehingga aktivitas jasmani melalui sepak bola bukan lagi sebagai media penyaluran melainkan sebagai obat ketika melakukannya dengan sungguh-sungguh.
KESIMPULAN
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa orangmdengan HIVmpositif ketika mendapatkanmpengalaman–pengalaman dalammaktivitas jasmani dan berprestasi akanmmerubahmpikiran,mperan danmsikap yang akan menimbulkan kepercayaan diri,minilah yangmmemberikan pengaruhmterhadap orang dengan HIV positif yang mengikuti aktivitas jasmani melalui sepak bola dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Diharapkan ada penelitian lanjutan dengan jumlah responden lebih banyak lagi selain yang mengikuti sepak bola dan lebih luas untuk daerah penelitiannya tidak hanya di Jawa Barat namun di luar Jawa Barat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh responden penelitian dan pihak Rumah Cemara Bandung serta tim Homeless World Cup.
REFERENSI
Brettschneider, W.-D. (1999). Risks and Opportunities: Adolescents in Top-Level Sport-Growing Up with the Pressures of School and Training.
Green, E. C., Halperin, D. T., Nantulya, V., & Hogle, J. A. (2006). Uganda's HIV Prevention Success: The Role of Sexual Behavior Change and the National Response. AIDS and Behavior, 10(4). https://doi.org/10.1007/s10461-006-9073-y
Guenter, P., Muurahainen, N., Simons, G., Kosok, A., Cohan, G. R., Rudenstein, R., & Turner, J. L. (1993). Relationships Among Nutritional Status, Disease Progression, and Survival in HIV Infection.
Irawan. (1994). Dialog Seputar AIDS (Rev) - Google Buku. Irawan. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=WfozCJX7rj0C&oi=fnd&pg=PA13&dq=Ir
awan,+1994+HIV&ots=uzsDncMNZO&sig=QfzkRl3GOg5P2TYh7fTB8NeDQpo&redir_esc= y#v=onepage&q&f=false
Lauster, P. (2012). Tes Kepribadian. Bumi Aksara.
Riduwan. (2011). Dasar-Dasar Statistika. Alfabeta.
Seddiki, M.-A., Yatim, N., Carriere, A., & Hulin, M. (2013). Regulatory T Cells Negatively Affect IL-2 Production of Effector T Cells through CD39/Adenosine Pathway in HIV Infection. https://doi.org/10.1371/journal.ppat.1003319
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
World Health Organization, R. O. for the E. M. (2010). Framework for the implementation of the global strategy on diet, physical activity and health in the Eastern Mediterranean Region: working document. WHO: World Health Organization.
