PENDAHULUAN
Berprestasi dalam olahraga merupakan tujuan yang dimiliki oleh atlet, dan untuk mencapainya seorang atlet akan memberikan kemampuan maksimalnya dalam berlatih agar mendapatkan performa yang maksimal dan memiliki prestasi. Olahraga Penyandang Disabilitas adalah Olahraga yang dilakukan sesuai dengan kondisi disabilitas fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik seseorang (UU Keolahragaan, 2022). Untuk memiliki prestasi dan menjadi seorang atlet tidak hanya bagi masyarakat umum, namun masyarakat inklusif yang memiliki keterbatasan fisik atau yang biasa disebut dengan atlet disabilitas juga dapat menjadi altet dan meraih prestasi. Di Indonesia, prestasi yang dimiliki oleh atlet disabilitas sudah sampai taraf Internasional, terbukti ketika diadakannya ASIAN Para Games 2018 Indonesia masuk jajaran 5 besar peraih medali dan menjadi juara umum pada ASEAN Para Games 2022.
Tumbuhnya prestasi atlet disabilitas di Indonesia menggambarkan bahwa masyarakat disabilitas juga dapat ikut serta dalam kegiatan olahraga prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa. Selain itu, pembibitan atlet disabilitas juga menjadi poin penting dalam mempertahankan ataupun meningkatkan prestasi Indonesia di perhelatan olahraga disabilitas dunia. Seorang atlet disabilitas dapat
berprestasi dengan dukungan dari banyak faktor, mengembangkan analisa dan mengidentifikasi faktor penentu prestasi atlet disabilitas diantaranya pengembangan fasilitas khusus, ilmu keolahragaan dan layanan kedokteran, struktur kompetisi yang berfokus pada persiapan untuk kompetisi olahraga besar seperti Olimpiade, pembinaan berkualitas tinggi, dan atlet yang didanai dengan baik sebagai integral dari kesuksesan di tingkat tertinggi (Houlihan and Chapman 2017). Masyarakat penyandang disabilitas adalah bagian dari keluarga olahraga dan perlu dipertimbangkan di semua aspek organisasi, bukan hanya fokus pada penyandang disabilitas sebagai atlet atau peserta dalam kegiatan olahraga (Misener and Darcy 2014).
Prestasi olahraga juga didorong oleh rasa mencintai dan minat terhadap aktifitas fisik sedari dini, (Carpenter et al., 1993; Scanlan et al., 1993a, 1993b; Martin. 2006) anak-anak yang mengalami kesenangan dalam olahraga lebih mungkin untuk tetap berkomitmen dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menemukan pengalaman olahraga yang positif (Martin 2006). Hal ini membuktikan bahwa pengalaman semasa kecil akan menimbulkan efek jangka panjang dalam menentukan pilihan di masa yang akan datang, salah satunya pemilihan karir. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa siswa disabilitas 73.25% mempunyai minat terhadap aktivitas fisik (Amarudin et al., 2021). Pengawasan terhadap pembinaan dini atlet disabilitas sangat penting untuk mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi keinginan mereka untuk menjadi atlet.
Sampai saat ini, belum ada penelitian yang mengetahui tentang minat berkarir untuk menjadi atlet disabilitas. Data yang dikumpulkan akan menambah literasi tentang pengembangan pembinaan atlet disabilitas. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mengetahui minat siswa yang mempunyai keterbatasan fisik untuk berkarir sebagai atlet. Karena dengan mengetahui minat siswa disabilitas yang ingin berkarir sebagai atlet dapat menggambarkan proses pembinaan atlet disabilitas. Sehingga peneliti mempunyai harapan dapat membantu pengurus, pelatih, maupun pembinaan olahraga disabilitas agar dapat mengembangkan dan menerapkan strategi pendekatan dan pengawasan pembinaan atlet usia dini di SLB.
METODE
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kuesioner dengan fokus pertanyaan berupa expressed interest, manifest interest, tested interest, dan inventoried interest. Penelitian ini berlangsung selama 2 bulan. Populasi penelitian ini diambil dari SLBN Citeureup, Kota Cimahi sebanyak 18 siswa dan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pemilihan populasi inklusi yang sudah peneliti tentukan yaitu berusia 12-18 tahun, memiliki gangguan penglihatan (total blind & low vision). Sedangkan kriteria eksklusi yaitu siswa yang tidak memiliki gangguan penglihatan.
Setelah dilakukan screening berdasarkan kriteria eksklusi yang sudah peneliti tentukan, didapatkan (n=18) partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Kuesioner akan disebarkan kepada partisipan secara langsung dengan menggunakan metode wawancara, sedangkan fokus pertanyaan yaitu meliputi data expressed interest, manifest interest, tested interest, dan inventoried interest. Pertanyaan data expressed interest berupa ketertarikan terhadap aktifitas olahraga dan keinginan menjadi atlet. Sedangkan untuk pertanyaan manifest interest berupa jenis olahraga yang diikuti dan mengikuti pelatihan sistematis atau tidak. Lalu, pertanyaan tested interest berupa pengetahuan terhadap skill/kemampuan gerak dan pengetahuan tentang kecabangan olahraga. Kemudian, untuk pertanyaan inventoried interest meliputi keinginan untuk bertanding dan berprestasi. Pertanyaan tersebut mengacu pada teori (Sukardi, 2006). Pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Untuk desain penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Tabel 1. Kuisioner minat.
| Pertanyaan | |
|---|---|
| Expressed interest | Apakah Anda suka dengan olahraga? |
| Apakah Anda ingin menjadi atlet? | |
| Manifest Interest | Olahraga apa yang Anda ikuti/minati? |
| Apakah Anda mengikuti Club/ latihan terprogram? | |
| Tested Interest | Apakah Anda dapat menunjukkan skill/keterampilah di kecabangan olahraga tersebut? |
| Apakah Anda dapat menjelaskan mengenai olahraga yang Anda gemari? | |
| Inventoried | Apakah Anda pernah ikut serta dalam pertandingan olahraga tersebut? |
Interest Apakah Anda memiliki prestasi di kecabangan olahraga tersebut?

Gambar 1. Desain penelitian
HASIL
Dari total siswa (N = 48) siswa disabilitas, 30 siswa dikeluarkan, karena siswa termasuk dalam kriteria eksklusi (17 siswa termasuk tuna daksa dan 13 siswa termasuk tuna rungu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tunanetra yang tertarik dengan olahraga (67%) dan yang ingin menjadi atlet (50%) dapat dilihat pada Gambar 2. Dan pada Gambar 3. Secara umum, olahraga yang diminati oleh siswa tunanetra yaitu lari (33%), renang (28%), sepakbola (22%), sedangkan siswa yang tiding mengikuti olahraga (17%). Tetapi semua siswa tersebut tidak ada yang mengikuti pelatihan olahraga. Sedangkan 67% siswa dapat menunjukkan teknik olahraga yang digemari dan hanya 56% siswa yang dapat menjelaskan mengenai olahraga yang digemari, hasil ini dapat dilihat pada Gambar 4. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dari 18 siswa yang berminat dalam olahraga lari, speakbola, dan renang tidak ada siswa yang mengikuti pertandingan dan memiliki prestasi
olahraga dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 2. Expressed interest

Gambar 3. Manifest interest

Gambar 4. Tested interest

Gambar 5. Inventoried interest
Dari hasil, penelitian ini menunjukkan bahwa siswa tunanetra yang tertarik dengan olahraga (67%) dan yang ingin menjadi atlet (50%). Secara umum, olahraga yang diminati oleh siswa tunanetra yaitu lari (33%), renang (28%), speakbola (22%), sedangkan siswa yang tiding mengikuti olahraga (17%). Tetapi semua siswa tersebut tidak ada yang mengikuti pelatihan olahraga. Sedangkan 67% siswa dapat menunjukkan teknik olahraga dan hanya 56% siswa yang dapat menjelaskan mengenai olahraga yang digemari, tetapi dari 18 siswa yang berminat dalam olahraga lari, sepakbola, dan renang tidak ada siswa yang pernah mengikuti pertandingan dan memiliki prestasi olahraga.
Berdasarkan hasil tersebut, ada penelitian yang mengungkapkan bahwa ada manfaat luas yang berasal dari partisipasi olahraga yang mencakup sosialisasi (meningkatkan kesadaran sosial dan keterhubungan dengan orang lain), kesehatan fisik (peningkatan kekuatan dan kemampuan fisik) dan kesejahteraan emosional (pencapaian tujuan olahraga meningkatkan kepercayaan diri), dengan berpartisipasi dalam olahraga bagi penyandang disabilitas dapat mengurangi tekanan mental yang disebabkan oleh hambatan sosial yang mencegah inklusi, sehingga berdampak positif pada kesehatan dan kesejahteraan mental (Ballas et al. 2020).
Penting halnya dalam menjamin hak-hak hukum individu atas perlakuan yang sama dan kesempatan yang sama terlepas dari ciri-ciri pribadi mereka seperti warna kulit, jenis kelamin, dan kedisabilitasan. (Kauffman et al. 2009). Hal ini menunjukkan bahwa siswa disabilitas juga memiliki peluang yang sama dalam menentukan karir yang dapat menjamin masa depannya. Pendidikan merupakan modal utama untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Guru merupakan sosok
panutan yang dapat memberikan motivasi siswa terhadap hal apa yang dapat mereka lakukan di masa yang akan datang Mengatur lingkungan kelas untuk mempromosikan perilaku yang tepat dan transfer pengetahuan, mengajar siswa dengan menggunakan strategi selangkah demi selangkah, dan mengatur presentasi pengajaran secara sistematis, masing-masing mencerminkan pengaruh struktur dalam pengajaran. Masing-masing aspek pengajaran ini penting tidak hanya bagi siswa penyandang cacat tetapi juga untuk mengajar secara umum (Weiss & Lloyd 2001). Keberhasilan suatu sekolah sangat tergantung pada kualitas tenaga pengajarnya. Ketika guru terampil, orang tua dan administrator senang. Dan yang terpenting, ketika guru mengajar secara efektif, maka siswa akan mudah dalam belajar (Raptakis, 2005).
Merencanakan pembelajaran yang efektif bagi anak berkebutuhan khusus merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan oleh seorang guru. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketidaksesuaian rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru kelas dikarenakan latar belakang pendidikan guru kelas. Mereka tidak memiliki kualifikasi dalam bidang pendidikan olahraga/ilmu keolahragaan/kepelatihan olahraga, melainkan dari bidang Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Bahasa dan Sastra, Seni, Ekonomi, Keterampilan dan Sekolah Pendidikan Guru (setaraf SMA) sehingga dalam merencanakan pembelajaran penjasorkes tidak/kurang paham dan mengalami kesulitan (Yuniartik et al. 2017). Sekolah Luar Biasa pada umumnya tidak memiliki Guru Penjas dan melakukan subtitusi oleh guru ajar dari mata pelajaran lainnya, hal ini dapat menurunkan kadar kualitas dari sistem pengajaran bagi siswa disabilitas. Minimnya pendanaan yang dimiliki sekolah menjadi penghambat yang sangat berarti bagi guru untuk mengembangkan proses belajar sesuai dengan yang diharapkan. Peran guru wali kelas sangat diperlukan untuk membantu guru penjasorkes ketika pengawasan dan mengkondisikan siswa saat mengikuti pelaksanaan pembelajaran penjasorkes (Muhammad Thobroni & Arif Mustofa, 2013).
Untuk memfasilitasi kesadaran seorang disabilitas, maka dengan menggunakan model pendidikan olahraga memungkinkan siswa untuk melakukan aktivitas olahraga dengan penuh pemahaman. Melalui SEM (Sport Education Method), para profesional pendidikan jasmani tidak hanya dapat mengembangkan
olahragawan yang kompeten, teredukasi, dan antusias, juga individu yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan hubungannya dengan olahraga. Selain itu, Foley et.al juga mengungkapkan bahwa ketika mengembangkan iklim pendidikan olahraga yang diarahkan pada kesadaran disabilitas, guru pendidikan jasmani memutuskan memilih olahraga disabilitas tertentu seperti bola voli atau bola gawang, atau olahraga umum seperti sepak bola atau atletik (Foley et al. 2007).
Penelitian yang dilakukan oleh Wilson dan Khoo mengungkan bahwa atlet disabilitas menemukan olahraga yang digemari melalui sistem sekolah (25%), pusat pelatihan (18%), dan teman (17%) sedangkan alasan mereka mengikuti olahraga yaitu prestasi (58%), kepuasan (41%), minat (31%), dan alasan lain yang tidak masuk dalam kategori yaitu mereka ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa seorang disabilitas juga dapat berkontribusi dalam olahraga terlepas dari kecatatannya (Wilson and Khoo 2013). Inklusi dalam olahraga harus dipertimbangkan lebih dari sekadar menjamin aksesibilitas. Selain itu, prinsip panduan inklusi memerlukan pendekatan untuk meningkatkan partisipasi, yaitu berorientasi pada proses dan sesuai dengan hak dasar untuk berpartisipasi dalam pendidikan jasmani dan olahraga (Kiuppis 2018). Sebagian besar penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan ditengah ekonomi yang kurang mendukung dan juga lingkungan yang semakin membuat terpuruk keadaan mereka. Peran pemerintah dan lembaga pemerhati disabilitas sangat dibutuhkan untuk mendukung program pengentasan pengangguran. Perlu adanya pemahaman yang mendasari tidak hanya secara komitmen tertulis namun juga perlu diwujudkan nyata dalam setiap kebijakan, nilai-nilai organisasi dan menyeluruh pada setiap level organisasi. Hal inilah yang memerlukan adanya pengembangan yang terus menerus. Menerima disabilitas menjadi bagian dari anggota organisasi berarti siap dengan segala konsekuensi dan menaati serta memenuhi kebutuhan yang dapat menunjang kinerja disabilitas ditempat kerja. Termasuk memberikan kesempatan yang sama bagi kesempatan peluang karir antar apekerja disabilitas dan non disabilitas. Hal tersebut juga merupakan dukungan positif yang diterima dari luar individu yang menjadi penguat motivasi individu untuk menunjukan kinerja terbaik bagi perusahaan (Intanirian et al. 2020). Temuan menarik yang didapatkan dari penelitian ini, namun tidak terjabarkan oleh instrumen penelitian yaitu para
penyandang tunanetra lebih memilih menjadi seniman (penyanyi) dan pendakwah karena dirasa lebih realistis dan juga merupakan referensi dari alumni dan keluarga.
Peneliti menyadari bahwa ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, seperti peneliti tidak mengukur survey pada siswa disabilitas selain kedisabilitasan tunanetra dan faktor eksternal yang mempengaruhi pemilihan karir. Keterbatasan tersebut diharapkan dapat dijawab oleh beberapa penelitian selanjutnya sehingga dapat melengkapi temuan yang diperoleh dalam penelitian ini. Harapan penulis dari penelitian ini yaitu semakin terbukanya keilmuan tentang pemberdayaan masyarakat disabilitas, dan semakin banyaknya penelitian serupa terkait masyarakat disabilitas.
KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa minat siswa penyandang tunanetra masih rendah untuk memilih berkarir sebagai atlet, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya informasi mengenai kesempatan berkarir sebagai atlet di sekolah masih belum optimal. Hasil survei menunjukkan bahwa siswa mengenal olahraga hanya sampai tahap pengetahuan dasar, dan belum sampai tahap tertarik untuk mengikuti pelatihan khusus olahraga bagi disabilitas. Maka, temuan penelitian ini dapat memperluas pengetahuan dalam bidang disabilitas untuk menjadi acuan dalam program rekrutmen atlet-atlet muda disabilitas (paralympics).
REFERENSI
Amarudin, M. Taufik, Edi Setiawan, Ervan Kastrena, Aziz Amrulloh, Eneng Fitri Amalia, Andi Kurniawan Pratama, and Adi Rahadian. 2021. "Mengeksplorasi Minat Siswa Penyandang Disabilitas Terhadap Aktivitas Fisik Di Masa Pandemi Covid-19." Jurnal Patriot 3(4):408–18. doi: 10.24036/patriot.v3i4.820.
Ballas, Jessica, Melissa Buultjens, Greg Murphy, and Mervyn Jackson. 2020. "Elite-Level Athletes with Physical Impairments: Barriers and Facilitators to Sport Participation." Disability and Society 0(0):1–20. doi: 10.1080/09687599.2020.1862642.
Foley, John T., Daniel Tindall, Lauren Lieberman, and So-Yeun Kim. 2007. "How to Develop Disability Awareness Using the Sport Education Model." Journal
- of Physical Education, Recreation & Dance 78(9):32–36. doi: 10.1080/07303084.2007.10598096.
- Houlihan, Barrie, and Pippa Chapman. 2017. "Talent Identification and Development in Elite Youth Disability Sport." Sport in Society 20(1):107– 25. doi: 10.1080/17430437.2015.1124566.
- Intanirian, A., & Perdhana, M. S. (2020). Progres Karir Penyandang Disabilitas (Studi Fenomenologi Pada Pekerja Disabilitas) (Doctoral dissertation, UNDIP: Fakultas Ekonomika dan Bisnis).
- Kauffman, J. M., & Landrum, T. J. (2009). Politics, civil rights, and disproportional identification of students with emotional and behavioral disorders. Exceptionality, 17(4), 177-188.
- Kiuppis, Florian. 2018. "Inclusion in Sport: Disability and Participation." Sport in Society 21(1):4–21. doi: 10.1080/17430437.2016.1225882.
- Martin, Jeffrey J. 2006. "Psychosocial Aspects of Youth Disability Sport." Adapted Physical Activity Quarterly 23(1):65–77. doi: 10.1123/apaq.23.1.65.
- Misener, Laura, and Simon Darcy. 2014. "Managing Disability Sport: From Athletes with Disabilities to Inclusive Organisational Perspectives." Sport Management Review 17(1):1–7. doi: 10.1016/j.smr.2013.12.003.
- Raptakis, D. M. (2005). The highly qualified teacher: Perceptions of parents, teachers, and principals at the elementary and middle school levels. Johnson & Wales University.
- Sukardi, Dewa Ketut. 2006. Analisis Tes Psikologi. Jakarta: Rineka Cipta.
- UUKeolahragaan. 2022. "Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Keolahragaan." Pemerintah Republik Indonesia 1–89.
- Weiss, M. P., & Lloyd, J. W. (2001). Structure and Effective Teaching. In Research and Global Perspectives in Learning Disabilities (pp. 137-152). Routledge.
- Wilson, Noela C., and Selina Khoo. 2013. "Benefits and Barriers to Sports Participation for Athletes with Disabilities: The Case of Malaysia." Disability and Society 28(8):1132–45. doi: 10.1080/09687599.2012.758034.
- Yuniartik, H., Hidayah, T., & Nasuka, N. (2017). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di SLB C Se-Kota Yogyakarta. Journal of Physical Education and Sports, 6(2), 148-156.
- Thobroni, M., Mustofa, A. (2013). Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
