PENDAHULUAN
Pada era ini masyarakat menilai bahwa pendidikan penting guna memperoleh pengetahuan, keterampilan, serta sebagai alat pembentukan sikap dan watak seseorang. Pendidikan dianggap sebagai investasi, sehingga seseorang dapat mengambil hasilnya terutama peningkatan kualitas hidup yang layak.
Secara umum ketersediaan fasilitas dilingkungan sangat penting dan merupakan strategi yang paling layak dalam meningkatkan tingkat partisipasi olahraga dan aktivitas fisik (Borgers et al., 2016) maka dari situ sarana sangat penting untuk kemajuan olahraga di sekolah.
Fasilitas olahraga dapat menunjang kesehatan dan kebugaran masyarakat. Oleh karena itu pemerintah diseluruh dunia terlibat dalam merancang kebijakan, program dan proyek untuk membangun fasilitas olahraga umum dengan tujuan memberikan kesempatan kepada warga negara untuk menjalani gaya hidup sehat (Bergsgard et al., 2019).
Pendidikan jasmani merupakan pemberian pendidikan proses belajar mengajar untuk membimbing, mendorong, mengembangkan, serta membina kemampuan jasmani dan rohani pelakunya. Pendidikan jasmani dalam proses penyelenggaraan harus dikembangkan secara lebih optimal sehingga peserta didik menjadi lebih terampil, kreatif dan inovatif serta memiliki kebiasaan hidup yang sehat dan memiliki kesegaran jasmani yang baik. Agar semua ini dapat tercapai maka sekolah menyelenggarakan mata pelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan.
Dalam pengajaran pendidikan jasmani, guru pendidikan jasmani dituntut harus memiliki keterampilan gerak yang baik sehingga dapat mendemonstrasikan materi teknik cabang olahraga. Dengan kemampuan keterampilan gerak yang lebih baik, secara langsung siswa yang melihatnya akan lebih termotivasi dalam belajar pendidikan jasmani. Disamping itu, guru pendidikan jasmani juga dituntut harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang cabang olahraga yang akan diajarkannya.
Pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan agar dapat berjalan lancar tidak terlepas dari kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai dapat mencerminkan kualitas pendidikan, sehingga tujuan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan akan tercapai dengan baik. Namun sebaliknya, sarana dan prasarana yang kurang memadai akan mengakibatkan rendahnya kualitas pendidikan, dan kurikulum tidak akan berjalan dengan baik dan lancar. Soekatamsi dan Srihati Waryati (1996:10) berpendapat. "Olahraga di sekolah harus diusahakan agar diperlukan sama dengan hal-hal lain dalam kurikulum, dan harus disediakan bangsal dan lapangan olahraga dengan jumlah dan luas yang cukup sehingga memungkinkan pelaksanaan program olahraga dapat dilakukan dengan penuh oleh setiap murid".
Dalam memperoleh hasil belajar yang optimal maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai karena sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang yang penting. Sarana dan prasarana yang memadai sangat penting untuk mengembangkan dan meningkatkan proses belajar mengajar pendidikan jasmani. Sarana dan prasarana olahraga yang lengkap dapat menungjang pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan dan memiliki manfaat yang besar bagi pengajar dan anak didiknya, dan pembelajaran dapat berjalan lancar serta tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Sebaliknya apabila sarana dan prasarana tidak memadai atau tidak sesuai dengan kurikulum akan membuat guru dan siswa kesulitan dalam proses belajar mengajar, dengan demikian tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai. Menurut Undang – Undang No 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional menyatakan bahwa pengertian prasarana adalah, "Prasarana olahraga adalah tempat atau ruang termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan olahraga dan/atau penyelenggaraan keolahragaan.". (20:4). Sedangkan pengertian sarana adalah," Sarana olahraga adalah peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan olahraga". (21:4) Sarana pendidikan jasmani merupakan suatu peralatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan jasmani agar dapat terlaksana dengan baik. Sarana pendidikan jasmani bersifat praktis yaitu mudah untuk dibawa dan dipindahkan.
Menurut Soepartono (2000:6) " Sarana pendidikan jasmani adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dan dimanfaatkan dalam pelaksanaan kegiatan olahraga atau pendidikan jasmani. Sarana olahraga dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu peralatan (apparatus) dan perlengkapan (device)".
Sarana olahraga merupakan peralatan pendukung yang terdiri dari bentuk, jenis peralatan dan perlengkapan yang bertujuan untuk keberhasilan pembelajaran maupun kegiatan olahraga. Sedangkan prasarana olahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari lapangan bangunan olahraga, dan fasilitas penunjang olahraga lainnya. Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, sarana prasarana olahraga adalah seluruh sumber daya penunjang olahraga yang terdiri dari perlengkapan olahraga, lapangan, bangunan oahraga, dan fasilitas olahraga yang bertujuan untuk menunjang proses kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif, yakni suatu cara penelitian yang mengarah pada pemecahan
masalah yang ada pada masa sekarang. Penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian yang menjawab permasalahan terkait gejala – gejala sosial yang memerlukan pemahaman secara mendalam tanpa memanipulasi dengan konteks waktu dan situasi yang bersangkutan dalam kondisi yang objektif yang terjadi di lapangan. Seperti yang dijelaskan oleh Moleong (2007, hal.6) tentang penjelasan penelitian kualitatif sebagai berikut:
"Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang akan dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll. Secara holistik, dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah".
Peneliti tidak hanya memberikan gambaran terhadap fenomena yang terjadi di lapangan, melainkan juga menjelaskan hubungan, menguji hipotesa yang dibuat, membuat prediksi serta memperoleh makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Dari penjelasan pada halaman sebelum ini, dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif adalah suatu cara penelitian yang memusatkan pada masa sekarang dan dapat dilakukan dengan berbagai teknik sesuai dengan tujuan penelitiannya.
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik survey. Hal ini karena teknik survey banyak digunakan dalam penyusunan suatu perencanaan yang sudah ada, serta memungkinkan seluruh obyek penelitian dapat terungkap secara menyeluruh baik fakta atau informasi yang kongkrit. Sehubungan dengan hal tersebut, (Singarimbun, 1989) menjelaskan tentang penelitian survey adalah "Penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok".
Teknik survey dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan sejumlah data kemudian dianalisis untuk diambil kesimpulan tentang hubungan sarana prasarana olahraga dengan proses belajar mengajar oleh guru pendidikan jasmani. Desain penelitian disusun oleh peneliti dengan menyusun tahap-tahap penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan desain penelitian yang sesuai serta peneliti dapat mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan saat berangsungnya penelitian.
Karakteristik pokok yang menjadi perhatian dalam penelitian kualitatif adalah terhadap makna. Dalam hal ini penelitian naturalistik tidak peduli terhadap persamaan dari obyek penelitian melainkan sebaliknya mengungkap tentang pandangan tentang kehidupan dari orang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk mengungkap kenyataan yang ada dalam diri orang yang unik itu menggunakan alat lain kecuali manusia sebagai instrumen.
Alur dalam penelitian ini antara lain:
Gambar 1. Bagan alur penelitian.
Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, melainkan social situation atau situasi sosial yaitu hubungan antara pelaku (actors), tempat (place), dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara berkaitan. Pada situasi sosial peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas (activity) orang-orang (actors) yang ada pada tempat (place) tertentu (Sugiyono, 2008, P.49).
Menurut Sugiyono (2014:118) Teknik sampling jenuh merupakan teknik pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi yang dijadikan sebagai sampel. Oleh karena itu, teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh karena jumlah populasi yang ada relatif kecil.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 3 orang guru pendidikan jasmani di SMA Kartika XIX – 1 Bandung, Jawa Barat.
Menurut (Ridwan, 2007) instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam pengumpulan data. Sedangkan menurut (Sugiyono, 2017) instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena social dan fenomena alam yang diamati. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pedoman/lembar observasi dan pedoman wawancara. Instrumen yang digunakan dalam proses pengambilan data pertama menggunakan lembar observasi.
HASIL
Tabel 1. Deskripsi Data Hasil Penelitian Kriteria Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Oleh Guru PJOK
| Variabel | Guru 1 | Guru 2 | |
|---|---|---|---|
| 𝑿̅± SD | 𝑿̅± SD | 𝑿̅± SD | |
| 3,83 ± 1,58 | 3,605 ± 1,52 | 3,80 ± 1,42 | |
.
Berdasarkan Tabel 1. Diatas maka dapat dideskripsikan bahwa nilai pemanfaatan menghasilkan rata-rata 3.83 untuk guru pertama, 3.60 untuk guru ke kedua, dan 3.80 untuk guru ketiga, St. deviation 1.58 untuk guru pertama, 1.52 untuk guru kedua, dan 1,42 untuk guru ketiga.
Uji Homogenitas
Tabel 2. Uji Homogenitas Data Statistika Kriteria Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Oleh Guru PJOK
| Levene Statistic | Keterangan | |||
|---|---|---|---|---|
| Kelompok Data | 𝑿̅± SD | Sig. P. Value | ||
| Guru 1 | 3,83 + 1,58 | |||
| Guru 2 | 3,60 + 1,52 | . 44 | Homogen | |
| Guru 3 | 3,80 ± 1,42 | .64 | ||
*Kriteria: Terima H0 jika P – Value > 0,05 Tidak Terima H0 jika P – Value < 0,05
Uji Normalitas
Tabel 3. Uji Normalitas Data Statistika Kriteria Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Oleh Guru Pjok
| Shapiro Wilik | Keterangan | |||
|---|---|---|---|---|
| Kelompok Data | 𝑿̅± SD | Sig. P. Value | ||
| Guru 1 | 3,83 + 1,58 | Tidak Normal | ||
| Guru 2 | 3,60 + 1,52 | 0.00 | ||
| Guru 3 | 3,80 ± 1,42 | |||
Kriteria Keputusan jika nilai Signifikansi > 0. 05, maka H0 diterima. Tetapi jika nilai signifikansi < 0.05, maka H0 ditolak, dari uji Normalitas data sebelumnya angka Signifikansi adalah Sig = 0.00. artinya H0 ditolak dan data mempunyai
penyebaran yang tidak normal. Maka dari itu statistika yang dipakai dalam penelitian ini adalah statistika non parametrik dengan uji 3 perbandingan menggunakan uji Kruskal Wallis.
Uji Hipotesis
Tabel 4. Uji Kruskal Wallis Data Statistika Kriteria Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Oleh Guru PJOK
| Uji F Kruskal Wallis | ||||
|---|---|---|---|---|
| Kelompok Data | 𝑿̅± SD | Sig. P. Value | Keterangan | |
| Guru 1 | 3,83 + 1,58 | |||
| Guru 2 | 3,60 + 1,52 | 0.68 | Terdapat Perbedaan | |
| Guru 3 | 3,80 ± 1,42 | |||
Ho : Tidak terdapat perbedaan kemampuan guru
Ho : Data berasal dari populasi yang Homogen H1 : Data Berasal dari populasi yang Heterogen
Kriteria Keputusan jika nilai Signifikansi >0. 05, maka H0 diterima. Tetapi jika nilai signifikansi < 0.05, maka H0 ditolak, dari uji Homogenitas data sebelumnya angka Signifikansi adalah Sig = 0.64. artinya H1 dapat diterima dan data berasal dari populasi yang Homogen. dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasaarana Penjas
H1 : Terdapat perbedaan kemampuan guru dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasaarana Penjas
Kriteria Keputusan jika nilai Signifikansi > 0. 05, maka H1 diterima. Tetapi jika nilai signifikansi < 0.05, maka Ho diterima, dari uji Kruskal Wallis data sebelumnya angka Signifikansi adalah Sig = 0.68. artinya H1 dapat diterima dan terdapat perbedaan kemampuan guru dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasaarana Penjas secara signifikan. Bisa dilihat dengan uji lanjutan menggunakan uji Tuckey di bawah ini:
Tabel 5. Uji Tuckey Data Statistika Kriteria Pemanfaatan Sarana Dan Prasarana Oleh Guru PJOK
| Perebedaan Rata- Rata | Persen Perbedaan | Tuckey | Keterangan | |
|---|---|---|---|---|
| Sumber Data | Stat. P. Value | |||
| Guru 1 dan 2 | 0,233 | 23% | 0.82 | Berbeda |
| Guru 1 dan 3 | 0,33 | 33% | 0.99 | Berbeda |
| Guru 2 dan 3 | -0,2 | -20% | 0.86 | Berbeda |
Berdasarakan data diatas maka guru 1 dan 2 memiliki rata rata perbedaan 0,233 dengan presentasi 23%, guru 1 dan 3 memiliki rata-rata perbedaan 0,33 dengan presentasi 33%, dan guru 2 dan 3 memiliki rata-rata -0,2 dengan presentasi - 20% memiliki nilah P. Value guru 1 dan 2 sebanyak .82, Guru 1 dan 3 sebanyak .99, dan guru 2 dan 3 sebanyak .86 menjadikan semua data tersebut memiliki perbedaan secara signifikan.
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengelolaan data yang telah dilakukan menggunakan aplikasi SPSS terhadap 3 guru 2 laki-laki dan 1 guru perempuan. Hasil dari pemanfaatan menghasilkan rata – rata 3.83 untuk guru pertama 3.60 untuk guru kedua dan 3.80 untuk guru ketiga, St. deviation 1.58 untuk guru pertama , 1.52 untuk guru kedua dan 1,42 untuk guru ketiga. Dan uji homogenitasnya kriteria keputusan jika nilai Signifikansi >0,05, maka Ho diterima tetapi jika nilai signifikansi <0.05,maka Ho ditolak dari uji homogenitas data sebelumnya angka signifikansi adalah Sig = 0.642 artinya Hi dapat diterima dan data berasal dari populasi yang homogen.
Uji Normalitas dipakai untuk mengetahui data normal atau tidak normal. Dan Uji hipotesis kriteria keputusan jika nilai signifikansi >0.05 maka Hi diterima tetapi jika niali signifikansi <0.05, maka Ho diterima dari uji kruskal wallis data sebelumnya angka Signifikansi adalah Sig = 0.68, artinya Hi dapat diterima dan terdapat perbedaan kemampuan guru dalam menggunakan fasilitas sarana dan prasarana Penjas secara signifikan.
Uji lanjut "TUCKEY' maka guru 1 dan 2 memiliki rata rata perebedaan 0,233 dengan presentasi 23%, guru 1 dan 3 memiliki rata-rata perbedaan 0,33 dengan presentasi 33% ,dan guru 2 dan 3 -0,2 dengan presentasi -20%. memiliki nilai P.Value guru 1 dan 2 sebanyak .82, Guru 1 dan 3 sebanyak .99 ,dan guru 2 dan 3 sebanyak .86 menjadikan semua data tersebut memiliki perbedaan secara signifikan
Pembahasan penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran dan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Disamping itu untuk dapat menjawab permasalahan pada rumusan masalah yang ada, pada bab ini penulis akan melakukan pembahasan dan diskusi temuan dari hasil data yang telah dilakukan bersama guru pendidikan jasmani dalam hubungannya sarana prasarana olahraga dengan proses belajar mengajar oleh guru pendidikan jasmani.
Pemanfaatan Sarana Prasarana Olahraga
Dari hasil jumlah dan keadaan alat-alat olahraga di SMA Kartika XIX - 1 Bandung, memiliki sarana yang kurang memadai. Hal ini berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan 3 (tiga) guru pendidikan jasmani di SMA Kartika XIX – 1 Bandung, bahwa menurut guru pendidikan jasmani dalam kurikulum yang dikembangkan di sekolah menyatakan bahwa keadaan sarana yang ada di SMA Kartika XIX – 1 Bandung masih kurang memadai.
Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan ada sebagian alat-alat olahraga lainnya yang masih kurang dari segi jumlahnya, seperti : matras, bola besar, bola kecil, alat pembelajaran atletik, dan lapangan olahraga yang belum lengkap, namun demikian tidak menjadi kendala serius bagi guru pendidikan jasmani dalam kelancaran proses belajar mengajar pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan hal ini tidak sejalan dengan teori yang disebutkan oleh (Gillani, 2021) bahwa sarana dan prasarana merupakan unsur terpenting dalam menunjang keberhasilan belajar mengajar terutama dalam pendidikan jasmani. Mereka memanfaatkan sarana yang ada, serta memodifikasi alat-alat olahraga secara sederhana yang bisa digunakan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
Upaya Pengadaan Sarana Prasarana Olahraga
Pada aspek upaya pengadaan sarana prasarana olahraga, yang dilakukan guru-guru pendidikan jasmani di SMA Kartika XIX – 1 Bandung sudah cukup baik yakni dengan mengajukan proposal pengadaan alat-alat olahraga ke pihak yayasan. Disamping itu, guru-guru pendidikan jasmani juga melakukan perawatan secara rutin terhadap sarana prasarana olahraga yang ada di sekolah. Selain itu juga memodifikasi alat-alat olahraga sederhana, sehingga bisa digunakan sebagai alat peraga dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. Dengan
Naufal Dzaki Hartianto, Tite Juliantine, Sufyar Mudjianto, Samsul Bahri / Jurnal Sains Keolahragaan dan Kesehatan
Hubungan Sarana Prasarana Olahraga Dengan Proses Belajar Mengajar Oleh Guru Pendidikan Jasmani
perawatan secara baik dan benar terhadap semua peralatan dan fasilitas olahraga yang dimiliki, maka akan dapat bertahan lebih lama dan awet. Penggunaan yang benar dan perawatan yang tepat sesuai dengan karakterisitik masing-masing alat olahraga, akan berpengaruh terhadap kualitas dan kondisi alat-alat tersebut dalam jurnal (Dewi, Windoro, & Pura, 2021) disebutkan bahwa kualitas keberhasilan pembelajaran pendidikan jasmani dipengaruhi oleh siswa, kurikulum, tujuan, metode pembelajaran, sarana dan prasarana, penilaian pengelolaan atau pengadaan sarana prasarana olahraga, dan suasana di dalam kelas. Pengelolaan atau pengadaan sarana dan prasarana merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pembelajaran dalam mencapai hasil belajar yang optimal (Black, Johnston, Propper, & Shields, 2019).
KESIMPULAN
Terdapat perbedaan secara signifikan antara 3 guru yang di uji dengan uji statistika non parametik (kruskal wallis) dengan nilai signifikansi = 0,684 maka dari itu 3 guru memiliki rata – rata yang berbeda dengan perbedaan yang telah diuji Uji lanjut "TUCKEY' maka guru 1 dan 2 memiliki rata rata perebedaan 0,233 dengan presentasi 23%, guru 1 dan 2 memiliki rata-rata perbedaan 0,33 dengan presentasi 33% ,dan guru 2 dan 3 -0,2 dengan presentasi -20%. memiliki nilah P.Value guru 1 dan 2 sebanyak .821, Guru 1 dan 3 sebanyak .996 ,dan guru 2 dan 3 sebanyak .865 menjadikan semua data tersebut memiliki perbedaan secara signifikan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Saya menyampaikan terima kasih kepada Dr. Hj. Tite Juliantine, M.Pd., Sufyar Mudjianto, M.Pd., Dr. Samsul Bahri, M.Kes., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingannya dalam kelancaran penelitian ini, serta Dra. Siti Zuraida, selaku Kepala SMA Kartika XIX – 1 Bandung Sugandi, S.Pd., Drs. Rukhimat, Ibu Dra. Ai Siti Solihah, selaku guru PJOK SMA Kartika XIX – 1 Bandung, Jawa Barat, yang telah bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini.Hasil dituliskan berdasarkan data yang didapat pada penelitian atau hasil observasi di lapangan, beserta interpretasi analisis data. Hasil diuraikan, namun tanpa memberikan pembahasan, dan tuliskan dalam kalimat logis. Hasil bisa dalam bentuk tabel, narasi, atau gambar.
REFERENSI
- Bergsgard, N. A., Borodulin, K., Fahlen, J., Høyer- Kruse, J., & Iversen, E. B. (2019). National structures for building and managing sport facilities: a comparative analysis of the Nordic countries. Sport in Society, 22(4), 525- 539.
- Black, N., Johnston, D. W., Propper, C., & Shields, M. A. (2019). The effect of school sports facilities on physical activity, health and socioeconomic status in adulthood. Social Science and Medicine, 220, 120–128. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2018.10.025
- Dewi, C., Windoro, D., & Pura, D. N. (2021). Management of Physical Education Facilities and Infrastructure. Journal of Education Technology, 5(2), 291– 297. https://doi.org/10.23887/jet.v5i2.34450
- Dolk, V. S., Borgers, D. P., & Heemels, W. P. M.
- Gillani, A. A. (2021). The association between presence of sanitation facilities and school enrolment in Pakistan. World Development Perspectives, 21(January). https://doi.org/10.1016/j.wdp.2021.100289
- H. (2016). Output-Based and Decentralized Dynamic Event-Triggered Control With Guaranteed $\mathcal {L} _ {p} $-Gain Performance and Zeno-Freeness. IEEE Transactions on Automatic Control, 62(1), 34-49.
- Ridwan, M. (2007). Sistem Pendukung Keputusan Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemerintahan Desa (Bpmpd) Kabupaten Sukabumi. VII(1), 33–43.
- Singarimbun, M. (1989). Rumah Adat Karo dan Perubahan Sosial. Jurnal Humaniora, (1).
- Soekatamsi dan Srihati Waryati. 1996. Prasarana dan Sarana Olahraga. Surakarta: UNS Press. Soepartono. 2000. Saranadan Prasarana Olahraga. Depdikbud.
- Sugiyono. (2014). Statistika untuk penelitian. Bandung : Alfabeta
