PENDAHULUAN
Baumrind mendefinisikan gaya atau pola pengasuhan sebagai cara orang tua mendidik dan mensosialisasikan anak mereka. Metode ini adalah yang pertama menyajikan model teoritis yang mengatur gaya pengasuhan secara halus ke dalam taksonomi yang jelas untuk menjelajahi konsep kontrol orang tua. Metode salah satunya diklasifikasikan oleh (Baumrind, 1966) yang pada awalnya, saya menemukan tiga gaya pengasuhan yang berbeda: permisif, otoriter, dan otoritatif. Ketiga gaya ini berbeda dalam cara orang tua memegang kekuasaan dan mencerminkan prinsip dan cara orang tua berperilaku secara natural. Gaya pengasuhan orang tua bergantung pada sikap, pendapat, dan perilaku mereka, yang membentuk lingkungan emosional anak (Philips et al., 2014)
Faktor yang memengaruhi tindakan, keinginan, dan tujuan seseorang dikenal sebagai motivasi. Motivasi berasal dari kata "motif", yang mengacu pada motif yang menunjukkan kebutuhan untuk dipenuhi, seperti keinginan, hasrat, atau kebutuhan yang dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, gaya hidup, dan faktor lainnya, atau umumnya bawaan individu (Vincent & Kumar, 2019) Dalam psikologi pendidikan, motivasi adalah salah satu konstruk psikologis yang paling banyak diteliti (Urhahne & Wijnia, 2023) Dalam dunia olahraga, motivasi telah menjadi komponen yang sangat dan (Rodrigues et al., 2020) masih menarik
perhatian para peneliti olahraga modern dan psikologi olahraga (Castillo-jim et al., 2022) Oleh karena itu, hal ini juga mencakup upaya untuk mencegah perilaku buruk seperti sikap acuh, agresi, pengabaian, dan penolakan terhadap anak-anak mereka. Selain itu, orang tua harus menghindari mengendalikan anak-anak mereka dengan terlalu banyak. Pola asuh ini dapat memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak dan suasana keluarga. Sebagaimana dikatakan, hal ini pasti akan membuat anak bosan berada di rumah (Tabi, 2020)
Penelitian ini dilakukan dengan fokus pada peran pola asuh orang tua dan pembentukan motivasi anak dalam pemilihan cabang olahraga renang. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa motivasi orang tua dan anak dalam mengikutsertakan anak berlatih renang di klub Pahlawan Tuban tergolong sangat tinggi. Dalam konteks ini, penelitian ini akan melihat bagaimana pola asuh orang tua dapat memengaruhi motivasi anak dalam memilih olahraga renang, serta bagaimana motivasi anak dapat dibentuk melalui interaksi dengan orang tua dalam konteks pemilihan cabang olahraga renang (Canavalia & Kumaat, 2022)
Posisi penelitian "Peran Pola Asuh Orang Tua dan Pembentukan Motivasi Anak dalam Pemilihan Olahraga Renang" dari penelitian sebelumnya yang dilakukan terkait motivasi orang tua dan anak dalam berlatih renang di klub Pahlawan Tuban adalah sebagai pengembangan yang lebih mendalam dan spesifik terhadap faktor-faktor yang memengaruhi motivasi anak dalam memilih dan berpartisipasi dalam olahraga renang (Canavalia & Kumaat, 2022). Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif tentang bagaimana peran orang tua dan pola asuh mereka dapat membentuk motivasi anak dalam memilih dan berpartisipasi dalam olahraga renang. Penelitian ini terletak pada kemungkinan efek yang tidak menguntungkan terhadap kesejahteraan psikologis anak-anak. Anak-anak yang dipaksa mengikuti kursus renang mungkin mengalami stres, kecemasan, dan kehilangan minat dalam olahraga tersebut, yang dapat berdampak pada pertumbuhan fisik dan mental mereka. Fenomena ini juga dapat terjadi di berbagai jenis olahraga, di mana tekanan dari orang tua dapat menghentikan keinginan anak untuk berolahraga secara alami. Ini sesuai dengan (Fip et al., 2022) Anak yang diasuh dengan baik oleh orang tuanya pasti akan menjadi orang yang baik juga. Namun, banyak orang yang menitipkan
anaknya ke nenek atau saudaranya, yang tidak tahu bagaimana perkembangan anaknya. Namun, ada orang tua yang peduli dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Keunikan dari penelitian ini terletak pada identifikasi dan analisis mendalam terhadap dampak psikologis negatif yang dapat timbul dari tekanan orang tua terhadap anak-anak dalam kursus renang. Penelitian ini berfokus pada bagaimana tekanan tersebut tidak hanya menghambat perkembangan minat dan keterlibatan anak dalam olahraga, tetapi juga berpotensi menimbulkan stres, kecemasan, dan kehilangan minat yang lebih luas, yang berdampak pada perkembangan fisik dan mental anak. Keunikan lain dari penelitian ini adalah pendekatan yang digunakan untuk memahami bagaimana fenomena ini mungkin terjadi tidak hanya dalam konteks renang, tetapi juga dalam berbagai cabang olahraga lain. Dengan mengaitkan temuan ini dengan konsep pengasuhan langsung yang baik sebagaimana yang diuraikan oleh (Fip et al., 2022) penelitian ini menyoroti pentingnya pola asuh yang mendukung dan tidak menekan dalam perkembangan anak. Harapan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan baru yang dapat digunakan untuk mengembangkan strategi pengasuhan yang lebih efektif dan mendukung kesejahteraan anak, serta memberikan rekomendasi bagi para orang tua dan pelatih khususnya di Samudra Swimming School dan sekolah renang lainnya untuk menciptakan lingkungan latihan yang lebih positif dan bebas tekanan.
METODE
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif, karena menggunakan metode yang datanya diambil melalui angket lalu menjabarkannya ke dalam bentuk gambar secara objekif dengan menggunakan angka mulai dari pengumpulan data, penafsiran data sampai dengan hasil (Canavalia & Kumaat, 2022).
Populasi dan Sampel Penelitian
Sasaran dari penelitian ini yaitu seluruh orang tua dan anak usia muda yang tergabung di sekolah renang Samudra Swimming School. Penelitian ini dilakukan di salah satu kolam renang yang berada di tengah kota Bandung, yaitu Taman Air
Super Progresif. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik total sampling. Teknik total sampling merupakan teknik pengambilan sample dengan mengambil keseluruhan dari populasi untuk dijadikan sampel, hal ini dilakukan karena jumlah populasinya kurang dari 100 orang, yaitu sebanyak 34 orang. Dalam penelitian ini, penarikan sampel dengan menggunakan teknik total sampling yaitu sampling jenuh. Sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, karena jumlah populasi relative kecil (Putri dan Nyoman, 2017, hlm.114).
Alur Penelitian
Proses pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan data yang diinginkan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan e-kuesioner yang disebar secara online melalui Google form dengan instrumen penelitiannya berupa angket yang telah diuji validasinya. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner yang terdiri dari 32 item mengenai pola asuh orang tua dan 16 item mengenai motivasi. Dalam penyusunan pernyataan-pernyataan angket agar responden dapat menjawab serta memberikan data yang objektif dalam memilih salah satu alternatif jawaban, maka penyusunan angket disusun dengan prinsip penulisan wawancara terstruktur yang di adaptasikan menjadi prinsip penulisan angket sebagai teknik pengumpulan data, peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan penelitian, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan yang alternatif jawabannya pun telah disiapkan. Dengan cara terstruktur ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama. Quisioner pola asuh dan motivasi sebagai berikut:
Instrumen dan Analisis Data
Analisis pertama menganalisis kuesioner menggunakan PSDQ (The Parenting Style and Dimension Questionnaire) (Kimble, 2014) dengan skala Likert, seperti yang dijelaskan oleh (Triantoro & Andrijanto, 2021) Selanjutnya, kuesioner kedua menggunakan The Situational Motivational Scale (SIMS) dalam pendidikan jasmani: sebuah studi validasi di kalangan remaja Norwegia dengan skala 1 hingga 7, sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Østerlie, Løhre, Haugan, & Hui, 2019). Kemudian data diolah dan dianalisis menggunakan uji
normalitas dengan Shapiro-Wilk & uji korelasi rank spearman Kemudian data aplikasi Statistical Program for Social Science (SPSS) versi 25 untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel dengan tingkat signifikansi (p value) < 0,05.
HASIL
Tabel 1. Data Demografis
| Keterangan | Skor | |
|---|---|---|
| Jenis Kelamin (%) | Putra | |
| Putri | 44 | |
| Usia (tahun) | Rata-rata | 14,59 |
| Standar Deviasi | 0,988 | |
| Min. | 13 | |
| Maks. | 16 | |
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa data demografis putra dengan skor 56, sedangkan putri 44 dengan rata rata 14,59 adapun standar deviasi 0,988. Dengan usia minimal 13 tahun dan maksimal 16 tahun. Selanjutnya, deskripsi statistic dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Deskripsi Statistik
| Variabel | N | Minimum | Maximum | Sum | Mean | Std. Deviation |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Pola Asuh Orang Tua | 34 | 50 | 93 | 2504 | 73,65 | 12,032 |
| Motivasi | 34 | 34 | 92 | 2400 | 70,59 | 14,132 |
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa tes pola asuh orang tua memperoleh nilai rata rata sebesar 73,65 dan motivasi sebesar 70,59. Standar deviasi tes pola asuh orang tua sebesar 12,032 sedangkan pada tes motivasi sebesar 14,132. Nilai terendah dari tes pola asuh 50 sedangkan pada tes motivasi sebesar 34, nilai tertinggi dari tes pola asuh sebanyak 93 sedangkan test motivasi sebanyak 92 dan simpangan baku tes pola asuh orang tua sebesar 12,032 sedangkan tes motivasi sebesar 14,132, dan nilai N tes pola asuh orang tua yaitu 34, lalu nilai N tes motivasi yaitu 34. Selanjutkan penulis melakukan uji normalitas, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji Normalitas
| Variabel | Statistic | df | Sig. |
|---|---|---|---|
| Pola Asuh Orang Tua | 0,139 | 34 | 0,096 |
| Motivasi | 0,132 | 34 | 0,143 |
Keputusan yang diambil dari kriteria tersebut adalah terdapat pengaruh positif pola asuh orang tua dengan motivasi anak memilih cabang olahraga renang. Menunjukan hasil uji normalitas data menggunakan Shapiro- Wilk Tes. Berdasarakn table 3 dapat dilihat bahwa tes pola asuh orang tua memperoleh nilai statistic sebesar 0,139, df 34, dan sig. Sebesar 0,096. Sedangkan pada tes motivasi memperoleh nilai statistic sebesar 0,132, df 34 dan Sig sebesar 0,143. Berdasarkan hasil uji, kedua data memperoleh nilai Sig. > 0,05 maka data dinyatakan berdistribusi normal. Selanjutnya penulis melakukan uji normalitas, dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Uji Korelasi
| Variabel | N | Pearson Correalation | Sig. (2-tailed) |
|---|---|---|---|
| Pola Asuh Orang Tua - Motivasi | 34 | 0,443 | 0,009 |
Berdasarkan hasil uji korelasi pada tabel 4 menunjukan hasil uji korelasi antara pola asuh orang tua dengan motivasi, dengan nilai Sig sebesar 0,009 , 0,05 yang berarti H0 ditolak. Maka dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara peran pola asuh orang tua dengan pembentukan motivasi anak dalam pemilihan cabang olahraga renang.
PEMBAHASAN
Penelitian ini mengungkapkan adanya korelasi signifikan antara cara orang tua mendorong anak-anak mereka untuk memilih cabang olahraga renang dan motivasi anak-anak tersebut dalam melakukannya, mencerminkan bahwa dukungan dan dorongan orang tua memainkan peran penting dalam keputusan anak-anak untuk terlibat dalam olahraga ini dan dalam keinginan mereka untuk terus berpartisipasi. Penemuan ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Canavalia & Kumaat, 2022). Mereka menemukan, menurut Teori Penguatan, mereka menemukan bahwa memberikan penghargaan kepada anak-anak yang mencapai target latihan renang atau menunjukkan peningkatan keterampilan dapat mendorong mereka untuk terus berusaha. Temuan ini mengindikasikan adanya hubungan yang kuat antara cara orang tua membimbing dan memotivasi anak-anak mereka dengan keinginan anak-anak tersebut untuk berpartisipasi dalam cabang olahraga renang. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa hubungan antara ibu dan anak serta antara ayah dan anak dapat memprediksi motivasi intrinsik anakanak. Lebih jauh lagi, baik orang tua maupun teman sebaya ditemukan memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi intrinsik anak-anak tersebut. (Ullrich-French & Smith, 2014).
Menurut Teori Penentuan Nasib Sendiri, motivasi anak untuk berolahraga memiliki hubungan positif dengan persepsi mereka mengenai perilaku yang membutuhkan dukungan orang tua. Ini berarti bahwa ketika anak-anak merasa bahwa perilaku mereka dalam olahraga renang didukung oleh orang tua mereka, motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga ini cenderung meningkat. Dengan kata lain, semakin tinggi persepsi anak-anak tentang dukungan dan dorongan yang mereka terima dari orang tua, semakin kuat motivasi intrinsik mereka untuk terus terlibat dan berprestasi dalam cabang olahraga renang (DeMuynck et al., 2021).
Persepsi anak-anak terhadap perilaku orang tua yang tidak memenuhi kebutuhan emosional mereka serta tekanan yang diberikan oleh orang tua sangat berkaitan dengan munculnya motivasi yang terkendali. Dengan kata lain, ketika anak-anak merasa bahwa orang tua mereka tidak memberikan dukungan yang memadai atau malah memberikan tekanan berlebihan, motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga renang cenderung menjadi lebih terkendali dan kurang didasarkan pada keinginan intrinsik. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku orang tua yang tidak mendukung dapat menghambat perkembangan motivasi alami anak-anak dalam cabang olahraga renang (Lienhart et al., 2020). Oleh karena itu, ketika terdapat sumber pendorong atau bahan bakar yang tepat, motivasi anak-anak akan bekerja dengan lebih optimal. Dengan kata lain, jika anak-anak menerima dukungan yang memadai dan dorongan yang positif dari orang tua serta lingkungan sekitar, motivasi mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga renang akan tumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Hal ini menunjukkan pentingnya peran orang
tua dan lingkungan dalam menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk memicu dan mempertahankan motivasi intrinsik anak-anak dalam berolahraga (Komarudin, 2018). Perlu dicatat bahwa keterlibatan orang tua yang moderat memiliki hubungan terbalik dengan munculnya motivasi yang terkendali pada anak. Ini berarti bahwa ketika keterlibatan orang tua dalam kegiatan olahraga anak-anak berada pada tingkat yang seimbang dan tidak berlebihan, motivasi anak-anak cenderung menjadi lebih intrinsik dan kurang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Dengan kata lain, dukungan orang tua yang moderat, yang tidak terlalu mengontrol atau menekan, dapat mengurangi kecenderungan anak-anak untuk memiliki motivasi yang terkendali dan lebih mendorong mereka untuk mengembangkan motivasi yang berasal dari dalam diri mereka sendiri (Lienhart et al., 2020).
Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa motivasi intrinsik anak-anak memiliki korelasi yang kuat dengan perilaku positif orang tua, seperti keterlibatan aktif, pemberian pujian yang tulus, dan pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan anak-anak. Artinya, ketika orang tua terlibat secara aktif dalam kegiatan anak-anak mereka, memberikan pujian atas pencapaian mereka, dan menunjukkan pengertian terhadap perasaan dan kebutuhan anak-anak, motivasi intrinsik anakanak untuk berpartisipasi dalam olahraga renang akan meningkat secara signifikan. Perilaku positif orang tua ini memainkan peran penting dalam memupuk motivasi yang kuat dan mendalam pada anak-anak, mendorong mereka untuk berusaha lebih keras dan menikmati proses belajar dan berlatih dalam olahraga (Gagné et al., 2014). Sebaliknya, perilaku negatif yang ditunjukkan oleh orang tua, seperti tekanan yang dilaporkan sendiri dan tindakan yang dianggap tidak memenuhi kebutuhan, memiliki korelasi yang signifikan dengan motivasi (Amado et al., 2015) Interaksi negatif yang diperoleh dari keluarga mempengaruhi Psychological Well-Being anak (Tafaqur et al., 2017).
Khususnya, hasil yang bertentangan dengan intuisi menunjukkan bahwa tekanan yang dirasakan oleh ibu dapat secara positif memprediksi regulasi yang teridentifikasi dan motivasi intrinsik pada anak-anak. Dengan kata lain, meskipun tampak berlawanan dengan harapan umum, tekanan yang dirasakan oleh ibu dalam mendukung kegiatan olahraga anak-anak mereka ternyata dapat berkontribusi secara positif terhadap perkembangan regulasi yang teridentifikasi dan motivasi
intrinsik pada anak-anak. Hal ini berarti bahwa tekanan yang dirasakan ibu, ketika dikelola dengan baik, dapat mendorong anak-anak untuk menginternalisasi tujuan dan motivasi, sehingga meningkatkan keterlibatan dan komitmen mereka terhadap olahraga renang (Nicaise & Martinent, 2019).
Menurut (Gagné et al., 2014) anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh orang tua memiliki tingkat motivasi yang tinggi karena orang tua mereka tidak hanya menetapkan aturan dan ekspektasi yang jelas, tetapi juga mendukung, memahami, dan mendengarkan pandangan anak-anak mereka. Pola asuh orang tua ini menyebabkan anak-anak merasa didukung dan memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi minat mereka sendiri dalam batasan yang wajar. Tanpa mempertimbangkan perspektif anak, mereka menuntut ketaatan. Anak dalam proses latihan harus mempunyai motivasi yang tinggi agar dapat menjalankan tugasnya sehari-hari dengan penuh disiplin dan tanggung jawab (Subekti et al., 2021).
Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi anak sangat penting untuk perkembangan dalam hal akademik, sosial, dan emosional. Pada titik ini, anak-anak mulai membentuk dasar-dasar kepribadian, kebiasaan belajar, dan minat mereka. Dengan membantu mereka berkembang, mereka juga akan membentuk rasa percaya diri dan membuktikan potensi mereka. Olahraga memiliki dua jenis motivasi: intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah setiap bentuk dorongan yang kuat yang mendorong seseorang untuk bertindak. Namun, motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang berasal dari luar tubuh yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Effendi, 2016). Penelitian ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dengan memperluas sampel penelitian agar mencakup lebih banyak sekolah renang dan lokasi yang berbeda untuk meningkatkan generalisasi temuan. Selain itu, penelitian lanjutan dapat mempertimbangkan penggunaan metode kualitatif, seperti wawancara mendalam atau fokus grup, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika antara pola asuh orang tua dan motivasi anak. Penelitian ini juga dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi motivasi anak dalam memilih olahraga renang, seperti pengaruh teman sebaya, media, dan lingkungan sekolah. Kekurangan penelitian ini termasuk keterbatasan dalam ukuran sampel dan metode pengumpulan data yang terbatas pada e-kuesioner. Oleh karena itu, saran untuk penelitian selanjutnya adalah untuk menggunakan metode pengumpulan data yang lebih beragam dan melibatkan partisipasi langsung dari anak-anak untuk mendapatkan perspektif yang lebih komprehensif. Dengan judul "Peran Pola Asuh Orang Tua dan Pembentukan Motivasi Anak dalam Pemilihan Olahraga Renang," penelitian selanjutnya dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana berbagai faktor interaksi antara anak, orang tua, dan lingkungan dapat mendukung perkembangan motivasi dan minat anak dalam olahraga renang.
KESIMPULAN
Kesimpulan pada penelitian ini yaitu pola asuh orang tua memberikan peranan penting bagi pembentukan motivasi anak dalam pemilihan cabang olahraga renang. Hal ini menunjukan bahwa pola asuh orang tua baik dalam hal pemberian umpan balik positif, kebebasan untuk memilih, dan dukungan emosional, berperan penting dalam meningkatkan motivasi anak untuk berpartisipasi dalam olahraga renang. Oleh karena itu, orang tua yang ingin meningkatkan motivasi anak mereka dalam olahraga ini disarankan untuk menerapkan pendekatan yang mendukung dan seimbang dalam pola assuh mereka.
REFERENSI
Amado, D., Sánchez-Oliva, D., González-Ponce, I., Pulido-González, J. J., & Sánchez-Miguel, P. A. (2015). Incidence of parental support and pressure on their children's motivational processes towards sport practice regarding
- gender. PLoS ONE, 10(6), 1–14. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0128015
- Baumrind, D. (1966). Effects of Authoritative Parental Control on Child Behavior. Society for Research in Child Development.
- Canavalia, H. S. J., & Kumaat, N. A. (2022). Motivasi Orang Tua Mengikutsertakan Anaknya Berlatih Renang di Klub Pahlawan Tuban. Jurnal Kesehatan Olahraga, 10(3), 171–178.
- Castillo-jim, N., Jeanette, M. L., & Duda, J. L. (2022). Empowering and Disempowering Motivational Climates , Mediating Psychological Processes , and Future Intentions of Sport Participation. 1–14.
- DeMuynck, G.-J., Morbee, S., Soenens, B., Haerens, L., Vermeulen, O., Broek, G. Vande, & Vansteenkiste, M. (2021). Running head : ( DE ) MOTIVATING COACHING AND PARENTING. 3.
- Effendi, H. (2016). Peranan psikologi olahraga dalam meningkatkan prestasi atlet. In Nusantara (Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial) (Vol. 1).
- Fip, P., Negeri, U., & Abstrak, Y. (2022). Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Pribadi Anak yang Androgynius Melalui Kegiatan Bermain. Jurnal Pendidikan Anak, 103–112.
- Gagné, M., Ryan, R. M., & Bargmann, K. (2014). Autonomy Support and Need Satisfaction in the Motivation and Well-Being of Gymnasts. Journal of Applied Sport Psychology, 15(July), 372–390. https://doi.org/10.1080/714044203
- Kimble, A. B. (2014). The Parenting Styles and Dimensions Questionnaire: A Reconceptionalization and Validition.
- Komarudin, K. (2018). Peningkatan motivasi atlet melalui pelatihan brain jogging pada cabang olahraga beregu dan perorangan.
- Lienhart, N., Nicaise, V., Martinent, G., & Emma Guillet-Descas. (2020). Perceived parental behaviours and motivational processes among adolescent athletes in inte.
- Nicaise, V., & Martinent, G. (2019). Relationships between elite adolescent athletes ' perceptions of parental Relationships between elite adolescent athletes ' perceptions of parental behaviors and their motivational processes : Does sex matter ? October. https://doi.org/10.1177/1747954119873988
- Østerlie, O., Løhre, A., Haugan, G., & Hui, S. K. F. (2019). The Situational Motivational Scale (SIMS) in physical education: A validation study among Norwegian adolescents. Cogent Education, 6(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2019.1603613
- Østerlie, O., Løhre, A., Haugan, G., King, S., & Hui, F. (2019). The Situational Motivational Scale ( SIMS ) in physical education : A validation study among
- Norwegian adolescents. Cogent Education, 6(1), 1–15. https://doi.org/10.1080/2331186X.2019.1603613
- Philips, N., Sioen, I., Michels, N., Sleddens, E., & Henauw, S. De. (2014). The influence of parenting style on health related behavior of children : findings from the ChiBS study.
- Rodrigues, F., Teixeira, D. S., Neiva, H. P., Cid, L., & Monteiro, D. (2020). The bright and dark sides of motivation as predictors of enjoyment, intention, and exercise persistence. Scandinavian Journal of Medicine and Science in Sports, 30(4), 787–800. https://doi.org/10.1111/sms.13617
- Subekti, R. D., Mulyana, B., Hidayat, Y., & Novian, G. (2021). Journal of Physical Education , Health and Sport The Effect of Dry Land Training Model on Youth Athletes Swim- ming Performance During Covid-19 Pandemic. 8(1), 12–16.
- Tabi, A. (2020). Problematika Stay At Home Pada Anak Usia Dini Di Tengah Pandemi Covid 19. 04(1), 190–200.
- Tafaqur, M., Komarudin, Mulyana, & Saputra, M. Y. (2017). Brain Jogging Training to Improve Motivation and Learning Result of Tennis Skills. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 180(1). https://doi.org/10.1088/1757-899X/180/1/012215
- Triantoro, Y., & Andrijanto, D. (2021). Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Volume 09 Nomor 02 Tahun 2021. 09, 1–11.
- Ullrich-French, S., & Smith, A. L. (2014). Perceptions of relationships with parents and peers in youth sport: Independent and combin.
- Urhahne, D., & Wijnia, L. (2023). Theories of Motivation in Education: an Integrative Framework. In Educational Psychology Review (Vol. 35, Issue 2). Springer US. https://doi.org/10.1007/s10648-023-09767-9
- Vincent, V., & Kumar, S. (2019). Motivation: meaning, definition, nature of motivation. Human Movement and Sports Sciences, 4(1), 483–484. www.theyogicjournal.com
