1. Home
  2. Archives
  3. Vol 9 (2024) Issue 2
  4. Articles

Bolang Game (Study on Development of New Sports Branch for Inclusive Education Children Competition)

Abstract

The purpose of this study was to determine the development of a valid and effective bolang game model for inclusive education children. The research method is a research and development method by adopting the Borg and Gall stages into three stages, namely research, development and diffusion. The expert validators of the research include expert game validators and competition experts in the field of inclusive education. Data collection using a questionnaire sheet (questionnaire). Data analysis using percentage analysis. This study concluded that the bolang game model for inclusive education children's competitions was declared very valid with an average expert validation of 93.5%. The results of the field trial explained that the small scale had a percentage of 91.6 while the large scale was 89.5 with very good criteria. The bolang game is a term for a hole ball game, played using both hands to put the ball into a small hole as a target. The bolang game model can be used as a media for competitive sports of choice for inclusive education children, due to limited access to space for movement, making it difficult to do the types of sports that are usually played by normal children.

Keywords

PENDAHULUAN

Anak-anak Indonesia adalah anak-anak yang memiliki kesempatan yang sama dalam haknya pada setiap aspek kehidupan, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Anak berpendidikan khusus merupakan anak yang membutuhkan penanganan secara khusus akibat kelainan perkembangan yang diderita anak, (Fakhiratunnisa et al., 2022). Anak berpendidikan khusus tidaklah sakit, melainkan terdapat kelainan yang menjadi pembeda pada anak normal, (Irdamurni & Rahmawati, 2015). Ciri-ciri anak berpendidikan khusus adalah pada ciri-ciri fisik, mental dan sensorik neuromaskuler yang istimewa (Suharsiwi, 2017). Anak berkebutuhan khusus atau anak dengan istilah karakteristik khusus memiliki kemampuan yang berbeda dari anak normal pada umumnya, hal ini diperoleh karena hambatan sejak lahir atau kondisi kecelakaan dalam masa tumbuhkembangnya, (Chamidah, 2013). Istilah lain dari anak berkebutuhan khusus karena bersinggungan dengan tumbuh kembang yang abnormal, (Mardi Fitri, 2021).

Salah satu keriteria penyandang anak berkebutuhan khusus adalah jenis tuna daksa. Anak tuna daksa dikatakan anak dengan istikan memiliki ciri-ciri cacat fisik dan cacat ortopedi. Tuna daksa berasal dari kata tuna (rugi) dan daksa (tubuh), (Siaahan Hasnah , Armanila, 2022).Tuna daksa digambarkan secara etimologis dimana seseorang mengalami kesulitan memfungsikan bagian tubuh akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan sehingga berakibat pada menurunnya gangguan gerak, (Pratiwi & Hartosujono, 2015). Tuna daksa disebabkan karena kelainan neuromuscular dan stuktur bawaan, pengaruh sakit, kecelakaan maupun cerebral palsy (Onah, 2017). Kondisi tuna daksa bisa terjadi karena sebelum terlahir maupun sesudah terlahir, (Angriyani et al., 2023).

Tuna daksa dibedakan menjadi beberapa jenis, ringan, sedang maupun berat.

(Adelina et al., 2018) gangguan tuna daksa memiliki penggolongan ringan, sedang dan berat. (Santi & Septiyana, 2024) klasifikasi tuna daksa dibedakan menjadi ringan, sedang dan berat. (Widodo et al., 2014) tuna daksa tipe ringan ditandai dengan keterampilan gerak atau motoric kasar yang kurang. (Virlia & Wijaya, 2015) anak yang memiliki keterbatasan tetapi bisa ditingkatkan melalui bentuk terapi-terapi khusus dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus tingkat ringan. Sementara (Suri et al., 2017) untuk contoh kasus tuna daksa ringan adalah dimana cukup tangan kanan atau kaki kanan yang mengalami kendala namun masih tetap dapat berjalan hanya saja terlihat sedikir berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Menurut UU no 8 tahun 2016 menjamin pemenuhan hak bagi anak berkebutuhan khusus dalam pelayanan dengan standar aksebilitas bagi anak berkebutuhan khusus Undang-udang ini dimaknai memberikan jaminan yang luas bagi anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan hak yang sama dan setera dengan anak-anak normal lainnya (Khairun Nisa et al., 2018). Meskipun dalam kaitanya dengan keterbatasan gerak, tetapi anak-anak berkebutuhan khusus bukan berarti tidak diperbolehkan beraktivitas termasuk berkegiatan olahraga, hanya saja bentuk perlakuan disesuaikan dengan keadaan tubuh dan gerakan dari anak-anak tersebut.

Dewasa ini sering dijumpai anak-anak dengan tipe berkebutuhan khusus seperti tuna daksa kesulitan memilih jenis aktivitas olahraga yang sesuai dengan keadaan kondisi tubuh anak tersebut. Berkaitan dengan olahraga yang biasanya dilakukan oleh anak-anak tuna daksa pada lingkungannya, terbatas pada olahragaolahraga yang mudah dijangkau, misalnya bermain catur, atau yang sedikit berat bermain bulu tangkis dengan ruang gerak yang kecil. Namun olahraga-olahraga yang bersifat eksklusif seperti golf yang umumnya dimainkan oleh orang normal, faktanya hampir sebagian besar penyandang disabilitas tuna daksa sangat jarang ikut serta dalam memainkannya. Infrormasi di atas diperoleh berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan pada beberapa penyandang tuna daksa di Kota Palembang.

Anak-anak tuna daksa meyakinkan peneliti, bahwa anak-anak tersebut harus ikut serta dan merasakan apa yang dimainkan oleh anak-anak pada umumnya, khususnya pada olahraga-olahraga ekslusif. Disisi lain olahraga masyarakat seperti sepak bola dan bola voli meskipun ruang gerak anak terbatas, namun anak-anak tetap dapat memainkannya walau dalam keadaan olahraga tersebut dimodifikasi. Sementara untuk olahraga-olahraga yang bersifat ekslusif seperti golf sangat jarang bahkan belum pernah memainkannya, dimana anak-anak hanya sebatas mengetahui permainan golf melalui media-media seperti televisi, youtube atau informasi elektronik lainnya.

Untuk membantu anak-anak tunda daksa mengenalkan olahraga golf dan memainkannya secara sederhana, peneliti mengembangkan permainan BOLANG. Permainan ini didesain khusus seperti permainan golf tetapi modifikasi dan aturan permainan disederhanakan sehingga anak-anak kerkebutuhan khusus tidak mengalami kesulitan bermain baik dari aspek sarana permainan, lapangan permainan, sampai pada tinjauan aspek gerak yang dilakukan dirancang dengan memudahkan anak-anak dalam bermain, sehingga harapannya anak-anak merasakan kesenangan, keceriaan dan kegembiraan seolah-olah sedang bermain golf yang sebenarnya.

Sebelumnya penelitian berbasis pengembangan permainan baru yang disesuaikan untuk anak berkebutuhan khusus membuat anak antusias dalam bermain. Misalnya penelitian permainan freeball yang dikembangkan mampu menjadikan anak antusias dalam bermain, dimana anak-anak memberikan nilai 90 aspek kelayakan permainan baik skala kecil maupun skala besar. (Anindhito, 2020). Penelitian modifikasi permainan yang diterapkan untuk meningkatkan gerak langkah pada anak tuna grahita juga berdampak pengaruh terhadap kemampuan berjalan pada jalan lurus, (Susetyo & Puspitaningsari, 2021).

Penelitian Ananditho mengembangkan permainan futsal dan hanball sebagai embrio dasar permainan. Futsal dan hanball adalah jenis permainan yang mudah untuk diakses asal mobilitas gerak masih dapat dijangkau oleh anak. Penelitian Susetyo juga mengembangkan basis permainan kasti yang sangat mudah dijangkau oleh anak karena pada wilayah mereka tinggal permainan ini dapat dengan mudah dimainkan. Untuk permainan yang dikembangkan peneliti, di atas telah diuraikan bahwa olahraga-olahraga eksklusif seperti golf merupakan olahraga yang cenderung sulit dimainkan oleh anak berkebutuhan khusus, oleh karena itu melalui

penelitian ini peneliti berharap permainan bolang yang dikembangkan dapar memberikan dampak kesenangan, keceriaan dan kegembiraan pada anak, terutama mampu menghadirkan kompitisi baru yang berpotensi memunculkan prestasi bagi anak

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode research and development. Desain penelitian mengadopsi pendekatan Borg and Gall yang terbagi dalam tiga tahapan dasar pada gambar di bawah ini

4

Gambar 1. Desain Penelitian

Validasi desain melibatkan ahli permainan dan ahli kompetisi dengan spesifikasi keahlian pada bidang pendidikan inklusi/khusus. Uji coba dilaksanakan pada anak berkebutuhan khusus SLB D YPAC Kota Palembang, dimana SLB D YPAC Kota Palembang adalah sekolah luar biasa yang dikhususkan untuk anak dengan klasifikasi kurangnya anggota tubuh atau tuna daksa. Skala kecil berjumlah 7 orang dan skala besar 21 orang. Teknik pengambilan sampel baik skala kecil maupun besar digunakan melalui teknik purposive. Penetapan klasifikasi kevalidan dan efektivitas produk dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Kriteria Validitas Lapangan

Nilai (%)KriteriaKeputusan
79,78 -
100
Sangat ValidProduk siap dimanfaatkan dilapangan
59-52 -
79,77
ValidDapat digunakan namun perlu ditambahkan pada
poin yang kurang
39,26 -
59,51
Kurang ValidDisarankan tidak dipergunakan karena perlu direvisi
secara detail
19,00 –
39,25
Tidak ValidTidak boleh digunakan

Sumber : (Riefani, 2020)

HASIL

Research

Berdasarkan hasil kegiatan penelitian pendahuluan pada kondisi anak berkebutuhan khusus di SLB D-YPAC Kota Palembang, temuan hasil observasi bahwa 100% siswa pada tahun 2023 dan 2024 sampai sekarang tidak ada yang memainkan olahraga berbasis eksklusif seperti golf dan olahraga serupanya. Berdasarkan analisis persepsi siswa, peneliti menyebar kuosioner melalui beberapa indikator diantaranya aspek kenyamanan, aspek kepercayaan diri dan kesulitan. Dari hasil keterangan jawaban siswa dianalisis dan hasilnya dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

8

Gambar 2. Grafik Persepsi Siswa Terhadap Olahraga Ekslusif

Jika dilihat dari tabel di atas, diterangkan bahwa 70% lebih siswa pada dasarnya memiliki keinginan untuk bermain olahraga eksklusif, tetapi dari aspek kenyamanan hanya 10% siswa yang merasa jika memainkan olahraga ini memiliki

rasa nyaman, dari aspek kepercayaan diri hanya 20% siswa yang merasa percaya diri jika ikut serta dalam kegiatan olahraga eksklusif sementara 90% siswa menyatakan mengalami kesulitan jika harus memainkan olahraga ekslusif. Data inilah kemudian menyakinkan peneliti untuk mengembangkan permainan bolang menjadi permainan baru sebagai olahraga kompetisi yang dapat mewakili keberatan siswa dalam keikutsertaan pada cabang olahraga eksklusif.

Development

Validasi

Tabel 2. Validasi Desain Permainan Bolang

AhliSkorMeanKeterangan
Permainan9593.5Sangat Valid/Produk Siap Dimanfaatkan Dilapangan
Kompetesi92

Berdasarkan tabel di atas, diterangkan bahwa model permainan bolang untuk kompetisi anak berpendidikan inklusi dinyatakan sangat valid dengan nilai 93,5%, dengan demikian model permainan bolang dapat dimanfaatkan oleh anak berpendidikan inklusi sebagai sarana olahraga kompetisi.

Revisi Desain

Catatan-catatan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan yang diberikan oleh validator dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Revisi Desain Validasi Ahli

NoAhli PermainanAhli Kompetisi
SaranKebijakanSaranKebijakan
1SebaiknyaDitambahkanBola sebaiknyaDisesuaikan
permainanjumlah libang agardidesain sendiri,melalui penelitian
dapatdapat menampungjangan menggunakankhusus mengenai
melibatkanjumlah pesertabola yang sudah adapenggunaan
banyak pesertayang cukupfasilitas khusus
permainanbanyakpermainan
2Jarak lintasan harusDisesuikan pada
disesuaikan dengankebutuhan dan tipe
tipe anakanak berkebutuhan
berkebutuhan khususkhusus tuna daksa
agar tidaktipe ringan
memberatkan dan
melelahkan anak

Uji Coba Lapangan

Tabel 4. Uji Coba Lapangan

SkalaSkorMeanKeterangan
Kecil91,690.5Sangat baik digunakan sebagai olahraga kompetisi
Besar89,5

Berdasarkan tabel di atas diterangkan bahwa pada skala kecil permainan bolang memiliki makna sangat baik dengan nilai 91,6%, sedangkan pada skala besar permainan bolang memiliki makna sangat baik dengan nilai 89,5%. Hasil rata-rata uji coba lapangan adalah 90,5% dengan demikian permainan bolang memiliki keterangan baik digunakan sebagai sarana kompetisi.

Difution

Revisi Akhir

Berdasarkan catatan hasil penyebaran kuisioner penelitian pada siswa sebagai objek pengguna produk model permainan bolang untuk kompetisi anak berpendidikan inklusi bahwa rata-rata persepsi siswa terhadap kebermanfaatan permainan sebagai sarana kompetisi adalah sangat baik, namun beberapa catatan yang perlu diperhatikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5. Revisi Akhir

NoCatatanTindakan Revisi
1PeraturanMenyederhanakan peraturan khususnya skoring agar lebih
mudah menentukan poin kemenangan
2Disesuaikan dengan kemampuan fisik anak berpendidikan
Jarak Antar
Lintasan
inklusi agar permainan dapat dinikmati tanpa menguras energi
yang berlebih

Sumber : Dokumen Peneliti

Produk Massal/Desiminasi

Permainan Bolang atau permainan bola lobang adalah permainan yang mengadopsi dari permainan eksklusif cabang olahraga golf. Permainan ini mirip dengan permainan golf tetapi menggunakan desain permainan mulai dari alat, lapangan dan aturan yang lebih disederhanakan sehingga menjangkau kemampuan serta mobilitas anak-anak berkebutuhan khusus jenis tuna daksa tipe ringan dapat dengan mudah memainkannya tanpa mengalami kesulitan dari aspek gerak.

a. Deskripsi Permainan. Permainan bolang adalah permainan melempar bola lobang (bolang) menggunakan kedua tangan untuk dimasukkan dalam

lobang kecil sebagai sasaran permainan. Tipe permainan ini adalah jenis perlombaan bukan pertandingan, artinya setiap pemain tidak saling berhadapan satu sama lainnya tetapi saling beriringan dalam satu lapangan yang disebut Lintasan Lobang (Libang). Pemain menyelesaikan setiap libang dalam jumlah libang sebanyak 6 libang untuk satu sesi permainan. Banyaknya sesi permainan dilakukan selama 2 sesi.

b. Tujuan permainan. (1) Melempar bola dengan Tingkat akurasi yang tinggi, (2) Memasukkan bola ke lobang yang disiapkan, (3) Menghasilkan jumlah lemparan paling sedikit dengan lawan main lainnya.

PEMBAHASAN

Penelitian yang bertujuan mengembangan permainan yang dapat dijadikan sebagai cabang olahraga baru untuk kompetisi anak berpendidikan inklusi menghasilkan jenis Permainan Bolang sebagai sarana permainan. Permainan ini dikembangkan dengan melibatkan sebanyak 21 orang siswa SLB D YPAC Kota Palembang yang terbagi dalam dua kali uji coba permainan pada skala kecil dan besar. Ahli yang dilibatkan adalah ahli permainan dan ahli kompetisi pada spesifikasi anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan analisis data hasil penelitian ditemukan bahwa validasi permainan bermakna sangat valid dengan nilai rata-rata 93,5%. Hasil uji coba lapangan bermakna sangat baik dengan nilai rata-rata 90,5%. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dimana (Anindhito, 2020) mengembangkan permainan freeball dengan persentase nilai 90% aspek kelayakan permainan baik skala kecil maupun skala besar. Hasil pengembangan permainan lainnya (Dimyati, 2017) mengembangkan permainan atletik anak kemudian memperoleh keterangan nilai 83,66 dengan kriteria baik. Dua keterangan hasil di atas menunjukkan bahwa permainan bolang memiliki makna sangat baik dimanfaatkan sebagai sarana permainan baru untuk kompetisi anak berpendidikan inklusi.

Permainan bolang atau istilah dari permainan bola lobang adalah permainan yang mengadopsi dari permainan eksklusif cabang olahraga golf. Permainan ini mirip dengan permainan golf tetapi menggunakan desain permainan mulai dari alat, lapangan dan aturan yang lebih disederhanakan sehingga menjangkau kemampuan serta mobilitas anak-anak berkebutuhan khusus jenis tuna daksa tipe ringan dapat dengan mudah memainkannya tanpa mengalami kesulitan dari aspek gerak. Permainan ini dilakukan dengan melempar bola lobang (bolang) menggunakan kedua tangan untuk dimasukkan dalam lobang kecil sebagai sasaran permainan. Tipe permainan ini adalah jenis perlombaan bukan pertandingan, artinya setiap pemain tidak saling berhadapan satu sama lainnya tetapi saling beriringan dalam satu lapangan yang disebut Lintasan Lobang (Libang). Pemain menyelesaikan setiap libang dalam jumlah libang sebanyak 6 libang untuk satu sesi permainan. Banyaknya sesi permainan dilakukan selama 2 sesi. Pemain memiliki tujuan untuk melempar bola dengan tingkat akurasi yang tinggi. Memasukkan bola ke lobang yang disiapkan dan menghasilkan jumlah lemparan paling sedikit dengan lawan main lainnya. Dari permainan ini diharapkan siswa yang berada dalam fase pendidikan inklusi dapat memainkan olahraga alternatif yang menyerupai olahraga eksklusif tanpa harus khawatir karena aspek kenyamanan, kepercayaan diri dan kesulitan dalam melakukan aktivitasnya. Disisi lain, diharapkan permainan bolang dapat memberikan dampak yang luas bagi kurikulum pendidikan inklusi yang jika dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran dapat membangkitkan gairah belajar siswa, memunculkan inovasi dan imajinasi bagi siswa, dan jika dimanfaatkan sebagai bahan kompetisi tentu diharapkan memunculkan aspek prestasi bagi peserta didik dilingkungan pendidikan inklusi.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan model permainan bolang untuk kompetisi anak berpendidikan inklusi terdapat beberapa kesimpulan yaitu kehadiran permainan bolang memberikan dampak bagi siswa sebagai objek utama permainan dalam hal memunculkan keinginan berolahraga, kenyamanan dalam berolahraga, kepercayaan diri dan kesulitan melakukan olahraga khususnya olahraga ekslusif. Guru dapat mengedukasi siswa dengan memanfaatkan permainan bolang sebagai media membangkitkan pengalaman siswa melalui penanaman nilainilai yang terkandung dalam permainan bolang. Pelatih dapat memanfaatkan permainan bolang sebagai sarana untuk membina potensi prestasi siswa dalam bidang olahraga. Penelitian ini tentu dapat dijadikan bahan kajian baik sebagai perbandingan maupun inspirasi bagi peneliti selanjutnya dalam berinovasi mengembangkan penelitian serupa merancang permainan baru untuk tumbuhkembang anak berpendidikan inklusi baik dari aspek mobilitas gerak, kebugaran, kesehatan mental dan potensi prestasi anak.

REFERENSI

  • Adelina, F., Akhmad, S. K., & Hadi, C. (2018). Bagaimana Agar Penyandang Tuna Daksa Mampu Menjadi Pribadi Yang Bahagia? Jurnal Sains Psikologi, 7(2), 119–125. https://doi.org/10.17977/um023v7i22018p119
  • Angriyani, A. J., Oktapia, D., Mulyo, R., & Lliyosan, M. (2023). Bagaimana Agar Penyandang Tunadaksa Mampu Menjadi Pribadi Yang Bahagia ? Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 9(04), 13–18. https://doi.org/10.36989/didaktik.v9i04.1627
  • Anindhito, Y. L. A. (2020). Pengembangan Model Permainan Olahraga Freeball pada Pembelajaran Penjas Adaptif Anak Tunagrahita di SLB Se-Kabupaten Kendal. Journal of Sport Coaching and Physical Education, 5(1), 68–75.
  • Chamidah, A. N. (2013). Mengenal anak berkebutuhan khusus. Magistra, 25(86), 1–10.
  • Dimyati, A. (2017). Pengembangan Model Permainan Atletik Anak Dalam Pembelajaran Gerak Dasar Lari Bagi Siswa Berkebutuhan Khusus (Tunarungu) Di SLB Negeri Kabupaten Karawang. Journal Sport Area, 2(2), 19–26. https://doi.org/10.25299/sportarea.2017.vol2(2).1031
  • Fakhiratunnisa, S. A., Pitaloka, A. A. P., & Ningrum, T. K. (2022). Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus. Masaliq, 2(1), 26–42. https://doi.org/10.58578/masaliq.v2i1.83
  • Irdamurni & Rahmawati. (2015). Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Goresan Pena Anggota IKAPI, 344.
  • Khairun Nisa, Mambela, S., & Badiah, L. I. (2018). Karakteristik Dan Kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus. Jurnal Abadimas Adi Buana, 2(1), 33–40. https://doi.org/10.36456/abadimas.v2.i1.a1632
  • Mardi Fitri, D. G. R. K. Z. P. (2021). Faktor Penyebab Anak Berkebutuhan Khusus Dan Klasifikasi Abk. Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak, 7(2), 40. https://doi.org/10.22373/bunayya.v7i2.10424
  • Onah. (2017). PENINGKATAN HASIL BELAJAR PERKALIAN MELALUI PENGGUNAAN SEMPOA PADA SISWA TUNADAKSA KELAS IV DI SDLB PRI PEKALONGAN. 3(1), 60–79.
  • Pratiwi, I., & Hartosujono. (2015). Resiliensi pada penyandang tunadaksa. Jurnal SPIRITS, 5(1), 48–54.
  • Riefani, M. K. (2020). Validitas Dan Kepraktisan Panduan Lapangan "Keragaman Burung" Di Kawasan Pantai Desa Sungai Bakau. Vidya Karya, 34(2), 193.

  • https://doi.org/10.20527/jvk.v34i2.7578
  • Santi, C. O., & Septiyana, R. (2024). Karakteristik dan model pendidikan bagi anak tunadaksa. PPSDP Undergraduate Journal of Educational Sciences, 1(1), 1– 14.
  • Siaahan Hasnah , Armanila, V. (2022). Studi Kasus : Penanganan Anak Tunadaksa (Cerebral Palsy). PELANGI: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Islam Anak Usia Dini, 4(1), 1–8.
  • Suharsiwi. (2017). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. CV Prima Print.
  • Suri, O. R., Indriana, Y., & Psikolog, M. S. (2017). MAKNA ANAK TUNA DAKSA BAGI IBU The Meaning of Children with Physical Disability for a Mother hasil bahwa ada beberapa tahap yang dilalui oleh Ibu yang memiliki anak dengan hambatan fisik menyebutkan bahwa 60 % anak-anak dalam penelitian tersebut yang ibun. Jurnal Empati, 7(Nomor 3), 268–277.
  • Susetyo, B. L., & Puspitaningsari, M. (2021). Pengaruh Modifikasi Bermain Terhadap Gerak Langkah Siswa Tunagrahita SLB Negeri Jombang. Jurnal Kepelatihan Olahraga SMART SPORT, 18(1), 6–10.
  • Virlia, S., & Wijaya, A. (2015). Penerimaan Diri pada Penyandang Tunadaksa. Seminar Psikologi & Kemanusiaan, 4, 372–377.
  • Widodo, Z. D., P, E. A. M., & Indarto, W. (2014). 1190-2592-1-Sm. 1, 39–49.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
43th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

level 2
level 1
Psychology 0.40
level 0

Institution Network