1. Home
  2. Archives
  3. Vol 9 (2024) Issue 2
  4. Articles

Penerapan Model Teaching Personal and Social Responsibility (TPSR) untuk Meningkatkan Kemandirian Siswa di SMP

Abstract

Pengembangan karakter dan kemandirian siswa menjadi tantangan utama dalam pendidikan menengah pertama, terutama dalam era yang semakin kompleks ini. Penelitian ini mengkaji efektivitas implementasi model Teaching Personal and Social Responsibility (TPSR) dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa di SMPN 29 Bandung. Menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK), studi ini melibatkan 100 siswa yang diobservasi selama tiga siklus pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan melalui kombinasi kuesioner terstruktur dan observasi sistematis. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dalam skor kemandirian siswa dari 76,69 menjadi 89,85, yang mencerminkan keberhasilan intervensi TPSR. Model ini terbukti efektif dalam mengembangkan berbagai aspek kemandirian, termasuk pengambilan keputusan, keterampilan interpersonal, dan tanggung jawab pribadi serta sosial. Yang lebih penting, penelitian ini mengungkapkan bahwa siswa mampu mentransfer keterampilan yang dipelajari ke dalam konteks kehidupan sehari-hari di luar sekolah. Temuan ini memberikan bukti empiris yang kuat untuk mendukung implementasi model TPSR sebagai strategi pedagogis dalam mengembangkan kemandirian siswa. Direkomendasikan agar sekolah mengadopsi dan mengimplementasikan model TPSR secara sistematis dan berkelanjutan untuk memaksimalkan dampak positifnya terhadap perkembangan karakter siswa.

Keywords

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter dan kemandirian siswa, terutama di era globalisasi yang ditandai dengan kompleksitas tantangan yang semakin meningkat (Olssen, 2020). Dalam konteks ini, pengembangan kemandirian siswa menjadi aspek krusial yang perlu mendapat perhatian khusus dalam sistem pendidikan. Teaching Personal and Social Responsibility (TPSR) hadir sebagai model pembelajaran inovatif yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengembangan tanggung jawab pribadi serta sosial siswa (Martinek & Hellison, 2016).

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak institusi pendidikan yang belum mengimplementasikan metode pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan kemandirian siswa. Observasi awal di SMPN 29 Bandung mengindikasikan adanya kecenderungan siswa yang masih sangat bergantung pada guru dalam proses pembelajaran, ditandai dengan rendahnya inisiatif dan minimnya tanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan temuan Roorda, dkk. (2021) yang mengungkapkan bahwa ketergantungan berlebihan pada guru dapat menghambat perkembangan kemandirian siswa.

Model TPSR menawarkan kerangka kerja sistematis yang mengintegrasikan berbagai metode pengajaran, termasuk pembelajaran langsung, diskusi kelompok, instruksi sebaya, dan pembelajaran kooperatif (Zhang, dkk, 2024). Model ini terdiri dari lima tingkatan progresif: (1) rasa hormat dan perasaan, (2) partisipasi dan usaha, (3) pengarahan diri, (4) membantu dan kepemimpinan, serta (5) transfer pembelajaran ke konteks di luar sekolah (Camerino, dkk., 2019). Penelitian Bean, dkk. (2014) menunjukkan bahwa implementasi TPSR secara konsisten dapat meningkatkan tidak hanya kemandirian siswa tetapi juga keterampilan sosial dan akademik mereka.

Urgensi penelitian ini semakin relevan mengingat tuntutan dunia modern yang membutuhkan individu dengan kemandirian dan karakter yang kuat. Jang, dkk. (2024) menegaskan bahwa pengembangan kemandirian siswa melalui model pembelajaran yang tepat menjadi kunci dalam mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan abad ke-21. Selain itu, penelitian ini juga merespon kebutuhan akan metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi transfer pengetahuan dan keterampilan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas implementasi model TPSR dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa sekolah menegah pertama. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengaruh penerapan model TPSR terhadap tingkat kemandirian siswa, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan implementasi model TPSR, dan (3) merumuskan rekomendasi strategis bagi pengembangan model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kemandirian siswa.

METODE

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus pembelajaran. Setiap siklus mengikuti empat tahapan sistematis: perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing), dan refleksi (reflecting) (Zuber-Skerritt, 2021). Model PTK dipilih karena kemampuannya dalam memberikan umpan balik langsung terhadap praktik pembelajaran dan memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam proses implementasi model TPSR.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VII SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2023/2024 yang terdiri dari 250 siswa yang terbagi dalam delapan kelas parallel. Sampel penelitian terdiri dari 100 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria pemilihan sampel meliputi: (1) Siswa aktif kelas VII, (2) Kehadiran minimal 80% selama semester berjalan, dan (3) Kesediaan berpartisipasi dalam program TPSR.

Instrumen

Penelitian ini menggunakan instrumen berupa angket tertutup sebagai alat pengumpulan data utama, Instrumen kemandirian belajar dikembangkan berdasarkan enam aspek utama yaitu: memiliki inisiatif sendiri, merumuskan tujuan pembelajaran, mendiagnosis tujuan belajar, mengidentifikasi sumber belajar atau literatur, memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat, serta mengevaluasi hasil pembelajaran (Eriyanto dkk. 2021). Setiap aspek dijabarkan menjadi beberapa indikator spesifik, seperti kemampuan mengerahkan diri sendiri, memiliki keberanian bertindak, orientasi masa depan, dan kemampuan mengorganisasi tujuan belajar. Instrumen menggunakan modifikasi skala Likert dengan empat pilihan jawaban untuk menghindari kecenderungan responden memilih nilai tengah. Skala penilaian terdiri dari Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), dengan skor yang berbeda untuk pernyataan positif dan negatif.

Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Data yang terkumpul dari observasi dan angket dianalisis untuk menentukan perubahan dalam perilaku mandiri siswa setelah penerapan model TPSR. Teknik ini dipilih karena dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai hasil penelitian dan memudahkan peneliti dalam menarik kesimpulan (Arikunto, 2019).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilaksanakan dengan fokus pada evaluasi perilaku mandiri siswa kelas 7 melalui implementasi model pembelajaran Teaching Personal Social and

Responsibility (TPSR). Pengambilan data dilakukan selama tiga siklus pembelajaran dengan total enam pertemuan, di mana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Observasi awal menunjukkan bahwa dari 100 peserta didik, hanya 33 siswa yang mencapai nilai KKM, mengindikasikan perlunya intervensi pembelajaran yang lebih efektif.

Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dalam perilaku mandiri siswa setelah implementasi model TPSR. Peningkatan ini terlihat dari perkembangan nilai siswa di setiap siklus pembelajaran, yang menunjukkan efektivitas model TPSR dalam mengembangkan kemandirian siswa. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengintegrasian model TPSR ke dalam kurikulum pembelajaran dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa di tingkat SMP.

Pada siklus pertama, peneliti melakukan perencanaan yang mencakup penyusunan rencana pembelajaran dan instrumen observasi. Tindakan yang dilakukan meliputi pengenalan model TPSR kepada siswa, di mana siswa diajarkan tentang tanggung jawab pribadi dan sosial. Observasi dilakukan untuk menilai perilaku mandiri siswa selama pembelajaran.

Siklus kedua dimulai dengan refleksi dari siklus pertama. Berdasarkan hasil observasi, peneliti melakukan perbaikan dalam metode pengajaran dan memberikan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk berlatih mandiri. Pada siklus ini, peneliti juga memperkenalkan lebih banyak aktivitas kelompok untuk meningkatkan interaksi sosial di antara siswa.

Siklus ketiga melanjutkan perbaikan dari siklus sebelumnya. Peneliti menekankan pada refleksi diri siswa setelah setiap aktivitas, di mana siswa diminta untuk mengevaluasi tindakan mereka sendiri dan memberikan umpan balik kepada teman sekelas. Perlakuan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman siswa tentang tanggung jawab pribadi.

Tabel 1. Hasil PTK Kemandirian Siswa

SiklusHasilCapaianDeskripsi
1Pada pertemuan 1, rata-rataImplementasiAdanya perkembangan
skor yang diperoleh siswamodel TPSRperilaku mandiri siswa seiring
adalah 59,69 denganterhadap perilakuberjalannya implementasi
standar deviasi 14,37,mandiri siswamodel TPSR. Hasil dari siklus
sementara pada pertemuanmenunjukkanini menunjukkan bahwa

2 meningkat menjadi 62,48 dengan standar deviasi 14,07. Jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) juga mengalami peningkatan, dari 33 siswa pada pertemuan 1 menjadi 40 siswa pada pertemuan 2.

peningkatan dari pertemuan 1 ke pertemuan 2

terdapat peningkatan awal dalam perilaku mandiri siswa, meskipun masih banyak siswa yang memerlukan bimbingan lebih lanjut.

2 Pada pertemuan 3, rata-rata skor siswa adalah 72,1 dengan standar deviasi 13,61, sementara pada pertemuan 4 meningkat menjadi 76,65 dengan standar deviasi 10,92. Jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) juga meningkat dari 55 siswa pada pertemuan 3 menjadi 81 siswa pada pertemuan 4.

Implementasi model TPSR terhadap perilaku mandiri siswa menunjukkan peningkatan signifikan dari pertemuan 3 ke pertemuan 4.

Hasil ini mengindikasikan

bahwa penerapan model TPSR semakin efektif dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa seiring waktu. Hasil dari siklus kedua menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perilaku mandiri siswa dibandingkan dengan siklus pertama. Data menunjukkan bahwa lebih banyak siswa yang mampu mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas tugas mereka Hasil dari siklus ketiga menunjukkan peningkatan yang lebih besar dalam perilaku mandiri siswa, dengan banyak siswa menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara independen dan berkontribusi dalam kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa hampir seluruh siswa telah mencapai perilaku mandiri yang diharapkan, mengindikasikan keberhasilan implementasi model TPSR secara

keseluruhan.

3 Pada pertemuan 5, rata-rata skor siswa mencapai 86,3 dengan standar deviasi 9,04, sedangkan pada pertemuan 6 meningkat menjadi 86,39 dengan standar deviasi 8,88. Jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) juga meningkat dari 95 siswa pada pertemuan 5 menjadi 97 siswa pada pertemuan 6.

Implementasi model TPSR terhadap perilaku mandiri siswa menunjukkan hasil yang sangat baik dengan pencapaian optimal.

Pembahasan

Hasil analisis data pre-test dan post-test angket tertutup menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor perilaku mandiri siswa setelah implementasi model TPSR. Rata-rata skor pada pre-test adalah 82,54, sementara pada post-test meningkat menjadi 89,85. Peningkatan ini mencerminkan dampak positif implementasi model TPSR terhadap pengembangan perilaku mandiri siswa.

Hasil observasi pada implementasi model TPSR terhadap perilaku mandiri siswa menunjukkan peningkatan skor pada setiap siklus dan pertemuan. Pada siklus 1, skor observasi meningkat dari 45,83 pada pertemuan 1 menjadi 50 pada pertemuan 2. Di siklus 2, skor kembali meningkat dari 64,58 pada pertemuan 3 menjadi 72,92 pada pertemuan 4. Peningkatan yang signifikan terlihat pada siklus 3, di mana skor naik dari 81,25 pada pertemuan 5 menjadi 87,50 pada pertemuan 6. Tren ini mengindikasikan perbaikan yang konsisten dalam perilaku mandiri siswa seiring pelaksanaan model TPSR.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa model TPSR efektif dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa. Penelitian oleh Hellison (2011) menunjukkan bahwa pendekatan yang berfokus pada tanggung jawab sosial dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi perilaku negatif di kelas. Selain itu, penelitian oleh Carbonero, dkk. (2017) juga mendukung temuan ini, yang menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis tanggung jawab sosial menunjukkan peningkatan dalam keterampilan sosial dan mandiri.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model TPSR dalam pembelajaran dapat secara signifikan meningkatkan perilaku mandiri siswa. Temuan ini menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan karakter dan tanggung jawab sosial siswa, yang merupakan kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif.

Model TPSR menekankan pentingnya tanggung jawab pribadi dan sosial. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam pembelajaran, siswa diajarkan untuk lebih memahami peran mereka dalam kelompok dan tanggung jawab terhadap diri sendiri. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Hellison (2011), yang menyatakan bahwa pembelajaran yang berorientasi pada tanggung jawab dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan mengurangi perilaku negatif.

Setiap siklus penelitian melibatkan aktivitas kelompok yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan saling mendukung. Aktivitas ini tidak hanya meningkatkan keterampilan sosial tetapi juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dari satu sama lain. Penelitian oleh Wright (2015) menunjukkan bahwa interaksi sosial yang positif dalam kelompok dapat meningkatkan rasa

percaya diri dan kemandirian siswa.

Proses refleksi yang dilakukan setelah setiap aktivitas memungkinkan siswa untuk mengevaluasi tindakan mereka dan memahami konsekuensi dari perilaku mereka. Refleksi ini membantu siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai yang diajarkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penelitian oleh Opstoel dkk. (2020), refleksi diri adalah komponen penting dalam pembelajaran yang mendukung pengembangan karakter dan perilaku mandiri.

Peran guru dalam menerapkan model TPSR sangat krusial. Guru yang memberikan bimbingan dan umpan balik yang konstruktif dapat membantu siswa dalam proses belajar mereka. Penelitian oleh Pedler dkk. (2020) menunjukkan bahwa dukungan guru yang konsisten dapat meningkatkan motivasi siswa dan memperkuat perilaku positif di kelas.

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model TPSR efektif dalam meningkatkan perilaku mandiri siswa. Pendekatan yang berfokus pada tanggung jawab, aktivitas kolaboratif, refleksi diri, dan dukungan guru berkontribusi pada peningkatan tersebut. Temuan ini sejalan dengan penelitian terkini yang menekankan pentingnya pengembangan karakter dan keterampilan sosial dalam pendidikan.

REFERENSI

  • Arikunto, S. (2019). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Bean, C. N., Forneris, T., & Halsall, T. (2014). Girls Just Wanna Have Fun: a process evaluation of a female youth-driven physical activity-based life skills program. SpringerPlus, 3, 1-15.
  • Camerino, O., Valero-Valenzuela, A., Prat, Q., Manzano Sánchez, D., & Castañer, M. (2019). Optimizing education: A mixed methods approach oriented to
  • teaching personal and social responsibility (TPSR). Frontiers in psychology, 10, 1439.
  • Carbonero, M. A., Martín-Antón, L. J., Otero, L., & Monsalvo, E. (2017). Program to promote personal and social responsibility in the secondary classroom. Frontiers in Psychology, 8, 809.
  • Eriyanto, M. G., Roesminingsih, M. V., & Soeherman, I. K. (2021). The effect of learning motivation on learning independence and learning outcomes of students in the package c equivalence program. IJORER: International Journal of Recent Educational Research, 2(4), 455-467.
  • Hellison, D. (2010). Teaching personal and social responsibility through physical activity. Human Kinetics.
  • Jang, J., Yoo, H., & Rubadeau, K. (2024). More we or more me? How collaboration and autonomy connect with school climate, team innovativeness and school satisfaction among Korea's teachers. Professional Development in Education, 1-17.
  • Martinek, T., & Hellison, D. (2016). Teaching personal and social responsibility: Past, present and future. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 87(5), 9-13.
  • Olssen, M. (2020). Neoliberalism, globalisation, democracy: challenges for education. In Globalisation and Education (pp. 28-72). Routledge.
  • Opstoel, K., Chapelle, L., Prins, F. J., De Meester, A., Haerens, L., Van Tartwijk, J., & De Martelaer, K. (2020). Personal and social development in physical education and sports: A review study. European Physical Education Review, 26(4), 797-813.
  • Pedler, M., Hudson, S., & Yeigh, T. (2020). The teachers' role in student engagement: A review. Australian Journal of Teacher Education (Online), 45(3), 48-62.
  • Roorda, D. L., Zee, M., & Koomen, H. M. (2021). Don't forget student-teacher dependency! A Meta-analysis on associations with students' school adjustment and the moderating role of student and teacher characteristics. Attachment & Human Development, 23(5), 490-503.
  • Zhang, J., Geok Soh, K., Bai, X., Mohd Anuar, M. A., & Xiao, W. (2024). Optimizing learning outcomes in physical education: A comprehensive systematic review of hybrid pedagogical models integrated with the Sport Education Model. PloS one, 19(12), e0311957.
  • Zuber-Skerritt, O. (Ed.). (2021). Action research for change and development. Routledge.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
34th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Psychology 0.55
level 0
Pedagogy 0.33
level 1