1. PENDAHULUAN
Sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia yang tidak memiliki nilai kegunaan sama sekali. Jumlah timbulan yang semakin meningkat mengakibatkan sampah perlu dikelola dengan baik, agar tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Kegiatan pengelolaan sampah meliputi penanganan sampah dari sumber, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan pembuangan akhir. Pengolahan sampah memegang peranan penting untuk mengurangi timbulan dan meringankan beban operasi di tempat pembuangan akhir (TPA). Dalam menentukan teknologi pengolahan sampah sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik sampah yang ada, terutama karakteristik daerah setempat. Pada umumnya karakteristik sampah domestik di Indonesia masih didominasi oleh jenis sampah organik, dimana jenis ini sangat sesuai untuk dikomposkan. Pengomposan merupakan salah satu metode pengolahan sampah yang sangat efektif untuk diaplikasikan di Indonesia. Terdapat beberapa jenis teknologi pengomposan yang kita kenal, antara lain windrow, aerated static pile (aktif dan pasif), in-vessel, vermicomposting, dan lain-lain. Setiap jenis teknologi ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, sehingga pihak pengelola sampah kota perlu mengetahui pilihan yang terbaik sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah setempat.
Dalam pengambilan keputusan, Pemerintah sebagai pihak pengambil keputusan (decision maker) perlu mempertimbangkan banyak aspek/hal. Salah satu metode yang bisa digunakan untuk membantu dalam proses pengambilan keputusan adalah dengan menggunakan metode AHP (Analytic Hierarchy Process).
AHP merupakan proses berpikir yang komprehensif, logis dan terstruktur, dan sesuai untuk digunakan dalam upaya penyelesaian masalah yang menyangkut banyak aspek atau multicriteria. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui teknologi pengomposan yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Indonesia, dengan menggunakan metode AHP. Aspek yang menjadi pertimbangan dalam penelitian ini adalah sosial, ekonomi, lingkungan dan teknis. Penelitian ini menggunakan survey kuesioner dengan sumber responden berasal dari pihak stakeholder pengelolaan sampah kota. Kota Bandung dipilih dalam penelitian ini karena dianggap sebagai model dari sebuah kota besar di negara berkembang.
Aplikasi Teknologi Pengomposan
Alternatif teknologi pengomposan terpilih yang akan digunakan adalah (1) pengomposan aerated static pile aktif, (2) aerated static pile pasif, (3) windrow, dan (4) vermicomposting.
1. Aerated Static Pile aktif
Dalam pengomposan aerated static pile, sampah organik dicampur bersama dalam satu kolom pile besar. Dalam metode ini, sebuah blower digunakan untuk memasukkan atau mengeluarkan udara sepanjang gundukan. Pembalikan sampah dilakukan hanya sekali ketika pile dibentuk. Karena pile tidak mengalami proses turning, perhatian harus diberikan pada pencampuran sampah. Sangatlah penting untuk membentuk campuran yang homogen dan tidak mengkompaksi material (sampah) dengan mesin dalam pembuatan pile, sehingga distribusi udara dapat berimbang, dan tidak ada area anaerobik yang dapat mengakibatkan sampah menjadi tidak dikomposkan.
2. Aerated Static Pile pasif
Dalam metode ini, kebutuhan untuk proses pembalikan dapat ditiadakan, dan sebagai gantinya digunakan pipa berpori yang melintang di bagian dasar tumpukan sampah, untuk memberikan ruang udara masuk bagi material. Tumpukan sampah dilapisi dengan kompos matang, jerami atau peat moss (lumut tanah). Pipa disusun di atas lapisan selimut, dan kemudian di atasnya ditutupi dengan lapisan sampah (windrow), dengan ukuran tinggi tertentu. Lapisan selimut berguna untuk pembatas lahan pengolahan (site), mengusir serangga, dan mengurangi timbulan bau. Pipa disusun di antara bagian tengah lapisan selimut.
3. Windrow
Sampah disusun dalam gundukan yang kecil memanjang dengan lebar dan tinggi tertentu. Lebar windrow ditentukan oleh ukuran mesin yang akan digunakan untuk pembalikan windrow. Ukuran windrow ditentukan oleh porositas material. Windrow yang besar akan lebih cepat menjadi anaerobik pada bagian tengahnya, sehingga membutuhkan pembalikan yang konstan, sementara windrow yang terlalu kecil tidak akan mencapai suhu yang diinginkan untuk pengomposan yang efisien dan membunuh bibit penyakit dan patogen. Frekuensi pembalikan akan tergantung pada laju reaksi pengomposan. Suhu, konsenterasi oksigen, dan bau adalah indikator yang bagus untuk pembalikan.
4. Vermicomposting
Vermicomposting merupakan proses yang menggunakan bantuan cacing tanah dan mikroorganisme untuk membantu menstabilisasi material organik dan mengubahnya menjadi tanah yang kaya dengan sumber nutrien. Cacing tanah akan mengkonsumsi sebagian besar material organik, termasuk kotoran hewan, sisa-sisa pertanian, bendabenda organik dari industri, sampah dari kebun, sisa-sisa makanan, sampah kertas, dan sewage sludge.
2. METODOLOGI
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sampling kuesioner dalam bentuk wawancara langsung dengan pihak responden. Responden kuesioner merupakan pihak stakeholder pengelolaan sampah kota Bandung.
Penentuan Multi Kriteria
Proses pengambilan keputusan dengan menggunakan multikriteria bisa dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Dalam penggunaan metode AHP, perlu dilakukan dekomposisi masalah dengan mengidentifikasi kriteria dan subkriteria yang akan digunakan. Kriteria utama dalam pemilihan teknologi adalah aspek sosial, aspek ekonomi, aspek lingkungan, dan aspek teknis. Aspek utama ini dibagi dalam tiga subkriteria sosial, tiga subkriteria ekonomi, tiga subkriteria lingkungan, dan empat subkriteria teknis (Tabel 1).
Subkriteria sosial Subkriteria ekonomi Subkriteria lingkungan Subkriteria teknis Jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha yang ditumbuhkan Potensi konflik antara masyarakat dan teknologi Kesiapan SDM dalam pengoperasian pengomposan Nilai investasi Biaya operasional Keuntungan atau pendapatan yang diperoleh Bau dan habitat bibit penyakit (vektor) Emisi gas Potensi pencemaran yang diakibatkan karena terbentuknya lindi Perlakuan awal sebelum pengomposan Efektivitas pengolahan terhadap berbagai jenis sampah organik Total waktu proses Kompleksitas proses
Tabel 1. Subkriteria Penelitian
Multi kriteria ini membentuk proses hierarki analisis, dengan tujuan utama (goal) berada di kedudukan paling atas, dan diikuti dengan kriteria utama, subkriteria, dan alternatif permasalahan. Hierarki penelitian yang telah disusun (Gambar 1) merupakan dasar dalam penyusunan kuesioner dan pengolahan data.

Gambar 1. Hierarki Penelitian
Subkriteria-subkriteria tersebut masing-masing diberi kode nama untuk mempersingkat dan memudahkan dalam pengolahan data. Subkriteria sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknis masing-masing disingkat menjadi S, E, L dan T. Kemudian, penamaan tersebut dilengkapi dengan angka sesuai dengan urutan hierarki di atas (Gambar 1). Misalnya adalah potensi konflik antara masyarakat dan teknologi, yang diberi kode nama S2.
Penentuan Stakeholder Pengelolaan Sampah Kota
Responden kuesioner merupakan pihak stakeholder pengelolaan sampah kota, meliputi pihak Pemerintah, pihak masyarakat, pihak akademisi, dan praktisi.
1. Pemerintah
Pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan pengambil keputusan dalam masalah sampah kota merupakan stakeholder yang paling utama. Dalam penelitian ini, yang menjadi sumber responden adalah BPLHD (Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah) Jawa Barat, dan PD (Perusahaan Daerah) Kebersihan kota Bandung.
2. Masyarakat
Merupakan penghasil sampah organik yang paling besar, dan dari sinilah masalah sampah sering terjadi. Responden yang digunakan untuk mewakili masyarakat berasal dari pihak LSM yang bergerak di bidang lingkungan (terutama untuk sampah kota).
3. Akademisi
Pihak akademisi akan diwakili oleh dosen dan mahasiswa Teknik Lingkungan. Dengan pertimbangan, masalah pengelolaan sampah merupakan salah satu obyek studi di Program Studi ini. Pendapat dan penilaian dari pihak yang memahami ilmu pengelolaan sampah inilah yang diharapkan menjadi input dalam penelitian.
4. Praktisi
Pihak praktisi meliputi operator atau pihak yang melakukan pengomposan sampah, minimal dalam skala komunal atau perumahan, secara langsung. Pendapat dan penilaian dari pihak yang berpengalaman melakukan kegiatan pengomposan, merupakan salah satu pertimbangan dalam pengambilan data ini.
Penyusunan Kuesioner
Kuesioner disusun berdasarkan multikriteria yang telah ditetapkan (Tabel 1). Setiap kriteria dan subkriteria yang setingkat, dibandingkan untuk membentuk matriks perbandingan berpasangan. Nilai yang digunakan menunjukkan hubungan perbandingan antara satu elemen dengan elemen yang kedua (Tabel 2).
| Kriteria | Subkriteria 1 | Subkriteria 2 | Subkriteria 3 |
|---|---|---|---|
| Subkriteria 1 | 1 | ||
| Subkriteria 2 | 1 | ||
| Subkriteria 3 | 1 |
Gambar 2. Matriks Pembandingan Berpasangan (pairwise comparison)
Tabel 2. Skala Banding Berpasang
| Intensitas Pentingnya (n) | Definisi | ||
|---|---|---|---|
| 1 | Kedua elemen sama penting | ||
| 3 | Elemen yang satu lebih penting dibanding elemen yang kedua | ||
| 5 | Elemen yang satu sangat penting dibanding elemen yang kedua | ||
| 7 | Elemen yang satu mutlak lebih penting dibanding elemen yang kedua | ||
| 2, 4, 6 | Nilai-nilai antara di antara dua pertimbangan yang berdekatan | ||
| Kebalikan | Jika aktivitas i mendapat suatu angka terhadap aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i | ||
Contoh pertanyaan:
Sepeda motor manakah yang lebih hemat bahan bakar menurut anda?
Misal: jika anda berpendapat
Suzuki "lebih hemat" dibandingkan Yamaha, maka n = 1/3.
Honda "mutlak lebih hemat" dibandingkan Suzuki, maka n = 7.
Honda "mutlak lebih hemat" dibandingkan Yamaha, maka n = 1/7
| Merk Motor | Suzuki | Honda | Yamaha |
|---|---|---|---|
| Suzuki | 7 | 1/3 | |
| Honda | 1/7 | ||
| Yamaha |
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data diperoleh dari 12 orang responden yang mewakili stakeholder dari pihak akademisi (dosen dan mahasiswa). Jawaban kuesioner diolah dengan menggunakan bantuan software Expert Choice untuk setiap responden. Hasil pengolahan data untuk setiap orang tersebut kemudian dikompilasi dalam software Microsoft Excel, untuk mendapatkan nilai rata-rata yang mewakili pendapat keseluruhan dari pihak akademisi.
Prioritas Kriteria
Penghitungan dari matriks pembandingan berpasangan akan menghasilkan nilai sintesa yang merupakan prioritas dari kriteria, subkriteria, dan alternatif tersebut.
Penghitungan hasil pengolahan data dari pihak responden menunjukkan bahwa faktor sosial merupakan prioritas yang utama dalam menentukan aplikasi suatu teknologi (Tabel 3). Faktor sosial memiliki nilai prioritas tertinggi (0,33), disusul oleh faktor teknis (0,24), faktor ekonomi (0,23), dan faktor lingkungan (0,2). Faktor sosial ini merupakan faktor yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat setempat, yang merasakan dampak keberadaan suatu teknologi
Tabel 3. Nilai Prioritas Kriteria
| Kriteria | Prioritas |
|---|---|
| Sosial | 0.33 |
| Ekonomi | 0.23 |
| Lingkungan | 0.20 |
| Teknis | 0.24 |

Gambar 3. Perbandingan Prioritas Kriteria
Prioritas Subkriteria
Dalam penghitungan subkriteria, nilai prioritas dari setiap subkriteria dibandingkan secara lokal, atau dibandingkan dengan subkriteria lain yang masih dalam satu kriteria. Hasil penghitungan (Tabel 4) menunjukkan bahwa S3, E2, L1, dan T2 merupakan subkriteria yang mendapat prioritas utama dalam kriterianya masing-masing.
S3 atau kesiapan SDM dalam pengoperasian teknologi memiliki nilai prioritas lebih tinggi (0,41) daripada jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha (0,32) atau potensi konflik antara masyarakat dan teknologi (0,27).
Dalam kriteria ekonomi, biaya operasional (E2) memiliki nilai prioritas lebih tinggi (0,37) daripada keuntungan (0,36) ataupun nilai investasi (0,27).
Untuk kriteria lingkungan, subkriteria bau dan habitat bibit penyakit (L1) merupakan hal yang memiliki nilai prioritas tertinggi (0,43), kemudian diikuti dengan subkriteria potensi pencemaran akibat terbentuknya air lindi (0,37) dan emisi gas (0,20).
Sedangkan untuk kriteria teknis, faktor pengolahan terhadap berbagai jenis sampah domestik merupakan subkriteria yang mendapat prioritas utama (0,31), baru diikuti total waktu proses (0,27), perlakuan awal terhadap bahan yang akan dikomposkan (0,26), dan kompleksitas proses (0,15).
Tabel 4. Nilai Prioritas Subkriteria
| Sub Kriteria | Prioritas | Simpangan Baku |
|---|---|---|
| S1. Jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha yang ditumbuhkan | 0.32 | 0.2003 |
| S2. Potensi konflik antara masyarakat dan teknologi | 0.27 | 0.1628 |
| S3. Kesiapan SDM dalam pengoperasian teknologi | 0.41 | 0.2101 |
| E1. Nilai investasi | 0.27 | 0.1161 |
| E2. Biaya operasional | 0.37 | 0.1417 |
| E3. Keuntungan atau pendapatan yang diperoleh | 0.36 | 0.1383 |
| L1. Bau dan habitat bibit penyakit (vektor) | 0.43 | 0.2147 |
| L2. Emisi gas | 0.20 | 0.0991 |
| L3. Potensi pencemaran yang diakibatkan karena terbentuknya lindi | 0.37 | 0.2041 |
| T1. Perlakuan awal sebelum pengomposan | 0.26 | 0.1542 |
| T2. Efektivitas pengolahan terhadap berbagai jenis sampah organik | 0.31 | 0.1622 |
| T3. Total waktu proses | 0.27 | 0.1350 |
| T4. Kompleksitas proses | 0.15 | 0.1277 |
Prioritas Alternatif
Penilaian secara keseluruhan perlu dilakukan untuk mengetahui alternatif terbaik menurut pendapat stakeholder. Nilai prioritas lokal alternatif pengomposan tidak bisa dibandingkan, sehingga nilai tersebut perlu dinormalisasi terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai prioritas global alternatif. Penghitungan normalisasi ini memasukkan nilai prioritas kriteria, nilai prioritas lokal subkriteria, dan nilai prioritas alternatif ke dalam perhitungan untuk mendapatkan nilai prioritas alternatif secara global (Tabel 5).
Tabel 5. Nilai Prioritas Alternatif secara global
| Teknologi Pengomposan | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Kriteria | Subkriteria | ASP aktif | ASP pasif | Windrow | Vermicomposting | Total |
| S1 | 0.0272 | 0.0174 | 0.0432 | 0.0179 | 0.11 | |
| Sosial | S2 | 0.0263 | 0.0183 | 0.0231 | 0.0206 | 0.09 |
| S3 | 0.0246 | 0.0285 | 0.0548 | 0.0284 | 0.14 | |
| E1 | 0.0045 | 0.0094 | 0.0269 | 0.0202 | 0.06 | |
| Ekonomi | E2 | 0.0159 | 0.0159 | 0.0285 | 0.0225 | 0.08 |
| E3 | 0.0319 | 0.0166 | 0.0217 | 0.0168 | 0.09 | |
| L1 | 0.0385 | 0.0206 | 0.0165 | 0.0121 | 0.09 | |
| Lingkungan | L2 | 0.0151 | 0.0085 | 0.0102 | 0.0072 | 0.04 |
| L3 | 0.0265 | 0.0164 | 0.0172 | 0.0139 | 0.07 | |
| T1 | 0.0189 | 0.0151 | 0.0138 | 0.0157 | 0.06 | |
| Teknis | T2 | 0.0290 | 0.0155 | 0.0158 | 0.0152 | 0.08 |
| T3 | 0.0245 | 0.0138 | 0.0133 | 0.0146 | 0.07 | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| T4 | 0.0100 | 0.0095 | 0.0093 | 0.0068 | 0.04 | |
| Total | 0.2929 | 0.2056 | 0.2943 | 0.2120 | 1.00 |
Hasil dari perhitungan (Tabel 5) menunjukkan bahwa Windrow (0,2943) merupakan teknologi pengomposan yang terbaik untuk diaplikasikan di Indonesia. Disusul kemudian oleh Aerated Static Pile (ASP) aktif (0,2929), Vermicomposting (0,212) dan ASP pasif (0,2056).
Kelebihan dan Kekurangan Alternatif
Penilaian kelebihan dan kekurangan masing-masing alternatif dilakukan dengan mengurutkan nilai prioritas lokal alternatif yang terdapat pada setiap subkriteria. Nilai prioritas yang tinggi mengindikasikan kelebihan alternatif tersebut, dan begitu juga sebaliknya.
Tabel 6. Nilai Prioritas Alternatif secara lokal
| ASP aktif | ASP pasif | Windrow | Vermicomposting | |
|---|---|---|---|---|
| S1 | 0.2569 | 0.1648 | 0.4090 | 0.1694 |
| S2 | 0.2979 | 0.2075 | 0.2612 | 0.2334 |
| S3 | 0.1803 | 0.2090 | 0.4022 | 0.2088 |
| E1 | 0.0734 | 0.1547 | 0.4409 | 0.3312 |
| E2 | 0.1916 | 0.1923 | 0.3443 | 0.2718 |
| E3 | 0.3909 | 0.2035 | 0.2658 | 0.2063 |
| L1 | 0.4384 | 0.2343 | 0.1883 | 0.1374 |
| L2 | 0.3688 | 0.2078 | 0.2485 | 0.1749 |
| L3 | 0.3574 | 0.2213 | 0.2313 | 0.1876 |
| T1 | 0.2979 | 0.2373 | 0.2178 | 0.2468 |
| T2 | 0.3835 | 0.2055 | 0.2091 | 0.2016 |
| T3 | 0.3704 | 0.2088 | 0.2005 | 0.2203 |
| T4 | 0.2814 | 0.2652 | 0.2613 | 0.1918 |
Hasil penghitungan kemudian diurutkan dimulai dari nilai tertinggi sampai dengan nilai terendah. Berdasarkan nilai tersebut, bisa diketahui kelebihan dan kekurangan alternatif teknologi pengomposan (Tabel 7).
Tabel 7. Kelebihan dan Kekurangan
| Teknologi | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|
| ASP aktif | L1, E3, T2 | E1 |
| ASP pasif | T4 | E1, S1, E2 |
| Windrow | E1, S1, S3 | L1 |
| Vermicomposting | E1, E2, T1 | L1, S1, L2, L3 |
Berdasarkan pendapat para responden, Aerated Static Pile (ASP) aktif memiliki kelebihan dalam pengendalian bau dan habitat bibit penyakit (L1), keuntungan atau pendapatan yang diperoleh (E3), dan efektivitas pengolahan terhadap berbagai jenis sampah organik (T2). Tapi juga memiliki kekurangan dalam nilai investasi (E1).
Windrow memiliki kelebihan dalam nilai investasi (E1), jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha (S1), dan perlakuan awal sebelum pengomposan (T1). Namun jenis ini juga memiliki kelemahan dalam hal bau dan habitat bibit penyakit (vektor).
Aerated Static Pile (ASP) pasif memiliki kelebihan dalam hal kompleksitas proses (T4), namun memiliki kekurangan dalam hal nilai investasi (E1), jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha (S1), dan biaya operasional (E2).
Vermicomposting memiliki kelebihan dalam nilai investasi (E1), biaya operasional (E2), dan perlakuan awal sebelum pengomposan (T1), tapi juga memiliki kelemahan dalam hal aspek lingkungan (L1, L2, L3) dan jumlah penyerapan tenaga kerja dan lapangan usaha (S1).
4. KESIMPULAN
Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan metode yang sangat berguna untuk digunakan dalam memecahkan masalah yang rumit dan kompleks. Namun hasil dari penilaian metode ini sebaiknya harus disesuaikan juga dengan kondisi daerah setempat. Windrow merupakan teknologi pengomposan yang paling sesuai untuk diaplikasikan di Indonesia, berdasarkan pendapat kelompok akademisi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknologi yang diinginkan lebih diutamakan pada aspek sosial.
