PENDAHULUAN
Penyediaan perumahan harus dapat menjangkau semua kelompok masyarakat terutama mereka yang berpenghasilan rendah dengan jumlah sangat besar. Bagi kelompok masyarakat ini, dibutuhkan upaya penyediaan perumahan murah yang layak dan terjangkau akan tetapi tetap memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Disamping itu, besaran emisi CO2 perlu diperhitungkan dengan lebih tepat untuk control emisi CO2 dari pembangunan rumah.
Berbagai bahan bangunan seperti batu bata, besi, genteng, semen, pasir, batu kali dan kayu diperlukan untuk pembuatan satu unit rumah. Proses pembuatan bahan bangunan atau penyediaan bahan bangunan tersebut, gas karbondioksida (CO2) diemisikan ke udara, Emisi ini berasal dari proses pengolahan bahan baku, transportasi bahan, proses konstruksi rumah, dan respirasi para pekerja. Kebutuhan material bangunan untuk pembangunan rumah sebanding dengan jumlah rumah yang akan dibangun. Di perkotaan sebagai lingkungan binaan, rumah dan transportasi menjadi kebutuhan hidup yang menyumbang emisi CO2 (Astuti, 2005; Bhattachayya, 2010; Herawati, 2010, Maulana dan Setiawan, 2014).
Karbondioksida (CO2) termasuk gas yang memberi sumbangan paling besar terhadap efek rumah kaca, selain metana (CH4) dan dinitro oksida (N2O). Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan dampak dari rumah kaca. Berbagai pendekatan analitik maupun eksperimental dapat dilakukan dalam memprediksi emisi gas CO2. Pendekatan analitik dilakukan dengan penyusunan formula prediksi berdasarkan perilaku berbagai parameter fisik dan dengan mempergunakan berbagai kaidah fisik. Komposisi ideal dari CO2 dalam udara bersih seharusnya adalah 314 ppm. Sebagaimana telah diketahui bahwa jumlahnya yang berlebihan akan menimbulkan efek gas rumah kaca (GRK). Emisi CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab terbesar sekitar 50% dari efek GRK.
Pembuatan bahan bangunan membutuhkan energi baik dalam tahap pengumpulan bahan baku maupun proses pembentukan bahan bangunan tersebut. Bahan bakar seperti minyak bumi, kayu, sekam bahkan ban bekas digunakan secara langsung pada proses pembuatan maupun tidak langsung pada proses pendukungnya. Karena pembuatan bahan bangunan membutuhkan energy, berarti setiap unit bahan bangunan mengemisikan sejumlah CO2 Faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi besaran emisi dalam pembuatan bahan bangunan adalah kebutuhan energy, faktor emisi pada proses pembuatan atau penyediaan bahan dasar bahan bangunan. Pada umumnya, emisi CO2 bersumber dari transportasi, sampah, dan konsumsi energi listrik rumah tangga. Emisi CO2 relatif tinggi sehingga mengganggu sistem kesetimbangan di udara yang dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia (Yoshinori, et al., 2009).
Pembangunan rumah diperkirakan tergantung dari jumlah, jenis dan jarak sumber bahan bangunan serta proses konstruksi. Jumlah bahan bangunan tergantung dari luas rumah. Selain itu pengangkutan bahan bangunan ke lokasi proyek membutuhkan energi untuk kendaraan pengangkut. Selanjutnya, proses pengerjaan bangunan melibatkan manusia dan peralatan yang seluruhnya membutuhkan energiy. Besarnya kebutuhan energi pada proses pembangunan tergantung dari jenis rumah. Akan tetapi, pada penyelenggaran perumahan perkotaan modern, timbulan emisi CO2 di udara dapat dikendalikan sejak dari proses pra-konstruksi, konstruksi, hingga aktifitas pasca-konstruksi terutama melalui konsumsi energi listrik dan bahan bakar dari keperluan rumah tangga (Priemus, 2005; Suhedi, 2007).
Perkiraan emisi CO2 dari pembangunan atau pendirian sebuah rumah dapat dirumuskan. Adanya formula tersebut memungkinkan pengkajian prediksi emisi CO2 dari pembangunan berbagai tipe rumah dalam suatu kawasan. Dengan diketahuinya peran masingmasing faktor penentu emisi dalam pembuatan bahan bangunan dan rumah, inisiatif pengurangan ataupun pengendalian emisi pembangunan rumah sederhana dapat dirumuskan.
Tujuan dari estimasi ini adalah untuk pembuktian bahwa besaran emisi tersebut ditentukan oleh jenis, jumlah dan jarak asal bahan bangunan, dan pekerjaan konstruksi. Dengan demikian makalah ini menampilkan perhitungan besaran emisi CO2 dari pembangunan rumah sederhana dari berbagai tipe rumah dan faktor-faktor yang mempengaruhi besaran emisi CO2 tersebut.
METODOLOGI
Penelitian ini difokuskan pada perkiraan emisi CO2 dari Rumah Sederhana atau Perumnas di Sarijadi, Bandung. Perhitungan besaran emisi didasarkan pada emisi bahan bangunan, pengangkutan bahan bangunan ke lokasi proyek dan emisi pada masa konstruksi. Dengan kata lain emisi adalah fungsi dari Jumlah kebutuhan tiap bahan bangunan, Faktor emisi Distribusi bahan bangunan, Emisi Kendaraan per satuan jarak, Jarak dari sumber ke lokasi proyek, Jumlah Pekerja, dan Ekivalen Emisi Pekerja. Penelitian dimulai dengan pengumpulan data yang terdiri dari data pembuatan bahan bangunan, sumbar bahan bangunan, dan data tipe rumah. Penelitian dilanjutkan dengan perhitungan emisi CO2 dari tiap bahan bangunan, seperti batu bata, genteng, kayu, semen, besi, pasir, dan batu kali pondasi.
Formula tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam komputer menggunakan bahasa Fortran. Program komputer ini digunakan untuk perhitungan simulasi pada berbagai tipe rumah dengan variasi luas rumah dan variasi penggunaan bahan bangunan. Hasil simulasi akan menunjukkan hubungan antara tipe rumah dan bahan bangunan dalam memprediksi emisi CO2.
PEMBUATAN BAHAN BANGUNAN
Prediksi emisi CO2 dari berbagai tipe rumah dalam kawasan tertentu dibuat berdasarkan atas perhitungan yang telah melalui berbagai pengembangan oleh para ahli. Perhitungan ini terdiri dari tiga unsur utama yaitu pembuatan bahan bangunan, distribusi bahan bangunan, dan tipe rumah.
Batu bata terbuat dari tanah liat yang dicampur terlebih dahulu dengan dedak. Untuk membuat dua ribu buah batu bata dibutuhkan sekitar sepuluh karung dedak. Kemudian campuran dicetak berbentuk balok berukuran 22x11x5 cm. Genteng terbuat dari tanah liat yang dicetak berbentuk balok berukuran 20x2x40 cm yang disebut empleng. Setelah dicetak, bata dan genteng kemudian dijemur untuk dikeringkan dua hari sebelum akhirnya dibakar. Bata dibakar dengan sekam sebanyak 20 karung untuk menghasilkan sepuluh ribu batu bata. Sedangkan genteng dibakar dengan kayu albasia sebanyak 18 meter kubik untuk 13500 genteng.
Bahan bangunan kayu berasal dari berbagai daerah perkebunan tanaman keras. Pada umumnya kayu dipasok ke Kota sudah berbentuk papan atau balok berukuran sehingga dapat langsung dipasarkan ke konsumen. Proses pengolahan kayu seperti penebangan pohon, pembentukan gelondongan kayu menjadi balok dan papan dikerjakan di daerah penananman pohon.
Pasir dan batu kali berasal dari sungai maupun perbukitan di wilayah pegunungan. Dengan cara penggalian, bongkahan batu besar dipecah menjadi kecil. Kendaraan yang digunakan dalam proses pengambilan adalah truk dan traktor. Pasir dan batu kali kemudian diangkut ke wilayah pemukiman seperti kota-kota disekitarnya. Bahan baku utama dalam membuat semen adalah batu kapur (CaCO3) dan Tanah Liat (Al2Si2O7.XH2O). Proses produksi semen terdiri dari penambangan bahan baku yang meliputi pembersihan lahan, pengeboran, peledakan, pengecilan ukuran batuan, pengerukan dan pengangkutan. Kemudian bahan baku tersebut dimasukkan kedalam unit pembakaran dan pengeringan. Unit pembakaran merupakan bagian terpenting, karena komponen utama semen terbentuk. Selanjutnya, Semen dibungkus sebelum dipasarkan kepada konsumen.
Besibaja merupakan komponen penting untuk pembangunan rumah. Bahan mentahnya berupa bijih besi pellet (Fe2O3 and Fe3O4). Dengan menggunakan gas alam (CH4) dan air (H2O), besi dicampur dengan scrap, hot bricket iron dan material tambahan lainnya untuk menghasilkan dua jenis baja yang disebut baja billet dan baja slab. Baja billet adalah baja dalam bentuk batangan yang akan digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan baja profil, baja tulangan beton, batang kawat, dan kawat. Sedangkan baja slab adalah baja yang berbentuk lembaran.
Distribusi bahan bangunan seperti kayu, semen, dan besibaja melalui cara yang sama. Yaitu, bahan bangunan tersebut diangkut dari pabrik ke berbagai agen atau distributor, kemudian dikirim ke pedagang eceran. Sedangkan jalur distribusi batu bata, genteng, pasir dan batu kali pondasi langsung ke pedagang eceran bahkan konsumen.
EMISI GAS CO2
Faktor emisi bahan bakar yang digunakan berdasarkan atas penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman (2002) disajikan pada Tabel.1.
Tabel 1. Faktor Emisi Bahan Bakar
| Tipe Energi | Faktor Emisi |
|---|---|
| Kayu (kg-C/m3) | 0.37 |
| Sekam (kg-C/m3) | 0.18 |
| Tipe Energi | Faktor Emisi |
| Solar (kg-C/liter) | 2.68 |
| Bensin (kg-C/liter) | 1.59 |
| Gas (kg-C/kg) | 3 |
| Listrik (kg-C/kWh) | 0.719 |
| Minyak Tanah (kg-C/liter) | 2.5359 |
Sumber: Puslitbangkim (2002)
Dalam perhitungan emisi dari pembuatan bahan bangunan, digunakan rumus berikut:
A. Emisi setiap Bahan Bangunan
Emisi Tiap Bahan Bangunan (kg-C) = (kegiatan transportasi x faktor emisi bahan bakar)+(pengolahan x faktor emisi pada pengolahan)+(tenaga kerja x faktor emisi tenaga kerja) (1)
Keterangan:
Kegiatan transportasi adalah aktivitas yang dilakukan untuk mengangkut bahan baku dari tempat asal hingga lokasi proyek. Pengolahan adalah aktivitas pengolahan bahan baku menjadi bahan bangunan siap pakai. Tenaga kerja adalah banyaknya tenaga manusia yang digunakan dalam pembuatan bahan bangunan. Sedangkan proses pembuatan dan besar emisi tiap bahan bangunan terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Pembuatan dan Besar Emisi Tiap Bahan Bangunan
| Bahan | kegiatan | kebutuhan energi | Faktor emisi | Emisi tiap kegiatan | Emisi per satuan bahan |
|---|---|---|---|---|---|
| batubata | transportasi bahan baku | 20 liter | 2,68 | 53,6 | |
| (10.000 | pengolahan | 40 m3 | 0,18 | 7,2 | 0,0111 |
| buah) | tenaga kerja | 100 | 0,5 | 50 | |
| genteng | transportasi bahan baku | 30 liter | 2,68 | 80,4 | |
| (13.500 | pengolahan | 80 liter | 2,68 | 214,4 | |
| buah) | pengolahan menggunakan press | 8 liter | 2,5359 | 20,2872 | 0,0272 |
| pengolahan dengan kayu | 5,94 m3 | 0,37 | 2,1978 | ||
| tenaga kerja | 100 | 0,5 | 50 | ||
| kayu | pengolahan dengan solar | 10 liter | 2,68 | 26,8 | |
| (200 m3) | tenaga kerja | 10 | 0,5 | 5 | 0,159 |
| semen | transportasi bahan baku | 10 liter | 2,68 | 26,8 | |
| (8.760 | pengolahan dengan solar | 400 liter | 2,68 | 1072 | 1,7727 |
| kg) | pengolahan dengan listrik | 20000 | 0,719 | 14380 |
| Bahan | kegiatan | kebutuhan energi | Faktor emisi | Emisi tiap kegiatan | Emisi per satuan bahan |
|---|---|---|---|---|---|
| kWh | |||||
| tenaga kerja | 100 | 0,5 | 50 | ||
| besibaja | transportasi bahan baku | 10 liter | 2,68 | 26,8 | |
| (13.124 | pengolahan dengan solar | 400 liter | 2,68 | 1072 | |
| kg) | pengolahan dengan listrik | 20000 kWh | 0,719 | 14380 | 1,1832 |
| tenaga kerja | 100 | 0,5 | 50 | ||
| pasir | transportasi bahan baku | 40 liter | 2,68 | 107,2 | |
| (1.000 | pengolahan menggunakan genset | 50 liter | 2,68 | 268 | 0,3797 |
| m3) | tenaga kerja | 9 | 0,5 | 4,5 | |
| batukali | transportasi bahan baku | 40 liter | 2,68 | 107,2 | |
| (1.000 | pengolahan menggunakan traktor | 50 liter | 2,68 | 268 | 0,3767 |
| m3) | tenaga kerja | 3 | 0,5 | 1,5 | |
| Asbestos *) | 0,0109 | ||||
| Keramik *) | 0,2061 |
*) Seo dan Hwang (2001)
B. Emisi dari Kegiatan Distribusi Bahan Bangunan
Emisi Kegiatan Distribusi (kg-C) = Besar Bahan Bakar x Faktor Emisi (2)
Tabel 3. Emisi Kegiatan Distribusi Tiap Bahan Bangunan dari Tempat Pembuatan ke Bandung
| Nama bahan | Besar Bahan Bakar (liter) | Faktor emisi (kg-C/liter) | Emisi (kg-C) | Emisi per satuan bahan |
|---|---|---|---|---|
| batubata (10.000 buah) | 40 | 2,68 | 107,2 | 0,0107 |
| Genteng (13.500 buah) | 40 | 2,68 | 107,2 | 0,008 |
| Kayu (200 m3) | 40 | 2,68 | 107,2 | 0,536 |
| semen (8760 kg) | 125 | 2,68 | 335 | 0,0382 |
| besibaja (13.124 kg) | 50 | 2,68 | 134 | 0,0102 |
| pasir (1.000 m3) | 35 | 2,68 | 93,8 | 0,0938 |
| batu pondasi (1.000 m3) | 20 | 2,68 | 53,6 | 0,0536 |
Bandingkan dengan besarnya emisi CO2 dari produksi material bangunan berdasarkan penelitian Seo dan Hwang (2001).
Tabel 4. Emisi CO2 dari Bahan Bangunan
| Jenis Bahan Bangunan | Emisi CO2 (kg-C/kg) |
|---|---|
| Pasir/kerikil | 0.00049 |
| Batu belah | 0.00095 |
| Bata semen | 0.01140 |
| Semen | 0.22040 |
| Genteng Keramik | 0.2061 |
| Kayu | 0.02624 |
| Paku | 0.37753 |
| Baja | 0.42503 |
Sumber: Seo dan Hwang (2001)
Perbedaan besar emisi CO2 dari material bangunan dikarenakan perbedaan cara pembuatan, lama pengerjaan, jarak serta kondisi cuaca dan iklim yang turut menentukan efektivitas produksi. Pada umumnya pembuatan bahan bangunan di Indonesia masih padat karya, sedangkan di Korea Selatan, bahan baku didatangkan dari negara lain.
FORMULASI MODEL KOMPUTER DAN STRATEGI SIMULASI
Formulasi model pada berbagai variasi bahan bangunan dan tipe rumah diperoleh berdasarkan perhitungan yang telah dibuat sebelumnya. Penentuan bahan bangunan yang digunakan didasarkan atas Analisa Biaya Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan (SNI, 2002) dan pengamatan lapangan. Rumus:
\[E = f_r \times \left[ \sum \{ (fEb \times Vb) + (Ek \times fEk \times l) + (p \times fEm) \} \right]\]
fr = Faktor rumah.
fEb = Faktor emisi tiap bahan bangunan.
Vb = Jumlah kebutuhan tiap bahan bangunan.
Ek = Emisi Kendaraan per satuan jarak
fEk = Faktor emisi Distribusi bahan bangunan
l = Jarak dari sumber ke lokasi proyek
p = Jumlah Pekerja
fEm = Ekivalen Emisi Pekerja
'Faktor rumah' adalah faktor perkalian yang tergantung pada luas rumah, kebutuhan bahan bangunan, lama pengerjaan konstruksi bangunan, detil pengerjaan konstruksi bangunan dan jumlah pekerja Dn peralatan mesin yang digunakan. Tipe rumah yang digunakan adalah rumah sederhana sehat (Rs Sehat), yaitu rumah yang dibangun dengan menggunakan bahan bangunan dan konstruksi sederhana. Dalam simulasi, tipe rumah berdasarkan luas, antara lain rumah tipe 21, tipe 36, tipe 45 dan tipe 70. Masing-masing tipe tersebut ditentukan besar faktor tipe rumah sebagai berikut: fr tipe 21 = 1,5; itr tipe 36 = 2; itr tipe 45 = 2,5 dan intr tipe 70 = 3,5. Penentuan tersebut dilakukan berdasarkan asumsi bahwa semakin besar dan rumit pengerjaan rumah, semakin besar waktu dan biaya yang dihabiskan, maka semakin besar faktor rumah tersebut. Program komputer untuk prediksi emisi CO2 dari berbagai tipe rumah sederhana sehat yang telah dibuat kemudian disimulasikan. Simulasi dilakukan berdasarkan kebutuhan bahan bangunan tiap tipe rumah. Perbedaan kebutuhan mungkin terjadi akibat perbedaan luas rumah, penggunaan berbagai jenis bahan bangunan untuk pondasi, lantai, dinding dan atap. Tabel 5 memperlihatkan perkiraan rancangan rumah tipe 21, tipe 36, tipe 45 dan tipe 70. Perkiraan rancangan tersebut diasumsikan berdasarkan pengamatan lapangan.
Tabel 5. Perkiraan Rancangan Rumah Tipe 21, Tipe 36, Tipe 45 dan Tipe 70.
| Duangan | Tipe | 21 | Tipe 36 | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Ruangan | Ukuran (m²) | Jumlah | Ukuran (m2) | Jumlah | ||
| Luas Total Rumah | 21 | 36 | |||
| Ruang Tidur | 3,00 x 3,00 | 1 | 3,00 x 3,00 | 2 | |
| Ruang Tidur Anak | - | - | - | - | |
| Ruang Tamu | - | - | 3,00 x 2,00 | 1 | |
| Ruang Keluarga | 3,00 x 3,00 | 1 | 3,00 x 3,00 | 1 | |
| Kamar Mandi dan WC | 1,50 x 2,00 | 1 | 1,50 x 2,00 | 1 | |
| Dapur | - | - | - | - | |
Sumber: Puslitbangkim, 2002
| Duangan | Tipe 45 | 5 *) | Tipe 70 *) | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Ruangan | Ukuran (m2) | Jumlah | Ukuran (m2) | Jumlah | |
| Luas Total Rumah | 45 | 70 | |||
| Ruang Tidur | 3,00 x 3,00 | 2 | 3,00 x 3,00 | 3 | |
| Ruang Tidur Anak | 3,00 x 3,00 | 1 | 3,00 x 3,00 | 1 | |
| Ruang Tamu | 3,00 x 2,00 | 1 | 3,00 x 3,33 | 1 | |
| Ruang Keluarga | 3,00 x 3,00 | 1 | 3,00 x 4,00 | 1 | |
| Kamar Mandi dan WC | 1,50 x 2,00 | 1 | 1,50 x 2,00 | 1 | |
| Dapur | - | 1 | 3,00 x 3,00 | 1 | |
*) Rumah Tipe 45 dan Tipe 70 merupakan asumsi penulis
Simulasi bertujuan untuk mengetahui besar emisi CO<sub>2</sub> dari berbagai tipe rumah. Melalui simulasi ini diharapkan nantinya dapat digunakan untuk perencanaan strategi perumahan rendah emisi. Berbagai tipe rumah diklasifikasikan seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Variasi tipe rumah untuk Simulasi.
Berikut adalah hasil perhitungan besar kebutuhan bahan bangunan yang digunakan tiap pasangan pada setiap tipe rumah.
Tabel 6. Kebutuhan Bahan Bangunan pada Setiap Tipe Rumah
| Bahan pasangan pondasi | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| batu kali 1 Pc:4 Ps | ||||
| batu belah 15/20 cm (m3) | 23,1 | 39,6 | 49,5 | 77 |
| semen portland (kg) | 3423 | 5868 | 7335 | 11410 |
| pasir pasang (m3) | 10,92 | 18,72 | 23,4 | 36,4 |
| man days | 46,935 | 80,46 | 100,575 | 156,45 |
| batu kali 1 Pc:6 Ps | ||||
| batu belah 15/20 cm (m3) | 23,1 | 39,6 | 49,5 | 77 |
| semen portland (kg) | 2457 | 4212 | 5265 | 8190 |
| pasir pasang (m3) | 11,781 | 20,196 | 25,245 | 39,27 |
| man days | 46,935 | 80,46 | 100,575 | 156,45 |
| bahan pasangan lantai | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| 1 Pc:5 Ps, tebal 25 mm | ||||
| semen portland (kg) | 182,62 | 301,72 | 373,18 | 571,68 |
| pasir pasang (m3) | 0,897 | 1,482 | 1,833 | 2,808 |
| man days | 12,259 | 20,254 | 25,051 | 38,376 |
| Lantai Keramik 20 x 20 cm | ||||
| ubin keramik 20 x 20 cm (buah) | 575 | 950 | 1175 | 1800 |
| semen portland (kg) | 261,74 | 432,44 | 534,86 | 819,36 |
| pasir pasang (m3) | 0,966 | 1,596 | 1,974 | 3,024 |
| man days | 23,966 | 39,596 | 48,974 | 75,024 |
| bahan pasangan dinding | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| 1/2 bata merah tebal, 1 Pc:4 Ps | ||||
| bata merah 5x11x22 cm (buah) | 3675 | 6300 | 7875 | 12250 |
| semen portland (kg) | 603,75 | 1035 | 1293,75 | 2012,5 |
| pasir pasang (m3) | 2,2575 | 3,87 | 4,8375 | 7,525 |
| man days | 23,3625 | 40,05 | 50,0625 | 77,875 |
| 1/2 bata merah tebal, 1 Pc:6 Ps | ||||
| bata merah 5x11x22 cm (buah) | 3675 | 6300 | 7875 | 12250 |
| semen portland (kg) | 436,8 | 748,8 | 936 | 1456 |
| pasir pasang (m3) | 2,5725 | 4,41 | 5,5125 | 8,575 |
| man days | 23,3625 | 40,05 | 50,0625 | 77,875 |
| bahan pekerjaan plesteran | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| 1 Pc:4 Ps, tebal 25 mm | ||||
| semen portland (kg) | 497,7 | 853,2 | 1066,5 | 1659 |
| pasir pasang (m3) | 1,995 | 3,42 | 4,275 | 6,65 |
| man days | 27,9825 | 47,97 | 59,9625 | 93,275 |
| bahan pekerjaan kayu genteng | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| konstruksi kuda2 kayu | ||||
| kayu, balok (m3) | 23,1 | 39,6 | 49,5 | 77 |
| besi (kg) | 331,8 | 568,8 | 711 | 1106 |
| man days | 365,4 | 626,4 | 783 | 1218 |
|---|---|---|---|---|
| kaso+reng genteng kodok | ||||
| kayu, balok (m3) | 0,252 | 0,432 | 0,54 | 0,84 |
| besi (kg) | 3,15 | 5,4 | 6,75 | 10,5 |
| man days | 4,515 | 7,74 | 9,675 | 15,05 |
| kaso+reng atap asbes | ||||
| kayu, balok (m3) | 3,465 | 5,94 | 7,425 | 11,55 |
| besi (kg) | 4,2 | 7,2 | 9 | 14 |
| man days | 5,418 | 9,288 | 11,61 | 18,06 |
| rangka langit2 (1 mx1 m) | ||||
| kayu, balok (m3) | 0,252 | 0,432 | 0,54 | 0,84 |
| besi (kg) | 2,1 | 3,6 | 4,5 | 7 |
| man days | 10,5 | 18 | 22,5 | 35 |
| lisplang ukuran (3x20 cm) | ||||
| kayu, papan (m3) | 0,1512 | 0,2592 | 0,324 | 0,504 |
| besi (kg) | 1,05 | 1,8 | 2,25 | 3,5 |
| man days | 6,825 | 11,7 | 14,625 | 22,75 |
| list plafond | ||||
| kayu, balok (m3) | 22,05 | 37,8 | 47,25 | 73,5 |
| man days | 0,945 | 1,62 | 2,025 | 3,15 |
| bahan | ||||
| pekerjaan kayu | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
| kusen pintu dan jendela | ||||
| kayu, balok (m3) | 7,2 | 9,6 | 14,4 | 19,2 |
| man days | 174,15 | 232,2 | 348,3 | 464,4 |
| bahan pekerjaan genteng | tipe 21 | tipe 36 | tipe 45 | tipe 70 |
|---|---|---|---|---|
| genteng palentong kecil | ||||
| genteng palentong | 635 | 1040 | 1300 | 2025 |
| man days | 6,1214 | 10,0256 | 12,532 | 19,521 |
| genteng bubung palentong | ||||
| genteng bubung palentong (buah) | 127 | 208 | 260 | 405 |
| semen portland (kg) | 203,2 | 332,8 | 416 | 648 |
| pasir pasang (m3) | 0,8128 | 1,3312 | 1,664 | 2,592 |
| man days | 15,7988 | 25,8752 | 32,344 | 50,382 |
| Asbetos | ||||
| Asbes Gelombang (lbr) | 12,7 | 20,8 | 26 | 40,5 |
| besi (kg) | 3,048 | 4,992 | 6,24 | 9,72 |
| man days | 5,8674 | 9,6096 | 12,012 | 18,711 |
Ruang-ruang yang perlu disediakan sekurang-kurangnya terdiri dari: satu ruang tidur yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagiannya tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan dan ventilasi. Bagian ini merupakan ruang utuh sesuai dengan fungsi utamanya. Kemudian, satu ruang serbaguna yang merupakan ruang kelengkapan rumah untuk interaksi antara keluarga. Selain itu, satu sarana MCK (Mandi Cuci Kakus) merupakan bagian yang sangat menentukan higinitas rumah untuk kegiatan mandi cuci dan kakus. (Puslitbangkim, 2002).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut merupakan hasil simulasi berdasarkan perbedaan luas rumah, jumlah dan jenis bahan bangunan.
Keterangan:
Emisi CO2 dari Pembangunan Rumah Berbagai Tipe dengan Menggunakan Pasangan Pondasi 1 Pc:6 Ps, Pasangan Dinding 1/2 Bata Merah 1 Pc:6 Ps
Line 1: Lantai Plesteran Tebal 25 mm 1 Pc:5 Ps dan Genteng Asbes
Line 2: Lantai Plesteran Tebal 25 mm 1 Pc:5 Ps dan Genteng Tanah Liat
Line 3: Lantai Keramik 20 x 20 cm dan Genteng Asbes
Line 4: Lantai Keramik 20 x 20 cm dan Genteng Tanah Liat
Gambar 2. Emisi CO2 dari Pembangunan Rumah Berbagai Tipe dengan Menggunakan Pasangan Pondasi 1 Pc:6 Ps, Pasangan Dinding 1/2 Bata Merah 1 Pc:6 Ps, dan Variasi Lantai dan Genteng
Garis-garis pada Gambar 2 menunjukkan perbedaan besaran emisi CO2 yang dihasilkan dari pembangunan berbagai tipe rumah. Antara Line 1 dengan Line 2 terlihat kenaikan emisi CO2 rata-rata sekitar 5,06% untuk setiap tipe rumah. Begitu pula dengan Line 3 dengan Line 4 yang juga menunjukkan terjadi peningkatan emisi CO2 yang dihasilkan oleh berbagai tipe rumah sebesar 5,01%. Hal ini karena perbedaan genteng yang digunakan, dimana proses pembuatan genteng tanah liat lebih rumit dan melalui proses panjang.
Line 1 sampai Line 4 memperlihatkan hasil simulasi program untuk memprediksi emisi CO2 pada tipe rumah yang menggunakan pasangan pondasi 1 Pc:6 Ps dan dinding ½ bata merah 1 Pc:6 Ps. Perbedaan tiap grafik terletak pada variasi lantai dan genteng. Terjadi peningkatan emisi CO2 yang dihasilkan oleh semakin besarnya tipe rumah. Perbedaan besaran emisi CO2 dapat pula dihjelaskan dari emisi CO2 genteng tanah liat yang lebih rendah dibandingkan dengan emisi pada pembuatan asbes. Demikian pula emisi CO2 lantai keramik lebih besar dibandingkan dengan emisi dari plesteran biasa.
Berdasarkan hasil simulasi, emisi CO2 rumah dipengaruhi oleh banyaknya semen yang dipergunakan, jumlah serta jenis lantai dan atap. Hal ini menunjukkan bahwa jenis bahan bangunan sangat berperan pada besaran emisi yang akan dihasilkan oleh sebuah rumah.Penggunaan asbes dan genteng tanah liat memberi pengaruh yang sangat besar pada emisi CO2, yaitu sebesar 90,11%. Hasil simulasi ini mengindikasikan bahwa pembuatan bahan bangunan yang rumit dan melalui proses yang panjang mempengaruhi besar emisi CO2 yang dihasilkan tiap rumah. Begitu juga, kegiatan konstruksi yang diekivalensikan dengan jumlah
pekerja sangat berpengaruh pada hasil hitungan emisi. Karena itu, perlu adanya pengelolaan kegiatan pembangunan rumah agar rendah emisi CO2.
Salah satu upaya pengurangan emisi CO2 adalah dengan melakukan pengaturan proses pengolahan bahan baku. Berbagai proses yang selama ini menghasilkan emisi CO2 pada pembuatan bahan bangunan harus diatur kembali. Pemakaian bahan bakar sebagai sumber energi dalam menunjang proses pembuatan bahan bangunan masih sangat berperan. Misalnya, penggunaan sekam pada pembakaran genteng dan bata dapat diganti dengan kayu yang telah diuji sebelumnya di laboratorium sehingga diperoleh jenis kayu yang paling baik dalam peningkatan kalor dan minim emisi CO2. Sedangkan untuk penggunaan bahan bakar solar, listrik dan gas, upaya pengurangan emisi CO2 dapat dilakukan dengan mempergunakan alat hemat energi. Bisa juga dengan penggunaan bahan bakar rendah emisi, seperti biodiesel. Industri harus berusaha melakukan pengurangan emisi untuk memenuhi kebijakan pemerintah.
Upaya pengurangan emisi CO2 berikutnya adalah pengaturan distribusi bahan bangunan. Salah satunya adalah pemilihan industri pemasok bahan bangunan yang berlokasi lebih dekat dengan proyek. Bisa juga dengan penggantian moda tranportasi bahan bangunan dengan moda transport yang hemat energi. Perlu pula, penggantian bahan bakar kendaraan dengan kendaraan yang lebih hemat energi dan rendah emisi, seperti gas alam ataupun biodiesel.
Pengurangan emisi CO2 juga bisa dilakukan dengan pengontrolan pada proses konstruksi. Upaya yang dapat dilakukan antara lain: penghematan jumlah bahan bangunan berdasarkan tipe rumah, memperkirakan jumlah pekerja yang diperlukan dan aktivitas mesin serta konsumsi bahan bakar. Upaya ini adalah tanggapan atas besarnya emisi CO2 yang dihasilkan dari sebuah rumah.
KESIMPULAN
Pembangunan Rumah menghasilkan emisi CO2 yang berasal dari pembuatan bahan bangunan, transportasi bahan bangunan, serta proses konstruksi. Rumah Sederhana dibagi berdasarkan luas bangunan, yaitu Rumah tipe 21, tipe 36, tipe 45 dan tipe 70. Perhitungan emisi dilakukan dengan memperhatikan variasi campuran mortar untuk pasangan pondasi, lantai, dan dinding, serta jenis bahan bangunan. Hasil simulasi memperlihatkan bahwa rumah mengemisikan CO2 yang besarnya tergantung pada tipe ataupun kerumitan konstruksi, volume dan jenis bahan bangunan, serta jarak sumber bahan bangunan ke lokasi proyek. Hasil simulasi juga mengindikasikan bahwa kerumitan dan proses pembuatan bahan bangunan mempengaruhi besar emisi CO2. Selain itu, semakin banyak bahan bangunan yang dibutuhkan sesuai dengan ukuran bangunan, maka semakin besar pula emisi CO2. Untuk itu, diperlukan pengendalian kegiatan pembangunan rumah antara lain ditujukan pada proses pembuatan bahan bangunan, pengaturan distribusi bahan bangunan, dan pengontrolan pada proses pembangunan. Perhitungan emisi dapat digunakan dalam perencanaan perbaikan rumah rendah emisi CO2.
