1. Home
  2. Archives
  3. Vol 17 (2011) Issue 2
  4. Articles

Penentuan Kualitas Air Tanah Dangkal Berdasarkan Parameter Mikrobiologi (studi Kasus: Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung)

Abstract

Abstrak: Kecamatan Ujungberung merupakan salah satu wilayah di Kota Bandung yang bependuduk padat. Sebagian besar penduduknya masih menggunakan air tanah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti minum, mencuci, dan menyiram tanaman. Air tanah diperoleh penduduk dengan cara membuat sumur gali dengan kedalaman 5 sampai 15 meter. Kondisi pemukiman serta aktivitas penduduk yang ada memungkinkan air terkena kontaminasi, seperti dari cubluk, pabrik, sawah, sungai, dan saluran pipa air buangan. Untuk mengetahui kualitas air tanah yang digunakan, maka dilakukan analisis terhadap air sumur gali sebanyak 15 titik yang tersebar di seluruh wilayah Kecamatan Ujungberung. Sampel air tersebut diambil dua kali dalam waktu yang berbeda. Parameter yang diuji merupakan parameter biologi yang terdiri dari jumlah bakteri total dengan menggunakan Metode Total Plate Count (TPC) dan jumlah total coliform serta faecal coliform dengan menggunakan Metode Most Probable Number (MPN). Hasil dari analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan baku mutu pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran, yaitu PPRI No. 82 Tahun 2001.Selain itu, ditentukan pula Indeks Pencemaran beradasarkan KepMenLH No. 115 Tahun 2003.Kata kunci: Air tanah, indeks pencemaran, MPN, PPRI No. 82 Tahun 2001, TPC.Abstract: Kecamatan Ujungberung is one of the areas in Bandung that has quite big of population. Most people still using ground water to fill the daily needs, such as drinking, washing, and watering plants. The groundwater is obtained by making the wells dug to a depth of 5 to 15 meters. The housing condition and the activity of people may affect water contaminated, such as from cubluk, factories, fields, rivers, and wastewater pipes. To determine the quality of groundwater, then analysis of water well is done for 15 points scattered throughout the Kecamatan Ujungberung. Water samples were taken two times at different time. The parameter that are tested is biology parameter, such as total bacteria by using Total Plate Cout (TPC) Method, total coliform and fecal coliform by using Most Probable Number (MPN) Method. The MPN Method consists of 3 tests, namely Presumptive Test, Confirmed Test, and Complited Test. The results of this analysis is then compared to the quality standards of water quality management and pollution control, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001. Besides, the Contamination Index determined based on KepMenLH No. 115 Tahun 2003.Key words: Contaminant index, groundwater, MPN, PPRI No. 82 Tahun 2001, TPC.

Keywords

PENDAHULUAN

Air merupakan sumber daya alam yang sangat dibutuhkan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup, terutama manusia. Setiap harinya, manusia memanfaatkan air untuk keperluan sehari-hari, seperti minum, memasak, mencuci, dan menyiram tanaman. Salah satu sumber air yang masih banyak digunakan manusia berasal dari tanah, atau yang disebut dengan air tanah.

Air tanah masih menjadi sumber air minum utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia, bahkan di beberapa negara lain pun sama. Penurunan kualitas air tanah umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia yang menyebabkan pencemaran, walaupun kualitas air tanah secara alami tanpa gangguan manusia belum tentu selalu bagus (Notodarmojo, 2005).

Kecamatan Ujungberung terletak di bagian timur Kota Bandung dengan jarak 10 km dari pusat Kota Bandung. Kecamatan Ujungberung dibagi menjadi 5 kelurahan yang terdiri dari 55 RW dan 272 RT dengan luas wilayah 657.758 ha, memiliki penduduk sebanyak 63.134 jiwa pada tahun 2010. Sebagian besar penduduknya masih memanfaatkan air tanah dangkal sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari. Air tanah diperoleh dengan cara membuat sumur gali dengan kedalaman sekitar 5 sampai 15 meter.

Sumber air rentan terhadap kontaminan, begitu pula dengan air tanah yang bisa terkontaminasi oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor mikrobiologi. Parameter mikrobiologi yang diuji meliputi penghitungan bakteri total (Total Plate Count/TPC) dan jumlah perkiraan terdekat (Most Probable Number/MPN).

Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung merupakan salah satu daerah yang sebagian besar belum mendapatkan fasilitas air bersih dari PDAM sehingga sebagian besar penduduk di daerah ini memanfaatkan air tanah sebagai sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pertumbuhan jumlah penduduk di daerah ini meningkat pada beberapa tahun terakhir. Pemukiman yang cenderung padat dapat berpotensi menyebabkan penurunan kualitas air tanah akibat pencemaran limbah domestik. Penelitian terhadap sampel air sumur diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kualitas air tanah dangkal setempat. Perubahan iklim yang terjadi sekarang, memungkinkan terjadinya krisis air untuk beberapa tahun ke depan. Informasi mengenai kualitas air tanah ini dapat digunakan sebagai prediksi terhadap kelayakan air tanah bagi penggunaan di masa yang akan datang.

METODOLOGI

Sampling

Penelitian dilakukan pada air bawah tanah dangkal (sumur gali) untuk 15 titik yang tersebar secara acak di wilayah Kecamatan Ujungberung. Penentuan titik pengambilann sampel air tanah dangkal dilakukan dengan metode simple random sampling terhadap 15 titik dengan dua kali pengambilann sampel di waktu yang berbeda. Jumlah titik sampling yang diambil sampel airnya ditentukan menggunakan metode statistik Slovin dengan angka ketepatan absolut 0,25. Gambar 1 dibawah menunjukkan peta yang menunjukkan titik pengambilann sampel di Kecamatan Ujungberung.

0

Gambar 1. Titik pengambilan sampel air di wilayah Kecamatan Ujungberung

Keterangan lokasi dari titik-titik pada gambar, dijelaskan pada Tabel 1 dibawah.

Tabel 1. Lokasi titik sampling

No.Titik SamplingLokasi
12Kelurahan Pasir Endah, RW 01 RT 02
23Kelurahan Pasir Endah, RW 01 RT 05
34Kelurahan Pasir Endah, Kosar, RW 07 RT 08
47Kelurahan Cigending, Kampung Baru, RW 05 RT 02
58Kelurahan Cigending, Haruman Sari, RW 07, RT 04
610Kelurahan Pasir Wangi, Cinangka, RW 05 RT 04
711Kelurahan Pasir Jati, Kampung Nagrog, RW 08 RT 02
813Kelurahan Pasir Jati, Karanganyar, RW 04 RT 01
914Kelurahan Pesanggrahan, Neglasari, RW 05 RT 02
1015Kelurahan Pesanggrahan, Andir Kulon, RW 03 RT 03
1119Kelurahan Pesanggrahan, Sekemala, RW 11 RT 02
1221Kelurahan Pesanggrahan, Andir Tengah, RW 02 RT 01
1322Kelurahan Pasir Wangi, Babakan Betawi, RW 08 RT 01
1423Kelurahan Pasir Wangi, Cigending, RW 10 RT 03
1525Kelurahan Cigending, Cijambe Wetan, RW 10 RT 06

Metode Total Plate Count (TPC)

Metode ini memberikan hasil mengenai jumlah semua bakteri yang ada dalam sampel. Penentuan dengan cara ini merupakan pengukuran empiris, oleh karena setiap spesies bakteri membentuk koloni tersendiri dalam pertumbuhannya. Metode ini dilakukan dengan cara menghitung jumlah koloni yang tumbuh pada media agar nutrisi dalam cawan petri. Pengenceran yang dilakukan sebesar \(10^{-1}\), \(10^{-2}\), dan \(10^{-3}\).

Metode Most Probable Number (MPN)

Metode ini dikenal juga dengan metode Jumlah Perkiraan Terdekat (JPT). Metode ini terdiri dari tiga tahap, yaitu Tes Pendugaan, Tes Konfirmasi, dan Tes Kelengkapan. Dengan metode ini, dapat diketahui besarnya kandungan total coliform dan faecal coliform. Pengenceran yang dilakukan sebesar 10<sup>-1</sup>, 10<sup>-2</sup>, dan 10<sup>-3</sup>.

Penentuan Kualitas Mutu Air

Penentuan status mutu air ditetapkan dengan Metode Indeks Pencemaran (IP) yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Metode ini digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diijinkan (Nemerow, 1974 dalam Kementrian Lingkungan Hidup No. 115/2003).

Jika Lij menyatakan konsentrasi parameter kualitas air yang tercantum dalam Baku Mutu Air (j), dan Ci menyatakan konsentrasi parameter kualitas air (i) yang diperoleh dari hasil analisis pada suatu lokasi pengambilann sampel air, maka PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukan (j) yang merupakan fungsi dari Ci/Lij.

Nilai IP dapat dinyatakan seperti Persamaan (1) berikut:

\[PIj = \sqrt{\frac{\left(\frac{Ci}{Lij}\right)^2 M + \left(\frac{Ci}{Lij}\right)^2 R}{2}}\] (1)

Dengan \[\left(\frac{Ci}{Lij}\right)R\]: nilai \(\frac{Ci}{Lij}\) rata-rata \(\left(\frac{Ci}{Lij}\right)M\): nilai \(\frac{Ci}{Lij}\) maksimum

Evaluasi terhadap PI adalah jika nilainya lebih kecil sama dengan 1, maka dinyatakan memenuhi baku mutu (kondisi baik). Jika nilai PI lebih kecil sama dengan 5, maka cemar ringan. Jika PI lebih kecil sama dengan 10, maka cemar sedang. Sedangkan, nilai PI yang lebih besar dari 10 menunjukkan kondisi cemar berat (Kementrian Lingkungan Hidup, 2004).

Data kualitas biologi yang sudah diperiksa, selanjutnya dibandingkan dengan data baku mutu air untuk Kelas I berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Jumlah Bakteri Total dengan Metode Total Plate Count (TPC)

Total Plate Count didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikroorganisme hidup dalam sampel air akan tumbuh menjadi satu koloni setelah ditumbuhkan dalam media pertumbuhan dan lingkungan yang sesuai. Setelah diinkubasi, jumlah koloni yang tumbuh dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam sampel air tersebut. Dalam pengujian ini digunakan media agar nutrien. Pengenceran sampel air yang dilakukan yaitu sebesar 10<sup>-1</sup>, 10<sup>-2</sup>, dan 10<sup>-3</sup>.

Perhitungan TPC dilakukan untuk 15 sampel air yang masing-masing dilakukan dalam dua waktu yang berbeda dan dalam jumlah duplo. Hasil TPC untuk 15 sampel air dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil TPC dari 15 Sampel Air Dalam 2 Waktu yang Berbeda

TitikTPC (Sel/ml)
SamplingWaktu 1Waktu 2
27.7505.850
328.10012.350
49.65012.650
713.27520.950
87.72510.200
109.8258.750
118.07525.000
136.05015.400
1420.05016.000
151.700.0002.000.000
1913.700192.350
2123.25017.100
229.70010.900
2323.35016.150
2512.90017.550

Hasil analisis pada Tabel 2 menunjukkan nilai jumlah sel bakteri dalam setiap ml sampel air yang diuji. Perhitungan jumlah sel bakteri secara langsung pada air maupun air limbah biasanya menghasilkan nilai perhitungan yang berlebih yang disebabkan oleh kesalahan fenomena viabilitas terkait, seperti media pertumbuhan selektif, penggumpalan sel, dan tingkat pertumbuhan yang lambat (Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 1998 dalam Fakhruddin, 2006). Sel bakteri yang dihitung merupakan seluruh sel bakteri yang ada di dalam sampel air, tidak hanya bakteri golongan coliform saja. Tes ini dilakukan sebagai penunjuk jumlah bakteri total. Untuk menunjukkan seberapa banyak bakteri coliform yang terdapat dalam sampel air, maka dihitung persentasenya dari bakteri total seperti disajikan dalam Tabel 3 berikut ini. Nilai total coliform dan faecal coliform (Jml/ml) didapat dari hasil uji MPN.

Tabel 3. Nilai persentase total coliform dan faecal coliform dari jumlah bakteri total

TitikTotal Coliform (%)Faeal Coliform (%)
SamplingWaktu 1Waktu 2Waktu 1Waktu 2
20,110,390,030,15
30,531,940,040,03
40,233,630,230,16
70,111,140,110,20
80,360,270,360,27
100,760,030,230,03
112,970,090,280,09
130,460,010,140,01
141,191,500,460,14
150,0600,010
193,350,040,020
210,091,400,031,40
220,110,850,070,39
230,040,260,010,14
250,176,260,170,15

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai persentase untuk total coliform berkisar antara 0 sampai 6,26%. Secara umum, nilai persentase yang didapat berdekatan. Namun, terdapat beberapa titik yang memiliki persentasi total coliform yang cukup besar, yaitu pada titik 4, 11, 19, dan 25. Titik 4 berlokasi di Kelurahan Pasir Endah, dimana letak sumur sangat berdekatan dengan kandang hewan. Jarak antara kandang hewan dengan sumur sekitar 10 m. Tingginya konsentrasi bakteri coliform bisa dipengaruhi oleh kontaminasi dari kotoran hewan yang berasal dari kandang. Kandang terletak di tanah yang elevasinya lebih tinggi daripada elevasi letak sumur. Kotoran hewan bisa mencemari air tanah yang kemudian mengalir menuju sumur. Titik 11 berlokasi di Kelurahan Pasir Jati, dimana letak sumur berdekatan dengan septic tank dengan jarak 5 m. Tingginya kandungan coliform mungkin disebabkan pengaruh dari tangki septik. Titik 19 berlokasi di Kelurahan Pesanggrahan, dimana letak sumur berdekatan dengan perkebunan. Perkebunan merupakan salah satu sumber kontaminan mikrobiologi, dimana dapat mempengaruhi konsentrasi bakteri coliform. Titik 25 berlokasi di Kelurahan Cigending, dimana letak sumur bersebelahan dengan kolam ikan. Sampel air pada titik ini memiliki kandungan bakteri coliform paling banyak, bisa dikarenakan rembesan air kolam ikan ke dalam tanah. Mengingat kolam tersebut adalah kolam ikan, maka terdapat banyak kotoran ikan di dalamnya. Rembesan air kolam tersebut mempengaruhi kandungan bakteri coliform air tanah, sehingga didapat nilai persentase kandungan bakteri coliform yang tinggi.

Sedangkan untuk faecal coliform berkisar antara 0 sampai 1,40%. Nilai 1,40% merupakan nilai paling tinggi yang selisihnya cukup berbeda jauh diantara nilai yang lainnya. Nilai ini didapat dari sumur pada titik 21. Lokasi titik 21 bersebelahan dengan kali dan berjarak kurang lebih 15 meter dengan pabrik tahu. Pabrik tahu tersebut membuang limbahnya langsung ke saluran yang mengalir menuju kali. Tingginya konsentrasi faecal coliform dipengaruhi oleh sungai yang tercemar oleh limbah tahu. Selain itu, sungai dan kali di wilayah studi juga merupakan tempat pembuangan air buangan domestik, sehingga sumber pencemar sungai dapat menyebabkan tingginya konsentrasi parameter mikrobiologi bagi sumur gali. Komunitas mikroba dalam sistem air tanah juga dapat dipengaruhi oleh perairan yang masuk sejajar dari air permukaan (Alfreider, 2001). Limbah kotoran manusia dapat menjadi labuhan virus dan bakteri enterik patogen bagi manusia, serta parasit protozoa yang dapat mengkontaminasi air dan kerang (Lodder and de Roda Husman 2005, Muniesa et al., 2006, Ruecker et al., 2007, Shieh et al., 2003 dalam Love et al., 2010).

Pemeriksaan Total Coliform dan Faecal Coliform dengan Metode Most Probable Number (MPN)

Penggunaan Metode MPN dilakukan untuk dapat menentukan jumlah bakteri coliform total dan coliform faecal yang dihitung secara statistik. Penghitungan dilakukan dengan menyamakan jumlah agar EMB dan EC Broth yang memberikan hasil positif dengan tabel statistik jumlah perkiraan terdekat.

Penghitungan jumlah total coliform dilakukan dengan menghitung jumlah agar yang ditumbuhi koloni bakteri berwarna gelap atau hijau metalik, sedangkan penghitungan jumlah faecal coliform dilakukan dengan menghitung jumlah tabung berisi EC Broth yang menghasilkan gas pada tabung durham. Perhitungan MPN dilakukan untuk 15 sampel air yang masing-masing dilakukan dalam dua waktu yang berbeda. Hasil MPN untuk 15 sampel air dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil MPN dari 15 sampel air dalam 2 waktu yang berbeda

MPN Indeks (Jml/100 ml)
Titik SamplingTotal ColiformFaecal Coliform
Waktu 1Waktu 2Waktu 1Waktu 2
29002.300300900
315.00024.0001.400400
42.30046.0002.3002.100
71.50024.0001.5004.300
82.8002.8002.8002.800
107.5003002.300300
1124.0002.3002.3002.300
132.800300900300
1424.00024.0009.3002.300
15110.0009.30021.000700
1946.0009.300400900
MPN Indeks (Jml/100 ml)
Titik SamplingTotal ColiformFaecal Coliform
Waktu 1Waktu 2Waktu 1Waktu 2
212.10024.00090024.000
221.1009.3007004.300
231.1004.3003002.300
252.300110.0002.3002.800

Hasil analisis MPN yang telah dilakukan memberikan gambaran mengenai jumlah bakteri pada sampel air pada 2 waktu yang berbeda. Tallon et al. (2005) menemukan bahwa deteksi coliform total dalam air baku dapat memberikan indikasi keadaan air. Beberapa negara menguji coliform total untuk memonitor setiap perubahan kualitas air. Perbandingan coliform total, coliform tahan panas, dan Escherichia coli menunjukkan keuntungan dalam memilih Escherichia coli sebagai indikator kontaminasi tinja karena hidupnya di perairan sungai lebih pendek bila dibandingkan dengan coliform lainnya (Field and Samadpour 2007, Davis 2005, Bausidova 1997 dalam Silva et al., 2010).

Secara umum, terdapat perbedaan pada kedua waktu pengambilann sampel. Untuk beberapa titik, hal ini disebabkan oleh perbedaan kondisi cuaca, dimana waktu kedua pengambilann sampel merupakan kondisi beberapa hari setelah hujan. Kondisi setelah hujan menyebabkan jumlah bakteri dalam setiap volume yang sama menjadi lebih sedikit dikarenakan terjadinya pengenceran oleh air hujan. Perhitungan statistik analisa laboratorium terhadap hasil analisa terhadap 15 sampel air tanah dangkal (sumur gali) di Kecamatan Ujungberung ditunjukkan pada Tabel 5 dan Tabel 6.

Tabel 5. Perhitungan statistik analisa laboratorium sampel air waktu pengambilan 1

No.ParameterSatuanMeanMedianMinMaxStandarNDNPPRI
82/2001
DeviasiKelas I
1Total
Coliform
Jml/
100 ml
16.226,672.800900110.00028.952,9514151.000
2Faecal
Coliform
Jml/
100 ml
3.246,671.50030021.0005.378,781515100

Tabel 6. Perhitungan statistik analisa laboratorium sampel air waktu pengambilan 2

No ·Paramete
r
SatuanMeanMedia
n
Mi
n
MaxStandar
Deviasi
N
D
NPPRI
82/2001
Kelas I
1TotalJml/1019.489.300300110.0028.188,71311.000
Coliform0 ml 007.500,2.500085
2FaecalJml/103.3802.30030024.0005.855,55151100
2Coliform0 ml3.3602.30030024.0003.633,33135100

Keterangan:

ND jumlah sampel yang melebihi baku mutu

N jumlah sampel

Hasil analisa bagi parameter total coliform menunjukkan pada waktu pengambilann 1 berkisar antara 900-110.000 sel/100 ml, dan 14 dari 15 sampel menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu. Begitu pula pada waktu pengambilan 2 berkisar antara 300-110.000 sel/100 ml, 13 dari 15 sampel menunjukkan nilai yang melebihi baku mutu. Dari kedua waktu pengambilann yang berbeda, lebih dari 85% sampel yang melebihi baku mutu.

Hasil analisa kedua adalah bagi parameter faecal coliform. Pada waktu pengambilan 1, nilai berkisar antara 300-21.000 sel/100 ml. Tidak jauh berbeda dengan hasil saat pengambilann 2, nilai berkisar antara 300-24.000 sel/100 ml. Dari kedua waktu pengambilann, semua sampel bernilai melebihi baku mutu. Dari hasil analisa dua parameter di atas, maka dapat dikatakan bahwa kualitas air sumur gali di Kecamatan Ujungberung tidak layak menjadi sumber baku air minum. Tingginya angka bakteri coliform ini bisa diakibatkan dari beberapa sumber pencemar yang terdapat di wilayah studi, seperti cubluk, kali, pipa air buangan, sawah, kandang hewan, maupun industri. Kehadiran coliform dalam air tanah menunjukkan potensi masalah kesehatan masyarakat. Kontainasi air tanah umumnya disebabkan oleh perkolasi kontaminan ke dalam akuifer dan juga karena sanitasi yang buruk, pembuangan limbah domestik yang sembarangan, pembuangan limbah padat yang tidak pada tempatnya, pencemaran air limbah dari TPA lebih memperburuk kemungkinan kontaminasi bakteri dalam air tanah (Jain et al., 2009 dalam Abdelrahman et al., 2010).

Jika mengacu pada Tabel 4, maka dapat dilihat bahwa nilai yang didapat dari waktu pengambilann 1 dengan waktu pengambilan 2 memiliki perbedaan nilai yang cukup jauh pada sebagian besar sampel. Hal ini dikarenakan terjadinya perbedaan cuaca saat pengambilann sampel air, dimana salah satunya adalah diambil pada saat kondisi setelah hujan. Kondisi setelah hujan mengakibatkan pengenceran terhadap air sehingga nilai konsentrasi yang didapat lebih kecil jika dibandingkan dengan kondisi pengambilann saat tidak hujan.

Penetapan kualitas tanah dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air, menunjukkan terdapat 5 titik yang tercemar berat (IP > 10), dan 10 yang tercemar sedang (\(5 < IP \le 10\)) dan ringan (\(1 < IP \le 5\)). Titik yang tercemar berat diantaranya adalah titik 14, 15, 19, 21, dan 25. Sehingga secara umum, dapat disimpulkan kualitas air tanah dangkal (sumur gali) di Kecamatan Ujungberung tercemar dan tidak memenuhi kriteria sebagai air baku air minum sebelum dilakukan pengolahan. Hasil perhitungan Indeks Pencemaran dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Indeks pencemaran Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung

TitikIndeks PencemaranEvaluasi
SamplingWaktu 1Waktu 2Waktu 1Waktu 2
22,835,08CRCS
36,847,00CSCS
46,688,90CSCS
75,778,86CSCS
87,107,10CSCS
TitikIndeks PencemaranEvaluasi
SamplingWaktu 1Waktu 2Waktu 1Waktu 2
107,232,73CSCR
117,886,68CSCS
135,182,73CSCR
1410,137,88CBCS
1512,275,69CBCS
1912,025,82CBCS
215,0411,72CSCB
224,348,38CRCS
232,896,96CRCS
256,6810,49CSCB

Keterangan:

CB cemar berat CR cemar ringan CS cemar sedang

Titik pengambilan sampel dan kualitas air tanah dangkal yang dihitung berdasarkan indeks pencemaran, ditunjukkan pada Gambar 2 dan Gambar 3 dibawah.

4

Gambar 2. Titik pengambilan sampel dan kualitas air tanah dangkal berdasarkan indeks pencemaran pada waktu pengambilan 1

0

Gambar 2. Titik pengambilan sampel dan kualitas air tanah dangkal berdasarkan indeks pencemaran pada waktu pengambilan 2

KESIMPULAN

Kualitas air tanah dangkal di Kecamatan Ujungberung tergolong tercemar dan kurang layak untuk digunakan sebagai air baku minum, baik dari parameter total coliform maupun faecal coliform. Sumber pencemar berasal dari aktivitas domestik, pertanian, kotoran hewan, sungai, dan industri. Perlu dilakukan pengolahan atau treatment terlebih dahulu terhadap air tanah dangkal tersebut sebelum dimanfaatkan karena dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Metode TPC digunakan untuk menentukan jumlah bakteri total, sedangkan Metode MPN digunakan untuk menentukan konsentrasi total coliform dan faecal coliform. Sampel air dilakukan sebanyak dua kali dalam waktu yang berbeda dengan harapan untuk mendapatkan kondisi cuaca yang berbeda, yaitu saat tidak hujan dan setelah hujan. Tetapi karena keterbatasan waktu, maka hanya beberapa sampel air saja yang diambil dalam kondisi cuaca yang berbeda.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
50th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.60
level 0
Forestry 0.45
level 1
level 0

Institution Network

References

  1. Abdelrahman, A. A. & Eltahir Y. M. (2010). Bacteriological Quaity of Drinking Water in Nyala, South Darfur, Sudan. Environ Monit Assess 175:37-43. DOI 10.1007/s10661-010-1491-7. DOI: 10.1007/s10661-010-1491-7
  2. Alfreider, A., Krossbacher, M. L. & Psenner, R. (2001). Influence of Artificial Groundwater Lakes on the Abundance and Activity of Bacteria in Adjacent Subsurface Systems. Limnologica 31 249-255. DOI: 10.1016/s0075-9511(01)80027-x
  3. Fakhruddin, A. N. & Quilty, B. (2006). Measurement of the Growth of A Floc Forming Bacterium Pseudomonas putida CP1. Biodegradation. DOI 10.1007/s10532-006-9054-x. DOI: 10.1007/s10532-006-9054-x
  4. Kementerian Lingkungan Hidup. (2003). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.
  5. Love., D. C., Lovelace, G. L., Money, E. S., Sobsey, M. D. (2010).
  6. Microbial Fecal Indicator Concentrations in Water and Their Correlation to Environmental Parameters in Nine Geographically Divers Estuaries. Water Qual Expo Health 2: 85-95. DOI 10.1007/212403-010-0026-3. DOI: 10.1007/212403-010-0026-3
  7. Notodarmojo, Suprihanto. (2005). Pencemaran Tanah & Air Tanah. Penerbit ITB: Bandung.
  8. Pemerintah Republik Indonesia. (2001). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
  9. Silva, T. F. B. X., Ramos, D. T., Dziedzic, M., Oliveira, C. M. R. & Vasconcelos, A. C. (2010). Microbiological Quality and Antibiotic Resistance Analysis of a Brazilian Water Supply Source. Water Air Soil Pollut 218:611-618. DOI 10.1007/s11270-010-0672-x. DOI: 10.1007/s11270-010-0672-x
  10. Tallon, P., Magajna, B., Lofranco, C. & Leung, K. T. (2005). Microbial Indicators of Faecal Contamination in Water: A Current Perspective. Department of Biology, Lakehead University. DOI: 10.1007/s11270-005-7905-4