PENDAHULUAN
Limbah cair industri tekstil merupakan pencemar industri mayor karena sangat berwarna, mengandung kurang lebih 15% pewarna tidak tetap serta kadar garam tinggi yang berpotensi dibuang ke lingkungan (Tang,C dan V.Chen, 2004). Selain memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan industri lainnya, limbah tekstil dihasilkan dalam kuantitas yang besar. Limbah ini didominasi oleh kandungan zat warna yang digunakan dalam proses pewarnaan tekstil sehingga diperlukan pengolahan khusus untuk menyisihkan pencemar zat warna tersebut. Reactive Black 5 (RB 5) merupakan zat warna yang umum digunakan dalam industri tekstil karena kemudahannya dalam teknik pencelupan. Beberapa hal terkait keberadaan zat warna dalam limbah cair tekstil, antara lain (Won, Sung Wook et al.,2006) :
- 1. Keberadaan zat warna dalam limbah tekstil ini mengganggu estetika badan air dan tidak diinginkan
- 2. Zat warna reaktif dan asam yang berwarna cerah dan larut dalam air adalah zat warna yang paling membawa masalah karena cenderung lolos dan tidak terpengaruh oleh sistem pengolahan konvensional
- 3. Sehubungan dengan struktur kimianya, zat warna resistant terhadap kelunturan ketika terkena cahaya, air dan senyawa kimia lainnya.
- 4. Zat warna biasanya memiliki inti sintetik dan struktur molekul aromatik kompleks yang membuat mereka lebih stabil dan sulit di-biodegradasi
Advanced Oxidation Process (AOP) merupakan metode penyisihan polutan organik non biodegradable yang lebih efisien dibanding metode-metode konvensional seperti flokulasi, presipitasi, adsorpsi dan activated carbon. AOP didasarkan pada pembentukan dan penggunaan hidroksil radikal sebagai oksidan utama untuk proses degradasi polutan organik. Hidroksil radikal sendiri dibentuk melalui reaksi antara katalis, sinar UV, ion OH- dan H2O, dimana semi konduktor yang diaktifkan oleh radiasi ultra-violet (UV) bertindak sebagai katalis untuk menghancurkan kontaminan organik. Di antara berbagai jenis AOP diketahui bahwa proses fotokatalitik heterogen dengan katalis Titanium Dioksida (TiO2) memiliki tingkat destruktif polutan yang baik (Mahvi,A.H et al., 2004). Katalis ZnO juga dilaporkan memiliki efisiensi degradasi zat warna yang baik, dimana katalis ini memiliki mekanisme fotodegradasi yang serupa dengan TiO2 (Amisha et.al.,2007). Gouvêa et al juga melaporkan bahwa ZnO memiliki efisiensi adsorpsi yang lebih baik dan katalis ini tidak memiliki efek sinergis dengan TiO2 dalam proses fotokatalitik.
Keberadaan garam pada limbah cair industri tekstil berwarna relatif umum. Substansi ini dapat mengganggu penyisihan zat warna melalui proses fotokatalitik karena anionnya akan berkompetisi untuk sisi aktif permukaan katalis atau dalam kata lain akan membuat aktivitas fotokatalis menurun (Mahvi,A.H et al., 2004). Selain kandungan garam, terdapat parameterparameter lain yang dapat mempengaruhi efisiensi penyisihan zat warna limbah tekstil melalui proses fotokatalitik, yaitu pH, temperatur, konsentrasi awal zat warna, konsentrasi katalis dan waktu irradiasi. Dalam percobaan ini akan dilakukan pengamatan pengaruh kandungan anion anorganik terhadap proses fotokatalitik untuk katalis TiO2 dan ZnO.
METODOLOGI
Sampel larutan zat warna dibuat dengan melarutkan RB 5 ke dalam air mendidih dan dipanaskan pada temperatur 80o C selama 1 jam. Selain zat warna RB 5, bahan yang digunakan antara lain TiO2 anatase, ZnO wurtzite, aquadest, HCl 0,5 N, NaOH 5N, NaCl, NaNO3, Na2SO4 dan Na2CO3. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam percobaan adalah beker glass, gelas ukur, pipet mikro, pipet tetes, pipet hisap, termometer, batang pengaduk, spatula, pHmeter, timbangan elektronik, magnetic stirrer, spektrofotometer, reaktor fotokatalitik dan centrifuge. Semua percobaan dilakukan dengan pengukuran absorbansi sampel dengan spektrofotometer UV-vis untuk mengetahui efisiensi proses yang terjadi.
Percobaan pendahuluan
- Penentuan panjang gelombang optimum
- Percobaan dilakukan dengan mengukur absorbansi larutan RB 5 20 ppm pada berbagai panjang gelombang dimana panjang gelombang optimum akan memberikan nilai absorbansi terbesar.
- Pembuatan kurva kalibrasi
- Dalam pembuatan kurva kalibrasi digunakan larutan zat warna berbagai konsentrasi (0,5 ppm, 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm) yang diuji absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang optimum.
- Penentuan pH optimum untuk TiO2-UV Pada percobaan ini penentuan pH optimum dilakukan dengan mengukur absorbansi larutan zat warna RB 5 10 ppm dengan 0, 5 g/L katalis TiO2 pada proses fotokatalitik selama 2 jam. Laju penyisihan terbaik akan ditunjukkan pada kondisi pH optimum.
- Penentuan dosis optimum TiO2
- Dengan menguji absorbansi larutan zat warna dengan berbagai konsentrasi TiO2 pada panjang gelombang dan pH optimum (pH 11), diketahui dosis katalis (TiO2) optimum yang akan memberikan hasil degradasi zat warna RB 5 terbaik.
Percobaan utama
- Variasi penggunaan katalis
- o Penggunaan dual katalis
- Penggunaan dual katalis (TiO2-ZnO) dilakukan dengan kombinasi 0,30 g/L TiO2 dan 0,20 g/L ZnO dalam 100 ml larutan RB 5 10 ppm.
- o Fotolisis RB 5
- Proses fotolisis terhadap larutan RB 5 diamati dengan menyimpan larutan tanpa katalis di bawah lampu UV selama 2 jam kemudian diukur absorbansinya setiap 30 menit selama 2 jam untuk mengetahui efisiensinya.
- o Adsorbansi TiO2 dan ZnO
- Daya adsorpsi dari partikel TiO2 dan ZnO diamati dengan menyimpan larutan RB 5 yang mengandung masing-masing katalis dalam kondisi tanpa sinar (gelap) selama 2 jam.
- o Perbandingan proses fotokatalitik TiO2-UV dengan ZnO-UV Untuk mengetahui perbandingan kemampuan TiO2 dengan ZnO dalam menyisihkan zat warna RB 5 pada proses fotokatalitik secara menyeluruh, dilakukan percobaan pada pH 11 selama 2 jam dan dosis yang sama untuk kedua katalis (0,3 g/L).
- o Penentuan dosis optimum ZnO Penentuan dosis optimum ZnO dilakukan dengan menggunakannya dalam berbagai konsentrasi pada proses fotokatalitik RB 5 dengan UV untuk mengetahui dosis yang memberikan efisiensi penyisihan terbaik.Variasi jenis kandungan anion anorganik
- o Penggunaan dual katalis
- Variasi jenis kandungan anion anorganik
- o Untuk percobaan kandungan anion pada fotokatalitik TiO2-UV, sampel RB 5 10 ppm ditambahkan garam NaCl, NaNO3, Na2CO3, dan Na2SO4 (dimana konsentrasi garam ekivalen dengan konsentrasi anion) sebanyak 2,5 mM sebelum diberi TiO2 pada dosis optimum dan dimasukkan ke dalam reaktor. Pengukuran absorbansi awal sampel dan pengecekan setiap 30 menit selama 2 jam akan menghasilkan grafik hubungan konsentrasi zat warna terhadap waktu pada setiap sampel dengan masingmasing kandungan garam sehingga hubungan keberadaan anion anorganik dengan proses fotokatalitik dapat diketahui.
- o Percobaan kandungan anion pada fotokatalitik ZnO-UV dilakukan dengan cara yang sama dengan percobaan kandungan anion pada fotokatalitik TiO2-UV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Percobaan pendahuluan
• Penentuan panjang gelombang optimum
Panjang gelombang optimum, yaitu dimana absorbansi terukur memberikan nilai terbesar, untuk RB 5 adalah pada 592 nm. Kurva panjang gelombang optimum ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva panjang gelombang optimum
Pembuatan kurva kalibrasi Hasil plot konsentrasi RB 5 dengan absorbansi ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Kurva kalibrasi
• Penentuan pH optimum TiO<sub>2</sub>-UV
Proses fotokatalitik dalam percobaan penentuan pH optimum memiliki nilai k seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. Dari tabel tersebut diketahui bahwa pH optimum proses fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV adalah 11. Dari Tabel 1. diketahui bahwa nilai pH sangat mempengaruhi efisiensi proses fotokatalitik. Proses katalitik yang baik ditunjukkan pada pH 11 dan pH 3, namun degradasi pada pH 11 sedikit lebih baik dibanding pH 3.
Tabel 1. Nilai k proses fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV berdasarkan variasi pH
| pН | k x |
|---|---|
| 10-2 | |
| \((s^{-1})\) | |
| 3 | 1,29 |
| 5 | 0,56 |
| 7 | 0,48 |
| 9 | 0,51 |
|---|---|
| 11 | 1,30 |
Pengaruh pH pada fotokatalitik berhubungan dengan kondisi ionisasi permukaan katalis (karena muatan permukaan kebanyakan oksida semikonduktor dipengaruhi oleh sifatnya yang amfoterik) sesuai persamaan (1) dan (2) (Pekakis et al.,2006).
\[TiOH + OH^{-} \rightarrow TiO^{-} + H_{2}O\] (1)
\(TiOH + H^{+} \rightarrow TiOH_{2}^{+}\) (2)
Pada pH tinggi terjadi pembentukan •OH dari reaksi antara ion OH yang teradsorpsi pada permukaan katalis dengan hole positif yang terbentuk akibat radiasi UV pada katalis. Pada kondisi pH asam, adsorpsi zat warna yang kuat pada partikel TiO<sub>2</sub> terjadi akibat gaya tarik elektrostatik antara TiO<sub>2</sub> bermuatan positif dengan zat warna. Sedangkan pada pH tinggi, molekul zat warna bermuatan negatif pada medium basa akan mengalami gaya tolak-menolak dengan TiO yang terbentuk pada permukaan katalis. Karena peranan OH• pada proses fotokatalitik jauh lebih besar dibandingkan dengan gaya elektrostatik antara katalis dengan molekul zat warna maka pH 11 memberikan degradasi yang lebih baik dibandingkan dengan pH 3.
• Penentuan dosis optimum TiO<sub>2</sub>
Nilai k dari percobaan ini ditunjukkan pada Tabel 2. Dari tabel tersebut diketahui bahwa dosis optimum \(TiO_2\) dalam proses fotokatalitik RB 5 dengan irradiasi UV adalah 0.5 g/L.
| . Milai k | proses fotokatantik be | ruasarkan vari |
|---|---|---|
| Dosis | k | |
| \(TiO_2\) | (mol- | |
| (g/L) | 1 L s | |
| 1) | ||
| 0,1 | 1,48 | |
| 0,4 | 1,96 | |
| 0,5 | 2,06 | |
| 0,6 | 1,93 | |
| 0.8 | 1.84 |
Tabel 2. Nilai k proses fotokatalitik berdasarkan variasi dosis TiO<sub>2</sub>
Peningkatan konsentrasi katalis sebelum dosis optimum akan meningkatkan efisiensi fotokatalitik karena meningkatkan jumlah sisi aktif permukaan katalis. Namun peningkatan di atas dosis optimum akan menurunkan efisiensi fotokatalitik. Katalis dalam jumlah tinggi akan menimbulkan turbiditas pada larutan sehingga penetrasi sinar UV akan berkurang dan menyebabkan penggumpalan/aglomerasi partikel-partikelnya. Di sisi lain, jika jumlah katalis terlalu sedikit (kurang dari dosis optimum), efisiensi proses fotokatalitik pun akan berkurang karena tidak semua zat warna dapat disisihkan (kurangnya daya adsorpsi).
Percobaan utama
- Pengaruh penggunaan katalis terhadap proses fotokatalitik
- o Penggunaan dual katalis (TiO<sub>2</sub> dan ZnO)
Proses fotokatalitik dual katalis berlangsung dengan nilai k sebesar 1,84 mol\(^1\) L s\(^{-1}\), sedangkan proses fotokatalitik TiO\(_2\)-UV dosis optimum (yang selanjutnya akan disebut sebagai blanko) berjalan sesuai orde 2 dengan nilai k sebesar 1,90 mol\(^{-1}\) L s\(^{-1}\). Kurva perbandingan proses fotokatalitik dual katalis dengan blanko ditunjukkan pada Gambar 3.
Dari hasil nilai k tersebut diketahui penggunaan katalis TiO<sub>2</sub> pada dosis optimum lebih efektif dibandingkan penggunaan dual katalis TiO<sub>2</sub>-ZnO (walaupun
berjumlah total sama, yaitu 0,5 g/L) dalam mendegradasi RB 5. Hal ini disebabkan gaya London van der Waals antara partikel-partikel logam oksida. Hasil ini sesuai dengan studi terdahulu yang dilakukan Gouvêa et al yang menyatakan bahwa TiO<sub>2</sub> dan ZnO tidak memiliki efek sinergis pada proses fotokatalitik.

Gambar 3. Kurva penurunan konsentrasi zat warna dengan variasi penggunaan katalis
Fotolisis RB 5
Proses fotolisis pada percobaan berlangsung dengan k sebesar 1,50 mol<sup>-1</sup> L s<sup>-1</sup>. Blanko yang digunakan sama dengan blanko pada percobaan dual katalis sehingga diperoleh nilai k proses fotokatalitik blanko adalah 1,90 mol<sup>-1</sup> L s<sup>-1</sup>. Kurva penurunan konsentrasi RB 5 oleh fotolisis dan blanko ditunjukkan pada Gambar 4. Dari nilai k fotolisis yang mendekati nilai k blanko diketahui bahwa proses fotolisis dapat menyisihkan RB 5 dengan sangat baik (dengan efisiensi degradasi sekitar 63,8%).

Gambar 4. Penurunan konsentrasi zat warna dengan fotolisis
Adsorbansi TiO<sub>2</sub> dan ZnO
Proses Adsorpsi zat warna oleh TiO<sub>2</sub> dan ZnO berlangsung dengan nilai k masing-masing sebesar 0,09x10<sup>-2</sup> s<sup>-1</sup> dan 0,11x10<sup>-2</sup> s<sup>-1</sup>. Blanko yang digunakan sama dengan percobaan dual katalis dan fotolisis maka nilai k dari blanko adalah 1,90 mol<sup>-1</sup> L s<sup>-1</sup>. Kurva penurunan konsentrasi RB 5 melalui proses adsorpsi dua jenis katalis dan blanko ditunjukkan pada Gambar 5. Dari nilai-nilai k yang diketahui disimpulkan bahwa proses adsorpsi ZnO memiliki efisiensi yang lebih baik daripada TiO<sub>2</sub>, namun proses adsorpsi kedua katalis memberikan efisiensi jauh di bawah
proses fotokatalitik TiO2-UV dosis optimum dan proses fotolisis. Hal ini menunjukkan bahwa peranan irradiasi UV, yang menyebabkan pembentukan OH•, lebih besar dibandingkan efek adsorpsi molekul katalis pada proses fotokatalitik. Efisiensi adsorpsi oleh ZnO yang lebih baik ini juga dilaporkan pada Gouvêa et al.

Gambar 5. Penurunan konsentrasi zat warna akibat adsorpsi katalis
o Perbandingan fotokatalitik TiO2-UV dengan ZnO-UV
Proses fotokatalitik kedua katalis pada percobaan ini memiliki nilai k TiO2 sebesar 1,52 mol-1 L s-1 dan ZnO sebesar 1,73 mol-1 L s-1 . Dari nilai k proses fotokatalitik kedua katalis, ZnO lebih baik dalam menyisihkan zat warna RB 5 dibandingkan TiO2. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor kekeruhan atau turbiditas dan daya adsorpsi. Untuk konsentrasi yang sama (0,30 g/L), TiO2 menyebabkan kekeruhan larutan yang lebih tinggi dibandingkan ZnO sehingga penetrasi sinar UV pada larutan berkurang (efisiensi proses fotokatalirik menurun), dimana diketahui bahwa UV merupakan faktor penting dalam proses fotokatalitik dilihat dari hasil proses fotolisis. Perbedaan kekeruhan sampel TiO2 dan ZnO didasarkan pada nilai indeks biasnya (indeks bias merupakan perbandingan kecepatan cahaya pada kondisi vakum dengan medium yang diamati), yaitu TiO2 rutile 2,90 dan anatase 2,49, sedangkan ZnO hanya 1,99. Intensitas persebaran (dispersi) sebanding dengan perbedaan indeks bias dan pembawa yang berada di sekitarnya sehingga jelas menunjukkan bahwa penyebaran ZnO lebih transparan dibandingkan TiO2 (Yun Shao et al.,1999). Seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan hasil percobaan adsorbansi, irradiasi UV memiliki peranan penting dalam proses fotokatalitik oleh sebab itu sampel ZnO, dimana penetrasi UV berjalan dengan lebih baik, memberikan efisiensi yang lebih baik dibandingkan sampel TiO2.
Selain itu, daya adsorpsi juga menyebabkan kinerja ZnO dalam mendegradasi RB 5 lebih baik dibandingkan TiO2. Kurva penurunan konsentrasi zat warna RB 5 melalui fotokatalitik TiO2-UV dan ZnO-UV ditunjukkan pada Gambar 6.
o Penentuan dosis optimum ZnO
Reaksi fotokatalitik ZnO-UV untuk RB 5 berlangsung dengan nilai k untuk setiap dosisnya ditunjukkan pada Tabel 3. Penurunan konsentrasi zat warna dengan variasi dosis ZnO ditunjukkan pada Gambar 7. Dari hasil yang ditunjukkan pada Gambar 7 dan Tabel 3 maka diketahui ZnO memberikan efisiensi sangat baik dalam proses fotokatalitik RB 5 dengan UV, dimana nilai efisiensi terbaik diperoleh pada dosis ZnO 0,5 g/L dan 0,6 g/L. Dengan mempertimbangkan segi ekonomis maka dosis optimum ZnO yang digunakan adalah sebesar 0,5 g/L.

Gambar 6. Penurunan konsentrasi zat warna dengan variasi katalis
Tabel 3. Nilai k proses fotokatalitik ZnO-UV pada variasi dosis
| k (mol-1 L s |
|---|
| 1 ) |
| 4,21 |
| 4,31 |
| 4,15 |
| 4,44 |
| 4,50 |
| 4,50 |

Gambar 7. Penurunan konsentrasi zat warna dengan fotokatalitik ZnO-UV variasi dosis ZnO
- Pengaruh kandungan anion terhadap proses fotokatalitik katalis-UV
- o Pengaruh anion anorganik pada fotokatalitik TiO2-UV
Proses fotokatalitik sampel dengan semua jenis kandungan anion anorganik berlangsung dengan nilai k seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4, sedangkan kurva penurunan konsentrasi zat warna RB 5 melalui fotokatalitik pada masing-masing sampel dengan kandungan anion ditunjukkan oleh Gambar 8.
Tabel 4. Nilai k proses fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV sampel dengan kandungan anion
| . | - z |
|---|---|
| Sampel | k (mol-1 |
| _ | L s-1) |
| Blanko | 1,83 |
| Cl | 1,83 |
| NO3 | 1,76 |
| SO42- | 1,69 |
| \(CO_3^{2-}\) | 1,67 |

Gambar 8. Kurva penurunan konsentrasi zat warna dengan variasi anion dengan katalis \({\rm TiO_2}\)
Dari Tabel 4 maka dapat diketahui urutan hambatan terhadap proses fotokatalitik dengan \(TiO_2\) - UV mulai dari yang terkecil adalah sebagai berikut : \(Cl^-NO_3^--SO_4^{2-}-CO_3^{2-}\)
Ion sulfat dan karbonat memberikan hambatan terbesar dalam proses fotokatalitik yang dilakukan. Hal ini mungkin terjadi akibat terjadinya flokulasi partikel TiO<sub>2</sub>. Banyak anion, terutama yang memiliki ion valensi besar, memiliki efek flokulasi pada TiO<sub>2</sub> partikel nano sehingga menyebabkan penurunan cepat efisiensi, selain efek perebutan OH• dan hole (Zhang, Wenbing et al., 2005). Semakin besar valensi suatu anion, semakin besar besar gaya tariknya terhadap ion lain. Sama hal nya dengan ion sulfat, ion karbonat juga menurunkan efisiensi proses fotokatalitik karena reaksinya dengan OH•. Radikal karbonat merupakan agen pengoksidasi lemah dan sulit bereaksi dengan molekul organik lainnya. Ion Cl<sup>-</sup> dan NO<sub>3</sub><sup>-2-</sup> memberikan hambatan yang lebih kecil, sehubungan dengan valensinya yang lebih rendah dari ion sulfat dan karbonat. Namun efisiensi degradasi dengan adanya ion NO<sub>3</sub><sup>-</sup> lebih rendah dibanding Cl<sup>-</sup>, hal ini mungkin disebabkan karena spesi oksidatif yang dihasilkan dengan adanya NO<sub>3</sub><sup>-</sup> lebih sedikit. Semua anion yang bereaksi dengan OH• akan menghasilkan anion radikal yang kurang reaktif dibandingkan OH• sehingga akan menurunkan efisiensi degradasi zat warna.
o Pengaruh anorganik pada fotokatalitik ZnO-UV
Karena dalam selang waktu 1 jam, sampel telah menunjukkan hasil pengukuran absorbansi yang mendekati 0 maka data yang digunakan hanya data
pengamatan selama 1 jam. Proses fotokatalitik sampel dengan semua jenis kandungan anion anorganik berlangsung dengan nilai k dari reaksi pada sampel-sampel anion ditunjukkan pada Tabel 5 dan kurva penurunan konsentrasi zat warna RB 5 melalui fotokatalitik pada masing-masing sampel dengan kandungan anion ditunjukkan oleh Gambar 9.
Dari Tabel 5 maka dapat diketahui urutan hambatan terhadap proses fotokatalitik dengan ZnO- UV mulai dari yang terkecil adalah sebagai berikut : \(\text{Cl}^-\text{CO}_3^{2-}\text{-SO}_4^{2-}\text{-NO}_3^{-}\)
Tabel 5. Nilai k proses fotokatalitik ZnO-UV sampel dengan kandungan anion
| Sampel | k |
|---|---|
| (mol- | |
| \(^{1}\) L s | |
| 1) | |
| Blanko | 4,43 |
| ZnO | |
| C1- | 4,43 |
| NO3 | 4,32 |
| \(SO_4^{2-}\) | 4,37 |
| CO32- | 4,38 |

Gambar 9. Kurva penurunan konsentrasi zat warna dengan variasi garam dengan katalis ZnO
Hasil tersebut berbeda dari yang diperoleh pada percobaan variasi garam terhadap fotokatalitik dengan TiO<sub>2</sub> – UV. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh beberapa sifat ZnO yang mempengaruhi interaksinya dengan ion NO<sub>3</sub><sup>-</sup>. Namun hasil ini juga mungkin diperoleh akibat beberapa ketidakstabilan intermediet pada sampel RB 5 dan ZnO yang ditambahkan keempat jenis garam karena dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa hasil-hasil tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan sehingga sangat memungkinkan terjadinya ketidaktepatan hasil.
Hasil-hasil percobaan tersebut menunjukkan pengaruh garam terhadap efisiensi fotokatalitik berlainan dan akan bervariasi seiring berjalannya waktu. Dalam kata lain, pengaruh garam terhadap proses fotokatalitik adalah spesifik terhadap waktu, jenis kontaminan serta katalis dan secara garis besar dapat menghambat proses tersebut. Namun, kandungan anion dalam garam dengan konsentrasi sebesar 2,5 mM tidak memberikan hambatan yang signifikan terhadap proses fotokatalitik kedua katalis (TiO<sub>2</sub> dan ZnO) karena konsentrasinya relatif kecil.
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan-percobaan yang dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
- 1. Kondisi optimum untuk proses fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV adalah pada pH 11 dan dosis TiO<sub>2</sub> sebesar 0.5 g/L.
- 2. Penggunaan dual katalis TiO<sub>2</sub>+ZnO-UV tidak memberikan hasil degradasi RB 5 yang lebih baik dibandingkan TiO<sub>2</sub>-UV pada dosis yang sama.
- 3. Daya adsorpsi partikel ZnO lebih baik dibandingkan TiO<sub>2</sub> namun efisiensinya dalam menyisihkan RB 5 jauh lebih rendah dibandingkan fotolisis yang mencapai 63.8%.
- 4. Proses fotokatalitik RB 5 dengan kombinasi ZnO-UV memberikan efisiensi yang lebih baik dibandingkan TiO<sub>2</sub>-UV pada dosis yang sama.
- 5. Keberadaan anion anorganik dalam larutan zat warna RB 5 dapat menurunkan efisiensi degradasi oleh proses fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV dan ZnO-UV. Untuk fotokatalitik TiO<sub>2</sub>-UV urutan hambatan yang diberikan anion anorganik dari yang terkecil adalah sebagai berikut : Cl<sup>-</sup>-NO<sub>3</sub><sup>-</sup>-SO<sub>4</sub><sup>2-</sup>-CO<sub>3</sub><sup>2-</sup>
Sedangkan untuk fotokatalitik ZnO-UV adalah sebagai berikut : Cl^-CO_3^2-SO_4^2-NO_3^-
UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) dan dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Tekstil Bandung.
