PENDAHULUAN
Air merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari, air digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti minum, mandi, mencuci, memasak, kegiatan pertanian, perternakan, perindustrian dan kegiatan-kegiatan lainnya. Namun, penggunaan air ini menimbulkan dampak terhadap kualitas air terutama air permukaan seperti sungai (Crites, 2006).
Mayoritas penduduk Indonesia yang menempati wilayah bantaran sungai masih membuang air limbah domestiknya langsung ke sungai sehingga kualitas air sungai menurun drastis. Padahal air sungai merupakan salah satu sumber air utama yang dimanfaatkan sebagai air baku untuk air minum, misalnya air sungai Cikapundung di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung.
Sungai ini di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung berupa parit besar dengan panjang 103,5 m dan lebar 4-6 m seperti yang dapat dilihat pada Gambar. 1. Sungai ini terletak diantara 2 RT, yaitu RT.04 dan RT.07. Masyarakat di bagian timur sungai membuang air limbah domestiknya ke sungai tersebut, sementara masyarakat di bagian barat sungai menggunakan air sungai tersebut sebagai sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, peralatan dapur, bahkan bahan makanan. Hal ini lah yang membuat sungai di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung ini menjadi perhatian utama dalam kebutuhan pengolahan air. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan untuk meningkatkan kualitas air sungai.
Gambar 1. Kondisi eksisting sungai (a) air sungai yang kotor, (b) efluen limbah domestik yang masuk ke sungai, (c) salah seorang warga menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian
Salah satu alternatif teknologi yang dapat diterapkan adalah Floating Treatment Wetlands (FTWs). FTWs merupakan suatu konsep pengolahan yang mempekerjakan akar dari makrofit emergen yang tumbuh pada media yang terapung di permukaan air (Tanner dan Headley, 2011; Fonder dan Headley, 2010). Akar tanaman di bawah media terapung menyediakan area permukaan yang ekstensif untuk pertumbuhan biofilm yang terlekat dan penangkapan materi partikulat tersuspensi. Karena tanaman tidak tumbuh dan berakar di tanah seperti constructed wetlands jenis subsurface flow, tanaman akan dipaksa untuk menyerap nutrisi langsung dari kolom air yang dapat meningkatkan kecepatan dan jumlah elemen yang diambil untuk pembentukan biomassa. Keterapungan dari FTWs ini juga membuat mereka dapat mentoleransi fluktuasi kedalaman air yang tinggi dan menyediakan kesempatan untuk meningkatkan kedalaman air yang ditampung untuk memperpanjang waktu detensi di wetlands (Tanner dan Headley, 2011).
FTWs yang dibuat secara artifisial telah digunakan untuk berbagai aplikasi dengan rentang terbatas, seperti untuk peningkatan kualitas air, peningkatan kualitas habitat, dan peningkatan aestetik pada kolam dan danau. Makalah ini merangkum suatu eksperimen untuk memberikan penjelasan lebih dalam tentang kemampuan FTWs dalam menyisihkan kontaminan yang umum pada air limbah dan mengetahui aplikabilitasnya. Performa dari media terapung dan tanaman hidup akan dibandingkan dengan suatu kontrol dengan sistem batch. Secara rinci studi ini bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan efisiensi penyisihan kontaminan dari tiga jenis tanaman berbeda (Ipomoea reptans, Amaranthus tricolor, dan Lactuca sativa). Kontaminan yang akan disisihkan adalah TSS, COD, BOD, Nitrogen (NH4 + ), dan Fosfat (PO4). Selain itu juga dilakukan studi menggunakan wawancara dan kuesioner terhadap faktor ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan aplikasi dan penerimaan masyarakat terhadap teknologi FTWs untuk mengetahui ketepatgunaannya di masyarakat wilayah sekitar sungai Cikapundung tepatnya di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia.
METODOLOGI
Metodologi penelitian ini meliputi studi literatur, pengumpulan data awal, pengumpulan data primer, analisis dan pengambilan kesimpulan. Metodologi penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Metodologi Penelitian
Desain Sistem FTW
Studi dilakukan di Program studi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Dua belas tanki yang identik dialokasikan untuk eksperimen FTWs. Setiap modul floating wetland (30 cm x 20 cm x 30 cm, panjang x lebar x tinggi) diberikan media terapung (float) yang dibatasi oleh frame yang terbuat dari pipa PVC untuk mendukung vegetasi dan media tanam (cocofiber dari cocopeat yang telah disaring seratnya). Tanaman akan ditanam melalui bibit tanaman berupa biji yang akan disemai selama 1 minggu langsung di atas media terapung yang diberi kapas untuk memudahkan pengamatan perkecambahan.
Jarak tanam yang digunakan adalah 10 cm dengan jumlah benih yang berbeda untuk tiap jenis tanaman berdasarkan penyesuaian dengan teknologi penanaman hidroponik( 36 biji I. reptans, 0.12 gram biji A. tricolor, dan 3 biji L. sativa). Sebelum dimasukan ke dalam tanki floating wetlands, air terlebih dahulu diendapkan dalan tanki pengendap. Tanki pengendap yang digunakan merupakan tong air bervolume 160 liter yang diberi lubang pada ketinggian
25 cm dari dasar tong. Dari tanki pengendap air dipindahkan ke tanki pengumpul (tanki 250 liter).
Desain Mode Operasi
Tiga set unit floating wetlands yang berupa kontaner plastik (3 reaktor I. reptans , 3 reaktor A. tricolor, 3 reaktor L. sativa, dan 3 kontrol) dipasang dengan kondisi batch. Tanki diisi dengan air sungai yang berasal dari Desa Tanggulan, Dago Pojok, Bandung sebanyak 10
L/ tanki. Sebelum air sungai diisikan pada tanki floating wetlands dilakukan pengendapan terhadap air sungai pada tanki pengendap selama 15 menit dan dipindahkan pada bak pengumpul lalu dimasukkan ke tanki floating wetlands. Setelah float diberi media, float dipasang pada 9 container floating wetlands yang akan ditanami dan 3 tanki lainnya tidak diberi float sebagai pembanding atau kontrol. Sebagai tambahan pertumbuhan tanaman dimonitor dengan pengukuran pertumbuhan melalui panjang akar dan tinggi tanaman secara visual. Dalam operasi batch, floating wetlands tersebut dioperasikan dengan HRT 7 hari.
Analisis Kualitas Air
Sampel diambil secara rutin pada bak pengumpul yang telah diaduk untuk kualitas air inlet dan pada kedalaman 10 cm di tiap container floating wetlands untuk outlet. Setelah itu sampel air dianalisis segera untuk menentukan performa pengolahan dari parameter umum (TSS, BOD5, COD, NH4 + , dan PO4 3- ). Parameter-parameter tersebut dianalisis sesuai dengan Standard Methods for Examination of Water and Wastewater (Eaton, et al. 1995).
Wawancara, Kuesioner, dan Observasi Lapangan
Wawancara dan kuesioner dilakukan terhadap warga Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia untuk mengetahui pengetahuan, penerimaan, dan pendapat masyarakat mengenai aplikasi FTWs beserta jenis vegetasinya. Wawancara dilakukan terhadap warga RT.04 dan RT.07, RW.03, Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia yang berasal dari kepala keluarga (KK) yang berbeda. Penentuan jumlah sample dengan metode Taro Yamane (1967) dalam Ariva (2013), seperti terlihat pada Persamaan (1) berikut.
\[n = \frac{N}{1 + N(e)^2}\]
Keterangan:
n=jumlah sampel yang diteliti N= jumlah populasi atau Kepala Keluarga
E= tingkat kesalahan
Berdasarkan persamaan di atas didapat jumlah minimal sampel yang diambil adalah 34 sampel dari 137 KK dengan tingkat kesalahan 0,16. Selain itu dilakukan juga observasi terhadap kondisi sungai serta perilaku warga di sekitar sungai dalam pemanfaatan air sungai.
Analisis Data
Data hasil wawancara kuesioner dianalisa dengan menggunakan Statistical Program for Social and Science 17.01. Penyisihan untuk tiap unit dan vegetasi dianalisa dengan Persamaan (2).
= − 100%
Keterangan:
= Efisiensi penyisihan Co= Konsentrasi awal (mg/l)
Ce= Konsentrasi akhir (mg/l)
Selanjutnya dilakukan analisis untuk membandingkan pengaruh vegetasi terhadap parameter kualitas air dan ketepatgunaannya di masyarakat Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengelolaan FTWs
Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner mengenai pengelolaan FTWs jika diaplikasikan di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia didapat hasil bahwa 53,1% responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penanaman I. reptans, A. tricolor, dan L. sativa dengan metode penanaman di tanah, sementara 46,9% lainnya tidak mengetahui cara penanaman ketiga jenis tanaman tersebut. Hal ini menujukkan bahwa potensi adanya warga berpengetahuan yang dapat turut mengelola FTWs menjadi lebih besar karena secara umum metode penanaman tumbuhan di tanah dan FTWs tidak jauh berbeda. Sebanyak 25% responden paham akan cara penanaman tanaman di FTWs sementara 75% lainnya tidak. Hal ini menunjukkan perlu dilakukannya sosialisasi tentang penanaman tanaman di FTWs sekalipun cara penanamannnya tidak jauh berbeda dengan di tanah.
Sebanyak 100% dari responden menyatakan bahwa mereka mengonsumsi ketigajenis tumbuhan dengan jumlah yang berbeda-beda. Sekalipun responden tidak mengkonsumsi tumbuhan tersebut, anggota keluarga responden tetap ada yang mengonsumsi tumbuhan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa potensi hasil tanaman untuk dipergunakan kembali oleh masyarakat Kampung Tanggulan sangat tinggi.
Sejumlah 71,9 % responden berpendapat jika hasil tumbuhan dari FTWs lebih baik dijual untuk kas warga sementara 28,81% lainnya berpendapat hasil tumbuhan dari FTWs sebaiknya dibagikan ke warga yang menginginkan. 84,4% warga bersedia turut merawat FTWs sementara 15,6% lainnya tidak karena memiliki kesibukan dan pekerjaan. Dri hasil wawancara mengenai mata pencaharia, didapat bahwa terdapat beberapa responden yang tidak memiliki mata pencaharian tetap sehingga dapat menjadi salah seorang yang secara rutin turut merawat FTWs.
Sebanyak 68,8% warga berpendapat bahwa FTWs sebaiknya dikelola oleh lembaga, 21,9 % dikelola perseorangan dan 9,4% berpendapat supaya FTWs dikelola oleh seseorang atau kelompok kecil yang ditunjuk oleh warga. Jika FTWs dikelola oleh lembaga 84,4% warga memilih lembaga yang mengelola adalah koperasi, 3.1% oleh PKK, dan 12,5% kepengurusan RT/RW. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa warga Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia memiliki kesadaran yang tinggi untuk ikut merawat FTWs bagi kepentingan bersama. Oleh karena itu teknologi FTWs patut dipertimbangkan sebagai teknologi pengolahan air sungai tepat guna yang dapat diterima oleh masyarakat Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia.
Kualitas Air Sungai
Berdasarkan hasil pengujian air di laboratorium (Tabel. 1) didapat bahwa kualitas air sungai ini hanya dapat memenuhi kriteria kualitas air baku Kelas IV menurut PP. 82 tahun 2001. Berdasarkan alokasi fungsinya air sungai ini tidak layak jika digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu perlu dicari solusi yang tepat untuk mengolah air sungai supaya kualitasnya lebih baik dan lebih layak digunakan.
Tabel 1. Data Kualitas Air Sungai
| No | Parameter | Satuan | Nilai |
|---|---|---|---|
| 1 | TSS | mg/l | 47,3 |
| 2 | Temperatur | oC | 25,8 |
| 3 | pH | - | 7,56 |
| 4 | COD | mg/l | 60,1 |
| 5 | BOD | mg/l | 6,85 |
| 6 | + NH4 | mg/l | 10,71 |
| 7 | 3- PO4 | mg/l | 13,16 |
| 8 | - NO2 | mg/l | 0,188 |
Morfologi Tanaman
Dari segi tingkat perkecambahan L. sativa merupakan tanaman dengan perkecambahan paling baik. Pada hari ke-7 presetase bibit yang berkecambah adalah 73,21 % I. reptans, 61,17 % A. tricolor dan 84,72 % L. sativa. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor pemilihan jenis bibit unggul yang digunakan dan kondisi lingkungan seperti temperatur, sinar matahari, dan kelembaban udara. Observasi terhadap pertumbuhan tanaman dan struktur serta panjang akar menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman I. reptans lebih cepat dari L. sativa dan A. tricolor seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2. Pada hari ke-42 tinggi tanaman I. reptans sudah mencapai tinggi maksimal 47 cm dan panjang akarnya sudah mencapai maksimal 21 cm. Unggulnya pertumbuhan I. reptans dibandingkan tanaman lain disebabkan oleh I. reptans merupakan tanaman yang sudah dapat lebih beradaptasi dengan air karena merupakan makrofit yang umum berada di air sekalipun memiliki varietasnya berbeda dibanding dengan varietas yang merupakan tanaman air, yaitu I. aquatica. Jika pertumbuhan dilihat dari jumlah daunnya, pada hari ke-7 ketiga jenis tanaman memiliki jumlah daun yang sama, yaitu 2. Hal ini disebabkan oleh baru berkecambahanya biji ketiga tanaman. Pada hari ke-4, I. reptans dan L. sativa sudah memiliki 4 helai daun sementara A. tricolor masih memiliki 2 helai daun. Pada hari ke-42 I. reptans dan L. sativa sudah memiliki 7-8 helai daun sementara A. tricolor memiliki 4 helai daun. Hal ini menunjukkan bahwa secara pertumbuhan, I. reptans dan L. sativa lebih unggul dan dapat lebih beradaptasi dengan kondisi nutrisi di dalam air.
Tabel 2. Pertumbuhan Tanaman
| Umur | I. reptans | A. tricolor | L. sativa | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Veget | Tinggi | Panjang | Tinggi | Panjang | Tinggi | Panjang |
| asi | Vegetasi | Akar | Vegetasi | Akar | Vegetasi | Akar |
| (Hari) | (cm) | (cm) | (cm) | (cm) | (cm) | (cm) |
| 0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 |
| 7 | 4,5 | 2,0 | 3,4 | 0,0 | 2,5 | 0,0 |
| 14 | 7,0 | 4,0 | 4,0 | 0,0 | 5,0 | 0,0 |
| 21 | 10,0 | 7,0 | 0,0 | 0,5 | 5,5 | 1,0 |
| 28 | 12,0 | 9,5 | 4,0 | 1,0 | 6,5 | 3,0 |
| 35 | 14,0 | 13,0 | 4,0 | 1,6 | 7,5 | 5,0 |
| 42 | 16,0 | 15,0 | 4,0 | 2,1 | 8,4 | 8,0 |
Pada hari ke-42 tinggi tanaman I. reptans sudah mencapai tinggi maksimal 47 cm dan panjang akarnya sudah mencapai maksimal 21 cm. Unggulnya pertumbuhan I. reptans dibandingkan tanaman lain disebabkan oleh I. reptans merupakan tanaman yang sudah dapat lebih beradaptasi dengan air karena merupakan makrofit yang umum berada di air sekalipun memiliki varietasnya berbeda dibanding dengan varietas yang merupakan tanaman air, yaitu I. aquatic. Jika pertumbuhan dilihat dari jumlah daunnya, pada hari ke-7 ketiga jenis tanaman memiliki jumlah daun yang sama, yaitu 2. Hal ini disebabkan oleh baru berkecambahnya biji ketiga tanaman. Pada hari ke-4, I. reptans dan L. sativa sudah memiliki 4 helai daun sementara A. tricolor masih memiliki 2 helai daun. Pada hari ke-42, I. reptans dan L. sativa sudah memiliki 7-8 helai daun sementara A. tricolor memiliki 4 helai daun. Hal ini menunjukkan bahwa secara pertumbuhan, I. reptans dan L. sativa lebih unggul dan dapat lebih beradaptasi dengan kondisi nutrisi di dalam air
Penyisihan Padatan Tersuspensi
Pada umur tanaman 0-1 minggu penyisihan padatan tersuspensi mencapai lebih dari 17 %. Efisiensi yang kecil ini disebabkan oleh adanya materi tersuspensi dari media tanam yang lepas ke kolom air di bawah float. Mekanisme penyisihan padatan tersuspensi dalam bentuk TSS yang paling utama adalah pengendapan. Relatif kecilnya penyisihan TSS pada tahap 1 ini disebabkan oleh rendahnya nilai TSS inlet karena air lebih sudah berbentuk koloid. Pada umur tanaman 4-5 minggu, terjadi peningkatan efisiensi penyisihan padatan tersuspensi hingga lebih dari 50%, hal ini dapat terjadi karena pada tahap ini sudah terjadi perlekatan mikroorganisme pada media tanam sehingga media tanam sudah tidak mengeluarkan materi tersuspensi karena terikat. Penyisihan padatan tersuspensi pada masing- masing tanki dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Grafik perbandingan efisiensi penyisihan TSS dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa
Penyisihan Organik
Berdasarkan jenis vegetasi yang digunakan, perbandingan efisiensi penyisihan FTWs pada masing-masing vegetasi dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Grafik perbandingan efisiensi penyisihan COD dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa

Gambar 5. Grafik perbandingan penyisihan COD dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa
Dari Gambar 5 terlihat pada umur tanaman 3-6 minggu, penyisihan organik dalam bentuk COD sudah cenderung stabil pada kisaran 1,2 – 1,3 gCOD/m<sup>2</sup> hari untuk I. reptans, 0,8 \(-1.2 \text{ gCOD/m}^2\).hari untuk A. tricolor, dan \(1.0 - 1.2 \cdot 0.8 - 1.2 \cdot \text{gCOD/m}^2\).hari untuk L. sativa.
Dari grafik-grafik tersebut terlihat sejak umur vegetasi 2-3 minggu, efisiensi penyisihan COD dari reaktor dengan vegetasi I. reptans lebih baik dari reaktor dengan dua jenis vegetasi lain, diikuti oleh reaktor dengan L. sativa lalu A. tricolor. Hal ini menunjukkan bahwa vegetasi dengan pertumbuhan akar yang lebih ekstensif (I. reptans) dapat menyisihkan materi organik dengan lebih baik. Proses penyisihan materi organik oleh mikroorganisme pada akar vegetasi merupakan salah satu efek dari adanya ekosistem mikroaerobik yang disediakan oleh keberadaan vegetasi. Makin ekstensif akar dari vegetasi, maka makin baik pula penyisihan materi organik yang terjadi pada sistem wetlands.
Dari grafik pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan BOD pada ketiga vegetasi cenderung fluktuatif begitu juga pada grafik penyisihan BOD dalam Gambar 7. Tidak terlihat adanya kecenderungan bahwa reaktor dengan salah satu jenis vegetasi lebih unggul dari yang lain sekalipun secara pertumbuhan jelas bahwa I. reptans memiliki
pertumbuhan akar yang lebih ekstensif diikuti oleh L. sativa, lalu A. tricolor. Terlihat jelas bahwa jenis vegetasi atau keberadaan vegetasi tidak memiliki peran yang signifikan dalam penyisihan BOD dalam reaktor FTWs.

Gambar 6. Grafik perbandingan efisiensi penyisihan BOD dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa

Gambar 7. Penyisihan BOD dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa
Dari grafik pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa efisiensi penyisihan BOD pada ketiga vegetasi cenderung fluktuatif begitu juga dengan pada grafi penyisihan BOD dalam Gambar 7. Tidak terlihat adanya kecenderungan bahwa reaktor dengan salah satu jenis vegetasi lebih unggul dari yang lain sekalipun secara pertumbuhan jelas bahwa I. reptans memiliki pertumbuhan akar yang lebih ekstensif diikuti oleh L. sativa, lalu A.tricolor. Terlihat jelas bahwa jenis vegetasi atau keberadaan vegetasi tidak memiliki peran yang signifikan dalam penyisihan BOD dalam reaktor FTWs.
Penyisihan Nitrogen
Dari Gambar 8 terlihat bahwa reaktor dengan vegetasi L. sativa cenderung memiliki efisiensi penyisihan ammonium paling tinggi, diikuti oleh I. reptans lalu A. tricolor. Sistem perakaran tanaman pada FTWs merupakan salah satu mekanisme utama dalam penyisihan nitrogen karena
menyediakan tempat untuk perlekatan mikroorganisme. Tetapi, saat senyawa nitrogen melewati metabolisme mikroorganisme dan berubah menjadi nutrient yang lebih mudah diserap, tanaman akan mengasimilasinya dan menggunakannya untuk pembentukan biomassa sehingga pemanenan tanaman akan memiliki peran yang penting untuk penyisihan nitrogen secara permanen dari air.

Gambar 8. Grafik perbandingan efisiensi penyisihan ammonium dengan I. reptans, A. tricolor dan L.sativa
Penyisihan Fosfor
Dari Gambar 9 terlihat bahwa sejak umur tanaman 2-3 minggu, I. reptans selalu memegang penyisihan ortofosfat tertinggi dibanding dua jenis vegetasi lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh lebih besarnya pengambilan sebnyawa fosfor oleh I. reptans dibandig dua jenis vegetasi lain. I. reptans memiliki pertumbuhan paling signifikan terutama pada bagian akar, sehingga kesempatan bagi penganmbilan nutrisi berupa fosfor juga lebih besar pada jenis vegetasi ini.

Gambar 9. Grafik perbandingan efisiensi penyisihan ortofosfat dengan I.reptans, A.tricolor dan L.sativa
Mekanisme utama untuk penyisihan senyawa fosfor adalah adsorpsi dan presipitasi oleh ion-ion Ca<sup>2+</sup>, Fe<sup>2+</sup>, Mg<sup>2+</sup> dan Al<sup>3+</sup> (Johansson, 1997; Reddy and D' Angelo, 1997). Pengambilan biologis oleh bakteri, fitoplankton, dan tanaman juga mungkin memainkan peran. Kyambadde et al, menyimpulkan bahwa asimilasi oleh tanaman merupakan faktor utama dalam penyisihan fosfor dalam FTWs dan berkontribusi hingga 88,8% penyisihan fosfor dalam sistem. Pada eksperimen yang dilakukan hasilnya mirip, yaitu diketahui bahwa penyisihan pada ketiga jenis vegetasi melebihi 90% pada umur tanaman 5-6 minggu dengan waktu kontak 7 hari. Oleh karena itu, pemanenan biomassa tanaman dapat menjadi untuk mengeluarkan fosfor dari sistem secara permanen.
Pemilihan Vegetasi untuk FTWs
Kondisi reaktor berdasarkan variasi jenis tanaman dapat dilihat pada Tabel 3. Vegetasi yang cocok untuk aplikasi reaktor FTWs ditentukan dengan melihat kemampuan penyisihan pencemar rata-rata pada umur tanaman 3-6 minggu yang terbesar untuk setiap m 3 limbah per hari. Berdasarkan Tabel 3, diketahui kondisi pengolahan reaktor floating treatment wetlands yang digunakan adalah sebagai berikut.
- 1. Penyisihan rata-rata optimum untuk parameter TSS, COD dan ortofosfat dicapai oleh tanaman I. reptans, yaitu masing-masing sebesar 0,451 g/m 2 .hari dengan efisiensi penyisihan 52,63%, 78,15%, dan 93,27%.
- 2. Penyisihan rata-rata optimum untuk parameter BOD dan NH4 + dicapai oleh tanaman L. sativa, yaitu masing masing sebesar 0,094 g/m 2 .hari dan 0,112 g/m 2 .hari dengan efisiensi penyisihan 87,82% dan 82,60%.
Berdasarkan hasil di atas dan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman, diketahui bahwa tanaman yang paling cocok untuk diaplikasikan pada FTWs dari ketiga jenis tanaman adalah kangkung atau I.reptans.
Tabel 3. Pengolahan optimum reaktor dengan variasi vegetasi
| Tabel 3. Pengolahan optimum reaktor dengan variasi vegetasi | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Jenis | Para | Efisiensi | Penyis | |||
| Tanaman | meter | Pengolahan (%) | ihan | |||
| (g/m2 .hari) | ||||||
| I. | TSS | 52,63 | 0,410 | |||
| reptans | COD | 78,15 | 1,250 | |||
| BOD | 86,52 | 0,092 | ||||
| + NH4 | 79,17 | 0,103 | ||||
| Ortofo | 93,27 | 0,480 | ||||
| sfat | ||||||
| A.tricol | TSS | 50,75 | 0,396 | |||
| or | COD | 63,63 | 1,015 | |||
| BOD | 84,90 | 0,090 | ||||
| + NH4 | 73,11 | 0,097 | ||||
| Ortofo | 87,45 | 0,451 | ||||
| sfat | ||||||
| L. | TSS | 45,71 | 0,361 | |||
| sativa | COD | 73,86 | 1,179 | |||
| BOD | 87,82 | 0,094 | ||||
| + NH4 | 82,60 | 0,112 | ||||
| Ortofo | 86,62 | 0,444 | ||||
| sfat | ||||||
KESIMPULAN
Hasil eksperimen telah mendemonstrasikan efektivitas FTWs dalam menyisihkan parameter pencemar umum, yaitu TSS, BOD5, COD, NH4 + , dan PO4 3- FTWs mungkin dapat menjadi teknologi pengolahan yang dapat digunakan sebagai pilihan untuk restorasi sungai. Dalam konteks peningkatan kualitas air, pada tahap ke-2, belum terlihat perbedaan yang signifikan dari ketiga jenis vegetasi. Berdasarkan hasil survey didapat bahwa potensi penerimaan teknologi FTWs oleh masyarakat sangat tinggi sehingga teknologi ini sangat memungkinkan untuk dapat menjadi teknologi yang tepat guna di masyarakat Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung. Pemanenan yang teratur dapat menjadi manajemen tanaman yang berkelanjutan untuk FTWs. Untuk mengetahui siklus pemanenan yang optimum, perlu dilakukan studi lebih lanjut.
