PENDAHULUAN
DAS Citarum merupakan DAS yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang luar biasa. Secara ekologis DAS Citarum mengalami perusakan yang sangat serius seperti terjadinya defisit neraca air, sehingga mengakibatkan banjir dan kekeringan, meluasnya lahan kritis di daerah hulu, serta tingginya bahan-bahan polutan dari limbah industri, pertanian, dan rumah tangga (Kastolani, 2007). Penurunan kualitas air yang terjadi pada Sungai Citarum Hulu sangat berkaitan erat dengan pencemaran yang terjadi pada anak-anak sungai yang masuk ke badan airnya. Sungai Cikapundung merupakan bagian dari Sub DAS Citarum Hulu yang berkontribusi dalam degradasi kualitas DAS Citarum Hulu.
Sungai Cikapundung berfungsi sebagai sumber air baku bagi Kota Bandung. Namun, pemukiman warga yang berada di sempadan sungai ini menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air sungai. Pencemaran air sungai disebabkan oleh pembuangan limbah domestik ke dalam sungai tersebut. Kualitas air sungai sangat mempengaruhi kualitas lingkungan di sekitarnya terutama kesehatan masyarakat. Water borne diseases atau penyakit yang ditularkan melalui air merupakan salah satu masalah yang terjadi pada DAS Citarum Hulu. Water borne diseases disebabkan oleh kehadiran mikroba patogen pada sumber khususnya air sungai. Bakteri Eschericia coli (Fecal Coli) seringkali digunakan sebagai indikator kehadiran mikroba patogen. Untuk itu, perlu diketahui tingkat pencemaran fekal pada Sub DAS Citarum Hulu khususnya Sungai Cikapundung.
Indikator mikroorganisme sering digunakan untuk memprediksi tingkat pencemaran fekal pada air, namun sebagian besar organisme tersebut tidak terbatas pada manusia saja tetapi juga pada hewan berdarah panas lainnya. Fungsi mikroba sebagai indikator pencemar fekal dapat dikembangkan dengan metode pengujian dan teknik analisis yang dapat menentukan sumber spesifik organisme tersebut. Metode ini disebut juga Microbiological Source Tracking (MST) (Scott,2002).
Saat ini, metode yang digunakan dalam MST terbagi menjadi 2 yaitu genotypic dan phenotypic analysis, baik pada kultur organisme yang dibudidayakan maupun pendekatan independen dengan analisis langsung sampel dari lingkungan. Antibiotic Resistance Analysis (ARA) merupakan salah satu metode phenotypic analysis untuk menentukan sumber kontaminasi fekal di badan air pada MST. ARA melibatkan isolasi bakteri indikator dari berbagai sampel kotoran, serta dari sampel air tercemar (Wiggins, 2003). Metode ARA didasarkan pada resistensi antibiotik antara bakteri dan sumber fekal. Tiap-tiap sumber akan menghasilkan pola resistensi terhadap antibiotik yang berbeda, oleh karena itu sumber pencemar fekal dapat teridentifikasi.
METODOLOGI
Metode penelitian yang digunakan terbagi menjadi beberapa tahap :
1. Sampling air sungai menggunakan metode Grab Sampling pada 3 titik di sepanjang Sungai Cikapundung seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Peta Lokasi (a) Sungai Cikapundung pada Sungai Citarum, (b) Titik Sampling pada Sungai Cikapundung
- 2. Pengujian karakteristik kimia-fisika air sungai
- a. pH : pengukuran di lapangan menggunakan pH meter
- b. Temperatur : pengukuran di lapangan menggunakan thermometer
- c. DO : pengukuran di lapangan menggunakan DO meter
- d. BOD : pengukuran BOD menggunakan metode titrasi Winkler
- e. COD : pengukuran COD menggunaka metode Reflux Tertutup
- f. Nitrat
- g. Nitrit
- h. Ammonium
- i. Fosfat
- 3. Perhitungan JPT pada sampel air sungai meliputi uji pendugaan, uji ketetapan, dan uji kelengkapan
- 4. Pemurnian dan kultivasi isolat Escherichia coli di titik sampling Sungai Cikapundung menggunakan metode Quadrant Streak
- 5. Uji resistensi 10 jenis antibiotik dengan menggunakan disk diffusion method
- 6. Perbandingan pola resistensi isolat pada sampel air dengan data library dari feses ayam, kambing, sapi, dan manusia di sekitar Sungai Cikapundung berdasarkan literatur
- 7. Analisis statistik mengunakan regresi logistik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas Mikrobiologi
Hasil pengukuran jumlah bakteri Coli di badan Sungai Cikapundung dapat dilihat pada Gambar 2. Terjadi peningkatan jumlah Coliform Total dan Fecal coli di sepanjang Sungai Cikapundung seperti yang ditunjukkan pada grafik tersebut. Pada daerah hulu di titik 1, terlihat bahwa nilai Coliform Total tergolong rendah dan belum terdapat Coli Fecal. Hal ini mengindikasikan bahwa pada daerah tersebut belum terjadi pencemaran pada badan airnya. Sebaliknya pada titik 3 nilai Coliform Total cukup tinggi dikarenakan konsentrasi pencemar yang masuk meningkat di sepanjang badan air serta lokasinya yang dekat dengan peternakan.

Gambar 2 Pengukuran Parameter Mikrobiologi di Sungai Cikapundung

Gambar 3 Pengukuran Parameter (a) pH dan DO, serta (b) Suhu di Sungai Cikapundung
Parameter yang diperiksa secara langsung berupa pH, dissolved oxygen (DO), dan temperatur. Pengambilan sampel dilakukan pada pada cuaca cerah dengan kondisi badan air yang normal sehingga nilai pH cenderung stabil seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Pada grafik juga dapat terlihat bahwa temperatur yang tinggi cenderung memiliki DO yang lebih rendah seperti yang ditunjukkan pada ketiga titik. Tingginya nilai DO pada titik 1 dan 2 disebabkan oleh adanya terjunan di sekitar lokasi sampling. Nilai DO yang menurun juga terkait dengan kualitas mikrobiologi sungai. Penurunan nilai DO berkaitan dengan adanya proses anaerobik saat terjadinya self purification yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai Coli Fecal dan Coliform Total pada titik tersebut.
Hasil pengukuran parameter nitrogen di Sungai Cikapundung dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5. Parameter nitrogen terlihat meningkat pada titik 2. Hal ini disebabkan area tersebut mulai ditempati sektor industri. Pembuangan limbah industri langsung ke sungai menyebabkan kenaikan pencemaran nitrogen pada Sungai Cikapundung. Konsentrasi nitrogen paling rendah yang berada di titik 1 disebabkan oleh lokasi sungai yang masih berada di kawasan pemukiman sehingga masih didominasi oleh limbah domestik dan bukan limbah industri.
Hasil pengukuran kandungan ammonium dan fosfat di Sungai Cikapundung dapat dilihat pada Gambar 5. Konsentrasi fosfat di sepanjang Sungai Cikapundung hanya terlihat pada titik 2, sedangkan pada titik 1 dan 3 tidak terdapat kandungan pencemaran fosfat. Hal ini kembali lagi dapat diakibatkan oleh lokasi sungai yang berada di wilayah industri. Namun konsentrasi fosfat tidak melebihi batas baku mutu fosfat untuk sungai kelas 2 maupun 3 sesuai PP no.8 tahun 2001.

Gambar 4 Pengukuran Parameter Nitrat dan Nitrit di Sungai Cikapundung

Gambar 5 Pengukuran Parameter Ammonium dan Fosfat di Sungai Cikapundung
Hasil pengukuran kandungan organik pada Sungai Cikapundung dapat dilihat pada Gambar 6. Keberadaan pencemar zat organik BOD pada Sungai Cikapundung memperlihatkan adanya pencemaran yang berasal dari limbah domestik, peternakan, maupun pertanian. Namun nilai BOD pada ketiga titik masih berada di bawah baku mutu untuk sungai kelas 3. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengolahan limbah domestik pada Sungai Cikapundung berjalan cukup baik. COD yang meningkat drastis pada titik 2 menunjukkan banyaknya limbah industri yang dibuang ke badan sungai di area tersebut. Angka COD pada titik 2 dan 3 melebihi baku mutu sungai kelas 3 sedangkan pada titik 1 angka COD masih berada jauh di bawah batas baku mutu. Hal ini dikarenakan belum terdapat banyak kawasan industri pada area sekitar titik 1.

Gambar 6 Pengukuran Parameter Zat Organik di Sungai Cikapundung
Antibiotic Resistance Analysis Bakteri E. coli
Tabel 1 menunjukan hasil identifikasi sumber Escherichia coli pada tiap titik sampling. Angka tersebut mewakili persentase sumber E.coli yang berasal dari fese ayam, kambing, sapi, dan manusia.
Tabel 1 Persentase Sumber E. coli pada Tiap Titik Sampling di Sungai Cikapundung
| Titik | Persentase Sumber E. coli (%) | |||
|---|---|---|---|---|
| Ayam | Kambing | Sapi | Manusia | |
| 1 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 2 | 30 | 10 | 0 | 60 |
| 3 | 10 | 0 | 40 | 50 |
Pada titik 1 tidak dilakukan identifikasi sumber E. coli karena pada titik tersebut tidak terdapat pencemaran fekal. Titik 1 terletak di hulu Sungai Cikapundung di mana pada daerah tersebut masih belum banyak terjadi pencemaran. Gambar 7 dan Gambar 8 menunjukkan proporsi sumber pencemar E. coli di titik 2 dan 3. Dari gambar tersebut terlihat bahwa pada kedua titik, sumber pencemar E. coli terbesar merupakan kotoran manusia.

Gambar 7 Prediksi Sumber Pencemar pada Titik 2 Sungai Cikapundung

Gambar 8 Prediksi Sumber Pencemar pada Titik 3 Sungai Cikapundung
KESIMPULAN
Hasil pelacakan bakteri Escherichia coli pada Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa jumlah Coliform Total dan Fecal coli terendah berada pada titik 1 yaitu di hulu sungai sedangkan jumlah tertinggi berada pada titik 3 yaitu bagian hilir sungai. Parameter organik terukur tinggi pada area dengan kondisi pemukiman padat dan dekat dengan kegiatan peternakan. Sedangkan parameter nitrogen dan fosfat terukur tinggi pada area dengan kegiatan industri yang dominan. Sumber pencemar Escherichia coli pada sungai Cikapundung terbanyak berasal dari kotoran manusia. Dengan demikian pada daerah ini disarankan untuk meningkatkan sarana sanitasi dan pengolahan limbah domestik.
