PENDAHULUAN
Industri tekstil merupakan salah satu bidang industri penting dalam perekonomian Indonesia. Proses produksi industri tekstil terdiri dari proses pencucian, pemerasan, pengeringan, dan pewarnaan. Proses pewarnaan kain tekstil menghasilkan limbahyang telah diketahui mengandung senyawa kimia, surfaktan, dissolved solids, dan kemungkinan mengandung logam berat seperti Cr, Ni, dan Cu
(Kannan, et al., 2001). Senyawa-senyawa tersebut dapat terkandung pada air limbah dalam bentuk terlarut maupun tersuspensi.
Pada umumnya, pengolahan limbah dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biologi. Pengolahan-pengolahan tersebut umumnya dilakukan untuk menyisihkan senyawa yang terlarut dalam air limbah, karena senyawa tersuspensi dapat dilakukan dengan cara pengendapan maupun sentrifugasi. Namun pengolahan kimia, fisik, maupun biologi yang biasa diterapkan seringkali dirasa menjadi kurang efektif karena semakin kompleksnya limbah yang dihasilkan dan biaya operasional yang tinggi (Sugiarto, 2002 dalam Hadiwidodo, et al., 2009).
Salah satu pengolahan fisik yang umum diaplikasikan adalah proses koagulasi dan flokulasi. Proses koagulasi dan flokulasi mencakup penambahan senyawa kimia dan proses agitasi sehingga terjadi destabilisasi partikel koloid yang pada akhirnya menghasilkan partikel flok yang mampu terendapkan. Senyawa kimia yang ditambahkan disebut koagulan. beberapa contoh senyawa kimia anorganik yang umum digunakan sebagai koagulan antara lain: alum, kalsium hidroksida (lime), ferri klorida, dan ferro sulfat (Tchobanoglous, 2004).
Untuk meningkatkan performa proses koagulasi,biasanya dapat dilakukan penambahan senyawa lain, yang disebut coagulant aid. Coagulant aid kimia yang umum digunakan adalah senyawa jenis polimer. Selain berfungsi meningkatkan performa koagulasi, penambahan coagulant aid juga bertujuan mengurangi penggunaan koagulan yang dibutuhkan. Namun, senyawa polimer yang paling banyak digunakan sebagai coagulant aid memiliki harga jual yang tinggi di pasaran.
Adsorpsi merupakan proses yang memiliki prospek yang baik dalam mengolah limbah cair tekstil (Robinson, et al., 2001; Kamel, et al., 1991; dalam Mumin, et al., 2007). Adsorpsi adalah proses pemusatan molekul atau ion adsorbat pada lapisan permukaan adsorben, baik secara fisik atau kimia (Muhdarina, et al., 2010). Pada beberapa tahun terakhir, banyak penelitian dilakukan dengan tujuan mencari material dengan harga murah, tersedia secara lokal, dan efektif bekerja sebagai adsorben, seperti biopolymer dan clay minerals (Errais, et al., 2012).
Jenis lempung yang paling banyak digunakan sebagai nano-adsorben adalah lempung montmorilonite/smectite dan lempung kaolinit (Liu, et al., 2007). Penelitian terdahulu yang dilakukan Adebowale, et al (2006) mengenai adsorpsi ion logam oleh lempung menunjukkan bahwa tingkat adsorpsi logam meningkat dengan penambahan konsentrasi awal, pH, dan dosis adsorben (Al-Jlil, et al., 2009).
Penelitian ini bertujuan melakukan studi mengenai prospek lempung lokal sebagai coagulant aid khususnya dalam penyisihan senyawa organik yang terdapat dalam limbah. Penelitian mengenai kombinasi antara proses koagulasi-adsorpsi telah dilakukan, salah satunya oleh Shen dan Chaung (1998). Dalam penelitian ini, digunakan koagulan polydially dimethyil ammonium chloride (PPDAC) dan adsorben dari karbon teraktivasi (activated carbon) berukuran 100 mesh.
Kesimpulan penelitian yang dilakukan adalah bahwa penambahan adsorben karbon pada proses koagulasi terbukti efektif dalam penyisihan senyawa organik karbon terlarut karena masing-masing proses mampu melengkapi kekurangan satu sama lain. Senyawa organik yang disisihkan oleh proses koagulasi merupakan senyawa dengan berat molekul yang tinggi dan memiliki muatan negatif. Sementara penggunaan karbon aktif lebih efektif untuk mengadsorpsi senyawa dengan berat molekul yang kecil dan tidak bermuatan.
METODOLOGI
Penelitian ini terdiri dari dua sub penelitian yang dalam pelaksanaannya mencakup beberapa tahapan, yaitu karakterisasi awal limbah tekstil dan analisa morfologi lempung, analisa kemampuan adsorpsi lempung, dan analisa lempung sebagai coagulant aid.
Karakterisasi awal limbah dan analisa morfologi lempung
Tahapan ini terdiri dari analisis terhadap kandungan mineral dan morfologi tanah lempung, dan kualitas limbah cair tekstil. Parameter yang diukur untuk kualitas limbah cair terutama parameterparameter dalam baku mutu SK Gub-Jabar No. 6 Tahun 1999 tentang baku mutu limbah industri tekstil. Parameter-parameter tersebut antara lain: BOD, COD, TSS, Fenol, Kromium Total (Cr), Minyak dan Lemak, dan pH. Sementara analisa kandungan mineral dan morfologi lempung salah satunya adalah analisis XRD.
Analisis kemampuan adsorpsi lempung
Proses adsorpsi dilakukan secara batch terhadap kedua jenis lempung. Uji adsorpsi dilakukan terhadap variasi pH air limbah, dosis lempung, dan waktu kontak yang dilakukan secara bertahap. Lempung yang digunakan ditumbuk dan diayak terlebih dahulu sehingga didapat lempung dengan ukuran yang diinginkan (40-100 mesh). Tujuan analisa ini adalah menentukan kondisi optimum penelitian pada kemampuan kedua jenis lempung untuk menyisihkan parameter COD air limbah.
Analisis lempung sebagai coagulant aid
Penelitian ini bertujuan membandingkan efisiensi penyisihan COD dengan dan tanpa penambahan lempung ke dalam sistem koagulasi. Variabel penelitian yang diambil antara lain: variasi jenis lempung yang digunakan dan variasi dosis lempung. Dari variabel-variabel tersebut, dicari kondisi optimum penggunaan lempung sebagai coagulant aid untuk kemudian dibandingkan dengan koagulasi tanpa penambahan lempung.
Analisis data
Untuk mendeskripsikan mekanisme adsorpsi, dapat digunakan model isoterm Langmuir dan Freundlich (Fair, et al., 1968). Bentuk isoterm Langmuir ditampilkan pada Persamaan 1, sedangkan isoterm Freundlich pada Persamaan 2.
\[\frac{C_e}{q_e} = \left(\frac{1}{q_m K_L}\right) + \frac{1}{q_m} C_e \tag{Persamaan 1}\]
\[\log q_e = \log K_f + \left(\frac{1}{n}\right) \log C_e \tag{Persamaan 2}\]
q adalah massa zat teradsorpsi per satuan berat sorbent (mg/g), \(C_e\)adalah konsentrasi zat pada keadaan setimbang, \(K_L\) adalah konstanta Langmuir, \(K_f\) adalah konstanta Freundlich, dan \(\frac{1}{n}\) adalah faktor heterogenitas. Isoterm Freundlich telah digunakan secara luas oleh peneliti sebagai cara sederhana untuk menganalisis adsorpsi senyawa organik (Joseph, \(et\ al.\), 2012).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik air limbah
Limbah yang digunakan berasal dari efluen unit produksi suatu industri tekstil di Bandung (PT. X). Analisa kualitas limbah awal dilakukan dengan berpedoman pada baku mutu limbah tekstil yang diatur dalam SK Gubernur Jawa Barat No. 6 Tahun 1999. Hasil analisa ditampilkan pada Tabel 1.
Tingginya nilai parameter organik, yaitu COD dan BOD mengindikasikan bahwa air limbah memiliki kandungan organik yang tinggi, yang kemungkinan berasal dari zat warna yang digunakan dalam proses produksi. Selain dari proses pewarnaan, tingginya konsentrasi pencemar organik berasal dari proses basah dalam produksi kain, yang mencakup proses penghilangan kanji (desizing), penggelantangan (bleaching), dan pelepasan wax (scouring) (Komarawidjaja, 2007).
| No | Parameter Analisis | Satuan | Metoda | Kadar Maksimum* | HasilAnalisa |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | BOD | mg/L | SMEWW 5210-B | 60 | 125 |
| 2 | COD | mg/L | SMEWW 5220-B | 150 | 281,6 |
| 3 | TSS | mg/L | SMEWW 2540-D | 50 | 102 |
| 4 | Fenol | mg/L | SMEWW 5530-C | 0,5 | 0,214 |
| 5 | Kromium total (Cr) | mg/L | SMEWW 3500-Cr | 1,0 | 0,088 |
| 6 | Minyak & Lemak | mg/L | SMEWW 5520-D | 3,0 | 12,4 |
| 7 | рН | - | SMEWW 4500-H+ | 6,0-9,0 | 7,38 |
Tabel 1. Hasil analisa kualitas air limbah tekstil.
*Baku mutu mengacu kepada SK GUB-JABAR No. 6 Tahun 1999.
Karakteristik adsorben
Analisa karakteristik lempung yang dilakukan mencakup analisa morfologi dan kandungan mineral pada lempung. Komposisi mineral lempung sawah dan lempung coklat hasil analisa XRD ditampilkan pada Tabel 2 dan 3.
Tabel 2. Jenis mineral pada lempung coklat.
| Jenis mineral | Rumus kimia |
|---|---|
| Quartz | SiO2 |
| Kaolinite | Al2Si2O5(OH)4 |
| Muscovite | (K, Na) Al2(Si, Al)4O10 |
Tabel 3. Jenis mineral pada lempung sawah.
| Jenis mineral | Rumus kimia |
|---|---|
| Kaolinite | Al2Si2O5(OH)4 |
| Albite, calcian, ordere | (Na, Ca) Al (Si, Al)3O8 |
| Muscovite | (K, Na) Al2(Si, Al)4O10 |
| Cristobalite | SiO2 |
| Montmorillonite | CaO2(Al, Mg)2Si4O10(OH) |
Analisa mineral lempung secara umum bersifat monoton: kaolinite, gibbsite, hematite, goethite, maghemite, dan Ti mineral (biasanya ilmenite dan anatase) adalah kelompok mineral yang menonjol yang terdapat pada fraksi lempung (Schaefer, et al., 2008).Terlihat bahwa secara umum kedua jenis lempung yang digunakan memiliki mineral jenis kaolonit. Menurut Kogure, dkk (2010), senyawa kaolinit merupakan senyawa yang mampu membentuk senyawa dispersi yang stabil.
Grup kaolin mempunyai sifat diantaranya: mudah mengembang atau mengerut dan sulit dihancurkan (stabil) (Notodarmojo, 2005). Selain grup kaolin, terdapat pula kandungan montmorillonite yang termasuk ke dalam grup mineral smektite. Mineral smektit mempunyai muatan negatif yang menyebabkan mineral ini sangat reaktif (Nilawati, 2013).
Pengaruh pH terhadap adsorpsi senyawa organik
Pada tahap percobaan ini dilakukan analisis efisiensi penyisihan parameter zat organik (COD) terhadap variasi pH air limbah, yaitu pada pH 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Adsorben ditambahkan sebanyak 2,5 gr/L untuk kedua jenis lempung. Proses adsorpsi dilakukan secara batch selama 120 menit. Hasil penelitian ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Pengaruh pH terhadap efisiensi penyisihan COD pada air limbah tekstil melalui proses adsorpsi menggunakan lempung sawah dan lempung coklat.
Pada penggunaan lempung sawah, variasi pH air limbah yaitu 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 menghasilkan efisiensi penyisihan COD sebesar 26,84%; 26,84%; 29,14%; 36,06%; 31,45% dan 29,14%. Sementara untuk penggunaan lempung coklat, efisiensi penyisihan COD terhadap variasi pH berturut-turut sebesar 40,57%, 33,71%; 33,71%; 56,57%; 47,72%; dan 26,85%.
Bentuk kurva penentuan pH optimum yang ditampilkan pada Gambar 1 adalah bell-shaped. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat suatu nilai optimum dari keseluruhan variasi yang dilakukan. Untuk penggunaan lempung sawah dan lempung coklat, pH yang menghasilkan penyisihan COD terbaik ada pada pH 7. Terlihat bahwa dari pH 5 dan 6 terdapat peningkatan nilai efisiensi yang mencapai titik optimumnya pada pH 7. Namun pada derajat pH lebih dari pada 7, efisiensi penyisihan COD mengalami penurunan.
Hampir semua proses adsorpsi dipengaruhi oleh pH larutan (Mahmud, 2012). Hal ini terjadi karena pH mempengaruhi sifat elektrokimia larutan dan muatan permukaan partikel atau koloid tanah. Pada umumnya proses adsorpsi akan berlangsung lebih baik pada larutan dengan pH rendah (Eckenfelder dalam Viariawan, 2004 dalam Eldya, 2009). Namun pH optimum sangat spesifik untuk tiap senyawa, sehingga larutan dengan pH rendah tidak selalu dapat dipastikan mampu menghasilkan proses adsorpsi yang baik.
Pengaruh dosis lempung terhadap adsorpsi senyawa organik
Penelitian pengaruh dosis lempung terhadap adsorpsi dilakukan pada pH optimum yang didapat dari hasil percobaan sebelumnya. Penelitian dilakukan secara batch selama 120 menit dengan variasi dosis lempung sebesar 2,5; 5; 10; 15; 20; 25; 30; dan 35 gr/L. Analisa dilakukan terhadap kapasitas adsorpsi lempung dan efisiensi penyisihan COD yang dihasilkan. Hasil percobaan ditampilkan pada Gambar 2.
Untuk penggunaan lempung sawah, variasi dosis lempung sebanyak 2,5; 5; 10; 15; 20; 25; 30; dan 35 gr/L memberikan hasil efisiensi penyisihan COD sebesar 29,7%; 27,51%; 30,2%; 35,5%, 30,2%; 30,2%, dan 27,51%. Hasil optimumnya dicapai pada penggunaan lempung sebanyak 15 mg/L dengan kapasitas adsorpsi per-dosis yang ditambahkan yaitu: 83,17; 68,79; 75,5; 88,92; 75,5; 75,5; dan 68,79 mg/g. Sedangkan pada penggunaan lempung coklat, penambahan dosis sebanyak 2,5; 5; 10; 15; 20; 25; 30; dan 35 gr/L memberikan hasil efisiensi penyisihan COD secara berturut-turut sebesar 33,18%; 33,18%; 30,87%; 37,78%; 37,78%; 40,09%, dan 37,28% dengan kapasitas adsorpsi per-dosis yang ditambahkan yaitu: 92,9; 92,9; 86,45; 105,8; 105,8; 112,25; dan 104,38 mg/g.
Adsorpsi interfacial dari molekul organik meningkat seiring dengan surface activity dan ukurannya. Mekanisme adsorpsi interfacial tergantung pada struktur adsorben, dan tidak hanya ukuran relatif dari area interfacial yang dimiliki. Adsorben dengan ukuran pori yang lebih besar, semestinya mampu mengadsorpsi molekul maupun partikel koloid lebih baik (Fair, et al., 1968).

Gambar 2. Grafik pengaruh dosis lempung terhadap efisiensi penyisihan COD dan kapasitas adsorpsi.
Pengaruh waktu kontak terhadap adsorpsi senyawa organik
Dalam suatu proses adsorpsi, proses akan terus berlangsung selama belum tercapai titik kesetimbangan. Oleh karena itu, untuk menentukan distribusi kesetimbangan antara adsorben dengan adsorbat dilakukan percobaan dengan variasi waktu kontak. Penentuan waktu kesetimbangan dilakukan untuk mengetahui kapan suatu bahan penyerap mengalami kejenuhan sehingga proses adsorpsi terhenti (Nilawati, 2013).

Gambar 3. Grafik pengaruh waktu kontak terhadap efisiensi penyisihan COD dan kapasitas adsorpsi.
Pada penelitian ini, dilakukan analisa kemampuan adsorpsi pada kondisi-kondisi optimal yang telah didapat sebelumnya (pH=7, dosis lempung sawah = 15 gr/L, dan dosis lempung coklat = 30 gr/L. Selanjutnya pada masing-masing kondisi tersebut, dilakukan analisa terhadap variasi waktu kontak, yaitu selama 30, 60, 90, 120, 150, dan 180 menit. Hasil analisa pengaruh waktu kontak ditampilkan pada Gambar 3.
Gambar 3 menunjukkan bahwa semakin lama waktu kontak antara adsorbat dengan adsorben, maka semakin banyak adsorbat yang teradsorpsi. Hal ini terlihat dari peningkatan kapasitas adsorpsi pada kedua lempung yang digunakan. Untuk kedua jenis lempung, terdapat titik optimum dimana efisiensi penyisihan COD mencapai stagnansi (keseimbangan).
Untuk penggunaan lempung sawah, efisiensi penyisihan COD pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150, dan 180 berturut-turut antara lain: 35,23%; 37,14%, 42,85%, 48,57%; 48,57%; dan 48,57%. Dari hasil tersebut, terlihat bahwa penyisihan COD mulai stagnan pada menit ke-120. Sedangkan untuk penggunaan lempung coklat, efisiensi penyisihan COD pada menit ke-30, 60, 90, 120, 150, dan 180 berturut-turut antara lain: 23,83%; 24,67%; 26,43%; 27,63%; 28,3%; dan 28,84%. Perubahan efisiensi penyisihan COD per waktu pada penggunaan lempung coklat tidak terlihat terlalu signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan lempung sawah. Oleh karena itu, kesimpulan tentang waktu tercapainya titik keseimbangan adsorpsi dapat diperkirakan terjadi pada menit ke-120.
Kemungkinan mekanisme adsorpsi dengan lempung coklat terjadi pada waktu yang lebih singkat daripada dengan penggunaan lempung sawah (kurang dari 30 menit), sehingga pada menit ke-30 sampai 120 perubahannya tidak lagi terjadi secara signifikan. Proses sorpsi umumnya berjalan dengan cepat pada tahap awal, kemudian perlahan-lahan akan menurun, yang disebut kondisi keseimbangan (Notodarmojo, 2005). Keseimbangan yang dimaksud yaitu dimana laju sorpsi sama dengan laju desorpsi, walaupun nyatanya pada beberapa larutan hampir tidak pernah tercapai, karena proses yang terjadi adalah proses kinetik (Notodarmojo, 2005).
Penentuan model isoterm proses adsorpsi
Penentuan model isoterm adsorpsi senyawa organik dilakukan pada kondisi optimum masingmasing lempung. Analisa isoterm Langmuir mengikuti persamaan pada pers 1. Dari kurva linier hubungan antara C/m versus C, dapat ditentukan nilai Qm dari kemiringan (slope) dan KL dari intercept kurva. Model isoterm Langmuir untuk masing-masing lempung ditampilkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Isoterm langmuir proses adsorpsi.
Persamaan Freundlich merupakan persamaan empiris yang digunakan untuk menggambarkan sistem heterogen, dimana hal ini ditandai oleh faktor heterogenitas, 1/n (Wicaksono dan Effendi, 2012). Persamaan isoterm Freundlich diperoleh dengan membuat plot antara nilai log q dan log \(C_e\). Hasilnya ditampilkan pada Gambar 5. Nilai koefisien masing-masing persamaan ditampilkan pada Tabel 4.

Gambar 5. Isoterm freundlich proses adsorpsi.
Dalam menggambarkan mekanisme adsorpsi COD menggunakan lempung coklat dan lempung sawah, model isoterm Freundlich mampu mendeskripsikannya lebih baik dibandingkan dengan model isoterm Langmuir. Hal ini terlihat dari nilai koefisien determenasi \((R^2)\) isoterm Freundlich yang lebih mendekati nilai 1 daripada isoterm Langmuir. Nilai \(K_L\) yang negatif pada isoterm Langmuir menunjukkan bahwa data percobaan yang diperoleh pada proses adsorpsi COD menggunakan lempung coklat dan lempung sawah tidak memiliki kesesuaian dengan model isoterm Langmuir.
Nilai 1/n yang kurang dari satu menunjukkan bahwa adsorben telah jenuh dengan molekul adsorbat ketika energi adsorpsi menurun terhadap kerapatan permukaan. Hal ini karena harga 1/n berhubungan dengan besarnya gaya dorong (driving force) adsorpsi dan distribusi situs-situs energi pada adsorben (Karanfil, et al., 1999 dalam Mahmud, 2012).
Tabel 4. Nilai K<sub>L</sub>, Qm, K<sub>F</sub>, 1/n dan R<sup>2</sup> dari model isoterm langmuir dan freundlich proses adsorpsi lempung sawah dan coklat terhadap penyisihan COD.
| Isoteri | Isoterm Freundlich | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Lempung | KL (L/mg) | Qm (mg/g) | R2 | \(K_F = (mg/g)/(mg/L)^{1/n}\) | 1/n | R2 |
| Sawah | -0,01274 | 41,6667 | 0,995 | \(7.9 \times 10^4\) | -1,364 | 0,996 |
| Coklat | -0,00783 | 16,12903 | 0,998 | \(1,17x10^8\) | -2,809 | 0,999 |
Pengaruh dosis penambahan lempung sebagai coagulant aid terhadap penyisihan COD
Percobaan dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan dosis optimum koagulan (alum) melalui percobaan jar test. Variasi dosis koagulan yang ditambahkan adalah sebesar 10, 20, 30, 40, 50, dan 60 mg/L alum. Gambar 6 menunjukkan hasil jar test terhadap dosis optimum alum.
Dari Gambar 6, dapat disimpulkan bahwa penyisihan COD tertinggi terjadi pada penambahan alum sebanyak 40 mg/L, yaitu sebesar 17,24%. Setelah diketahui dosis optimum alum, dilakukan percobaan dengan penambahan lempung ke dalam proses koagulasi-flokulasi. Dosis alum yang digunakan bukan merupakan dosis optimum, melainkan sebanyak satu level dibawah dosis optimum, yaitu sebesar 30 mg/L. Hal ini dilakukan mengingat tujuan penelitian adalah membuktikan hipotesa bahwa penambahan lempung sebagai coagulant aid mampu mengurangi kebutuhan koagulan kimia dalam proses koagulasi-flokulasi.
Selanjutnya, dengan dosis alum sebesar 30 mg/L, diambil variasi dosis lempung dengan dosis maksimumnya adalah sebanyak dosis alum yang digunakan, yaitu sebanyak 15, 20, dan 30 mg/L lempung. Gambar 7 menunjukkan hasil koagulasi-flokulasi setelah dilakukan penambahan coagulant aid lempung.

Gambar 6. Grafik efisiensi penyisihan kekeruhan pada variasi penambahan koagulan alum.

Gambar 7. Grafik pengaruh penambahan lempung pada koagulasi-flokulasi menggunakan alum.
Penggunaan lempung sebagai coagulant aid dilakukan untuk membandingkan efisiensi yang dicapai terhadap proses koagulasi-flokulasi dengan alum pada dosis 30 mg/L dan 40 mg/L. Untuk penggunaan lempung sawah, penambahan dosis sebanyak 15, 20, dan 30 mg/L lempung menghasilkan efisiensi sebesar 1,88%; 11,3%; dan 13,2%, sementara untuk lempung coklat, efisiensinya berturutturut sebesar 3,77%; 9,43%; dan 16,98%.
Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penambahan dosis lempung yang lebih banyak mampu menghasilkan efisiensi penyisihan COD lebih tinggi, baik dalam penggunaan lempung sawah maupun lempung coklat. Hal ini terjadi karena lempung mampu bertindak sebagai adsorben bagi
senyawa organik, sehingga efisiensi penyisihan senyawa organiknya sebanding dengan dosis lempung yang ditambahkan.
Efisiensi maksimum pada variasi dosis 15, 20, dan 30 mg/L lempung sawah dan lempung coklat dengan penggunaan alum sebanyak 30 mg/L adalah sebesar 13,2% dan 16,98%. Nilai ini lebih besar daripada koagulasi dengan hanya menggunakan alum sebanyak 30 mg/L (efisiensi mencapai 12,06%). Hal ini terjadi karena kombinasi koagulasi-adsorpsi mampu melengkapi kekurangan satu sama lain. Senyawa organik yang disisihkan oleh proses koagulasi merupakan senyawa dengan berat molekul yang tinggi dan memiliki muatan negatif. Sementara penggunaan lempung lebih efektif untuk mengadsorpsi senyawa dengan berat molekul yang kecil dan tidak bermuatan (Shen dan Tai-Hua, 1998). Namun ternyata hasil tersebut masih lebih rendah dibandingkan efisiensi penyisihan COD dengan penggunaan alum pada dosis optimumnya (40 mg/L), yaitu sebesar 17,24%.
KESIMPULAN
Kedua jenis lempung yang digunakan memiliki kemampuan sebagai adsorben terhadap konsentrasi zat organik dalam air limbah. Kondisi optimum pada penggunaan lempung sawah dan coklat antara lain pada pH 7, dosis lempung sebesar 15 gr/L dan 30 mg/L. Penyisihan COD mencapai stagnan ketika waktu kontak mencapai 120 menit untuk penggunaan lempung sawah, dan sekitar menit ke 90 pada penggunaan lempung coklat. Pada kondisi ini, penyisihan COD yang terjadi pada lempung sawah dan coklat mencapai 48,5% dan 26,65%. model isoterm yang cocok menggambarkan mekanisme adsorpsi organik oleh lempung adalah Isoterm Freundlich.
Penggunaan lempung sebagai cogulant aid mampu menghasilkan efisiensi yang lebih tinggi daripada koagulasi tanpa penambahan alum. Untuk penggunaan lempung sawah dan lempung coklat efisiensinya mencapai 13,2% dan 16,98% yaitu pada penambahan sebanyak 30 mg/L lempung. Namun ternyata hasil tersebut masih lebih rendah dibandingkan efisiensi penyisihan COD dengan penggunaan alum pada dosis optimumnya (40 mg/L), yaitu sebesar 17,24%.
