PENDAHULUAN
Ketersediaan air tanah di beberapa kawasan hunian dan tempat tinggal mengalami penurunan setiap tahunnya, termasuk di kawasan hotel yang memerlukan air tanah sebagai sumber air bersih untuk operasional kesehariannya, sementara membuang sejumlah air limbah dengan konsentrasi yang tinggi dapat merusak lingkungan.
Hotel Grand Royal Panghegar berlokasi di Jalan Merdeka No.2, Bandung terdiri dari 21 lantai dengan luas total 65.000 m2 . Rata-rata kebutuhan air bersih untuk operasional Hotel bintang 4 sebesar 750 m3 /hari (Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Jawa Barat, 2014). Kebutuhan tersebut dipenuhi dari PDAM dan deep well. Sejak pemerintah Kota Bandung memperketat pengawasan ijin pengambilan air tanah dan memberlakuan kenaikan tarif retribusi air tanah (Bapedalda Kota Bandung, 2013) mendorong para pelaku bisnis untuk mengadaptasi teknologi daur ulang grey water sebagai solusi pembatasan pengambilan air tanah.
Daur ulang air limbah sebagai upaya strategi terpadu menyelamatkan ketersediaan air tanah (Gulyas et al., 2007 dan Li et al., 2009). Salah satu teknologi yang dikembangkan pada pengolahan grey water adalah elektrokoagulasi (Lin et al., 2005, Jamrah et.al, 2007, Yan et al., 2008, Li et al., 2009, Rodrigo et al., 2010). Elektrokoagulasi mempunyai efisiensi yang tinggi dalam penghilangan kontaminan, menghasilkan effluen yang jernih, tidak berwarna dan tidak berbau, waktu operasional yang pendek, lumpur yang dihasilkan lebih sedikit stabil dan mudah disisihkan (Notodarmojo, 1995, Mollah et al., 2004, Lin et al., 2005, Holt et al., 2005, Djaenudin et al., 2013 Rodrigo et al., 2010, Butler et al., 2011, Harif et al., 2012 dan Mechelhoff et al., 2013).
Penelitian ini mempelajari proses elektrokoagulasi menggunakan pasangan elektroda aluminium untuk menyisihkan kontaminan di dalam air buangan domestik (grey water) hotel sehingga dapat digunakan kembali (reclaimed water) untuk keperluan pembilasan (flushing) toilet dan penyiraman tanaman.
METODOLOGI
Proses yang dilakukan dalam penelitian ini diawali dengan proses pengambilan sampel dari bak ekualisasi Instalasi Pengolahan Air Buangan (IPAL) Hotel Grand Royal Panghegar karena merupakan pertemuan semua aliran effluent dari kegiatan operasional hotel sehingga sampel dapat merepresentasikan kondisi eksisting dan representatif.
Reaktor batch (Gambar 1.a.) menggunakan beaker glass dari bahan pyrex glass berkapasitas 2 liter. Elektroda yang digunakan adalah plat alumunium 95,7% (Laboratorium Teknologi Mineral dan Batu Bara, 2014) dengan ukuran 8 x 20 cm sebanyak 4 buah (2 buah anoda dan 2 buah katoda). Plat elektroda yang terendam dalam larutan adalah 15 cm, sehingga luas permukaan basah elektroda anoda sebesar 0,024 m2 . Reaktor dilengkapi dengan magnetic stirrer yang diatur pada skala 5 untuk mengaduk larutan sampel agar konsentrasi koagulan menjadi homogen dan tersebar merata di dalam larutan (Bayar et.al, 2011). Konfigurasi elektroda monopolar disusun secara paralel, dipasang secara berselang antara anoda dan katoda (Mollah et al., 2004) dengan jarak 2,5 cm. Semua elektroda dihubungkan dengan arus listrik yang berasal dari sumber arus DC (Diamond GSV 3000, 0-20 V dan 0-34 A). Variasi kuat arus yang digunakan pada peneltian ini adalah 0,5-2,5 A setara dengan kerapatan arus 20-104 A/m2 . Pengukuran kuat arus dan tegangan menggunakan avometer merek Sunwa YX-360TRN, pengukuran pH menggunakan pH-meter merek Sartorius, konduktivitas dan suhu menggunakan konduktivitimeter merek Seven GoPro dan kekeruhan menggunakan turbicheck merek Lovibond. Pengamatan dan pengukuran ukuran flok yang terbentuk selama proses elektrokoagulasi menggunakan mikroskop cahaya Olympus CX-21 perbesaran 10 x, diamati dengan menggunakan lensa okuler.
Reaktor kontinyu (Gambar 1.b) terbuat dari plexiglas yang berdimensi 20 x 7 x 15 cm dengan kapasitas 1,95 liter. Model reaktor menggunakan baffle channel horizontal flow (Soewondo, 2005 dan Lin et al., 2005), dimana elektroda diletakkan sepanjang aliran air limbah sebanyak 14 buah (7 buah anoda dan 7 buah katoda) yang berukuran 5 x 15 cm dengan bagian yang terendam air adalah 13,3 cm, sehingga luas basah total elektroda anoda adalah 0,0466 m2 .
Gambar 1. Rangkaian reaktor elektrokoagulasi konfigurasi elektroda monopolar
Limbah yang digunakan dalam penelitian ini adalah limbah sintetis dan limbah asli. Sumber limbah asli dari grey water Hotel Grand Royal Panghegar yang berlokasi di Jalan Merdeka No.2 Bandung. Karakteristik limbah sintetis dibuat menyerupai karakteristik limbah asli dengan menambahkan glukosa, KCl, clay, minyak goreng serta air ledeng sebagai air pencampur. Parameter yang akan diukur adalah pH, temperatur, konduktivitas, Total Dissolved Solid (TDS),COD, kekeruhan dan minyak lemak.
Metode sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel sesaat (grab sample) dimana sampel diambil langsung pada saat tertentu dari satu titik, yaitu pada titik yang sama dan pada kedalaman yang sama pada reaktor batch dan titik outlet pada reaktor kontinyu. Adapun parameter dan metode analisis yang dilakukan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Metode pengujian dan analisis
| Jenis Parameter | Metode Pengujian | Metode Analisa | |||
|---|---|---|---|---|---|
| pH | SNI 06-6989.11-2004 | pH-meter | |||
| Temperatur | SNI 06-6989.23-2005 | Termometer | |||
| Konduktivitas | SNI 06-6989.1-2004 | Konduktivitimeter | |||
| TDS | SK SNI M-03-1989-F | Konduktivitimeter | |||
| Kekeruhan | SK SNI M-03-1989-F | Turbidimeter | |||
| COD | SNI 6989.2:2009 | Refluks tertutup / COD Mikro | |||
| Minyak Lemak | SNI 06-6989.10-2004 | Ekstraksi – Soxhlet | |||
| pH | SNI 06-6989.11-2004 | pH-meter | |||
Variasi penelitian pada reaktor batch adalah terhadap kerapatan arus listrik, waktu detensi dan pH. Hasil variasi kerapatan arus listrik, waktu detensi dan pH terbaik akan digunakan sebagai dasar untuk running pada reaktor kontinyu. Variasi penelitian pada reaktor kontinyu terhadap waktu detensi dan beban pengolahan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Limbah Asli
Hasil uji karakteristik air buangan domestik (grey water) Hotel Grand Royal Panghegar dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan hasil pengukuran karakteristik grey water Hotel Grand Royal Panghegar pada Tabel 2 menunjukkan beberapa parameter grey water berada di atas baku mutu Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2011 dan Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 kelas 3. Oleh karena air limbah domestik (grey water) ini akan dimanfaatkan kembali (reclaimed water) untuk berbagai keperluan operasional hotel yaitu untuk flushing dan penyiraman tanaman, maka air hasil daur ulang air limbah (reclaimed water) ini memerlukan tingkat proses pengolahan sampai mencapai tingkat kualitas tertentu sesuai dengan rencana penggunaannya, maka kadar kekeruhan maksimum yang akan dijadikan acuan sebagai persyaratan yang diperbolehkan untuk reclaimed water hotel ini mengacu kepada baku mutu yang mendekati baku mutu air minum yang diizinkan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang parameter fisika untuk air minum, yaitu kadar kekeruhan maksimum yang diperbolehkan untuk baku air minum adalah sebesar 15 NTU. Selain itu, kualitas air yang digunakan pada sistem flushing di Indonesia mayoritas menggunakan air dengan kualitas air minum yang berasal dari PDAM.
Tabel 2. Karakteristik air buangan domestik (grey water) Hotel Grand Royal Panghegar
| No | Parameter | Satuan | Hasil Analisa | Baku Mutu | Metode Analisa |
|---|---|---|---|---|---|
| Fisika | |||||
| 1 | Suhu | oC | 24,8 | WQC | |
| 2 | Kekeruhan | NTU | 112 | Turbidimeter | |
| 3 | TDS | mg/L | 499,8 | Gravimetri | |
| 4 | TSS | mg/L | 72,8 | ||
| 5 | Konduktivitas | µS/cm | 714 | Konduktivitimeter | |
| Kimia | |||||
| 1 | pH | - | 8,55 | 6 – 10 ** | pH meter |
| 2 | COD | mg/L | 352 | 100 * | Titrimetri |
| 3 | Minyak & Lemak | mg/L | 24,2 | 10 | Gravimetri |
| 4 | - Nitrit (NO2 ) | mg/L | 0,0172 | Spektrofotometri | |
| 5 | - Nitrat (NO3 ) | mg/L | 0,29 | Spektrofotometri | |
| 6 | + Ammonia (NH4 - N) | mg/L | 21,12 | Spektrofotometri | |
| 7 | Total Pospat | mg/L | 1,98 | Spektrofotometri | |
| 8 | Surfaktan | mg/L | 6,38 | Spektrofotometri |
Baku Mutu : * Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112 Tahun 2011 ** PP No. 82 Tahun 2001
Proses Elektrokoagulasi Limbah Sintetis Secara Batch
Percobaan batch dilakukan pada variasi kerapatan arus, waktu detensi dan pH. Hasil variasi pengolahan yang paling efektif digunakan sebagai acuan untuk menentukan kuat arus dan variasi pada variabel waktu kontak untuk diaplikasikan pada reaktor elektrokoagulasi pada sistem kontinyu.
Pengaruh Kerapatan Arus dan Waktu Detensi
Proses elektrokoagulasi sangat dipengaruhi oleh kerapatan arus dan waktu detensi, hal ini berkaitan dengan pelepasan ion Al3+ sebagai agen koagulan (Mollah et al., 2001 dan Holt et al., 2005) dalam penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak sepeti terlihat pada Gambar 2. Mekanisme penyisihan kekeruhan melalui pengikatan oleh inti koagulan, penyisihan COD disebabkan zat-zat organik yang terlarut ikut terika t dengan flok dan COD teroksidasi akibat kehadiran oksidator dan penyisihan minyak dan lemak dalam bentuk koloid oleh Al3+ yang mampu mendestabilisasi minyak yang teremulsi dalam larutan.
Dari Gambar 2 dapat dilihat efisiensi penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak mengalami penurunan yang cukup signifikan sampai pada menit ke-15, lalu relatif konstan dan bahkan mencapai kondisi steady state sampai menit ke-60, artinya setelah menit ke-20 tidak terjadi perubahan konsentrasi kekeruhan, COD dan minyak lemak meskipun masih terdapat penyisihan dalam jumlah kecil. Pada kerapatan arus 104 A/m2 terjadi penurunan yang penyisihan yang sangat cepat karena arus listrik yang dialirkan lebih tinggi sehingga ion Al3+ yang teroksidasi dalam jumlah banyak dan berikatan dengan OHdan membentuk koagulan dalam jumlah yang banyak sehingga partikel terdestabilisasi dalam bentuk flok dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak sehingga menyisihan kekeruhan sebesar 87,73%, COD sebesar 87,48% dan minyak lemak sebesar 77,50%. Flok yang terbentuk sebagian ada yang ikut mengendap serta mengapung ke atas permukaan larutan karena kehadiran gas H2 yang terjadi di katoda, menurut reaksi berikut ini (Mollah et al., 2004).

Gambar 2. Efisiensi penyisihan pada variasi kerapatan arus dan waktu detensi
Anoda: Al \[\rightarrow\] Al3+ + 3e- E0 = 1,66 (1)
Katoda: \[2H2O(1)^{+} + 2e^{-} \rightarrow H2(g) + 2OH^{-}\] E0 = -0,83 (2)
Dalam Larutan : \[Al^{3+}_{(aq)} + 3H2O(1) \rightarrow Al(OH)_{3(s)} + 3H^{+} E0 = 0,83\] (3)
Pengaruh pH
Proses elektrokoagulasi juga dipengaruhi oleh pH limbah (Mollah et al., 2004, Holt et al., 2005 dan Liu et al., 2010), maka variasi nilai pH awal air limbah sintetis adalah 2 – 11 selama 30 menit pada kerapatan arus 104 A/m2 . Untuk mendapatkan suasana basa, maka pada air limbah sintetis ditambahkan NaOH dan untuk mendapatkan suasana asam, maka ditambahkan H2SO4.
Tingkat penyisihan yang paling baik untuk kekeruhan, COD dan minyak lemak yaitu pada rentang pH 4 - 10. Menurut Harif et al (2012) pada rentang tersebut terjadi proses hidrolisis ion Al yang menghasilkan senyawa Al(OH)2+, Al2(OH)24+, Al(OH)3+ dan senyawa polimer Al13(OH)32 7+ yang efektif dalam proses koagulasi. Pada pH di bawah 4 senyawa yang terbentuk adalah ion Al3+, (Persamaan 5), sedangkan pada pH di atas 10 senyawa yang terbentuk adalah Al(OH)4- (Persamaan 4). Kedua senyawa ini bersifat amfoter dan memiliki sifat kurang efektif dalam proses koagulasi.
Basa Kuat : \[Al(OH)_{3(s)} + OH^{-}_{(aq)} \rightarrow Al(OH)^{4-}_{(aq)}\] (4)
Asam Kuat : \[Al(OH)_{3(s)} + 3H^{+}_{(aq)} \rightarrow Al^{3+}_{(aq)} + 3 H2O_{(l)}\] (5)

Gambar 3. Tingkat penyisihan pada kenaikan pH pada proses elektrokoagulasi (104 A/m2 , td = 30 menit)
Mekanisme Pembentukan Flok
Kecepatan pengendapan flok pada kondisi optimum adalah 0,0571 – 0,125 cm/detik. Mekanisme pembentukan flok akibat proses oksidasi elektrolisis pada elektroda pada kerapatan arus 104 A/m2 dan pada waktu detensi 0 – 60 menit dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Bentuk dan ukuran flok pada karapatan arus 104 A/m2 (a-e) Pembesaran 10 x, (h) Pembesaran 4 x
Pada Gambar 4 terlihat partikel tersuspensi dalam air berupa partikel bebas dan koloid dengan ukuran yang sangat kecil, antara 0,001 mikron (10-6 mm) sampai 1 mikron (10-3 mm) pada td = 0 menit. Pada saat elektroda dihubungan dengan sumber listrik maka reaksi redoks terjadi, destabilisasi kontaminan dan partikel tersuspensi mulai membentuk flok. Mekanisme pembentukkan flok akibat fenomena sludge blanket mampu menjebak dan menjembatani partikel koloid yang ada di air limbah. Pada menit ke-60 flok yang terbentuk memilki ukuran 0,25 – 1 mm sehingga mudah untuk dipisahkan.
Laju Pelepasan Alumunium
Untuk mengetahui berat plat Al yang larut dapat dihitung dari masa logam Al yang larut dengan menggunakan hukum Faraday I membuat hubungan antara kuat arus (I) yang mengalir dengan jumlah massa yang terlepas ke larutan, hal ini merupakan pendekatan secara teoritis untuk menghitung jumlah aluminium yang terlepas ke larutan. Untuk memastikan hal tersebut maka dilakukan perbandingan dengan menimbang plat elektroda setiap kali dilakukan percobaan (K. Bhani – Melhem et al., 2012) dalam kondisi kering.

Gambar 5. Perbandingan konsentrasi alumunium teoritis dan percobaan yang terlepas selama proses elektrokoagulasi pada kerapatan arus 104 A/m2
Pada Gambar 5, konsentrasi alumunium secara teoritis menunjukkan hasil yang lebih rendah 2 – 14 % dari konsentrasi alumunium yang dihitung dari percobaan. Hal ini diduga akibat adanya beberapa pengaruh selama proses elektrokoagulasi yang mengganggu sistem, seperti perubahan kondisi permukaan plat elektroda yang semakin berkurang kemampuannya dalam menarik ion-ion dalam limbah (Mouedhen et.al., 2008).
Tabel 3. Laju pelepasan ion alumunium pada variasi kerapatan arus
| (A/m2 Kerapatan Arus ) | 21 | 42 | 63 | 83 | 104 |
|---|---|---|---|---|---|
| Laju Pelepasan Ion Alumunium (g/menit) | 0,0014 | 0,0028 | 0,0040 | 0,0056 | 0,0071 |
Dari Tabel 3, laju pelepasan ion alumunium yang lebih tinggi terjadi pada kerapatan arus yang tinggi. Dengan mengetahui nilai laju pelepasan ion alumunium dapat digunakan untuk memperkirakan waktu penggantian elektroda. Pada kerapatan arus 104 A/m2 dengan nilai laju pelepasan ion alumunium sebesar 0,0071 g/menit, dapat diperkirakan pada plat elektroda alumunium dengan berat elektroda 128 g akan habis setelah penggunaan 300 jam pengoperasian reaktor elektrokoagulasi.
Kinetika Reaktor Elektrokoagulasi
Laju perubahan konsentrasi pada reaktor elektrokoagulasi mengikuti reaksi orde satu, persamaan kinetika reaksi orde satu pada Persamaan 6.
\[C_t = C_{0 \cdot e^{-kt}} \tag{6}\]
Dimana : Ct adalah konsentrasi pada waktu t, C0 adalah konsentrasi awal percobaan pada saat t = 0 dan k adalah nilai kinetika perubahan konsentrasi. Nilai k berguna untuk memprediksi besarnya penyisihan pada waktu tertentu. Semakin besar nilai k, maka semakin cepat penyisihan yang terjadi.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa laju penyisihan kekeruhan dan COD yang paling baik pada kerapatan arus 104 A/m2 . Hal ini menunjukkan semakin tinggi kerapatan arus maka semakin besar laju pelepasan ion Al3+ akibat proses oksidasi elektrolisis pada elektroda yang mendestabilisasi kontaminan dalam bentuk flok dalam waktu singkat (Mollah et al., 2004).
Tabel 4. Nilai k pada penyisihan kekeruhan dan COD
| Parameter | Kerapatan Arus (A/m2 ) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| 21 | 42 | 63 | 83 | 104 | |
| Kekeruhan | 0,0477 | 0,0680 | 0,0848 | 0,1073 | 0,1387 |
| COD | 0,0288 | 0,0635 | 0,0866 | 0,1295 | 0,1495 |
Aplikasi Elektrokoagulasi Pada Sistem Menerus (Kontinyu)
Kerapatan arus 104 A/m² dengan waktu kontak 15 menit merupakan kombinasi paling efektif pada sistem batch dan selanjutnya diaplikasikan pada sistem menerus dengan melakukan variasi waktu kontak dan beban pengolahan. Percobaan dilakukan terhadap limbah sintetis dan limbah asli grev water hotel.
Pengaruh Variasi Waktu Kontak
Variasi waktu kontak yang digunakan yaitu 900 detik, 936 detik dan 975 detik. Variasi waktu kontak tersebut diaplikasikan ke dalam system kontinyu dengan cara mengatur debit aliran, dimana debit aliran yang digunakan pada masing-masing waktu kontak yaitu 0,13 L/menit, 0,125 L/menit dan 0,12 L/menit. Berikut hasil percobaan elektrokoagulasi sistem menerus menggunakan limbah sintetis.

Gambar 6. Efisiensi penyisihan elektrokoagulasi pada sistem menerus
Pengaruh Variasi Konsentrasi Beban Pengolahan
Variasi beban yang akan dilakukan adalah 200, 300 dan 400 mg COD/L. Berikut ini adalah hasil percobaan sistem menerus dengan melihat pengaruh varasi beban pengolahan pada limbah sintetis.

Gambar 7. Efisiensi penyisihan elektrokoagasi pada variasi beban
Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa pada penambahan beban pengolahan meningkatkan efisiensi penyisihan, pada beban pengolahan sebesar 400 mg COD/L memiliki efisiensi penyisihan kekeruhan 90,05%, COD sebesar 85,52% dan minyak lemak sebesar 90,05%. Tingkat keberhasilan penyisihan COD dan minyak lemak ini dapat dilihat juga dari tingkat keberhasilan dalam penyisihan kekeruhan polutan. Hal ini sejalah dengan percobaan yang dilakukan oleh Li et al (2009) bahwa beban pengolahan yang lebih tinggi pada proses elektrokoagulasi mempengaruhi tingkat efisiensi penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak.
Mekanisme Pembentukkan Flok
Pengamatan terhadap flok yang terbentuk pada sistem menerus pada variasi waktu kontak dilakukan terhadap limbah sintetik dan limbah asli dengan pembesaran 10 kali. Pengamatan bentuk dan ukuran flok pada Gambar 8 menunjukkan struktur flok yang besar dan terpecah-pecah. Bentuk flok yang terpecahpecah diduga akibat terpecahnya kembali gumpalan flok yang telah membesar selama perjalanan dari inlet ke outlet. Bisa saja hal ini dipengaruhi oleh gradient hidrolis yang kecil sehingga gumpalan yang sudah terbentuk pecah kembali. Meskipun terpecah-pecah, gumpalan flok ini memilki gaya tarik menarik yang kuat antar flok-flok yang terbentuk, sebagai adanya fenomena sludge blanket yang masih menjebak dan menjembatani partikel koloid yang ada dalam limbah.
Gambar 8. Bentuk dan ukuran flok pada karapatan arus 104 A/m2 .
Perbedaan bentuk dan ukuran flok sistem menerus pada Tabel 5 mendekati range sistem batch sehingga diperoleh kecepatan pengendapan yang tidak jauh berbeda dengan system batch. Flok yang terbentuk dari proses elektrokoagulasi menggunakan elektroda pasangan aluminium secara batch maupun system menerus memiliki ukuran dan bentuk yang lebih besar dengan densitas atau kerapatan flok relative tinggi, sehingga mudah disisihkan dan diendapkan.
Tabel 5. Kecepatan pengendapan dan ukuran flok
| Waktu | Limbah sintetis | Limbah asli | |||
|---|---|---|---|---|---|
| kontak | Kecepatan pengendapan | Ukuran partikel | Kecepatan pengendapan | Ukuran partikel | |
| (detik) | (cm/det) | (µm) | (cm/det) | (µm) | |
| 900 | 0,0740 – | 150 – | 0,0833 – | 150 – | |
| 0,0870 | 180 | 0,0909 | 200 | ||
| 936 | 0,0767 – | 170 – | 0,0870 – | 170 – | |
| 0,0952 | 210 | 0,0952 | 220 | ||
| 975 | 0,1053 – | 220 – | 0,1053 – | 220 – | |
| 0,1111 | 250 | 0,1111 | 250 | ||
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai optimum di dalam proses pengolahan secara batch diperoleh pada variasi kerapatan arus 104 A/m2 dengan laju pelepasan ion aluminium sebesar 0,0071 g/menit . Kondisi optimum tercapai pada waktu detensi 15 menit dengan tingkat penyisihan kekeruhan sebesar 87,73%, COD sebesar 87,48% dan minyak lemak sebesar 77,50%. Kinetika laju perubahan konsentrasi pada reaktor elektrokoagulasi mengikuti orde 1 dengan kerapatan arus 104 A/m2 memberikan hasil terbaik. Pada aplikasi elektrokoagulasi sistem menerus dengan variasi waktu kontak 975 detik memberikan hasil terbaik dengan tingkat penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak sebesar 89,32%, 89,09% dan 89,79%, sementara pada variasi beban pengolahan 400 mg COD/L memberikan hasil terbaik dengan tingkat penyisihan kekeruhan, COD dan minyak lemak sebesar 89,97%, 61,52% dan 90,05%. Flok yang terbentuk pada sistem batch maupun sistem menerus memiliki ukuran dan bentuk yang lebih besar dengan kecepatan pengendapan pada reaktor batch sebesar 0,1176 cm/detik dengan diameter flok 250 – 1000 µm, sedangkan pada sistem menerus adalah sebesar 0,0740 – 0,1110 cm/detik dengan diameter flok 150 – 250 µm.
