PENDAHULUAN
Waduk dan danau sering difungsikan sebagai sumber air baku, PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), maupun berfungsi sebagai media budidaya ikan di Indonesia. Eutrofikasi sendiri merupakan kondisi berlebihnya nutrien (terutama karbon, nitrogen, dan fosfat) di perairan air tawar sehingga dapat memicu terjadinya algae blooming. Algae blooming dapat menyebabkan rusaknya ekosistem waduk atau danau, seperti menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut, kematian biota laut, menurunnya biodivesifikasi, dan sebagainya. Fosfat merupakan elemen penting atau parameter kunci diantara nutrient utama penyebab eutrofikasi lainnya seperti carbon (C), dan nitrogen (N). Menyadari bahwa fosfatlah yang menjadi penyebab utama terjadinya eutrofikasi, maka perhatian saintis dan peneliti semakin meningkat terhadap salah satu parameter pencemar ini.
Telah cukup banyak penelitian untuk menyisihkan fosfat terlarut dalam bentuk orthofosfat, antara lain dengan koagulasi atau melalui proses presipitasi. Proses penyisihan yang juga sering digunakan adalah dengan proses biologi. Pada umumnya, proses-proses tersebut membutuhkan biaya yang lebih besar karena harus menambahkan zat kimia ataupun senyawa lainnya, oleh karena itu diperlukan aplikasi dari bahan yang murah dan mudah ditemukan untuk mengolah fosfat di dalam air (Huang et al., 2014). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah fosfat adalah dengan metode adsorpsi (Moharami dan Jalali, 2013, dan Mangwandi et al., 2014). Adsorpsi merupakan fenomena keseimbangan antara zat dalam larutan dan yang terikat pada permukaan sorben (padatan) (Watts, 1998 dalam Notodamojo, 2005). Namun, dengan menggunakan metode adsorpsi ini sering ditemui masalah baru, padatan (sorben) yang menjadi tercemar, sehingga sorben ini memerlukan pengolahan lebih lanjut. Berdasarkan sifat fosfat yang merupakan parameter kunci bagi tanaman, maka ingin dilihat bagaimana kemampuan sorben yang telah mengandung fosfat jika ingin dimanfaatkan menjadi pupuk (Hosini dan Taleshmikaiel, 2013). Dengan metode ini, pengolahan air tidak akan hanya berorientasi pada removal kandungan pencemar saja, tetapi dapat mengarah pada recovery nutrien yang terkandung di dalamnya untuk keperluan yang bermanfaat (Rout et al., 2014)
Berbagai jenis adsorben telah diteliti untuk menyisihkan kandungan othhofosfat dari dalam air, seperti dolomit, silica, tanah, zeoilt, dan beberapa jenis limbah seperti red mud atau fly ash. Adsorben tanah dan bebatuan dinilai relatif ekonomis untuk diterapkan dan bertujuan untuk memanfaatkan potensi alam yang ada (Mahmud et al, 2008). Hamdi dan Srasra (2012) menguji kemampuan tanah Kaolinite dan Quarzt untuk menyisihkan kandungan orthofosfat dengan konsentrasi hingga 500 mg/L.
Pada penelitian ini, akan diujicobakan beberapa media penyisihan berupa tanah dan bebatuan dari wilayah Jawa Barat. Tanah ini kemudian disebut sebagai tanah Dago dan tanah Arcmanik, serta dolomite. Tanah ini digunakan untuk menurunkan kadar orthofosfat pada konsentrasi rendah, yaitu 0,5-5 mg/L, dengan mekanisme adsorpsi secara batch.
Maksud dari penelitian ini adalah menganalisis kemampuan tanah Dago dan Arcamanik, serta dolomite sebagai adsorben untuk menurunkan kandungan orthophosphate di dalam air. Sedangkan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan orde kinetika reaksi dan isoterm penyisihan orthofosfat di dalam air dengan metode adsorpsi untuk berbagai variasi konsentrasi awal, dan membandingkan kemampuan desorpsi untuk ketiga jenis adsorben, yaitu tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite.
METODOLOGI
Penelitian ini difokuskan pada fenomena adsorpsi guna menyisihkan orthofosfat di dalam air. Penelitian dilakukan secara sistem batch. Dilakukan terlebih dahulu karakterisasi untuk setiap jenis adsorben, lalu dilakukan percobaan adsorpsi dan desorpsi terhadap sampel artificial. Selaini itu, dilakukan percobaan untuk melihat pengaruh pH dalam proses adsorpsi.
Dilakukan karakterisasi sorben, yaitu terhadap tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite dengan menggunakan XRD (X-ray diffraction), FTIR (Fourier Transform Infra Red), BET Surface, KTK (nilai tukar kation), dan %C (persen karbon). Serta diukur pH, kandungan fosfat, dan jenis muatan dari sorben.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel artificial dengan cara melarutkan garam fosfat (KH2PO4) ke dalam KCl 0,01 M sebagai background solution. Kemudian dilakukan percobaan adsorpsi dengan menggunakan 3 jenis sorben yang telah dikarakterisasi, yaitu tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite. Sebelum percobaan adsorpsi dilakukan, dilakukan desorpsi terhadap sorben selama 1 jam terlebih dahulu dengan mengguankan aquadest agar sorben tidak mengandung fosfat lagi dan siap untuk digunakan dalam percobaan sorpsi. Percobaan adsorpsi dilakukan dengan menggunakan alat jar test dengan kecepatan 30 rpm. Percobaan dilakukan dengan konsentrasi awal orthofosfat sebesar 0,5, 1, 2, 3, 4 dan 5 mg/L serta selang waktu pengambilan sampel 5,10, 15, 30, 45, 60, 120, 240, 360 dan 480 menit dengan soil:solution ratio sebesar 1:10. Setelah itu, untuk memeriksa parameter dari hasil adsorpsi, sampel akan disentrifugasi terlebih dahulu dengan kecepatan 6000 rpm selama 20 menit. Parameter kualitas air yang diperiksa meliputi parameter orthofosfat (SMEWW-4500-P-B) dengan prinsip spektrofotometri ammonium molibdat.
Setelah percobaan adsorpsi, adsorben dipisahkan dengan supernatan lalu digunakan percobaan desorpsi untuk masing-masing jenis adsorben untuk tiap konsentrasi awal orthofofat. Setelah dipisahkan dengan supernatant, adsorben dikeringkan di suhu ruangan (25+2 oC) selama 12 jam sebelum dilakukan percobaan desorpsi. Percobaan desorpsi dilakukan sama seperti percobaan adsorpsi namun, konsentrasi larutan yang digunakan lebih rendah dariapada konsentrasi kesetimbangan akhir adsorpsi. Percobaan adsorpsi dan desorpsi dilakukan secara duplo. Metode adsorpsi dan desorpsi ini mengacu pada metode US EPA (2000), Rodrigues et al. (2010), dan Wang, et al. (2013).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakterisasi Sorben
Dilakukan karakterisasi terhadap adsorben untuk mengetahui kemampuan dan kapasitas dari tiap jenis adsorben dalam menyishkan orthofosfat dari dalam air. Adapun hasil karakterisasi yang dilakukan terhadap tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite ditunjukkan pada Tabel 1. pH, muatan, dan total fosfat di dalam sorben diukur pada Laboratorium Kualitas Air Program Studi Teknik Lingkungan ITB, nilai C-organik dan KTK diukur pada Laboratorium TEKmira, Bandung, dan nilai luas permukaan, volume pori, serta diameter pori rerata diperoleh dari analisa di Laboratorium Instrumen Analisis Program Studi Teknik Kimia, ITB.
No. Parameter Adsorben Tanah Dago Tanah Arcamanik Dolomite pH 5,32 7,56 9,22 Muatan Negatif Negatif Positif Total fosfat (mg/gr) 0,004 0,010 0,125 C-organik (%) 0,31 1,73 0,066 KTK (me/100gr) 21,2 20,6 11,96 Luas permukaan (m2 /gr) 35,987 84,923 1,443 Volume pori total (cc/gr) 0,099 0,163 0,008 Diameter pori rata-rata (Å) 11,094 7,675 23,360
Tabel 1. Karakteristik fisik dan kimia sorben
Tabel 1. menunjukkan bahwa adsorben yang memiliki nilai derajat keasaman (pH) terendah adalah tanah Dago, dan dolomite memiliki pH basa, sedangkan tanah Arcamanik memiliki pH yang cenderung netral. Nilai pH memiliki peran yang tinggi dalam penyebaran kontaminan di dalam adsorben (Notodarmojo, 2005). Adanya muatan elektrostatik pada permukaan adsorben, memungkinkan untuk terjadinya proses pertukaran ion dengan kontaminan ataupun terciptanya kondisi yang stabil bagi adsorben untuk mengadsorpsi kontaminan.
Ukuran partikel tanah akan mempengaruhi nilai luas permukaan per satuan berat tanah, yang disebut sebagai luas permukaan spesifik. Partikel dengan ukuran yang semakin halus, akan memiliki nilai luas permukaan spesifik yang lebih tinggi, dan akan lebih reaktif permukaannya. Tanah Arcamanik memiliki luas permukaan spesifik yang lebih besar dibandingkan tanah Dago dan dolomite, sehingga partikel tanah Arcamanik seharusnya memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih besar dibandingkan tanah Dago.
Sifat mineral tanah mempengaruhi muatan pada tanah. Kelompok mineal dalam ketiga jenis adsorben ditunjukkan pada Tabel 2. Hasil analisis mineral pada sorben diperoleh dari Laboratorium Pengujian dan Karakterisasi Metalurgi Program Studi Pertambangan, ITB.
Tabel 2. Analisis mineral sorben
| Tanah Dago | Tanah Arcamanik | Dolomite | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Mineral | (%) | Mineral | (%) | Mineral | (%) | ||
| Quartz | 63,7 | Muscovite | 36,0 | Dolomite | 94,2 | ||
| Muscovite | 25,0 | Cristobalite | 25,7 | Muscovite | 3,1 | ||
| Kaolinite | 11,3 | Montmorillonite | 20,0 | Montmorillonite | 1,1 | ||
| Kaolinite | 12,2 | Albite | 1,1 | ||||
| Albite | 6,1 | Calcite | 0,6 | ||||
Tanah Dago didominasi oleh mineral quartz, muscovite, dan kaolinite. Mineral yang termasuk dalam mineral primer tanah antara lain quarzt atau kuarsa, muscovite, dan albite (Foth, 1995). Keberadaan muscovite sangat penting karena dibentuk oleh aluminium silikat yang mengandung gugusan hidroksil (- OH). Gugus -OH atau disebut sebagai hidroksil permukaan (surface hydroxyl group) merupakan gugus fungsional yang umum terdapat pada permukaan tanah dan bebatuan. Notodarmojo (2005) menyatakan bahwa pada proses adsorpsi, molekul atau ion-ion sorbat "diikat" oleh permukaan partikel yang reaktif seperti gugus hidroksil ataupun hidrogen dari sorbent (sorbent motivated adsorption). Ion atau molekul zat pencemar akan "diikat" pada pada permukaan partikel tanah, oleh gugus hidroksil atau gugus radikal lainnya baik pada permukaan kristal mineral atau oleh zat organik, ataupun melalui substitusi isomorfik ke dalam struktur kristal ataupun ruang antarlapis kristal. Hasil analisa FTIR juga menunjukkan bahwa ketiga adsorben mengandung gugus fungsi –OH.
Tanah Arcamanik didominasi oleh muscovite. Pada tanah Arcamanik, terdapat mineral sekunder lain yang juga dalam persentase yang cukup besar, yaitu cristobalite, montmorillonite, kaolinite, dan albite. Hal tersebut menunjukkan kemurnian tanah Arcamanik lebih rendah daripada tanah Dago. Sedangkan, dolomite didominasi oleh mineral dolomite. Disebutkan dalam Mantell (1951) dolomite merupakan bahan anion exchange yang baik, sehingga diharapkan proses adsorpsi melalui gaya pertukaran ion orthofosfat dapat berlangsung dengan baik (Mangwandi et al., 2014).
Analisa komposisi kimia dilakukan dengan uji EDS (Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy) pada Laboratorium SEM Fakultas Matematika dan Ilmu Alam ITB. Hasil komposisi kimia ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi kimia adsorben
| Tanah Dago | Tanah Arcmanik | Dolomite | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Unsur | (%) | (%) | (%) | ||
| C | 5,12 | 4,12 | 22,99 | ||
| O | 45,42 | 46,55 | 25,74 | ||
| Mg | 0,22 | 0,29 | 19,08 | ||
| Al | 15,06 | 13,83 | 0,33 | ||
| Si | 24,51 | 27,99 | 0,21 | ||
| Ca | 0,75 | 0,30 | 31,64 | ||
| Fe | 7,81 | 4,15 | < | ||
Selain mineral tanah liat yang telah dijelaskan pada bagian analisa mineral adsorben sebelumnya, masih terdapat beberapa kelompok mineral yang cukup penting peranannya dalam interaksi antara zat pencemar dan adsorben, yaitu kelompok mineral oksida logam dan hidroksida logam, antara lain oksida hydrous besi dan aluminium. Mineral-mineral ini bersifat amfoter (dapat bersifat asam maupun basa). Pada kondisi asam (pH rendah), mineral ini dapat mempunyai muatan elektro negatif yang lemah, sedangkan pada kondisi basa dapat membentuk muatan elektropostif. Sifat penting dari mineral kelompok ini adalah kapasitas penyerapan (adsorpsi) yang tinggi (Notodarmojo, 2005).
Pengaruh pH
Terlihat pada Gambar 1., efisiensi penyisihan orthofosfat tertinggi adalah pada pH asam atau pada pH 2 untuk ketiga jenis adsorben. Percobaan dilakukan dengan menggunakan soil : solution ratio 1:10, waktu kontak selama 4 jam (240 menit), dan konsentrasi orthofosfat awal sebesar 1 mg/L.

Gambar 1. Pengaruh pH terhadap adsorpsi
Efisiensi penyisihan tanah Dago pada pH 2 mencapai 96,28%, sedangkan untuk tanah Arcamanik mencapai 95,14%, dan dolomite mencapai 93,68%. Pada pH asam, yaitu pada pH 2, mineral akan memiliki muatan positif yang semakin besar. Muatan positif pada adsorben merupakan dasar dari adsorpsi dan pertukaran anion orthofosfat pada pH 2, karena muatan negatif dari orthofosfat akan terikat pada ion H+ pada adsorben. Selain itu, pada pH yang rendah atau pH larutan dalam kondisi asam, orthofosfat di dalam air lebih dominan dalam spesifikasi H2PO4 - dibandingkan HPO4 2- dan PO4 3- . Sehingga, spesifikasi orthofosfat yang memiliki valensi ion yang lebih kecil akan lebih mudah melakukan ikatan ion dengan permukaan adsorben karena energi ikatannya yang lebih rendah dibandingkan dengan valensi ion yang lebih besar (Leusbrock et al, 2011).
Foth (1995) dan Notodarmojo (2005), menyebutkan bahwa titik isoelektrik kaolinit adalah pH 4, sedangkan titik isoelektrik untuk montmorilonit dan feldspar adalah pH 3. Hal ini menunjukkan bahwa antara pH 3 hingga 4, muatan negatif pada permukaan tanah akan mulai terbentuk, sehingga proses pertukaran kation dan anion pada adsorben akan berkurang. Sedangkan pada Dolomite, yang memiliki muatan positif baik untuk pH rendah seperti pada pH 2 maupun pada pH tinggi seperti pH 8, efisiensi penyisihan orthofosfat-nya juga bergantung pada pH. Semakin rendah pH, maka semakin positif permukaan adsorbennya, dan semakin tinggi pH-nya efisiensi orthofosfat menurun dapat disebabkan karena pengaruh titik isoelektrik dolomite yaitu pada pH 8,5 (Mangwandi, 2014).
Efisiensi Penyisihan
Hasil percobaan secara batch untuk efisiensi penyisihan orthofosfat untuk tanah Dago, Arcamanik, dan dolomite di dalam air pada waktu equilibrium ditunjukkan pada Gambar 2. Efisiensi penyisihan tertinggi diperoleh oleh tanah dago, sehingga penyisihan orthofosfat di dalam air ini didominasi oleh proses anion exchange yang didukung oleh tingginya nilai KTK dari tanah Dago itu sendiri. Disebutkan pula dalam Notodarmojo (2005) dan Hoseni et al. (2013), bahwa proses adsorpsi orthofosfat didominasi oleh proses pertukaran ion. Selain itu, untukj larutan ionik, umumnya proses didominasi oleh Sorbent motivated adsorption merupakan adsorpsi yang disebabkan oleh sorben dimana molekul atau ion-ion sorbat diikat oleh permukaan partikel reaktif pada sorben seperti gugus hidroksil atau hidrogen. Hal ini disebabkan oleh gaya tarik Van der Waals, gaya elektrostatis, atau ikatan kimia lainnya. Sedangkan luas permukaan spesifiktidak begitu mempengaruhi proses adsorpsi orthofosfat oleh ketiga jenis adsorben.

Gambar 2. Efisiensi penyisihan orthofosfat
Isoterm Adsorpsi dan Desorpsi
Percobaan isoterm adsorpsi dan desorpsi untuk ketiga jenis adsorben dilakukan secara batch dengan variasi konsentrasi orthofosfat awal sebesar 0,5, 1, 2, 3, 4, dan 5 mg/L. Setelah percobaan adsorpsi dilakukan, dengan menggunakan adsorben yang sama, dilakukan percobaan kemampuan desorpsi dari setiap adsorben. Kurva isoterm adsorpsi dan desorpsi dari setiap adsorben ditunjukkan pada Gambar 3.
Terlihat dari grafik isoterm adsorpsi dan desorpsi untuk ketiga adsorben. Pada Gambar 3., untuk isoterm tanah Dago dan tanah Arcamanik, saat nilai konsentrasi ekuilibriumnya bertambah, nilai kapasitas adsorpsi-nya cenderung sama. Sedangkan untuk isoterm dolomite, terlihat saat nilai konsentrasi ekuilibriumnya bergeser, maka kapasitas adsorpsi-nya juga berkurang. Hal tersebut menandakan bahwa, jumlah orthofosfat yang didesorpsi oleh tanah Dago dan tanah Arcmanik lebih kecil daripada dolomite. Pada grafik isoterm tersebut, terlihat bahwa terdapat orthofosfat yang disimpan atau terfikasasi oleh tanah Dago dan tanah Arcamanik dan tidak dapat dilepaskan pada percobaan desorpsi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa orthofosfat mengalami adsorpsi secara kimia, sedangkan pada dolomite, orthofosfat umumnya mengalami adsorpsi secara fisik.
Data hasil isoterm adsorpsi dianalisa dengan menggunakan empat model isoterm, yaitu isoterm Linear, Freundlich, Langmuir, dan Temkin. Pemilihan isoterm yang paling cocok dilakukan dengan membandingkan nilai R2 atau koefisien determinansi dari setiap model isoterm. Hasil plot data adsorpsi pada untuk tiap model isoterm yang direkapitulasi pada Tabel 4. menunjukkan bahwa nilai R2 tertinggi untuk tanah Dago dan tanah Arcamanik adalah pada isoterm Temkin dan untuk dolomite adalah isoterm Freundlich.
Isoterm Temkin menggambarkan perilaku sistem adsorpsi pada permukaan yang heterogen. Berdasarkan Dabrowski (2001) dan Gao et al. (2013), isoterm Temkin memodelkan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah secara kimia (chemisorptions), sehingga proses adsorpsi oleh tanah Dago dan tanah Arcamanik adalah secara kimia karena mengikuti model isoterm ini. Sedangkan untuk dolomite, model isoterm yang cocok adalah isoterm Freundlich. Isoterm Freundlich dikembangkan untuk adsorpsi yang terjadi pada lebih dari satu lapisan tunggal (multilayer) dan permukaan yang heterogen. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adsorpsi orthofosfat oleh dolomite berlangsung pada multilayer dan heterogen. Sifat adsorpsi yang pada lebih satu lapisan ini dapat terjadi pada adsorpsi fisik.
| Tabel 4 Rekapitulasi perhitungan isoterm | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Adsorben | Lir | near | Freundlich | Langmuir | Temkin | ||||||
| Ad | lsorpsi | ||||||||||
| \(R^2 =\) | 0,8983 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9289 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,5126 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9941 | |
| kd = | 1,3482 | n | = | 1,8256 | qm | = | -0,0238 | В | = | 0,0369 | |
| kF | = | 28,4905 | kL | = | -22,1915 | kT | = | 108,6734 | |||
| \(q_e = 1,3482 \text{ Ce}\) | \(q_e = 28,4905\)Ce(1,8256) | \[q_e = \frac{0.5288 C_e}{1 - 22.1915 C_e}\] | \(q_e = 0.0369\) | ||||||||
| Tanah | qe = 20,4903CE | l | n(10 | 8,67Ce) | |||||||
| Dago | Desorpsi | ||||||||||
| \(R^2 =\) | 0,7526 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9526 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,6808 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9714 | |
| kd = | 0,7749 | n | = | 2,5583 | qm | = | -0,0112 | В | = | 0,0501 | |
| kF | = | 110,6624 | kL | = | -17,1483 | kT | = | 48,7267 | |||
| \(q_e = 0,\) | \(q_e = 110,662 \text{Ce}^{(2,5583)}\) | \(q_e = \frac{0,1912 C_e}{1-17,1483 C_e}\) | \(q_e = 0.0501\) ln(48,727Ce) | ||||||||
| \(q_e = 0,\) | |||||||||||
| Adsorpsi | |||||||||||
| \(R^2 =\) | 0,9088 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,923 | R2 | = | 0,4844 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9842 | |
| kd = | 0,6304 | n | = | 1,7517 | qm | = | -0,0248 | В | = | 0,0344 | |
| kF | = | 5,7043 | kL | = | -10,2585 | kT | = | 53,9669 | |||
| \(a_a = 0.0\) | 6304 Ce | a. | \(q_e = 5,7043 \text{Ce}^{(1,7517)}\) | \[q_e = \frac{0,2539 C_e}{1 - 10,2585 C_e}\] | \[q_e=0,0344\] | ||||||
| Tanah | qr - 0, | ln(53,967Ce) | |||||||||
| Arcamanik | - 2 | - 2 | sorpsi | - 2 | |||||||
| \(R^2 =\) | 0,7766 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9197 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,5617 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9847 | |
| kd = | 0.3541 | n | = | 2,4392 | qm | = | -0,0119 | В | = | 0,0477 | |
| kF | = | 11,3006 | kL | = | -7,6571 | kT | = | 23,2117 | |||
| \(q_e = 0\) | \(q_e = 11,3006 \text{Ce}^{(2,4392)}\) | \[q_e = \frac{0.103 c_e}{1 - 7.6571 c_e}\] | \[q_e = 0.0477\] | ||||||||
| 1,. | l | n(23 | ,212Ce) | ||||||||
| D2 | 0.6625 | D2 | lsorpsi | 0.0520 | D2 | 0.0202 | |||||
| \(R^2 =\) | 0,6635 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,9645 | R2 | = | 0,9529 | R2 | = | 0,9382 | |
| kd = | 0,0241 | n | = | 0,5063 | qm | = | 0,0383 | В | = | 0,0076 | |
| kF | = | 0,0274 | kL | = | 2,8519 | kT | = | 36,3104 | |||
| S=0,0 | \(q_e = 0.0274 \mathrm{Ce}^{(0.5063)}\) | \[q_e = \frac{0,1092 C_e}{1+2,8519 C_e}\] | \(q_e = 0.0076\) \(\ln(36.311\)Ce) | ||||||||
| Dolomite | Desorpsi | ,311Ce) | |||||||||
| \(R^2 =\) | 0,7488 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,8886 | R2 | = | 0,8549 | \(\mathbb{R}^2\) | = | 0,8586 | |
| \(\frac{k - k}{k d} =\) | 0,0199 | n | 0,6333 | qm | 0,0440 | В | = | 0,0090 | |||
| Ku – | 0,0199 | kF | 0,0333 | kL | 1,1966 | kТ | 15,0459 | ||||
| ' | · · · · · · · · · · · · · · · · · · · | \[q_e = 0.009\] | |||||||||
| \(q_e = 0\) | \(q_e = 0.0231 \mathrm{Ce}^{(0.6333)}\) | \[q_e = \frac{0.0527 c_e}{1 - 1.1966 c_e}\] | \(q_e = 0,009\) \(\ln(15,046\text{Ce})\) | ||||||||
| 1-1,170006 | 111(13,040CE) | ||||||||||
Selain pada dolomite, isoterm Freundlich juga memberikan nilai koefisien R<sup>2</sup> yang cukup tinggi dibandingkan isoterm Linear dan Langmuir untuk tanah Dago dan Arcamanik. Menurut Polat et al. (2006) dalam Mahmud et al., (2012), nilai n yang kecil menunjukkan bahwa adsorpsi terjadi secara fisik (physical adsorption atau physicsorption). Solener et al. (2008) dalam Mahmud et al. (2012), lebih spesifik menyatakan bahwa jika nilai n lebih besar dari 1 (satu), maka proses adsorpsi berlangsung dengan mekanisme kimia, dan apabila nilai n lebih kecil dari 1 (satu), maka proses adsorpsi berlangsung memuaskan melalui proses fisik.
Nilai n oleh tanah Dago adalah 1,8256 dan 2,5583 untuk adsorpsi dan desorpsi, nilai n untuk tanah Arcamanik adalah 1,7517 dan 2,4392 untuk adsorpsi dan desorpsi. Nilai koefisien n yang lebih besar daripada 1 (satu) tersebut, juga mendukung bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi pada tanah Dago dan tanah Arcamanika adalah chemisorption. Notodarmojo (2005) juga menyatakan bahwa nilai n yang lebih besar daripada 1 menunjukkan daya sorpsi adsorben yang tinggi terhadap sorbat, yang umumnya terjadi oleh liat. Sedangkan nilai koefisien n untuk dolomite adalah 0,5063 dan 0,6333 yang mendukung bahwa mekanisme adsorpsi untuk adsorben dolomite adalah physicsorption. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Mangwandi et al. (2014), bahwa adsorpsi fosfat oleh dolomite merupakan fenomena adsorpsi secara fisik.
Dari nilai konstanta B atau konstanta Temkin yang berkenaan dengan parameter sorpsi (J/mol) dan kT yaitu konstanta Temkin yang berhubungan dengan energi panas maksimum sorpsi (L/mg), terlihat bahwa nilai B dan kT untuk tanah Dago nilainya lebih besar dibandingkan tanah Arcamanik. Nilai B dan kT paling rendah dimiliki oleh dolomite. Hal ini mendukung bahwa adsorpsi oleh tanah Dago dan tanah Arcamanik adalah melalui mekanisme adsorpsi kimia dan dolomite melalui mekanisme fisik. Karena dalam adsorpsi kimia, diperlukan energi yang lebih besar dibandingkan dengan adsorpsi secara fisik (Gao et al., 2013 dan Rout et al., 2014).
Kinetika Adsorpsi
Model kinetika yang digunakan adalah pseudo-first order, pseudo-second order,dan difusi intrapartikel. Model kinetika ini adalah yang umum digunakan untuk menggambarkan fenomena adsorpsi (Qui et al., 2009). Nilai R2 merupakan nilai yang menunjukkan tingkat linearitas suatu kurva, semakin besar nilainya maka semakin representatif hasilnya. Berdasarkan nilai R2 yang dirangkum dalam Tabel 5. tersebut, koefisien determinansi (R2 ) kinetika model pseudo-second order untuk ketiga adsorben adalah sangat baik, yaitu mendekati nilai 1. Selain itu, hasil perhitungan kapasitas adsorpsi (qe) dengan model kinetika ini lebih mendekati nilai hasil percobaan atau ekseprimental. Hampir sebagian besar kinetika adsorpsi fosfat atau orthofosfat cocok dengan model kinetika pseudo-second order (Mangwandi, 2014; Rout et al, 2014; Huang et al, 2014).
Tabel 5. Rekapitulasi perhitungan kinetika
| Adsorben | Co (mg/L) | qe exp. (mg/g) | Pseudo-first order | Pseudo-second order | Difusi intrapartikel | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| kp1 (/min) | qe (mg/gr) | R2 | kp2 (gr/mg min) | Vo (mg/gr min) | qe (mg/gr) | R2 | kd (mg/gr min1/2) | C | R2 | ||||
| 0,5 | 0,0049 | 0,0550 | 0,0011 | 0,8028 | 215,9744 | 0,0052 | 0,0049 | 1,0000 | 0,0000 | 0,0043 | 0,3343 | ||
| 1 | 0,0099 | 0,0316 | 0,0009 | 0,7985 | 202,4282 | 0,0198 | 0,0099 | 1,0000 | 0,0000 | 0,0092 | 0,2478 | ||
| Tanah | 2 | 0,0198 | 0,0276 | 0,0008 | 0,6061 | 192,1580 | 0,0758 | 0,0199 | 1,0000 | 0,0000 | 0,0192 | 0,3031 | |
| Dago | 3 | 0,0298 | 0,0272 | 0,0006 | 0,5100 | 189,4381 | 0,1684 | 0,0298 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0289 | 0,3747 | |
| 4 | 0,0397 | 0,0659 | 0,0013 | 0,6077 | 179,6898 | 0,2840 | 0,0398 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0388 | 0,3333 | ||
| 5 | 0,0496 | 0,0345 | 0,0009 | 0,6501 | 155,9006 | 0,3843 | 0,0496 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0487 | 0,3162 | ||
| 0,5 | 0,0048 | 0,8569 | 0,0009 | 0,9176 | 101,6652 | 0,0024 | 0,0048 | 0,9997 | 0,0001 | 0,0039 | 0,4480 | ||
| 1 | 0,0098 | 0,7938 | 0,0006 | 0,9965 | 93,2722 | 0,0089 | 0,0098 | 0,9999 | 0,0001 | 0,0088 | 0,5372 | ||
| Tanah Arca | 2 | 0,0197 | 0,5866 | 0,0003 | 0,9193 | 96,3063 | 0,0374 | 0,0197 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0183 | 0,3611 | |
| manik | 3 | 0,0295 | 0,5866 | 0,0003 | 0,9193 | 91,4242 | 0,0798 | 0,0295 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0279 | 0,3260 | |
| 4 | 0,0394 | 0,5953 | 0,0001 | 0,4094 | 81,0693 | 0,1265 | 0,0395 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0375 | 0,3394 | ||
| 5 | 0,0493 | 0,7109 | 0,0004 | 0,9745 | 79,8317 | 0,1946 | 0,0494 | 1,0000 | 0,0001 | 0,0489 | 0,9386 | ||
| 0,5 | 0,0046 | 0,0154 | 0,0015 | 0,7054 | 64,3262 | 0,0014 | 0,0046 | 0,9998 | 0,0001 | 0,0035 | 0,6337 | ||
| Dolomite | 1 | 0,0089 | 0,0145 | 0,0016 | 0,6262 | 63,4679 | 0,0051 | 0,0090 | 0,9999 | 0,0001 | 0,0076 | 0,5970 | |
| 2 | 0,0173 | 0,0138 | 0,0072 | 0,8834 | 23,8565 | 0,0074 | 0,0177 | 0,9996 | 0,0002 | 0,0145 | 0,5971 | ||
| 3 | 0,0223 | 0,0150 | 0,0013 | 0,5357 | 23,7363 | 0,0119 | 0,0224 | 0,9999 | 0,0003 | 0,0175 | 0,4152 | ||
| 4 | 0,0270 | 0,0122 | 0,0082 | 0,6818 | 10,8084 | 0,0083 | 0,0277 | 0,9996 | 0,0003 | 0,0218 | 0,7726 | ||
| 5 | 0,0336 | 0,0122 | 0,0087 | 0,5713 | 8,7209 | 0,0129 | 0,0384 | 0,9997 | 0,0004 | 0,0275 | 0,6556 | ||
Qui et al. (2009), Rout et al. (2014), dan Huang et al. (2014) menyatakan bahwa apabila model kinetika suatu model adsorpsi cocok dengan model kinetika pseudo-second order, maka dapat dinyatakan bahwa proses adsorpsi yang terjadi adalah adsorpsi secara kimia (chemisorptions). Namun, melihat perilaku
adsorpsi oleh ketiga jenis adsorben, proses adsorpsi cenderung berlangsung cepat di 60 menit awal. Pada tahap awal adsorpsi tersebut, terjadi proses adsorpsi secara fisik berupa interaksi elektrostatik maupun gaya disperse London (Weber dan Digiano, 1996). Setelah itu, proses adsorpsi terjadi secara kimia dalam waktu yang cukup lama. Stumm (1990) dalam Notodarmojo (2005) mengembangkan konsep mekanisme adsorpsi. Dalam tahap pertama, spesies di sekitar permukaan partikel akan bereaksi dengan cepat dan "menempel" pada permukaan partikel (adsorben). Pada tahap ini, laju reaksi dikontrol oleh difusi spesies ke daerah di sekitar permukaan partikel. Proses sorpsi pada tahap ini sering disebut sebagai physical sorption.
Pada Tabel 5. terlihat bahwa semakin besar konsentrasi awal orthofosfat, maka semakin kecil laju adsorpsinya. Sehingga, semakin besar konsentrasi awal orthofosfat, maka kekuatan pendorong proses adsorpsi semakin berkurang. Hal ini dapat disebabkan karena semakin besarnya pengaruh boundary layer (film) antara adsorben dan adsorbat (Huang et al, 2014).
Sama seperti pada hasil laju adsorpsi pada model pseudo-second order, pada model difusi intrapartikel ini juga menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi awal orthofosfat, maka semakin besar nilai perpotongan (C). Nilai perpotongan ini menunjukkan pengaruh lapisan batas pada proses difusi. Semakin besar nilai perpotongan, maka semakin besar pengaruh lapisan batas (Mahmud et al., 2012). Sedangkan, nilai koefisien difusi yang semakin besar seiring peningkatan konsentrasi awal ortofosfat disebabkan oleh gradient konsentrasi yang terjadi antara adsorbat dan adsorben yang mendukung terjadinya difusi orthofosfat ke dalam adsorben (Huang et al, 2014).
Kemampuan Desorpsi
Berdasarkan presentase orthofosfat yang dilepaskan, dolomite memiliki kemampuan desorpsi yang lebih baik dibandingkan tanah Dago dan Arcamanik sesuai pada Gambar 4. Kemampuan desorpsi dari tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite berurutan adalah 0,32%-2,46%, 1,02%-5,337%, and 4,36%- 15,703%.

Gambar 4. Kemampuan melepaskan orthofosfat tiap adsorben
Kecilnya persentase orthofosfat yang dilepaskan oleh tanah Dago dan tanah Arcamanik mendukung bahwa mekanisme adsorpsi orthofosfat menggunakan kedua tanah ini adalah adsorpsi kimia (Moharami dan Jalali, 2013). Sedangkan, besarnya persentase pelepasan orthofosfat oleh dolomite dapat mendukung bahwa mekanisme adsorpsinya melalui adsorpsi fisik. Oleh karena itu, apabila adsorben ingin dimanfaatkan lebih lanjut menjadi pupuk lebih baik menggunakan adsorben dolomite. Tetapi apabila ingin menyisihkan orthofosfat dalam konsentrasi yang besar lebih baik menggunakan tanah liat (Hamdi dan Srasra, 2012).
KESIMPULAN
Efisiensi penyisihan orthofosfat oleh tanah Dago adalah 65,641%-99,334%, tanah Arcmanik sebesar 55,540%-99,12%, dan dolomite sebesar 50,240%-91,489%. Kemampuan desorpsi dari tanah Dago, tanah Arcamanik, dan dolomite berurutan adalah 0,32%-2,46%, 1,02%-5,337%, and 4,36%- 15,703%.Kestimbangan adsorpsi orthofosfat digambarkan dengan model isoterm adsorpsi Temkin untuk tanah Dago dan tanah Arcamanik, sedangkan adsorpsi oleh dolomite mengikuti isoterm Freundlich. Laju kinetika adsorpsi untuk ketiga adsorben mengikuti model kinetika pseudo-second order.
