PENDAHULUAN
Air adalah kebutuhan hidup primer manusia. fungsinya sampai sekarang tidak dapat digantikan (Nobelia, 2008). Air meliputi 70 % dari planet bumi, tapi air tawar yang terdapat di dunia hanya 2,5 % dari jumlah total air yang ada di dunia, dan 2/3 nya tersimpan di gletser beku atau tidak tersedia untuk kita gunakan (Ruini et al., 2013). Air tawar adalah sumber daya yang langka, ketersediaan tahunan terbatas dan permintaan meningkat. Ada banyak tempat di dunia dimana terjadi penipisan air yang serius: sungai yang mengalir kering dan menurunkan tingkat air danau dan air tanah (Hoekstra, 2011).
Manusia harus mengelola sumber daya air tersebut agar keberlangsungan air dapat terus terjaga baik kualitas maupun kuantitas, Salah satunya dengan menghitung penggunaan air. Pendekatan untuk memperhitungkan penggunaan air yang dimulai dari proses produksi hingga barang jadi, khususnya menyangkut pemenuhan kebutuhan konsumsi air, baik secara langsung maupun tidak langsung, dikenal dengan konsep 'tapak air' atau water footprint yang diperkenalkan oleh Hoekstra (Pawitan, 2012) .
Water footprint dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan manusia terhadap pemakaian sumber daya air per manusia tersebut baik penggunaan air secara langsung maupun secara tidak langsung, salah satunya adalah konsumsi makanan dalam hal ini tahu dan tempe. Tahu dan tempe merupakan bahan pangan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung. Tercatat pada tahun 2011 rata-rata konsumsi tahu masyarakat Jawa Barat perkotaan mencapai 8,5 Kg/kapita/tahun dan rata-rata konsumsi tempe mencapai 7,6 Kg/kapita/tahun (BPS, 2011). Dalam memproduksi tahu dan tempe dibutuhkan banyak air dari awal proses penanaman kedelai hingga menjadi produk akhir tahu dan tempe, seperti yang dikatakan oleh Van Oel dan Hoekstra (2011) bahwa banyak air yang dibutuhkan selama rantai suplai sampai waktu konsumsi. Sehingga konsumsi makanan masyarakat juga menghabiskan banyak air yang terkandung dalam tahu dan tempe tersebut (air maya). Oleh karena itu dibutuhkan konsep Water footprint untuk menghitung penggunaan air secara tidak langsung dalam konsumsi makanan masyarakat.
Water footprint adalah sebuah konsep indikator dari penggunaan air dari sudut pandang penggunaan langsung dan tidak langsung oleh produsen dan konsumen (Aldaya dan Hoekstra, 2010). Water footprint terbagi menjadi tiga komponen, yaitu water footprint biru, water footprint hijau dan water footprint abu-abu. Water footprint biru mengacu pada konsumsi sumber daya air permukaan dan air tanah dalam memproduksi barang dan jasa, Water footprint hijau mengacu pada konsumsi sumber daya air hijau (air hujan). Water footprint abu-abu mengacu pada pencemaran dan didefinisikan sebagai volume air tawar yang dibutuhkan untuk mengasimilasi beban pencemaran berdasarkan standar kualitas air ambien (Ercin et al., 2012)
Water footprint produk didefinisikan sebagai total air tawar yang digunakan langsung atau tidak langsung untuk memproduksi sebuah produk. Diestimasi dengan mempertimbangkan konsumsi air dan pencemaran dalam setiap rantai produksi (Ercin et al.,2012)
Water footprint konsumen/individu dinyatakan sebagai jumlah total volume air tawar yang dikonsumsi dan air yang tercemar untuk memproduksi barang atau jasa yang digunakan oleh konsumen. Water footprint dari grup konsumen setara dengan jumlah dari water footprint individu konsumen (Hoekstra 2011).
Maksud dari makalah ini adalah untuk mengetahui Water footprint konsumsi tahu dan tempe masyarakat Kota Bandung dalam penggunaan air secara tidak langsung. Adapun tujuan dari makalah ini adalah: (1) Menghitung water footprint produk pangan tahu dan tempe; (2) Menghitung water footprint konsumsi tahu dan tempe masyarakat Kota Bandung; (3) Membandingkan water footprint konsumsi tahu dan tempe dengan kelompok pangan lainnya
METODOLOGI
Berdasarkan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui Water footprint konsumsi tahu dan tempe masyarakat Kota Bandung, pendekatan ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan didukung dengan data primer dan data sekunder.
Data Primer
Pengambilan data primer adalah dengan survey kuisioner dengan teknik sampling probability sampling, yaitu Cluster sampling. Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel jika sumber data sangat luas. Wilayah yang ditetapkan sebagai wilayah sampling yaitu Kecamatan Mandalajati, Kecamatan Coblong dan Kecamatan Sumur Bandung. Pemilihan lokasi sampling ini didasarkan atas tingkat pendapatan per kapita masyarakat yang mewakili daerah dengan tingkat pendapatan rendah, menengah dan tinggi.
Survei kuesioner untuk mengetahui jumlah konsumsi pangan masyarakat Kota Bandung, Terdiri dari lima kelompok pangan, yaitu: Karbohidrat, Produk hewan, Sayur dan Buah, tahu dan tempe, kopi, teh dan gula. Pertanyaan kuisioner ini berdasarkan water footprint calculator method (Hoekstra et al., 2005) yang disesuaikan dengan pola konsumsi pangan Jawa Barat (BPS, 2011). Namun pada makalah ini hanya dibahas lebih lanjut mengenai water footprint konsumsi tahu dan tempe.
Menentukan Ukuran Sampel
Untuk menentukan jumlah sampel yang representatif digunakan metode Yamane (Israel, 1992). Rumus Yamane ditunjukkan Persamaan 1.
\[n = \frac{N}{1 + N(e)^2} \tag{1}\]
Dimana:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
e = Tingkat kesalahan pengambilan sampel yang dikehendaki (asumsi)
Jumlah penduduk Bandung pada tahun 2011 : 2.394.873 jiwa (Badan Pusat Statistik, 2011) Tingkat kesalahan pengambilan sampel (e) diasumsikan sebesar 12.5 %, sehingga:
\[n = \frac{2.394.873}{\left(2.394.973x(0,125)^2\right) + 1}\]\[n = 64\]
Dari jumlah sampel tersebut, ditambahkan 10% untuk menghindari kekurangan pengambilan sampel sehingga jumlah sampel menjadi 70. Kemudian jumlah sampel n dibagi ke 3 kecamatan yang telah dipilih sebagai lokasi sampling secara proporsional.
Data Sekunder
Data sekunder pada penelitian ini adalah nilai air maya bahan baku kedelai yang diambil dari Hoekstra dan Mekonnen (2010). Kedelai yang diproduksi di Indonesia memiliki nilai air maya sebesar 3858 liter/kg dalam kurun waktu 1996-2005. Angka ini berbeda dengan yang dikatakan oleh Bulsink et al (2009) dimana untuk water footprint produksi kedelai di Indonesia sebesar 1958 liter/kg dalam kurun waktu 2000-2004. Namun dalam penelitian ini, semua data sekunder yang berkaitan dengan nilai water footprint produk bahan pangan berasal dari Mekonnen dan Hoekstra (2010). Selain itu terdapat data sekunder lainnya seperti jumlah populasi Kota Bandung yang didapat dari Badan Pusat Statistik dan data-data penunjang lain yang terkait penelitian.
Selain itu dilakukan wawancara dan observasi langsung dengan pemilik industri tahu dan tempe yang berada di daerah Cibuntu, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Wawancara dan observasi ini dilakukan untuk mengetahui sistem produksi tahu dan tempe, jumlah bahan baku, jumlah penggunaan air dan jumlah produksi. Untuk penggunaan air dalam industri tahu dan tempe, jumlah bahan baku dan jumlah
produksi per hari menggunakan asumsi dari pemilik industri. Sedangkan untuk sistem produksi digambarkan secara garis besar berdasarkan hal-hal yang sangat berhubungan dengan penggunaan air baik secara langsung maupun tidak langsung.
Metode Perhitungan
Untuk mengestimasi nilai water footprint produk tahu dan tempe digunakan konsep water footprint bisnis yang diadaptasi dari Hoekstra (2011). Water footprint bisnis terdiri dari dua komponen utama yaitu water footprint operasional dan water footprint rantai suplai. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Menurut Ercin et al (2012) untuk mengestimasi nilai water footprint dari sebuah produk dengan konsep water footprint bisnis, hal yang pertama dilakukan adalah mengidentifikasi sistem produksi dari bisnis tersebut. Sistem produksi menunjukkan tahap proses utama selama proses produksi dan input untuk setiap tahap yang paling berhubungan dengan perhitungan water footprint produk.
Tabel 1. Komponen Water Footprint Bisnis (Hoekstra et al, 2011)
| Water footprint operasional | Water footprint rantai suplai | |||
|---|---|---|---|---|
| Water footprint yang secara langsung terkait dengan produksi produk bisnis | Overhead water footprint | Water footprint yang secara langsung terkait dengan produksi produk bisnis | Overhead water footprint | |
| • Air yang masuk ke dalam produk • Air yang dikonsumsi atau tercemar selama proses pencucian | • Konsumsi air atau pencemaran terkait penggunaan air pada dapur, toilet, dan pembersihan | • Water footprint dari bahan baku • Water footprint dari barang lain yang dibeli industry untuk memproses produk | • Water footprint dari infrastruktur • Water footprint materi dan energy untuk penggunaan umum (material kantor, mobil dan truk, bensin, listrik dan lain-lain | |
Persamaan yang digunakan untuk mengestimasi nilai water footprint industri tahu dan tempe dapat dilihat pada Persamaan 2 (Hoekstra, 2011)
\[WF_{bisnis} = WF_{bisnis,operasional} + WF_{bisnis, rantai suplai} [volume/waktu]\] (2)
Dimana WF bisnis, operasional adalah nilai water footprint pada tahap operasional dan WFbisnis,rantaisuplai adalah nilai water footprint pada tahap rantai suplai
Untuk mengestimasi WF bisnis,operasional dari industri tahu dan tempe digunakan Persamaan 3 (Hoekstra, 2011).
\[WF_{bisnis,operasional} = WF_{bis,oper,input} + WF_{bis,oper,overhead} [volume/waktu]\] (3)
Dimana WFbis,oper,input adalah water footprint yang secara langsung terkait dengan produksi produk tahu dan tempe dan WFbis,oper,overhead adalah nilai overhead water footprint pada tahap operasional.
Untuk mengestimasi WFbisnis,rantaisuplai pada industri tahu dan tempe digunakan Persamaan 4 (Hoekstra et al, 2011)
\[WF_{bis,sup,input} + WF_{bis,sup,overhead} [volume/waktu]\] (4)
Dimana WFbis,oper,input adalah Water footprint yang secara langsung terkait dengan produksi produk tahu dan tempe dan WF bis,sup,overhead adalah nilai overhead water footprint pada tahap rantai suplai.
Untuk mengestimasi WF bis,sup,input digunakan Persamaan 5 (Hoekstra et al, 2011).
\[WF_{bis,\sup,input} = \sum_{x} \left( \sum_{i} WF_{prod}[x,i] \times I[x,i] \right) [volume/waktu]\] (5)
Dimana WFprod[x,i] adalah nilai water footprint bahan baku/komponen tambahan i dari sumber x (volume/unit produk) dan I [x,i] adalah jumlah bahan baku/komponen tambahan i dari sumber x yang masuk dalam unit bisnis (unit produk/waktu).
Sedangkan untuk mengestimasi nilai water footprint dari sebuah produk tahu dan tempe digunakan Persamaan 6 (Hoekstra et al, 2011).
\[WF_{prod}[P] = \frac{WFbisnis}{P[p]}\] [volume/unit produk] (6)
Dimana WF prod[P] adalah nilai water footprint produk akhir dari sebuah bisnis (volume/unit produk), WF bisnis adalah penjumlahan nilai water footprint operasional dengan nilai water footprint [volume/waktu] dan P[p] adalah jumlah produksi produk akhir (unit produk/waktu).
Untuk mengestimasi nilai water footprint konsumsi pangan tahu dan tempe digunakan Persamaan 7 (Hoekstra, 2011).
\[WFkonsumsi = C[p] \times WFproduk[p] \text{ [volume/waktu]}\] (7)
Dimana C[p] adalah jumlah konsumsi konsumen (unit produk/waktu).
Batasan
Pada penelitian ini diasumsikan tidak ada tahap life cycle dari produk seperti transportasi, distribusi, penggunaan akhir dan pembuangan serta tidak ada overhead water footprint karena tidak berpengaruh banyak pada total water footprint produk untuk produk berbasis pangan (Ercin et al., 2012). Bahan baku yang digunakan dalam perhitungan hanya kedelai, yang diproduksi di Indonesia. Nilai water footprint produk bahan baku kedelai diambil dari Mekonnen dan Hoekstra (2010) yaitu sebesar 3858 liter/kg. Sehingga perhitungan water footprint operasional hanya dari penggunaan air secara langsung selama proses produksi dan perhitungan water footprint rantai suplai hanya dari bahan baku yaitu kedelai.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengestimasi nilai water footprint produk tahu dan tempe diidentifikasi terlebih dahulu sistem produksi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara sistem produksi tahu dan tempe dapat dilihat pada Gambar 1.
Water footprint Produk Tahu
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, industri tahu menggunakan air sekitar 10 m³/hari dalam persiapan dan proses produksi yang berasal dari air tanah. Industri tahu tersebut menggunakan bahan baku kedelai sebanyak 500 kg/hari yang dapat menghasilkan produk tahu sebanyak 900 kg/hari.
Untuk mendapatkan nilai water footprint bisnis tahap operasional menggunakan Persamaan 3. Karena diasumsikan tidak ada overhead water footprint maka nilai water footprint bisnis operasional berasal dari WF \(_{\rm bis,oper,input}\) sebesar 10 m³/hari atau 10.000 liter/hari. Angka ini diasumsikan sudah termasuk dalam air yang masuk ke dalam produk tahu, air yang menguap selama proses produksi dan air yang tercemar karena proses produksi.
Untuk mengestimasi nilai water footprint bisnis tahap rantai suplai menggunakan Persamaan 4. Namun karena diasumsikan tidak ada overhead water footprint, maka untuk mengestimasi nilai water
footprint bisnis rantai suplai berasal dari WF bis,sup,input mengikuti Persamaan 5 dimana bahan baku hanya kedelai saja, sehingga didapat nilai water footprint tahap rantai suplai sebesar 1,929 juta liter/hari.
Untuk mengestimasi nilai water footprint bisnis dari industri tahu menggunakan Persamaan 2, sehingga nilai water footprint bisnis industri tahu sebesar 1,939 juta liter/hari. Sedangakan untuk mengestimasi nilai water footprint produk tahu menggunakan Persamaan 6, sehingga nilai water footprint produk tahu sebesar 2154 liter/kg.

Gambar 1. Diagram rantai produksi tahu dan tempe di Kota Bandung
Water footprint Produk Tempe
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, industri tempe menggunakan air sekitar 4 m3 /hari dalam persiapan dan proses produksi yang berasal dari air tanah. Industri tempe tersebut menggunakan bahan baku kedelai sebanyak 400 kg/hari yang dapat menghasilkan produk tempe sebanyak 560 kg/hari.
Untuk mendapatkan nilai water footprint bisnis tahap operasional menggunakan Persamaan 3. Karena diasumsikan tidak ada overhead water footprint maka nilai water footprint bisnis operasional hanya berasal dari WF bis,oper,input sebesar 4 m3 /hari atau 10.000 liter/hari. Angka ini diasumsikan sudah termasuk dalam air yang masuk ke dalam produk tahu, air yang menguap selama proses produksi dan air yang tercemar karena proses produksi.
Untuk mengestimasi nilai water footprint bisnis tahap rantai suplai menggunakan Persamaan 4. Namun karena diasumsikan tidak ada overhead water footprint, maka untuk mengestimasi nilai water footprint bisnis rantai suplai hanya berasal dari WF bis,sup,input mengikuti Persamaan 5 dimana bahan baku hanya kedelai saja, sehingga didapat nilai water footprint tahap rantai suplai sebesar 1,543 juta liter/hari. Untuk mengestimasi nilai water footprint bisnis dari industri tempe menggunakan Persamaan 2, sehingga nilai water footprint bisnis industri tempe sebesar 1,547 juta liter/hari. Sedangakan untuk mengestimasi nilai water footprint produk tahu menggunakan Persamaan 6, sehingga nilai water footprint produk tempe sebesar 2763 liter/kg. Nilai water footprint produk tahu dan tempe selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Secara keseluruhan faktor utama yang mempengaruhi besarnya nilai water footprint produk berasal dari nilai water footprint rantai suplai, dalam penelitian ini water footprint rantai suplai hanya berasal dari kedelai. Menurut Ercin (2012) pada penelitiannya mengungkapkan bahwa 99% dari total water footprint produk berasal dari water footprint rantai suplai.
Dari dua nilai water footprint tersebut, nilai water footprint produk tempe lebih besar dibandingkan dengan nilai water footprint produk tahu walaupun nilai water footprint rantai suplai tahu lebih besar dibandingkan milai water footprint rantai suplai tempe. Hal ini dipengaruhi oleh produktivitas industri tahu yang lebih tinggi dibandingkan produktivitas industri tempe sehingga semakin tinggi produktivitas produk maka angka pembagi menjadi lebih besar (Persamaan 6).
Tabel 2. Nilai water footprint produk tahu dan tempe
| Jenis | Bahan Baku (kg/hari) | Produksi (kg/hari) | WF operasiona l (liter/hari) | WF kedelai (liter/k g) | WF rantai suplai (juta liter/hari) | WF bisnis (juta liter/hari ) | WF Produk (liter/kg ) |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tahu | 500 | 900 | 10.000 | 3858 | 1,929 | 1,939 | 2154 |
| Tempe | 400 | 560 | 4.000 | 3858 | 1,543 | 1,547 | 2763 |
Water footprint Konsumsi Tahu dan Tempe
Untuk menghitung water footprint konsumsi tahu dan tempe, yaitu dengan mengalikan nilai water footprint produk tahu dan tempe dengan jumlah konsumsi masyarakat di Kota Bandung mengikuti Persamaan 7.
Berdasarkan perhitungan data primer, rata-rata konsumsi pangan tahu masyarakat Kota Bandung sebesar 21 kg/kapita/tahun. Oleh karena itu water footprint konsumsi pangan tahu mencapai 46 m3 /kapita/tahun. Jika diasumsikan seluruh penduduk Kota Bandung memiliki pola konsumsi yang sama, dengan jumlah penduduk sebesar 2,4 juta jiwa maka nilai water footprint konsumsi pangan tahu Kota Bandung mencapai 111 juta m3 /tahun. Sedangkan untuk pangan tempe mencapai 17 kg/kapita/tahun dimana water footprint konsumsi pangan tempe mencapai 47 m3 /kapita/tahun atau sebesar 112 juta m3 /tahun untuk seluruh masyarakat Kota Bandung dengan jumlah penduduk sekitar 2,4 juta jiwa. Sebagaimana terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Water footprint konsumsi tahu dan tempe
| Jenis Pangan | Rata-rata konsumsi (Kg/kapita/tahun) | WF produk (liter/kg) | WF konsumsi (m3 /kapita/tahun) |
|---|---|---|---|
| Tahu | 21 | 2514 | 46 |
| Tempe | 17 | 2763 | 47 |
Dari Tabel 3 tersebut dapat dilihat bahwa nilai water footprint konsumsi pangan tempe lebih besar dibandingkan nilai water footprint konsumsi pangan tahu walaupun jumlah konsumsi tahu lebih besar dibandingkan jumlah konsumsi tempe. Hal ini dikarenakan nilai water footprint produk tempe lebih besar dibandingkan dengan nilai water footprint produk tahu. Sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi nilai water footprint konsumsi tahu dan tempe adalah nilai water footprint produk dan jumlah konsumsi, sesuai dengan Persamaan 7 (Hoekstra 2011).
Jika dijumlahkan maka water footrpint konsumsi pangan tahu dan tempe di Kota Bandung mencapai 93 m3 /kapita/tahun atau mencapai 223 juta m3 /tahun untuk Kota Bandung. Dengan kata lain setiap tahunnya Kota Bandung memerlukan air sebanyak 223 juta m3 /tahun untuk memproduksi tahu dan tempe untuk konsumsi masyarakat. Nilai tersebut melebihi debit tahunan Sungai Cikapundung yang merupakan salah satu sungai terbesar yang melalui Kota Bandung. Berdasarkan data dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (2014) debit tahunan Sungai Cikapundung sebesar 117 juta m3 /tahun. Dengan kata lain untuk memproduksi tahu dan tempe dari awal penanaman kedelai hingga menjadi tahu dan tempe, Kota Bandung memerlukan air sebanyak 2 kali dari banyaknya air yang ada di Sungai Cikapundung setiap tahunnya.
Perbandingan WF Konsumsi Tahu dan Tempe Dengan WF Konsumsi Produk Lainnya
Secara garis besar produk pangan pada penelitian ini dibagi dalam lima kategori, yaitu :
- 1. Karbohidrat
- 2. Produk hewan
- 3. Sayur dan buah
- 4. Tahu dan tempe
- 5. Kopi, teh dan gula
Untuk mendapatkan nilai water footprint konsumsi pangan menggunakan Persamaan 7 (Hoekstra et al., 2011) yaitu mengalikan jumlah konsumsi dengan nilai water footprint produk yang diambil dari Mekonnen dan Hoekstra (2010).
Tabel 4 menunjukkan nilai water footprint dari setiap kelompok pangan per kapita/tahun. Water footprint konsumsi tahu dan tempe lebih besar dibandingkan kelompok sayur dan buah dan kelompok kopi, the dan gula. Nilai water footprint konsumsi pangan tahu dan tempe sebesar 13% dari total nilai water footprint pangan masyakarat Kota Bandung.
Tabel 4. Nilai water footprint konsumsi per kelompok pangan
| Jenis pangan | WF konsumsi (m³/kapita/tahun) | |
|---|---|---|
| Karbohidrat | 208 | |
| Produk hewan | 286 | |
| Sayur dan Buah | 62 | |
| Tahu dan tempe | 93 | |
| Kopi, teh dan gula | 65 | |
| Total | 715 | |
Rekomendasi Penghematan Air
Penelitian ini menunjukkan seberapa besar air yang dibutuhkan oleh Kota Bandung dalam memenuhi kebutuhan konsumsi pangan tahu dan tempe yaitu sebesar 93m³/kapita/tahun atau sebesar 273 juta m³/tahun. Nilai water footprint konsumsi ini tentu saja berdampak pada ekonomi, sosial atau lingkungan seperti apa yang dikatakan oleh Hoekstra (2008). Dengan segala dampak tersebut, maka diperlukan upaya penghematan air dalam hal ini air yang dibutuhkan untuk memproduksi pangan yang dikonsumsi masyarakat. Namun dalam penelitian ini hanya akan membahas pengurangan nilai water footprint secara normatif.
Pengurangan Nilai Water footprint Produk
Untuk pengurangan nilai water footprint produk tahu dan tempe digunakan konsep pengurangan nilai water footprint bisnis. Hoekstra (2008) menyebutkan sebuah bisnis dapat mengurangi nilai water footprint dalam setiap prosesnya. Misalnya menggunakan bahan baku yang nilai water footprintnya lebih rendah, mengontrol pencemaran misalnya menggunakan wetland (Sonie dan Soewondo 2008), mengolah air yang telah digunakan agar dapat digunakan kembali dalam proses.
Pengurangan Nilai Water footprint Konsumen
Faktor utama dalam pengurangan nilai water footprint konsumsen ini adalah pola konsumsi masyarakat (Liu dan Savenije 2008). Masyarakat harus mempunyai kesadaran tentang apa yang mereka konsumsi, berapa jumlah air yang digunakan untuk memproduksi dan beberapa air yang tercemar dalam produksi barang tersebut. Hal yang dapat dilakukan konsumen, seperti yang dikatakan Hoekstra (2008) adalah: (1) Pola konsumsi yang tidak berlebihan, dengan demikian konsumen dapat menekan nilai water footprint konsumsi. (2) Mengganti produk pangan yang memiliki nilai water footprint besar dengan jenis yang berbeda yang memiliki nilai water footprint yang lebih rendah. (3) Mengganti produk pangan yang memiliki nilai water footprint yang besar dengan produk yang sama yang berasal dari sumber lain dengan nilai water footprint yang lebih kecil.
Serta pemerintah dalam pengendalian sumber air seperti pengendalian sumber air berkelanjutan dengan cara langsung (insentif dan dissentif) dan tidak langsung (UU & peraturan) seperti apa yang dikemukaan oleh Sabar (2009).
KESIMPULAN
Dengan mengikuti persamaan yang diambil dari Hoekstra (2011) estimasi nilai water footprint produk tahu sebesar 2154 liter/kg dan water footprint tempe sebesar 2763 liter/kg. bagaimanapun angka tersebut merupakan estimasi kasar, perlu adanya kajian yang lebih rinci dalam penggunaan air pada sistem produksi tahu dan tempe baik pada water footprint rantai suplai maupun water footprint operasional.
Nilai water footprint konsumsi pangan tahu mencapai 46 m3 /kapita/tahun.atau nilai water footprint konsumsi pangan tahu Kota Bandung mencapai 111 juta m3 /tahun. Nilai water footprint konsumsi pangan tempe mencapai 47 m3 /kapita/tahun atau sebesar 112 juta m3 /tahun untuk seluruh masyarakat Kota Bandung dengan jumlah penduduk sekitar 2,4 juta jiwa.
Water footprint konsumsi tahu dan tempe lebih kecil dibandingkan dengan kelompok pangan lainnya kecuali untuk water footprint konsumsi sayur dan buah. Nilai water footprint konsumsi tahu dan tempe sebesar 13% dari total keseluruhan nilai water footprint konsumsi pangan masyarakat Kota Bandung. Penghematan air dalam rangka mengurangi nilai water footprint konsumsi pangan tahu dan tempe dapat dilakukan pada tingkat konsumen dan tingkat produsen serta peran pemerintah.
