PENDAHULUAN
Pesatnya kemajuan teknologi tentunya memberikan pengaruh baik terhadap kesejahteraan masyarakat, tetapi kemajuan dan perubahan seperti ini juga bisa menimbulkan dampak negatif terhadap para pekerja maupun perusahaan. Industri manufaktur merupakan salah satu yang rentan sekali dengan kecelakaan kerja dalam skala besar. Menurut Woodside dan Kocurek (1997), industri manufaktur menempati posisi ketiga dari statistik kecelakaan fatal. PT. Z yang berada di Bekasi merupakan perusahaan industri manufaktur. PT. Z sendiri telah mempunyai prosedur kerja, namun masih terdapat beberapa kasus kecelakaan yang terjadi di perusahaan. Salah satu cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan melakukan evaluasi gaya kepemimpinan (leadership style) dan iklim keselamatan (safety climate). Brown et al (2017) dan Clarke (2013) mengemukakan bahwa leadership style dan safety climate mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pekerja gaya kepemimpinan dan iklim keselamatan mempengaruhi kesadaran pekerja terhadap keselamatan kerja. Hal yang sama juga dinyatakan dari penelitian Farag et al (2017) menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan mempengaruhi budaya keselamatan (safety culture) dan kinerja keselamatan dalam industri perawatan kesehatan. Nielsen et al (2013) melakukan analisis melalui pemodelan persamaan struktural, yang menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan pasif memiliki efek berlawanan pada iklim keselamatan dan kesadaran keselamatan. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian yang dilakukan Tucker et al (2016) memprediksi safety events dan injuries dengan kesimpulan bahwa kepemimpinan pasif memiliki efek negatif pada iklim keselamatan dan kesadaran keselamatan. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa leadership style dan safety climate yang buruk berpotensi berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan pekerja. Oleh karena itu, penilaian leadership style dan safety climate terhadap kecelakaan kerja menjadi penting untuk peningkatan sistem manajemen keselamatan di industri manufaktur, khususnya PT. Z Bekasi.
METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini, data primer berupa kuesioner dan wawancara. Data sekunder yang digunakan merupakan data yang dibutuhkan untuk mendukung analisis yang akan dilakukan pada penelitian ini, yaitu profil dan peraturan perusahaan, SOP, proses produksi, data kecelakaan kerja, dan laporan investigasi kecelakaan. Responden pada penelitian ini ialah pertama, leader yang memiliki staf tercatat pernah mengalami insiden kecelakaan kerja pada rentang tahun 2014 sampai 2016 beserta pekerja yang berada dibawah pimpinan leader tersebut dan masih bekerja pada saat penelitian ini dilakukan. Dan kedua sebagai pembanding, leader yang tidak memiliki staf tercatat pernah mengalami insiden kecelakaan kerja pada rentang tahun 2014 sampai 2016 beserta pekerja yang berada dibawah pimpinan leader tersebut dan masih bekerja pada saat penelitian ini dilakukan. Kuesioner dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan data primer.
Kuesioner yang digunakan untuk mengukur iklim keselamatan yaitu NOSACQ-50 yang terdiri dari tujuh dimensi iklim kerja dan pertanyaan tambahan yang dapat disesuaikan dengan penelitian yang akan dilakukan. Jenis-jenis pernyataan yang terdapat di kuesioner terbagi menjadi dua jenis, yaitu pernyataan positif dan negatif. Penilaian kuesioner digunakan skala Likert 4 poin dengan pernyataan sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Pengukuran gaya kepemimpinan dilakukan dengan menggunakan MLQ yang dikembangkan oleh Bass dan Avolio (1995). Kuesioner disediakan baik dalam bentuk forms penilaian untuk diri sendiri (leader) dan forms penilaian pemimpin oleh pekerja. Responden diminta untuk menilai seberapa sering perilaku yang digambarkan setiap pernyataan dilaksanakan oleh pemimpin mereka. Peringkat respon dimulai dari 0 sampai 4, dengan 0 untuk "Tidak pernah"; 1 untuk "Jarang"; 2 untuk "Netral"; 3 untuk "Sering" dan 4 untuk "Selalu".
Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan metode analisis statistik. Uji validitas dilakukan menggunakan tes KMO (Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy). Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan menggunakna teknik Alpha Cronbach. Analisis deskriptif juga dilakukan untuk menghasilkan gambaran dari data dan variabel yang telah
terkumpul berdasarkan jawaban responden. Analisa regresi logistik digunakan untuk mengetahui atau menjelaskan pengaruh variabel data kecelakaan kerja (dependent) yang bersifat kategorial.
Unit Kerja Tanggal Waktu Kejadian Cidera Hari hilang Status Kerja QA 7-Jan-14 22:30 Terjepit jig M/C Ujung jari kelingking sobek 18 hari Habis kontrak Tubemach 26-Jan-15 22:00 Terjepit clamp M/C Bulging Ujung jari telunjuk kanan 6 hari Habis kontrak Tubemach 11-Mei-15 11:40 Terkena sabetan ujung tube spinning Luka memar 6 hari Habis kontrak GIC 31-Agus-15 17:30 Terjepit tabel Jari manis dan tengah kiri memar 3 hari Habis kontrak HVAC 16-Nov-15 12:45 Jari terkena screw Luka sobek pada ujung jari telunjuk kiri 6 hari Habis kontrak
luka memar pada ujung jari telunjuk
ujung jari tengah kiri luka sobek
kanan 3 hari
6 hari
Masih kerja
Masih kerja
Tabel 1. Data kecelakaan kerja yang tercatat pada tahun 2014-2016 oleh PT. Z
HASIL DAN PEMBAHASAN
N2R 18-Nov-15 3:20 Terjepit tabel
Tubebend 9-Apr-16 0:30 Terkena chuck
Konsistensi sangat penting dalam pengambilan keputusan dan besar kecilnya konsistensi dapat diketahui melalui nilai rasio konsistensi (CR). Nilai ini menunjukkan seberapa besar responden tidak konsisten dalam melakukan penilaian perbandingan berpasangan, Setelah diketahui nilai CR setiap responden pada penilaian matriks perbandingan berpasangan untuk kiteria, subkriteria dan alternatif maka selanjutnya dicari nilai rata-rata jumlah konsistensi masing-masing responden. Rata-rata jumlah konsistensi adalah banyaknya nilai konsisten (CR<0,1) untuk matriks perbandingan pada setiap responden dibagi total matriks perbandingan berpasangan (13) pada setiap responden. Diketahui bahwa sebanyak 7 responden memiliki nilai rata-rata jumlah konsistensi <75% yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Rata-rata jumlah konsistensi responden (%)
Menurut AICHE (1992), pemilihan suatu metode identifikasi bahaya dan penerapannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lokasi suatu perusahaan yang meliputi: tipe operasi yang ada, alat dan mesin, tim K3 yang ada, pengalaman dari masing-masing personil, dll. Dalam hal ini responden melakukan penilaian berdasarkan kondisi PT X yang belum tentu sama dengan kondisi perusahaan yang lain. Selain itu ketergantungan model AHP pada input utamanya berupa persepsi seorang ahli melibatkan subyektifitas sang ahli yang dapat dipengaruhi oleh pemahaman dan keahlian, tingkat pendidikan, ataupun pengalaman responden. Hal tersebut akan menyebabkan perbedaan penilaian antara satu responden dengan responden yang lain (Saaty, 1994). Pada penelitian ini dilakukan penilaian AHP berdasarkan karakteristik responden untuk melihat bagaimana penilaian masing-masing kelompok responden terhadap alternatif.
Terjadi beberapa perbedaan penilaian antar kelompok responden terhadap alternatif pada setiap subkriteria yang ditunjukkan pada Gambar 3. Untuk tingkat ketelitian terjadi perbedaan penilaian antara kelompok responden internal dan eksternal dimana kelompok responden internal memilih JHA, sedangkan responden eksternal memilih FMEA, namun setelah semua responden digabungkan diperoleh JHA sebagai metode yang paling teliti. Untuk subkriteria kemudahan, responden internal lebih memilih what-if sedangkan responden eksternal memilih JHA, namun jika responden digabungkan akan diperoleh JHA sebagai metode yang termudah. Pada subkriteria kelebihan, responden internal lebih memilih what-if sedangkan responden eksternal memilih JHA, namun jika responden digabungkan akan diperoleh JHA sebagai metode yang memiliki paling banyak kelebihan. Pada subkriteria kekurangan, responden internal lebih memilih FMEA sedangkan responden eksternal memilih what-if, namun jika responden digabungkan akan diperoleh what-if sebagai metode yang memiliki paling sedikit kekurangan.
Pada subkriteria jumlah personil, responden internal lebih memilih FMEA sedangkan responden eksternal memilih what-if, namun jika responden digabungkan akan diperoleh what-if sebagai metode yang membutuhkan jumlah personil yang paling sedikit. Pada subkriteria dokumentasi, responden internal lebih memilih FMEA sedangkan responden eksternal memilih what-if, namun jika responden digabungkan akan diperoleh what-if sebagai metode yang membutuhkan persyaratan dokumentasi yang paling sedikit.

Gambar 3. Penilaian antar kelompok responden berdasarkan subkriteria
Selanjutnya dilakukan analisis mengenai bobot keseluruhan alternatif untuk mengetahui penilaian masing-masing kelompok responden terhadap bobot keseluruhan alternatif. Terjadi perbedaan hasil penilaian bobot keseluruhan alternatif seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Responden internal PT X terdiri dari 3 karyawan yang bekerja di area produksi PT X, dimana 2 orang memiliki usia pengalaman kerja lebih dari 10 tahun dengan tingkat pendidikan SMK, dan 1 karyawan memiliki pengalaman kerja kurang dari 5 tahun dengan pendidikan terakhir S1. Dari hasil penilaian diketahui bahwa JHA memiliki bobot terbesar (0,376), disusul oleh FMEA (0,352), dan what-if (0,265). Responden menilai bahwa JHA adalah prioritas utama sebagai metode identifikasi bahaya yang dapat diterapkan di PT X, dimana subkriteria ketelitian memiliki bobot terbesar (0,155) yang merupakan keunggulan dari metode JHA.
Responden eksternal PT X adalah orang-orang yang berprofesi di bidang K3 di luar PT X baik praktisi K3 ataupun karyawan industri. Total responden sebanyak 37 orang, dimana responden dengan latar belakang pendidikan S1 sebanyak 21 orang, S2 sebanyak 7 orang, D3 sebanyak 6 orang, dan SMK sebanyak 3 orang. Responden dengan usia pengalaman kerja kurang dari 5 tahun sebanyak 19 orang, pengalaman kerja antara 5 sampai dengan 10 tahun sebanyak 14 orang, dan pengalaman kerja lebih dari 10 tahun sebanyak 4 orang. Dari hasil penilaian responden eksternal PT X terhadap penentuan keseluruhan bobot masing-masing alternatif, diketahui bahwa what-if memiliki bobot terbesar (0,380), disusul oleh JHA (0,357), dan FMEA (0,263). Responden menilai bahwa what-if adalah prioritas utama sebagai metode identifikasi bahaya yang dapat diterapkan di PT X. Keunggulan dari metode what-if dapat dilihat dari nilai bobot subkriteria yang tertinggi, yaitu biaya yang dikeluarkan (0,041), waktu analisis (0,051), jumlah personil tim (0,040), dokumentasi (0,060), dan keahlian tim yang diperlukan (0,111).
Hasil penilaian AHP berdasarkan responden internal dan eksternal digabungkan, dan dihitung total bobot keseluruhan masing-masing alternatif dan diperoleh hasil bahwa what-if memiliki bobot terbesar (0,378), disusul oleh JHA (0,357), dan FMEA (0,265). Responden menilai bahwa what-if adalah prioritas utama sebagai metode identifikasi bahaya yang dapat diterapkan di PT X. Keunggulan dari metode what-if dapat dilihat dari nilai bobot subkriteria yang tertinggi, yaitu biaya yang dikeluarkan (0,039), waktu analisis (0,047), jumlah personil tim (0,038), dokumentasi (0,063), dan keahlian tim yang diperlukan (0,109).

Gambar 4. Penilaian antar kelompok responden terhadap bobot keseluruhan alternatif
Selanjutnya dilakukan penilaian AHP untuk melihat bagaimana penilaian responden internal dan eksternal PT X terhadap penentuan keseluruhan bobot masing-masing alternatif berdasarkan tingkat pendidikan dan usia pengalaman kerja.
Persepsi ahli dalam menentukan metode identifikasi bahaya melalui penilaian AHP dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan usia pengalaman kerja, hal ini dapat dilihat dari hasil penilaian AHP antar kelompok responden berdasarkan tingkat pendidikan yang ditunjukkan pada Gambar 5 dan usia pengalaman kerja yang ditunjukkan pada Gambar 6. Setiap kelompok responden memberikan penilaian bobot keseluruhan yang berbeda-beda pada setiap alternatif. Diketahui bahwa terjadi kesamaan persepsi pada tingkat pendidikan S1, S2, dan D3 dimana metode yang terpilih adalah metode what-if. Namun berbeda dengan persepsi dari responden untuk tingkat pendidikan SMK, dimana metode yang terpilih adalah JHA.

Gambar 5. Penilaian antar kelompok responden terhadap bobot keseluruhan alternatif berdasarkan tingkat pendidikan

Gambar 6. Penilaian antar kelompok responden terhadap bobot keseluruhan alternatif berdasarkan usia pengalaman kerja
Untuk hasil penilaian respoden berdasarkan usia pengalaman kerja, responden dengan usia pengalaman 5 sampai dengan 10 tahun memiliki kesamaan persepsi dengan responden dengan usia pengalaman lebih dari 10 tahun, dimana metode what-if dipilih sebagai metode yang dapat diterapkan di PT X. Namun terjadi perbedaan persepsi dengan responden pada usia pengalaman kerja kurang dari 5 tahun, dimana metode yang terpilih adalah metode JHA.
Setelah penilaian AHP dilakukan dan diperoleh nilai bobot dari masing-masing alternatif, kemudian dilakukan pengambilan keputusan untuk metode yang akan diterapkan pada PT X, dimana pengambilan keputusan diserahkan kepada pihak PT X dalam hal ini adalah kordinator K3. Hasil keputusan yang diperoleh dari PT X, bahwa dengan melihat analisis AHP berdasarkan jumlah responden terbanyak yang mewakili responden internal dan eksternal PT X serta melihat nilai bobot alternatif metode terbesar berdasarkan hasil penilaian AHP dengan nilai jumlah ratarata konsistensi responden ≥ 75% untuk 40 responden, dimana what-if memiliki bobot terbesar yaitu 0,378. Maka what-If menjadi alternatif utama metode identifikasi bahaya yang dapat diterapkan di PT X.
Untuk kondisi PT X saat ini, kriteria persyaratan teknis yang dibutuhkan menjadi prioritas utama dalam memilih metode identifikasi bahaya seperti terlihat pada Gambar 7 dengan bobot 40.5%. Namun apabila terjadi perubahan kondisi pada PT X sehingga mempengaruhi preferensi terhadap masing-masing kriteria, maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut. Analsis dilakukan dengan metode Dynamic Sensitivity yang terdapat pada Software Expert Choice 11.
Gambar 7. Dynamic sensitivity tanpa peningkatan preferensi
Jika diasumsikan terjadi peningkatan preferensi kriteria sumber daya yang dibutuhkan sedemikian rupa sehingga secara kuantitif nilai bobotnya menjadi 50,1% dari preferensi awal 28,5% yang ditunjukkan pada Gambar 8, ternyata what-if tetap memiliki bobot tertinggi yaitu 39,2%. Hal ini berarti peningkatan preferensi dari kriteria sumber daya yang dibutuhkan akan tetap memberikan bobot yang terbesar bagi metode what-if sama halnya dengan persyaratan teknis. Namun bila terjadi peningkatan preferensi bobot kriteria keunggulan dan keterbatasan metode identifikasi bahaya menjadi 40,3% dari preferensi awal 31.0% seperti yang ditampilkan pada Gambar 9, maka akan memberikan hasil bobot yang sama antara JHA dan what-If sebesar 36,2%, hal ini berarti peningkatan preferensi di atas 40,3% pada kriteria keunggulan dan keterbatasan metode akan menjadikan JHA sebagai prioritas utama untuk diterapkan pada PT X.
| File Options Window | |
|---|---|
| 21.6% 1.Keunggulan dan keterbatasan metode identifkasi bahaya | 35.4% JHA |
| 50.1% 2.Sumber daya yang dibutuhkan K2 | 39.2% What-if |
| 28.3% 3.Persyaratan teknis yang dibutuhkan K3 | 25.4% FMEA |
Gambar 8. Dynamic Sensitivity terhadap peningkatan preferensi sumber daya yang dibutuhkan

Gambar 9. Dynamic Sensitivity terhadap peningkatan keunggulan dan keterbatasan
KESIMPULAN
Terjadi perbedaan hasil penilaian antara kelompok responden internal dan eksternal dalam pemilihan metode identifikasi bahaya, dimana kelompok responden internal memilih metode JHA sedangkan responden eksternal memilih metode what-if sebagai metode yang dapat diterapkan pada PT X. Hasil penilaian responden berdasarkan tingkat pendidikan, terjadi kesamaan penilaiaan pada tingkat pendidikan S1, S2, dan D3 dimana metode yang terpilih adalah metode what-if. Namun berbeda dengan hasil penilaian dari responden dengan tingkat pendidikan SMK yang mana metode yang terpilih adalah JHA. Hasil penilaian respoden berdasarkan usia pengalaman kerja, responden dengan usia pengalaman kerja 5 sampai dengan 10 tahun memiliki kesamaan penilaian dengan responden dengan usia pengalaman kerja lebih dari 10 tahun, dimana metode what-if dipilih sebagai metode yang dapat diterapkan di PT X. Namun terjadi perbedaan
hasil penilaian dengan responden pada usia pengalaman kerja kurang dari 5 tahun, dimana metode yang terpilih adalah metode JHA.
Perbedaan penilaian antar kelompok responden dapat terjadi dikarenakan pemilihan suatu metode identifikasi bahaya dan penerapannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lokasi suatu perusahaan yang meliputi: tipe operasi yang ada, alat dan mesin, tim K3 yang ada, pengalaman dari masing-masing personil, dll (AICHE,1992). Selain itu menurut Saaty (1994), ketergantungan model AHP pada input utamanya berupa persepsi seorang ahli melibatkan subyektifitas sang ahli yang dapat dipengaruhi oleh pemahaman dan keahlian, tingkat pendidikan, ataupun pengalaman responden. Sehingga dapat terjadi perbedaan penilaian antara satu responden dengan responden yang lain.
What-if menjadi alternatif metode yang terpilih untuk diterapkan pada PT X, hal ini berdasarkan penilaian dari jumlah responden terbanyak yang mewakili responden internal dan eksternal PT X (nilai jumlah rata-rata konsistensi responden ≥ 75%) serta melihat nilai bobot alternatif metode terbesar, dimana what-if memiliki bobot 0,378 . Keunggulan dari metode whatif yaitu: biaya yang dikeluarkan paling murah, waktu analisis paling cepat, jumlah personil tim dan persyaratan dokumentasi yang dibutuhkan paling sedikit, dan keahlian tim yang diperlukan paling minim dibandingkan dengan metode JHA dan FMEA.
