PENDAHULUAN
Sungai Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Panjang aliran sungai Citarum sekitar 300 km. Hulu Citarum berawal dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung dan berakhir sungai ini bermuara di ujung Karawang. Luas Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu 6.614 km2 . Populasi yang dilayani sebesar 25 Juta (15 Juta Jawa Barat, 10 Juta DKI). Populasi Penduduk di sepanjang sungai (Data BPS 2009) 15.303.758. Tiga waduk buatan yaitu Saguling (1986) berkapasitas 982 juta m3 , Cirata (1988) berkapasitas 2.165 juta m3 dan Jatiluhur (1963) berkapasitas 3.000 juta m3 . Pembangkit listrik tenaga air di ketiga waduk tersebut menghasilkan daya listrik sebesar 1.400 MW.
Sumber pencemar potensial di Sungai Citarum adalah: rumah tangga, pertanian, jasa (Rumah Sakit/Puskesmas, restoran, hotel, laundry) dan industri. Permasalahan limbah Sungai Citarum sudah dimulai dari daerah hulu. Kegiatan peternakan sapi yang berkembang di daerah dataran tinggi sebelah Utara dan Selatan Kota Bandung seperti Lembang dan Pengalengan menyumbang limbah kotoran setidaknya 400 ton per hari. Limbah ini dihasilkan dari sekitar 29.000 ekor sapi yang dimiliki oleh 7.000 orang peternak dimana pengelolaan limbah kotoran sapi (rata-rata 15 kg/ekor/hari) belum ditangani dengan optimal dan langsung digelontorkan ke Sungai Citarum melalui saluran-saluran pembuangan.
Hasil pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa sampai saat ini kondisi kualitas air Sungai Citarum belum dapat memenuhi baku mutu air yang telah ditetapkan di sepanjang tahun, terutama pada musim kemarau (SK. Gubernur Jabar No. 39/2000). Berdasarkan hasil penelitian Pusat Litbang Sumber Daya Air (PUSAIR) dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Prov. Jawa Barat Th. 2001, terjadinya penurunan kualitas air tersebut yang disebabkan oleh peningkatan beban pencemaran dari berbagai sumber pencemar yang berasal dari populasi penduduk, perkembangan industri, ekstensifikasi dan intensifikasi lahan pertanian, pengembangan perikanan, populasi ternak serta eksplorasi bahan tambang /galian C.
Saat ini penelitian sungai Citarum banyak berfokus pada wilayah hulu, sedangkan dalam pengelolaan sungai diperlukan penelitian yang terpadu, baik wilayah hulu dan hilir. Sungai Citarum hilir berada di Kabupaten Karawang yang merupakan kota Industri. Berdasar data Karawang Dalam Angka (KDA) 2014 tercatat jumlah Industri mencapai 9.963 unit usaha di tahun 2013 meningkat 0,43% dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 9.707 unit usaha. Pengelompokan industri didasarkan pada jenis produksi, yaitu logam mesin & rekayasa, aneka elektronika, tekstil, alat angkut, kimia, agro, pulp & kertas dan hasil hutan. Limbah BOD yang dihasilkan dari kegiatan industri 13.590,45 Kg/hari dari total 77.329,70 kg/hari (SLH Karawang, 2013).
Berdasarkan data di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting perairan Sungai Citarum hilir berdasarkan parameter kimia secara umum, mengidentifikasi beban pencemaran organik berupa BOD dari Non Point Source dan Point Source. Menghitung daya tampung/kemampuan badan air sungai Citarum Hilir dalam menerima beban pencemar pada saat debit minimum dan maksimum dengan software WASP.
Ruang lingkup studi penelitian ini adalah sungai Citarum hilir yang melewati kota Karawang. Kondisi eksisting Sungai Citarum Hilir diketahui dengan membandingkan hasil analisa kualitas air dengan PP No. 82/2001 tentang pengelolaan kualitas Air. Status mutu air Sungai menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) yang mengacu kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air (KLH 2003). Daya tampung beban cemaran di sungai Citarum Hilir dihitung berdasarkan cemaran BOD menggunakan software WASP. Pedoman penetapan daya tampung beban pencemaran pada sumber air menggunakan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010 tentang tata laksana pengendalian pencemaran air
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Pengambilan Sampel
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kualitas sungai Citarum hilir melalui parameter fisik dan kimia. Lokasi Penelitian berada di wilayah Citarum hilir (Bendungan Walahar – Jl. Rumah Sakit) dengan 7 titik stasiun sampling dan total panjang 17,7 km. Titik pengambilan sampel dipilih dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti faktor geografi seperti topografi dan pertimbangan historis seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian
Metode Pengumpulan Sampel Air Sungai
Sebanyak 7 sampel air pada sungai Citarum hilir (01-April 2016) diambil pada waktu satu hari. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grap sample (contoh sesaat) yaitu sampel air satu kali pengambilan dari satu lokasi. Alat yangdigunakan untuk pengambilan sampel air adalah botol plastik dengan pemberat.
Analisis Sample Air Sungai
Analisis konsentrasi masing-masing parameter fisika (Suhu, TDS, Kekeruhan) dan kimia (pH, DO, KBOD, NH3, NO2, dan NO3) dilakukan di Laboratorium Perum Jasa Tirta II.
Pengukuran Hidrologi dan Geometri Sungai
Karakteristik hidrogeometri sungai yang diukur antara lain kedalaman sungai (H) yang diukur dengan menggunakan meteran yang diberi pemberat, lebar sungai (B) diukur dari jembatan dengan menggunakan meteran sedangkan kecepatan sungai (V) diukur dengan menggunakan metode apung. Untuk memperoleh nilai luas penampang sungai, kemiringan dilakukan dengan perhitungan, sedangkan debit diperoleh dari laporan debit Perum Tarum Perum Jasa Tirta II tahun 2000-2015.
Analisis Kondisi Eksisting Air Sungai
Analisa kondisi eksisting sungai Citarum hilir dilakukan dengan membandingkan hasil analisa laboratorium dengan Baku Mutu Air (BMA) pada PP No. 82/2001 tentang pengelolaan kualitas Air. Penentuan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) yang mengacu kepada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air (KLH 2003). Persamaan yang digunakan untuk menentukan nilai Indeks Pencemaran (IP).
\[IPj = \frac{\sqrt{\left(Ci/Lij\right)_{M}^{2} + \left(Ci/Lij\right)_{R}^{2}}}{2} \tag{1}\]
Dimana Lij= konsentrasi parameter kualitas air yang tercantum dalam baku mutu peruntukan air (j); Ci= konsentrasi parameter air hasil pengukuran; IPj= Indeks pencemaran bagi peruntukan (j); (Ci/Lij)M = Nilai Ci/Lij maksimum; (Ci/Lij)R = Nilai Ci/Lij rata-rata. Hubungan antara nilai Indeks Pencemaran dengan mutu perairan adalah 0-1,0 untuk kondisi baik; 1,1-5,0 untuk kondisi tercemar ringan; 5,0-10,0 untuk kondisi tercemar sedang dan nilai IP diatas 10,0 untu tercemar berat.
Analisis Potensi Sumber Pencemar
Identifikasi dan analisis potensi sumber pencemar dilakukan dengan pendekatan Rapid Assesment (WHO, 1993 dalam Heny, 2013) dan metode identifikasi dan iventarisasi Permen LH No.01 Tahun 2010 Tentang Tata Laksana Pengendalian Pencemaran Air. Pencemaran yang dianalisis adalah yang berasal dari Non Point Source (NPS) berupa limbah domestik, pertanian dan peternakan dan Point Source (PS) berupa air limbah Industri. Data industri diperoleh dari daftar perusahaan yang berhubungan dengan pencemaran air (BLH Karawang, 2014) dan komposisi limbah diperoleh dari laporan mutu limbah industri di Karawang (Kementrian Lingkungan Hidup, 2016).
PemodelanWASP
Model matematika adalah formulasi ideal yang mampu mewakili response dari sistem fisik untuk stimulasi eksternal (Chapra,1997). Pemodelan kualitas air dilakukan dengan perangkat lunak Water Analysis Simulation Program (WASP) 7.5. WASP memberikan fleksibility dan kemudahan bagi pengguna (Chen dkk, 2012). Penggunaan sistem koordinat seperti yang ditunjukkan dalam persamaan umum keseimbangan massa, di mana koordinat x dan y berada di bidang horizontal, dan koordinat z adalah dalam bidang vertikal seperti ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Sistem koordinat persamaan neraca massa
Persamaan umum keseimbangan massa pada sekitar volume cairan yang terbatas ditunjukkan pada persamaan berikut:
\[\frac{\partial c}{\partial t} = -\frac{\partial}{\partial x}(U_x C) - \frac{\partial}{\partial y}(U_y C) - \frac{\partial}{\partial z}(U_z C) + \frac{\partial}{\partial x}(E_x \frac{\partial C}{\partial x}) + \frac{\partial}{\partial y}(E_y \frac{\partial C}{\partial y}) + \frac{\partial}{\partial z}(E_z \frac{\partial C}{\partial z}) + S_z + S_B + S_k\] (2)
Di mana: C = konsentrasi bagian kualitas air (mg/L atau g/m3 ), T = waktu (hari), Ux,Uy,Uz = kecepatan adveksi longitudinal, lateral, dan vertikal (m/hari), Ex,Ey,Ez = kecepatan dispersi longitudinal, lateral, dan vertikal (m/hari), Sz = laju beban langsung dan menyebar (g/m3 -hari), SB = laju batas pembebanan (termasuk hulu, hilir, bentik, dan atmosfer) (g/m3 -hari), SK = laju transformasi kinetik total, tanda positif adalah sumber, negatif adalah sink (g/m3-hari) (Hidriani, 2013).
Kalibrasi dan Verifikasi
Evaluasi dari goodness-of-fit atau uji kecocokan model antara data lapangan dengan data model menggunakan RooT Mean Square of Error (RMSE) dan Relative Error (RE) (Chuersuwan, 2013). Persamaan RSME dan RE adalah sebagai berikut:
\[RMSE = \left\{ \frac{\sum (Co - Cs)^2}{N} \right\}^{0.5}\] \[RE = \left\{ \frac{\sum (\frac{Co - Cs}{Co})^2}{N} \right\}^{0.5}\] (3)
Dimana Cs adalah nilai model, Co adalah nilai observasi dan N adalah banyaknya data penelitian.
Analisis Debit Andalan
Analisis debit andalan sungai Citarum hilir dilakukan menggunakan SNI 6738-2014: Perhitungan debit andalan dengan metode kurva durasi debit data. Data yang digunakan adalah data pemantauan debit harian pada Perum Tarum II Jasa Tirta pada sektor bendungan Walahar selama 16 tahun (2000-2015).
Simulasi Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBD)
Simulasi Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBD) dilakukan dengan mensimulasi model dengan variasi debit andalan pada debit minimum dan maksimum, serta modifikasi penambahan dan pengurangan beban pencemaran. Daya tampung Beban Pencemaran (DTBP) dapat dihitung dengan cara sederhana yaitu dengan persamaan neraca massa (Wiwoho, 2005) sebagai berikut :
DTBP = Beban Pencemaran Sesuai BMA – Beban Cemaran Terukur (4)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Eksisting Sungai Karawang
Evaluasi kondisi eksisting sungai Citarum hilir di Karawang dilakukan dengan membandingkan hasil analisa laboratorium pada 7 stasiun titik sampling dengan kualitas air pada PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Baku Mutu Air (BMA). Hal ini ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kondisi Eksisting dan Standar Baku Mutu Air (PP No.82/2001, dan SK Gubernur Jabar No.39/2000)
| No. | Lokasi | Parameter | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Suhu | TDS | Kekeruhan | pH | NH3 | NO2 | NO3 | DO | BOD5 | ||
| 1 | Stasiun 1 | 33 | 235 | 52 | 7 | 0,004 | 0,02 | 0,1 | 6 | 3 |
| 2 | Stasiun 2 | 33 | 195 | 39 | 7 | 0,01 | 0,02 | 0,1 | 5 | 3 |
| 3 | Stasiun 3 | 33 | 110 | 48 | 7,1 | 0,01 | 0,03 | 0,1 | 5 | 4 |
| 4 | Stasiun 4 | 33 | 578 | 106 | 7,8 | 16 | 0,03 | 0,1 | 4 | 9 |
| 5 | Stasiun 5 | 33 | 1160 | 68 | 8,0 | 39 | 0,04 | 0,2 | 3,2 | 14 |
| 6 | Stasiun 6 | 33 | 200 | 79 | 7,1 | 0,03 | 0,05 | 0,1 | 4 | 6,4 |
| 7 | Stasiun 7 | 32 | 205 | 157 | 7,1 | 0,01 | 0,05 | 0,1 | 4 | 4 |
| Kelas I | 1000 | 6-9 | 0,02 | 0,06 | 10 | 6 | 2 | |||
| Kriteria | Kelas II | 6-9 | - | 0,06 | 10 | 4 | 3 | |||
| Mutu | Kelas III | 6-9 | - | 0,06 | 20 | 3 | 6 | |||
| Air | Kelas IV | 5-9 | - | 0,06 | 20 | 0 | 12 | |||
Suhu merupakan salah satu parameter air yang sering diukur, karena kegunaannya dalam mempelajari proses fisika, kimia dan biologi. Suhu air pada aliran sungai dapat berubah-ubah terhadap keadaan ruang dan waktu. Hasil pengukuran suhu pada 7 stasiun sampling berkisar antara 32-33oC. Suhu pada 7 stasiun sampling menunjukkan 1 sampai 2 derajat lebih tinggi dibandingkan standar suhu optimal untuk kehidupan perairan. Hal ini dapat disebabkan kisaran waktu pengukuran pada waktu siang hari yang cerah pada lapisan permukaan air.
Hasil pengukuran pH pada 7 stasiun sampling berada pada kisaran 7-8 cenderung basa dan berada pada kisaran baku mutu air kelas II (6-9) PP No.82 Tahun 2001. Air dengan nilai pH sekitar 6,5 – 7,5 merupakan air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan. Menurut Mahyudin (2015), peningkatan nilai derajad keasaman atau pH dipengaruhi oleh limbah organik maupun anorganik yang di buang ke sungai. Pengukuran amonia bebas pada stasiun 5 mencapai 39 mg/l. Menurut Effendi (2003), kadar ammonia pada perairan alami biasanya kurang dari 0,1 mg/l. Kadar ammonia bebas yang tidak terionisasi (NH3) pada perairan tawar sebaiknya tidak melebihi 0,02 mg/l. Kadar ammonia yang tinggi dapat diindikasikan pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, limbah industri, maupun limpasan pupuk pertanian.
Nilai DO pada hasil penelitian pada 7 stasiun sampling berkisar antara 3,2 mg/l-6mg/l dengan nilai DO rata-rata 4,6 mg/l. DO tertinggi berada pada stasiun 1 yang merupakan bendungan walahar, sedangkan DO terendah ada pada stasiun 5 dengan nilai DO 3,2 mg/l. Nilai DO rata-rata tersebut masih memenuhi kriteria mutu air kelas II yang mempersyaratkan nilai DO minimum 4 mg/l. Nilai BOD antar titik pengamatan sangat beragam. Nilai BOD berkisar antara 3 mg/l - 14 mg/l dengan rata-rata 4,85 mg/l. Nilai BOD yang berada pada 10-20 mg/l dapat mengindikasikan suatu pencemaran air tingkat sedang (Salmin, 2005).
Status Mutu Sungai Citarum Hilir di Kota Karawang
Status mutu air pada tiap-tiap stasiun sampling dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP).

Gambar 3. Sebaran indeks pencemaran Sungai Citarum hilir
Perhitungan Indeks pencemaran menunjukkan bahwa rata-rata nila IP pada stasiun 1 sampai dengan stasiun 7 adalah 3,29 dalam katori tercemar ringan. Nilai IP terendah terdapat pada stasiun 1 (bendungan walahar) katagori bersih dan tertinggi pada stasiun 5 katagori tercemar berat. Indeks pencemaran sungai citarum hilir pada 7 lokasi sampling cenderung mengalami fluktuasi. Hal ini berkaitan dengan penggunaan lahan, aktivitas masyarakat serta jarak pengambilan dari tiap lokasi (Hasibuan, 2013).
Estimasi Beban Pencemaran Sungai Citarum Hilir
Berdasarkan sumbernya, sumber limbah terbagi menjadi sumber tertentu (Point Souces) yang merupakan aliran limbah domestik yang sudah terpadu, atau aliran limbah industri dan sumber tak tentu (Non Point Sources) yang berasal dari aliran limbah pemukiman di indonesia pada umumnya, aliran limbah pertanian, peternakan dan kegiatan kecil menengah.
| Lokasi | Jarak | Limbah BOD (Kg/hari) | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (Km) | Domestik | Pertanian | Peternakan | Industri | |||
| Segmen 1 | 2,490 | 126,55 | 0,01 | 0,71 | 8200,00 | ||
| Segmen 2 | 3,244 | 87,46 | 0,00 | 2,76 | 16,34 | ||
| Segmen 3 | 3,594 | 182,91 | 0,10 | 1,98 | 3232,51 | ||
| Segmen 4 | 1,84 | 192,53 | 0,10 | 4,74 | 4835,72 | ||
| Segmen 5 | 6,532 | 835,92 | 2,19 | 7,43 | 1175,00 | ||
| Jumlah | 17,7 | 1425,38 | 2,40 | 17,63 | 17459,57 | ||
| Prosentase (%) | 7,54 | 0,01 | 0,09 | 92,35 | |||
Tabel 2. Limbah BOD dari non point source dan point source
Berdasarkan pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa hasil limbah BOD berdasar dari aktivitas domestik, pertanian, peternakan dan industri. Dimana limbah industri menempati prosentase tertinggi sebesar 92,35% dalam menyumbang limbah BOD ke sungai Citarum hilir, sedangkan aktivitas penduduk/domestik menempati peringkat ke-2 setelah industri dengan prosentase sebesar 7,54%. Tingginya limbah industri dikarenakan berdasar data dari daftar perusahaan yang berhubungan dengan pencemaran air (BLH Karawang, 2014) sebanyak 42
perusahaan membuang limbah ke sungai Citarum dan 26 diantaranya berada pada segmen penelitian.
Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) Sungai Kondisi Hidrolika dan Debit Air Sungai
Debit andalan merupakan debit yang diharapkan dengan probabilitas tertentu. Penghitungan data debit andalan sungai dengan mengambil data debit harian dari Perum Tarum yang berada di Bendungan Walahar selama 16 tahun dengan probabilitas 60%, 70%, 80% dan 90%.

Gambar 4. Debit Andalan Sungai Citarum Hilir Tahun 2000-2015
Debit andalan pada probabilitas 70% terendah terdapat pada bulan juli sebesar 1,6 m3/detik dan 80% terendah terdapat pada beberapa bulan Maret, Juni, Juli, Agustus, September, dan Oktober 1.2 m3 /detik, sedangkan untuk probablilitas 90% ada pada Bulan Juli, yaitu 0,2 m3/detik.
Model dan Kalibrasi
Uji kecocokan model antara data lapangan dengan data model (kalibrasi) menggunakan RooT Mean Square of Error (RMSE) dan Relative Error (RE).

Gambar 5. Grafik kalibarasi BOD
Hasil kalibrasi BOD pada Gambar 5 memperlihatkan hasil RSME adalah 1,47 mg/l dan RE adalah 21,8% artinya model memiliki eror yang cukup baik. Tingginya nilai RE dapat disebabkan adanya pembagian segmen yang tidak merata dan estimasi perhitungan limbah yang masuk ke segmen. Hal senada terjadi pada penelitian sungai di Lamtakkong Thailand menggunakan WASP menunjukkan nilai RSME 1,5 mg/l dengan nilai RE sebesar 35%, tingginya nilai RE akibat dari ketidakunikan segmen dan perhitungan dalam mengestimasi limbah (Chuersuwan, 2013).
Simulasi BOD pada berbagai Debit Andalan
Konsentrasi BOD eksisting disimulasikan pada berbagai debit andalan dan dibandingkan dengan kriteria mutu air sungai kelas I sampai IV. Simulasi BOD dilakukan pada variasi debit andalan Q70%.

Gambar 6. Simulasi BOD pada Berbagai Debit Andalan
Hasil simulasi memperlihatkan bahwa semakin besar debit sungai, maka nilai BOD semakin menurun. Nilai rata-rata BOD sungai Citarum hilir pada debit andalan minimum (1,6m³/detik) 75,7 mg/L dan pada debit andalan maksimum (42,5m³/detik) 6,29 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan debit di sungai sangat berpengaruh terhadap penurunan nilai BOD, penurunan nilai BOD pada musim hujan (maksimum) mencapai 91,8 % dari musim kemarau (minimum).
Simulasi BOD pada Debit Andalan Minimum
Sungai Citarum hilir mengalami debit andalan minimum pada bulan Juli sebesar 1,6 m³/detik. Debit ini selanjutnya disebut sebagai debit minimum dan digunakan dalam simulasi untuk mendapatkan nilai BOD.

Gambar 7. Nilai BOD pada debit minimum
Hasil simulasi pada debit minimum nampak bahwa nilai BOD tidak memenuhi kriteria mutu air sungai kelas I, II, III dan IV sepanjang 17,7 km (Bendungan Walahar-Jl.Rumah Sakit). Hal ini menunjukkan bahwa pada musim kemarau sungai mengalami debit kritis, sehingga sudah tidak mampu menerima beban pencemaran BOD baik dari point source maupun non point source.
Simulasi BOD pada Debit Andalan Maksimum
Sungai Citarum hilir mengalami debit andalan maksimum pada bulan Januari sebesar 42,5 m3/detik.

Gambar 8. Nilai BOD pada debit maksimum
Hasil simulasi pada debit maksimum pada Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai BOD yang memenuhi kriteria mutu air sungai kelas III adalah sepanjang 9,328 km. Nilai BOD dari hasil simulasi ini selanjutnya digunakan untuk menetapkan beban pencemaran dan daya tampung beban pencemaran pada Tabel 2.
Beban Pencemaran (BP) BOD Sungai Citarum hilir pada debit maksimum berkisar antara 19.215,94 kg/hari – 27.298,75 kg/hari, sedangkan BP yang diijinkan untuk sungai kelas I, II, III dan IV berturut-turut adalah 7.344 kg/hari, 11.016 kg/hari, 22.032 kg/hari dan 44.064 kg/hari.
Tabel 2. Daya tampung beban pencemaran BOD pada debit maksimum
| Jarak (km) | Beban Pencemaran | Daya Tampung Beban Pencemaran (DTBP) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lokasi | BOD (Kg/hari) | Kelas I | Kelas II | Kelas III | Kelas IV | |||
| Segmen 1 | 2,490 | 19.215,94 | -11.871,94 | -8.199,94 | 2.816,06 | 24.848,06 | ||
| Segmen 2 | 3,244 | 19.232,10 | -11.888,10 | -8.216,10 | 2.799,90 | 24.831,90 | ||
| Segmen 3 | 3,594 | 22.463,83 | -15.119,83 | -11.447,83 | -431,83 | 21.600,17 | ||
| Segmen 4 | 1,84 | 27.298,75 | -19.954,75 | -16.282,75 | -5.266,75 | 16.765,25 | ||
| Segmen 5 | 6,532 | 27.298,75 | -19.954,75 | -16.282,75 | -5.266,75 | 16.765,25 | ||
Jika dibandingkan dengan BP yang diijinkan untuk sungai kelas I dan II, maka seluruh segmen Sungai Citarum hilir tidak memiliki DTBP baik kelas I dan kelas II. Sedangkan jika dibandingkan dengan BP yang diijinkan untuk kelas III dan IV, lokasi yang memiliki DTBP adalah segmen 1 (Bendungan Walahar) sebesar 2.816,06 Kg/hari (2,49 Km) dan segmen 2 sebesar 2.799,90 Kg/ hari (3,244 km). Peningkatan debit berdampak pada peningkatan kualitas Sungai Citarum. Pada saat debit minimum (1,9m3 /detik) dinaikan menjadi debit maksimum (42,5m3 /detik), lokasi sungai yang memenuhi sungai kelas III meningkat 32,39 % dari 0 km menjadi 5,734 km, dan yang memenuhi sungai kelas IV meningkat 100% dari 0 km menjadi 17,7 km.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi eksisting, parameter BOD, COD, senyawa Amonia, Nitrit, Nitrat, pH, TDS dan kekeruhan tidak memenuhi kriteria mutu air kelas II. Nilai Indeks Pencemaran sungai Citarum hilir (Bendungan Walahar-Jl. Rumah Sakit) berstatus cemar ringan sampai berat. Terendah terdapat pada stasiun 1 (bendungan walahar) katagori bersih dan tertinggi pada stasiun 5 katagori tercemar berat. Hasil analisa pada beban pencemaran menunjukkan bahwa limbah Industri menempati prosentase tertinggi sebesar 92,35%, ktivitas penduduk/domestik sebesar 7,54%, peternakan 0,09% dan pertanian 0,01%. Berdasarkan hasil pemodelan WASP, menunjukkan bahwa Sungai Citarum hilir pada kondisi debit minimum (1,6 m3/s) di musim kemarau tidak memiliki daya tampung beban pencemaran (DTBP) untuk parameter BOD. Pada saat debit minimum (1,6 m3/detik) dinaikan menjadi debit maksimum (42,5 m3/detik), lokasi sungai yang memenuhi sungai kelas III meningkat 32,39 % dari 0 km menjadi 5,734 km, yang memenuhi sungai kelas IV meningkat 100% dari 0 km menjadi 17,7 Km.
