PENDAHULUAN
Berdasarkan informasi dari Kementerian Lingkungan Hidup RI tahun 2015, diketahui bahwa 90% kabupaten/kota di Indonesia masih menerapkan TPA open dumping (http://www.menlh.go.id/rangkaian-hlh-2015-dialog-penanganan-sampah-plastik/). TPA dengan sistem open dumping yang tidak memiliki pelapis dasar memiliki kemungkinan besar akan menimbulkan masalah seperti merembesnya lindi ke dalam air tanah sehingga mengakibatkan pencemaran air tanah (Han dkk., 2016). Dari penelitian yang dilakukan Brown dkk. tahun 1991 (Qasim and Chiang, 1994) dalam menginvestigasi toksisitas akut dan genetik dari lindi sampah
kota, diketahui lindi dari sampah kota mengandung banyak zat berbahaya yang sama dengan zat berbahaya yang ditemukan pada lindi dari sampah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Berbagai penelitian mengenai pencemaran lindi yang disebabkan oleh TPA telah dilakukan. Penelitian tersebut antara lain penelitian dilakukan oleh Han dkk. (2014) di sekitar TPA Kota Zhoukou, Provinsi Henan, China, Smahi dkk. (2013) di sekitar Casablanca Landfill Maroko dan El-Salam dan Abu-Zuid pada TPA Borg El-Arab di Mesir. Berdasarkan ketiga penelitian tersebut diketahui bahwa terdapat pencemaran yang terjadi pada air tanah di sekitar TPA yang diindikasikan akibat dari merembesnya lindi ke dalam tanah.
Hingga saat ini diketahui terdapat beberapa solusi analitik yang telah dikembangkan dan dijadikan rujukan bagi perkembangan persamaan transport kontaminan dalam media tanah. Solusi analitik pada umumnya terbatas pada kondisi yang ideal, seperti arah aliran yang seragam, media yang homogen serta reaksi kontaminan tanah yang relatif sederhana, namun sangat berguna sebagai prakiraan pertama atas penyebaran kontaminan dan digunakan sebagai verifikasi model atau solusi numerik. Salah satu solusi analitik tersebut adalah Solusi Domenico dan Robbins (1985) dan solusi Domenico (1987). Solusi Domenico dan Robbins (1985) dan Domenico (1987) merupakan solusi analitik untuk sumber kontaminan dengan injeksi menerus yang berbentuk bidang (finite planar source) seperti pada kebocoran tangki bawah tanah yang berisi bahan beracun dan berbahaya dan perembesan terus menerus dari lindi TPA (Notodarmojo, 2005). Solusi ini digunakan untuk memprediksi persebaran kontaminan pada penelitian ini.
Penelitian yang dilakukan di TPA Supit Urang dan RW 5 Kelurahan Mulyorejo Malang ini bertujuan untuk mengidentifikasi parameter klorida dan COD terkandung di dalam lindi dan air tanah dari air sumur penduduk di Kelurahan Mulyorejo dan menguji model Domenico dan Robbins (1985) dan Domenico (1987) dalam memprediksi penyebaran kontaminan di dalam air tanah di Kelurahan Mulyorejo.
METODOLOGI PENELITIAN
Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan mengumpulkan berbagai referensi terkait dengan penelitian ini yang bersumber dari buku teks, jurnal dan penelitian-penelitian sebelumnya.
Pengumpulan Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder bertujuan untuk mengumpulkan data yang mendukung pengolahan data primer pada penelitian ini. Data sekunder mengenai kondisi lokasi penelitian didapatkan dari instansi-instansi terkait.
Penentuan Titik Sampling
Sampling tanah direncanakan dilakukan di TPA Supit Urang Malang dan di halaman salah satu rumah warga RW 5 Kelurahan Mulyorejo, sampling lindi akan dilakukan pada saluran lindi TPA Supit Urang sebelum masuk ke dalam kolam pengumpul lindi, kemudian akan dilakukan sampling air tanah dangkal pada sumur pantau TPA dan 5 sumur warga yang berada di RW 5 Kelurahan Mulyorejo yang searah dengan arah aliran air tanah. Lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Gambar 1 dan jarak pengambilan sampel air tanah dan tanah dari titik pengambilan lindi dapat dilihat pada Tabel 1.
Pengambilan Sampel
Sampel tanah diambil dengan metode undistrubed soil sampling,sedangkan sampling lindi akan menggunakan metode grab sampling yang diambil pada saluran lindi sebelum masuk ke dalam kolam pengumpul lindi, sedangkan sampel air tanah akan diambil dengan mengacu pada SNI 6989.58:2008.
Gambar 1 Lokasi titik sampling Tabel 1 Jarak lokasi sampling terhadap titik pengambilan lindi
Analisis Laboratorium dan Pengolahan Data
Sampel tanah yang diambil dianalisis di Laboratorium Mekanika Tanah Institut Teknologi Bandung untuk mengetahui karakteristik sifat fisik tanah meliputi berat jenis tanah, porositas dan distribusi komposisi tanah. Sampel lindi dan air tanah dianalisis di Laboratorium Air Institut Teknologi Bandung meliputi pengukuran parameter Cldan COD dari sampel lindi dan air tanah. Analisis untuk parameter klorida menggunakan SNI 06-6989.19-2009 Bagian 19: Cara uji klorida (Cl- ) dengan metode argentometri sedangkan parameter COD akan dianalisis menggunakan SNI 6989.73:2009 Bagian 73: Cara uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand/COD) dengan refluks tertutup secara titrimetri.
Setelah didapatkan hasil analisis laboratorium, hasil sampel tanah, lindi dan air tanah akan disajikan dalam bentuk penjelasan deskriptif dan dibandingkan dengan baku mutu yang berlaku. Kualitas air lindi akan dibandingkan dengan baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor p.59/Menlhk/ Setjen/Kum.1/7/2016 tentang Baku Mutu Lindi Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah sedangkan kualitas air tanah akan dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Selain itu juga akan dianalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas lindi dan air tanah yang didapatkan.
Simulasi Model Analitik
Penentuan kecepatan air tanah akan dilakukan menggunakan persamaan yang dibuat oleh Pinder dkk. (1981) dengan melakukan pengukuran berdasarkan perbedaan tinggi muka air pada tiga sumur yang terkoneksi membentuk segitiga. Selanjutnya dengan menggunakan kecepatan air tanah yang diasumsikan sebagai kecepatan kontaminan, dilakukan simulasi menggunakan solusi analitik Domenico dan Robbins (1985) dan Domenico (1987) pada 1 dan 2 dimensi. Persamaan untuk solusi analitik Domenico dan Robbins (1985) untuk kontaminan konservatif adalah sebagai berikut (Domenico dan Schwartz, 1990):
\[C_{(x,y,z)} = \frac{C_o}{8} \operatorname{erfc} \left[ \frac{(x-vt)}{2(\alpha_x vt)^{1/2}} \right] \left\{ \operatorname{erf} \left[ \frac{(y+Y/2)}{2(\alpha_y x)^{1/2}} \right] - \operatorname{erf} \left[ \frac{(y-Y/2)}{2(\alpha_y x)^{1/2}} \right] \right\}\] \[\left\{ \operatorname{erf} \left[ \frac{(z+Z/2)}{2(\alpha_z x)^{1/2}} \right] - \operatorname{erf} \left[ \frac{(z-Z/2)}{2(\alpha_z x)^{1/2}} \right] \right\}\] (1)
Sedangkan konsentrasi pada sumbu x, dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Domenico dan Schwartz, 1990):
\[C_{(x,0,0)} = \frac{C_o}{2} \operatorname{erfc} \left[ \frac{(x-vt)}{2(\alpha_x vt)^{1/2}} \right] \left\{ \operatorname{erf} \left[ \frac{Y}{4(\alpha_y x)^{1/2}} \right] \operatorname{erf} \left[ \frac{Z}{4(\alpha_z x)^{1/2}} \right] \right\}\] (2)
Untuk kontaminan non konservatif yang mengalami degradasi atau peluruhan seperti reaksi orde pertama, maka digunakan solusi Domenico (1987) sebagai berikut (Domenico dan Schwartz, 1990):
\[\begin{split} C_{(x,y,z,t)} &= \left(\frac{C_o}{8}\right) exp \left\{ \left(\frac{x}{2\alpha_x}\right) \left[1 - \left(1 + \frac{4\lambda\alpha_x}{v}\right)^{1/2}\right] \right\} \\ &= \operatorname{erfc}\left[\frac{x \text{-vt } (1 + 4\lambda\alpha_x/v)^{1/2}}{2(2\alpha_x vt)^{1/2}}\right] \left\{ \operatorname{erf}\left[\frac{(y + Y/2)}{2(\alpha_y x)^{1/2}}\right] - \operatorname{erf}\left[\frac{(y - Y/2)}{2(\alpha_y x)^{1/2}}\right] \right\} \\ &= \left\{ \operatorname{erf}\left[\frac{(z + Z/2)}{2(\alpha_z x)^{1/2}}\right] - \operatorname{erf}\left[\frac{(z - Z/2)}{2(\alpha_z x)^{1/2}}\right] \right\} \end{split}\] (3) Sedangkan konsentrasi pada sumbu x, dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut
(Domenico dan Schwartz, 1990):
\[C_{(x,0,0,t)} = \left(\frac{C_o}{2}\right) \exp\left\{\left(\frac{x}{2\alpha_x}\right) \left[1 - \left(1 + \frac{4\lambda\alpha_x}{v}\right)^{1/2}\right]\right\}\] \[\operatorname{erfc}\left[\frac{x - vt \ (1 + 4\lambda\alpha_x/v)^{1/2}}{2(2\alpha_x vt)^{1/2}}\right] \left\{\operatorname{erf}\left[\frac{Y}{4(\alpha_v x)^{1/2}}\right] \operatorname{erf}\left[\frac{Z}{4(\alpha_z x)^{1/2}}\right]\right\}\] \[(4)\]
dimana: C = konsentrasi kontaminan pada titik x dan waktu t, Co = konsentrasi kontaminan pada titik sumber, v = kecepatan air tanah yang sudah dikoreksi dengan faktor retardasi (m/tahun), \(\lambda =\)konstanta laju degradasi, t = waktu (tahun), Y = lebar sumber pencemar (m), Z = proyeksi kedalaman sumber terhadap akuifer (m), \(\alpha_x\) = dispersivitas longitudinal (m), \(\alpha_y\) = dispersivitas transversal (m), \(\alpha_z\) = dispersivitas vertikal (m), x = jarak horizontal dari sumber dalam arah aliran tanah, y = jarak dari titik tengah sumber pencemar tegak lurus arah aliran
Dari hasil konsentrasi model yang didapatkan menggunakan software MATLAB, dilakukan uji sensitivitas untuk mengetahui parameter yang memiliki pengaruh terhadap model. Nilai sensitivitas dapat dihitung dengan persamaan 5 (Shih dan Rong, 2001). \(S = \left| \left( \frac{df}{f} \right) \left( \frac{x}{dx} \right) \right|\)
\[S = \left| \left( \frac{df}{f} \right) \left( \frac{x}{dx} \right) \right| \tag{5}\]
dimana x adalah nilai baseline input dan f adalah nilai model output, sedangkan dx dan df adalah selang antara input dan output terbesar dan terkecil.
Setelah itu, dilakukan pengkalibrasian model dengan membandingkan hasil dari model yang telah disesuaikan asumsinya berdasarkan analisis sensitivitas dengan data observasi yang ada. Kalibrasi dapat dilakukan dengan menghitung nilai Root Means Square of Errors (RMSE), seperti pada persamaan 6 (Notodarmojo, 2005).
RMSE = \[\sqrt{\frac{\sum_{i=1}^{n} (X_{obsi} - X_{modeli})^{2}}{n}}\] (6)
dimana X<sub>obs</sub> merupakan nilai observasi sedangkan X<sub>model</sub> merupakan nilai dari model yang dilakukan.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan validasi model, dimana dilakukan dengan cara membandingkan model yang telah dikalibrasi dengan data lapangan. Uji validasi dapat dilakukan dengan menghitung nilai chi kuadrat dari nilai-nilai model dan observasi. Persamaan untuk menghitung chi kuadrat dapat dilihat pada persamaan 7 (Schnoor, 1996).
\[\chi^{2} = \sum_{i=1}^{n} \left( \frac{(y_{i} - \hat{y}_{i})^{2}}{\hat{y}_{i}} \right)\] (7)
dimana \(\chi^2\) adalah nilai chi kuadrat, \(y_i\) adalah nilai observasi sedangkan \(\hat{y}_i\) merupakan nilai model yang didapatkan.
Hipotesis pada uji chi kuadrat ini adalah:
H<sub>0</sub>= nilai konsentrasi model sama dengan nilai konsentrasi di lapangan
H<sub>1</sub> = nilai konsentrasi model tidak sama dengan nilai konsentrasi di lapangan
Nilai H<sub>0</sub> akan diterima jika nilai chi kuadrat lebih kecil dari nilai chi kuadrat pada tabel dengan derajat kebebasan dan tingkat kepercayaan tertentu. Derajat kebebasan dapat dihitung dengan rumus n-1 dimana n adalah banyaknya data pada kategori observasi dan model.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Sampel Tanah
Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa nilai permeabilitas tanah TPA adalah sebesar 1,884x10<sup>-6</sup> cm/detik atau 1,628 x 10<sup>-3</sup> m/hari. Pengukuran permeabilitas yang menggunakan falling head permeability test merupakan uji yang juga digunakan untuk menentukan nilai konduktivitas hidrolik, sehingga dapat diasumsikan bahwa nilai permeabilitas yang didapatkan merupakan nilai konduktivitas hidrolik dari tanah di daerah tersebut. Selain itu, berdasarkan segitiga tekstur tanah, dengan particle size distribution tanah TPA dan tanah dari rumah warga, diketahui bahwa tanah TPA dan tanah dari rumah warga merupakan tanah jenis lempung liat berdebu. Nilai konduktivitas hidrolik untuk kedua jenis tanah lempung liat berdebu berdasarkan United States Department of Agriculture (2013) diketahui adalah 1,41 – 4,23 μm/detik atau 0,122 – 0.365 m/hari.
| Karakteristik Tanah | Sampel 1 (TPA Supit Urang) | Sampel 2 (Rumah Bapak Sunari) | |
|---|---|---|---|
| Permeabilitas (cm/detik) | 1,884x10-6 | - | |
| Kadar air (%) | 44,18 | 54,40 | |
| Densitas basah (t/m³) | 1,59 | 1,56 | |
| Densitas kering (t/m3) | 1,10 | 1,01 | |
| Specific gravity | 2,56 | 2.54 | |
| Porositas | 0,57 | 0,60 | |
| Particle size distribution | |||
| Gravel (%) | 0 | 0 | |
| Sand (%) | 18 | 12 | |
Tabel 2. Hasil analisis karakteristik tanah
Analisis Sampel Lindi
Silt (%)
Clay (%)
Berdasarkan hasil analis yang dilakukan terhadap sampel dapat dilihat bahwa nilai konsentrasi parameter BOD, COD dan TKN sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor p.59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016. Hasil analisis sampel lindi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil analisis karakteristik tanah
| Parameter | Satuan | Nilai | Baku mutu |
|---|---|---|---|
| pH | - | 8,317 | 6-9 |
| BOD | mg/L | 405,003 | 150 |
| COD | mg/L | 782 | 300 |
| TSS | mg/L | 88,667 | 100 |
| TKN | mg/L | 391,51 | 60 |
| Merkuri | mg/L | 9x10-6 | 0,005 |
| Kadmium | mg/L | < 0,001 | 0,1 |
| Klorida | mg/L | 1605 | - |
| TDS | mg/L | 6064 | - |
Analisis Sampel Air Tanah
Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat, penurunan nilai konsentrasi COD dari titik S1 dan S2 yaitu 60,8 mg/L menjadi 41,6 mg/L, namun terjadi peningkatan konsentrasi COD pada titik S3 dan S4 yaitu menjadi 48 mg/L dan kembali menurun pada titik S5 yaitu sebesar 35,2 mg/L. Peningkatan pada titik S3 ini dapat dikarenakan kondisi sumur yang berada sangat dekat yaitu kurang lebih 1 m dengan kloset yang digunakan oleh pemilik rumah. Pipa air buangan yang dibuat oleh pemilik rumah bisa saja mengalami kebocoran dan mencemari tanah dan air tanah yang dapat meningkatkan konsentrasi COD di air sumur rumah tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air mempersyaratkan baku mutu COD sebesar 10 mg/L untuk baku mutu air kelas 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi COD pada sampel sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan tersebut.

Gambar 2. Grafik hasil analisis parameter COD pada air tanah

Gambar 3. Grafik hasil analisis parameter klorida pada air tanah
Konsentrasi klorida pada Gambar 3 di kelima titik sampel air sumur warga mengalami peningkatan, terutama pada titik S3 yang memiliki nilai 43 mg/L. Peningkatan konsentrasi klorida pada titik S3 ini dapat dikarenakan letak sumur yang hanya berjarak kurang lebih 1 meter dengan kloset. Konsentrasi klorida pada kelima sumur warga dan pada kedua sumur pantau TPA masih berada di bawah baku mutu klorida yang ditetapkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air sebesar 600 mg/L. Walaupun konsentrasi klorida saat ini masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan, tapi tidak menutup kemungkinan akan terjadinya peningkatan konsentrasi klorida pada air sumur warga dan sumur pantau TPA bahkan setelah penutupan TPA.
Penentuan Kecepatan Air Tanah
Berdasarkan perhitungan kecepatan air tanah dengan menggunakan persamaan Pinder dkk. (1981), menggunakan nilai konduktivitas hidrolik United States Department of Agriculture (2013) didapatkan hasil kecepatan aliran air tanah minimum adalah 3,991 m/tahun dan kecepatan aliran air tanah maksimum adalah 11,942 m/tahun dengan arah aliran dari timur menuju tenggara dengan sudut sebesar 63,121o , sedangkan nilai kecepatan aliran berdasarkan nilai konduktivitas hidrolik sampel tanah adalah sebesar 0,051 m/tahun dengan sudut arah aliran sebesar 63,121odari arah timur menuju arah tenggara.
Model Penyebaran Kontaminan
Asumsi dasar yang digunakan pada solusi analitik ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Asumsi dasar yang digunakan dalam solusi analitik
| Parameter | Satuan | Nilai | Sumber | |
|---|---|---|---|---|
| Lebar sumber (y) | Meter | 395 | UPT TPA Supit Urang | |
| (2017) | ||||
| Kedalaman sumber (z) | Meter | 14 | Asumsi | |
| Porositas (n) | - | 0,6 | Laboratorium Mekanika | |
| Tanah Teknik Sipil ITB | ||||
| (2017) | ||||
| Konduktivitas hidrolik (K) | Meter/hari | 0,122-0,365 | United States Department of | |
| Agriculture (2013) | ||||
| 1,628 x 10-3 | Laboratorium Mekanika | |||
| Tanah Teknik Sipil ITB | ||||
| (2017) | ||||
| Kecepatan air tanah | Meter/tahun | 3,991-11,942 | Perhitungan menggunakan | |
| 0,051 | Pinder (1981) | |||
| Waktu (t) | Tahun | 24 | UPT TPA Supit Urang (2017 | |
| Dispersitivitas longitudinal (αx) | Meter | 0,1x | Shih dan Rong (2001) | |
| Dispersitivitas transversal (αy) | Meter | 0,33 αx | Shih dan Rong (2001) | |
| Dispersitivitas vertikal (αz) | Meter | 0,056 αx | Shih dan Rong (2001) | |
| Faktor retardasi (Rf) | ||||
| Klorida | - | 1 | ||
| COD | - | 1 | Shih dan Rong (2001) | |
| Konstanta laju degradasi | Hari-1 | 0,0016 – 0,0027 | Altaouqi dalam Dewi (2013) | |
| 0,02475 – 0,099 | Tong dan Rong (2013) | |||
| Konsentrasi kontaminan (C0) di lindi | ||||
| Klorida | mg/L | 1605 | Data lapangan | |
| COD | mg/L | 782 | Data lapangan | |
Simulasi Model Klorida 1 Dimensi
Dilakukan simulasi model klorida 1 dimensi dengan melakukan perubahan pada nilai kecepatan aliran, dispersitivitas longitudinal dan kedalaman sumber kontaminan sehingga dapat diketahui faktor mana yang memiliki nilai sensitivitas lebih tinggi. Setelah dilakukan simulasi model klorida 1 dimensi didapatkan hasil bahwa dispersitivitas longitudinal merupakan faktor yang lebih sensitif dibandingkan dengan faktor kedalaman sumber kontaminan dan kecepatan aliran dalam mempengaruhi nilai konsentrasi model. Selanjutnya dilakukan pengkalibrasian model dengan menghitung nilai RMSE dimana didapatkan kalibrasi terendah saat nilai dispersivitas longitudinal sebesar 83 m, dengan nilai RMSE yang didapatkan sebesar 14,698. Nilai RMSE terkecil untuk variasi kedalaman sumber kontaminan adalah 14,698 adalah saat nilai kedalaman kontaminan sebesar 14 m, dan nilai RMSE untuk semua perubahan nilai kecepatan aliran adalah 14,698. Kemudian dilakukan analisis validasi, dimana model dapat dikatakan valid apabila H0 diterima dengan nilai chi kuadrat lebih kecil daripada nilai chi pada tabel. H0adalah nilai konsentrasi model sama dengan nilai konsentrasi di lapangan dan H1 adalah nilai konsentrasi model tidak sama dengan nilai konsentrasi di lapangan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan hasil bahwa H0ditolak dikarenakan nilai chi kuadrat hitung sebesar 46,292 lebih besar dibandingkan nilai chi kuadrat tabel dengan kepercayaan 90% sebesar 7,77943.
Simulasi Model Klorida 2 Dimensi
Pada simulasi model ini dilakukan perubahan pada nilai kecepatan aliran, dispersitivitas longitudinal dan nilai y untuk mengetahui faktor mana yang lebih sensitif. Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan didapatkan hasil bahwa nilai y memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan perubahan nilai dispersitivitas longitudinal dan kecepatan aliran. Selain itu juga dapat dilihat bahwa pada simulasi 2 dimensi ini nilai konsentrasi klorida meningkat di setiap titiknya, berbeda dengan hasil konsentrasi pada model klorida 1 dimensi yang menurun di setiap titiknya.
Berdasarkan analisis kalibrasi didapatkan hasil bahwa pada simulasi model dengan variasi nilai y, nilai RMSE terendah adalah 11,298 pada saat simulasi model dengan nilai y sebesar 750 m, sedangkan pada simulasi model dengan perubahan nilai dispersitivitas longitudinal, nilai RMSE terendah sebesar 11,298 adalah pada saat nilai dispersitivitas longitudinal bernilai 87,01 m dan nilai RMSE untuk semua simulasi model dengan perubahan nilai kecepatan adalah 11,298. Selanjutkan dilakukan validasi dengan menggunakan hasil konsentrasi model dari simulasi yang menggunakan nilai dispersitivitas longitudinal 87,01 m, y sebesar 750 m dan kecepatan aliran sebesar 3,991 m/tahun.
Dari perhitungan chi kuadrat pada tahapan validasi ini didapatkan nilai chi kuadrat sebesar 31,573. Nilai chi kuadrat ini lebih besar dari nilai chi kuadrat tabel dengan tingkat kepercayaan 90% dengan derajat kebebasan 4 sebesar 7,77943, sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan nilai konsentrasi model tidak sama dengan nilai konsentrasi di lapangan.
Simulasi Model COD 1 Dimensi
Perubahan yang dilakukan untuk mengetahui faktor mana yang memiliki kesensitivan lebih tinggi pada simulasi model ini meliputi perubahan terhadap kecepatan aliran, nilai dispersivitas longitudinal, retardasi, nilai konstanta laju degradasi dan konsentrasi. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas pada simulasi model COD 1 dimensi, didapatkan hasil bahwa dispersitivitas longitudinal merupakan faktor dengan nilai sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan perubahan yang lain. Kemudian diikuti oleh faktor konsentrasi, sedangkan perubahan kecepatan, retardasi dan konstanta laju degradasi memiliki nilai sensitivitas sebesar 0 di setiap titiknya.
Dari hasil kalibrasi yang dilakukan pada simulasi model dengan perubahan perubahan dispersitivitas longitudinal, didapatkan nilai RMSE terkecil yaitu 4,070 saat nilai dispersitivitas longitudinal sebesar 12 m, sedangkan nilai RMSE terkecil dari simulasi model dengan perubahan konsentrasi adalah pada saat konsentrasi 760 mg/L dengan nilai RMSE sebesar 3,879 dan nilai
RMSE untuk seluruh variasi perubahan kecepatan aliran, retardasi dan konstanta laju degradasi adalah sebesar 3,879.
Analisis validitas dilakukan dengan menghitung chi kuadrat dari nilai konsentrasi sebenarnya dan nilai konsentrasi yang didapatkan dari simulasi model dengan menggunakan konsentrasi COD 760 mg/L, kecepatan sebesar 3,991 m/tahun, dispersitivitas longitudinal 12 m, retardasi 1 dan konstanta laju degradasi sebesar 0,9855. Dari perhitungan chi kuadrat didapatkan hasil nilai chi kuadrat hitung adalah 1,728, dimana nilai chi kuadrat hitung ini lebih kecil dibandingkan dengan nilai chi kuadrat tabel dengan derajat kebebasan 4 dan dengan tingkat kepercayaan 90% yaitu sebesar 7,77943, dan disimpulkan nilai konsentrasi model sama dengan nilai konsentrasi di lapangan.
Simulasi Model COD 2 Dimensi
Simulasi model ini dilakukan dengan melakukan perubahan terhadap kecepatan aliran, nilai dispersivitas longitudinal, nilai y dan konsentrasi sehingga dapat diketahui faktor yang memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan yang dilakukan. Dari analisis sensitivitas yang dilakukan diketahui bahwa faktor nilai y merupakan faktor yang memiliki nilai sensitivitas paling tinggi dibandingkan dengan faktor yang lain. Faktor kedua yang lebih sensitif adalah konsentrasi diikuti dengan nilai dispersitivitas longitudinal.
Selanjutnya dilakukan analisis kalibrasi dengan menghitung nilai RMSE dari simulasi model yang telah dilakukan. Berdasarkan perhitungan RMSE didapatkan hasil pada simulasi model dengan perubahan nilai y sebesar 520 memiliki nilai RMSE terendah yaitu sebesar 17,73, sedangkan pada perhitungan RMSE dengan variasi nilai konsentrasi didapatkan hasil bahwa nilai RMSE terendah adalah 17,984 saat variasi konsentrasi sebesar 800 mg/L. Untuk nilai RMSE terendah dari hasil kalibrasi dengan menggunakan variasi dispersitivitas longitudinal didapatkan hasil RMSE terendah 5,766 saat dispersitivitas longitudinal sebesar 1400 m dan nilai RMSE pada seluruh variasi kecepatan aliran adalah 5,766.
Pada tahapan validasi, digunakan nilai-nilai dari faktor yang memiliki nilai RMSE terendah yaitu kecepatan 3,991 m/tahun, dispersitivitas longitudinal 1400 m, konsentrasi 800 mg/L dan nilai y sebesar 520 m. Berdasarkan analisis validitas, diketahui bahwa H0ditolak dikarenakan nilai chi kuadrat hitung sebesar 3,516 lebih kecil dibandingkan nilai chi kuadrat tabel dengan derajat kebebasan 4 dengan tingkat kepercayaan 90% yaitu sebesar 7,77943, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai konsentrasi model sama dengan nilai konsentrasi di lapangan
KESIMPULAN
Konsentrasi klorida dan COD di dalam lindi adalah 1605 mg/L dan 782 mg/L, dimana berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor p.59/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 tentang Baku Mutu Lindi Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah nilai konsentrasi COD yang terkandung pada lindi sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan tersebut yaitu 300 mg/L. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, kelas 1 pada peraturan tersebut mempersyaratkan baku mutu COD sebesar 10 mg/L, sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi COD pada sampel sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh peraturan tersebut. Sedangkan konsentrasi klorida pada kelima sumur warga masih berada di bawah baku mutu klorida yang ditetapkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air sebesar 600 mg/L. Berdasarkan analisis validitas, didapatkan hasil bahwa H0ditolak dikarenakan nilai chi kuadrat hitung yang didapatkan untuk simulasi model 1 dan 2 dimensi parameter klorida lebih besar dari nilai chi kuadrat tabel. Pada simulasi model 1 dan 2 dimensi parameter COD, H0 tidak dapat ditolak karena nilai chi kuadrat hitung lebih kecil dibandingkan chi kuadrat tabel. Selain itu juga disimpulkan bahwa model Domenico dan Robbins (1985) kurang dapat memprediksi persebaran klorida sedangkan model Domenico (1987) dapat memprediksi persebaran COD di RW 5 Kelurahan Mulyorejo, Malang.
