PENDAHULUAN
Air merupakan sumber kehidupan dan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks, antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Karena demikian untuk kelangsungan hidup, air harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkualitas dan memadai (Sunarya, 2001). Kebutuhan air semakin lama semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia, baik di daerah perkotaan maupun daerah perdesaan.
Menurut Omid Rahmati dan Melesse Air tanah dianggap sebagai sumber daya alam yang paling penting di daerah gersang dan semi kering (Rahmati, Pourghasemi, & Melesse, 2016) sedangkan menurut Lathamani dkk air tanah dianggap sebagai sumber pasokan air portabel yang penting, karena kerentanannya terhadap polusi relatif rendah dibandingkan dengan air permukaan (Lathamani, Janardhana, Mahalingam, & Suresha, 2015).
Ketersediaan air tawar banyak disimpan pada air tanah (groundwater). Air tanah merupakan bagian air di alam yang terdapat di bawah permukaan tanah. Pembentukan air tanah mengikuti siklus peredaraan air di bumi yang disebut daur hidrologi, yaitu proses alamiah yang berlangsung pada air di alam yang mengalami perpindahan tempat secara beruntun dan terus menerus (Kodoatie, 2012). Menurut Bakrie, sebagian air tanah berasal dari air permukaan yang meresap masuk kedalam tanah dan membentuk suatu siklus hidrologi. Air tanah (ground water) air yang terdapat pada suatu lapisan lapisan batuan yang menyimpan dan meloloskan air yang disebut aquifer. Air tanah dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu air tanah bebas dan air tanah dalam (Hamutoko, Wanke, & Voigt, 2015).
Sumber air tanah mendapat ancaman dari pencemaran konstan seperti aktifitas manusia yaitu pertanian, urbanisasi dan industri telah menyebabkan penurunan kualitas air tanah, oleh karena itu pencegahan adalah strategi yang paling tepat dalam melawan polusi air tanah saat ini (Kazakis & Voudouris, 2015).
Berdasarkan masalah diatas, maka penulis membuat penelitian "Optimasi Kinerja Strategi Kerentanan Air tanah dengan metode AHP di Kota Cimahi, merupakan penelitian yang bersifat praktis, hasil kajian diperlukan untuk membantu pembuatan keputusan yang berkaitan dengan pemecahan masalah-masalah praktis. Kajian ini merupakan studi eksploratif yang berorientasi pada penggalian fakta lapangan dan multi kriteria dalam memilih model/strategi alternatif untuk mengoptimalkan kinerja strategi kerentanan air tanah.
METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode analytical hierarchy prosess (AHP). Metode ini digunakan untuk menentukan kriteria yang penting diperhatikan untuk mendukung pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan memilih pengelolaan kerentanan air tanah berdasarkan hasil kuisoner dalam bentuk matrik perbandingan berpasangan. Dari hasil isian kuisoner yang sudah diisi dan diolah dapat menentukan persentasi bobot dari kriteria yang digunakan. Perhitungan selanjutnya menggunakan rumus konsistensi indeks untuk menentukan validasi data yang digunakan.
Alat Pengumpulan Data
a. Kuisioner
Kuisioner yang digunakan merupakan lembar kuisioner yang terdiri dari dari tabel matriks berpandingan berpasangan untuk menentukan kriteria apa yang paling berpengaruh.
b. Focus Discusion Group
Melakukan tanya jawab secara lansung kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap pengelolaan air tanah
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan kombinasi data primer dan sekunder. Data primer terdiri atas survey, wawancara dengan pakar dan kuisioner.Sedangkan data sekunder terdiri atas studi pustaka dengan membaca buku dan membandingkandengan penelitian sebelumnya.
Pemilihan strategi pengendalian air tanah
Pada penelitian ini penulis menggunakan metode analytical hierarchy process(AHP). Metode ini digunakan untuk menentukan kriteria yang penting diperhatikan untuk mendukung pemangku kepentingan dalam mengambil keputusan memilih strategi pengendalian air tanah berdasarkan hasil kuisioner dalam bentuk matrik perbandingan berpasangan. Dari hasil isian kuisioner yang sudah disi dan diolah dapat menentukan persentase (bobot) dari kriteria yang digunakan. Perhitungan selanjutnya menggunakan rumus konsistensi indeks untuk menentukanvalidasi data yang digunakan.
Expert Choice adalah sebuah aplikasi yang khusus digunakan sebagai alat bantu implementasi model-model dalam Decission Support System (DSS) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sistem Penunjang Keputusan (SPK) dalam sebuah perusahaan ataupun untuk keperluan akademik. Beberapa kemudahan terdapat dalam Expert Choise dibandingkan dengan software-software sejenis, kemudahan kemudahan tersebut antara lain: Fasilitas Graphical User Interface (GUI) yang mudah digunakan. Sehingga cocok digunakan baik bagi kalangan perusahaan ataupun bagi kalangan akademik yang baru saja mempelajari tentang seluk belum Sistem penunjang keputusan banyak fitur-fitur yang menyediakan pemodelan decission support system secara baik, tanpa perlu melakukan instalasi atau setting ulang parameter-parameter yang terlalu banyak. Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk menentukan keputusan-keputusan yang sulit untuk dipecahkan ataupun diputuskan oleh para pengambil keputusan. Software ini memiliki tingkat ke akuratan yang tinggi untuk metode Proses Hirarki Anatilik (AHP), bilamana didukung dengan data-data yang konsisten. (Siti R.N, 2013)

Gambar 1. Hirarki proses pada expert choice
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penilaian kinerja menggunakan software Expert Choice pada model strategi pengendalian air tanah studi kasus Kota Cimahi didapat dari hasil wawancara dan sebar kuisoner pada 20 orang expert dalam bidang air tanah dan juga para pengambil
keputusan. Hasil dari kuisoner yang dibagikan yakni berupa bobot tingkat kepentingan pada level kriteria dan sub kriteria, serta penilaian kinerja pada tingkat alternatif dengan metode AHP. Bisa dilihat pada tabel-tabel dan gambar-gambar dibawah ini. Hasil sudah merupakan matrik gabungan dari 20 responden adapun hasilnya:
a. Bobot Kepentingan pada Level Kriteria

Gambar 2. Bobot kepentingan antar kriteria
Gambar 2 menunjukan bobot kepentingan antar kriteria yang didapat dari perhitungan expert choice, jika diurutkan berdasarkan bobot tinggi ke rendah berdasarkan pendapat dari responden.kriteria pengendalian pemanfaatan air tanah menjadi pilihan tertinggi untuk menyusun model strategi pengendalian air tanah.
b. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria Pengendalian dan Pemanfaatan Air tanah

Gambar 3. Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pengendalian pemanfaatan air tanah
Gambar 3 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pengendalian dan pemanfaatan air tanah yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria pembatasan debit menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
a. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria pada Kriteria Pengelolaan Kualitas Air tanah

Gambar 4. Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pengelolaan kualitas air tanah
Gambar 4 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pengelolaanvkualitas air tanah yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria membuat peta bahaya menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
b. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria Pemulihan Kualitas Air tanah

Gambar 5. Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pemulihan kualitas air tanah
Gambar 5 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pemulihan kualitas air tanah yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria mengurangi pengambilan air tanah menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
c. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria Pendanaan

Gambar 6. Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pendanaan
Gambar 6 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria pendanaan yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria pendanaan APBD menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
d. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria Politik Pemerintahan

Gambar 7 Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria politik pemerintahan
Gambar 7 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria politik pemerintahan yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria mementingkan isu lahan menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
e. Bobot Kepentingan Pada Level Sub Kriteria Ekologi Politik

Gambar 8. Bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria ekologi politik
Gambar 8 menunjukan bobot kepentingan antar sub kriteria pada kriteria ekologi politik yang didapat dari perhitungan expert choice. Jika diurutkan berdasarkan bobot yang tinggi ke rendah berdasarkan pendapat responden. Sub kriteria mementingkan Komitmen Legal pemda menjadi pilihan yang tertinggi untuk penyusun model strategi pengendalian air tanah.
Gambar 9. Hasil dari expert choice
Gambar 9 merupakan hasil akhir yang didapat dari aplikasi expert choice. Pada gambar diatas didapat bahwa pembatasan debit menjadi pilihan paling penting menurut para ahli. Pilihan kedua menurut para ahli adalah peraturan kerapatan lokasi,
Pengaturan kerapatan lokasi pengambilan air tanah dapat dengan mudah dilakukan dengan mengembangkan sistem informasi inventarisasi sumursumur pengambilan air tanah dan model sistem air tanah pada suatu cekungan air tanah.
KESIMPULAN
Dari hasil pengambilan analisa data, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
- a. Penerapan metode AHP dapat digunakan untuk mengambil keputusan dalam menentukanpilihan penyusunan model strategi pengendalian air tanah
- b. Hasil pengolahan data dengan menggunakan expert choice menunjukan bahwa kriteria yang paling penting menurut responden ahli adalah (1) Pembatasan debit (16%) (2) peraturan kerapatan lokasi (9,7%) (3) penentuan zona pengambilan (8,3%) (4) membuat peta bahaya (7,8%) (5) Penerapan amdal (7,4%) (6) mengurangi pengambilan air tanah (6,2%).
Untuk sarannya, Penelitian lebih lanjut bisa menambahkan kriteria-kriteria yang lain sesuai dengan perkembangan sesuai dengan pendapat pakar.
