1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (2017) Issue 1
  4. Articles

Upaya Peningkatan Kinerja Pdam Berdasarkan Jalur Hubungan Sebab-akibat Indikator Kinerja

Abstract

Abstrak: Peningkatan kinerja PDAM merupakan salah satu cara untuk mencapai target akses aman air minum 100% di tahun 2019. Pencapaian akses aman air minum 100% dilihat dari jumlah penduduk yang terlayani air minum yang merupakan salah satu indikator kinerja yang dibuat BPPSPAM (Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum) di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jalur hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja dalam peta strategi BSC yang dapat digunakan untuk PDAM Way Agung di masa depan. Dalam studi ini menggunakan dua metode, yaitu FAHP dan penelitian eksperimental. Metode FAHP untuk menghitung bobot indikator sebagai penentu indikator penyebab dan akibat, sedangkan metode penelitian eksperimental untuk mengetahui indikator yang memiliki hubungan. Setelah mencari subvariabel yang sama dalam 18 indikator kinerja BPPSPAM, indikator-indikator kinerja ini terindikasi memiliki 19 hubungan sebab-akibat. 19 hubungan sebab-akibat tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam peta strategi BSC sehingga terdapat 16 jalur sebab-akibat. Kata kunci: BSC strategy map, Fuzzy-AHP, jalur sebab-akibat Abstract: Performance improvement of water utilities (PDAM) is one way to achieve the target of 100% safe access of drinking water in 2019 in Indonesia. Achievement 100% safe access of drinking water seen from total population served drinking water which is one of performance indicators set by BPPSPAM, a board formed to improve water supply systems in Indonesia. The aim of this study is to identify causal paths between performance indicators of This study is using two methods, which is FAHP and experimental research. FAHP method is to calculate weight of performance indicator as a judgment of causes and effects indicators, while experimental research is to identify indicators which have a relationship. After search the similar subvariables in the 18 performance indicators of BPPSPAM, these performance indicators identified have 19 cause-effect relationships. Then these relationships applied in BSC strategy map so there are 16 causal paths Keywords: BSC strategy map, Fuzzy-AHP, a causal path

Keywords

PENDAHULUAN

Peningkatan kinerja PDAM merupakan salah satu cara untuk mencapai target akses aman air minum 100% di tahun 2019. Pencapaian akses aman air minum 100% dilihat dari jumlah penduduk yang terlayani air minum yang merupakan salah satu indikator kinerja yang dibuat BPPSPAM (Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum) di Indonesia.

Penyelenggara air minum menemui beberapa permasalahan terkait keberlangsungan proses, termasuk tekanan rendah, kehilangan air, dan menurunnya kualitas air (Haider, dkk, 2013). Selain itu, pelayanan air yang tidak memuaskan karena manajemen dan sistem operasi tidak efektif sebagai hasil dari rendahnya personil yang berkualitas, tarif rendah, kehilangan air (Non Revenue Water) tinggi, pegawai berlebih, catatan konsumen yang buruk, dan praktik penagihan dan pembayaran rekening tidak efisien (Zeraebruk, K. dkk, 2014). Berbagai

organisasi di seluruh dunia telah mengembangkan kerangka evaluasi kinerja secara rinci (Haider, dkk, 2013), namun hal ini tidak membuat pengelola air berusaha untuk meningkatkan kinerja. Perancangan fuzzy cognitive strategy map (FSCM) menjelaskan hubungan beberapa objek yang tidak dijelaskan dalam teknologi peta strategi tradisional (Yousef, 2014).

Pengukuran kinerja dalam kartu catatan angka (scorecard) yang harus dikaitkan satu sama lain dan dengan visi dan strategi jangka panjang, mengikuti hubungan sebab dan akibat yang dijelaskan di peta strategi BSC (Yüksel, dkk., 2013). Peta strategi BSC menggambarkan strategi dan menunjukkan hubungan sebab dan akibat antara perspektif (Kaplan and Norton, 2001 in Yüksel, dkk., 2013). Pemetaan strategi merupakan proses secara visual dalam membuat hubungan sebab akibat antar seluruh kemungkinan tujuan strategis dalam sebuah organisasi (Jassbi, J., et al., 2010). Wang, Lu dan Chen memberi kesan bahwa dari pandangan yang berbeda mungkin saling kontradiksi satu sama lain, namun itu perlu untuk melihat hubungan hirarki dan hubungan vertikal antara pengukuran (Perlman, 2011). Karena itu, hubungan sebab akibat ini mungkin pekerjaan yang sulit untuk membangun hubungan yang sesungguhnya antara seluruh pandangan (Jafari, 2013).

Jafari (2013) dan Perlman (2013) menggunakan analisis jalur untuk mengidentifikasi hubungan sebab-akibat dalam peta strategi BSC. Yousef (2014) menghitung dan memetakan dalam FSCM untuk analisis hubungan sebab akibat antar objek. Namun, FCM mungkin kurang dapat diterapkan dan dianalisis dengan ketat sebagai studi masa depan (future study) dalam kenyataan yang akan terjadi (Jetter, et al., 2014). Hubungan sebab akibat adalah hubungan yang implisit dan metode yang terbaik yang peneliti miliki untuk menentukan hubungan sebab akibat adalah penelitian eksperimental (uji coba) (Vargas, 2017).

Dalam laporan penilaian kinerja PDAM tahun 2016 yang dibuat oleh BPPSPAM, hanya 198 dari 371 PDAM yang dinyatakan sehat. Penilaian kinerja berdasarkan benchmark dari BPPSPAM dengan 18 indikator kinerja. Suatu PDAM dikatakan sehat jika hasil penilaian kinerja mendapat nilai lebih dari 2.8. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jalur hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja dalam peta strategi BSC yang dapat digunakan untuk PDAM Way Agung di masa depan. Dengan mengetahui jalur hubungan sebab-akibat dalam peta strategi BSC, PDAM dapat mengevaluasi saat ini, merencanakan strategi peningkatan kinerja dengan melihat indikator-indikator yang belum memenuhi target, dan sebagai bahan monitoring agar selisih antara perencanaan dan realisasi tidak terlalu besar.

Beberapa indikator kinerja BPPSPAM terlihat memiliki suatu hubungan satu sama lain berdasarkan persamaan dalam pengukuran ke 18 indikator kinerja ini. Dalam setiap persamaan tersebut, terdapat dua variabel yang membentuk indikator kinerja. Indikator penyebab dan akibat merupakan indikator yang memiliki variabel yang sama. Penentuan indikator penyebab dan indikator akibat berdasarkan bobot tiap indikator kinerja menggunakan Fuzzy-AHP (FAHP). Indikator kinerja dengan bobot yang lebih besar adalahpenyebab indikator kinerja lain jika masih berada dalam satu aspek kinerja BPPSPAM. Jika kedua indikator kinerja berbeda aspek kinerja, maka indikator penyebab dan akibat berdasarkan posisi dalam peta strategi BSC. Dalam studi ini menggunakan dua metode, yaitu FAHP dan penelitian eksperimental. Metode FAHP untuk menghitung bobot indikator sebagai penentu indikator penyebab dan akibat, sedangkan metode penelitian eksperimental untuk mengetahui indikator yang memiliki hubungan.

METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian ini, terdapat dua tahapan analisis untuk mencapai tujuan penelitian, yaitu analisis pembobotan menggunakan metode FAHP dan analisis sebab-akibat menggunakan metode penelitian eksperimental. Pada tahap pertama, pembobotan indikator kinerja diperoleh dari kuesioner berbentuk perbandingan berpasangan kepada 30 responden ahli. Pada penelitian Jafari (2013), respondennya sebanyak 25 ahli. Persyaratan menjadi responden adalah pengalaman kerja minimal 5 tahun dan/atau minimal pendidikan S1.

Komposisi responden dibagi tiga kelompok sesuai dengan posisi pekerjaan dalam penilaian kinerja BPPSPAM, yaitu pembuat keputusan dengan 10 responden, pengguna dengan 15 responden, dan pengamat dengan 5 responden. Pekerjaan responden diantaranya pegawai pemerintah, pegawai PDAM, akademisi, auditor kinerja PDAM dan peneliti. Batas waktu pengembalian kuesioner adalah dua bulan.

Pilihan jawaban kuesioner perbandingan berpasangan berupa variabel linguistik dengan bahasa sebagai nilainya dan angka Fuzzy (Wu, dkk., 2009). Variabel linguistik dan angka Fuzzy dapat dilihat pada Tabel 1.

Angka
Fuzzy
Skala linguistikTFN
(aij)
Kebalikan
TFN (aij)
9Paling penting (absolutely important)(7, 9, 9)(1/9,1/9,1/7)
7Sangat penting (very strongly important)(5,7,9)(1/9.1/7,1/5)
5Lebih penting (essentially important)(3,5,7)(1/7,1/5,1/3)
3Sedikit penting (weakly important)(1,3,5)(1/5,1/3,1)
1Sama penting (equally important)(1,1,3)(1/3,1,1)

Tabel 1. Variabel linguistik, angka fuzzy, TFN, dan kebalikan TFN (Wu, dkk, 2009)

Setelah seluruh kuesioner terkumpul, jawaban masing-masing kuesioner tersebut diuji konsistensi matriks perbandingan berpasangan. Uji konsistensi bertujuan untuk memastikan konsistensi persepsi subjektif (Tzeng, G-H., dkk., 2011). Ambang rasio konsistensi (CR) diterima yang disarankan dan diasumsikan 10% oleh Saaty. Jika CR dari matriks A kurang dari 0,1, maka matriks A dikatakan konsistensi diterima (Wang, Z-J., 2015). Wang, Z-J (1) Masing-masing A<sup>glu</sup> dan A<sup>m</sup> diuji kekonsistensian. Jika dan hanya jika A<sup>glu</sup> dan A<sup>m</sup> konsisten, maka matriks A adalah konsisten. Setelah pengujian konsistensi menghasilkan nilai CR(A)0,1, selanjutnya menghitung bobot fuzzy-AHP dengan normalisasi. Berikut ini langkah-langkah perhitungan bobot fuzzy dengan normalisasi:

  • 1. Angka fuzzy dalam kuesioner diubah menjadi angka segitiga fuzzy (TFN) dalam metode Fuzzy-AHP (lihat Tabel 1).
  • 2. Pembuatan matriks perbandingan berpasangan Fuzzy.
  • 3. Menggabungkan seluruh matriks perbandingan berpasangan Fuzzy dari seluruh responden ke dalam matriks perbandingan berpasangan sintetis menggunakan metode rata-rata geometris (geometric mean method) dengan persamaan:

\[\tilde{a}_{ij} = \left\{ \left( \tilde{a}_{ij}^1 \right) \otimes \left( \tilde{a}_{ij}^2 \right) \otimes \left( \tilde{a}_{ij}^3 \right) \otimes \cdots \otimes \left( \tilde{a}_{ij}^k \right) \right\}^{1/k}\]

4. Menghitung bobot Fuzzy tiap elemen indikator terhadap elemen indikator lain, dengan persamaan berikut:

\[\tilde{r}_i = \{(\tilde{a}_{i1}) \otimes (\tilde{a}_{i2}) \otimes (\tilde{a}_{i3}) \otimes \cdots \otimes (\tilde{a}_{ik})\}^{1/k}\]

5. Menghitung bobot tiap dimensi elemen, dengan persamaan berikut:

\[\widetilde{\mathbf{w}}_1 = \widetilde{\mathbf{r}}_1 \otimes (\widetilde{\mathbf{r}}_1 \oplus \widetilde{\mathbf{r}}_2 \oplus \widetilde{\mathbf{r}}_3 \oplus \dots \oplus \widetilde{\mathbf{r}}_k)^{-1}\]

6. Menggunakan metode Center of Area (CoA) untuk menghitung nilai Best Non-Fuzzy Performance (BNP) untuk nilai bobot dari setiap dimensi elemen, dengan persamaan berikut:

\[BNP_{w_1} = \frac{[(U_{w_1} - L_{w_1}) + (M_{w_1} - L_{w_1})]}{3} + L_{w_1}\]

Nilai BNP merupakan nilai bobot yang dibandingkan antar aspek atau antar indicator dalam satu aspek. Untuk nilai bobot yang digunakan dalam penentuan indikator penyebab dan akibat adalah bobot terhadap keseluruhan. Tahap selanjutnya adalah metode penelitian eksperimental. Dalam penelitian eksperimental, percobaan memungkinkan peneliti untuk mengontrol dan memanipulasi dugaan faktor sebab-akibat, atau lebih dikenal variabel bebas. Peneliti mengamati bagaimana variabel bebas mempengaruhi variabel terikat (Vargas, et al., 2017). Seperti yang telah dijelaskan dalam pendahuluan, indikator-indikator kinerja terbentuk dari persamaan pecahan dua variabel. Dalam peta strategi BSC, kartu cacatan nilai (scorecard) yang merupakan indikator kinerja yang harus dikaitkan satu sama lain. Artinya, pertimbangan variabel bebas dan terikat adalah indikator kinerja berdasarkan bobot FAHP. Dua variabel dalam persamaan indikator kinerja dirubah penamaan menjadi subvariabel. Jika terdapat subvariabel yang sama dalam beberapa indikator di satu aspek, maka indikator dengan bobot lebih besar menjadi variabel bebas dan indikator lain menjadi variabel terikat. Variabel bebas dengan bobot terbesar akan memperkecil target yang harus dicapai pada variabel terikat. Jika kedua indikator berbeda aspek, maka variabel bebas dan terikat berdasarkan posisi aspek dalam peta strategi BSC dengan indikator dalam aspek yang berada di bawah menjadi variabel bebas. Sedangkan subvariabel lain diasumsikan konstan.di bawah menjadi variabel bebas. Sedangkan subvariabel lain diasumsikan konstan.

Sebagai contoh, kedua indikator berada dalam satu aspek SDM, yaitu indikator rasio pegawai terhadap pelanggan (I1) merupakan hasil pembagian dari jumlah pegawai (A1) terhadap jumlah pelanggan (A2) dan indikator diklat pegawai (I2) merupakan hasil pembagian dari jumlah pegawai yang mengikuti diklat (B1) terhadap jumlah pegawai (B2). Pada dua indikator tersebut terlihat memiliki subvariabel yang sama, yaitu jumlah pegawai, sehingga nilai A1=B2. Jika bobot I1lebih besar dari I2, maka I1menjadi variabel bebas dan I2menjadi variabel terikat, dengan asumsi nilai A2dan B1konstan. Contoh lain, kedua indikator berbeda aspek, yaitu indikator rasio pegawai terhadap pelanggan (I1) merupakan hasil pembagian jumlah pegawai (A1) terhadap jumlah pelanggan (A2), dan indikator penggantian meter air pelanggan (I3) merupakan hasil pembagian jumlah meter air yang diganti (C1) terhadap jumlah pelanggan (C2). Pada dua indikator tersebut terlihat memiliki dua subvariabel yang sama, yaitu jumlah pelanggan, sehingga nilai A2= C2. Karena I3adalah indikator dalam aspek SDM, I3adalah indikator dalam aspek operasional, dan aspek SDM berada di bawah aspek operasional, maka I1menjadi variabel bebas dan I3menjadi variabel terikat, dengan asumsi nilai A1dan C1konstan. Ini berlaku untuk seluruh subvariabel yang sama yang terdapat dalam beberapa indikator kinerja. Hubungan seperti ini dianggap hubungan sebab-akibat secara langsung, sedangkan hubungan sebab-akibat tidak langsung adalah gabungan jalur-jalur yang dibuat dari beberapa hubungan langsung. Setelah keseluruhan hubungan sebab-akibat terbentuk dari 18 indikator kinerja, jalur-jalur tersebut diaplikasikan ke dalam peta strategi BSC.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis pembobotan perbandingan berpasangan kepada 30 responden ahli dengan metode FAHP, urutan aspek kinerja adalah aspek keuangan, aspek SDM, aspek operasional, dan aspek pelayanan dengan bobot masing-masing 0,2821; 0,2800; 0,2496; dan 0,1883. Urutan indikator kinerja dalam aspek SDM adalah rasio beban diklat terhadap beban pegawai, rasio pegawai terhadap pelanggan, dan rasio diklat pegawai, dengan bobot masingmasing 0,1346; 0,0825; dan 0,0629. Urutan indikator kinerja dalam aspek operasional adalah tekanan air pada sambungan pelanggan, efisiensi produksi, tingkat kehilangan air (NRW), jam operasi layanan, dan penggantian meter air pelanggan dengan bobot masing-masing 0,0595; 0,0494; 0,0484; 0,0473; dan 0,0450. Urutan indikator kinerja dalam aspek pelayanan adalah konsumsi air domestik, tingkat penyelesaian pengaduan, cakupan pelayanan teknis, pertumbuhan pelanggan, dan kualitas air pelanggan dengan bobot masing-masing 0,0484; 0,0461; 0,0372; 0,0331; dan 0,0235. Dan urutan indikator kinerja dalam aspek keuangan adalah solvabilitas, Return of Equity (ROE), rasio kas, rasio operasi, dan efektivitas penagihan dengan bobot masingmasing 0,0786; 0,0702; 0,0523; 0,0507; dan 0,0303.

Setelah bobot seluruh indikator kinerja diperoleh, langkah selanjutnya adalah membangun jalur hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja. Pembuatan jalur ini menggunakan metode penelitian eksperimental dengan indikator kinerja sebagai variabel bebas atau terikat. Selain itu, subvariabel yang membentuk indikator kinerja yang terdapat di beberapa indikator kinerja merupakan penyebab terjadinya hubungan sebab-akibat dan subvariabel yang lain diasumsikan konstan. Jika subvariabel yang sama dalam beberapa indikator di satu aspek, maka indikator dengan bobot lebih besar menjadi variabel bebas dan indikator lain menjadi variabel terikat. Jika kedua indikator berbeda aspek, maka variabel bebas dan terikat berdasarkan posisi aspek dalam peta strategi BSC dengan indikator dalam aspek yang berada di bawah menjadi variabel bebas. Pada Tabel 2. terlihat subvariabel-subvariabel yang membentuk nilai tiap indikator kinerja BPPSPAM.

Tabel 2. Subvariabel-subvariabel yang membentuk nilai masing-masing indikator kinerja (variabel) BPPSPAM

NoIndikator Kinerja (Variabel)Subvariabel-subvariabel
ASPEK SDM
Rasio
pegawai
terhadap
Jumlah pegawai (orang)
1pelangganJumlah pelanggan (orang)
Rasio diklat pegawaiJumlah pegawai yang mengikuti diklat (orang)
2Jumlah pegawai (orang)
Rasio beban diklat terhadapJumlah beban diklat (Rp.)
3beban pegawaiJumlah beban pegawai (Rp.)
ASPEK PELAYANAN
Cakupan pelayanan teknisJumlah penduduk terlayani (jiwa)
4Jumlah penduduk di wilayah pelayanan (jiwa)
Pertumbuhan pelangganJumlah pelanggan periode ini (SR)
5Jumlah pelanggan periode lalu (SR)
Tingkat
penyelesaian
Jumlah pengaduan pelanggan yang tertangani
6pengaduanJumlah pengaduan
Kualitas air pelangganJumlah uji yang memenuhi syarat
7Jumlah yang diuji
Konsumsi air domestikJumlah air terjual pelanggan domestik rata-rata (m3)
8per bulan
Jumlah pelanggan domestik (SR)
ASPEK OPERASIONAL
9Efisiensi produksiRealisasi produksi (m3)
Kapasitas terpasang (m3)
10Distribusi air (m3)
Air
tak
berekening-ATR
(NRW)
Air terjual (m3)
11Jam operasi layananWaktu distribusi air ke pelanggan selama periode
evaluasi
Periode evaluasi (hari)
12Tekanan air pada sambungan
pelanggan
Jumlah pelanggan terlayani dengan tekanan min. 0,7
bar (SR)
Jumlah pelanggan (SR)
13Penggantian
meter
air
pelanggan
Jumlah meter air pelanggan yang diganti/dikalibrasi
(SR)
Jumlah pelanggan (SR)
ASPEK KEUANGAN
Return of Equity (ROE)Laba bersih setelah pajak (Rp.)
14Jumlah ekuitas (modal+cadangan) (Rp.)
Rasio operasiBeban operasi (Rp.)
15Pendapatan operasi (Rp.)
Rasio kasJumlah kas+setara kas (Rp.)
16Jumlah kewajiban lancar (Rp.)
Efektifitas penagihanJumlah penerimaan rekening air (Rp.)
17Jumlah rekening air (Rp.)
SolvabilitasJumlah aset (Rp.)
18Jumlah kewajiban (Rp.)

Tabel 4 adalah hasil analisis hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja BPPSPAM. Dari tabel tersebut terlihat bahwa terdapat 19 hubungan sebab-akibat yang terbentuk.

Tabel 4. Hasil analisis hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja BPPSPAM

No.Subvariabel
yang sama
Indikator
penyebab
(Variabel
bebas)
Indikator akibat
(Variabel terikat)
Keterangan
1Jumlah
pegawai
Rasio beban
diklat terhadap
beban pegawai
Rasio pegawai
terhadap pelanggan
2Jumlah
pegawai
Rasio beban
diklat terhadap
beban pegawai
Rasio diklat
pegawai
3Jumlah
pegawai yang
mengikuti
diklat
Rasio beban
diklat terhadap
beban pegawai
Rasio diklat
pegawai
4Jumlah
pegawai
Rasio beban
diklat terhadap
beban pegawai
Rasio operasiBeban operasi = beban
operasional + beban
operasional lainnya
Beban operasional =
jumlah pegawai x gaji
rata2 + lain-lain
No.Subvariabel
yang sama
Indikator
penyebab
(Variabel
bebas)
Indikator akibat
(Variabel terikat)
Keterangan
5Jumlah
pegawai yang
mengikuti
diklat
Rasio beban
diklat terhadap
beban pegawai
Rasio operasiBeban operasi = beban
operasional + beban
operasional lainnya
Beban operasi lainnya =
jumlah pegawai yang
mengikuti diklat x biaya
diklat rata2 + lain-lain
6Jumlah
pelanggan
Efisiensi
produksi
Tekanan air pada
sambungan rumah
7Jumlah
pelanggan
Efisiensi
produksi (m3)
dalam setahun
Penggantian meter
air pelanggan
8Jumlah
pelanggan
Penggantian
meter air
pelanggan
Pertumbuhan
pelanggan
Jumlah pelanggan =
jumlah pelanggan periode
ini
9Realisasi
produksi
Efisiensi
produksi
Tingkat kehilangan
air
Realisasi produksi =
distribusi air
10Realisasi
produksi
Efisiensi
produksi (m3)
dalam setahun
Jam operasi
layanan
Efisiensi produksi =
kapasitas produksi x jam
operasi layanan x 365 hari
x 3.600 detik / 1.000
11Air yang
terjual
Tingkat
kehilangan air
(NRW)
Efektifitas
penagihan
Efisiensi produksi =
kapasitas produksi x jam
operasi layanan x 365 hari
x 3.600 detik / 1.000
12Jumlah meter
air yang
diganti karena
usia meter air
Penggantian
meter air
pelanggan
Rasio operasiBeban operasi = jumlah
meter air yang diganti x
biaya penggantian meter
air
13Jumlah meter
air yang
diganti karena
kelalaian
pelanggan
Penggantian
meter air
pelanggan
Rasio operasiPendapatan operasi =
pendapatan
usaha+pendapatan lain
lain
Pendapatan usaha =
pendapatan penjualan
air+pendapatan non air
Pendapatan non air =
pendapatan sambungan
baru+denda+pengujian
lab+penyambungan
kembali+penggantian
meter air+pendapatan non
air lainnya
Penggantian meter air =
jumlah meter air yang
diganti x biaya
penggantian meter air
No.Subvariabel
yang sama
Indikator
penyebab
(Variabel
bebas)
Indikator akibat
(Variabel terikat)
Keterangan
14Jumlah air
yang diuji
Kualitas air
pelanggan
Rasio operasiBeban operasional lainnya
= jumlah sampel air x
biaya uji sampel air
15Laba bersih
setelah pajak
Return of EquityRasio operasiLaba bersih = pendapatan
operasi - beban operasi
dan rasio operasi = beban
operasi / pendapatan
operasi
16Laba bersih
setelah pajak
Return of EquityRasio kasKas+setara kas = laba
bersih+laba operasi
sebelum
perubahan+aktivitas
operasi+aktivitas
investasi+aktivitas
pendanaan
17Pendapatan
operasi
Rasio operasiEfektifitas
penagihan
Pendapatan operasi = pendapatan\nusaha+pendapatan non air+pendapatan pemitraan+pendapatan air limbah+pendapatan lain- lain Pendapatan usaha = jumlah rekening air + beban tetap
18Jumlah asetSolvabilitasRasio kasTotal modal+kewajiban = Total aset = Aset lancar+investasi jangka panjang+properti\ninvestasi+aset tetap+aset tetap leasing+aset lain- lain Aset lancar = total kas (kas+setara kas)+investasi jangka pendek+piutang\nusaha+piutang non\nusaha+persediaan
19Jumlah asetSolvabilitasEfektifitas
penagihan
Piutang usaha dalam aset
lancar = jumlah
penerimaan rekening air

Ke 19 hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja BPPSPAM tersebut diketahui, selanjutnya memasukkan hubungan-hubungan tersebut ke dalam peta strategi BSC. Dari 19 hubungan tersebut, terdapat 16 jalur sebab-akibat, hal ini ditunjukkan pada Gambar 1.

0

Gambar 1. Jalur hubungan sebab-akibat antar indikator kinerja BPPSPAM pada peta strategi BSC

KESIMPULAN

Peta strategi BSC dilengkapi dengan jalur sebab-akibat antar indikator kinerja memudahkan PDAM dalam membuat strategi peningkatan kinerja. Jalur sebab-akibat antar indikator kinerja berdasarkan perhitungan bobot tiap indikator kinerja menggunakan metode FAHP untuk menentukan variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dan terikat berdasarkan adanya subvariabel yang sama di beberapa indikator kinerja. Variabel bebas dengan bobot lebih besar untuk memperkecil pencapaian target variabel terikat. Memperhatikan hal tersebut, 18 indikator kinerja BPPSPAM memiliki 19 hubungan sebab-akibat. 19 hubungan sebab-akibat tersebut kemudian diaplikasikan ke dalam peta strategi BSC sehingga terdapat 16 jalur sebab-akibat.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

1
Citations
0.22
FWCIfield-weighted
66th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20191

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.33
level 0
Business 0.32
level 0

Institution Network

  • Bandung Institute of Technology ID
    Program Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung · Inna Rubhasy · Rofiq Iqbal

References

  1. Haider, H., Sadiq, R., dan Tesfamariam, S. (2013): Performance Indicators for Small- and Medium-sized Water Supply System: a Review, Environmental Reviews, 2014 Vol. 22:1-40, 10.1139/er-2013-0013 DOI: 10.1139/er-2013-0013
  2. Jafari, M.; Tootooni, M.; dan Eskandari, M.J (2013): Path analysis development based on Balanced Scorecard in order to identify causal relationship of science and technology indices (case study in Iran University of Science and Technology)
  3. Jassabi, J.; Mohamadnejad, F.; dan Nasrollahzadeh, H. (2010): A fuzzy DEMATEL framework for modeling cause and effect relationships of strategy map, Expert Systems with Applications, vol. 11, doi:10.1016/j.eswa.2010.11.026 DOI: 10.1016/j.eswa.2010.11.026
  4. Jetter, A. J., dan Kok, K (2014): Fuzzy Cognitive Maps for Future Study-A methodological assessment of concepts and methods, Futures, doi:10.1016/j.futures.2014.05.002 DOI: 10.1016/j.futures.2014.05.002
  5. Perlman, Y. (2013): Causal Relationships in the Balanced Scorecard: A Path Analysis Approach, Journal of Management and Strategy, vol. 4, no. 1, doi:10.5430/jms.v4n1p70 DOI: 10.5430/jms.v4n1p70
  6. Vargas, P. T.; Duff, B. R. L.; dan Faber, R. J. (2017): A practical guide to experimental advertising research, Journal of Advertising, doi:10.1080/00913367.2017.1281779 DOI: 10.1080/00913367.2017.1281779
  7. Yousef, O-M., S. (2014): Causality analysis of the technology strategy map using the fuzzy cognitive strategy map, African Journal of Business Management, doi: 10.5897/AJBM2014.7345, ISSN 1993-9233 DOI: 10.5897/ajbm2014.7345
  8. Y1/4ksel, H., dan Coskun, A. (2013): Strategy focused schools: an implementation of the balanced scorecard in provision of educational services, Social and Behavioral Sciences, vol. 12, doi:10.1016/j.sbspro.2013.12.282 DOI: 10.1016/j.sbspro.2013.12.282
  9. Zeraebruk, K. N.; Mayabi, A. O,; Gathenya, J. M.; dan Tsige, Z. (2014): Assessment of Water Supply Services and Operational Performance of Asmara Water Supply Department (AWSD) for Development of Decision Support Tools, Journal of Environment and Natural Resources Research, vol. 4. No. 4, E-ISSN 1927-0496, published by Canadian Center of Science and Education