PENDAHULUAN
Di Indonesia sistem open dumping sudah dilarang oleh pemerintah, pemerintah mengeluarka undang – undang no 18 tahun 2008 Tentang Persampahan yang mengatakan bahwa lima tahun setelah undang-undang ini diterbitkan, setiap kota/kabupaten sudah harus menyediakan tempat pemrosesan sampah yang telah diatur. Namun, sampai sekarang setelah 8 tahun undang-undang telah diterbitkan, masih banyak dijumpai kota dan kabupaten menggunakan open dumping. Hal ini menjadikan perhatian besar karena selain merupakan arahan undang – undang, sistem open dumping juga mengancam kesehatan masyarakat dan juga penurunan kualitas lingkungan.
Pada kota-kota di negara berkembang, volume sampah yang dibawa menuju pembuangan akhir pada umumnya masih merupakan sampah yang dapat dikurangi penggunaannya, masih dapat didaur ulang dan dikompos. Hal ini menunjukkan bahwa masih lemahnya peran masyarakat dalam menangani sampah dalam upaya 3R (pengurangan, penggunaan kembali dan daur ulang). Prioritas utama dalam kegiatan 3R adalah melakukan kegiatan pengomposan dari sampah organik (Damanhuri, 2010).
TPA Batu Layang mulai beroperasi pada tahun 1996 dan terletak 15 Km dari Kota Pontianak dengan luas keseluruhan 26,6 ha, yang terdiri dari 16 ha untuk TPA, 1,5 ha untuk IPLT dan 9,1 ha untuk zona lingkungan. TPA Batu Layang juga berbatasan langsung dengan parit Madura sejauh 300 m. Di TPA Batu Layang ini sendiri menggunakan sistem operasi open dumping. TPA ini diperkirakan memiliki masa guna 20 tahun untuk menampung sampah yang dibuang dari masyarakat. Daerah cakupan pelayanan dari TPA Batu Layang ini adalah Kota Pontianak dengan persentase pelayanan sekitar 83% dari penududuk Kota Pontianak berdasarkan laporan kinerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak tahun 2015.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting TPA Batu Layang menggunakan evaluasi yang dilakukan oleh Asian Regional Research Programme on Environmental Technology (ARRPET). Analisis TPA menggunakan metode ini merupakan analisis menggunakan 27 kriteria penilaian resiko. Hasil kesimpulan tersebut berupa rekomendasi aksi berdasarkan potensi bahaya dalam penilaian resiko. Rekomendasi aksi tersebut antara lain TPA ditutup, TPA perlu direhabilitasi segera, TPA direhabilitasi secara bertahap dan TPA diizinkan untuk dilanjutkan. Analisis tahap akhir adalah analisis kesesuaian tata ruang kawasan sekitar TPA dilihat dari rencana
penggunaan lahan yang ada serta kondisi eksisting TPA. Hasil analisis tersebut termasuk dalam kategori baik jika kondisi eksisting dan rencana penggunaan lahan TPA radius 500 meter dan 1000 meter. Namun setelah dilakukan survey di lapangan terdapat ketidaksesuaian rencana penggunaan lahan sesuai dengan arahan teknis Permen PU No.19 Tahun 2012 mengenai penataan ruang kawasan sekitar TPA. Berdasarkan temuan tersebut diperlukan rencana penataan kawasan sekitar TPA Batu Layang yang sesuai dengan arahan teknis.
METODOLOGI
Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap kondisi eksisting dan evaluasi kondisi eksisting TPA serta kesesuain TPA dengan kawasan sekitar TPA sampah Batu Layang.

Gambar 1. Skema Alir Penelitian
Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi masalah kemudian melakukan studi literatur dan mengumpulkan data-data terkait yang menyangkut data primer maupun data sekunder. Pada tahap awal yang dilakukan adalah mengetahui permasalahan yang menyangkut teknis TPA sampah.
Tahapan selanjutnya adalah mengidentifikasi kondisi eksisting yang dilakukan dengan cara pengumpulan data berupa data primer mengenai kriteria lokasi TPA, komposisi Sampah serta kualitas lindi sesuai dengan kriteria evaluasi TPA sampah dengan metode ARRPET dan mengetahui pembagian zona – zona ataupun subzona yang ada di TPA sampah Batu Layang serta mengumpulkan data terkait peraturan – peraturan persampahan dan data terkait kinerja kelembagaan dalam mengelola sampah di Kota Pontianak.
Setelah data – data sekunder dan primer dikumpulkan, tahapan selanjutnya adalah tahapan evaluasi sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.Tahapan evaluasi ini menentukan keberlanjutan dari TPA yang dievaluasi. Jika hasil evaluasi
merekomendasikan TPA Batu Layang dapat terus dilajutkan maka langkah selanjutnya adalah peningkatan operasional TPA dan meninjau TPA dari kesesuain lahan kawasan sekitar. Namun jika hasil evaluasi merekomendasikan TPA Batu Layang tidak dapat dilanjut maka perlu dicari alternatif lokasi TPA baru.
Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kuantitatif
Pengukuran langsung
Teknik pengukuran langsung dilakukan untuk mengetahui jumlah timbulan sampah, komposisi sampah yang ada dilapangan. Untuk mendukung kegiatan tersebut, pengukuran dilakukan berdasarkan pedoman pengukuran sampling sampah yang terdapat pada SNI 19-3964-1995. Untuk data yang diuji dilaboratorium menggunakan standar metode yang telah ditentukan yaitu SM ed 22 tahun 2010.
Teknik Pengumpulan Data Penelitian Kualitatif
a. Observasi
Menurut Sugiyono (2001), Observasi dapat di bagi menjadi 2 jenis yaitu observasi non-sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan dan observasi sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai instrumen pengamatan. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder tentang peraturan dan dokumen rencana pengelolaan sampah di Kota Pontianak
b. Wawancara
Wawancara merupakan proses interaksi atau komunikasi secara langsung antara pewawancara dengan responden. Pada penelitian ini wawancara akan menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) berupa wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur menurut Sugiyono (2012) didalam pelaksanaannya lebih bebas dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti menggunakan bantuan pedoman wawancara untuk memudahkan dan memfokuskan pertanyaan yang akan diutarakan. Peneliti juga menggunakan alat bantu rekam untuk memudahkan dalam proses pengolahan data.
Analisis Data
1) Evaluasi TPA
Evaluasi TPA merupakan tahap awal penelitian yang berisikan 27 atribut yang diteliti dan dihitung berdasarkan bobot yang sudah ditentukan sebelumnya. Hasil dari pembobotan tersebut akan menghasilkan skor yang mengindikasikan arahan berupa rekomendasi aksi terhadap keberadaan TPA Batu Layang. Setelah seluruh atribut diberi nilai berdasarkan kondisi faktual yang ada, maka kita akan mendapatkan jumlah skor berupa indeks resiko yang bermakna pada suatu rekomendasi terhadap kegiatan TPA ke depannya, seperti TPA ditutup, direhabilitasi atau dapat dilanjutkan kembali.
Tabel 1. Rekomendasi ARRPET
| SI No | Indek | Potensi Bahaya | Rekomendasi Aksi | |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Resiko | |||
| 1 | 750 - 1000 | Sangat Tinggi | Menutup TPA dengan tidak ada lagi penimbunan di daerah ini Melakukan tindakan perbaikan untuk mengurangi dampak | |
| 2 | 600 - 749 | Tinggi | Menutup TPA dengan tidak ada lagi penimbunan di daerah ini Melakukan tindakan hanya sebuah pilihan. | |
| 3 | 450 - 599 | Sedang | Segara merehabilitasi TPA menjadi TPA berkelanjutan | |
| 4 | 300 - 499 | Rendah | Merehabilitasi TPA menjadi TPA berkelanjutan dengan cara bertahap | |
| 5 | >300 | Sangat Rendah | Lahan TPA Potensial untuk TPA masa depan | |
Sumber: Visvanathan dkk, 2010
2) Kesesuaian Kawasan Sekitar TPA
Mengingat Kota Pontianak merupakan daerah ibukota provinsi yang berkembang yang memungkinkan adanya perluasan perkembangan di wilayah ini, maka ruang yang ada di sekitar TPA harus diatur sesuai peraturan yang ada agar menghindari adanya perluasan kawasan budidaya di sekitar TPA yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat dan operasional TPA. Analisis yang digunakan pada tahap ini adalah analisis spasial. Analisis ini mengacu pada Peraturan Menteri PU Nomor 19 Tahun 2010 Tentang Penataan Kawasan Sekitar TPA. Keluaran dari analisis ini adalah memetakan daerah yang harus terbebas dari dampak dari adanya aktivitas TPA seperti penyebaran asap, kemungkinan adanya ledakan dari gas, migrasi hewan vektor dan lain.
3) Alternatif Pengembangan TPA
Tahapan selanjutnya adalah merencanakan alternatif pengembangan TPA Batu Layang, perencanaan alternatif pengembangan TPA mempertimbangkan faktor – faktor yang mempengaruhi biaya pengoperasian dan pemeliharaan sampah. Pada tahap analisis ini memiliki keluaran berupa total biaya pengoperasian dan pemeliharaan TPA dan biaya pengolahan TPA rupiah/ton.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa Pelayanan Pengangkutan Sampah
Untuk menghitung tingkat pelayanan pengangkutan sampah menuju TPA dimulai dengan menentukan jumlah penduduk pada tahun analisis. Timbulan sampah rumah tangga pada tahun 2016 sebesar 653.030 jiwa x 2.75 l/jiwa/hari =1.795 m3 /h atau 359 ton/hari dan sampah non rumah tangga sebesar 71 ton/hari (diasumsikan sebesar 20% dari total timbulan sampah). Berdasarkan pengambilan data di lapangan bahwa sampah yang masuk ke TPA yaitu 335 ton/hari berdasarkan hal tersebut bahwa layanan TPA Batu Layang sebesar 77%. Angka pelayanan pengangkutan di Kota Pontianak masih renda namun TPA sudah melayani seluruh kecamatan di Kota Pontianak. Cakupan pelayanan tersebut masih perlu ditingkatkan untuk mendukung program universal akses pelayanan persampahan 100% pada tahun 2019. Dalam satu hari jumlah ritase yang masuk ke dalam TPA Kota Pontianak adalah 138 ritase dengan jumlah unit pengangkutan sebanyak 38 unit, antara lain 14 unit dump truck, 23 unit armoll truck dan 1 unit compactor truck.
Komposisi Sampah
Jumlah sampah yang masuk ke TPA rata-rata per hari mencapai 1.014 m3 /hari atau 335 ton/hari dengan rata – rata ritase per hari yaitu 142 ritase dan menghasilkan berbagai jenis komposisi sampah. Komposisi sampah dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini.

Gambar 2. Komposisi sampah yang masuk ke TPA Batu Layang
Penilaian Analisis Resiko (ARRPET)
Dari hasil pengumpulan data primer dan data sekunder yang telah dilakukan kemudian didapatkan hasil yang berupa nilai keseluruhan yang merupakan kondisi dari TPA Batu Layang berdasarkan penilaian dengan kriteria ARRPET. Dari 27 kriteria yang telah dikumpulkan didapat nilai keseluruhan yaitu 566,75. Nilai tersebut dalam arahan rekomendasi aksi ARRPET memiliki arti bahwa TPA Batu Layang berdasarkan penilaian ARRPET harus segera merehabilitasi TPA menjadi TPA yang berkelanjutan.Rincian rekapitulasi penilaian ARRPET dapat dilihat pada Tabel 2.
Langkah rehabilitasi ditujukan baik untuk pengurangan resiko dan menstabilisasikan resiko yang ada. Transisi umum untuk penutupan landfill akan mencakup tahap-tahap berikut: membentuk penutup utama, mengaplikasikan humus, menanam rumput atau semak-semak, pengumpulan dan pembuangan gas, dan pengelolaan lindi.
| No | Kriteria | Satuan | Hasil | Nilai |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Jarak dengan sumber air minum terdekat | meter | 5.250 | 8.625 |
| 2 | Kedalaman timbulan sampah | meter | 4 | 40 |
Tabel 2. Rekapitulasi penilaian ARRPET
| No | Kriteria | Satuan | Hasil | Nilai |
|---|---|---|---|---|
| 3 | Luas Area TPA | hektar | 31.6 | 53.375 |
| 4 | Kedalaman air tanah | meter | 1.35 | 47.25 |
| 5 | Permeabelitas Tanah | 1x10-6 cm/ | 1,83 x10-6 cm/s | 33.75 |
| 6 | Kualitas Air Tanah | layak/tidak | tidak layak | 43.75 |
| 7 | Jarak terhadap habitat seperti sawah atau hutan lindung | kilometer | 1,56 | 40.25 |
| 8 | Jarak terhadap bandar udara terdekat | kilometer | 25,7 | 5.75 |
| 9 | Jarak terhadap badan air permukaan | kilometer | 0.3 | 35.875 |
| 10 | Tipe lapisan tanah | % clay | 25 | 25.625 |
| 11 | Umur layan TPA kedepannya | tahun | 7 | 13.5 |
| 12 | Jenis sampah di TPA | MSW/HW | 100 % sampah | 3.75 |
| 13 | Kuantitas sampah masuk TPA | ton | 1080000 | 18.75 |
| 14 | Kuantitas sampah yang diolah | ton/hari | 335 | 9 |
| 15 | Jarak pemukiman terdekat yang dapat terdampak angin dari TPA | kilometer | 0.1 | 18.375 |
| 16 | Periode banjir tahunan | 0 | 2 | |
| 17 | Curah hujan tahunan di TPA | mm/tahun | 228 | 6.875 |
| 18 | Jarak dari pusat kota | kilometer | 12.9 | 2.625 |
| 19 | Penerimaan masyarakat terhadap TPA | Menerima | 2.625 | |
| 20 | Kualitas udara Ambien CH4 | % | 0.04 | 1.125 |
| 21 | Jumlah sampah berbahaya | % | 0.3 | 8.875 |
| 22 | Fraksi Sampah Biodegradasi | % | 62.3 | 57.75 |
| 23 | Umur Timbunan di TPA | tahun | 21 | 21.75 |
| 24 | Kadar air sampah di TPA | % | 69.86 | 22.75 |
| 25 | BOD lindi | mg/l | 818,30 | 31.5 |
| 26 | COD lindi | mg/l | 1.259,52 | 16.625 |
| 27 | TDS lindi | mg/l | 2.418 | 4.875 |
Penutupan Sel Lama dan Pembukaan Sel Baru
Penutupan Sel lama dan pembukaan sel baru merupakan bagian dari proses rehabilitasi yang segera dilakukan. Hal tersebut berdasarkan rekomendasi aksi dari ARRPET. Penutupan sel lama harus sesuai dengan kaidah – kaidah penutupan timbunan yang berlaku. Agar timbunan lama yang sudah ditutup ini tidak mencemari lingkungan dibutuhkan liner atau lapisan – lapisan penutup.

Gambar 3. Sistem penutupan akhir pada sanitary landfill (Sumber: Damanhuri dan Tri Patmi 2016)
Adapun untuk membuka sel baru harus mempersiapkan fasilitas - fasilitas TPA yaitu:
- 1. Fasilitas umum (jalan akses, jalan operasi, kantor, drainase, pagar dan papan nama)
- 2. Fasilitas perlindungan lingkungan (pembentukan dasar TPA, saluran pengumpul lindi, ventilasi gas dan ventilasi akhir)
- 3. Fasilitas penunjang (jembatan timbang, air bersih, hanggar, fasilitas pemadam kebakaran dan fasilitas pengomposan)
Penetapan Kawasan Sekitar TPA Batu Layang
TPA Batu Layang jika dilihat dari tipologi TPA adalah merupakan TPA Sampah lama yang memiliki sistem lahan urug terbuka dan belum memiliki penyangga. Dari tipologi ini maka kawasan sekitar TPA Batu Layang diarahkan untuk menyusun kawasan subzona penyangga dan subzona budidaya terbatas. Berbeda dengan TPA yang sudah memiliki sistem lahan urug saniter, maka hanya dibutuhkan subzona penyangga saja tanpa subzona budidaya terbatas.
Dengan menggunakan analisa spasial yaitu sistem informasi geografis yang disesuaikan RTRW Kota Pontianak didapat arahan penggunaan lahan pada subzona penyangga yaitu seperti TPA sampah, kawasan perlindungan terhadap kawasan lainnya yaitu kawasan lindung gambut, sebagian kecil kawasan hunian kepadatan sedang serta kawasan pertanian. Pada subzona penyangga memperhatikan bahaya meresapnya lindi ke dalam mata air dan badan air lainnya, bahaya ledakan gas metan, dan bahaya penyebaran penyakit melalui binatang vektor.
Gambar 4. Gambar Zonasi Kawasan Sekitar TPA Radius 500 m
Alternatif Pengembangan TPA Berdasarkan Rekomendasi ARRPET
Hasil evaluasi kondisi eksisting TPA Batu Layang yaitu TPA Batu Layang harus segera direhabilitasi dan dijadikan TPA yang berkelanjutan. Oleh karena itu diperlukan Alternatif pengembangan TPA. Alternatif pengembangan TPA Batu Layang terkait dengan rekomendasi ARRPET yaitu:
- 1. Rehabilitasi sel A, B dan C dengan cara menutup sel tersebut
- 2. Mengembangkan sel D menjadi TPA yang berkelanjutan
Alternatif Pengembangan TPA dengan Membangun Sel Baru
Ada beberapa alternatif pengembangan TPA dengan membangun sel baru. Alternatif tersebut antara lain:
- 1. Alternatif pengembangan 1
- Business-as-usual dengan TPA controlled landfill
- Sampah dikelola seperti kondisi eksisting
- Rencana kenaikan layanan 5 % ( menjadi 100% layanan pada tahun 2025)
- 2. Alternatif pengembangan 2
- Pengerukan dengan TPA sanitary lamdfill
- 3. Alternatif pengembangan 3
- Reduksi sampah sebelum diangkut ke TPA
- Reduksi 35% pada tahun 2018 melalui pengomposan dan recovery sampah nilai jual
- Rencana kenaikan layanan 5% ( menjadi 100% layanan pada tahun 2020)
Tabel 3. Skenario pembiayaan operasional dan pemeliharaan
| Sistem Pengoperasian TPA | Skenario | Total Biaya Operasional dan Pemeliharaan (Rp) | Biaya Pengolahan Sampah (Rp/ton/hari) |
|---|---|---|---|
| Controlled | Kondisi Eksisting | 5,072,933,206 | 60,428 |
| Landfill | Pengurangan di sumber, TPS R dan TPA | 3,297,406,584 | 33,386 |
| Canitam | Kondisi Eksisting | 10,930,226,535 | 103,705 |
| Sanitary Landfill | Pengurangan di sumber, TPS 3R dan TPA | 7,104,647,248 | 57,297 |
KESIMPULAN
Kondisi eksisting pengelolaan sampah di Kota Pontianak yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak dan teknis pengelolaan persampahan dikelola oleh UPTD Pengelolaan Sampah dan Limbah. Timbulan sampah yang masuk ke TPA Batu Layang 335 ton/hari dengan timbulan sampah kota rata – rata 431 ton/hari. Berdasarkan hasil pengujian tersebut persentase cakupan layanan dari TPA Batu Layang yaitu 77% layanan. Dari hasil pengumpulan data primer dan data sekunder yang telah dilakukan kemudian didapatkan hasil yang berupa nilai keseluruhan yang merupakan kondisi dari TPA Batu Layang berdasarkan penilaian dengan kriteria ARRPET. Dari 27 kriteria yang telah dikumpulkan didapat nilai keseluruhan yaitu 566,75. Nilai tersebut dalam arahan rekomendasi aksi ARRPET memiliki arti bahwa TPA Batu Layang berdasarkan penilaian ARRPET berpotensi bahaya sedang dengan rekomendasi aksi yaitu rehabilitasi TPA segera menjadi TPA berkelanjutan.
Berdasarkan analisis kebutuhan lahan TPA Batu Layang bahwa dibutuhkan penambahan luas lahan TPA Batu Layang. Luas lahan tersebut akan terus meningkat jika tidak ada reduksi sampah dari sumber
Pengerukan sampah pada sel A, B dan C berdampak pada pencemaran lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil uji laboratorium terkait komponen kualitas air tanah, kualitas BOD lindi dan COD lindi. Oleh sebab itu hasil dari rekomendasi ARRPET bahwa TPA Batu Layang harus segera direhabilitasi
Direncanakan Alternatif pengembangan TPA dengan merabilitasi sel A, sel B, dan sel C serta pembangunan sel D.
