PENDAHULUAN
Air limbah domestik yang dihasilkan aktifitas manusia tidak bisa begitu saja dibuang ke badan perairan atau ke lingkungan, hal ini dikarenakan air limbah domestik memiliki kualitas yang buruk karena mengandung indikator yang mengindikasikan adanya bakteri patogen yaitu termasuk E.coli yang berasal dari tinja manusia, juga unsur lain yang menurunkan kualitas lingkungan serta dampak terhadap kesehatan yaitu waterborne disease seperti diare (Hardjosuprapto, 2000).
Berdasarkan laporan Environmental Health Risk Assesment (EHRA) tahun 2014 Kecamatan Bogor Tengah memiliki, 94,5% warga sudah memiliki jamban pribadi, namun sebanyak 3,4 % masih menggunakan MCK/WC umum dan 2% ke sungai. Meskipun demikian, masih terdapat masyarakat yang terkena diare dalam waktu 6 bulan terakhir, yaitu sebanyak 7,6 % (Dinkes 2014). Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa masih terdapat masyarakat yang belum memiliki akses sanitasi yang layak. Hal tersebut berdampak terhadap risiko sanitasi Kecamatan Bogor Tengah. Berdasarkan laporan Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Bogor Tahun 2015-2020, dari 11 kelurahan terdapat 2 kelurahan dengan kategori risiko sangat tinggi, 8 kelurahan dengan kategori risiko tinggi dan hanya 1 kelurahan yang memiliki kategori risiko rendah(BAPPEDA 2016).
Berdasarkan RTRW Kota Bogor 2011-2031 tentang rencana struktur ruang Kota Bogor ditetapkan bahwa Kecamatan Bogor Tengah merupakan pusat pelayanan kota yang juga menjadi kawasan pusat perkantoran dan perdagangan jasa primer (skala kota dan regional) (BAPPEDA 2011). Sehingga kecamatan Bogor Tengah memiliki kepadatan penduduk tahun 2016 sebesar 128,8 jiwa/ha dan merupakan Kecamatan dengan tingkat kepadatan tertinggi di Kota Bogor.
Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat di Kawasan Perkotaan Bogor Tengah memberikan dampak yang sangat serius terhadap penurunan daya tampung dukung lingkungan. Dampak tersebut harus disikapi dengan tepat, khususnya dalam pengelolaan air limbah. Pembuangan air limbah tanpa melalui proses pengolahan akan mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, penurunan daya tampung lingkungan. Atas dasar hal tersebut, dengan mempertimbangkan aspek kepadatan penduduk yang tinggi, lahan yang terbatas untuk menggunakan on-site sistem, masih terdapat waterborne disease, dan juga topografi yang cenderung menurun, diperlukan sistem penyaluran air limbah domestik secara off-site sistem sebagai solusi dari permasalahan sanitasi di Kecamatan Bogor Tengah mengingat dan kemudian di alirkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) Kayu Manis yang berada pada Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor (BAPPEDA 2010).
Perencanaan sistem penyaluran air limbah domestik dibuat 2 buah alternatif jalur untuk mendapatkan variasi jalur berdasarkan luasnya daerah terlayani dan prioritas pelayanan. penentuan jalur terbaik diperlukan sebuah metode pemilihan agar jalur terpilih merupakan jalur yang paling sesuai dengan kriteria teknis yang disyaratkan. Metoda pemilihan alternatif yang digunakan yaitu Weighted Ranking Technique (WRT) parameter yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan jalur pipa yaitu, kecepatan minimum, waktu pengaliran,biaya pembelian pipa, presentase luas area terlayani, dan jumlah aksesoris. Berdasarkan hal tersebut diharapkan agar pembuatan keputusan dalam jalur pipa air limbah domestik di Kecamatan Bogor Tengah merupakan alternatif tebaik karena pendekatan yang dilakukan karena sesuai dengan persyaratan secara teknis dan ekonomi.
METODOLOGI
2.1 Tahap Tinjauan Awal dan Identifikasi Masalah
Dengan Metode Desk Study, dilakukan analisa deskriptif dengan mengkombinasikan analisa kualitatif dan kuantitatif. Analisa kualitatif dilakukan melalui studi pustaka mengenai kondisi sanitasi daerah perencanaan. Analisa Kuantitatif dilakukan dengan menggunakan pustaka yang berasal buku laproran EHRA (Environmental Health Risk Assesment), data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga meninjau regulasi dan perencanaan terkait penyaluran air limbah domestik seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) untuk selanjutnya dilakukan identifikasi permasalahan yang akan dibahas, serta menentukan batasan permasalahan yang dilakukan, kemudian dapat disimpulkan urgensi penyaluran air limbah domestik di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
2.2 Tahap Pengumpulan Data
Tahap Persiapan
▪
Tahap persiapan merupakan langkah awal untuk memulai pengumpulan data. Pada tahap persiapan dibuat susunan rencana dalam pengambilan data agar waktu yang digunakan lebih efektif.
- Studi pustaka terhadap materi untuk proses perencanaan
- Menentukan kebutuhan data
- Mendata instansi dan institusi yang menjadi sumber data
- Pengadaan persyaratan administratif/surat-menyurat untuk keperluan pengumpulan data
Tahap Pengumpulan data
Berdasarkan cara memperolehnya, data dibedakan menjadi 2 buah, yaitu data primer dan data sekunder. Data Primer peroleh dari observasi yang dilakukan terhadap kondisi sistem penyaluran air limbah domestik di daerah perencanaan. Sedangkan data Sekunder dilakukan dengan metode desk study yaitu metode untuk mendapatkan keadaan indikator dengan melakukan kajian dan penelaahan terhadap dokumen dan laporan dari instansi terkait (Dinas Kehutanan, 2012). Adapun data yang diperlukan yaitu Demografi 10 tahun terakhir, sarana dan pra-sarana, tata guna lahan, kondisi penyaluran air limbah domestik, topografi, RTRW, profil kecamatan, kondisi hidrologi, kondisi sanitasi, dan harga satuan daerah untuk aksesoris pipa dan material bangunan.
2.3 Tahap Pengolahan dan Analisis Data
Pra Perencanaan
▪ Proyeksi Penduduk
Data tahun awal yang dimiliki adalah tahun 2016, tahun ke-0 periode desain adalah 2019, maka bila diproyeksikan untuk 23 tahun mendatang, data penduduk yang diperoleh yaitu hingga tahun 2039.
Dalam melakukan proyeksi penduduk, metode yang cukup representatif untuk memproyeksikan jumlah penduduk adalah secara matematis diantaranya Metode Aritmatik, Metode Geometrik dan Metode Least Square. Ketiga metode tersebut dipilih berdasarkan parameter nilai simpangan baku / Standar Deviasi (SD), perhitungan koefisien variansi (CV), dan perhitungan nilai korelasi (r) antara data eksisting dengan data menurut model proyeksi.
▪ Proyeksi Fasilitas
Proyeksi fasilitas sarana prasarana yang ada di daerah perencanaan bertujuan mengetahui pertumbuhan fasilitas umum atau kegiatan bersifat non-domestik yang ada di daerah perencanaan. Proyeksi fasilitas sarana dan prasarana daerah perencanaan dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.534/KPTS/M/2001 tentang Standar Pelayanan Minimal untuk Permukiman (KemenPU 2001).
▪ Proyeksi Kebutuhan Air Domestik
Berdasarkan cara pelayanan untuk kebutuhan air domestik dibagi menjadi dua jenis Konsumi air domestik merupakan banyaknya air yang digunakan penduduk kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor guna menunjang aktifitas sehari-hari. Kondisi wilayah perencanaan akan menentukan kebutuhan air bersih untuk daerah perencanaan, faktor yang sangat mempengaruhi pola pemakaian air bersih diantaranya pertambahan jumlah penduduk dan tingkat sosial ekonomi penduduk.
Besarnya konsumsi air yang digunakan oleh penduduk didapat dari data besarnya air yang disalurkan oleh PDAM. Data yang digunakan berdasarkan Statistik Kota Bogor 2015 dan 2016.
▪ Proyeksi Kebutuhan Air Non-domestik
Proyeksi kebutuhan air non-domestik didasarkan pada kondisi aatau jumlah sarana prasarana non-domestik di awal perencanaan, dan kemungkinan perkembangannya sampai akhir periode perencanaan.
Untuk melakukan perhitungan kebutuhan air non-domestik, Dirjen Cipta Karya PU memiliki regulasi terkait Standardisasi Kebutuhan Air Minum Fasilitas Perkotaan.
▪ Proyeksi Timbulan Air Limbah Domestik
Berdasarkan Spesifikasi Teknis Penyaluran Air Limbah Domestik dengan Sistem Terpusat tahun 2017, 80% air bersih yang dikonsumsi akan menjadi air buangan.
96 Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 23 No. 2 − Widhi Sally Sufinah Rosadi, Etih Hartati, dan Nico Halomoan
Perencanaan
▪ Membuat 2 jalur Alternatif
Dalam membuat 2 jalur alternatif, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah topografi, rencana perkembangan kota, jalur pipa air bersih, permasalahan sanitasi, jalur pipa dapat melayani sebanyak mungkin rumah tangga, jalur pipa mengikuti jalan umum milik pemerintah dengan mengikuti hirarki jalan guna mendukung operasi dan pemeliharaan, serta demografi khususnya kepadatan penduduk.
▪ Menghitung dimensi dan aksesoris pipa.
Menghitung dimensi pipa dilakukan guna mengetahui diameter dan kecepatan pengaliran agar memenuhi kriteria desain yang ditetapkan.
▪ Aksesoris Pipa
Aksesoris pipa yang akan digunakan guna menunjang sistem penyaluran air limbah domestik berupa manhole, siphon, dan aksesoris pipa lain sesuai kebutuhan perencanaan.
2.4 Tahap Pemilihan Alternatif
Alternatif jalur dibuat dengan memperhatikan topografi, jalur air bersih, kepadatan penduduk, risiko sanitasi, rencana pengembangan kota dan jalan utama daerah perencanaan. Pemilihan alternatif dilakukan dengan metode weighted ranking technique (WRT).
Dalam metode WRT, kriteria pemilihan berdasarkan penilaian beberapa parameter (metode pembobotan atau weighting method) memberikan penilaian seobjektif mungkin dengan menampilkan beberapa parameter yang cukup representatif, sehingga menekan penyimpangan yang mungkin terjadi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pemilihan alternatif yaitu menentukan Koefisien Pentingnya Faktor (KPF) dan Koefisien Pentingnya Alternatif (KPA) (Taufik 2015).
Parameter yang digunakan untuk pembobotan dengan metode WRT yaitu panjang saluran, luas area terlayani paling besar, diameter pipa paling kecil, kecepatan minimum tercepat dalam rentang kriteria yang dipersyaratkan, waktu pengaliran tercepat hingga ke IPAL, dan jumlah aksesoris paling sedikit.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Penentuan Jalur Alternatif
3.1.1 Pembuatan Jalur Alternatif
Pembuatan jalur alternatif didasarkan pada prioritas area penanganan limbah dalam Rencana Induk Investasi Air Limbah Paket I : Bogor, yang menjelaskan bahwa beberapa area yang harus menjadi prioritas adalah:
- a) Area komersial dengan usaha seperti mall, hotel, restoran yang mampu memberikan kontribusi finansial untuk menutupi biaya operasi dan pemeliharaan institusi pengelola air limbah profesional;
- Kota Bogor tidak mempunyai kawasan bisnis terpusat (Central Bisnis District) yang spesifik, kawasan komersil berupa usaha niaga dan perhotelan pada umumnya berkembang disepanjang jalan protokol, dan dikelompokkan menjadi Linear Commercial Areas (LCA).
- LCA utama di Kecamatan Bogor Tengah adalah Jl. Surya Kencana dan Jl. Merdeka.
- b) Area dimana masyarakat tinggal di wilayah dengan risiko sanitasi tinggi. Hal ini tercermin dalam EHRA;
- Di Kecamatan Bogor tengah, daerah yang termasuk kedalam daerah pelayanan dengan risiko santasi sangat tinggi adalah Kelurahan Babakan Pasar, dan risiko sanitasi tinggi adalah Kelurahan Gudang, Paledang, Panaragan, Kebon Kalapa,
Pabaton, dan Cibogor. Sedangkan untuk daerah dengan risiko sanitasi rendah adalah Kelurahan Caringin.
Kelurahan Gudang memiliki skor 65,7% dan merupakan ranking 1 dalam prioritas penanganan air limbah perpipaan di Kota Bogor, dilanjutkan dengan Kelurahan Babakan Pasar pada ranking 2.
c) Area di mana ada banyak terjadi BABS (Buang Air Besar Sembarangan), ini adalah secara umum daerah dimana pada saat ini cakupan fasilitas air limbah relatif rendah.
Di Kota Bogor, masih terdapat 4,7 % penduduk yang melakukan BAB secara terbuka (Open Defecation :OD). Untuk Kecamatan Bogor Tengah, Kelurahan Gudang merupakan kelurahan kedua yang memiliki presentase OD tertinggi di Kota Bogor yaitu sebesar 27%, Kelurahan Panaragan 19%, Ciwaringin 11% dan Paledang sebanyak 3%.
3.1.2 Jalur Alternatif yang diusulkan
Pembuatan alternatif pada perencanaan ini berdasarkan arahan masterplan air limbah kota bogor bahwa area yang harus dilayani adalah Linear Commercial Areas (LCA) area risiko sanitasi tinggi, dan pemukiman yang memiliki angka BABS yang tinggi. Dengan mempertimbangkan ketiga syarat tersebut, serta dengan memperhatikan topografi dan badan jalan, dibuat 2 buah jalur alternatif yang ditawarkan atas solusi dari permasalahan sanitasi dan dapat diterapkan sebagai sistem penyaluran air limbah domestik di Kecamatan Bogor Tengah. Adapun gambaran jalur alternatif yang diusulkan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Perbandingan Alternatif jalur 1 dan 2
| Tabel 1. Perbandingan Alternatif jalur 1 dan 2 | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pertimbangan Jalur | Alternatif 1 | Alternatif 2 | |||||||
| Jumlah jalur induk | 1 buah pipa induk | 1 buah pipa induk | |||||||
| Luas area pelayanan | 67,46%. 71,41 % | ||||||||
| Panjang pipa | Panjang Jalur Total = 9.251 m | Panjang Jalur Total =11.717 m | |||||||
| pipa induk = 5.251 m dan pipa latetal | pipa induk =5.721 m pipa latetal | ||||||||
| = 4.324 m | =5.996 m. | ||||||||
| LCA (Linear | Jl Surya Kencana | Jl Surya Kencana. | |||||||
| Commercial Areas) | Jl Merdeka. | ||||||||
| utama yang terlewati | |||||||||
| Risiko Sanitasi | • Risiko santasi sangat tinggi = Kelurahan Babakan Pasar | • Risiko santasi sangat tinggi = Kelurahan Babakan Pasar | |||||||
| • Risiko sanitasi tinggi Kelurahan Gudang (memiliki skor 65,7% dan merupakan ranking 1 dalam prioritas penanganan), Paledang, Panaragan, Kebon Kalapa, Pabaton, dan Cibogor • Risiko sanitasi rendah adalah | • Risiko sanitasi tinggi Kelurahan Gudang (memiliki skor 65,7% dan merupakan ranking 1 dalam prioritas penanganan), Paledang, Panaragan, Kebon Kalapa, Pabaton, dan Cibogor • Risiko sanitasi rendah adalah | ||||||||
| Kelurahan Caringin. | Kelurahan Caringin. | ||||||||
| Sistem Pengaliran | Gravitasi. | Gravitasi. | |||||||
| Jumlah aksesoris | 123 manhole | 152 manhole | |||||||
| 1 siphon | 1 siphon | ||||||||
Sumber: Hasil Analisis 2017
3.1.3 Pembuatan Blok Pelayanan
Menurut Rachim (2001), pembagian blok pelayanan dilakukan untuk memudahkan perhitungan, dimana setiap blok pelayanannya membebani setiap saluran pengumpul. Adapun hal yang menjadi dasar pertimbangan dalam pembagian blok pelayanan adalah topografi dan jaringan jalan. Adapun blok yang direncanakan dari kedua alternatif dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.
3.2 Pemilihan Alternatif
Berikut merupakan tahapan memilih alternatif dengan metodeweighted ranking technique (WRT):
i. Menentukan parameter-parameter yang akan dipertimbangkan untuk dijadikan perbandingan terhadap 2 buah alternatif
Berikut merupakan parameter yang akan dijadikan pembanding:
1. Kecepatan Pengaliran
Penilaian tertinggi diberikan pada kecepatan minimum yang paling tinggi, sehingga waktu pengaliran hingga ke IPAL semakin singkat. Namun kecepatan pengaliran air limbah tidak boleh terlampau tinggi karena dapat menyebabkan tergerusnya pipa (abrasi). Kecepatan di dalam pipa juga tidak boleh terlalu lambat karena aliran haruslah membawa material yang ada dalam aliran, agar tidak menyebabkan adanya pengendapan pada dasar saluran pipa, serta tidak menimbulkan H2S. Kecepatan pengaliran harus berada pada rentang kriteria desain yaitu kecepatan minimum 0,6 m/detik dan maksimum 3 m/s (Hardjosuprapto 2000). Adapun kecepatan minimum di dalam pipa dari tiap alternatif sebagai berikut:
- Alternatif 1 = 1,69 m3 /detik
- Alternatif 2 = 1,75 m3 /detik
2. Waktu Pengaliran hingga ke IPAL
Penilaian tertinggi diberikan pada alternatif yang memiliki waktu pengaliran ke IPAL paling singkat dan tidak lebih dari 18 jam. Ketentuan ini didasarkan pada karakteristik mikroorganisme pereduksi yang bisa mendekomposisi senyawa-senyawa dalam air limbah menjadi senyawa septik (Hardjosuprapto 2000). Adapun waktu pengaliran pipa dari tiap alternatif sebagai berikut:
- Alternatif 1 = 8,37 jam
- Alternatif 2 = 8,43 jam
3. Biaya
Penilaian tertinggi diberikan pada alternatif yang memiliki prakiraan biaya investasi pipa yang lebih murah. Hal ini berkaitan dengan panjang saluran serta diameter. Semakin panjang pipa maka biaya investasi pipa akan lebih besar begitupun dengan diameter pipa yang semakin besar dan tentunya akan menambah biaya investasi pembangunan. Investasi biaya pipa yang paling ekonomis adalah alternatif 1 dengan biaya investasi sebesar Rp 475.670.000. Untuk lebih jelasnya, biaya investasi dari panjang dan diameter pipa dari kedua alternatif sebagai berikut:
Tabel 2. Investasi Biaya Pipa Alternatif 1
| Panjang Pipa | Jumlah | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pipa | Diameter | perhitungan pasaran | Pipa | Harga Satuan | Harga Total | ||||||
| Pipa | mm | cm | m | m | unit | Rp | Rp | ||||
| Buis Beton | Lateral | 200 | 20 | 4324 | 1 | 4324 | Rp | 25.000 | Rp | 108.100.000 | |
| Induk | 500 | 50 | 5251 | 5251 | Rp | 70.000 | Rp | 367.570.000 | |||
| TOTAL | 9575 | Rp | 475.670.000 | ||||||||
Sumber: Harga Satuan Pekerjaan Tertinggi Upah dan Bahan Kota Bogor, 2017
Tabel 3. Investasi Biaya Pipa Alternatif 2
| Pipa Buis Beton | Panjang Pipa | Jumlah | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Diameter | perhitungan | pasaran | Pipa | Harga Satuan | Harga Total | |||||
| Pipa | mm | cm | m | m | unit | Rp | Rp | |||
| Lateral | 200 | 20 | 5721 | 5721 | Rp | 25.000 | Rp | 143.025.000 | ||
| Induk | 500 | 50 | 5996 | 1 | 5996 | Rp | 70.000 | Rp | 419.720.000 | |
| TOTAL | 11717 | Rp | 562.745.000 | |||||||
Sumber: Harga Satuan Pekerjaan Tertinggi Upah dan Bahan Kota Bogor, 2017,2017
4. Luas Area Terlayani
Alternatif dengan presentase luas cakupan pelayanan paling besar diberikan nilai tertinggi. Hal ini dikarenakan semakin besar presentase daerah terlayani, semakin besar pula kemungkinan perencanaan sistem penyaluran air limbah domestik dapat menghilangkan potensi waterborne disease pada daerah dengan tingkat risiko sanitasi yang tinggi dan sangat tinggi. Dilihat dari cakupan area pelayanan, maka semakin besar daerah pelayanan maka akan diiringi dengan peningkatan debit air timbulan yang dihasilkan, juga peningkatan diameter pipa. Adapun area terlayani dari tiap alternatif sebagai berikut:
Tabel 4. Area Terlayani Alternatif 1
| Luas Area | Jumlah Penduduk Ekivalen (orang) | ||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nama Blok | Ha | % | Domestik | Non Domestik | ∑Penduduk | ||||||
| Luas Area | 476,33 | 100% | 79241 | 39811 | 119052 | ||||||
| Terlayani | 321,41 | 67,48% | 53469 | 26863 | 80332 | ||||||
| Tidak Terlayani | 154,919 | 32,52% | 25772 | 12948 | 38720 | ||||||
Sumber:Hasil Analisis,2017
Tabel 5. Area Terlayani Alternatif 2
| Luas Area | Jumlah Penduduk Ekivalen (orang) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Nama Blok | m2 | % | Domestik | Non Domestik | ∑Penduduk | |||
| Luas Area | 476,33 | 100% | 79241 | 39811 | 119052 | |||
| Terlayani | 340,17 | 71,41% | 56590 | 28431 | 85021 | |||
| Tidak Terlayani | 136,159 | 28,59% | 22651 | 11380 | 34031 | |||
Sumber:Hasil Analisis,2017
Perbedaaan cakupan daerah terlayani dengan offsite system untuk alternatif 1 dan 2 dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 sebagai berikut:
PETA JALUR ALTERNATIF 1 SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH KECAMATAN BOGOR TENGAH 1.16 000 KETERANGAN BLOK = A1 = A10 = A21 = A31 - Jalur Kereta Api Sungai = A11 = A22 = A32 ■ Manhole = A13 = A23 = A33 - Jalur Pina Induk = A14 = A24 = A34 - Jalur Pipa Lateral = A15 = A25 = A35 ■ A16 = A26 ■ A4 Pelayanan Zona Tengah - A17 - A27 - A5 Δ18 = Δ28 = Δ6 A19 = A29 = A7 = A20 = A30 = A9 WIDHI SALLY SUFINAH ROSADI 25-2013-045 DOSEN PEMBIMBING 1 Dr. ETIH HARTATI, Ir., M.T DOSEN PEMBIMBING 2 NICO HALOMOAN, S.T., M.T TUGAS AKHIR KTL-500 PERENCANAAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK KECAMATAN BOGOR TENGAH JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
Gambar 1. Blok Pelayanan Jalur Alternatif 1
Sumber: Hasil Analisis, 2017
5. Jumlah aksesoris
Penilaian teringgi diberikan pada jumlah aksesoris paling sedikit dikarenakan semakin banyak aksesoris maka biaya yang perlu dikeluarkan untuk membeli aksesoris akan lebih besar pula (Taufik 2015). Adapun jumlah aksesoris pipa dari tiap alternatif sebagai berikut:
■ Alternatif 1 = Manhole = 123 unit
= Siphon = 1 unit
• Alternatif 2 = Manhole = 152 unit
= Siphon = 1 unit
ii Menentukan nilai Koefisien Pentingnya Faktor (KPF)
- penentuan nilai KPF dilakukan dengan memberikan bobot yang didasarkan dengan memberikan bobot pada setiap parameter. Besarnya bobot yang diberikan pada tiap parameter didasarkan pada tingkat kepentingan faktor atau parameter terhadap persyaratan teknis yang ada dan dibandingkan dengan parameter lain (Khodijah dalam Taufik,2015).
- Nilai yang diberikan kepada setiap parameter yaitu :
- Nilai 1 = Lebih Penting
- Nilai 0,5= Sama penting
- Nilai 0 = Kurang Penting
Perhitungan disusun dengan menggunakan tabel guna memudahkan penilaian. Cara menentukan kolom yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut (Khodijah dalam Taufik,2015):
Jumlah kolom = \[\frac{N(N-1)}{2}\]
Dimana N: Jumlah parameter pembanding.
Adapun jumlah kolom yang dibutuhkan dalam perencanaan ini adalah:
Jumlah kolom = \[\frac{N(N-1)}{2} = \frac{5(5-1)}{2} = 10\] kolom
Gambar 2. Blok Pelayanan Jalur Alternatif
Sumber
:Hasil Analisis, 2017
Setelah menentukan jumlah kolom, penentuan nilai KPF dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 6. Penentuan Nilai KPF
| No | Parameter | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | Jumla h | KPF |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Kecepatan Minimum | 0,5 | 1,0 | 1,0 | 1,0 | ||||||||
| (m3/s) | 0 | 0 | 0 | 0 | 3,50 | 0,35 | |||||||
| 2 | Waktu Pengaliran | 0,5 | 1,0 | 0,5 | 1,0 | ||||||||
| (jam) | 0 | 0 | 0 | 0 | 3,00 | 0,30 | |||||||
| 3 | Biaya (Rp) | 0,0 | 0,0 | 0,5 | 0,5 | ||||||||
| 0 | 0 | 0 | 0 | 1,00 | 0,10 | ||||||||
| 4 | Luas Area Terlayani | 0,0 | 0,5 | 0,5 | 0,5 | ||||||||
| (%) | 0 | 0 | 0 | 0 | 1,50 | 0,15 | |||||||
| 5 | Jumlah Aksesoris | 0,0 | 0,0 | 0,5 | 0,5 | ||||||||
| (unit) | 0 | 0 | 0 | 0 | 1,00 | 0,10 | |||||||
| Total | 10,00 | 1,0 | |||||||||||
| 0 |
Sumber:Hasil Analisis, 2017
Penentuan nilai penting dari setiap parameter ditinjau dengan membandingkan kesesuain dengan persyaratan teknis dan nilai ekonomi yaitu banyaknya biaya yang akan dikeluarkan untuk pembangunannya. Contohnya untuk Kecepatan minimum dan waktu pengaliran diberi nilai yang sama yaitu 0,5 pada keduanya dikarenakan keduanya merupakan kriteria desain atau persyaratan yang harus dipenuhi dalam penyaluran air limbah domestik karena persyaratan teknis akan mempengaruhi operasional sistem penyaluran.
Nilai KPF pada setiap parameter merupakan penjumlahan total dari nilai kepentingan parameter dibagi jumlah skor dari tiap parameter.
Contoh Perhitungan KPF untuk Kecepatan Pengaliran:
- Jumlah skor=3,50+3,00+1,00+1,50+1,00 = 10,00
- KPF =0,5 +1,0 +1,0 + 1,0 10 =0,35
102 Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 23 No. 2 − Widhi Sally Sufinah Rosadi, Etih Hartati, dan Nico Halomoan
i. Penilaian Koefisien Pentingnya Alternatif (KPA)
Penentuan KPA dilakukan dengan memberikan bobot atau nilai pada tiap alternatif terhadap parameter-parameter yang telah ditetapkan sebelumnya. Pemberian nilai dilihat dari keseuaian terhadap persyaratan teknis dan keuntungan dari segi ekonomi. Nilai yang diberikan kepada setiap alternatif yaitu :
▪ Nilai 1 = Lebih Penting ▪ Nilai 0,5 = Sama penting ▪ Nilai 0 = Kurang Penting
Setelah dilakukan penilaian, bobot dari setiap alternatif dijumlahkan dan dibagi oleh jumlah alternatif yang ada, dalam perencanaan ini ada 2 alternatif. Hasil pembagian untuk setiap alternatif dari setiap parameter terhadap jumlah alternatif disebut Koefisien Pentingnya Alternatif (KPA) (Khodijah dalam Hildan, 2015).
Penentuan nilai KPF dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Penentuan Nilai KPA
| No | Parameter | Alternatif | Nilai | Jumlah | KPA |
|---|---|---|---|---|---|
| Kecepatan Minimum (m3/s) | I | 0,5 | 0,5 | 0,25 | |
| 1 | II | 0,5 | 0,5 | 0,25 | |
| 2 | Waktu Pengaliran (jam) | I | 0,5 | 0,5 | 0,25 |
| II | 0,5 | 0,5 | 0,25 | ||
| 3 | Biaya (Rp) | I | 1 | 1 | 0,50 |
| II | 0 | 0 | 0,00 | ||
| 4 | Luas Area Terlayani (%) | I | 0 | 0 | 0,00 |
| II | 1 | 1 | 0,50 | ||
| 5 | Jumlah Aksesoris (unit) | I | 1 | 1 | 0,50 |
| II | 0 | 0 | 0,00 |
Sumber:Hasil Analisis, 2017
Penentuan nilai KPA terhadap parameter terhadap tiap alternatif yang ada dinilai berdasarkan keseuaian alternatif terhadap persyaratan teknis dan keuntungan dari segi ekonomi. Contohnya untuk panjang saluran, alternatif 1:
▪ Alternatif 1 terhadap alternatif 2 : alternatif 1 diberikan nilai 0,5 dan alternatif 2 diberikan nilai 0,5 karena kecepatan minimum pada alternatif 1 sebesar 1,76 m3/detik dan alternatif 2 yaitu 1,77 m3/detik. Dimana kedua alternatif masih memiliki kecepatan minimum yang di persyaratkan (0,6 -3 m3/detik).
Contoh Perhitungan KPF untuk Panjang Saluran Alternatif I:
\[KPA = \frac{0.5}{2 \text{ Alternatif}} = 0.25\]
ii. Pengambilan Keputusan
Perhitungan dalam pengambilan keputusan untuk dilakukan dengan cara mengalikan nilai Koefisien Pentingnya Faktor (KPF) dan Koefisien Pentingnya Alternatif (KPA). Alternatif yang mendapatkan nilai akhir hasil perkalian paling tinggi merupakan alternatif terpilih dari penentuan jalur pipa air limbah domestik. Penentuan jalur alternatif dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 8. Penentuan Nilai KPA
| KPA | KPF X KPA | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| No | Parameter | KPF | I | II | I | II | ||
| 1 | Panjang Saluran | 0,35 | 0,25 | 0,25 | 0,09 | 0,09 | ||
| 2 | Luas Area Terlayani | 0,30 | 0,25 | 0,25 | 0,08 | 0,08 | ||
| 3 | Diameter Pipa | 0,10 | 0,50 | 0,00 | 0,05 | 0,00 | ||
| 4 | Kecepatan Minimum | 0,15 | 0,00 | 0,50 | 0,00 | 0,08 | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 5 | Waktu Pengaliran | 0,10 | 0,50 | 0,00 | 0,05 | 0,00 | |||
| 6 | Jumlah Aksesoris | JUMLAH | 0,26 | 0,24 | |||||
| JUMLAH 0,30 | |||||||||
Sumber:Hasil Analisis,2017
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa nilai akhir alternatif 1 yaitu 0,26 sedangkan alternatif 2 sebesar 0,24. Karena alternatif tertinggi ditentukan berdasarkan hasil paling tinggi maka jalur alternatif terpilih merupakan jalur alternatif 1.
KESIMPULAN
Setelah menganalisis jalur pipa menggunakan metode WRT, terpilih alternatif terbaik untuk penyaluran air limbah domestik Kecamatan Bogor Tengah yaitu jalur alternatif 1 yang memiliki rata rata kecepatan minimum 1,69 m3 /detik, waktu pengaliran 8,37 jam, biaya pembelian pipa sebesar Rp. 275.670.000,-, luas area terlayani 67,48 %, dan jumlah aksesoris yaitu 123 unit manhole dan 1 unit siphon.
