PENDAHULUAN
Sistem manajemen lingkungan menjadi fokus utama dalam upaya melindungi lingkungan. Hal ini karena setiap kegiatan industri menghasilkan limbah baik limbah padat, limbah cair dan gas yang berpotensi mengurangi kualitas lingkungan. Perhatian perusahaan terhadap lingkungan melalui sistem manajemen lingkungan selaras dengan peningkatan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan tersebut. Keberhasilan dalam implementasi sistem manajemen lingkungan tentunya dipengaruhi beberapa faktor yang menentukan ketepatan hasil manajemen lingkungan yang tepat dan maksimal. Untuk itu diperlukan analisa mengenai faktor yang efektif dalam implementasi sistem manajemen lingkungan pada lingkup perusahaan agar dapat menjadi pembelajaran bagi perusahaan yang lain untuk menyempurnakan sistem manajemen lingkungan yang ada.
Govindarajulu dan daily (2004) memberikan kerangka teori yang lengkap berkaitan performa lingkungan dengan pentingnya peran faktor perushaan dan karyawan mempengaruhi performa lingkungan. Model tersebut menekankan pada gabungan dari komitmen manajemen, pemberdayaan karyawan, reward, feedback dan tinjauan, dan performa lingkungan. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor efektif dalam kesuksesan sistem manajemen lingkungan yang ada di perusahaan agar sistem manajemen lingkungan dapat sesuai standar internasional yang sudah dan sistem manajemen lingkungan di perusahaan dapat berjalan secara optimal serta berkembang menjadi lebih baik.
Untuk memperhatikan aset sumber daya alam serta melindungai lingkungan di sekitar area migas, baik pada keigatan sektor hulu migas maupun sektor hilir migas diperlukan Sistem Manajemen Lingkungan agar pengelolaan sumber daya alam ini bisa berjalan baik dan mengurangi dampak lingkungan. Menurut Sambasivan (2007) Sistem ini dapat didefinisikan sebagai bagian dari manajemen global perusahaan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menguraikan, menerapkan, mengkaji dan memelihara kebijakan lingkungan perusahaan. Bagian-bagian tersebut dapat dijadiakan untuk mengukur keberhasilan manajemen lingkungan di perusahaan.
Kaur (2011) menyatakan bahwa beberapa literatur menunjukkan komitmen manajemen, pemberdayaan karyawan, feedback dan tinjauan, dan reward kemungkinan merupakan prediktor yang signifikan untuk kinerja lingkungan dan penyebab keberhasilan implementasi sistem manajemen lingkungan (SML). Selanjutnya menurut penelitian Kaur (2011) hasil dari analisa regresi menyatakan bahwa komitmen manajemen, feedback dan tinjauan, dan pemberdayaan memiliki hubungan signifikan yang positif untuk merasakan performa lingkungan. Selanjutnya, hubungan antara reward dan manfaat yang dirasakan dalam performa lingkungan secara statistik tidak signifikan.
Metode yang digunakan metode Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) untuk mengidentifikasi faktor kinerja perusahaan dalam melaksanakan Sistem Manajemen Lingkungan. Kemudaian digunakan Analytic hierarchy process (AHP) salah satu metode MCDM dengan perbandingan berpasangan sehingga didapatkan bobot kepentingan faktor tersebut. Kemudian pengukuran kinerja menggunakan Objective Matrix (OMAX) menentukan tingkat implementasi sistem manajemen berbasis ISO 14001. Untuk selanjutnya dapat digunakan oleh perusahaan sebagai acuan demi peningkatan terhadap kualitas lingkungan serta citra perusahaan.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di perusahaan yang telah memiliki Sistem Manajemen Lingkungan yang baik atau bahkan telah memiliki ISO 14001, PT. Pertamina EP Asset I Lirik Field telah memiliki Sistem Manajemen Lingkungan yang baik dan mendapat sertifikasi ISO. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) untuk mengidentifikasi Key Environment Performance Indicator (KEPI). Kemudian dilakukan pembobotan dengan menggunakan metode MCDM. Multi criteria decision making (MCDM) dapat dianggap sebagai proses yang kompleks dan dinamis dan metode multi kriteria yang paling memerlukan definisi bobot kuantitatif untuk kriteria, untuk menilai kepentingan relatif dari kriteria yang berbeda, (Opricovic and Tzeng, 2004). Analytic hierarchy process (AHP) salah satu metode MCDM untuk menentukan bobot faktor kinerja dalam implementasi sistem manajemen berbasis ISO 14001.. Secara singkat, tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Diagram Alir Penelitian
Data yang diperlukan
1. Data Primer
Data primer akan diambil dengan menggunakan instrumen pengambilan data checklist dokumen, wawancara, kuesioner dan observasi (Purba dan Salami, 2016).
a. Ceklis Dokumen
Untuk mengetahui implementasi Sistem Manajemen Lingkungan diperlukan kelengkapan dokumen-dokumen yang tersedia di perusahaan yang sesuai dengan dokumen yang ditetapkan oleh ISO 14001, bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Ceklis yang dilakukan mengacu pada ISO 14001 Self Assessment Checklist Global Environmental Management Initiative (GEMI). Dokumen yang ada di tandai dengan ceklis, sehingga dapat diukur sampai sejauh mana penerapan sistem manajemen lingkungan yang ada di perusahaan.
b. Kuesioner
Untuk mendapat penilaian mengenai kinerja faktor kesuksesan dalam implementasi SML perlu dilakukan penyebaran kuesioner kepada karyawan yang ada diperusaan, dimana karyawan sebagai pelaku utama dalam melaksanakan kegiatan perusahaan, sehingga pandangan dan pemikirannya dapat dijadikan penilaian untuk mengetahui kinerja faktor kesuksesan dalam implementasi SML di perusahaan. Kuesioner yang dibuat mengacu pada model Analytic hierarchy process (AHP) dalam bentuk perbandingan berpasangan antar faktor (Susangka dan Caerul, 2010; Respati dan Damanhuri, 2009).
c. Observasi
Untuk melihat langsung keadaan di lapangan diperlukan obrservasi sehingga hasil dokumentasi serta keadaan nyata dapat diamati.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang akan diambil dari perusahaan digunakan untuk melihat kegiatan sebelumnya serta melihat kebijakan yang sudah ada, data sekunder yang dibutuhkan dari perusahaan yaitu:
- Profil Perusahaan
- Struktur Organisasi
- Daftar Kecelakaan
- Data Pengelolaan Lingkungan
- Dokumen ISO 14001
Identifikasi Key Environment Performance Indicator (KEPI)
Untuk melakukan identifikasi Key Environment Performance Indicator (KEPI) dengan pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS), yaitu pengukuran kinerja yang mengutamakan pemenuhan lingkungan dengan mengacu pada regulasi, keselamatan kerja, penggunaan material dan peralatan serta hubungan masyarakat. Identifikasi mengenai Sistem Manajemen Lingkungan tentunya standar ISO 14001 menjadi acuan yang paling utama. Untuk itu sebagai faktor kinerja yang akan diukur tentunya disesuaikan dengan klausa-klausa yang ada pada ISO 14001 sebagai persyaratan dalam menerapkan ISO 14001. Sehingga setelah melakukan pendalaman materi serta menggabungkan kinerja lingkungan dengan standar ISO 14001 dapat ditentukan Key Environment Performance Indicator (KEPI) sebagai berikut:
Tabel 1 Identifikasi KEPI implementasi Sistem Manajemen Lingkungan
| Klausul | ASPEK SML | KPI | ||
|---|---|---|---|---|
| 4.2 | Kebijakan Lingkungan | Peraturan Pemerintah (Pemenuhan peraturan pemerintah) | ||
| Peraturan Perusahaan (Pemenuhan peraturan perusahaan) | ||||
| Permintaan Konsumen (Pemenuhan laporan Masyarakat) | ||||
| 4.3 | Perencanaan | Identifikasi Aspek Lingkungan | ||
| Identifikasi Target (berdasar visi,misi perusahaan) | ||||
| Desain Proses Produksi (Pengurangan Dampak | ||||
| Lingkungan bagaian Produksi) | ||||
| 4.4 | Penerapan dan Operasi | Pelatihan Kompetensi (Jumlah Training) | ||
| Tindakan Pencegahan (Pengurangan Dampak | ||||
| Lingkungan) | ||||
| Kontrol Dokumen (Persentase Dokumen yang tersusun | ||||
| baik) | ||||
| 4.5 | Pemeriksaan | Pemantauan dan Pengukuran (Jumlah Pemantauan | ||
| Pengukuran Alat terpenuhi pertahun) | ||||
| Audit (Jumlah Audit yang mencukupi sesuai jadwal) | ||||
| Tenaga Ahli Lingkungan (Jumlah dan kompetesi Tenaga | ||||
| Ahli seusai tugas) | ||||
| 4.6 | Tinjauan Manajemen | Dukungan Manajemen (Banyaknya Penerimaan Ide | ||
| Karyawan) | ||||
| Tujuan Perusahaan (Pemenuhan Tujuan Perusahaan) | ||||
| Tinjauan Top Manajemen (Jumlah Kegiatan Manajemen | ||||
| Ke Lapangan) | ||||
Kemudian untuk level akhir untuk dimasukkan dalam hierarki AHP disajikan empat alternatif pilihan keuntungan yang didapatkan dari implementasi Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 sesuai yang pernah dipaparkan oleh Sambasivan (2007):
- Meningkatak Citra Perusahaan
- Meningkatkan Motivasi Karyawan
- Meningkatkan Keuntungan dan Kinerja
- Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan

Gambar 2 Model AHP untuk implementasi SML ISO 14001
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Ceklis Dokumen
Untuk mengetahui kelengkapan dokumen-dokumen yang tersedia di perusahaan yang sesuai dengan dokumen yang ditetapkan oleh ISO 14001, bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Ceklis yang dilakukan mengacu pada ISO 14001 Self Assessment Checklist Global Environmental Management Initiative (GEMI). Dokumen yang ada di tandai dengan ceklis, sehingga dapat diukur sampai sejauh mana penerapan sistem manajemen lingkungan yang ada di perusahaan.
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa dokumen implementasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004 pada PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik telah tersedia dengan lengkap. Ini menunjukkan bahwa PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik telah melaksanakan implementasi ISO 14001 dengan baik dan benar sehingga dapat berhasil dalam mencapai
sistem manajemen lingkungan yang baik serta dapat menciptakan lingkungan yang baik secara berkelanjutan.
Tabel 2 Hasil Penelusuran Dokumen di Pertamina EP Field Lirik
| Dokumen | ||||
|---|---|---|---|---|
| Klausul | SML PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik | Ada | Keterangan | |
| 4.2 | Kebijakan Lingkungan | √ | Lengkap | |
| 4.3 | Perencanaan | Lengkap | ||
| 1. Aspek Linkgungan | √ | Lengkap | ||
| 2. Persyaratan Peraturan Perundang undangan dan Lainnya | √ | Lengkap | ||
| 3. Tujuan, sasaran dan program | √ | Lengkap | ||
| 4.4 | Penerapan dan Operasi | Lengkap | ||
| 1. Sumber Daya, Peran, Tanggung Jawab dan Kewenangan | √ | Lengkap | ||
| 2. Kompetensi, Pelatihan dan Kesadaran | √ | Lengkap | ||
| 3. Komunikasi | √ | Lengkap | ||
| 4. Dokumentasi | √ | Lengkap | ||
| 5. Pengendalian Dokumen | √ | Lengkap | ||
| 6. Pengendalian Operasional | √ | Lengkap | ||
| 7. Kesiagaan dan Tanggap Darurat | √ | Lengkap | ||
| 4.5 | Pemeriksaan | √ | Lengkap | |
| 1. Pemantauan dan Pengukuran | √ | Lengkap | ||
| 2. Evaluasi Penataan | √ | Lengkap | ||
| 3. Ketidaksesuaian, Tindakan Perbaikan dan Tindakan Pencegahan | √ | Lengkap | ||
| 4. Pengendalian Rekaman | √ | Lengkap | ||
| 5. Audit Internal | √ | Lengkap | ||
| 4.6 | Tinjauan Manajemen | √ | Lengkap | |
2. Hasil Kuesioner
Hasil dari perhitungan matrik dengan perbandingan berpasangan antar faktor dan subfaktor yang nilainya telah didapatkan melalui kuesioner.
Tabel 3 Hasil Pembobotan KEPI dari AHP
| Level 0 | Level 1 | Level 2 | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Tujuan | Kriteria | Bobot | Subkriteria | Bobot | Global |
| Kebijakan Lingkungan | 0.38 | Peraturan Pemerintah | 0.53 | 0.20 | |
| Peraturan Perusahaan | 0.32 | 0.12 | |||
| Permintaan Konsumen/ Warga | 0.15 | 0.06 | |||
| Perencanaan | 0.25 | Identifikasi Aspek Lingkungan | 0.53 | 0.13 | |
| Identifikasi Target | 0.29 | 0.07 | |||
| Kinerja | Desain Proses Produksi | 0.18 | 0.04 | ||
| Keberhasilan | Penerapan dan Operasi | 0.16 | Pelatihan Kompetensi | 0.49 | 0.08 |
| Implementasi | Tindakan Pencegahan | 0.35 | 0.06 | ||
| SML ISO | Kontrol Dokumen | 0.16 | 0.03 | ||
| 14001 | Pemeriksaan | 0.12 | Pemantauan dan Pengukuran | 0.50 | 0.06 |
| Audit | 0.32 | 0.04 | |||
| Tenaga Ahli Lingkungan | 0.19 | 0.02 | |||
| Tinjauan Manajemen | 0.09 | Dukungan Manajemen | 0.58 | 0.05 | |
| Kebijakan dan | |||||
| Tujuan Perusahaan | 0.28 | 0.03 | |||
| Tinjauan Manajemen | 0.14 | 0.01 |
Dari grafik dibawah juga dapat dilihat bahwa kinerja faktor yang paling utama yang berperan terhadap keberhasilan Sistem Manajemen Lingkungan menurut karyawan adalah Kebijakan Lingkungan, dimana menurut hasil ceklis dokumen perusahaan telah menetapkan kebijakan lingkungan organisasi dan memastikan bahwa kebijakan tersebut sesuai dengan dampak lingkugan dari kegiatan yang didukung oleh komitmen dalam perbaikan berkelanjutan serta menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam kebijakan lingkungan perusahaan telah tertera tujuan dan sasaran perusahaan dalam aspek lingkungan. Kebijakan lingkungan perusahaan didokumentasikan serta telah dikomunikasikan kepada pekerja dan tersedia untuk masyarakat

Gambar 3 Grafik Bobot Faktor yang berperan dalam implementasi SML ISO 14001
Selanjutnya pada grafik diatas disajikan sub faktor yang berperan dalam mendukung keberhasilan implementasi Sistem Manajamen Lingkungan Perusahaan, tiga yang paling utama adalah Dukungan Manajemen, Peraturan Pemerintah serta perencanaan dalam Identifikasi Aspek Lingkungan.Dukungan Top manajemen dalam pelaksanaan Sistem Manajemen Lingkungan akan memberikan dorongan bagi para pekerja untuk dapat berperan aktif dalam penanggulangan dampak lingkungan sehingga pekerja memiliki inisiatif dan meningkatkan kepatuhan terhadap implementasi Sistem Manajemen Lingkungan yang ada.

Gambar 4 Grafik Bobot Sub Faktor yang berperan dalam Implementasi SML ISO 14001
Peraturan Pemerintah dapat menjadi faktor dalam keberhasilan implementasi ISO 14001, karena peraturan pemerintah menjadi dasar dan acuan bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya termasuk konsistensi pada menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan. Selanjutnya Perencanan Identifikasi aspek Lingkugan yang baik dapat menciptakan penilaian yang tepat terhadap kegiatan yang memiliki dampak, area yang terkena dampak sehingga dapat menciptakan mitigasi yang tepat terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, sehingga Sistem manajemen lingkungan dapat berhasil diimplementasikan dengan baik.

Gambar 5 Grafik Bobot Keuntungan dirasakan dalam implementasi SML ISO 14001
Menurut gambar grafik daitas dari hasil kuesioner yang ditujukan kepada karyawan PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik, menunjukkan bahwa keuntungan yang paling dirasakan dalam implementasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 yaitu Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan (MKP). Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) didapatkan nilai pencapaian kinerja SML untuk MKP yaitu 8,03. Terkahir digunakan metode TLS (Traffic Light System). Metode TLS mengidentifikasi KEPI-KEPI menjadi kategori warna. Warna merah berarti buruk merupakan KEPI yang menghasilkan skor antara 0 sampai 2, warna kuning berarti baik merupakan KEPI yang menghasilkan skor antara 3 sampai 7, dan warna hijau yang berarti sangat baik merupakan KEPI yang menghasilkan skor antara 8 sampai 10. sehingga dinyatakan kinerja berada pada warna hijau yaitu sangat baik.
KESIMPULAN
Dokumen implementasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004 pada PT. Pertamina EP Asset 1 Lirik telah tersedia dengan lengkap. Ini menunjukkan bahwa PT.
Pertamina EP Asset 1 Lirik telah melaksanakan implementasi ISO 14001 dengan baik dan benar sehingga dapat berhasil dalam mencapai sistem manajemen lingkungan yang baik serta dapat menciptakan lingkungan yang baik secara berkelanjutan.Faktor yang paling utama yang berperan terhadap keberhasilan Sistem Manajemen Lingkungan menurut karyawan adala Kebijakan Lingkungan
Tiga Subfaktor yang utama dalam mendukung keberhasilan terlaksananya Sistem Manajemen Lingkungan adalah Dukungan Manajemen, Peraturan Pemerintah serta perencanaan dalam Identifikasi Aspek Lingkungan. Keuntungan yang paling dirasakan dalam implementasi Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001 yaitu Meningkatkan Kepercayaan Pelanggan (MKP). Dengan tingkat kinerja 8,03 yang termasuk dalam kategori sangat baik.
