PENDAHULUAN
Peningkatan timbulan sampah menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang masih menjadi pilihan utama sebagai infrastruktur pembuangan sampah di berbagai negara, khususnya negara berkembang (Mujaddidah, F.R, dkk 2017). Salah satu daerah yang termasuk dalam kategori ini adalah Kota Bekasi. Timbulan sampah dari Kota Bekasi yang terangkut ke TPA Sumur Batu baru sebesar 40% dari timbulan sampah Kota Bekasi yaitu sebanyak 400-800 ton/hari dan terus meningkat dengan laju peningkatan timbulan sampah 0,12% setiap tahunnya (Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, 2018).
Peningkatan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu disertai tertundanya perluasan zona dapat menyebabkan terjadinya penumpukan sampah sehingga mempengaruhi kualitas lingkungan karena menimbulkan permasalahan seperti masalah estetika, munculnya vektor penyakit, bau dan debu, kelongsoran, pencemaran air oleh lindi, bahaya kebakaran dan tersumbatnya saluran drainase (Damanhuri dan Padmi, 2010). Untuk meminimalisir dampak tersebut diperlukan pengoperasian landfill yang sesuai dengan kriteria desain. Kriteria desain yang dimaksud adalah dengan melakukan perataan sampah oleh alat berat yang dilakukan lapis-per-lapis membentuk terasering agar tercapai kepadatan optimum yang diinginkan, sehingga stabilitas permukaannya dapat menyangga lapisan berikutnya dan meminimalisir terjadinya kelongsoran dan pengaplikasian tanah penutup (Damanhuri, 2008).
Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi untuk mengurangi rencana perluasan TPA Sumur Batu yaitu dengan mengurangi jumlah timbulan sampah yang masuk ke zona aktif melalui pengadaan teknologi Waste to Energy (WTE), dimana pembangkit listrik yang telah dibangun direncanakan bersumber dari sampah lama yang ada di zona tidak aktif TPA Sumur Batu untuk dijadikan Refuse Derived Fuel (RDF) yang kemudian dijadikan bahan bakar dalam proses pembangkit listrik di TPA Sumur Batu. Teknologi Waste to Energy (WTE) masih belum beroperasi karena terkendala masalah penetapan pembayaran energi terbarukan atau Feed in Tarif (FIT) dari PLN, selain itu melalui uji coba Waste to Energy (WTE) yang sudah dilakukan selama tiga kali belum menghasilkan hasil yang memuaskan karena adanya kerusakan mesin tetapi hingga sekarang belum dilakukan perbaikan
Diperlukan adanya analisa terkait kelayakan karakteristik sampah di TPA Sumur Batu seperti karakteristik kadar air, kadar volatil, kadar abu dan nilai kalor untuk dapat dijadikan bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF) sehingga dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) melalui proses pembakaran atau insinerasi mampu mengurangi sekitar 90% dari volume sampah dan 75% dari berat sampah dan dapat menjadi energi terbarukan (Dong & Lee, 2009).
Peningkatan timbulan sampah dengan tidak adanya upaya pengolahan di TPA untuk mengurangi timbulan sampah yang masuk ke zona aktif dan terbatasnya lahan penimbunan sampah yang tersedia di TPA Sumur Batu karena tertundanya perluasan zona di tahun 2018 dapat mengurangi sisa umur pakai TPA Sumur Batu,sehingga diperlukan adanya kajian sisa umur pakai dengan dan tanpa mengoperasikan Waste to Energy (WTE) sehingga dapat menjadi bahan rekomendasi untuk pihak pengelola terkait pengoperasian Waste to Energy (WTE) di TPA Sumur Batu.
METODOLOGI PENELITIAN
Timbulan Sampah
Data timbulan sampah perlu dilakukan proyeksi untuk mengetahui perkiraan penambahan timbulan sampah di masa yang akan datang karena dapat mempengaruhi sisa umur pakai TPA. Data timbulan sampah yang digunakan dalam proyeksi dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 1. Analisa Data Timbulan Sampah
Data Q rata-rata pengukuran yang telah diperoleh perlu divalidasi dengan menggunakan data jembatan timbang selama 8 hari berturut-turut. Untuk memproyeksikan timbulan sampah ditahun yang akan datang menggunakan data tren jembatan timbang selama 5 tahun terakhir. Proyeksi timbulan sampah dilakukan hingga mendekati daya tampung eksisting, sehingga proyeksi timbulan sampah yang dilakukan perlu menggunakan data timbulan dengan satuan m3 /hari. Untuk dapat mengkonversi satuan timbulan sampah dari ton/hari menjadi m3 /hari dapat dengan membagi berat sampah dengan densitas rata-rata hasil pengukuran selama 2 hari.
Proyeksi timbulan sampah dilakukan utnuk memperkirakan jumlah timbulan sampah di masa yang akan datang dengan mengacu pada pertambahan jumlah sampah pada tahun sebelumnya, metode yang digunakan adalah dengan menggunakan persamaan geometri sebagai berikut (Susilo, 2013):
\[Pn = Po (1+r)^n\]
Keterangan :
Pn = volume sampah pada tahun n proyeksi
Po = volume sampah pada tahun awal proyeksi
r = rata-rata laju kenaikan timbulan sampah (%)
n = selang waktu proyeksi (tahun)
Karakteristik Sampah
Sampah yang diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) merupakan sampah yang dilihat berdasarkan nilai kalor, kadar air, kadar volatil, kadar abu, beberapa parameter lainnya (Dong
& Lee, 2009), sehingga pada studi ini karakteristik sampah yang diuji untuk mengetahui kelayakan karakteristik sampah untuk diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) adalah nilai kalor, kadar air, kadar volatil, kadar abu, dimana pada studi ini menggunakan karakteristik sampah Kota Bekasi diperoleh melalui hasil dari studi literatur.
Apabila sampah Kota Bekasi layak diolah menjadi bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF), maka volume sampah di TPA Sumur Batu dapat dikurangi sekitar 90% dari volume sampah dan dapat menjadi energi terbarukan (Dong & Lee, 2009). Data % sampah yang berpotensi diolah di Waste to Energy (WTE) ini kemudian dikalikan dengan Q proyeksi untuk mengetahui Q potensi WTE seperti yang terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Metodologi Analisa Kelayakan WTE
Daya Tampung Eksisting
Daya tampung eksisting seluruh zona di TPA Sumur Batu dapat diperoleh dari hasil proses tracking dengan menggunakan GPS Handheld. Data hasil tracking adalah berupa data titik koordinat yang perlu didownload dari GPS Handheld setelah tracking selesai dilaksanakan, kemudian data titik koordinat diolah dengan software autoCAD Land Desktop sehingga dapat diperoleh daya tampung eksisting dari seluruh zona di TPA Sumur Batu seperti yang terlihat pada Gambar 3.
Berdasarkan hasil observasi, pengoperasian landfill di TPA Sumur Batu masih menerapkan sistem open dumping, dimana sampah hanya ditumpuk setiap harinya tanpa adanya penataan dan penggunaan tanah penutup. Penataan landfill baru dilakukan ketika zona aktif akan ditutup menjadi zona tidak aktif, sehingga penggunaan tanah penutup hanya dilakukan diakhir penutupan zona aktif.
Dalam perencanaan upaya optimalisasi TPA Sumur Batu ini direncanakan menggunakan sistem controlled landfill maka penutupan dengan tanah penutup diasumsikan digunakan setiap 7 hari, Jumlah tanah penutup yang digunakan bila menggunakan sistem controlled landfill adalah 3% dari jumlah timbulan sampah yang akan ditimbun (Damanhuri, 2008).

Gambar 2. Metodologi Daya Tampung Eksisting
Sisa Umur Pakai
Sisa umur pakai TPA Sumur Batu dengan dan tanpa mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) dapat dilihat pada Gambar 3. Untuk mengetahui sisa umur pakai TPA perlu diketahui sisa daya tampung di TPA Sumur Batu.
Sisa daya tampung dapat diketahui dengan mengurangi daya tampung eksisting dengan timbulan sampah yang terakumulasi beserta kebutuhan tanah penutupnya. Apabila sisa daya tampung menunjukan tanda minus berarti sisa daya tampung di TPA Sumur Batu telah habis dan sudah tidak dapat lagi menampung timbulan sampah yang masuk, sehingga dapat diketahui sisa umur pakai pada tahun tersebut.
= −
\[Sisa\ Umur\ Pakai = \frac{Sisa\ daya\ tampung}{Q\ harian\ beserta\ tanah\ penutup}\]
Sisa umur pakai dapat diketahui dengan membagi sisa daya tampung dengan timbulan sampah harian yang masuk beserta kebutuhan tanah penutupnya, dimana pada timbulan sampah harian yang masuk ini sudah diproyeksikan hingga mendekati daya tampung eksisting.

Gambar 3. Metodologi Sisa Umur Pakai
HASIL DAN PEMBAHASAN
Timbulan Sampah
Nilai densitas sampah di TPA Sumur Batu yang diukur dengan mengacu pada American Standard Testing and Material E1109-86 (2009) tentang Standard Test Method for Determining The Bulk Density of Solid Waste Fractions. Hasil pengukuran densitas selama 2 hari berdasarkan jenis dan sumber alat angkut dapat dilihat pada Tabel 1. Nilai rata-rata densitas elama 2 hari diperoleh sebesar 0,222 ton/m3 .
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Pengukuran Densitas
| Hari | Jenis | Plat Nomor | Sumber | Densitas (Kg/m3) | Rata-Rata Densitas (Kg/m3 ) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Dump truck | B9022KOQ | D | 227,836 | 226,633 | |
| 2 | B9022KOQ | D | 225,431 | |||
| 1 | Dump truck | B9028KOQ | ND | 239,896 | 234,329 | |
| 2 | B9028KOQ | ND | 228,762 | |||
| 1 | Arm roll truck | B9206KOQ | D | 213,056 | 213,882 | |
| 2 | B9206KOQ | D | 214,708 | |||
| 1 | Arm roll truck | B9084KOQ | ND | 197,095 | 208,644 | |
| 2 | B9084KOQ | ND | 220,192 | |||
| 1 | Light truck | B9130KOQ | D | 221,359 | 222,704 | |
| 2 | B9130KOQ | D | 224,049 | |||
| 1 | Light truck | B9128TOQ | ND | 223,466 | 228,129 | |
| 2 | B9128TOQ ND | 232,792 | ||||
| Rata-Rata | 222,387 | |||||
| Rata-Rata | 0,222 | |||||
Sumber : Hasil Pengukuran, 2019
Pengukuran densitas dilakukan untuk mengetahui timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu, dengan mengetahui berat sampah yang dibawa oleh setiap jenis alat angkut melalui data dari jembatan timbang seperti yang terlihat pada Tabel 2, kemudian membaginya dengan rata-rata hasil pengukuran densitas pada Tabel 1 yaitu 222,387 kg/m3 , maka dapat diketahui timbulan sampah yang dibawa ke zona aktif dalam satuan volume yaitu sebesar 3356,828 m3 /hari.
Tabel 2. Q rata-rata sampling
| Q sampling hari 1 | Q sampling hari 2 | ||||
|---|---|---|---|---|---|
| (Kg/hari) | (Kg/hari) | ||||
| 723.350 | 769.680 | ||||
| Q rata-rata sampling (Kg/hari) | 746.515 | ||||
| 3 Q rata-rata sampling (m /hari) | 3356,828 | ||||
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
Q rata-rata sampling (kg/hari) perlu divalidasi dengan data jembatan timbang selama 8 hari berturut-turut. Data jembatan timbang selama 8 hari berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Data Jembatan Timbang Selama 8 Hari
| No | Hari | Q Jembatan Timbang(ton/hari) |
|---|---|---|
| 1 | 1 | 657,38 |
| 2 | 2 | 734,51 |
| 3 | 3 | 652,83 |
| 4 | 4 | 706,97 |
| 5 | 5 | 844,47 |
| 6 | 6 | 823,34 |
| 7 | 7 | 945,77 |
| 8 | 8 | 713,35 |
| Rata-Rata | 759,828 |
Sumber : Data Jembatan Timbang TPA Sumur Batu, 2019
Q rata-rata sampling (ton/hari) kemudian dirata-ratakan dengan Q rata-rata selama 8 hari sehingga diperoleh Q rata-rata per hari yang dijadikan data proyeksi timbulan sampah pada tahun 2019 seperti yang terlihat pada Tabel 4. Data timbulan sampah perlu dikonversi dari satuan berat menjadi satuan volume dikarenakan pada proyeksi timbulan sampah dilakukan hingga mendekati daya tampung eksisting (m3 ) untuk dapat mengetahui sisa umur pakai TPA Sumur Batu. Konversi timbulan sampah dari ton/hari menjadi m3 /hari dapat dengan membagi berat sampah dengan nilai rata-rata densitas sebesar 0,222 ton/m3 , sehingga diperolah Q ratarata per hari dalam satuan volume adalah 3386,764 m3 /hari seperti yang terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Q rerata Per Hari Untuk Proyeksi Timbulan Sampah
| Q rata-rata sampling | Q rata-rata jembatan timbang | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (ton/hari) | selama 8 hari (ton/hari) | ||||||
| 746,515 | 759,828 | ||||||
| Q rata-rata per hari (ton/hari) | 753,171 | ||||||
| Q rata-rata per hari 3 (m /hari) | 3386,764 | ||||||
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
Hasil proyeksi timbulan sampah dengan menggunakan data sampah yang masuk dari tahun 2014 hingga 2019 dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut.
Tabel 5. Proyeksi Timbulan Sampah
| Tahun | Q (m3/hari) | n | r | r rata-rata | Po | Pn (Q proyeksi) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2014 | 1775,523 | 0 | 0,003967 | 0,11761 | 1775,523 | 1775,523 |
| 2015 | 1782,595 | 1 | 0,2311633 | 0,11761 | 1775,523 | 1984,349 |
| 2016 | 2318,561 | 2 | 0,067584 | 0,11761 | 1775,523 | 2217,735 |
| 2017 | 2486,616 | 3 | 0,1146161 | 0,11761 | 1775,523 | 2478,570 |
| 2018 | 2808,518 | 4 | 0,1707371 | 0,11761 | 1775,523 | 2770,084 |
| 2019 | 3386,764 | 5 | 0,11761 | 1775,523 | 3095,883 | |
| 2020 | 6 | 0,11761 | 1775,523 | 3460,000 | ||
| 2021 | 7 | 0,11761 | 1775,523 | 3866,943 | ||
| 2022 | 8 | 0,11761 | 1775,523 | 4321,748 | ||
| 2023 | 9 | 0,11761 | 1775,523 | 4830,044 |
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
Karakteristik Sampah TPA Sumur Batu
Karakteristik sampah TPA Sumur Batu bila dibandingkan dengan standar untuk dapat dijadikan bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF) dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai berikut.
Tabel 6. Perbandingan Karakteristik Sampah TPA Sumur Batu dengan Standar RDF
| Paramet er | TPA Sumur Batu (biodegrada ble) | TPA Sumur Batu (non biodegrada ble) | ISTA C (Turk i) | Lechtenbe rg (Jerman) | Europe an Standar d | Finland ia | Itali a | Inggr is | Kesimpul an |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (1) | (2) | (3) | (4) | (5) | (6) | (7) | (8) | (9) | |
| Kadar air (%w) | 71,26 | 26,45 | 25 | <20 | <25 | 25-35 | <25 | 7-28 | Berpotens i sebagai bahan baku RDF tetapi butuh pre treatment |
| Kadar volatil (%dry) | 71,58 | 91,05 | 92,3 | 50-80 | - | - | - | - | Berpotens i sebagai bahan baku RDF |
| Kadar abu (%dry) | 11,25 | 7,12 | 7,7 | 8-12 | <5% | 5-10 | 20 | 12 | Berpotens i sebagai bahan baku RDF |
| Nilai kalor (Kkal/k g) | 4457,94 | 9508,18 | 3500 | - | 3850 | 3107- 3824 | 358 5 | 4469 | Berpotens i sebagai bahan baku RDF |
Sumber :
(1) dan (2) : Putri dan Damanhuri, 2013
(3) dan (4) :Kara dkk., 2009
(5), (6), (7) dan (8) : Nithikul, 2007
(9) : Hasil analisa, 2019
Berdasarkan data pada Tabel 6 maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik sampah Kota Bekasi berpotensi dijadikan sebagai bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF) tetapi perlu adanya pre treatment terlebih dahulu, sebelum dapat dijadikan bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF), untuk mengurangi kandungan air yang terdapat dalam sampah sehingga sesuai dengan standar.
Insinerasi mampu mengurangi sekitar 90% dari volume sampah dan 75% dari berat sampah dan dapat menjadi energi terbarukan (Dong & Lee, 2009). Dengan kemampuan insinerasi
dalam mengurangi sampah ini kemudian dikalikan dengan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu untuk mengetahui nilai Q potensi WTE.
Daya Tampung Eksisting TPA Sumur Batu
Daya tampung eksisting diperoleh melalui pemodelan dengan menggunakan software AutoCAD Land Desktop. Daya tampung eksisting diperoleh dari hasil analisa volume eksisting dan volume optimal. Hasil dari analisa volume eksisting ini selain mengetahui volume pada keseluruhan zona (aktif maupun tidak aktif) juga dapat mengetahui zona mana saja yang dapat dioptimalkan dengan dilakukan penataan atau penambahan ketinggian pada zona. Kriteria desain penataan zona menurut Damanhuri 2008 dan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) yaitu sebagai berikut :
- 1. Ketinggian maksimum sampah adalah 25-30 m
- 2. Kemiringan sampah 1:1 sampai dengan 1:3.
- 3. Adanya terasering setiap ketinggian 5 m
- 4. Lebar tumpukan sampah paling atas setelah penataan setidaknya minimal memiliki lebar 3 m, dikarenakan 3 m ini adalah ukuran dari lebar alat berat yang ada di TPA, sehingga bila lebih kecil daripada 3 m tidak dapat digunakan untuk mobilisasi alat berat ketika dilakukan penataan.
Gambaran seluruh zona di TPA Sumur Batu sesuai kondisi eksisting dapat dilihat pada Gambar 4 sebagai berikut.
Gambar 4. Kondisi Eksisting Seluruh Zona di TPA Sumur Batu
Dari analisa kondisi eksisting diperoleh hasil bahwa zona di TPA Sumur Batu dapat dioptimalkan dengan melakukan penataan pada zona 3 dan 6, penambahan ketinggian pada zona 1 dan 2, dan 4, 5A, 5C dan 6A, selain itu juga melakukan pemodelan penataan pada zona perluasan (zona 7) untuk memperkirakan volume yang dapat ditampung pada zona perluasan (zona 7).
Gambaran seluruh zona di TPA Sumur Batu sesuai setelah dilakukan penataan, penambahan ketinggian dan pemodelan pada zona perluasan dapat dilihat pada Gambar 5. Terdapat perbedaan volume antara kondisi eksisting dengan kondisi optimal seperti yang terlihat pada Tabel 7 sehingga mempengaruhi daya tampung eksisting yang tersedia untuk selanjutnya digunakan dalam perhitungan sisa umur pakai.
Gambar 5. Kondisi Optimal Seluruh Zona di TPA Sumur Batu
Daya tampung eksisting diperoleh dari hasil analisa volume eksisting dan volume optimal seperti yang terlihat pada Tabel 7 sebagai berikut.
Tabel 7. Volume Seluruh Zona di TPA Sumur Batu
| Zona | Ketinggian Eksisting (m) | Ketinggian setelah penataan (m) | Volume eksisting (m3 ) | Volume optimal (m3 ) | |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 dan 2 | 28 m | 30 m | 254.235 | 272.394 | |
| 3 | 32 m | 30 m | 1.198.947 | 1.383.400 | |
| 6 | 20 m | 30 m | |||
| 4, 5A dan 5c | 27 m | 30 m | 300.948 | 334.386 | |
| Zona | Ketinggian Eksisting (m) | Ketinggian setelah penataan (m) | Volume eksisting (m3 ) | Volume optimal (m3 ) |
|---|---|---|---|---|
| 5B | 25 m | 25 m | 203.076 | 203.076 |
| 5D | 15 m 15 m | 46.937 | 46.937 | |
| Total Volume | 2.004.143 | 2.240.193 | ||
| Sisa Volume Eksisting | (Total volume eksisting dikurangi Total volume optimal) | 236.050 | ||
| Volume Zona Perluasan (zona 7) | 345.347 | |||
| Daya Tampung Eksisting | 581.397 | |||
Sumber: Hasil Analisa, 2019
Total volume optimal setelah dilakukan penataan adalah sebesar 2.240.193 m3 , sedangkan total volume eksisting adalah sebesar 2.004.143 m3 . Total volume optimal lebih besar daripada total volume eksisting dikarenakan adanya penambahan ketinggian sampah pada zona 1, 2, 4, 5A, 5C dan 6A sampai 30 m
Dari data total volume eksisting dan total volume optimal yang telah diperoleh maka dapat diketahui sisa volume eksisting, yaitu dengan mengurangi total volume optimal dengan total volume eksisting sehingga diperoleh sisa volume eksisting di TPA Sumur Batu adalah sebesar 236.050 m3 .
Sisa volume eksisting kemudian ditambahkan dengan volume zona perluasan yang belum digunakan dan sudah dilakukan pemodelan penataan dengan menggunakan software AutoCAD Land Desktop, sehingga diperoleh daya tampung eksisting di TPA Sumur Batu adalah sebesar 581.397 m3 . Daya tampung eksisting kemudian digunakan untuk menghitung sisa umur pakai TPA yaitu dengan cara melakukan proyeksi timbulan sampah yang masuk ke landfill hingga mendekati daya tampung eksisting.
Sisa Umur Pakai TPA Sumur Batu sesuai Kondisi Eksisting
Perhitungan sisa umur pakai TPA Sumur Batu sesuai dengan kondisi eksisting yang tidak mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dapat dilihat pada Tabel 7.
Proyeksi timbulan sampah dilakukan untuk memperkirakan besarnya timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu di masa yang akan datang. Data timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu sama dengan timbulan sampah yang masuk ke zona aktif, dikarenakan tidak adanya pengurangan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu.
Setelah mengetahui jumlah timbulan sampah yang akan masuk dan ditimbun di zona aktif, dalam menghitung sisa umur pakai TPA Sumur Batu yang direncanakan menerapkan sistem controlled landfill, maka perlu memperhitungkan jumlah tanah penutup yang besarnya 3% dari jumlah timbulan sampah yang akan ditimbun, dimana penutupan dengan tanah penutup dilakukan setiap 7 hari sekali. Data timbulan sampah beserta jumlah tanah penutup yang telah diperoleh disetiap tahun kemudian diakumulasikan.
Daya tampung eksisting diperoleh dengan memanfaatkan zona perluasan dan menambah ketinggian pada zona 1, 2, 4, 5A, 5C dan 6A sampai 30 m, sehingga di peroleh daya tampung eksisting di TPA Sumur Batu adalah 581.397 m3 .
Sisa daya tampung kemudian dapat diketahui dengan mengurangi daya tampung eksisting dengan timbulan sampah yang terakumulasi. Apabila sisa daya tampung menunjukan tanda minus berarti sisa daya tampung di TPA Sumur Batu telah habis dan sudah tidak dapat lagi menampung timbulan sampah yang masuk, sehingga dapat diketahui sisa umur pakai pada tahun tersebut.
Sisa umur pakai diperoleh dari hasil membagi daya tampung eksisting dengan timbulan sampah harian + tanah penutup, sehingga dapat diperoleh sisa umur pakai tanpa pengoperasian Waste to Energy (WTE) di TPA Sumur Batu adalah 183 hari di tahun 2019. Sisa umur pakai 183 hari di tahun 2019 dihitung per tanggal dilakukannya tracking yaitu pada tanggal 6 April 2019 sehingga perkiraan habisnya sisa umur pakai TPA bila tanpa upaya optimalisasi adalah pada 6 Oktober 2019.
Sisa Umur Pakai TPA Sumur Batu dengan Mengoperasikan WTE
Perhitungan sisa umur pakai TPA Sumur Batu dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dapat dilihat pada Tabel 9.
Proyeksi timbulan sampah dilakukan untuk memperkirakan besarnya timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu di masa yang akan dating. Data proyeksi timbulan sampah setiap tahunnya kemudian dikalikan dengan % sampah yang dapat diolah dengan Waste to Energy (WTE) melalui proses insinerasi. Proses insinerasi mampu mengurangi sekitar 90% dari volume sampah dapat menjadi energi terbarukan (Dong & Lee, 2009). Dari perhitungan ini selain dapat mengetahui jumlah timbulan sampah yang dapat diolah dengan menggunakan Waste to Energy (WTE).
Timbulan sampah yang tidak terolah oleh Waste to Energy (WTE) /residu yang dihasilkan dari proses pengolahan dengan teknologi Waste to Energy (WTE) adalah sampah yang akan masuk ke zona aktif. Besarnya residu yang akan masuk ke zona aktif dapat diketahui dengan mengurangi jumlah timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu dengan timbulan sampah yang terolah dengan Waste to Energy (WTE)
Dalam menghitung sisa umur pakai TPA Sumur Batu yang direncanakan menerapkan sistem controlled landfill, maka perlu memperhitungkan jumlah tanah penutup yang besarnya 3% dari jumlah timbulan sampah yang akan ditimbun dimana penutupan dengan tanah penutup dilakukan setiap 7 hari sekali. Data timbulan sampah beserta jumlah tanah penutup yang telah diperoleh disetiap tahun kemudian diakumulasikan.
Daya tampung eksisting diperoleh dengan memanfaatkan zona perluasan dan menambah ketinggian pada zona 1, 2, 4, 5A, 5C dan 6A sampai 30 m, sehingga di peroleh daya tampung eksisting di TPA Sumur Batu adalah 581.397 m3 .
Sisa daya tampung kemudian dapat diketahui dengan mengurangi daya tampung eksisting dengan timbulan sampah yang terakumulasi. Apabila sisa daya tampung menunjukan tanda minus berarti sisa daya tampung di TPA Sumur Batu telah habis dan sudah tidak dapat lagi menampung timbulan sampah yang masuk, sehingga dapat diketahui sisa umur pakai pada tahun tersebut.
Sisa umur pakai diperoleh dari hasil membagi daya tampung eksisting dengan timbulan sampah harian + tanah penutup, sehingga dapat diperoleh sisa umur pakai dengan mengoperasian Waste to Energy (WTE) di TPA Sumur Batu adalah 58 hari di tahun 2023 atau sama dengan 1424 hari. Sisa umur pakai 1424 hari dihitung per tanggal dilakukannya tracking yaitu pada tanggal 6 April 2019 sehingga perkiraan habisnya sisa umur pakai TPA bila tanpa upaya optimalisasi adalah pada 27 februari 2023.
Kesimpulan Analisa Sisa Umur Pakai
Perbandingan sisa umur pakai dengan dan tanpa upaya optimalisasi di TPA Sumur Batu dapat dilihat pada Tabel.7 sebagai berikut.
Tabel.7 Kesimpulan Analisa Umur Pakai
| Sisa Umur Pakai | Tanpa Optimalisasi | Optimalisasi dengan Penataan dan WTE | |
|---|---|---|---|
| Jumlah hari | 183 hari dari pelaksanaan tracking | 1420 hari dari pelaksanaan tracking | |
| 183 hari di Tahun 2019 | 58 hari di tahun 2023 | ||
| Tanggal | 6 Oktober 2019 | 24 Februari 2023 | |
Sumber : Hasil Analisa, 2019
Pada Tabel. 7 dapat dilihat bahwa sisa umur pakai dengan menggunakan upaya optimalisasi dengan penataan dan Waste to Energy (WTE) adalah 58 hari ditahun 2023 atau sama dengan 1420 hari, maka dari itu pihak pengelola TPA Sumur Batu harus segera mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dan sudah memiliki zona perluasan di tahun 2024 bila ingin tetap mengoperasikan TPA Sumur Batu.
Tabel 8. Perhitungan Sisa Umur Pakai Tanpa WTE
| No | Tahun | Q yang Masuk Ke TPA | Q yang | Masuk Zo | na Aktif | Jumlah Sampah dengan Tanah Penutup | Daya Tampung Eksisting (m3) | Sisa Daya Tampung (m3) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| m3/hari | m3/hari | m3/7hari | m3/tahun | m3/7hari | m3/hari | m3/tahun | m3/tahun | m3 | m3 | ||
| (1) | (2) | (3) | (4) | (5) | (6) | (7) | (8) | (9) | (10) | ||
| Per | Cara hitungan | Hasil Proyeksi | (1) | (2) x 7 | (2) x 365 | ((3) x 3%)+(3) | (7) / 365 | (5) x 52 | (7) | Hasil Tracking | (9)-(8) |
| 1 | 2019 | 3095,883 | 3095,883 | 21671,180 | 1129997,240 | 22321,315 | 3180,023 | 1160708,398 | 1160708,398 | 581397 | -579311,398 |
| 2 | 2020 | 3460,000 | 3460,000 | 24220,003 | 1262900,160 | 24946,603 | 3554,037 | 1297223,365 | 2457931,762 | 581397 | -1876534,762 |
| 3 | 2021 | 3866,943 | 3866,943 | 27068,602 | 1411434,257 | 27880,660 | 3972,039 | 1449794,333 | 3907726,096 | 581397 | -3326329,096 |
| 4 | 2022 | 4321,748 | 4321,748 | 30252,235 | 1577437,967 | 31159,802 | 4439,205 | 1620309,706 | 5528035,801 | 581397 | -4946638,801 |
| 5 | 2023 | 4830,044 | 4830,044 | 33810,306 | 1762965,953 | 34824,615 | 4961,315 | 1810879,987 | 7338915,788 | 581397 | -6757518,788 |
| Kapasitas TPA | Satuan | Cara perhitungan | Timbunan sampah | |
|---|---|---|---|---|
| (11) | Tahun terlewatinya daya tampung maksimum TPA | Tahun | Tanda negatif pada (10) | 2019 |
| (12) | Total sisa volume atau daya tampung eksisting | m3 | Hasil Tracking (9) | 581397 |
| (13) | Q terakumulasi di TPA pada tahun 2019 | m3 | (8) | 1160708,398 |
| (14) | Sisa daya tampung di TPA untuk penggunaan tahun 2019 | m3 | • | = |
| (15) | Q harian dengan tanah penutup di TPA pada tahun 2019 | m3/hari | (6) | 3180,023 |
| (16) | Sisa umur pakai pada tahun 2019 | hari | (12) / (15) | 183 |
| (17) | Total sisa umur pakai | hari | (16) | 183 |
| (18) | Perkiraan waktu habis daya tampung TPA | hari/bulan/tahun | Dihitung dari hari tracking pada 6 April 2019 | 6 Oktober 2019 |
Sumber: Hasil Perhitungan, 2019
Tabel 9. Volume Seluruh Zona di TPA Sumur Batu
| No | Tahun | Q yang Masuk Ke TPA | % Sampah Potensi WTE | Q Terolah dengan WTE | Q yang | Q yang Masuk Zona Aktif Jumlah Sampah dengan Tanah Penutup | Tanah | Q Terakumulasi di TPA | Daya Tampung Eksisting (m3) | Sisa Daya Tampung (m3) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| m3/hari | % | m3/hari | m3/hari | m3/7hari | m3/tahun | m3/7hari | m3/tahun | m3/hari | m3/tahun | m3 | m3 | ||
| (1) | (2) | (3) | (4) | (5) | (6) | (7) | (8) | (9) | (10) | (11) | (12) | ||
| Peı | Cara hitungan | Hasil Proyeksi | Hasil Studi Literatur | (1) x (2) | (1)-(3) | (4) x 7 | (4) x 365 | ((5) x 3%)+(5) | (7) x 52 | (8) /365 | (8) | Hasil Tracking | (11)-(10) |
| 1 | 2019 | 3095,883 | 90,00% | 2786,295 | 309,588 | 2167,118 | 112999,724 | 2232,132 | 116070,840 | 318,002 | 116070,840 | 581397 | 465326,160 |
| 2 | 2020 | 3460,000 | 90,00% | 3114,000 | 346,000 | 2422,000 | 126290,016 | 2494,660 | 129722,336 | 355,404 | 245793,176 | 581397 | 335603,824 |
| 3 | 2021 | 3866,943 | 90,00% | 3480,249 | 386,694 | 2706,860 | 141143,426 | 2788,066 | 144979,433 | 397,204 | 390772,610 | 581397 | 190624,390 |
| 4 | 2022 | 4321,748 | 90,00% | 3889,573 | 432,175 | 3025,223 | 157743,797 | 3115,980 | 162030,971 | 443,920 | 552803,580 | 581397 | 28593,420 |
| 5 | 2023 | 4830,044 | 90,00% | 4347,039 | 483,004 | 3381,031 | 176296,595 | 3482,462 | 181087,999 | 496,132 | 733891,579 | 581397 | -152494,579 |
| Kapasitas TPA | Satuan | Cara perhitungan | Timbunan sampah | |
|---|---|---|---|---|
| (13) | Tahun terlewatinya daya tampung maksimum TPA | Tahun | Tanda negatif pada (12) | 2023 |
| (14) | Total sisa volume atau daya tampung eksisting | m3 | Hasil Tracking (11) | 581397 |
| (15) | Q terakumulasi di TPA pada tahun 2022 | m3 | (10) | 552803,580 |
| (16) | Sisa daya tampung di TPA untuk penggunaan tahun 2023 | m3 | (12) | 28593,420 |
| (17) | Q harian dengan tanah penutup di TPA pada tahun 2023 | m3/hari | (8) | 496,132 |
| (18) | Sisa umur pakai pada tahun 2023 | hari | (16) / (17) | 58 |
| (19) | Total sisa umur pakai | hari | Dihitung dari hari tracking | 1424 |
| Dihitung dari hari tracking | ||||
| (20) | Perkiraan waktu habis daya tampung TPA | hari/bulan/tahun | pada 6 April 2019 | 27 Februari 2023 |
Sumber : Hasil Perhitungan, 2019
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kajian mengenai analisa kelayakan karakteristik sampah Kota Bekasi untuk dijadikan Refuse Derived Fuel (RDF) yang kemudian dijadikan bahan bakar dalam proses pembangkit listrik di TPA Sumur Batu diperoleh kesimpulan bahwa karakteristik sampah berupa nilai kalor, kadar air, kadar volatil dan kadar abu Kota Bekasi berpotensi diolah menjadi bahan baku RDF (Refuse Derived Fuel) tetapi memerlukan pre treatment untuk mengurangi kadar air dalam sampah. Dengan proses pembakaran/insinerasi mampu mengurangi sekitar 90% dari volume sampah dan dapat menjadi energi terbarukan, sehingga 90% volume sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu dapat dikurangi dan menambah sisa umur pakai di TPA Sumur Batu bila mengoperasikan Waste to Energy (WTE).
Daya tampung eksisting diperoleh dengan memanfaatkan zona perluasan dan menambah ketinggian pada zona 1, 2, 4, 5A, 5C dan 6A sampai 30 m, sehingga di peroleh daya tampung eksisting di TPA Sumur Batu adalah 581.397 m3 .
Sisa umur pakai apabila dijalankan sesuai dengan kondisi eksisting tanpa mengoperasikan Waste to Energy (WTE) diperoleh sisa umur pakai adalah 183 hari, sedangkan dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) diperoleh sisa umur pakai di TPA Sumur Batu adalah 1424 hari, maka dari itu dengan adanya perbedaan sisa umur pakai yang cukup signifikan ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pihak pengelola TPA Sumur Batu untuk segera memperbaiki dan mengoperasikan Waste to Energy (WTE).
