PENDAHULUAN
Pembuatan batik secara khusus dimulai dengan menuliskan malam pada sebuah kain kemudian diproses dengan cara tertentu dengan menggunakan bahan kimia dan air. Bahan kimia ini biasanya digunakan pada proses pewarnaan atau pencelupan. Akibat proses pewarnaan tersebut, industri batik dan tekstil merupakan salah satu penghasil limbah cair dengan kandungan zat warna yang tinggi dan memiliki bahan sintetik yang sukar larut (Hermawan, 2017). Proses pewarnaan ini pada umumnya menggunakan pewarna sintetis yaitu: naphthol, indigosol, rapid, zat warna reaktif dan zat warna idanthrene.
Senyawa pewarna sintetis yang cukup stabil akan sangat sulit untuk terdegradasi secara alami dan dapat membahayakan lingkungan terutama perairan. Pewarna sintetis yang telah digunakan akan menjadi limbah cair apabila tidak terolah dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif baik dari segi estetika maupun kesehatan lingkungan. Sehingga harus tetap diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air penerima. Zollinger, 1991 mengatakan 1- 15% pewarna sintetis hasil dari pewarnaan tidak terolah dan terbuang ke badan air. Hal tersebut dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan karena pewarna sintetis bersifat karsinogenik (Reife, 1993).
Jika dilihat dari segi lingkungan, penyisihan warna cukup mendapat perhatian khusus, untuk menyisihkan warna dari limbah cair industri tekstil dapat menggunakan berbagai macam metode baik secara fisik, kimia maupun biologi. Metode penyisihan warna secara fisik antara lain adsorpsi, pertukaran ion (ion exchange), filtrasi dan koagulasi-flokulasi. Zahra dan Notodarmojo (2014) menggunakan metode koagulasi-flokulasi dengan penambahan tanah liat lokal sebagai koagulan pembantu dalam penyisihan warna reactive blue 19 (RB 19) menghasilkan tingkat efisiensi sebesar 70.365%. Metode penyisihan warna secara kimia antara lain menggunakan ozon dan fotokatalitik. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Awfa dan Notodarmojo (2016) didapat efisiensi penyisihan warna air gambut secara koagulasi sebesar
83.578%, kandungan warna yang tersisa kemudian diolah dengan fotokatalis didapat efisiensi sebesar 7.992%-14.146%. Metode penyisihan warna secara biologi dapat dilakukan dengan menggunakan degradasi aerobik dan anaerobik. Sugumar dan Sadanandan (2010) melaporkan hasil penelitian untuk penyisihan pewarna sintetis C. I Acid Orange 7 dan C.I Reactive Red 2 secara anaerobik menggunakan konsorsium bakteri dan aerobik didapat efisiensi sebesar 94%.
Dari beberapa metode penyisihan warna yang telah disebutkan di atas, adsorpsi adalah salah satu metode dari proses fisika yang efektif dan cukup berhasil dalam menyisihkan pewarna sintetis dari limbah cair industri tekstil (Al-Degs Y, dkk., 2000; Mckay G, dkk., 1987 dalam Aziz. B. K., 2013). Beberapa penelitian menggunakan metode adsorpsi dalam penyisihan pewarna sintetis methylene blue (Fatiha dan Belkacem, 2016), naphthol green B dan congo red (Attalah et al, 2012), reactive red 2 (Kaur dan Datta, 2014), malachite green, methyl orange dan methylene blue (Elmoubarki et al, 2015).
Dalam proses adsorpsi pada umumnya menggunakan berbagai jenis adsorben antara lain karbon aktif, arang batok kelapa, karbon aktif sekam padi dan karbon aktif tempurung kelapa. Tingkat efisiensi adsorben karbon aktif dalam penurunan warna selama rentang waktu 0-75 menit adalah sebesar 87.9% sedangkan menggunakan adsorben pasir aktif penurunan warna dalam rentang waktu yang sama diperoleh sebesar 71,3% (Sumarni, 2012). Pada penelitian adsorpsi penurunan konsentrasi warna menggunakan adsorben arang batok kelapa secara batch diperoleh sebesar 77% - 100% (Jannatin dkk, 2011). Adsorben karbon aktif sekam padi yang digunakan pada penelitian Setyaningsih (2009) didapat penurunan warna sebesar 95,16% sedangkan menggunakan karbon aktif tempurung kelapa didapat penurunan warna sebesar 75,81%.
Semua jenis adsorben tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika dilihat dari segi ekonomi adsorben karbon aktif dalam pengoperasiannya membutuhkan biaya yang tidak murah. Adsorben pasir aktif tidak semua wilayah memiliki material tersebut, sedangkan untuk adsorben karbon aktif sekam padi kemungkinan mendapatkan material tersebut tidak mudah. Dalam rangka peningkatan efisiensi dari proses adsorpsi diperlukan pengembangan adsorben yang efektif dan murah. Penggunaan material alami merupakan potensi alternatif lain karena ketersediaan yang melimpah di alam dan murah.
Salah satu alternatif lain jenis adsorben yang digunakan adalah tanah liat (clay). Hal ini dilakukan mengingat keberadaan tanah liat melimpah di alam dan merupakan bahan alami yang dapat ditemukan hampir di semua wilayah Indonesia khususnya di Bandung, Jawa Barat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini secara garis besar difokuskan pada proses adsorpsi menggunakan tanah liat alami dan regenerasinya dalam menyisihkan kandungan warna yang digunakan pada proses pembuatan kain batik. Zat warna sintetis yang akan disisihkan adalah naphthol yang tidak larut dalam air. Proses penelitian yang akan dilakukan yaitu meliputi studi literatur, persiapan adsorben tanah liat, persiapan zat warna naphthol, proses adsorpsi yang meliputi penentuan dosis adsorben tanah liat dan waktu kontak. Tahapan penelitian yang dilakukan secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar 1.
Field Code Changed
Field Code Changed
Formatted: Font: Bold
96. Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 – Reiza Fandrio A, Katharina Oginawati, Priana Sudjono

Gambar 2 Kurva kalibrasi zat warna napthol
Field Code Changed
Pembuatan Kurva Kalibrasi Standar Warna Naphthol
Konsentrasi yang digunakan pada pembuatan kurva standar zat warna naphthol adalah sebesar 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan 100 mg/L. Hasil ploting nilai absorbansi terhadap konsentrasi dapat dilihat pada <u>Gambar 3</u>.

Gambar 3 Grafik nilai absorbansi terhadap konsentrasi
Field Code Changed
Proses Adsorpsi
Adsorpsi dilakukan dengan jar test menggunakan empat buah gelas kimia berukuran 600 mL yang diisi dengan limbah cair yang mengandung zat warna naphthol dengan konsentrasi
50 mg/L sebanyak 300 mL. Pengadukan dengan kecepatan 250 rpm selama 90 menit. Pengambilan sampel menggunakan pipet ukur pada kedalaman 3-5 cm di bawah permukaan sampel untuk diukur absorbansi warnanya dengan panjang gelombang 420 nm menggunakan spektrofotometer Jenway 6305.
Variasi dosis adsorben yang digunakan adalah sebesar 0,5 gr, 1 gr, 1,5 gr dan 2 gr. Variasi pengaruh waktu kontak selama 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105, 120, 135, 150, 165 dan 180 menit. Variasi konsentrasi dalam rentang 25-250 mg/L.
Kinetika Adsorpsi
Kinetika adsorpsi adalah laju adsorben dalam jangka waktu tertentu. Kinetika adsorpsi suatu zat dapat diketahui dengan mengukur perubahan konsentrasi zat teradsorpsi kemudian menganalisis nilai k (slope/kemiringan) dan ploting pada grafik. Beberapa model kinetika adsorpsi yang biasa digunakan untuk menggambarkan kinetika proses adsorpsi antara lain adalah model kinetika pseudo orde 1 (model Lagergen), pseudo orde 2 (model Ho dan Mckay), model Elovich, model kinetika Dumwald – Wagner dan model kinetika Weber - Morris. Model kinetika adsorpsi dan parameternya dapat dilihat pada <u>Tabel 1</u>.
Tabel 1 Model Kinetika Adsorpsi dan Parameternya
| Model Kinetika | Persamaan Linier | Ploting Grafik | Parameter | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Adsorpsi | |||||
| Pseudo Orde 1 | \[\log(q_e - q_t) = \log q_e - \frac{K_1}{2.303}t\] | \[log \; (q_e - q_e) \; terhadap \; t\] | \(K_1 = -2.303 \text{ x slope},\) \(\log q_e = \text{intersep}\) | ||
| Pseudo Orde 2 | \[\frac{t}{q_t} = \frac{1}{K_2 q_e^2} + \frac{1}{q_e} t\] | \(\frac{t}{q_t}\)terhadap t, | \[\frac{1}{q_e} = slope\] \[\frac{1}{K_2 q_e^2} = intersep\] | ||
| Elovich | \[q_t = \frac{1}{\beta} \ln(\alpha \beta) + \frac{1}{\beta} \ln t\] | qt terhadap t | \[\frac{1}{\beta} = slope\] \[\frac{1}{\beta} \ln(\alpha \beta) = intersep\] | ||
| Weber-Morris | \[\log q_t = \log K_{int} + \frac{1}{2} \log t\] | log qt terhadap log t | \(K_{int} = slope\) | ||
| Dumwald-Wagner | \[\log\left(1 - \left(\frac{q_t}{q_e}\right)^2\right) = -\frac{K}{2.303}t\] | \(\log\left(1-\left(\frac{q_t}{q_e}\right)^2\right)\) terhadap t | K = -2.303 x slope | ||
Isoterm Adsorpsi
Isoterm adsorpsi merupakan suatu pernyataan adsorpsi yang menggambarkan hubungan antara jumlah zat terlarut yang teradsorpsi oleh per unit berat adsorben dengan tekanan atau konsentrasi pada kesetimbangan dan temperatur konstan. Data dalam penelitian adsorpsi
Field Code Changed
Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman
98. Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 – Reiza Fandrio A, Katharina Oginawati, Priana Sudjono
biasanya dianalisa melalui persamaan isoterm adsorpsi. Persamaan tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai mekanisme adsorpsi oleh permukaan dan afinitas media yang digunakan. Terdapat beberapa persamaan yang telah dikembangkan dan biasa digunakan yaitu isoterm Langmuir, isoterm Freundlich, isoterm Temkin dan isoterm Dubinin – Raduschkevich. Perhitungan isoterm adsorpsi disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Isoterm Adsorpsi dan Parameternya
| Tipe Isoterm | Persamaan Linier | Ploting | Parameter |
|---|---|---|---|
| Langmuir | 1 1 1 1 = ( 𝐾𝐿) + 𝑞𝑒 𝑄𝑚 𝐶𝑒 𝑄𝑚 | 1/qe terhadap 1/Ce | KL = intercept, Qm = slope |
| Freundlich | 1 log 𝑞𝑒 = log𝐾𝐹 + log𝐶𝑒 𝑛 | log qe terhadap log Ce | 1/n = slope, log KF = intercept. |
| Temkin | 𝑞𝑒 = 𝐵 ln𝐴 + 𝐵 ln 𝐶𝑒 | qe terhadap ln Ce | A = slope B = intercept. |
| Dubinin - Raduskevich | 2 1 ln 𝑞𝑒 = ln 𝑞𝑚𝐷 − 𝛽 (𝑅𝑇 ln (1 + )) 𝐶2 atau 2 ln 𝑞𝑒 = ln 𝑞𝑚𝐷 − 𝛽𝜀 | 2 ln qe terhadap | qmD = slope = intercept |
Formatted: Normal, Line spacing: single
Formatted: Font: (Default) +Body (Calibri), 11 pt, Not Bold
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh dosis adsorben: pengaruh dosis adsorben pada percobaan adsorpsi menggunakan tanah liat tanpa modifikasi dan tanah liat dengan modifikasi untuk variasi dosis serta kecepatan pengadukan sebesar 250 rpm selama 90 menit disajikan pada Gambar 4Gambar 4Gambar 4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa untuk adsorben tanpa modifikasi dosis optimum proses adsorpsi zat warna naphthol adalah sebesar 1,5 gr/100 ml limbah cair. Efisiensi penyisihan zat warna napthol sebesar 65,648% dengan konsentrasi akhir setelah proses adsorpsi adalah 7,939 mg/L, penurunan konsentrasi sebesar 15,172 mg/L dari konsentrasi awal sebesar 23,111 mg/L. Sedangkan untuk adsorben dengan modifikasi dosis optimum proses adsorpsi zat warna naphthol adalah sebesar 2 gr/100 ml limbah cair. Efisiensi penyisihan zat warna napthol sebesar 82,809% dengan konsentrasi akhir setelah proses adsorpsi adalah 11,457 mg/L, penurunan konsentrasi sebesar 55,190 mg/L dari konsentrasi awal sebesar 66,648 mg/L.
Field Code Changed
Field Code Changed
Field Code Changed Formatted Table
Formatted: Font: 12 pt, Bold Formatted: Font: 12 pt, Bold
Taha et al (2013) melaporkan dalam penelitiannya untuk pengaruh dosis adsorben sebanyak 0.05 gr hingga 0.3 gr/100 ml dapat menurunkan pewarna basic red 2 sebesar 95.10% hingga 96.67%. Sedangkan hasil penyisihan warna yang dilakukan oleh Jayalakshmi dkk (2014) untuk variasi dosis adsorben 0.5 gr hingga 3.5 gr/L didapat penurunan zat warna napthol green sebesar 88% hingga 97.5%.

Gambar 4 Grafik pengaruh dosis adsorben tanpa modifikasi dan adsorben dengan modifikasi terhadap efisiensi penyisihan zat warna naphthol
Pengaruh waktu kontak: Variasi waktu kontak dilakukan dengan selang waktu 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105, 120, 135, 150, 165 dan 180 menit. Dosis adsorben yang digunakan adalah dosis optimum proses adsorpsi pada percobaan sebelumnya yaitu sebesar 1,5 gr/100 ml untuk adsorben tanpa modifikasi dan 2 gr/100 ml untuk adsorben dengan modifikasi, kecepatan pengadukan sebesar 250 rpm. Dari hasil percobaan uji adsorpsi diketahui efisiensi penyisihan zat warna naphthol sebesar 78,451% untuk variasi waktu kontak menggunakan adsorben tanah liat tanpa modifikasi yang optimum adalah selama 30 menit. Sedangkan menggunakan adsorben tanah liat dengan modifikasi adalah selama 60 menit efisiensi penyisihan sebesar 94,459%. Penurunan konsentrasi zat warna naphthol menggunakan adsorben tanpa modifikasi dari 25,281 mg/L menjadi 5,448 mg/L. Sedangkan penurunan konsentrasi zat warna naphthol menggunakan adsorben dengan modifikasi dari 32,314 mg/L menjadi 1,790 mg/L. Pengaruh variasi waktu kontak terhadap efisiensi dapat dilihat pada Gambar 5.
Field Code Changed
Field Code Changed
100 Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 – Reiza Fandrio A, Katharina Oginawati, Priana Sudjono
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Naghmouchi dan Nahdi (2016) untuk pengaruh waktu kontak selama 30 menit pertama mengalami kenaikan proses adsorpsi lalu dalam waktu 40 menit hingga 50 turun perlahan dan konstan di waktu 50 menit. Penelitian lain yang dilakukan oleh Aziz (2013) variasi waktu kontak selama 40 menit dengan interval setiap 5 menit didapatkan hasil pada menit ke 40 proses adsorpsi mencapai nilai maksimal. Fatiha dan Belkacem (2016) melaporkan waktu kotak maksimal proses adsorpsi methylene blue adalah 10 menit lalu mencapai konstan di menit ke 20.

Gambar 5 Grafik pengaruh variasi waktu kontak adsorben tanpa modifikasi dan adsorben dengan modifikasi terhadap efisiensi penyisihan zat warna naphthol
Kinetika adsorpsi: model kinetika adsorpsi yang digunakan untuk menguji data percobaan adalah kinetika pseudo orde 1, kinetika pseudo orde 2, kinetika Elovich, kinetika Dumbwald-Wagner dan kinetika Webber-Morris (difusi intrapartikel) (Oguntimein, 2015). Tabel 3. merupakan rekapitulasi perhitungan dari parameter-parameter model kinetika adsorpsi, dimana jika dilihat dari nilai koefisien korelasi (R2 ) yang mendekati nilai satu berarti memiliki kecenderungan mengikuti kinetika orde reaksi tersebut (Sitohang, 2016).
Tabel 3 Rekapitulasi Parameter Model Kinetika Adsorpsi, Adsorben Tanpa Modifikasi
Field Code Changed
Field Code Changed
Field Code Changed
Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman
| Pseudo Orde 1 | Ele | ovich | Webber-Morris | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Persamaan Linier | y = 0.0242x - 3.4502 | Persamaan Linier y = 0.0037x - 0.0046 | Persamaan Linier | y = 0.3205x - 2.5784 | |||
| \(R^2\) | 0.6478 | R2 | 0.3602 | \(R^2\) | 0.4655 | ||
| \(K_1\) | -0.0056 | α | 0.010 | \(K_{WM}\) | 0.3205 | ||
| Pseudo Orde 2 | β | 270.270 | |||||
| Persamaan Linier | y = 59.717x + 2582.4 | Dumbwa | ıld-Wagner | ||||
| \(\mathbb{R}^2\) | 0.6703 | Persamaan Linier | y = 0.0066x - 0.9559 | Adsorben tanpa modifikasi | |||
| K2 | 111673.2214 | R2 | 0.5447 | ||||
| h | 31.315 | \(K_{DW}\) | -0.015 | ||||
Tabel 4 Rekapitulasi Parameter Model Kinetika Adsorpsi, Adsorben Dengan Modifikasi
| Pseudo Orde 1 | E | ovich | Webber-Morris | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Persamaan Linier | y = 0.0495x - 4.5436 | Persamaan Linier | 0.0004x + 0.0065 | Persamaan Linier | y = 0.0401x - 2.1704 | ||
| \(\mathbb{R}^2\) | 0.7304 | R2 | 0.0353 | \(R^2\) | 0.0289 | ||
| K1 | -0.1140 | a | 0.001 | \(K_{WM}\) | 0.0401 | ||
| Pseudo Orde 2 | b | 2500.000 | |||||
| Persamaan Linier | 124.96x - 75.108 | Dumbw | ald-Wagner | ||||
| \(R^2\) | 0.8734 | Persamaan Linier | y = 0.0182x - 1.2975 | Adsorben dengan modifikasi | |||
| \(K_2\) | 45.14413944 | R2 | 0.7294 | ||||
| h | 0.003 | KDW | -0.042 | ||||
Berdasarkan data <u>Tabel 3</u> dan Error! Reference source not found. diketahui bahwa koefisien korelasi yang mendekati nilai satu dari keseluruhan model kinetika adsorpsi adalah kinetika pseudo orde 2, hal ini berarti bahwa adsorpsi zat warna naphthol oleh adsorben tanpa modifikasi mengikuti reaksi kinetika pseudo orde 2, artinya proses adsorpsi yang terjadi adalah proses kemisorpsi. Hasil yang sama telah dilaporkan pada penelitian Naghmouchi dan Nahdi (2016), penelitian Kaur dan Datta (2014) serta penelitian Attallah, dkk (2013), tetapi hasil yang berbeda di penelitian Jayalakshmi, dkk (2014) didapat kinetika adsorpsi penyisihan pewarna napthol green adalah kinetika pseudo orde 1.
Field Code Changed
Field Code Changed Field Code Changed
Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman

Adsorben tanpa modifikasi

Adsorben dengan modifikasi
Gambar 6 Kinetika adsorpsi untuk adsorben tanpa modifikasi (kiri) dan adsorben dengan modifikasi (kanan) menggunakan model pseudo orde 2
Field Code Changed
Formatted: Font: (Default) Times New Roman Formatted: Font: (Default) Times New Roman
Isoterm: dilakukan perhitungan dari data hasil percobaan adsorpsi menggunakan empat jenis model isoterm yaitu: Langmuir, Freundlich, Temkin dan Dubinin-Radushkevich. Rekapitulasi perhitungan isoterm dilihat pada <u>Tabel 5</u> dan
Tabel 6.
Tabel 5 Rekapitulasi Parameter Model Isoterm, Adsorben Tanpa Modifikasi
| Isotherm Langmuir | Isotherm Freundlich | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Persamaan Linier | \(R^2\) \(K_L\) \(q_m\) \(R_L\) | Persamaan Linier | \(\mathbb{R}^2\) | \(K_F\) | n | |||
| y = 376.82x + 63.056 | 0.7556 | 4.2E-05 | 0.016 | 0.990 | y = 0.5826x - 2.5664 | 0.8699 | 0.003 | 1.716 |
| Isotherm Temkin | Isotherm Dubinin - Radushkevich | |||||||
| Persamaan Linier | \(R^2\) | В | A | Persamaan Linier | \(\mathbb{R}^2\) | qm | β | |
| y = 0.0062x - 0.0035 | 0.7975 | 0.0062 | 0.569 | y = -0.0015x - 0.5406 | 0.652 | 0.582 | -0.0015 | |
Tabel 6 Rekapitulasi Parameter Model Isoterm, Adsorben Dengan Modifikasi
| - | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Isotherm Langmuir | Isotherm Freundlich | |||||||
| Persamaan Linier | \(R^2\) | \(K_L\) | \(q_{\rm m}\) | \(R_L\) | Persamaan Linier | \(R^2\) | \(K_F\) | n |
| y = 240.37x + 122.41 | 0.8132 | 3.4E-05 | 0.008 | 0.995 | y = 0.2643x - 2.4284 | 0.9441 | 0.004 | 3.784 |
| Isotherm Temkin | Isotherm Dubinin - Radushkevich | |||||||
| Persamaan Linier | \(R^2\) | В | A | 1 | Persamaan Linier | \(R^2\) | qm | β |
| y = 0.0017x + 0.003 | 0.9275 | 0.0017 | 5.8 | 40 | y = -0.0006x - 3.2792 | 0.7846 | 0.038 | -0.0006 |
Hasil koefisien korelasi yang lebih mendekati nilai satu dari <u>Tabel 5</u> dan
Tabel 6 di atas adalah isoterm Freundlich. Nilai 1/n untuk menentukan tipe isoterm dari model Freundlich yaitu apabila 0<1/n<1 maka adsorpsi berjalan secara favorable, apabila 1/n=1 maka irreversible dan apabila 1/n>1 maka adsorpsi berjalan secara unfavorable. Tipe isoterm model Freundlich pada penelitian ini berjalan secara favorable karena hasil 0<1/n<1 yaitu 0,583 untuk adsorben tanpa modifikasi dan 0,264 untuk adsorben dengan modifikasi. Ploting isoterm model Freundlich dapat dilihat pada <u>Gambar 7</u> dan <u>Gambar 8</u>.
Field Code Changed
Field Code Changed Field Code Changed
Field Code Changed
Field Code Changed
Field Code Changed
Formatted: Font: Bold
Field Code Changed
Field Code Changed
104, Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 – Reiza Fandrio A, Katharina Oginawati, Priana Sudjono

Gambar 7 Isoterm Freundlich untuk adsorben tanpa modifikasi

Gambar 8 Isoterm Freundlich untuk adsorben dengan modifikasi
KESIMPULAN
Hasil percobaan menunjukkan bahwa untuk adsorben tanpa modifikasi dosis optimum proses adsorpsi zat warna naphthol adalah sebesar 1,5 gr/100 ml limbah cair. Efisiensi penyisihan zat warna napthol sebesar 65,648% dengan konsentrasi akhir setelah proses adsorpsi adalah 7,939 mg/L, penurunan konsentrasi sebesar 15,172 mg/L dari konsentrasi awal sebesar 23,111 mg/L. Sedangkan untuk adsorben dengan modifikasi dosis optimum proses adsorpsi zat warna naphthol adalah sebesar 2 gr/100 ml limbah cair. Efisiensi penyisihan zat warna napthol sebesar 82,809% dengan konsentrasi akhir setelah proses adsorpsi adalah 11,457 mg/L, penurunan konsentrasi sebesar 55,190 mg/L dari konsentrasi awal sebesar 66,648 mg/L.
Dari hasil percobaan uji adsorpsi diketahui efisiensi penyisihan zat warna naphthol sebesar 78,451% untuk variasi waktu kontak menggunakan adsorben tanah liat tanpa modifikasi yang optimum adalah selama 30 menit. Sedangkan menggunakan adsorben tanah liat dengan modifikasi adalah selama 60 menit efisiensi penyisihan sebesar 94,459%.
Field Code Changed
Field Code Changed
Koefisien korelasi yang mendekati nilai satu dari keseluruhan model kinetika adsorpsi adalah kinetika pseudo orde 2, hal ini berarti bahwa adsorpsi zat warna naphthol oleh adsorben tanpa modifikasi mengikuti reaksi kinetika pseudo orde 2, artinya proses adsorpsi yang terjadi adalah proses kemisorpsi. Hasil koefisien korelasi yang lebih mendekati nilai satu dari keempat model isoterm adalah isoterm Freundlich. Tipe isoterm model Freundlich pada penelitian ini berjalan secara favorable karena hasil 0<1/n<1 yaitu 0,583 untuk adsorben tanpa modifikasi dan 0,264 untuk adsorben dengan modifikasi.
