1. Home
  2. Archives
  3. Vol 24 (2018) Issue 1
  4. Articles

Perhitungan Neraca Air Tawar Di Pulau Pramuka, Jakarta

Abstract

Abstrak: Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang mengalami kekurangan air tawar saat musim kering. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah surplus/defisit lensa air tawar pada Pulau Pramuka berdasarkan neraca air alami, menentukan kekurangan ketersediaan air tawar, dan menentukan jumlah air yang harus di produksi oleh instalasi reverse osmosis yang akan dibuat. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Juni "“ Desember 2017. Perhitungan neraca air alami dihitung per-tahun dari tahun 2012 sampai 2016 berdasarkan data karakteristik tanah dan data cuaca. Data cuaca yang digunakan adalah data curah hujan dan temperatur yang diambil dari stasiun terdekat, yaitu stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara. Berdasarkan perhitungan neraca air, pada tahun 2016 Pulau Pramuka memiliki nilai surplus sebesar 369 mm dan defisit sebesar 669 mm. Kemudian, berdasarkan perhitungan, diketahui bahwa nilai sustainable yields dari lensa air tawar lebih kecil dari kebutuhan air total. Pada tahun 2016 Pulau Pramuka mengalami defisit air rata-rata sejumlah 164 m3 per hari. Kapasitas produksi instalasi reverse osmosis yang harus dibangun adalah sebesar 226 m3/hari kata kunci: Pulau Pramuka, pulau kecil, air tanah, neraca air, Thornthwaite-Mather, sustainable yield. Abstract: Pramuka island is one of the small islands which located in Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pramuka island is one of the islands that encounter water scarcity when dry season. The objective of the research are to determine the amount of freshwater lens surplus/deficit on Pramuka island based on natural water balance, to determine amount of freshwater deficit based on water consumption and to determine amount of freshwater that has to be provided by new reverse osmosis installation. The research was held in June - December 2017 period. Water balance measurement is counted per year from 2012 to 2016 based on rainfall and temperature data from the nearest station, which is Tanjung Priok station, Jakarta Utara. The calculation of water balance measured by using the Thornthwaite Mather method. Based on water balance measurement, in 2016 Pramuka Island has 369 mm surplus and 669 mm deficit. Later, it discovered from the calculation that the value of sustainable yields is lower than total water need each year. In 2016 Pramuka island experienced water deficit that equal to 164m3 per day. The rate of freshwater production that needed from new reverse osmosis instalation is 226 m3 per day Keywords: Pramuka island, small island, groundwater, water balance, Thornthwaite-Mather, sustainable yield.

Keywords

PENDAHULUAN

Perkembangan industri minyak dan gas berbanding lurus dengan jumlah limbah yang dikeluarkan, mengakibatkan semakin banyaknya industri migas yang bermasalah dengan limbah sludge dalam jumlah besar yang bahaya terhadap lingkungan (Mokhtar, 2011). Hal ini membutuhkan solusi yang efektif agar tidak mencemari lingkungan. Untuk menghindari timbulnya limbah, maka pengelolaan limbah B3 perlu menerapkan prinsip minimasi dengan merapkan konsep 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery) (Perdana, 2016). Selain solusi untuk proses pengolahan dan pembuangan dilandfill dalam peraturan negara Indonesia terdapat solusi pemanfaatan limbah, hal ini dapat menjadi salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut.

Pemanfaatan limbah tentunya akan menjalani tahap proses pengolahan terlebih dahulu, Dalam Kep. MenLH No. 128 Tahun 2003 tentang "Tata Cara Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah dan Tanah Terkontaminasi oleh indusri migas Secara Biologis" biopile masuk dalam pengolahan, namun pemanfaatan sludge produced water dapat menggunakan label "pemanfaatan" dengan alasan bahwa proses dan tujuan pemanfaatannya jelas yaitu untuk dimanfaatkan sebagai fertilizer atau pembenah tanah.

Pengelolaan sludge produced water dengan menggunakan metode biopile perlu memperhatikan aturan dalam Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tumbuhan mati, kotoran hewan dan/atau bagian hewan dan/atau limbah organik lainnya yang telah melalui proses rekayasa, berbentuk padat atau cair, dapat diperkaya dengan bahan mineral dan/atau mikroba, yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan hara dan bahan organik tanah serta memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk hayati adalah produk biologi aktif terdiri atas mikroba yang dapat meningkatkan efisiensi pemupukan, kesuburan, dan kesehatan tanah. Pembenah tanah adalah bahan-bahan sintetis dan/atau alami,organik dan/atau mineral berbentuk padat dan/atau cair yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia dan/atau biologi tanah.

Penelitian ini mengkaji potensi pemanfaatan sludge produced water dari industri LNG sebagai bahan pembuat Fertilizer atau pembenah tanah. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pemanfaatan sludge produced water sebagai bahan fertilizer atau pembenah tanah

Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic Formatted: Font: Italic dengan teknik pengolahan biopile, untuk mengetahui mutu hasil produk pengolahan sludge produced water, untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan produk olahan dari sludge produced water baik sebagai fertilizer atau sebagai pembenah tanah, untuk menentukan penggunaan sludge produced water sebagai fertilizer atau pembenah tanah terhadap resiko lingkungan.

METODOLOGI

Penelitian Ini dilakukan secara eksperimental dalam skala laboratorium. Simulasi proses degradasi sludge secara aerob dilakukan dengan sistem aerated static pile. Monitoring secara periodik dilakukan dengan mengambil sampel hasil pengomposan dan pengukuran vegetasi tanaman pada uji efektifitas. Adapun tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.

3

Gambar 1. Diagram pengomposan

0

Gambar 2. Diagram uji efektifitas

Berikut adalah beberapa alat pendukung static aerated biopile:

• Blower : Sumber udara aerasi

• Pipa 2 inci : Saluran udara utama

• Pipa ½ inci : Saluran menuju masing-masing reactor

• Timer : Mengatur waktu menyala blower supaya bergantian

• Container : Tempat mengolah campuran bahan kompos

Semua alat dipasang sesuai gambar 3.

Gambar 3. Reaktor static aerated biopile

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini Peralatan pendukung analisis AAS, spektrofotometer, kompor listrik, alat destilasi, Buret Titrasi, Pipet, Cawan, Gelas ukur, Neraca, dan Oven.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini: sludge produced water LNG, Tanah Sekitar pabrik LNG site, Bulking agent (daun dan rumput kering), Bibit Tanaman, Peralatan, Air.

Studi Pendahuluan

Studi ini bertujuan untuk memanfaatkan sludge produced water outlet dari ipal pengolahan gas bumi untuk dijadikan pupuk organik atau pembenah tanah dengan Proses aerated static biopile dengan penambahan bulking agent. Bulking agent yang berfungsi sebagai sarana penguraian dan juga tempat mikroba bertahan hidup selama proses perkembangan biakan dan penguraian dapat penyerap cemaran dan kemudian di dalam bulking agent ini dilakukan penguraian (Notodarmojo, 2005). Penambahan bulking agen yang efektif mengacu pada hasil penelitian sebelumnya yaitu 1 volume daun kering : 3 volume sludge produced water, produk kompos yang dihasilkan dari pengolahan tersebut harus memenuhi beberapa baku mutu, Maka perlu dilakukan beberapa uji lanjutan untuk menunjukan efektifitas dan resiko yang akan di timbulkan terhadap lingkungan.

Proses Pemanfaatan

Pada proses pemanfaatan ini terdapat 2 proses yaitu proses pembuatan kompos dengan proses static aerated biopile dan proses uji hasil dari kompos tersebut. Pengambilan sample

dilakukan pada bahan yang akan digunakan yaitu sludge produced water, tanah sebagai karakteristik awal berfungsi mendapatkan informasi awal dari bahan sebagai acuan pengolahan dan penentuan metode yang digunakan, dikarenakan pengolahan terhadap sludge tergantung karakteristik sludge tersebut (Umesh, 2013). Dalam proses pengomposan dengan static aerated biopile, perlu diperhatikan: (a) Kelembaban agar dijaga pada kondisi tidak terlalu kering maupun basah atau tergenang; (b) Aerasi timbunan. Kondisi tidak terlalu anaerob dan tidak terlalu aerob. Terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan dan N banyak yang menguap sebagai NH3; (c) Temperatur dijaga agar tidak terlalu tinggi; (d) Suasana asam hasil proses dekomposisi akan menyebabkan pH turun, untuk netralisasi perlu dilakukan pembalikan timbunan; (e) Penambahan kapur Netralisasi juga dapat dilakukan dengan penambahanbahan kapur, dolomit atau abu; (f) Hara Untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos dapat dilakukan penambahan pupuk N dan P; (g) Struktur bahan dibuat tidak terlalu kasar dengan dipotong potong; (h) Tinggi timbunan tidak terlalu tinggi ( 1,5 m); (i) Atap untuk mencegah sinar matahari langsung dan hujan perlu diberikan atap (Atmojo,2003).

Selanjutnya hasil olahan biopile yang sudah sesuai baku mutu PERMENTAN 70/2011 akan dicobakan pada tanaman dengan cara melakukan uji efektifitas dan juga akan diujicobakan pada hewan dengan uji LD-50. Tanaman yang akan diujikan terdiri dari 3 kelompok tanaman konsumsi, tanaman liar dan tanaman produksi dengan pertimbangan waktu tanam. Variasi dosis pupuk yang dilakukan dalam uji efektivis adalah 0%; 10%; 20%; 30%; 40% dan 50% lalu dihitung masing-masing pertumbuhan dengan pengukuran tinggi tanaman, lebar daun, panjang daun dan biomasa yang dihasilkan hingga mencapai serapan maksimum berdasarkan waktu tumbuh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Awal Sampel

Hasil penelitian akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu karakteristik , uji mutu pupuk dan pembenah tanah, dan uji efektifitas. Hasil karakteristik awal pada tabel 1 menunjukan PH tanah ada di angka 3.1,yang termasuk pada golongan agak masam. Kandungan C-organik dan N yang tinggi Mengakibatkan C/N rasionya pun tinggi, tingginya rasio C/N pada suatu bahan menggambarkan belum terdekomposisi bahan organik tersebut dengan sempurna (Rodriguez dan Vazquez, 2013),pospat dan kalium sangat rendah. Dengan kandungan pasir yang tinggi tanah ini termasuk pada klasifikasi lempung liat berdebu dengan karakteristik porositas yang rendah. Analisa tanah mengenai kandungan logam berat pada tabel 2 menunjukan hasil yang bagus dibawah baku mutu ini menunjukan tahah tersebut tidak beracun atau pun tercemar.

Tabel 1. Hasil analisis tanah

NoParameterSatuanHasilKriteria
1pH :H2O-3.1Agak Masam
2pH : KCl-3.01-
3C-organik%36.6Sangat Tinggi
4N-Total%0.81Sangat Tinggi
5C/N%45Sangat Tinggi
6P2O5 HCL 25%(mg/100g)0.52Sangat rendah
7K2O HCL 25%(mg/100g)0.44Sangat rendah
8P2O5 MTD Brayppm1,25Sangat rendah
9Al-dd(cmol/kg)5,34-
H-dd(cmol/kg)1,63-
10KTK(cmol/kg)7.73Rendah
11Kejenuhan Basa%22,76Rendah
12Kejenuhan Al%130,42Sangat Tinggi
13Sususnan Kation-
K-dd(cmol/kg)0.05Sangat Rendah
Na-dd(cmol/kg)0.15Rendah
Ca-dd(cmol/kg)1.12Sangat Rendah
Mg-dd(cmol/kg)0.44Rendah
14Tekstur
Pasir%53
Debu%26Lempung liat berdebu
Liat%21

Karakterisasi Awal Sludge Produced Water

Karakterisasi awal sludge dimaksudkan untuk menentukan kandungan bahan organik, bahan anorganik, kandungan logam atau senyawa lainnya dan total populasi mikroba sebelum melakukan pengolahan. Parameter yang diukur dalam karakteristik awal yaitu: pH, kadar air dan total populasi diperoleh dari Sari (2014). Parameter lain terhadap sludge produced water LNG diperoleh dari Utami (2014) yang meliputi kandungan C, N, P, rasio C/N serta TPH. Berikut Tabel 2 hasil karakterisasi awal sludge produced water LNG.

Tabel 2. Karakteristik Awal Sludge Produced Water

ParameterSatuanHasil
PH-7,81
Kadar air%12,75
C%BK73,73
ParameterSatuanHasil
N%BK0,71
P%BK0,0685
C/NPpm103,84
Total Populasi Bakteri57000000

Karakteristik Akhir Biosludge Hasil Olahan

Tabel 3. Karakteristik Akhir Biosludge Hasil Olahan

Standar MutuStandar Mutu
NoParameterSatuanPupuk OrganikPembenah TanahBiosludge
1C-Organik%Min 15Min 1536,80
2C/N-15-2515-2522,64
3Bahan Ikutan (plastik, kaca, kerikil)%Max 2Max 20
4Kadar Air%15-2515-2513,50
Logam Berat
AsMax 10Max 100,01
HgMax 1Max 10,01
PbMax 50Max 5021,97
CdMax 2Max 20,27
CrMax 210Max 2100,034
5CoppmMax 700Max 7004,34
NiMax 62Max 6230
SeMax 2Max 2<0,01
6pH-4-94-96,98
7Hara Makro (N+P2O5+K2O)%Min 4-2,44
8E ColiMax 100Max 100Negatif
Salmonella SpMPN/grMax 100Max 100Negatif
Hara Mikro
Fe Total AtauMax 9000Max 9000-
Fe TersediaMax 500Max 5009,78
MnMax 5000Max 5000171
ZnMax 5000Max 500020,36
9CuppmMax 5000Max 50008,84
MoMax 20Max 2020
10Total NappmMax 2000Max 20001260
11Total ClppmMax 5000Max 5000506
12Senyawa AOXppmMax 500Max 500*
Lappm000
13Ceppm000

Pada variasi pengolahan dengan kondisi optimum, yaitu dengan menggunakan daun kering sebagai bulking agent pada perbandingan 1:3 dengan biosludge, dilakukan karakterisasi akhir untuk dibandingkan dengan Permentan No.70 Tahun 2011. Parameter yang diuji selain C-Organik, rasio C/N, pH, kadar air adalah kandungan bahan ikutan, logam berat, hara makro dan mikro, mikroba kontaminan, total Na, Cl, dan La. Hasil pengujian yang dilakukan terhadap parameter-parameter tersebut pada Tabel 3.

Dari Tabel 3 tersebut dapat dilihat bahwa hasil karakterisasi akhir hasil olahan biosludge untuk parameter yang dipersyaratkan telah memenuhi untuk semua parameter kecuali hara makro untuk memenuhi syarat sebagai pupuk organik dan kadar air yang relatif sedikit lebih rendah. Hasil pengujian hasil pengolahan pada kondisi optimum menunjukan kadar C-Organik memenuhi jumlah minimal yaitu 15 %. Dalam pemanfaatannya sebagai pembenah tanah, adanya ketersediaan jumlah C-Organik yang banyak menjadi penting. Menurut Manahan (2000), karbon berperan sebagai bahan mensintesa sel dan sumber energi bagi organisme heterotrofik. Namun perbandingan karbon terhadap unsur lainnya tetap harus dalam proporsi yang seimbang. Unsur lain yang penting di samping karbon ialah nitrogen yang juga berperan sebagai bahan pembuat organ sel. Karena itulah rasio C/N tetap harus dipenuhi, dalam hal ini sebesar 15-25. Begitu juga dengan parameter pH yang telah dibahas sebelumnya dimana nilai pH produk hasil olahan memenuhi masih syarat. Nilai ini diharapkan dapat membuat tanah menjadi habitat yang ideal bagi mikroorganisme tanah nantinya.

Kehadiran bahan ikutan seperti plastik, kaca, kerikil akan menganggu manfaat hasil olahan sebagai pembenah tanah ataupun pupuk organik karena materi tersebut tidak biodegradable. Hasil pengujian menunjukan tidak ditemukannya benda tersebut. Kadar air hasil olahan pada akhir studi terukur sebesar lebih dari 10%, namun masih sedkit dibawah syarat yaitu sebesar 15-25%. Hal ini terjadi sebagai akibat dari proses penyimpanan sampel pada saat analisis laboratorium. Hasil pemantauan selama penelitian dilakukan, kadar air dapat terjaga dalam kisaran 14-27%. Demikian halnya dengan konsentrasi total logam berat yang terkandung di dalam produk hasil olahan terukur jauh di bawah syarat maksimal. Sehingga, penggunaan produk pengkomposan ini sebagai pembenah tanah ataupun pupuk organik nantinya tidak membahayakan bagi kesehatan mahluk hidup.

Kehadiran unsur hara makro dan mikro sangat penting untuk dipenuhi apabila akan digunakan sebagai pupuk organik. Unsur hara makro diuji adalah nutrien primer yaitu unsur N, P, dan K. Hasil pengujian menunjukan kandungan unsur hara makro masih kurang memenuhi syarat minimal yaitu sebesar 4%. Sehingga, apabila akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik, maka diperlukan penambahan unsur N, P dan K. Sedangkan untuk unsur hara

mikro yang kehadirannya tidak kalah penting untuk dipenuhi walaupun hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit (Lahuddin, 2007). Pengujian yang dilakukan pada unsur Fe, Mn, Zn, Cu, dan Mo, menunjukan kehadiran unsur-unsur ini dalam jumlah yang memenuhi syarat maksimal.

Kehadiran mikroba kontaminan yang terkandung di dalam hasil olahan menunjukan jumlah yang masih memenuhi syarat yang ditetapkan sebagai pembenah tanah ataupun pupuk organik. Mikroba tersebut adalah bakteri E Coli yang kerap menjadi bakteri indikator pencemaran dari feses, yang menjadi petunjuk keberadaan mikroba enterik patogen. Selain E Coli, hasil uji bakteri Salmonella juga memenuhi syarat.

Kehadiran unsur lainnya yang dipersyaratkan adalah Na dan Cl dimana dalam studi ini juga terukur dalam konsentrasi yang masih memenuhi syarat. Kandungan Na dan Cl relatif tinggi dalam biosludge hasil olahan karena berasal dari pengolahan produced water yang mengandung Na dan Cl cukup tinggi. Kedua unsur tersebut diserap oleh tanaman dalam bentuk ion dari larutan yang ada dalam tanah. Unsur Na dan Cl berfungsi untuk mikroorganisme tanah dan tanaman dalam mempertahankan potensial osmotik, pengaktifan enzim, membantu keseimbangan anion, menjaga permeabilitas membran dan potensial muatan listrik. Begitu juga untuk unsur La dan Ce nilainya telah memenuhi syarat yang ditetapkan.

Uji Efektifitas Biosludge Hasil Olahan

Berdasarkan hasil keseluruhan pengamatan, terdapat perbedaan pengaruh pemberian media tanam ke masing masing jenis tanaman. Tanaman pakchoy sangat efektif ketika ditumbuhkan pada media pupuk organik 30%, sedangkan tanaman rumput gajah efektif pada media pupuk organik 50%. Hal ini menunjukkan perbedaan kemampuan penyerapan nutrisi pada masing tanaman. Perbedaan konsentrasi pupuk organik yang berasal dari biosludge hasil olahan mengakibatkan media tanam berbeda strukturnya dan hal inilah yang membuat perbedaan kemampuan penyerapan nutrisi oleh tanaman.

Biomasa

Biomasa tanaman merupakan ukuran yang paling sering digunakan untuk menggambarkan dan mempelajari pertumbuhan tanaman, karena relatif mudah diukur dan merupakan gambaran semua peristiwa yang dialami tanaman untuk mendapatkan penampilan keseluruhan pertumbuhan tanaman atau suatu organ tertentu (Sitompul dan Guritno, 1995).

Tabel 4. Berat Basah Panen

DosisPakchoyRumput Gajah
0%0,615,5
10%51,958,3
20%76,069,5
30%94,4134,8
40%86,8147,8
50%14,1198,2

Berdasarkan data biomasa yang dihasilkan terlihat memberikan hasil konsisten yaitu pemupukan untuk pakchoy efektif dengan dosis 30% biosludge hasil olahan menghasilkan berat basah hasil panen sebesar 94,4 gr. Sedangkan pada tanaman rumput gajah, efektif pada dosis 50 % dengan berat basah hasil panen seberat 198,2 gr. Berat biomasa terkecil yang dIhasilkan oleh tanaman terjadi pada tanaman dengan media tanam yang diberikan dosis 0% (kontrol). Hal ini menunjukan bahwa penambahan pupuk organik hasil olahan biosludge dengan teknik aerated static biopile memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman.

Tabel 5 menunjukan besarnya serapan logam berat pada tanaman uji dengan menggunakan media tanam pada pakchoy dan rumput gajah yang mengandung masing-masing 30% dan 50% biosludge hasil olahan sebagai pengganti pupuk organik. Kandungan logam berat dalam tanaman uji secara keseluruhan masih berada dalam batas yang diperbolehkan. Tidak terlihat adanya serapan logam berat yang berlebihan pada tanaman uji. Hal ini menunjukan bahwa kandungan logam berat dalam media tanam maupun biosludge hasil olahan diserap oleh tanaman uji masih dalam batas-batas normal.

Tabel 5. Serapan Logam & Logam Berat pada Tanaman (PC:Pakchoy & RG:Rumput Gajah)

SampelPC 30%RG 50%Batas Normal*)Batas Kritis*)
Agppm< 0,01< 0,010,1 - 0,81 - 4
Hgppm< 0,01< 0,010,005 - 0,171 - 8
Pbppm0.890,990,2 - 20-
Cdppm0.250,120,1 - 2,44 - 200
Coppm1,050,470,02 - 14 - 40
Crppm13,9818,830,03 - 142 - 18
Cuppm9,7615,665 - 205 - 64
Mnppm4,134,1320 - 1000100 - 7000
Nippm4,485,030,02 - 58 - 220
SampelPC 30%RG 50%Batas Normal*)Batas Kritis*)
Znppm164,1790,231 - 400100 - 900
Bppm16,1361,29--
Feppm502.04387,94--
K%3,542,88--
Ca%3,410,58--
Mg%2,020,84--
Na%1,040,06--

*)Sumber : Balai Penelitian Tanah (BPT), 2009

Kandungan logam berat pada tanah residu, yaitu media tanam yang sudah ditambahkan biosludge hasil olahan dimana tanaman yang ditumbuhkan sudah dipanen, mengandung logam berat yang sangat rendah apabila dibandingkan dengan batas normal maupun batas kritis yang diperbolehkan pada media tanam. Tabel 6 memperlihatkan besarnya kandungan logam berat pada tanah residu yang sudah ditanami pakchoy dan rumput gajah pada dosis biosludge hasil olahan masing-masing sebesar 30% dan 50%.

Tabel 6. Kandungan Logam dalam Tanah (PC:Pakchoy & RG:Rumput Gajah)

Unsur (ppm)Tanah PCTanah RGBatas Normal*)Batas Kritis*)
Cd<0,01<0,020,01 - 2,03 - 8
Pb18,8114,52 - 300100 - 400
As--0,1 - 4020 - 50
Hg0,020,020,01 - 0,50,3 - 5
Cr22,3721,445 - 150075 - 100
Ni27,1932,692 - 750100
Ag<0,01<0,010,01 - 82
Cu1,461,312 - 25060 - 125
Co0,120,080,5 - 6525 - 50
Zn0,220,531 - 90070 - 400
Fe9,4712,24--
K141,4386,91--
Ca764,321158,41--
Unsur (ppm)Tanah PCTanah RGBatas Normal*)Batas Kritis*)
Mg481,28312,36--
k-potensial30,1522,19--

*)Sumber : Balai Penelitian Tanah (BPT), 2009

Uji Toksisitas

Hasil pengamatan LD50 menunjukkan bahwa kematian tidak ditemukan pada setiap dosis dari 1 sampai 14 hari pengamatan, baik itu mencit jantan maupun betina. Jika terdapat kematian pada tes toksisitas akut, maka data kematian tersebut dihitung dengan menggunakan analisis probit; sebuah program computer yang disebut MICRO-PROBIT untuk menentukan besarnya nilai LD50 dari biosludge hasil olahan ini. Berat badan mencit secara umum mengalami kenaikan setiap hari selama 14 hari pengamatan. Sehingga, berdasarkan hasil uji toksisitas LD50 14 hari pada mencit (Mus musculus), dapat disimpulkan bahwa bahan uji "Hasil Olahan Biosludge" dapat diklasifikasikan sebagai "Bahan Tidak Beracun", berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 85 tahun 1999 jo 18 tahun 1999.

KESIMPULAN

Kualitas biosludge hasil olahan sudah setara dengan pupuk organik atau minimal dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Permentan No.70 Tahun 2011.Uji efektifitas pemanfaatan biosludge hasil olahan tersebut menunjukan bahwa hasil olahan ini memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan tanaman uji dan menunjukan pengaruh yang lebih baik apabila dibandingkan dengan media tanam kontrol (tidak ada penambahan biosludge hasil olahan).Uji TCLP dan Toksisitas terhadap biosludge hasil olahan menunjukan bahwa materi ini tidak berbahaya dan tidak memberikan dampak negatif yang berarti terhadap lingkungan.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

0.00
FWCIfield-weighted
39th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Semantic Profile AI-classified research signals

level 0

Institution Network

References

  1. Bailey, R. T., Abedalrazq Khalil, and Vansa Chatikavanij, 2014. Estimating Current and Future Groundwater Resources of the Maldives. Journal of the American Water Resources Association (JAWRA) 1-11. DOI: 10. 1111/jawr.12236
  2. Bailey, R.T., J.W. Jenson, and A.E. Olsen, 2009. Numerical Modeling of Atoll Island Hydrogeology. Ground Water 47:184-196.
  3. Falkland, C.A. 1991. Hydrology and Water Resources of Small Island: Practical Guide. Paris: UNESCO
  4. Ggweeather. 2018. El Nino and La Nina Years and Intensity Based on Oceanic Nino Index (ONI). Diakses dari: http://ggweather.com/enso/oni.htm
  5. Hartanto P dan Saifudin. 2005. Neraca Air Pulau Bandanaira Untuk Pengembangan Turisme. Pusat Penelitian Geoteknologi. LIPI
  6. Holding Shanon, Allen Diana M. 2015. Risk to Water Security for Small Islands: an Assessment Framework and Aplication. Reg Environ Change. 16:827-839
  7. NOAA (National Centers for Environmental Information). 2013. State of the Climate: Global Climate Report for Annual 2012. https://www.ncdc.noaa.gov/sotc/global/201213.
  8. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia no. 17 tahun 2008. Tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Diakses dari: http://www.ppk-kp3k.kkp.go.id/ver3/media/download/RE_ peraturan-menteri-kelautan-dan-perikanan-republik-indonesia-nomor-per-17-men-2008_20141008122744.pdf
  9. PERMEN Kesehatan no. 492 tahun 2010. Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Diakses dari: http://jdih.pom.go.id/showpdf.php?u=R9vxhoRBxgsoPFkrhfxbkIzG%2FdAaVxpnu XLllTHo%2Fcg%3D
  10. Prawaka Fanny, Zakaria Ahmad, dan Tugiono Subuh. 2016.Analisis Data Curah Hujan yang Hilang Dengan Menggunakan Metode Normal Ratio, Inversed Square Distance, dan Rata-Rata Aljabar (Studi Kasus Curah Hujan Beberapa Stasiun Hujan Daerah Bandar Lampung) JRSDD, Edisi September 2016, Vol. 4, No. 3, Hal:397 - 406 (ISSN:2303-0011)
  11. Pure Aqua. 2016. Industrial Sea Water RO Systems. Diakses dari: https://www.pureaqua.com/content/pdf/industrial-seawater-reverse-osmosis - desalination-systems.pdf
  12. Rahmayanti, A. E., & Soewondo, P. (2015). PENYEDIAAN AIR MINUM DI DAERAH PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG MELALUI RAINWATER HARVESTING. Jurnal Teknik Lingkungan, 21(2), 115-126.
  13. Steenhuis T.S., Molen W.H.Van Der. 1986 The Thornthwaite-Mather procedure as a simple engineering method to predict rechargeJournal of Hydrology. Volume 84, Issues 3-4, 30 May 1986, Pages 221-229
  14. Tatas, Agung Budipriyantoa, Mohamad Khoiria , Wien Lestari , Askur Rahman. 2015. Study on water balance in Poteran - a small island in East Java, Indonesia.
  15. Thornthwaite C. W.. 1948. An Approach toward a Rational Classification of Climate. Geographical Review, Vol. 38, No. 1. pp. 55-94.
  16. Todd, D.K. (1980). Groundwater Hydrology, Second Edition. Wiley. New York
  17. Waterboard. 2012. The Clean Water Team Guidance Compendium for Watershed Monitoring and Assessment State Water Resources Control Board. Diakses dari: https://www.waterboards.ca.gov/water_issues/programs/swamp/docs