PENDAHULUAN
Kenaikan pendapatan menyebabkan pola hidup komsumtif sebanding dengan peningkatan produksi sampah. Keterbatasan pengelolaan mengakibatkan banyak praktek membakar sampah yang akan menghasilkan zat-zat pencemar yang berbahaya (Soemarwoto, 2001). Karakteristik dan timbulan sampah suatu Negara merupakan fungsi dari standar hidup di wilayah tersebut (Sudibyo dkk, 2016). Beberapa unsur yang mempengaruhi suatu sistem pengelolaan sampah yaitu: timbulan sampah, pemisahan sampah, pengumpulan sampah, pengolahan dan disposal, serta upaya recycle (Ikhlayael, M. 2018). Studi yang dilakukan oleh Guerrero dkk., (2012) menyatakan bahwa sistem pengelolaan sampah yang efektif tidak hanya bertumpu pada solusi pengolahan teknologi namun juga dari sisi lingkungan, sosial budaya, hukum, kelembagaan dan keterkaitan ekonomi yang harus ditingkatkan secara bersamaan. Telah dikenal juga sistem pengelolaan persampahan yang bersifat parsial, yaitu pemerintah sebagai sektor formal dan pemulung sampah sebagai sektor informal (Febrino, A. & Rahardyan, B, 2015). Akan tetapi, masyarakat juga memegang peran penting dalam upaya pengelolaan persampahan. Oleh karena itu peran aktif masyarakat bersama dengan pemerintah akan sangat menunjang keberhasilan program yang diterapkan (Brigita - Raharddyan, 2013). Berbagai penelitian tentang pengelolaan sampah bersepakat bahwa terdapat beberapa stakeholder penting yang berpengaruh terhadap keefektifan pengelolaan
sampah yaitu pemerintah daerah (Shekdar, 2009), pengepul, dan rumah tangga (Sujauddin - Huda, 2008). Kolaborasi aktif dari semua pemangku kepentingan sangat penting untuk meningkatkan pengelolaan sampah (Sukholtman dkk., 2017). Telah banyak penelitian tentang berbagai teknik memilih strategi pengolahan sampah dengan membandingkan skenario berdasarkan geografi, keseimbangan massa/energi, biaya dan manfaat sosioekonomi, dampak lingkungan. Namun dari setiap keputusan yang diambil sering tidak berjalan optimal karena tidak dilengkapi dengan kerangka kerja yang jelas. Sehingga perlu adanya kepastian keputusan serta framework yang jelas yang dilaksanakan oleh stakeholders terutama masyarakat dengan pemerintah (Soltani dkk., 2017).
Diantara rekomendasi strategi yang diatur dalam UU 18/2008 untuk menerapkan sistem pengelolaan sampah yang baik adalah upaya 3R. Upaya pengurangan di hulu lebih difokuskan melalui kegiatan pengurangan sampah. Budaya sosial di Indonesia penyebab sulitnya melakukan pengurangan limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga mereka. Jika pengurangan pada sumbernya berjalan dengan baik, maka beban penanganan di tahap selanjutnya lebih minimal (Sudibyo-Surya P., 2017). Upaya 3R terbukti efektif diterapkan di negara maju untuk mengurangi beban sampah yang harus dimobilisasi. Berdasarkan pengamatan di USA, rata-rata upaya pengomposan yang dilakukan sebuah keluarga dapat mengurangi sampah organik hingga 50 %. Tantangan untuk bisa merealisasikan kondisi ini adalah bagaimana memaksa masyarakat agar ingin mengurangi limbah organik mereka dengan melakukan pengomposan sendiri (Sudibyo- Surya P. 2017).
Kawasan Jatinangor sebagai obyek penelitian ini merupakan kawasan strategis nasional (KSN) yang berada di daerah cekungan Bandung yang dikonsentrasikan sebagai sentral kawasan pendidikan tinggi dan perumahan. Terdapat 4 perguruan tinggi yang berdiri sejak 1982 (ITB, Unpad, IPDN, Ikopin). Sementara pada bagian Selatan dipadati oleh industri berskala nasional seperti PT. Kahatex. Data dari kecamatan Jatinangor menyebutkankondisi diatas mengakibatkan tambahan populasi di Jatinangor mencapai 50 ribu jiwa. Fenomena tersebut akan mengakibatkan berdatangannya para investor yang selain merubah tata guna lahan juga menjadi sumber terbesar penghasil sampah rumah tangga. Sumber, bentuk jenis dan komposisi sampah sangat dipengaruhi oleh budaya dan kondisi alam dari suatu daerah (Widyarsana, I.M.W, & Zafira, A.D, 2015). Karakteristik pendatang yang umumnya berasal dari daerah urban ditambah dengan terbukanya akses property yang diikuti dengan tingkat konsumsi yang tinggi akan berakibat meningkatnya produktivitas sampah yang dibarengi dengan berubahnya komposisi dan karakteristik sampah. Dengan keterbatasan pengelolaan yang ada, akibatnya banyak praktek membakar sampah yang telah
membudaya di masyarakat Jatinangor. Anggaran serta partisipasi masyarakat yang rendah ditinjau dari ketidaktersediaan lahan dan kesadaran untuk membangun TPS yang memadai menjadi kendala utama pengelola sampah Jatinangor. Untuk itu diperlukan studi khusus untuk mengukur tingkat permasalahan penanganan sampah beserta faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat di Jatinangor.
METODOLOGI
Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Metode deskriptif adalah metode pencarian fakta melalui interpretasi yang tepat (Whitney, 1960). Penelitian terhadap suatu fenomena ini umumnya mengacu kepada standar atau suatu norma tertentu sehingga adalakalanya metode ini disebut dengan survey normative. Pedoman normatif yang dijadikan acuan pada riset ini adalah Pemda No. 2 Kab. Sumedang Tahun 2014 tentang Tata Cara Penanganan Sampah RT dan Sejenis RT.
Pada pelaksanaannya penelitian dilakukan kepada 3 kawasan yaitu Hegarmanah, Cintamulya, dan Jatiroke. Untuk data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner untuk memetakan beberapa aspek tinjauan. Penentuan sampel mengacu Persamaan 1.
\[n = \frac{N}{1 + Ne^2}\] (Persamaan 1)
Kebutuhan jumlah responden sebanyak 100 orang. Sebelum menyebar kuesioner akan dilakukan uji coba dahulu sebelum disebar ke sampel, untuk mengukur reliabilitas kuesioner. Kemudian untuk data kualitatif pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Metode snowball digunakan dalam wawancara pada penelitian ini.
Pada penelitian ini ditentukan beberapa variabel utama untuk objek analisis sebagai dasar pengambilan simpulan. Variabel-variabel tersebut adalah sebagaimana pada Tabel 1.
Variabel SubAspek Variabel SubAspek Variabel SubAspek A. Keadaan dan Persepsi Masyarakat Pengurangan Sampah B. Prasarana Sarana Punya wadah sampah D. Peran Pemerintah Ada akses penyuluhan Mengetahui Pemilahan Wadah memadai Ada bantuan Melakukan pemilahan Punya pengolahan sampah Ada pengawasan Mengetahui 3R Ada pengumpulan Akses pelatihan 3R Kesadaran pribadi (memilah) Rutin pengumpulan Respon aktif pemerintah Memamnfaatkan pengepul Tersedia TPS Pemberian penghargaan Melakukan pengomposan Ada teknologi di TPS E. Kelembagaan Ada lembaga sampah Tidak Membakar sampah Kemudahan membuang ke TPS Keaktifan lembaga Tidak Membuang ke sungai/kebun Ada lokasi menimbun SDM memadai
Tabel 1. Variabel variabel penelitian
| Variabel | SubAspek | Variabel | SubAspek | Variabel | SubAspek |
|---|---|---|---|---|---|
| Mengumpulkan ke TPS | Ada pengangkutan | Kejelasan st. org. dan arahan | |||
| Mendapatkan penyuluhan | Mendapat penyuluhan teknologi | Pembentukan mel musyawarah | |||
| Paham pengelolaan yang baik | C. | Persampahan butuh biaya | Kesesuaian kerja dg aturan | ||
| Mengetahui peraturan | Pembiayaan | Tertib bayar retribusi | Keikutsertaan monitoring | ||
| Menaati peraturan | Penarikan lancar | Puas dengan lembaga | |||
| Mengetahui dampak buruk | Ada subsidi silang | Keterlibatan dalam rencana dan | |||
| eksekusi | |||||
| Keterlibatan aktif warga | Tarif sesuai layanan | Adanya pertemuan rutin | |||
| G. Karakteristik Masyarakat | Tarif terjangkau | F. Pereferensi Masyarakat (20 subaspek) | |||
| Tersedia bank sampah/loak |
Selanjutnya untuk menganalisis data terkumpul dilakukan cara sebagai berikut:
1. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan terhadap setiap variabel yang diteliti dan dinyatakan dalam sebaran frekuensi dengan kriteria penilaian sebagai berikut:
\[Skor = (\%Baik \times Fb) + (\%Ragu \times Fr) + (\%Buruk \times Fbu)\] (Persamaan 2)
Dengan: Fb = 1; Fr= 0; Fbu= -1.
Pengklasifikasian nilai mengacu kepada kriteria berikut:
\[\leq 0\] = Buruk \(0,5-1\) = Baik, pertahankan \(0 < \text{Skor} \leq 0,5\) = Kurang baik, perlu penanganan
2. Analisis Bivariat
Analisis penilaian hubungan antara dua variabel yang diteliti. Analisis ini menggunakan metode tabulasi silang (crosstabs) yang selanjutnya dilakukan analisis Chi-Kuadrat (X2 ). Analisis crosstabs digunakan digunakan untuk menilai seberapa besar derajatketerhubungan antara dua variabel. Pada penelitian ini variabel karakteristik masyarakat sebagai variabel faktor dan pereferensi masyarakat sebagai variabel yang dipengaruhi. Perhitungan mengacu kepada persamaan 4:
\[\chi^2 = \sum \frac{(fo - fe)^2}{fe}\] (Persamaan 3)
Dasar pengambilan keputusan untuk metode Chi-Square ini adalah
- Jika p-value < α, maka Ho diterima, tidak ada hubungan antar variabel.
- Jika p-value > α, maka Ho ditolak, ada hubungan antar variabel.
3. Analisis Faktor
Analisis ini berguna untuk menilai dan menentukan faktor apa yang paling dominan
diantara subvariabel-subvariabel tingkat penanganan sampah yang telah dijustifikasi tingkat penanganannya pad analisis sebelumnya. Analisis dimulai dengan uji kelayakan melalui 2 uji yaitu Uji Barlett dengan nilai kelayakan p value (sig) < 0,05 dan nilai Kaiser Meyer Olkin (KMO) dengan nilai kelayakan > 0,7; dan Uji MSA (Measure of Sampling Adequety) dengan nilai kelayakan > 0,5. Selanjutnya, analisis MSA dilakukan untuk mengukur homogenitas antar variabel. Nilai MSA akan muncul pada masing-masing sub variabel, dimana pada subvariabel yang bernilai < 0,5 akan tereliminasi dan tidak dapat dilakukan analisis pembentukan komponen matriks. Analisis selanjutnya ialah proses ekstraksi (factoring) dengan metode PCA (Principal Component Analysis) yaitu untuk memisahkan variabelvariabel yang memenuhi korelasi dari nilai MSA sebelumnya (>0,5). Nilai ekstraksi merupakan nilai subvariabel terhadap faktor yang terbentuk pada variabel A. Pada variabel A terdapat 4 eigenvalue bernilai >1 yang selanjutnya dijustifikasi sebagai jumlah komponen Setelah itu dilakukan rotasi komponen dan menghasilkan nilai RCM pada masing-masing subvariabel.
4. Analisis Klaster
Pada analisis klaster dilakukan terhadap pengelompokan variabel preferensi masyarakat ke dalam 2 klaster. Metode yang digunakan adalah K-Means Cluster. K-Means adalah salah satu metode non hierarki dimana proses clustering berdasarkan jarak terdekat dengan titik pusat yang ditentukan melalui iterasi. Salah satu jarak yang sering digunakan adalah Euclidean. Operasi penentuan klaster menggunakan SPSS. Input data adalah respon dari 19 subvariabel preferensi masyarakat dari 123 responden. Kemudian ditentukan pengklasifikasian menggunakan metode K-Means sehingga diperoleh output data berupa jenis klaster masing-masing responden, nilai centroid akhir, dan jumlah populasi dari setiap klaster.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil responden yang dominan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Karakteristik responden
| Karakteristik Responden | Dominasi | Persentase (per 123 |
|---|---|---|
| responden) | ||
| Umur | 20-30 thn | 34,96 |
| Pendidikan | Tamat SMA | 39,02 |
| Pekerjaan | IRT dan Mahasiswa | 57,72 |
| Pendapatan | Rp 1-5 jt - 2 jt | 29,27 |
Menurut umur responden terbanyak pada rentang 20-30 tahun sebesar 39,46 %, menurut pendidikan sebanyak 39,02 % tamatan SMA, menurut pekerjaan adalah IRT dan Mahasiswa sebesar 57.72 %, dan menurut pendapatan sebesar 29,77 % pada rentang Rp 1-5 jt - 2 jt.
Analisis skoring dan faktor dilakukan terhadap 5 variabel penelitian yaitu Keadaan Mayarakat dalam Menangani Sampah (16 subvariabel), Sarana dan Prasarana (11 subvariabel), Pembiayaan Masyarakat (7 subvariabel), Peran Pemerintah (6 subvariabel), dan Kelembagaan (10 subvariabel). Acuan subvariabel tersebut mengacu kepada keidealan pengelolaan sampah pada Perda No.2 Kab. Sumedang tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah sebagai indikator kebenaran respon. Untuk hasil skoring keadaan masyarakat di 3 kawasan studi di Jatinangor dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Skoring akhir kelompok variabel tingkat penanganan sampah
| No | Variabel | Respon (%) | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hegarmanah | Skor | Cintamulya | Skor | Jatiroke | Skor | ||||||||
| BU | R | BA | BU | R | BA | BU | R | BA | |||||
| Tingkat Penanganan Sampah | |||||||||||||
| A | Keadaan Penanganan Sampah | 21,7 | 13,4 | 64,6 | 0,4 | 18,8 | 13,3 | 68,0 | 0,5 | 23,9 | 24,6 | 51,5 | 0,3 |
| B | Sarana Prasarana Sampah | 30,4 | 16,9 | 52,6 | 0,2 | 25,1 | 26,9 | 48,0 | 0,23 | 47,6 | 21,4 | 31,0 | -0,17 |
| C | Pembiayaan Masyarakat | 28,1 | 12,7 | 56,5 | 0,3 | 11,4 | 24,6 | 64,0 | 0,53 | 50,8 | 16,4 | 32,8 | -0,18 |
| D | Peran Pemerintah | 45,8 | 22,1 | 32,0 | -0,1 | 35,3 | 32,7 | 32,2 | -0,03 | 50,0 | 26,0 | 24,0 | -0,26 |
| E | Kelembagaan | 34,1 | 27,3 | 38,6 | 0,05 | 30,8 | 36,4 | 32,8 | 0,02 | 44,4 | 40,0 | 15,6 | -0,29 |
| Rata-rata | 32.0 | 18,5 | 48,8 | 0,2 | 24,3 | 26,8 | 49,0 | 0,25 | 43,3 | 25,7 | 31,0 | -0,12 | |
| Varian | 79.9 | 38,4 | 176,6 | 0,0 | 90,3 | 78,8 | 282,9 | 0,1 | 124,5 | 77,8 | 177,1 | 0,1 |
Ket: BU (Buruk); R (Ragu; BA (Baik)
Secara keseluruhan tingkat permasalahan sampah di kawasan Hegarmanah memiliki skor rerata 0,2/1,0 dan Cintamulya 0,25/1 yang menandakan keduanya memerlukan perbaikan. Sementara pada Jatiroke -0,12/1 yang mencerminkan buruknya sistem penanganan sampahh di kawasan tersebut dan perlu penanganan. Diantara aspek utama yang menyebabkan ketiga kawasan memiliki masalah sampah adalah Peran Pemerintah, yang mana ketiganya bernilai (-). Adapun pada kawasan Jatiroke peenanganan sampah perlu diperbaiki secara seluruh aspek kecuali aspek keadaan/kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah yang bernilai 0,3/1. Adapun secara keseluruhan bernilai 0,1/1 yang mencerminkan rendahnya tingkat penanganan sampah di wilayah ini.
Selanjutnya penilaian juga dilakukan terhadap tingkat pereferensi masyarakat sebagaimana yang dijelaskan pada Tabel 4 yang selanjutnya digunakan sebagai variabel independen pada anlisa selanjutnya.
Tabel 4. Skoring akhir tingkat preferensi masyarakat
| No | Variabel | Respon (%) | |||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hegarmanah | Skor Cintamulya | Skor | Jatiroke | Skor | |||||||||
| BU | R | BA | BU | R | BA | BU | R | BA | |||||
| F | Preferensi | 11,3 | 15,1 | 73,3 | 0,6 | 3,2 | 15,2 | 81,6 | 0,8 | 14,4 | 18,1 | 67,4 | 0,5 |
| Masyarakat | |||||||||||||
| Varian | 35,1 | 80,8 | 206,2 | 0,04 | 20,0 | 159,8 | 179,3 | 0,02 | 205,9 | 147,8 | 484,8 | 0,12 | |
Skor tingkat preferensi rata-rata yang diukur dari 19 subvariabel preferensi memperlihatkan hasil yang baik (> 0,5) pada ketiga kawasan. Secara rerata keseluruhan tingkat preferensi masyarakat Jatinangor sebesar 0,65/1 yang memberikan predikat "Baik". Hasil ini bertolak belakang dengan tingkat penanganan sampah oleh masyarakat pada ketiga jenis kawasan yang cenderung kurang baik. Sehingga perlu dilakukan analisis lebih lanjut auntuk mengidentifikasi faktor apa yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Untuk mengetahuinya maka akan dilakukan analisis antar variabel melalui tabulasi silang, analisis faktor, dan analisis regresi multilinear.
Tabulasi Silang
Tabulasi silang dilakukan terhadap beberapa subvariabel pada kelompok variabel penanganan sampah oleh masyarakat (A-E) penyusun faktor yang terbukti signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Sebagai contoh pada Gambar 1 menyajikan hubungan antara subvariabel penyusun faktor "Keaktifan Warga dalam 3R" yaitu perilaku masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas TPS (A16) terhadap tingkat preferensi masyarakat

Gambar 1. Cross tabs hubungan antara tingkat preferensi masyarakat terhadap keterlibatan aktif warga dalam 3R (A16)
Masyarakat yang memiliki tingkat pereferensi yang Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa masyarakat yang memiliki tingkat pereferensi yang tinggi cenderung didominasi oleh masyarakat terlibat aktif dalam sosialisasi 3R (56,7%). Sebaliknya masyarakat dengan preferensi rendah didominasi oleh masyarakat yang tidak terlibat aktif dalam sosialisasi 3R (100 %). Hubungan 2 variabel ini menghasilkan p-value = 0.000 (<0,05) dan nilai R= 0,536 (>Rtabel) yang menandakan signifikannya hubungan diantara 2 variabel tersebut. Artinya semakin masyarakat terlibat aktif dalam sosialisasi 3R akan meningkatkan tingkat preferensi masyarakat Jatinangor dalam mengupayakan perbaikan penanganan sampah. Hubungan beberapa parameter yang lain dapat dilihat pada Tabel 5 berikut
Tabel 5. Hasil analisis tabulasi silang subvariabel lainnya
| Variabel | Subvariabel Nama Subvariabel | p-value | Batas | Keterangan | |
|---|---|---|---|---|---|
| Signifikansi | |||||
| Keadaan | A10 | Pemanfaatan Fasilitas TPS | 0,045 | < 0,05 | Signifikan |
| Masyarakat | |||||
| Sarana Prasarana | B5 | Rutinitas pengumpulan | 0,015 | < 0,05 | Signifikan |
| Sampah | B11 | Akses penyuluhan pengolahan | 0,036 | < 0,05 | Signifikan |
| sampah | |||||
| Peran Pemerintah | D5 | Respon aktif pemerintah | 0,045 | < 0,05 | Signifikan |
| Kelembagaan | E9 | Keterlibatan masyarakat | 0,014 | < 0,05 | Signifikan |
Analisis Faktor
Pada analisis ini akan ditentukan faktor apa saja yang paling dominan mempengaruhi kondisi penanganan sampah eksisiting pada setiap variabel pada kelompok variabel penanganan sampah (A-E) yang telah diidentifikasi.
Uji Kelayakan Variabel
Sebagai contoh pada variabel A, nilai KMO 0,782 (>0,7) dan nilai Sig. 0,000 (<0,05) yang menyatakan bahwa wariabel tersebut layak untuk dianalisis faktor lebih lanjut. Dari total 50 subvariabel pada variabel tingkat penanganan sampah terdapat 4 subvariabel yang dieliminasi, yaitu A15 (pengetahuan dampak buruk dalam penanganan sampah), B1 (kepemilikan wadah sampah), B2 (wadah yang memadai), dan C1 (pengetahuan urgensi biaya dalam pengelolaan sampah). 46 variabel lainnya kemudian dihitung nilai MSAnya dan menunjukkan hasil yang seluruhmya bernilai > 0,5 dan layak untuk dianalisis lebih lanjut.
Penentuan Faktor
Penentuan faktor ditentukan berdasarkan batas nilai eigenvalue > 1 untuk setiap variabel. Sebagai contoh hasil penentuan RCM pada variabel A diperlihatkan pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6. Rotated Component Matrix (RCM) Variabel A
| SubVar | Nama Faktor | Komp | onen | % Varians | SubVar | Nama Faktor | K | omponen | 7 | % Varians |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 39 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | |||||
| A10 | Wawasan dan | 0,789 | 28,382 | A6 | Keaktifan warga | 0,81 | 52,071 | |||
| A12 | implementasi 3R | 0,763 | A7 | dalam 3R | 0,764 | |||||
| A4 | CONTRACTOR OF STREET | 0,676 | A16 | 0,576 | ||||||
| A3 | 0,612 | A5 | ||||||||
| A2 | Wawasan | 0.82 | 42,696 | A9 | Komitmen | 0,796 | 60,055 | |||
| A1 | penanganan | 0,698 | A14 | terhadap regulasi | 0,605 | |||||
| A13 | sampah di | 0,693 | A11 | 57 10 10 175-00 | ||||||
| sumber | A8 | Praktek membakar | 0,888 | 66,566 | ||||||
| sampah |
Pada variabel A (keadaan masyarakat) dari 15 subvariabel yang layak dilakukan rotasi matriks menghasilkan 5 komponen dominan, yang selanjutnya disebut sebagai faktor dominan. Dari ke- lima faktor yang terbentuk menghasilkan persentase varians sebesar 66,566 %. Artinya 5 faktor dominan pada variabel A sudah dapat merepresentasikan 15 subaspek pada variabel A ini sebesar 66,5 %. Faktor-faktor yang terbentuk tersebut selanjutnya diduga memiliki hubungan dengan preferensi masyarakat dalam memperbaiki pengelolaan sampah di Jatinangor. Rekapitulasi nilai faktor yang dominan pada variabel lain dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Faktor – faktor teridentifikasi
| Variabel | RCM | % | Nama Faktor | Variabel | RCM | % | Nama Faktor |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| max/kategori | Varians | max/kategori | Varians | ||||
| Keadaan | (A10) 0.789 | 28,382 | Wawasan dan | Pembiayaan | (C2) 0,82 | 56,732 | Kesesuaian dan |
| Masyarakat | implementasi 3R | keberterimaan tarif | |||||
| (A2) 0.82 | 42,696 | Wawasan penanganan | (C7) 0,915 | 74,395 | Aksesibilitas income dari | ||
| sampah di sumber | sampah | ||||||
| (A6) 0.81 | 52,071 | Keaktifan warga dalam | Peran | (D2) 0,915 | 74,035 | ||
| 3R | Pemerintah | Keseriusan dalam pelayanan | |||||
| (A9) 0.796 | 60,055 | Komitmen terhadap | (D5) 0,929 | 86,436 | |||
| regulasi | |||||||
| (A8) 0.888 | 66,566 | Praktek Memabakar | |||||
| Sampah | Keaktifan kpd masyarakat | ||||||
| Sarana Prasarana | (B5) 0,871 | 50,322 | Akses pengumpulan | Kelembagaan | (E3) 0,909 | 66,043 | Keefektifan internal kinerja |
| Sampah | sampah | lembaga | |||||
| (B11) 0,88 | 61,494 | Aksesibilitas teknologi | (E9) 0,907 | 75.979 | Keterlibatan warga dalam | ||
| pengolahan sampah | fungsi lembaga |
Berbeda dengan variabel A, pada variabel B – E hanya terbentuk 2 komponen berdasarkan perhitungan eigenvalue-nya. Persentase varians dari faktor yang terbentuk pada masing-masing variabel menghasilkan nilai >60 %, yang mengindikasikan faktor yang terbentuk cukup mewakili variabel masing-masing untuk dilakukan analisis lebih lanjut. Tiga belas faktor teridentifikasi diatas kemudian digunakan untuk melihat keberadaan hubungan dengan variabel preferensi masyarakat pada analisis selanjutnya.
Hubungan Antara Faktor Teridentifikasi dengan Preferensi Masyarakat
Analisis ini merupakan analisis lanjutan dari analisis faktor untuk menentukan dari 13 faktor yang terbentuk faktor apa saja yang signifikan memberikan pengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat melalui regresi multilinear. Regresi multilinear dilakukan berdasarkan perolehan factor score pada masing-masing faktor terbentuk dari analisis sebelumnya. Sebagai contoh Tabel 8 menyajikan hasil analisis regresi multivariate pada variabel A.
Tabel 8. Hasil analisis regresi multilinear variabel A
| Model | Unstandardized Coefficients | Standardized | t | Sig. | |
|---|---|---|---|---|---|
| Coefficients | |||||
| B | Std. Error | Beta | |||
| (Constant) | ,644 | ,023 | 27,968 | ,000 | |
| Wawasan dan implementasi 3R | ,189 | ,023 | ,552 | 8,166 | ,000 |
| Wawasan penanganan sampah di sumber | -,009 | ,023 | -,025 | -,377 | ,707 |
| Keaktifan warga dalam 3R | ,058 | ,023 | ,170 | 2,517 | ,013 |
| Komitmen terhadap regulasi | -,012 | ,023 | -,036 | -,530 | ,597 |
| Praktek Memabakar Sampah | ,123 | ,023 | ,360 | 5,323 | ,000 |
| a. Dependent Variable: Preferensi |
Terdapat 3 faktor signifikan dari 5 faktor yang teridentifikasi pada variabel A yang signifikan memberikan hubungan terhadap tingkat preferensi masyarakat, yaitu: waawasan dan implementasi 3R, keaktifan warga dalam upaya 3R, praktek membakar sampah oleh warga.
Hubungan tingkat preferensi masyarakat terhadap variabel A (keadaan masyarakat ) dapat disajikan dalam model persamaan berikut (berdasarkan factor score):
() = 0,644 + 0,189( & 3) + 0,058( 3) + 0,123( ℎ)
− 0,09( ℎ ) − 0,12( ℎ )
Adapun faktor signifikan pada variabel lainnya dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Hasil analisis regresi multivariate variabel B – E
| Variabel | Nama Faktor | Std. | Beta | Sig. | Batas | Keterangan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Error | Signifikansi | Hubungan | |||||
| Sarana | Aksesibilitas teknologi pengolahan | 0,095 | 0,03 | 0,278 | 0,002 | < 0,05 | Signifikan |
| Prasarana | sampah | ||||||
| Pembiayaan | Kesesuaian dan keberterimaan tarif | 0,116 | 0,029 | 0,34 | 0,000 | < 0,05 | Signifikan |
| Peran | Keseriusan dalam pelayanan | 0,088 | 0,03 | 0,256 | 0,004 | < 0,05 | Signifikan |
| Pemerintah | |||||||
| Kelembagaan | Keefektifan internal kinerja lembaga | 0,085 | 0,03 | 0,249 | 0,006 | < 0,05 | Signifikan |
Maka berdasarkan tabel 8 dan 9 teridentifikasi terdapat 7 faktor yang signifikan memberikan pengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat dalam perbaikan penanganan sampah.
Analisis Klaster
Analisis klaster dilakukan terhadap masing-masing subvariabel preferensi masyarakat untuk melihat kecenderungan responden yang memiliki preferensi yang rendah dan yang tinggi pada setiap sub preferensi yang ditinjau. Metode pembentukan klaster menggunakan metode K-Means dengan jumlah klaster sebanyak 2 klaster yang kemudian menghasilkan nilai centroid masing- masing klaster pada setiap subvariabel seperti pada Tabel 10.
Tabel 10. Cluster centroid masing-masing klaster
| Sub Preferensi | Clusto | e · | Sub Preferensi | Clus | ster |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 (Rendah) | 2 Tinggi) | 1 (Rendah) | 2 (Tinggi) | ||
| Komitmen upaya pengembangan | ( -0,8 | 0,85 | Kesediaan pengadaan wadah | -0,8 | 0,54 |
| Komitmen pemilahan sampah | -0,53 | 0,9 | Kesediaan mengolah sampah di rumah | -0,53 | 0,81 |
| Komitmen penerapan 3R | 0,4 | 0,82 | Komitmen tertib bayar retribusi | -0,8 | 0,73 |
| Komitmen memberdayakan pengepul | -0,8 | 0,52 | Kesediaan membayar lebih tinggi | -0,8 | 0,48 |
| Kesediaan mengubur sampah | 0,53 | 0,74 | Kesediaan membantu tetangga | -0,8 | 0,54 |
| Komitmen tidak membakar sampah | 0,27 | 0,49 | Kesediaan tarif sesuai timbulan | 0,67 | 0,85 |
| Komitmen pengadaan TPS Komitmen pembiasaan 3R di keluarga | 0,4 0,53 | 0,94 0,92 | Komitmen pelatihan pengolahan | 0,53 | 0,93 |
| Komitmen menjalankan & mengawasi aturan | -0,67 | 0,67 | Kesediaan partisipasi penyuluhan | 0,8 | 0,93 |
| Kesediaan disanksi | 0,53 | 0,74 | Komitmen tanggung jawab bersama pemerintah | 0,8 | 0,93 |
Pada cluster 1 didominasi oleh masyarakat dengan tingkat preferensi rendah, dan cluster 2 berpreferensi tinggi. Pada cluster 1 nilai centroid terendah (-0,8) dihasilkan pada beberapa sub preferensi, yaitu komitmen upaya perbaikan, kesediaan pengadaan wadah sampah yang memadai, komitmen untuk membayar retribusi secara tertib, kesediaan membayar tarif lebih tinggi jika kualitas layanan ditingkatkan, kesediaan membantu pembiayaan tetangga. Sementara pada cluster 2 nilai terendah sebesar 0,48 yaitu pada kesediaan membayar tarif yang lebih tinggi. Faktor-faktor ini kemudian dapat dijadikan sebagai faktor kelemahan internal pada sistem pengelolaan sampah di Jatinangor. Adapun nilai tertinggi pada cluster 1 sebesar 0,8 terjadi pada sub preferensi kesediaan partisipasi pada penyuluhan, dan komitmen tanggung jawab bersama pemerintah dalam mengelola sampah. Sementara pada cluster 2 nilai tertinggi sebesar (0,9-0,94) terjadi pada sub preferensi komitmen pengadaan TPS, pembiasaan keluarga untuk 3R, komitmenmengikuti pelatihan pengolahan sampah, kesediaan partisipasi dalam penyuluhan, dan komitmen tanggung jawab pengelolaan bersama pemerintah. Faktor-faktor ini kemudian dapat dijadikan sebagai faktor
kekuatan internal pada sistem pengelolaan sampah di Jatinangor.
Jumlah masyarakat yang termasuk ke dalam kelompok masyarakat berpreferensi rendah hanya sebanyak 15 orang (12,2 %), sedangkan masyarakat yang memiliki tingkat preferensi tinggi sebanyak 108 orang (87,8 %). Kondisi ini tentu menjadi salah salah satu indikasi potensi besar dari dalam internal masyarakat Jatinangor, untuk mengupayakan perbaikan/pengembangan paenanganan sampah di kawasan mereka. Naamun buruknya penanganan sampah eksisting (skor akhir= 0,1/1) membuat preferensi tersebut kurang dapat diakomodasi secara optimal. Untuk melihat bagaimana karakter responden yang memiliki tingkat preferensi tinggi tersebut maupun yang rendah dijelaskan pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Distribusi responden setiap cluster
| Demo | grafi _ | Cluster | r (%) | Total | Den | nografi _ | Cluste | r (%) | Total |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | (n=123) | 1 | 2 | (n= 123) | ||||
| Rendah | Tinggi | Rendah | Tinggi | ||||||
| (n=15) | (n=108) | (n=15) | (n=108) | ||||||
| Lokasi | Cintamulya | 5,7 | 94,3 | 100 | Tipe | Kantoran | 9 | 91 | 100 |
| pekerjaan | |||||||||
| Hegarmanah | 9,3 | 90,7 | 100 | Rumahan | 7,5 | 92,5 | 100 | ||
| Jatiroke | 23,5 | 76,5 | 100 | Semi Rumahan | 25 | 75 | 100 | ||
| Umur | Dewasa | 11,8 | 88,2 | 100 | Penghasil | Rendah | 9,4 | 90,6 | 100 |
| an | |||||||||
| Lansia | 16,7 | 83,3 | 100 | Sedang | 18.8 | 81.3 | 100 | ||
| Muda | 11,4 | 88,6 | 100 | Tinggi | 0 | 100 | 100 | ||
| Pendidikan | Rendah | 9,1 | 90,9 | 100 | |||||
| Sedang | 7,5 | 92,5 | 100 | ||||||
| Tinggi | 25 | 75 | 100 |
Cluster 2 dengan tingkat preferensi tinggi didominasi oleh masyarakat kawasan Hegarmanah (45,4%) dan Cintamulya (30,6 %); umur dewasa (31-50 tahun) (62 %); berpendidikan sedang lulusan SMP/SMA (68,5 %); tipe pekerjaan yang banyak dilakukan di kantor (53,7 %); dan berpenghasilan sedang (2 juta-3 juta/bulan). Kelompok masyarakat dengan karakter seperti yang disebutkan tersebut menjadi aspek kekuatan internal masyarakat dalam upaya pengembangan/perbaikan penanganan sampah di Jatinangor. Sementara pada cluster 1 dengan tingkat preferensi rendah didominasi oleh masyarakat Jatiroke (53,5 %); berumur dewasa (60 %); berpendidikan tinggi (53,5 %); tipe pekerjaan/rutinitas yang banyak dihabiskan di rumah (60 %); dan berpenghasilan sedang (80 %). Pada kasus ini pendidikan tinggu justru cenderung memiliki preferensi yang rendah (8 dari 15 orang). Jika ditinjau kepada data yang ada populasi masyarakat yang berpreferensi rendah ini didominasi oleh masyarakat Hegarmanah. Diantara subaspek preferensi masyarakat dalam perbaikan penanganan sampah di Jatinangor ada pada 2 upaya, yaitu komitmen untuk membantu menyediakan TPS berupa lahan (termasuk jika keberadaan lahan ada di sekitar permukimannya), serta ketidak siapan mereka untuk melakukan pengolahan sampah secara onsite di masing-masing rumah mereka. Kelompok masyarakat dengan karakter sebagaimana pada cluster 1 ini menjadi aspek kelemahan internal masyarakat dalam upaya pengembangan/perbaikan penanganan sampah di Jatinangor.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat penanganan sampah oleh masyarakat Jatinangor memiliki skor (0,1/1) dengan predikat "Kurang Baik" sehingga perlu penanganan sampah lebih lanjut. Adapun untuk tingkat preferensi masyarakat justru memiliki nilai yang baik sebesar 0,65/1. Berdasarkan perolehan ini didapatkan faktor pada kelompok variabel tingkat penanganan sampah oleh masyarakat terhadap tingkat preferensi masyarakat untuk melakukan perbaikan penanganan sampah di Jatinangor yang menghasilkan 13 faktor dominan dengan 7 faktor yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah Wawasan dan implementasi 3R; Keaktifan warga dalam 3R; Praktek Memabakar Sampah; Aksesibilitas teknologi pengolahan sampah; Kesesuaian dan keberterimaan tarif; Keseriusan dalam pelayanan; Keefektifan internal kinerja lembaga. Disamping itu juga teridentifikasi keadaan preferensi masyarakat yang terbagi ke dalam 2 klaster (rendah dan tinggi). Diketahui bahwa terdapat sekelompok masyarakat yang dominan berpreferensi tinggi dalam mengupayakan perbaiakan penanganan sampah sebesar 87,8 %, sementara sekelompok masyarat yang berpreferensi rendah jauh lebih kecil sebesar 12,2 %. Terdapat beberapa aspek preferensi masyarakat yang perlu ditangani untuk mengoptimalisasi kesiapan dan keberterimaan masyarakat dalam melaksanakan rencana pengembangan yang diusulkan. Faktor kelemahan yang teridentifikasi 2 klaster tersebut adalah kesediaan untuk membayar retribusi sampah jika kualitas pelayanan ditingkatkan.
