PENDAHULUAN
Keuntungan PDAM dipengaruhi oleh unsur pendapatan dan biaya. Pada dasarnya pendapatan perusahaan merupakan faktor yang sangat penting dalam menjaga eksistensi perusahaan, dimana dengan tingkat pendapatan yang semakin meningkat maka stabilitas operasional perusahaan akan terjaga. Salah satu fungsi PDAM adalah sebagaimana sebuah "perusahaan" pada umumnya, yaitu mengusahakan suatu kegiatan yang terorganisasi dengan tujuan mendatangkan keuntungan bagi pemilik perusahaan tersebut (el-Ahmady dan Sembiring, 2014). Kebijakan-kebijakan dalam meningkatkan pendapatan merupakan strategi perusahaan dalam mencapai target keuntungan sehingga perusahaan akan mempunyai kesempatan dalam mengembangkan skala usaha yang dijalankan (Luk, 2004).
Data PDAM Kota Pekalongan menunjukkan bahwa jumlah pelanggan untuk golongan bersubsidi rumah tangga rendah (II.A) mempunyai proporsi yang sangat besar, dimana jumlah pelanggan ini mencapai hampir 80% dari keseluruhan pelanggan. Tingkat subsidi ini harus ditambah lagi dengan pelanggan yang termasuk dalam jenis pelanggan hidran umum dan sosial yang mencapai 1,8%. Dengan demikian subsidi yang harus diberikan oleh jenis pelanggan rumah tangga sedang, rumah tangga mampu, niaga dan industri sebesar 19% (Sutrisno, 2016). Dalam penyediaan air untuk masyarakat berpenghasilan rendah yang membayar air dengan harga sangat murah diperlukan masyarakat yang berpenghasilan tinggi untuk membayar air dengan harga yang lebih tinggi (Chikozho dan Kujinga, 2016). Rumah tangga berpenghasilan tinggi lebih cenderung menggunakan air ledeng, air kemasan, atau kombinasinya dan memiliki penggunaan air yang lebih tinggi daripada masyarakat yang berpenghasilan rendah (Nastiti dkk, 2017)
Cakupan pelayanan PDAM di Kota Pekalongan masih rendah dan belum memenuhi target dari SDGs yaitu angka pencapaian cakupan pelayanan sebesar 80% untuk penduduk perkotaan. Menurut Fernandez dan Notodarmojo (2016), hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya jumlah penduduk yang semakin meningkat yang tidak sebanding dengan sumber air baku yang diolah. Suplai air yang tidak memadai (kualitas, kuantitas, kontinuitas dan keterjangkauan) juga dapat menjadi salah satu alasan masyarakat enggan untuk menjadi pelanggan PDAM (Nastiti, Muntalif, dkk., 2017). Pada tahun 2019 PDAM Pekalongan akan mendapat tambahan suplai air bersih sebanyak 150 l/d dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Pekalongan, Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan (Petanglong). Dengan adanya tambahan suplai suplai air bersih dari SPAM regional Petanglong, PDAM Kota Pekalongan menargetkan tambahan pelanggan sebanyak 8000 pelanggan. Dalam tujuannya melakukan pengembangan cakupan pelayanan, diperlukan kebijakan dan strategi yang tepat dari PDAM agar tetap dapat memenuhi fungsi-fungsinya yaitu selain untuk meningkatkan skala pelayanan sebagai perwujudan dimensi tanggung jawab sosial perusahaan, perusahaan juga perlu meningkatkan pendapatan guna menjaga eksistensi perusahaan seiring dengan makin meningkatnya biaya beban operasional produksi air minum (Lee dan Schwab, 2005).
Bertitik tolak dari uraian diatas, maka penulis bermaksud untuk mengkaji strategi pengembangan kapasitas distribusi air bersih guna meningkatkan pendapatan PDAM Kota Pekalongan dengan memilih sasaran pengembangan di wilayah yang masyarakatnya mempunyai daya beli tinggi. Pola pengembangan ini dimaksudkan untuk minimalisasi subsidi sehingga pendapatan perusahaan semakin meningkat dan mampu menutup biaya operasional serta memperoleh profit margin yang layak guna merealisir fungsi tanggung jawab sosial perusahaan (Luk L, 2016).
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di 10 kelurahan yang terbagi menjadi 7 kelurahan di Kecamatan Pekalongan Barat dan 3 kelurahan di Kecamatan Pekalongan Selatan. Metodologi dalam penelitian ini secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengumpulan data primer yang dilakukan dengan melakukan survey terhadap 285 responden non pelanggan serta data sekunder dari PDAM, Bappeda, Kantor kecamatan serta literatur terkait.
- 2. Menghitung proyeksi jumlah penduduk hingga 20 tahun dari data jumlah penduduk menggunakan metode Aritmatik, Geometrik dan Least Square.
- 3. Analisis besarnya kebutuhan air minum dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk
- 4. Melakukan penilaian dan pemilihan wilayah sasaran optimasi berdasarkan olahan data hasil survey dan parameter BEP (Break Event Point).
- 5. Analisis optimasi untuk mengetahui tingkat kebutuhan air yang diperlukan untuk pengembangan di wilayah potensial
- 6. Melakukan analisa profit margin
- 7. Perhitungan anggaran biaya pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah potensial
- 8. Melakukan analisis ekonomi untuk mengetahui kelayakan investasi menggunakan parameter BCR, NPV, IRR dan analisis sensitivitas

Gambar 1. Diagram alir penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil kuesioner
Dari hasil kuesioner diketahui sekitar 38,25% responden menyatakan berminat untuk menjadi pelanggan PDAM sedangkan 61,75% menyatakan tidak berminat seperti terlihat pada Gambar 2 berikut:

Gambar 2. Minat masyarakat untuk menjadi pelanggan PDAM
Proyeksi jumlah penduduk
Data jumlah penduduk di di 10 kelurahan dilakukan dengan perbandingan tiga proyeksi (Aritmatika, Geometrik dan Least square) yang menunjukan metote Least Square merupakan metode terpilih dengan nilai sd yang paling kecil diantara metode lainnya. Tabel 1 berikut menunjukan hasil proyeksi penduduk menggunakan metode Least Square.
Kelurahan 2017 2018 2019 2021 2023 2025 2027 2037 Medono 14064 14155 14247 14430 14613 14796 14979 15894 Podosugih 10202 10332 10463 10724 10985 11247 11508 12814 Tirto 11198 11461 11725 12252 12780 13307 13834 16471 Pringrejo 16413 16592 16771 17129 17487 17845 18203 19994 Sapuro kebulen 12603 12741 12878 13154 13429 13704 13979 15354 Bendan kergon 14353 14353 14352 14352 14352 14351 14351 14349 Pasirkraton kramat 16149 16246 16342 16536 16729 16922 17115 18081 Jenggot 13225 13485 13746 14266 14786 15307 15827 18429 Banyurip 10556 10600 10644 10733 10821 10909 10997 11438 Buaran kradena 11431 11531 11631 11831 12032 12232 12432 13433
Tabel 1. Proyeksi penduduk 2017- 2037 (jiwa)
Kebutuhan air
Dalam menghitung kebutuhan air beberapa faktor yang menentukan diantaranya:
- Kebutuhan air domestik
- Kebutuhan air non domestik
- Kehilangan air
- Kebutuhan air maksimum
Tabel 2 berikut menunjukkan kebutuhan air di wilayah pengembangan hingga tahun 2037 adalah 310,45 l/d.
Tabel 2. Rekapitulasi kebutuhan air di wilayah perencanaan
| Uraian | 2017 | 2018 | 2019 | 2021 | 2023 | 2025 | 2027 | 2037 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kebutuhan domestik (l/d) | 82,61 | 91,54 | 101,38 | 121,56 | 179,07 | 195,30 | 198,92 | 217,02 |
| Kebutuhan non domestik (l/d) | 6,91 | 7,66 | 8,49 | 10,17 | 14,99 | 16,35 | 16,65 | 18,16 |
| Kebutuhan air total (l/d) | 89,52 | 99,21 | 109,87 | 131,73 | 194,05 | 211,65 | 215,57 | 235,19 |
| Kehilangan air (l/d) | 34,02 | 34,72 | 32,96 | 26,35 | 38,81 | 42,33 | 43,11 | 47,04 |
| Kebutuhan air rata-rata (l/d) | 123,54 | 133,93 | 142,83 | 158,08 | 232,86 | 253,98 | 258,69 | 282,23 |
| Kebutuhan air maksimum | 135,89 | 147,32 | 157,11 | 173,89 | 256,15 | 279,38 | 284,56 | 310,45 |
| (fmax=1,1)(l/d) |
Penilaian dan pemilihan wilayah potensial
Metode penilaian dilakukan berdasarkan biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk pemasangan pipa di suatu wilayah pengembangan dengan potensi pendapatan dari penjualan air yang akan diperoleh. Target pendapatan didasarkan pada realisasi penjualan air pada tahun 2017 ditambah dengan potensi calon pelanggan berdasarkan hasil survey. Selanjutnya daerah yang memberikan Break Event Point (BEP) lebih cepat dari 8 tahun adalah daerah yang menjadi prioritas. 8 (delapan) tahun adalah asumsi tenor pinjaman untuk skema Perpres 29. Hasil perhitungan BEP untuk setiap wilayah pengembangan disajikan pada Tabel 3 berikut ini:
Tabel 3. Penilaian wilayah pengembangan
| Biaya investasi (Rp) | Pendapatan (Rp) | BEP (tahun) | |
|---|---|---|---|
| Medono | 1.368.576.000 | 1.055.204.508 | 1,3 |
| Podosugih | 6.306.942.000 | 765.945.650 | 8,2 |
| Tirto | 1.113.942.000 | 987.317.225 | 1,1 |
| Pringrejo | 1.113.942.000 | 1.549.107.743 | 0,7 |
| Biaya investasi (Rp) | Pendapatan (Rp) | BEP (tahun) | |
|---|---|---|---|
| Sapurokebulen | 1.368.576.000 | 151.686.467 | 9,0 |
| Bendan kergon | 6.306.942.000 | 892.127.447 | 7,1 |
| Pasirkraton kramat | 5.658.042.000 | 1.466.330.994 | 3,9 |
| Jenggot | 1.693.626.000 | 340.188.150 | 5,0 |
| Banyurip | 1.693.626.000 | 246.867.026 | 6,9 |
| Buarankradenan | 1.693.626.000 | 598.441.158 | 2,8 |
Dari Tabel 3 dapat dikemukakan bahwa Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon memberikan waktu pengembalian modal dibawah 8 tahun sehingga dapat dikatakan wilayah-wilayah tersebut merupakan sasaran optimasi yang yang potensial.
Analisis optimasi
Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kebutuhan kapasitas air non domestik golongan niaga yang diperlukan pada masing-masing wilayah pengembangan. Tabel 4 menunjukan kapasitas tambahan yang diperlukan untuk mengembangkan distribusi pada wilayah berdaya beli tinggi. Dari tabel tersebut dapat dilihat kebutuhan kapasitas yang diperlukan untuk wilayah pengembangan adalah sebesar 2,10 l/d. Berdasarkan rencana pengembangan SPAM PDAM Kota Pekalongan, melalui Program Regional Petanglong, PDAM direncanakan akan mendapatkan tambahan kapasitas produksi 150 l/d dengan komposisi 30 l/d pada tahun 2019, 50 l/d pada tahun 2020, 40 l/d pada tahun 2021 dan 30 l/d pada tahun 2022. Dengan asumsi kapasitas produksi eksisting mengalami penurunan 1% per 5 tahun berdasarkan pemantauan PDAM (2016) maka kapasitas produksi PDAM adalah seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5 berikut ini.
Tabel 4. Kapasitas tambahan yang diperlukan di wilayah optimasi
| Potensi | Rata-rata pemakaian | Total kebutuhan per | |||
|---|---|---|---|---|---|
| pelanggan | tahun | ||||
| golongan N1 | Per bulan | Per tahun | 3 m | l/d | |
| dan N2 (unit) | (m3 ) | (m3 ) | |||
| Medono | 21 | 4536 | 0,14 | ||
| Tirto | 35 | 7560 | 0,24 | ||
| Pringrejo | 52 | 11232 | 0,36 | ||
| Pasirkratonkramat | 41 | 8856 | 0,28 | ||
| Potensi | Rata-rata pemakaian | Total kebutuhan per | |||
|---|---|---|---|---|---|
| pelanggan | tahun | ||||
| golongan N1 | Per bulan | Per tahun | 3 m | l/d | |
| dan N2 (unit) | (m3 ) | (m3 ) | |||
| Buaran kradenan | 55 | 18 | 216 | 11880 | 0,38 |
| Jenggot | 21 | 4536 | 0,14 | ||
| Banyurip | 51 | 11016 | 0,35 | ||
| Bendankergon | 31 | 6696 | 0,21 | ||
| Jumlah | 307 | 66312 | 2,10 | ||
Tabel 5. Kapasitas produksi PDAM Kota Pekalongan 2017-2037 (PDAM Kota Pekalongana , 2017)
| Produksi | 2017 | 2018 | 2019 | 2020 | 2021 | 2022 | 2027 | 2037 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| (l/d) | ||||||||
| Eksisting | 179 | 179 | 179 | 179 | 179 | 177 | 177 | 173 |
| Tambahan | 0 | 0 | 30 | 50 | 40 | 30 | 0 | 0 |
| Jumlah | 179 | 179 | 209 | 259 | 299 | 327 | 327 | 323 |
Dari tabel diatas dapat dilihat pada tahun 2019 total produksi kapasitas produksi PDAM adalah 209 l/d sedangkan kebutuhan air rata-rata berdasarkan rekapitulasi kebutuhan air pada tahun 2019 adalah sebesar 142,83 l/d dengan kebutuhan air maksimum sebesar 157,11 l/d.
Analisis profit margin
Dari perubahan pendapatan setelah pengembangan kapasitas distribusi air bersih, dapat diketahui bahwa pengembangan di Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon dapat meningkatkan pendapatan PDAM Kota Pekalongan sebesar Rp 604.610.849 yang secara rinci diperlihatkan pada Tabel 6 berikut:
Tabel 6. Perbandingan pendapatan sebelum dan sesudah optimasi
| Kelurahan | Sebelum | Sesudah | ||
|---|---|---|---|---|
| Medono | Rp | 1.055.204.508 | Rp | 1.104.642.267 |
| Pringrejo | Rp | 1.549.107.743 | Rp | 1.723.038.672 |
| Tirto | Rp | 987.317.225 | Rp | 1.059.035.986 |
| Kelurahan | Sebelum Sesudah | |||
|---|---|---|---|---|
| Pasirkratonkramat | Rp | 1.466.330.994 | Rp | 1.600.095.429 |
| Buarankradenan | Rp | 598.441.158 | Rp | 671.141.857 |
| Bendankergon | Rp | 892.127.447 | Rp | 951.845.431 |
| Jenggot | Rp | 340.188.150 | Rp | 355.397.575 |
| Banyurip | Rp | 246.867.026 | Rp | 274.997.882 |
| Rp | 7.135.584.250 | Rp | 7.740.195.099 | |
Adanya pengembangan jaringan tentunya berakibat pada kenaikan biaya operasional. Dengan demikian perbandingan tingkat keuntungan setelah pengembangan jaringan kapasitas distribusi adalah seperti disajikan pada Tabel 7 berikut:
Tabel 7. Besaran profit margin sebelum dan setelah optimasi
| Sebelum | Setelah | |||
|---|---|---|---|---|
| Total pendapatan | Rp | 7.135.584.250 | Rp | 7.740.195.099 |
| Total biaya | Rp | 2.337.493.118 | Rp | 2.397.537.662 |
| Laba | Rp | 4.798.091.132 | Rp | 5.342.657.437 |
| Laba setelah pajak | Rp | 3.598.568.349 | Rp | 4.006.993.078 |
| Profit margin | 50,43 % | 51,77 % | ||
Dari tabel diatas diketahui bahwa pengembangan kapasitas distribusi air bersih di Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon dapat meningkatkan profit margin sebesar 1,25%. Nilai peningkatan ini dapat dikatakan kecil. Hal ini disebabkan masih rendahnya minat unit niaga untuk menjadi pelanggan PDAM sehingga walaupun mampu memberikan peningkatan pendapatan bagi PDAM akan tetapi presentase profit marginnya masih kecil.
RAB (Rencana Anggaran Biaya)
Skema sistem jaringan pengembangan pelayanan di wilayah potensial diperlihatkan pada Gambar 3 dibawah ini:

Gambar 3. Skema sistem jaringan distribusi di wilayah potensial
Biaya yang diperlukan dalam pembangunan reservoir dan pemasangan sistem perpipaan dapat dilihat pada Tabel 8. Dari tabel tersebut dapat diketahui pengembangan kapasitas jaringan distribusi di wilayah pengembangan mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.427.588.600.
Tabel 8. Rencana anggaran biaya pemasangan jaringan distribusi
| No | Uraian Pekerjaan | Vol | Satuan | Harga Satuan (Rp) | Total Harga (Rp) | |||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| I | Pembangunan reservoar distribusi | |||||||
| Pembebasan lahan | 400 | 2 m | 3.000.000 | 1.200.000.000 | ||||
| Reservoar regional 1 | 750 | 2 m | 2.590.000 | 1.943.000 | ||||
| Pompa kap 50 l/d, head = 60m | l | 22.481.000 | 22.481.000 | |||||
| II | Pengadaan pipa distribusi | |||||||
| Pipa HDPE, ϴ 400mm | 402 | m | 2.771.000 | 1.113.942.000 | ||||
| Pipa HDPE, ϴ 300mm | 3318 | m | 1.782.000 | 5.912.676.000 | ||||
| Pipa HDPE, ϴ 200mm | 1704 | m | 721.000 | 1.228.584.000 | ||||
| I + II 9.479.626.000 | ||||||||
| PPN 10% 947.962.600 | ||||||||
| TOTAL | 10.427.588.600 | |||||||
BCR (Benefit Cost Ratio)
Komponen manfaat dan biaya dijadikan nilai seragam dimana hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam perhitungan. Tingkat suku bunga yang digunakan dalam perhitungan ini adalah 10% (Bussiness Plan PDAM Kota Pekalongan, 2017) dengan asumsi usia guna proyek dalam penelitian ini adalah 20 tahun. Perhitungan analisis Benefit Cost Ratio (BCR) disajikan pada Tabel 9 berikut ini:
Tabel 9. Rekapitulasi biaya manfaat proyek
| No | Komponen | Rp |
|---|---|---|
| Biaya (cost) | ||
| 1. | Konstruksi | |
| Investasi | 10.427.588.600 | |
| Engineering (5% dari biaya investasi) | 521.379.430 | |
| Administrasi (2,5% dari biaya investasi) | 260.689.430 | |
| Biaya tak terduga (5% dari biaya investasi) | 521.379.430 | |
| Total biaya konstruksi | 11.731.037.175 | |
| 2. | Biaya tahunan | |
| Biaya O&P | 574.494.809 | |
| Depresiasi | 55.012.229 | |
| Bunga | 1.303.448.575 | |
| Total biaya tahunan | 1.932.955.613 | |
| Faktor konversi (A/P;10;20) | 0,1175 | |
| Nilai biaya | 3.311.352.480 | |
| Manfaat (benefit) | ||
| Total manfaat air bersih (harga air minimum x kebutuhan air m3 /tahun) | 4.007.228.000 |
Karena Benefit Cost Ratio >1 maka proyek ini layak dilaksanakan.
Net Present Value (NPV)
Pada tingkat suku bunga 10% nilai NPV adalah:
- = (Ab-Ac)(P/A;i;20)-I
- = (Rp 4.007.228.000 Rp 1.932.955.613)(8,514)- Rp 11.731.037.175
- = Rp 5.929.317.933
Nilai NPV >0 sehingga proyek layak dilaksanakan.
Untuk perhitungan NPV pada berbagai suku bunga disajikan pada Tabel 10 berikut ini
Tabel 10. NVP pada berbagai tingkat suku bunga
| Suku bunga | benefit PV | PV cost | NPV | |||
|---|---|---|---|---|---|---|
| 12% | Rp | 30.038.181.088 | Rp | 27.628.196.911 | Rp | 2.409.984.177 |
| 15% | Rp | 25.081.240.052 | Rp | 25.589.061.933 | -Rp | 507.821.881 |
| 18% | Rp | 21.450.691.484 | Rp | 24.189.735.263 | -Rp | 2.739.043.779 |
| 20% | Rp | 19.515.200.360 | Rp | 23.490.738.445 | -Rp | 3.975.538.085 |
Internal rate of Return (IRR)
Berdasarkan nilai NPV pada Tabel 10 diatas maka nilai IRR dihitung menggunakan rumus yang merujuk pada Persamaan 1:
IRR = I' + \[\frac{(B-C)'}{(B-C)'-(B-C)''}\] (I'' - I') (Persamaan 1)
Dimana:
I' = Suku bunga yang memberikan nilai NPV positif = 12%
I" = Suku bunga yang memberikan nilai NPV negatif = 15%
\[(B-C)' = (B-C) \text{ positif} = 2.409.984.177\]
\[(B-C)\]" = \((B-C)\) negatif = -507.821.881
Sehingga
\[IRR = 12\% + \frac{2.309.984.177}{2.409.984.177 - 507.821.881}(15\% - 12\%) = 14\%\]
Dari perhitungan tingkat pengembalian internal diatas dapat disimpulkan bahwa proyek pengembangan kapasitas distribusi air bersih ini layak secara ekonomi. Hal ini disebabkan karena nilai IRR lebih besar dari nilai MARR yang telah ditetapkan sebesar 10,9%.
Analisa sensitivitas
Analisa ini digunakan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan hasil proyek apabila terjadi perubahan terhadap nilai biaya dan manfaat yang masih merupakan suatu kemungkinan. Untuk hasil perhitungan analisa sensitivitas ini dapat dilihat pada Tabel 11. Pada skenario 1 dan 3 diasumsikan pendapatan PDAM dan biaya tahunan tidak sesuai dengan harapan awal. Untuk skenario 1, pendapatan PDAM diasumsikan hanya mencapai 90% dari target awal. Sedangkan pada skenario 3, diasumsikan biaya tahunan PDAM naik hingga 110% dari target awal. Hal tersebut berdampak pada turunnya IRR proyek menjadi 11% baik untuk skenario 1 dan 12 untuk skenario 3. Nilai IRR ini masih diatas dari MARR sehingga proyek masih layak untuk dilaksanakan. Pada skenario 2 diasumsikan pendapatan PDAM hanya mencapai 80% dari target awal. Hal ini berdampak pada menurunnya nilai IRR menjadi 7% sehingga proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Pada skenario 4 diasumsikan biaya tahunan PDAM meningkat sebesar 20%. Dampaknya adalah IRR proyek menurun hingga 9% sehingga proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Pada skenario 5, diasumsikan bahwa pendapatan PDAM hanya mencapai 80% dari target dan biaya operasi diasumsikan naik sebesar 20%. Tidak tercapainya target pendapatan PDAM serta meningkatnya biaya tahunan menjadi 20% lebih tinggi dari asumsi awal menyebabkan IRR proyek menurun hingga 3,7% sehingga menjadikan proyek ini tidak layak dijalankan.
Tabel 11. Matrix analisa sensitivitas
| Manfaat | Biaya | IRR | MARR | Kelayakan proyek | |
|---|---|---|---|---|---|
| Base case | 100% | 100% | 14% | 10,9% | Layak |
| Skenario 1 | 90% | 100% | 11% | 10,9% | Layak |
| Skenario 2 | 80% | 100% | 7% | 10,9% | Tidak layak |
| Skenario 3 | 100% | 110% | 12% | 10,9% | Layak |
| Skenario 4 | 100% | 120% | 9% | 10,9% | Tidak layak |
| Skenario 5 | 80% | 120% | 3,7% | 10,9% | Tidak layak |
Berdasarkan hasil analisa sensitivitas, dapat disimpulkan bahwa pencapaian target pendapatan PDAM Kota Pekalongan sangat diperlukan dalam mencapai kelayakan proyek ini hingga minimal 90% dari target awal.
KESIMPULAN
- 1. Minat responden untuk menjadi pelanggan PDAM Kota Pekalongan sebesar 38,25% sedangkan 61,75% responden menyatakan tidak berminat.
- 2. Berdasarkan parameter BEP Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon memberikan waktu pengembalian modal dibawah 8 tahun dan terpilih sebagai wilayah sasaran optimasi
- 3. Pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah berdaya beli tinggi dalam setahun mampu meningkatkan pendapatan PDAM sebesar Rp 604.610.849 dengan peningkatan profit margin sebesar 1,25% dibandingkan sebelum pengembangan kapasitas distribusi air bersih
Analisis ekonomi yang dilakukan terhadap investasi pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah berdaya beli tinggi menghasilkan nilai BCR ≥1, nilai NPV positif dan IRR lebih besar dari MARR dimana berdasar parameter-parameter tersebut proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan
