PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada tanggal 20 September 2016 pukul 22.00 WIB terjadi banjir bandang di Kabupaten Garut dengan wilayah terdampak sebanyak enam kecamatan meliputi Kecamatan Garut Kota, Kecamatan Bayongbong, Kecamatan Karangpawitan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kecamatan Tarogong Kaler, dan Kecamatan Banyuresmi. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi sejak tanggal 16 – 19 September 2016 dengan intensitas 255 milimeter sehingga menyebabkan debit air Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamiri naik dengan cepat. Salah satu infrastruktur yang terkena dampak dari banjir bandang tersebut adalah sistem penyediaan air minum yang mencakup sistem transmisi, unit pengolahan, dan jaringan distribusi. Semakin berkembangnya suatu kota dan adanya pengaruh perubahan iklim secara signifikan dapat mengurangi persediaan air dan mempengaruhi permintaan akan kebutuhan air minum. Penyediaan air minum sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, sangat penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia (Jayanti dan Sabar, 2013).
Oleh karena pentingnya sistem penyediaan air minum untuk keberlangsungan hidup manusia, maka infrastruktur ini harus segera dibangun untuk memenuhi kebutuhan air para pengungsi. Menurut Venkatachalam (2015), sistem pelayanan air yang baik akan mengurangi tingkat keterbelakangan ekonomi serta meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pemerintah setempat dalam menentukan langkah kebijakan pengelolaan sistem penyediaan air minum untuk wilayah relokasi.
Tujuan
Berdasarkan latar belakang dari dilaksanakannya penelitian, dapat di simpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai dari penelitian yaitu:
- 1. Meninjau dan mengetahui kondisi eksisting pemenuhan kebutuhan air minum korban banjir bandang Sungai Cimanuk.
- 2. Menganalisis tingkat kemauan dan kemampuan membayar masyarakat terkait sistem penyediaan air minum.
- 3. Menentukan strategi pengelolaan sistem penyediaan air minum yang tepat untuk korban banjir bandang di daerah relokasi.
Tinjauan Pustaka
1. Pentarifan SPAM
Tarif adalah kebijakan harga jual air minum dalam setiap meter kubik (m3 ) atau satuan volume lainnya sesuai dengan kebijakan yang ditentukan Kepala Daerah dan PDAM yang bersangkutan (Permendagri No. 71 Tahun 2016). Untuk dapat mengetahui besaran tarif yang adil untuk diberlakukan kepada pelanggan, salah satu metode yang biasa digunakan adalah dengan menentukan Ability to Pay (ATP) dan Willingness to Pay (WTP). Hubungan antara informasi, persepsi konsumen, dan kesediaan untuk membayar program air minum adalah kebijakan yang berguna untuk menganalisis masalah air saat ini dan masa yang akan datang (Tanellari, 2014). Terkait dengan hal ini, ketentuan mengenai pertimbangan keterjangkauan (ATP) dalam penentuan tarif sebesar maksimum 4% dari pendapatan masyarakat pelanggan (Permendagri No. 71 Tahun 2016), diperlukan fleksibilitas dalam penerapannya di wilayah masing-masing.
2. Willingness To Pay
Willingness to Pay (WTP) atau kesediaan untuk membayar adalah kesediaan individu untuk membayar terhadap suatu kondisi lingkungan atau penilaian terhadap sumber daya alam dan jasa alami dalam rangka memperbaiki kualitas lingkungan. Studi keterjangkauan Ability to Pay (ATP) dan Willingess to Pay (WTP) yang tepat sangat diperlukan untuk menentukan tingkat harga/tarif air dimana permintaan masih inelastic pada level kebutuhan dasar dan tingkat harga tertinggi sehingga pelanggan tidak berpaling pada alternatif sumber air yang lain. Dalam WTP, dihitung seberapa jauh kemampuan membayar setiap individu atau masyarakat secara agregat untuk membayar atau mengeluarkan uang dalam rangka memperbaiki kondisi lingkungan agar sesuai dengan kondisi yang diinginkan. WTP merupakan nilai kegunaan potensial dari sumber daya alam dan jasa lingkungan (Hanley dan Splash, 1993). Berdasarkan studi ATP dan WTP, jika harga air yang terjangkau (untuk masyarakat berpenghasilan rendah ternyata ada di bawah harga ekonomi air yang diproduksi, maka pada level tersebut subsidi diperlukan. Beberapa variabel penting yang berpengaruh terhadap tingkat kemauan membayar responden terkait air minum diantaranya:
1. Pendapatan total keluarga per bulan
Besarnya pendapatan di dalam suatu rumah tangga akan mempengaruhi kemampuan membayar masyarakat dalam membayar tarif air bersih (Fitria dalam Damayanti, 2017).
2. Tingkat pendidikan responden
Menurut Simanjuntak (2009), rendah atau tingginya tingkat pendidikan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap air sebagai barang publik dan barang ekonomi.
3. Sumber air yang digunakan sebagai air minum
Rumah tangga yang tergantung pada air kemasan sebagai satu-satunya sumber air minum bersedia membayar lebih untuk pasokan air yang dapat diandalkan dibandingkan rumah tangga lain yang air minumnya berasal dari sumber selain air kemasan, seperti air yang diisi ulang dari kios, air keran, atau sumur (Rohendi, 2018).
4. Tingkat kepuasan dengan kualitas sumber air yang ada
Semakin tinggi tingkat kepuasan responden terhadap kualitas sumber air yang ada, semakin besar pula kesediaan mereka untuk membayar (Tussupova, 2015). Untuk daerah dengan kualitas air yang kurang baik, janji adanya perbaikan akan meningkatkan tingkat kesediaan membayar air (Dauda, 2015).
3. Contingent Valuation Method (CVM)
Contingent Valuation Method (CVM) adalah metode valuasi berdasarkan survei yang digunakan untuk memberikan penilaian moneter pada barang atau komoditas lingkungan. Penilaian CVM dilakukan dengan menggunakan kuesioner, berapa jumlah biaya maksimum yang dapat dibayarkan untuk suatu perbaikan lingkungan.
Beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kemauan membayar adalah:
1. Bidding Game
Metode tawar-menawar dimana konsumen ditawarkan harga yang semakin meningkat sampai nilai maksimum yang mau dibayarnya.
2. Open-ended question
Metode pertanyaan terbuka dimana responden akan ditanyakan nilai maksimum WTP tanpa adanya nilai awal yang disarankan kepada responden.
3. Close-ended question
Mirip seperti Open-ended question, hanya saja bentuk pertanyaannya tertutup.
METODOLOGI
Pengumpulan Data
Data-data pada penelitian ini dikumpulkan baik dari sumber primer maupun sekunder. Data primer yang digunakan pada penelitian ini diperoleh secara langsung melalui observasi lapangan, wawancara terhadap stakeholders setempat, pemberian kuesioner kepada masyarakat, serta dokumentasi lapangan. Adapun pengumpulan data sekunder dilakukan melalui penelusuran data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Badan Pusat Statistik, dan Dinas Perumahan, Tata Ruang, dan Cipta Karya Kabupaten Garut berupa materi-materi yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan seperti dari laporan dan rekaman data di badan atau dinas terkait, jurnal penelitian, buku, serta materi-materi yang diperoleh dari internet. Skema metodologi untuk pengerjaan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Skema tahapan penelitian
Analisis Ability to Pay dan Willingness to Pay
Analisis ini digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan tarif air bersih dari pelayanan SPAM yang akan diberikan kepada masyarakat. Dalam analisis tersebut, diperlukan adanya sebuah survey lapangan di wilayah penelitian dengan metode penyebaran
kuesioner dengan teknik simple random sampling. Simple random sampling adalah teknik sampling dengan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut. Menurut Yamane (1967), ukuran sampel yang dibutuhkan dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 1 berikut.
Jumlah responden (n) = \[\frac{N}{N\alpha^2+1}\] (Persamaan 1)
Keterangan:
n = ukuran sampel
N = ukuran populasi
α = batas toleransi kesalahan (dalam penelitian ini digunakan 10%)
Populasi dalam penelitian ini adalah korban banjir bandang Kabupaten Garut yang akan ditempatkan di daerah relokasi Lengkong Jaya 4. Berdasarkan data perencanaan, jumlah KK yang akan ditempatkan di daerah relokasi di Lengkong Jaya 4 Kecamatan Garut Kota adalah sebanyak 325 KK. Sehingga jumlah sampel yang dibutuhkan adalah:
\[n = \frac{325}{1 + 325(10\%)^2} = 77 \, KK\]
Cara yang digunakan untuk perhitungan nilai ATP ditunjukkan pada Persamaan 2 berikut (Yudariansyah, 2006):
\[ATP = \frac{It \times Pp}{Tt}\] (Persamaan 2)
Dimana:
It = Total pendapatan (Rp/bulan)
Pp = Pengeluaran untuk air bersih per bulan dari total pendapatan (%)
Tt = Total pemakaian air bersih per bulan (m3 /bulan)
Perhitungan Pp atau persentase pengeluaran untuk kebutuhan air bersih pada penelitian ini mengacu kepada data-data Kabupaten Garut Dalam Angka 2018 dan Permendagri No. 71 Tahun 2016.
\[Pp = \frac{Biaya \text{ non } - \text{ makanan}}{Biaya \text{ total}} \times Biaya \text{ air minum}\] \[Pp = \frac{273.986}{682.732} \times 14\% = 1,6\%\]
Adapun perhitungan WTP dapat dilakukan dengan Persamaan 3 berikut:
\[WTP = \frac{Wt}{Tt}\] (Persamaan 3)
Dimana:
Wt = Kemauan membayar air (Rp/bulan)
Tt = Total pemakaian air bersih per bulan (m3 /bulan)
Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah tingkat kemauan masyarakat korban bencana banjir bandang untuk membayar air bersih lebih rendah daripada kemampuan membayarnya. Menurut Garda (2018), suatu wilayah dengan potensi sumber air yang baik akan menghasilkan nilai WTP yang lebih rendah. Sebaliknya, untuk wilayah dengan potensi air yang buruk, nilai WTP akan semakin tinggi. Hal ini juga dapat diberlakukan untuk penelitian kali ini dimana kuantitas dan kualitas air tanah di Kabupaten Garut masih tergolong baik.
Kuesioner
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner mencakup sejumlah pertanyaan kepada responden yang dibuat secara sistematis untuk mempermudah responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Berdasarkan beberapa tinjauan terhadap penelitian-penelitian terdahulu, dan kesesuaian dengan permasalahan yang ada pada lokasi penelitian, maka kuesioner dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
- 1. Karakteristik masyarakat serta kondisi eksisting penyediaan air bersih di wilayah penelitian untuk meneliti faktor yang mempengaruhi nilai Willingness to Pay.
- 2. Kuesioner Contingent Valuation mengenai WTP masyarakat dan pendapat masyarakat terhadap tanggungjawab penyediaan air bersih.
- Berikut adalah variabel yang akan diteliti pada setiap bagian kuesionernya:
- 1. Variabel yang berkaitan dengan karakteristik dari masyarakat yang akan dilayani dan berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi ATP dan WTP. ATP dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan 2, yaitu berdasarkan penghasilan serta jumlah pemakaian air bersih responden. Adapun nilai WTP responden dapat dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, jumlah penghasilan, jumlah anggota keluarga, air yang digunakan untuk minum dan memasak, kondisi air bersih eksisting, serta tingkat kepuasan responden terhadap kondisi sistem penyediaan air minum eksisting.
- 2. Variabel berkaitan dengan besaran nilai Willingness to Pay masyarakat, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang akan berlanjut menjadi interaksi tawar-menawar menggunakan metode bidding game untuk memperoleh nilai WTP.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Survey dengan menggunakan kuesioner dilakukan terhadap 77 responden korban banjir bandang yang tersebar di 4 (empat) Kecamatan di Kabupaten Garut. Adapun jumlah responden pada setiap lokasi penyebaran kuesioner dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
| Kecamatan | Jumlah Responden |
|---|---|
| Garut Kota | 35 |
| Leles | 25 |
| Limbangan | 10 |
| Tarogong Kaler | 7 |
Hasil dari survey tersebut digunakan untuk melakukan perhitungan Ability to Pay, Willingness to Pay, serta analisis untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Karakteristik Responden
1. Usia
Sebanyak 14 responden berusia antara 21-30 tahun, 20 berusia antara 31-40 tahun, 22 berusia antara 41-50 tahun, dan 21 berusia antara 51-60 tahun. Persentase jumlah responden pada masing-masing tingkatan usia dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.

Gambar 2. Persentase responden berdasarkan usia
2. Pendidikan
Mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan terakhir SMA/SMK/STM, yaitu sebanyak 54 orang. Adapun responden berpendidikan terakhir SD adalah sebanyak 3 orang, SMP sebanyak 12 orang, dan S1 sebanyak 8 orang. Persentase jumlah responden pada masing-masing tingkatan pendidikan dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.

Gambar 3. Persentase responden berdasarkan tingkat pendidikan
3. Pekerjaan
Sebanyak 5 responden memiliki pekerjaan sebagai petani, 7 sebagai pekerja bangunan, 8 merupakan guru, 27 berwirausaha, dan 30 merupakan karyawan/pegawai. Persentase jumlah responden pada masing-masing jenis pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut.

Gambar 4. Persentase responden berdasarkan jenis pekerjaan
4. Penghasilan
Sebanyak 14 keluarga memiliki penghasilan <Rp 2.000.000/bulan, 23 keluarga memiliki penghasilan Rp 2.000.000/bulan - <Rp 2.500.000/bulan, 23 keluarga memiliki penghasilan Rp 2.500.000/bulan <Rp 3.000.000/bulan, dan 17 keluarga memiliki penghasilan ≥Rp 3.000.000/bulan. Persentase jumlah responden pada setiap interval penghasilan dapat dilihat pada Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Persentase responden berdasarkan jumlah penghasilan
5. Jumlah anggota keluarga
18 responden memiliki jumlah anggota keluarga yang akan tinggal di daerah relokasi sebanyak 1-3 orang, 33 responden memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang, 17 responden memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 5 orang, dan 9 responden memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari 5 orang. Persentase jumlah anggota keluarga responden yang akan tinggal di daerah relokasi dapat dilihat pada Gambar 6 berikut.

Gambar 6. Persentase responden berdasarkan jumlah anggota keluarga
6. Sumber air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga
45 responden menggunakan sumur gali sebagai sumber air untuk keperluan rumah tangga, 10 responden menggunakan sumur bor, 12 responden menggunakan artesis, dan 10 responden menggunakan jasa PAM. Persentase sumber air yang digunakan oleh responden untuk keperluan rumah tangga dapat dilihat pada Gambar 7 berikut.

Gambar 7 Persentase responden berdasarkan sumber air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga
7. Sumber air yang digunakan untuk keperluan masak dan minum
Mayoritas responden sebanyak 63 orang menggunakan air kemasan/isi ulang sebagai sumber air untuk keperluan masak dan minum, 12 responden menggunakan sumur gali, dan 2 responden menggunakan sumur bor. Persentase sumber air yang digunakan oleh responden untuk keperluan masak dan minum dapat dilihat pada Gambar 8 berikut.

Gambar 8. Persentase responden berdasarkan sumber air yang digunakan untuk keperluan masak dan minum
Perhitungan ATP dan WTP
Perhitungan rata-rata nilai ATP dilakukan terhadap 77 keluarga responden menggunakan Persamaan 4 berikut, dengan nilai Pp = 1,6% dan N = 77.
\[\overline{ATP} = \frac{\sum_{t=1}^{It \times Pp}}{N}\] (Persamaan 4)
Dari persamaan tersebut, diperoleh rata-rata nilai ATP sebesar Rp 3.013/m3 . Adapun perhitungan rata-rata nilai WTP dilakukan terhadap 77 keluarga responden dengan menggunakan Persamaan 5 berikut, dengan nilai N = 77.
\[\overline{WTP} = \frac{\Sigma_{Tt}^{Wt}}{N}\] (Persamaan 5)
Dari persamaan tersebut, diperoleh rata-rata nilai WTP sebesar Rp 1.455/m3 . Berdasarkan kedua persamaan diatas, responden memiliki tingkat kemauan membayar lebih rendah dibandingkan tingkat kemampuan membayar untuk fasilitas air bersih.
Faktor-Faktor Penentu
Faktor yang akan dianalisis berikut ini merupakan faktor yang diperkirakan memiliki pengaruh terhadap nilai WTP responden. Beberapa analisis dilakukan dengan menggunakan Software SPSS 2.5.
1. Pendidikan dan Jumlah Anggota Keluarga
Korelasi antara tingkat pendidikan dan jumlah anggota keluarga terhadap nilai WTP dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Analisis korelasi tingkat pendidikan dan jumlah anggota keluarga terhadap WTP
| Pearson Correlation Sig. (2-tailed) | Pendidikan 1 | Willingness .324** | Anggota Keluarga 063 |
|---|---|---|---|
| .004 | .583 | ||
| 77 | 77 | 77 | |
| Pearson Correlation | .324** | 1 | 141 |
| Sig. (2-tailed) | .004 | .223 | |
| 77 | 77 | 77 | |
| Pearson Correlation | 063 | 141 | 1 |
| Sig. (2-tailed) | .583 | .223 | |
| 77 | 77 | 77 | |
Korelasi tingkat pendidikan terhadap WTP memiliki nilai Signifikansi sebesar 0,004 yang artinya terjadi secara signifikan karena < 0,05. Nilai korelasi sebesar 0,583 atau 58,3% menunjukkan bahwa hubungan antara dua variabel tersebut adalah Sedang. Korelasi jumlah anggota keluarga terhadap WTP memiliki nilai Signifikansi sebesar 0,223 yang artinya tidak signifikan karena > 0,05, sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan antara dua variabel tersebut.
2. Penghasilan
Hipotesis
H01 = µ ≥ 0, Penghasilan tidak berpengaruh terhadap nilai WTP
Ha1 = µ < 0, Penghasilan berpengaruh terhadap nilai WTP
Apabila angka probabilitas signifikansi thitung < -ttabel atau thitung > ttabel, maka H0 ditolak. Apabila angka probabilitas signifikansi –ttabel < thitung < ttabel, maka H0diterima. Hubungan antara penghasilan terhadap nilai WTP responden dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Analisis regresi pengaruh jumlah penghasilan terhadap nilai WTP
| Coefficientsa | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Unstandardized Coefficients | Standardized Coefficients | Collinearity Statistics | ||||||
| Model | B | Std. Error | t Sig. Beta | Tolerance | VIF | |||
| 1 (Constant) | 3.398 | 1.610 | 2.111 | .038 | ||||
| Penghasilan | .288 | .121 | .265 | 2.379 | .020 | 1.000 | 1.000 | |
a. Dependent Variable: Willingness
| Change Statistics | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Model | R | R Square | Adjusted R Square | Std. Error of the Estimate | R Square Change | F Change | df1 | df2 | Sig. F Change |
| 1 | .265ª | .070 | .058 | .40482 | .070 | 5.658 | 1 | 75 | .020 |
Persamaan yang diperoleh dari regresi tersebut adalah Persamaan 6 berikut.
\[Y = 3,398 + 0,288x + e\] (Persamaan 6)
Nilai konstanta sebesar 3,398 menunjukkan bahwa variabel WTP akan meningkat sebesar 3,398 jika tidak dipengaruhi oleh variabel penghasilan. Nilai penghasilan sebesar 0,288 menunjukkan arah positif, dimana jika penghasilan meningkat maka variabel WTP akan meningkat sebesar 0,288. ttabel = 1,992 < thitung = 2,379 serta Signifikansi = 0,02 atau lebih rendah dari 0,05 menunjukkan bahwa H0ditolak dan Haditerima. Adapun kontribusi variabel penghasilan terhadap variabel WTP adalah sebesar 0,058 atau 5,8%.
Proyeksi Kebutuhan Air Bersih
Proyeksi ini dilakukan untuk menghitung kebutuhan air bersih di daerah relokasi Lengkong Jaya 4 Kelurahan Sukamantri. Dalam perhitungan kebutuhan air bersih, data yang diperlukan adalah jumlah penduduk serta pola pemakaian air yang diperoleh melalui survey. Proyeksi jumlah penduduk dilakukan berdasarkan data kependudukan di Kecamatan Garut Kota 5 tahun terakhir dengan menggunakan metode dengan koefisien korelasi tertinggi dan standar deviasi terendah, yaitu Metode Eksponensial. Hasil perhitungan koefisien korelasi dan standar deviasi masing-masing metode dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Koefisien korelasi dan standar deviasi pada metode proyeksi
| Metode | Koefisien Korelasi (R2 ) | Standar Deviasi |
|---|---|---|
| Aritmatik | 0,818516487 | 263,8347968 |
| Geometri | 0,815269327 | 266,2720428 |
| Regresi Linier | 0,752954214 | 675,4357527 |
| Eksponensial | 0,988896692 | 77,53036148 |
| Logaritmik | 0,950965594 | 155,8217588 |
Pola kebutuhan air bersih eksisting diperoleh menggunakan Persamaan 7 berikut.
\[Kebutuhan Air = \frac{\sum Jumlah pemakaian air}{\sum Jumlah penduduk}\] (Persamaan 7)
Berdasarkan Persamaan 7 dan hasil survey yang telah dilakukan terhadap 77 responden, kebutuhan air rata-rata untuk daerah relokasi adalah 111,63 liter/orang/hari. Selanjutnya dilakukan perhitungan kebutuhan air bersih untuk periode perencanaan 10 tahun. Perhitungan kebutuhan air bersih dari tahun 2020 hingga 2029 dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
| Tahun | Proyeksi Jumlah Penduduk (jiwa) | Keb. Air Domestik (m3 /tahun) | Keb. Air Non-Domestik (m3 /tahun) | Kebocoran Air (m3 /tahun) | Total (m3 /tahun) | Kebutuhan Air (liter/detik) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 2020 | 1384 | 56.403 | 11.280 | 13.536 | 81.221 | 2,55262359 |
| 2021 | 1390 | 56.655 | 11.331 | 13.597 | 81.584 | 2,56403757 |
| 2022 | 1397 | 56.909 | 11.381 | 13.658 | 81.949 | 2,57550260 |
| 2023 | 1403 | 57.163 | 11.432 | 13.719 | 82.315 | 2,58701888 |
| 2024 | 1409 | 57.419 | 11.483 | 13.780 | 82.683 | 2,59858666 |
| 2025 | 1416 | 57.675 | 11.535 | 13.842 | 83.053 | 2,61020617 |
| 2026 | 1422 | 57.933 | 11.586 | 13.904 | 83.424 | 2,62187763 |
| 2027 | 1428 | 58.192 | 11.638 | 13.966 | 83.797 | 2,63360129 |
| 2028 | 1435 | 58.453 | 11.690 | 14.028 | 84.172 | 2,64537736 |
| 2029 | 1441 | 58.714 | 11.742 | 14.091 | 84.548 | 2,65720609 |
Tabel 5. Perhitungan kebutuhan air bersih tahun 2020-2029
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan yang diperoleh berdasarkan survey dan wawancara yang telah dilakukan terhadap 77 responden calon penghuni daerah relokasi Lengkong Jaya 4 adalah:
- 1. Responden calon penghuni daerah relokasi memiliki nilai Willingness To Pay (WTP) lebih rendah daripada nilai Ability To Pay (ATP) untuk fasilitas air bersih.
- 2. Analisis korelasi untuk hubungan tingkat pendidikan terhadap WTP menunjukkan bahwa hubungan antara dua variabel tersebut adalah Sedang.
- 3. Analisis korelasi untuk hubungan jumlah anggota keluarga terhadap WTP menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara dua variabel tersebut.
- 4. Analisis regresi untuk hubungan jumlah penghasilan terhadap WTP menunjukkan bahwa penghasilan memiliki pengaruh positif terhadap nilai WTP.
