1. Pendahuluan
Dalam perancangan reaktor pembangkit tenaga nuklir terdapat beberapa faktor yang harus diperhitungkan antara lain sifat neutronik, termohidrolik, mekanik, manajemen bahan bakar, dan faktor lainnya.<sup>[1]</sup> Sistem utama yang membatasi operasi reaktor adalah sistem termohidroliknya. [2] Peranan aspek termohidrolik di dalam reaktor nuklir sangat dominan terutama keterkaitannya dengan keselamatan reaktor, sehingga di dalam perancangan dan analisisnya dituntut suatu ketelitian yang sangat tinggi. Dengan adanya tuntutan persyaratan keselamatan yang handal dan dilain pifak reaktor nuklir harus mempunyai daya saing ekonomi yang tinggi, maka di perancangan, pembangunan dalam maupun pengoperasian reaktor nuklir, kecermatan dan ketelitian merupakan landasan yang mutlak.[3] Pada makalah ini kajian dibatasi pada aspek termohidroliknya saja. Mengingat masih sangat kompleknya permasalahan maka pengkajian dipersempit lagi yaitu pada kondisi aliran satu fasa. Kajian ini mencakup mengenai :
- 1. Distribusi temperatur fluida pendingin
- Penentuan koefisien perpindahan panas dari pemanas ke pendingin.
Pada makalah ini dirancang sebuah model pipa uji yang berfungsi sebagai berkas bahan bakar, terdiri dari empat batang pemanas. Dari konfigurasi berkas model pemanas tersebut daerah aliran fluida pendingin dapat dikelompokkan ke dalam tiga daerah aliran yaitu sub-buluh tengah, sub-buluh pinggir, dan sub-buluh pojok. Setiap sub-buluh dibagi menjadi delapan unit sel. Perangkat uji pemanas ini dipasang pada fasilitas untai uji NILO I yang ada di PPTN-BATAN Bandung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan ketelitian penerapan analisis termohidrolik dengan pendekatan sub-buluh.
Dari data pengukuran akan diperoleh distribusi temperatur pada permukaan pemanas, dan fluida pendingin pada setiap sub-buluh tengah, pinggir dan pojok. Sebagai perbandingan, data percobaan tersebut dibandingan dengan perhitungan numerik yang dibuat berdasarkan analisis sub-buluh<sup>[4]</sup> Penyelesaian persamaan silmultan dengan bantuan program komputer dari analisis sub-buluh tersebut, yaitu persamaan kontinuitas, persamaan energi, persamaan momentum aksial, dan persamaan momentum transversal, mempergunakan penyelesaian numerik.
2. Analisis sub-buluh
Pemahaman karakteristik distribusi temperatur dari fluida pendingin dan perpindahan panas yang berlangsung antara dinding-dinding silinder bahan bakar dalam bentuk berkas dengan fluida berfasa tunggal yang mengalir sejajar sumbu silinder merupakan landasan yang penting untuk memahami mekanisme perpindahan panas di dalam berkas pipa sejajar. Seperti diketahui bahwa kehadiran batang pipa pemanas pada daerah aliran akan menimbulkan efek geometri pergerakan fluida yang mengalir disekelingnya, yaitu memberikan efek perubahan momentum dan energi pada daerah aliran fluida tersebut. Bila pada buluh aliran ini diterapkan persamaan kontinuitas, momentum dan energi maka akan diperoleh distribusi temperatur, kecepatan, tekanan dan koefisien perpindahan panas dari batang pemanas ke fluida pendingin. Secara umum analisis sub-buluh merupakan penerapan khusus dari media berpori.[5]
2.1 Media berpori
Pada pendekatan analisis media berpori, kondisi aliran fluida diantara berkas bahan bakar silindrik di dalam reaktor nuklir dianggap sebagai aliran fluida dalam media berpori dengan karakteristik porositas sesuai dengan konfigurasi reaktor. Untuk tujuan tersebut, tinjau volume-atur \(V_T\) yang dibatasi oleh permukaan-atur \(A_T\) yang terdiri dari fluida dengan volume \(V_f\) dan sisa volume lainnya terisi padatan yang tersebar secara acak dalam volume-atur yang ditinjau, seperti ditunjukkan dalam gambar 1.
Permukaan \(A_T\) menutupi seluruh volume \(V_T\), bagian dari \(V_T\) yang berisi fluida adalah \(V_f\) dan total permukaan antara padatan dan fluida dalam volume atur \(V_T\) adalah \(A_{fi}\). Dapat dilihat dari gambar, \(A_f\) adalah bagian dari \(A_T\) tempat fluida mengalir. Fluida dalam batas volume atur mempunyai luas permukaan \(A_{fi}\) yang besarnya sama dengan :[6]
\[A_{fb} = A_{fs} + A_f \tag{1}\]
Perbandingan antara V<sub>f</sub> terhadap V<sub>T</sub> dan perbandingan antara A<sub>f</sub> terhadap A<sub>T</sub> merupakan dua parameter utama media berpori yang didefinisikan sebagai parasitas (y<sub>V</sub>) dan permeabilitas permukaan
\[\gamma_{V} = \frac{V_{f}}{V_{T}} = \frac{1}{V_{T}} \int_{V_{T}} \alpha_{f} dV\] \[\gamma_{A} = \frac{A_{f}}{A_{T}} = \frac{1}{A_{T}} \int_{A_{T}} \alpha_{f} dA\] (2)
dengan af fungsi densitas untuk fasa fluida.
Gambar 1 Volume atur media berpori
2.2 Analisis Sub-Buluh
Karakteristik media berpori dapat diterapkan pada konfigurasi berkas silinder sejajar. Di dalam pemilihan volume-atur dapat dilakukan berbagai alternatif, tergantung pada tujuan analisis. Pada kajian ini ditunjukkan dua pendekatan pemilihan volume atur seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. Kedua alternatif pemilihan volume-atur yang berbentuk subbuluh yaitu dengan pusat-fluida, yang hanya mencakup fluida saja dan pusat-padatan, yang mencakup pemanas sebagai padatan dan dikelilingi oleh fluida pendingin. Untuk analisis termohidrolik reaktor pemilihan volumeatur pusat-fluida akan lebih memberikan informasi yang lebih penting, karena sebagaimana diketahui transfer energi dari reaksi fisi yang terjadi di dalam bahan bakar ke pendingin lebih banyak dikendalikan oleh hambatan termal dari fluida pendinginnya.
Gambar 2 Volume-atur sub-buluh a) pusat-fluida, dan b) pusat-padatan
a. Persamaan kontinuitas
\[A_{f_i} \frac{\partial}{\partial t} \langle \rho_i \rangle + \frac{\Delta m_i}{\Delta z} = -\sum_{j=1}^{J} W_{ij}\] (3)
dengan
- \(A_{fi}\): penampang aksial lokal \(A_{fi} \frac{\partial}{\partial t} \langle \rho_i \rangle\): laju perubahan massa pada volume atur
- \(\frac{\Delta m_i}{\Delta z}\): perubahan laju aliran massa dalam arah aksial (z)
- Wij : laju massa silang dari elemen sub-buluh i ke j
- \(\rho_i\): rapat massa fluida dari elemen sub-buluh i
b. Persamaan momentum
(i) Arah aksial
\[\frac{\partial}{\partial t}\langle m_i\rangle + \sum_{j=1}^{J} W_{ij} \{v_x^*\} + \frac{\Delta(m_i v_{si})}{\Delta z} = -A_{fi} [\langle \rho \rangle g + \frac{\Delta \{p\}}{\Delta z}] - \sum_{j=1}^{J} [W_{ij}^{*M} (v_{si} - v_{sj}) - \{\frac{F_{ii}}{\Delta z}\}]\] \[(4)\]
- \(\frac{\partial}{\partial t}\langle m_i \rangle\): laju perubahan momentum linier dari massa fluida
- \(\sum_{i=1}^{n} W_{ij} \{v_i^*\}\): transfer momentum dalam arah transversal oleh aliran silang diversi
- \(\frac{\Delta(m_i v_{zi})}{\Delta z}\) : selisih momentum linier melalui permukaan aksil
- \(A_f(\rho)\): gaya badan karena gaya gravitasi pada / massa fluida
- A<sub>f</sub> _____ . gaya permukaan tegangan normal fluida (tekanan) yang bekerja pada fluida
- \(\sum_{j=1}^{J} [W_{ij}^{*M} (v_{zi} v_{zj}) : jumlah transfer momentum\)
- karena pengaruh efek turbulensi dan viskos, atau identik dengan gaya permukaan karena tegangan geser fluida
- \(\{\frac{F_{i\epsilon}}{A_{\sigma}}\}\): gaya permukaan yang bekerja pada fluida karena adanya benda padat pada daerah aliran.
{v<sub>1</sub>*} adalah kecepatan efektif akibat gradien tekanan didefinisikan sebagai,
\[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\]
(ii) Arah transversal
\[\frac{\partial}{\partial t}(W_{ij}) + \frac{\Delta(W_{ij}\{v_z\})}{\Delta x^i} + \frac{\Delta(W_{ij}\{v_z\})}{\Delta x} = -(s_{ij}^y \frac{\Delta\{p\}}{\Delta x^i}) - \{\frac{F_{ix}}{\Delta x^i \Delta z}\}\](5)
- \(\frac{\partial}{\partial x}(W_{ij})\): laju perubahan momentum linier pada volume atur momentum transversal
- : selisih momentum linier
transversal melalui permukaan arah x \(\frac{\Delta(W_{ij} \{v_z\})}{\Delta v}\) : selisih momentum linier
- transversal melalui permukaan aksial pada volume kontrol momentum transversal
- \((s_{ij}^{y} \frac{\Delta\{p\}}{\Delta x^{i}})\): gaya permukaan karena tegangan normal permukaan (tekanan)
- \(\left\{\frac{F_{ix}}{\sqrt{x' \wedge z'}}\right\}\): total gaya penghambat persatuan luas pada dasar bidang xz
c. Persamaan energi
\[\begin{split} A_{f_i} \frac{\partial}{\partial t} \langle \rho_i h_i \rangle + \frac{\Delta [m_i h_i]}{\Delta z} &= \langle q'_i \rangle_{rh} - \sum_{j=1}^J W_{ij}^{*H} (h_i - h_j) + \\ \sum_{j=1}^J W_{ij} \{h^*\} + A_{f_i} \langle \frac{Dp_i}{Dt} \rangle \end{split} \tag{6}\]
Analog dengan definisi {v<sub>z</sub>*}, maka {h<sub>x</sub>*} dan {h<sub>v</sub>*} didefinisikan sebagai,
\[\{h_x^*\} = \frac{\{\rho v_x h\}}{\{\rho v_x\}}\]
\[h_{y}^{*} = \frac{\{\rho v_{y} h_{x}\}}{\{\rho v_{y}\}} \tag{7}\]
- h<sub>x</sub>* } dan h<sub>y</sub>* } adalah entalpi efektif untuk transfer energi oleh aliran silng diversi arah x dan y
- \(A_{f_i} \frac{\partial}{\partial t} \langle \rho_i h_i \rangle\): laju pertambahan energi dalam dari fluida
- \(\frac{\Delta[m_i h_i]}{\Delta z}\) : selisih energi dalam fluida keluar terhadap fluida masuk melalui permukaan aksial antar sel dalam sub-buluh ke i
- \(\langle q'_i \rangle_{rh}\): laju pembangkitan panas yang diterima oleh fluida dari pemanas
- \(\sum_{i=1}^{J} W_{ij}^{*H} (h_i h_j)\): selisih transfer energi karena pengaruh efek turbulensi dan viskos
- \(\sum_{j=1}^{J} W_{ij} \{h^{*}\}\): transfer energi oleh aliran silang disersi
Apabila persamaan-persamaan tersebut dituliskan untuk setiap sel pada masing-masing subbuluh maka akan terbentuk persamaan aljabar linier dalam bentuk matrik [k x m x n]<sup>[4][7]</sup>. Berdasarkan persamaan-persamaan ini dapat dikembangkan suatu program komputer untuk menghitung besaran-besaran termohidrolik yang dibutuhkan [15][16]
2.3 Perpindahan Panas.
Total energi yang dipindahkan dari pemanas ke fluida memenuhi persamaan [8][9]
\[q = h_{c.}A..(T_w - k T_b)_{av}\] (8)
Pada umumnya persamaan tersebut diatas dipakai untuk menentukan laju aliran panas dengan cara konveksi antara suatu permukaan pemanas dengan fluida pendinginnya yang bersinggungan secara langsung dengan pemanas. Bilangan Nusselt merupakan ukuran perpindahan panas konveksi yang dapat memudahkan dalam perhitungan koefisien perpindahan panas konveksi. Bila harga bilangan Nusseltnya telah diketahui, maka koefisien perpindahan panas konveksinya dapat ditentukan.
Untuk bilangan Prandtl 1,0 <Pr < 10, Dittus-
Dari hasil percobaan didapatkan harga ratarata koefisien perpindahan panas baik pada sub-tengah, sub-buluh pinggir maupun sub-buluh pojok. Dari harga \(h_c\) masing-masing sub-buluh dapat dihitung bilangan Nusseltnya. Kemudian dengan mempergunakan persamaan: [10][11]
\[Nu = f(Re^m.Pr^n) \tag{10}\]
dapat ditentukan korelasi antara bilangan Nusselt, Reynolds dan Prandtl
\[Nu = C. Re^m.Pr^n \tag{11}\]
dimana C, m dan n adalah suatu konstanta yang akan ditentukan dari hasil percobaan
3. Perancangan alat percobaan
3.1 Tabung Berkas Pipa Uji
Dalam kajian analisis sub-buluh ini telah dirancang dan dibuat sebuah model tabung berkas pipa uji . Bahan tabung dibuat dari stainless steel dengan ketebalan 8 mm. Tingggi tabung 1,5 meter, lebar masing-masing sisi luarnya 83,36 mm. Pada dinding tabung terdapat dua buah lubang pada bagian sisi-sisi yang berseberangan masing-masing 5 cm dari ujung tabung dengan diameter luar 25,4 mm dan ketebalannya 3 mm. Kedua lubang ini berfungsi untuk melewatkan fluida pendingin ke dalam tabung berkas pipa uji. Fluida pendingin mengalir dari bawah ke atas Tabung pipa uji ini dipersiapkan untuk empat pipa pemanas.
Pada pipa masukan dan keluaran fluida masing-masing ditempatkan sebuah termokopel untuk mengukur temperatur masukan dan temperatur keluaran fluida. Selain itu pada masukan juga dipasang sebuah alat ukur flow meter. Sebelum flow meter dipasang sebuah kran untuk mengatur besarnya laju alir fluida pendingin ke pipa uji.
3.2 Pipa Uji
Pipa uji terbuat dari pipa stainless steel berdiameter luar 25,4 mm dengan ketebalan pipa 2 mm. Kemudian ke dalam pipa uji ini dimasukkan kawat pemanas dari bahan Nickel Chromium dengan batasan temperatur maksimum 1250°C, dan diameter kawat pemanas 1 mm. Kawat tersebut digulungkan pada pipa stainless steel berdiameter luar 12,7 mm dan supaya tidak terjadi aliran arus listrik dari pemanas ke pipa uji. Dudukan termokopel di dalam pemanas mempergunakan karbon sehingga termokopel tersebut terlindung dari pemanasan secara langsung. Ujung termokopel menyentuh dinding dalam pipa uji. Hambatan dari masing-masing pemanas tersebut adalah 40 ohm.
3.3 Pembangkitan daya pada pemanas.
Untuk memanaskan ke empat pipa uji yang ada yang dipergunakan jaringan listrik PLN dengan tegangan 220 volt. Sebelum melewati pipa-pipa pemanas, arus listrik dilewatkan melalui regulator dengan daya maksimum 2000 watt. Pada keluaran regulator dipasang sebuah voltmeter dan sebuah amperemeter untuk mengukur besarnya tegangan kerja maupun arus yang melewati pipa-pipa pemanas tersebut.
3.4 Fasilitas Untai Uji NILO 1.
Perangkat uji yang dibuat ditunjukkan sekaligus dengan penempatan sensor alat ukur temperatur ditunjukkan pada gambar 3 dan dihubungkan dengan fasilitas untai uji termohidrolik NILO 1 yang terdapat di PPTN-BATAN<sup>[18]</sup> Bandung. Fasilitas untai uji NILO 1 dapat dipergunakan untuk pipa uji vertikal maupun pipa uji horisontal dan jenis pipa ujinya dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan. [12][13][14]
Gambar 3. Penempatan alat ukur
Peralatan pencatat data pengukur temperatur berupa tiga buah PCLD 789 masing-masing mempunyai 16 saluran dan sebuah PCL 812 PG ditempatkan di dalam sebuah Personal Computer PC AT-386. Jumlah titik pengamatan pada satu kali percobaan adalah 12 pada pipa uji, masing-msing empat termokopel untuk dinding yang menghadap ke sub-buluh tengah, pinggir, dan pojok. Dua puluh empat buah termokopel dutempatkan pada fluida pendingin, masing-masing 8 termokopel pada setiap sub-buluh, ditambah dua termokopel masukkan dan keluaran. [19][20]
4. Metode Penelitian.
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran distribusi temperatur pada pipa uji, pengukuran distribusi temperatur pada setiap sub-buluh dan perhitungan koefisien perpindahan panas konveksi.
Pada percobaan ini, tekanan fluida kerja dipertahankan tetap 40 bar, dan laju pembangkitan panas untuk setiap pemanas sebesar 360 watt dibuat kostant. Sedangkan laju aliran fluida kerja diubahubah. Data masukan selama percobaan diberikan pada table 1.
Tabel 1 Data masukan percobaan
| Perc. | Tegangan jala-jala (volt) | Arus (Ampere) | Tekanan (bar) | Debit aliran (l/mn) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | 120 | 12 | 40 | 1 |
| 2 | 120 | 12 | 40 | 2 |
| 3 | 120 | 12 | 40 | 4 |
| 4 | 120 | 12 | 40 | 8 |
5. Hasil dan pembahasan
5.1 Distribusi temperatur
Data hasil percobaan dapat dilihat pada tabel 2 hingga 5 di bawah ini, kemudian dibuatkan grafik hubungan antara posisi pengamatan terhadap temperatur yang diberikan berurut-turut pada gambar 4, 5. dan 6. Hasil percobaan dibandingkan dengan hasil perhitungan teoritis.
Tabel 2 Percobaan 1
| No. | Temperatur tengah (° C ) | Temperatur pinggir (° C) | Temperatur pojok (° C ) |
|---|---|---|---|
| 0 | 28,06 | 28,06 | 28.06 |
| 1 | 29,55 | 29,73 | 30,02 |
| 2 | 31,56 | 32,11 | 32,26 |
| 3 | 33,67 | 33,60 | 34,76 |
| 4 | 35,12 | 35,11 | 36,82 |
| 5 | 36,66 | 36,89 | 38,78 |
| 6 | 38,24 | 39,08 | 41,33 |
| 7 | 40,88 | 41,10 | 42,97 |
| 8 | 42,54 | 42,97 | 45,23 |
Tabel 3 Percobaan 2
| No. | Temperatur tengah (° C ) | Temperatur pinggir (° C ) | Temperatur pojok(° C ) |
|---|---|---|---|
| 0 | 28,05 | 28,05 | 28.05 |
| 1 | 29,01 | 28,78 | 29.11 |
| 2 | 29,76 | 29,98 | 29,97 |
| 3 | 30,77 | 30,67 | 31,21 |
| 4 | 31,31 | 31.48 | 31,97 |
| 5 | 31,88 | 32,49 | 32,76 |
| 6 | 32,65 | 33,61 | 34,06 |
| 7 | 34,05 | 34,62 | 34,84 |
| 8 | 34,98 | 35,49 | 36,42 |
Tabel 4 Percobaan 3
| No. | Temperatur tengah (° C ) | Temperatur pinggir (° C ) | Temperatur pojok (° C) |
|---|---|---|---|
| 0 | 28,05 | 28,05 | 28.05 |
| 1 | 28,46 | 28,24 | 28.31 |
| 2 | 28,79 | 28,63 | 28,87 |
| 3 | 29,16 | 28,98 | 29,43 |
| 4 | 29,68 | 29.41 | 29,87 |
| 5 | 29,78 | 29,91 | 30,45 |
| 6 | 30,10 | 30,72 | 31,23 |
| 7 | 30,82 | 31,24 | 31,57 |
| 8 | 31,29 | 31,67 | 32,44 |
Tabel 5 Percobaan 4
| No. | Temperatur tengah (° C ) | Temperatur pinggir (° C ) | Temperatur pojok(° C ) |
|---|---|---|---|
| 0 | 28,03 | 28,03 | 28.03 |
| 1 | 28,08 | 28,14 | 28.28 |
| 2 | 28,53 | 28,64 | 28,36 |
| 3 | 28,77 | 28,78 | 28,81 |
| 4 | 28,89 | 28,96 | 29,02 |
| 5 | 28,96 | 29,01 | 29,06 |
| 6 | 29,11 | 29,23 | 29,34 |
| 7 | 29,18 | 29,24 | 29,61 |
| 8 | 29,38 | 29,55 | 30,14 |

Gambar 4 Distribusi temperatur pada sub-buluh tengah

Gambar 5

Gambar 6 Distribusi temperatur pada sub-buluh pojok
5.2 Pembahasan.
Hasil yang diperoleh dari masing-masing percobaan adalah terjadinya kenaikan temperatur dari ujung bawah tabung ke atas secara linier. Hal ini dapat terjadi kerena kalor yang diterima oleh fluida pendingin dari bawah ke atas secara komulatif bertambah secara linier.
Dengan melakukan empat percobaan pada debit aliran yang berbeda-beda, yaitu 1 liter/menit, 2 liter, 4 liter/menit, dan 8 liter/menit diperloleh grafik seperti yang terlihat pada gambar 4, 5 dan 6. Peningkatan debit aliran akan menurunkan temperatur fluida pada setiap sub-buluh, hal ini dapat terjadi kerena makin cepat laju alir kemampuan fluida pendingin untuk menyerap kalor akan berkurang.
Dari ketiga macam pembagian sub-buluh, distribusi temperatur pada sub-buluh pojok sedikit lebih tinggi dari temperatur sub-buluh yang lainnya, karena debit aliran pada sub-buluh pojok ini lebih kecil dari yang lainnya sedangkan fluks panas yang diterima untuk setiap sub-buluh adalah sama.
5.3 Korelasi antara bilangan Nusselr, Reynolds dan Prandtl.
Korelasi antara bilangan Nusselt, Reynolds dan Prandtl dari hasil percobaan dapat diturunkan sebagai berikut:
\[Log \{Nu/Pr^n\} = log C + m log Re\]
Harga konstanta dari C, m dan n dari hasil percobaan ditunjukkan seperti pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6 Korelasi bilangan Nu, Pe dan Pr.
| Sub-buluh | С | m | n |
|---|---|---|---|
| Tengah | 0,122 | 0,48 | 0,27 |
| Pinggir | 0,107 | 0,49 | 0,13 |
| Pojok | 0,046 | 0,50 | 0,48 |
Apabila untuk bilangan Prandtl dlt 1,0 <Pr < 10, Dittus-Boelter memberikan korelasi seperti :
\[Nu = 0.0155\]. \(Pr^{0.6}\). \(Re^{0.83}\)
maka hasil percobaan dengan analisis sub-buluh memberikan korelasi :
a. Untuk sub-buluh tengah
\[Nu = 0.122 \, Pr^{0.27} \cdot Re^{0.48}\]
b. Untuk sub-buluh pinggir
\[Nu = 0.107 \, Pr^{0.13} \, Re^{0.49}\]
c. Untuk sub-buluh pojok
\[Nu = 0.046 \, Pr^{0.48} \, Re^{0.50}\]
Jadi korelasi yang ditunjukkan oleh Dittus-Boelter tidak dapat dipergunakan pada percobaan ini untuk menentukan koefisien perpindahan panas dari pipa uji ke fluida pendingin.

Gambar 7 Korelasi log (Nu/Pr<sup>n</sup>) terhadap log R
6. Kesimpulan
Dari hasil percobaan dan perhitungan dengan mempergunakan program komputer didapatkan :
- Distribusi temperatur sepanjang sub-buluh, untuk setiap sub-buluh mulai dari posisi (1) paling bawah sampai posisi (8) posisi paling atas mengalami kenaikan secara linier.
- 2. Temperatur fluida yang paling tinggi adalah pada sub-buluh pojok, sedikit mengalami penurunan pada sub-buluh pinggir kemudian turun lagi pada sub-buluh tengah. Hal ini teramati dengan jelas pada keluaran program komputer, tetapi hasil eksperimen menunjukkan distribusi temperatur pada sub-buluh tengah hampir sama dengan distribusi sub-buluh pinggir.
- Kenaikan laju alir mengakibatkan terjadinya penurunan distribusi temperatur secara linier.untuk setiap sub-buluh. Hal ini dapat diamati dari percobaan 1 sampai percobaan 4, yaitu mulai dari laju aliran 1 liter/menit sampai 8 liter/menit.
- Pada percobaan ini diperoleh korelasi antara bilangan Nusselt, bilangan Reynolds dan bilangan Prandtl yang berbeda dengan yang ditunjukkan oleh korelasi Dittus-Boelter
7. Daftar Pustaka
- Duderstadt J.J, and Hamilton L.J, Nuclear Reactor Analysis, John Wiley & Sons, Inc, New York, 1976
- Todreas, N.E and Kazimi, M.S, Nuclear System I -Thermal Hydraulic Fundamentals, Hemispere Publishing Co., New York, 1976
- Glastone, S and Sesonske, A, Nuclear Reactor Engineering, Van Nostrand Reinhold, New York, 1981
- 4. Leonard, Program Perhitungan Analisis Subbuluh, Tugas Akhir S1, Jurusan Mesin ITB, 1994
- Todreas, N.E and Kazimi, M.S, Nuclear System II Elements of Thermal HydraulicDesign, Hemispere Publishing Co., New York, 1990
- A.Suwono, Pendekatan Model Media Berpori Subbuluh Dalam Aanalisis Termohidrolika Berkas Bahan Bakar Reaktor Nuklir, Lab. Termohidrolika PAU-IR ITB, Lokakarya Termuhidrolika, PPTKR-BATAN, serpong Januari 1994
- A. Widi Harto, Program Numerik untuk Mensimulasi Kondisi Saluran Pendingin Reaktor, Lokakarya Termohidrolika Reaktor, PPTKR-BATAN, Serpong, 26-27 Januari 1994.
- 8. F. Kreith, Principles of Heat Transfer, 3rd Ed, Intext, Scranton, 1973
- 9. Holman, J.P, Heat Transfer, Macmillan Publishing Company, 4th ed, New York, 1989.
- 10. Chapman, A.J, Heat Transfer, Macmillan Publishing Company, New York, 1989
- 11. El Wakil, M, Nuclear Heat Transfer, Intext, Scrantor, 1971
- 12. Ridwan M., dkk, Pengantar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir, BATAN, Jakarta, 1974
- 13. Tong L.S, and Weisman, J, Thermal Analisys of Pressurized Water Reactor, American Nuclear Society, Hinsdale, Ill, 1970
- 14. Sesonske, A, Nuclear Power Plant Design Analisys, United States Atomic Energy Commission, Oak Ridge, Tennessee, Nov. 1973
- 15. Weisman, J, and Bowring, R.W, Nuclear Science Engineering, 57, 1975
- Kolev, N.I, Universal Multicomponent Flow Models, , Nuclear Science Engineering, 108, 1991
- 17. Anonim, Seminar on Thermal Hydraulics BATAN NIRA, Bandung 1984
- 18. Anonim, Pentunjuk Pemakaian NILO 1, 1984
- 19. Anonim, Model PCL-789 PG, Enhance Multi-lab Card User, The PC-Lab Cards User's Manual, 1988.
- 20. Anonim, Model PCLD-789 Amplifier/Multiplexer Board, The PC-Lab Cards
