1. PENDAHULUAN
Sebagai negara yang sedang berkembang dan seiring dengan makin canggihnya teknologi manufaktur, persaingan pesat pada dunia industri khususnya industri manufaktur di Indonesia tidak dapat dihindarkan lagi. Dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih memungkinkan untuk dapat dilakukan pengintegrasian secara menyeluruh semua aktivitas pada sistem produksi sehingga diharapkan sistem produksi tersebut memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk dapat merespon dengan cepat perubahan dinamis serta gangguan-gangguan yang mungkin timbul.
Pada umumnya sistem produksi yang dilakukan di industri manufaktur di Indonesia masih bersifat konvensional di mana kegiatan produksi dijalankan dari satu bagian ke bagian lainnya secara bertahap, saling menunggu dan tidak bisa saling mendahului. Aktivitas produksi dimulai dari Seksi Desain, dilanjutkan ke Seksi PPC dan akhirnya baru akan dilanjutkan ke Seksi Manufakturnya. Pada industri yang dijadikan studi perencanaan dan pengendalian sistem produksinya juga masih terpusat di Seksi PPC. Seksi PPC bertugas menyusun rencana produksi dan melakukan pengontrolan terhadap seluruh bagian yang ada. Sistem produksi seperti ini tidak fleksibel karena apabila terjadi kesalahan atau hal-hal di luar rencana, maka feedback dari kesalahan tersebut akan terlambat terdeteksi.
Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri atau SPTM yang dikembangkan di Laboratorium Teknik Produksi Departemen Teknik Mesin ITB, merupakan salah satu alternatif dari sistem produksi yang fleksibel dan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan cepat pada kejadian yang tidak terduga yang muncul pada saat proses produksi sedang berlangsung. Pada SPTM terdapat pendistribusian tugas pada elemen produksinya, selain itu sistem ini juga memiliki sifat otonomi pada setiap elemen produksinya seperti kemandirian dalam melakukan fungsi monitoring, perencanaan proses produksi, pengendalian produksi, pengambilan keputusan dan juga fungsi komunikasi. Elemen produksi ini diantaranya terdiri dari operator, peralatan produksi, benda kerja dan juga stasiun kerja. Untuk mendukung konsep SPTM diperlukan elemen produksi yang masing-masing dapat berdiri sendiri dan berkomunikasi dengan elemen produksi lainnya untuk memperoleh informasi terbaru yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.
Agar konsep SPTM dapat dijalankan maka harus dilakukan pemodelan dengan membuat model virtual dari obyek nyata ke dalam perangkat lunak komputer. Dengan demikian diharapkan sistem produksi dapat menjadi lebih fleksibel dalam mengantisipasi terjadinya perubahan-perubahan yang dinamis dalam sistem produksinya. Hal ini disebabkan karena masing-masing elemen produksi dapat berdiri sendiri dan saling berkomunikasi untuk melakukan pengambilan keputusan. Fungsi penting yang juga harus terdapat dalam konsep SPTM ini adalah fungsi koordinasi karena dengan adanya koordinasi antar sesama elemen produksi maka dapat dicegah timbulnya konflik .
Pada Seksi Foundry (bagian pengecoran) yang membuat bahan awal ring piston terdapat berbagai macam tugas yang harus dilakukan yaitu peleburan logam, pembuatan cetakan yang akan digunakan, penuangan logam cair pada cetakan, pendinginan dan pembongkaran cetakan. Pembuatan cetakan pasir dilakukan dengan bantuan mesin pembuat cetakan. Tugas yang akan dibahas pada penelitian ini adalah penjadwalan pembuatan cetakan vang akan digunakan. Agar rencana cor untuk setiap pesanan dapat terpenuhi sesuai dengan kebutuhan konsumen maka harus disiapkan cetakan sesuai dengan kebutuhan dalam hal jumlah dan waktu. Oleh karena itu harus dibuat penjadwalan pembuatan cetakan sesuai dengan jadwal rencana cor yang telah dibuat pada penelitian sebelumnya yang telah menghasilkan jadwal peleburan logam pada kedua tanur yang tersedia [1].
2. SISTEM PRODUKSI TERDISTRIBUSI MANDIRI
Terdapat tiga sifat dasar SPTM yang dapat dinyatakan sebagai berikut[2]:
Pemberian Otonomi pada Elemen Produksi
Setiap elemen produksi diberi otonomi untuk melakukan fungsi monitoring guna mengetahui status dirinya sendiri, fungsi pengambilan keputusan untuk mengambil keputusan proses apa yang paling cocok untuk dirinya berdasarkan kriteria yang dimiliki, fungsi pengendalian untuk mengendalikan dirinya sendiri dalam melaksanakan operasi produksi, dan fungsi komunikasi yang digunakan oleh satu elemen produksi untuk saling bertukar informasi tentang data-data seperti status dirinya dan juga hasil pengambilan keputusan yang telah diambil kepada elemen produksi lain yang memerlukan.
Pendistribusian Tugas pada Elemen Produksi
Masing-masing elemen produksi diberi tugas sendirisendiri sesuai dengan fungsi dan ruang lingkup masingmasing. Dengan adanya pendistribusian tugas ini maka tidak diperlukan pusat pengendali untuk mengendalikan jalannya suatu proses produksi maupun untuk mengendalikan elemen produksi tersebut.
Pengkoordinasian Hasil Pengambilan Keputusan
Untuk menghindari terjadinya konflik maka dibutuhkan pengkoordinasian hasil pengambilan keputusan yang telah dilakukan oleh masing-masing elemen produksi.
3. KONSEP PENJADWALAN PEMBUATAN CETAKAN
Cetakan merupakan salah satu komponen yang harus disiapkan sebelum dilakukan proses pengecoran. Penjadwalan pembuatan cetakan akan dibuat sesuai dengan due date jadwal peleburan logam. Apabila logam telah selesai dilebur dan akan dilakukan pengecoran maka cetakan juga harus telah tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan. Pembuatan cetakan ini diusahakan tidak diselesaikan terlalu cepat karena dapat
mengakibatkan cetakan menumpuk pada Seksi Foundry. Pembuatan cetakan juga tidak boleh terlambat karena akan mengakibatkan tidak terpenuhinya due date dari Seksi Pemesinan yang merupakan seksi hilir dari Seksi Foundry yang akhirnya akan mengakibatkan pesanan menjadi terlambat diselesaikan.
Pesanan yang masuk ke Seksi Foundry berasal dari bagian pemesinan berupa lot. Untuk efisiensi peleburan logam, lot-lot pesanan yang memiliki kesamaan jenis material, jenis ring, dan diameter yang sama dapat digabungkan menjadi satu batch tertentu. Batch tersebut memiliki total permintaan yang kuantitasnya sama dengan jumlah kuantitas untuk semua lot yang terkandung di dalam batch tersebut. Kemudian dari total permintaan ini akan dapat ditentukan jumlah charge/melting yang dibutuhkan untuk melebur batch itu. Proses penjadwalan dari charge-charge ini telah dikerjakan pada penelitian sebelumnya [1].
Dimisalkan spesifikasi ring pesanan konsumen adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Spesifikasi Ring
| No.Order | No. Lot | Jenis Ring | Jenis Material | Diameter (mm) | Total Perminta an |
|---|---|---|---|---|---|
| Order I | 1 | 1 | NPR | 85 | 4500 |
| Cruer 1 | . 2 | OIL | NPR-H | 85 | 3000 |
| 3 | 2 | NPR . | 85 | 5000 | |
| Order 2 | 4 | OIL | NPR | 96 | 6250 |
| 5 | 1 | NPR | 85 | 5400 |
Order 1 terdiri dari dua lot pesanan yaitu lot 1 dan lot 2 sedangkan order 2 terdiri dari tiga lot pesanan yaitu lot 3, lot 4 dan lot 5. Karena lot 1, lot 3 dan lot 5 memiliki kesamaan jenis ring, jenis material dan diameter ring maka ketiga lot ini akan dikelompokan ke dalam satu batch. Kemudian dengan melihat perhitungan pada Tabel 2 diketahui bahwa satu batch ini akan terdiri dari lima charge.
Tabel 2 Perbandingan Jumlah Excess Ring Setelah Pengelompokan Total Permintaan (dalam pieces)
| Total Pe tid dikelon | ak | tal Permir kelompok | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Lot | Total Perminta an | Standar 1 kali charge | jumlah charge | excess ring | total | Jumlah charge | Excess ring |
| 1 | 4500 | 2 ; | 1500 | ||||
| 3 | 5000 | 3000 | . 2 | 1000 | 14900 | 5 | 100 |
| 5 | 5400 | , t , | 2 | 600 | |||
| · | 3100 |
Dapat dilihat dari Tabel 2 di atas bahwa dengan pengelompokan lot, excess ring yang timbul hanya 100 pieces ring. Sedangkan bila tidak dikelompokkan, excess ring yang timbul sebanyak 3100 pieces ring. Karena perbedaan excess ring inilah, lot-lot dikelompokkan menurut kesamaan jenis ring, jenis material, dan diameternya. Standar bahwa satu kali charge adalah tiga
ribu pieces ditentukan oleh kapasitas tanur peleburan dan ukuran ring yang dibuat. Gambar 1 memperlihatkan transformasi dari Lot menjadi Batch dan selanjutnya menjadi Charge.
Gambar 1 Transformasi Lot - Batch - Charge
Proses penjadwalan pembuatan cetakan akan dilakukan berdasarkan jadwal peleburan logam yang telah dibuat pada penelitian sebelumnya [1]. Penjadwalan cetakan dilakukan terhadap setiap charge yang telah dijadwalkan di kedua tanur yang tersedia. Pesanan yang masuk ke Seksi Foundry ini berupa lot pesanan, dan satu lot pesanan bisa terdiri dari banyak charge tergantung dari berapa kapasitas ring piston yang dapat dihasilkan dalam satu kali charge. Setiap kali charge, jumlah bahan baku yang dilebur adalah sebanyak 500 kg dan dapat digunakan untuk menuang ke dalam 26 tumpukan/roda dari nampan cetakan (piles). Jumlah bahan baku ini tidak dapat dikurangi ataupun ditambah mengingat efisiensi peleburan di tanur, jadi berapapun jumlah ring piston yang diminta bahan baku yang dilebur tetap 500 kg. Ketetapan ini membuat jumlah ring piston yang dihasilkan dapat melebihi jumlah ring piston yang diminta.
Pembuatan cetakan untuk setiap charge yang telah dijadwalkan di tanur ini harus sesuai dengan kapasitas ring piston yang dapat dihasilkan dalam satu kali charge. Apabila dalam satu kali charge kapasitas ring piston yang dapat dihasilkan adalah 2700 pieces ring piston, maka harus dibuat cetakan untuk dapat memenuhi kapasitas ring piston tersebut.
Strategi global yang digunakan untuk menjadwalkan adalah [3]:
Proses produksi suatu lot benda kerja tidak perlu dimulai terlalu dini jika masih cukup waktu untuk menyelesaikan.
Strategi ini sangat sesuai untuk penjadwalan backward. Oleh karena itu metode penjadwalan yang digunakan adalah metode backward (penjadwalan mundur). Metode penjadwalan ini memulai penjadwalan dari due date terbesar mundur terhadap waktu ke arah t=0. Dengan penjadwalan backward maka charge akan dijadwalkan ke mesin cetak yang tersedia mulai dari belakang yaitu dari charge dengan due date terbesar, dengan demikian waktu earliness pembuatan cetakan dapat diminimasi.
Pengambilan keputusan dimulai setiap kali terjadi perubahan kondisi (event). Event pada sistem ini yaitu:
- 1. Due date (batas waktu akhir pengerjaan)
- 2. Awal suatu operasi
- 3. Akhir suatu operasi
Pada sistem penjadwalan ini, elemen produksi yang terlibat dalam pengambilan keputusan adalah:
- 1. Setiap charge yang telah terjadwal di kedua tanur yang tersedia.
- 2. Setiap mesin cetak.
Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap elemen produksi mungkin mungkin hasilnya dapat tidak selaras atau timbul konflik. Untuk menghindari terjadinya konflik dalam pengambilan keputusan maka dibentuk suatu obyek koordinator yang berfungsi untuk menampung hasil pengambilan keputusan yang dilakukan oleh charge dan juga oleh mesin, yang kemudian akan meloloskan kandidat operasi yang cocok/selaras untuk dijadwalkan.
Berikut ini akan digambarkan proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh mesin cetak dan oleh charge. Misalkan dalam satu event terdapat dua charge yang harus dibuat cetakannya dan terdapat 3 mesin cetak yang menganggur. Event merupakan perubahan kondisi dalam produksi. Pada satu event tertentu obyek mesin cetak dan obyek charge akan melakukan proses pengambilan keputusan pemilihan kandidat. Obyek mesin cetak akan memilih kandidat charge sedangkan obyek charge akan memilih kandidat mesin cetak. Hasil pengambilan keputusan tersebut akan diberikan kepada obyek koordinator dan kemudian obyek koordinator akan meloloskan usulan kandidat yang cocok baik dari mesin cetak maupun dari charge. Proses pengambilan keputusan baru akan bergerak ke event selanjutnya apabila di event ini sudah tidak ada operasi yang dijadwalkan lagi.

Gambar 2 Pengambilan Keputusan Mesin Cetak dan Charge
Terlihat pada Gambar 2 bahwa yang terjadi di iterasi pertama adalah mesin cetak 1 memilih charge 1 dan charge 1 juga memilih mesin cetak 1 sehingga koordinator akan meloloskan charge 1 untuk dijadwalkan di mesin cetak 1. Sedangkan charge 2 tidak diloloskan oleh koordinator di iterasi pertama ini karena masih mengalami konflik, charge 2 memilih mesin cetak 3 dan mesin cetak 3 memilih charge 1. Oleh karena itu di iterasi kedua mesin yang boleh memilih adalah mesin
cetak 2 dan mesin cetak 3. Sedangkan charge yang boleh memilih adalah charge 2 karena pada iterasi pertama charge 2 belum dijadwalkan di mesin manapun juga. Setelah iterasi kedua dijalankan ternyata charge 2 memilih mesin cetak 3 dan mesin cetak 3 juga memilih charge 2 sehingga charge 2 dapat dijadwalkan di mesin cetak 3.
4. PERANCANGAN ALGORITMA PENJADWALAN PEMBUATAN CETAKAN
Algoritma-algoritma yang dirancang digambarkan dalam activity diagram. Pada penelitian ini terdapat 13 activity diagram yang terlibat. Pada makalah ini hanya akan dibahas kegunaan dari masing-masing diagram yang telah dibuat. Diagram-diagram tersebut adalah:
1. Activity Diagram Pencarian Nomor Pola
Digunakan untuk mencari nomor pola yang akan digunakan untuk membuat cetakan dari suatu charge tertentu. Dimisalkan terdapat suatu charge A1 dengan spesifikasi sebagai berikut: jenis material: NPR, jenis ring: 1, diameter: 85, maka charge A1 akan menggunakan nomor pola: E-34A.
2. Activity Diagram Perhitungan Jumlah Piles per Roda Digunakan untuk menghitung berapa piles yang dibutuhkan untuk masing-masing roda dari suatu charge tertentu. Untuk membuat cetakan dari suatu charge tertentu harus dihitung berapa piles yang harus disiapkan (ditumpuk ke atas) untuk suatu charge. Dimisalkan dengan nomor pola E-34A maka diketahui pieces/pola: 8 dan pieces/charge: 3000, maka langkah-langkah perhitungan jumlah piles yaitu:
- a. Bagi pieces/charge dengan 26 (jumlah roda: 26 roda untuk tiap charge). A = 3000/26 = 115.385.
- b. Bagi A dengan pieces/tanegata untuk memperoleh jumlah piles. Jumlah piles = A/8 = 115.385/8 = 14.42 ~ 15.
- c. Tambahkan jumlah piles yang diperoleh dari langkah b dengan 1,karena dibutuhkan 1 buah piles sebagai dasar. Sehingga jumlah piles per roda yang dibutuhkan untuk charge A1 adalah 15 + 1 = 16.
- 3. Activity Diagram Perhitungan Lamanya Waktu Pembuatan Cetakan
Digunakan untuk menghitung lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat cetakan dari suatu charge tertentu. Untuk membuat cetakan ke dalam satu buah piles dibutuhkan waktu 30 detik. Charge A1 membutuhkan 16 piles per roda maka waktu yang dibutuhkan untuk membuat cetakan charge A1 adalah 30 detik x 16 piles x 26 roda = 12480 detik = 3 jam 29 menit.
4. Activity Diagram Hari Libur (Backward)
Digunakan untuk memindahkan penjadwalan pembuatan cetakan yang jatuh tepat di hari libur ke satu hari sebelumnya (T-1).
5. Activity Diagram Pemilihan Kandidat Mesin Cetak oleh Charge
Digunakan untuk memilih kandidat mesin cetak yang kemudian akan diserahkan kepada koordinator. Apabila terdapat lebih dari satu alternatif mesin cetak yang dapat
dipilih oleh charge maka charge akan memilih mesin cetak yang memiliki waktu menganggur terbesar sebagai kandidat mesin cetak. Apabila waktu menganggur semua mesin cetak sama besar maka akan dilakukan pemilihan mesin cetak secara random. Kriteria pemilihan mesin ini bertujuan untuk meratakan pembebanan waktu pengerjaan di tiap mesin cetak.
6. Activity Diagram Pemilihan Kandidat Charge oleh Mesin Cetak
Digunakan untuk memilih kandidat charge yang kemudian akan diserahkan kepada koordinator. Apabila terdapat lebih dari satu alternatif charge yang dapat dipilih oleh mesin cetak maka mesin cetak akan memilih charge yang memiliki due date terbesar sebagai kandidat dengan tujuan agar charge dengan due date terbesar terjadwal terlebih dahulu. Tetapi apabila masih terdapat lebih dari satu alternatif charge yang memiliki due date terbesar maka mesin cetak akan memilih charge dengan waktu pembuatan cetakan terbesar sebagai kandidat charge. Apabila waktu pembuatan cetakan sama besar maka akan dilakukan pemilihan charge secara random.
7. Activity Diagram untuk Koordinator
Fungsi dari koordinator ini adalah untuk mencegah timbulnya konflik dalam proses pengambilan keputusan. Koordinator akan meloloskan usulan kandidat yang cocok di antara kandidat yang diperoleh dari mesin cetak dan kandidat yang diperoleh dari charge. Dan akan membatalkan usulan kandidat yang sepihak.
8. Activity Diagram Penjadwalan Pembuatan Cetakan Activity diagram ini merupakan activity diagram utama yang mengatur penjadwalan pembuatan cetakan. Activity diagram ini menggunakan 3 activity diagram lainnya untuk mendukung penjadwalan pembuatan cetakan yaitu activity diagram pemilihan kandidat mesin cetak oleh charge, pemilihan kandidat charge oleh mesin cetak dan activity diagram untuk koordinator.
9. Activity Diagram Pengecekan Jadwal Pembuatan Cetakan
Digunakan untuk memeriksa apakah terdapat jadwal pembuatan cetakan yang tidak logis yaitu jadwal yang melewati (terdapat di sebelah kiri) time now. Apabila terdapat jadwal yang melewati time now maka fungsi pergeseran jadwal akan dijalankan.
10. Activity Diagram Pergeseran Jadwal Pembuatan Cetakan
Digunakan untuk melakukan pergeseran jadwal pembuatan cetakan yang lewat time now secara forward.
11. Activity Diagram Hari Libur (Forward)
Digunakan untuk memindahkan penjadwalan pembuatan cetakan yang jatuh tepat di hari libur ke satu hari setelahnya (T+1).
12. Activity Diagram Pergeseran Charge
Digunakan untuk menggeser charge yang menempel pada charge yang telah digeser sehingga tidak akan terjadi pengerjaan charge yang overlap di mesin cetak.
13. Activity Diagram Pengecekan Pola
Digunakan untuk mengetahui apakah terdapat pola yang tidak tersedia untuk pembuatan cetakan dari setiap charge akibat dari pergeseran yang telah dilakukan. Jadi apabila charge akan digeser, harus diperhatikan ketersediaan polanya. Apabila pola tidak tersedia maka charge tersebut harus digeser ke event di mana pola tersedia.
5. PENJADWALAN PEMBUATAN CETAKAN SESUAI DENGAN DUE DATE JADWAL PELEBURAN LOGAM
Elemen produksi yang berperan penting pada sistem penjadwalan ini adalah mesin pembuat cetakan dan charge. Masing-masing elemen produksi merupakan obyek yang dapat melakukan pengambilan keputusan secara mandiri untuk melakukan penjadwalan dirinya dengan dibantu oleh obyek koordinator agar tidak terjadi konflik dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan akan dilakukan secara berulang-ulang oleh obyek mesin cetak dan juga oleh charge dan proses pengambilan keputusan akan selesai apabila sudah tidak terdapat charge maupun mesin yang dapat dipilih lagi.
Sistem penjadwalan akan dilakukan per event. Pertamatama sistem akan memilih event yang paling awal (yang paling jauh dengan waktu sekarang) yaitu charge yang dijadwalkan paling akhir di satu hari tertentu, untuk jam kerja normal pukul 16.00 dan untuk jam kerja overtime pukul 18.00. Kemudian proses pengambilan keputusan akan bergerak ke event selanjutnya (makin mendekati waktu sekarang) yaitu event yang paling dekat dengan event tersebut. Proses pengambilan keputusan akan dilakukan sampai tidak terdapat event yang lebih awal lagi. Pada penelitian ini akan dilakukan penjadwalan pembuatan cetakan dengan menggunakan dua pola dan juga tiga pola cetakan.
Dimisalkan pada tanggal 5 Juni 2002 terdapat pesanan masuk ke Seksi Foundry sebagai berikut:
Tabel 3 Daftar Pesanan
| No. Lot | Jns. Mat | Jas. Ring | Dia. | Total Permintaan | Due Date Mesin |
|---|---|---|---|---|---|
| D | NPR-H | OIL | 85 | 4000 | 6 |
| E | NPR | 1 | 85 | 10150 | 6 |
| F | NPR | 2 | 85 | 9000 | 6 |
Dari pesanan yang telah masuk tersebut diperoleh penjadwalan peleburan logamnya adalah :

Gambar 3 Peta Gantt Penjadwalan Peleburan Logam
Lot E dan F akan digabungkan ke dalam satu batch karena memiliki spesifikasi ring yang sama. Lot yang telah digabungkan ke dalam satu batch ini akan menggunakan nomor pola yang sama dalam pembuatan cetakannya. Dari peta Gantt di atas maka pada Tabel 3 dapat dilihat data-data yang dibutuhkan untuk melakukan penjadwalan pembuatan cetakan.
Charge EF1- EF7 akan menggunakan pola nomor: E-34A, dengan pieces/pola: 8, pieces/charge: 3000. Sedangkan charge D1 akan menggunakan pola nomor: E-35A, dengan pieces/pola:8, pieces/charge: 2300.
Tabel 4 Data Input Penjadwalan Pembuatan Cetakan
| Cl | Jns. | Ţ. | DD | Piles/ | |||
| Charge | Jns Mat. | Ring | Dia. | Tanur | Charge | roda | Cetak |
| EF1 | NPR | 1 | 85 | 1 | 18:00 | 16 | 3:29 |
| EF2 | NPR | 1 | 85 | 2 | 18:00 | 16 | 3:29 |
| EF3 | NPR | 1 | 85 | 1 | 16:00 | 16 | 3:29 |
| EF4 | NPR | 1 | 85 | 2 | 16:00 | 16 | 3:29 |
| EF5 | NPR | 1 | 85 | 1 | 14:00 | 16 | 3:29 |
| EF6 | NPR | 1 | 85 | 2 | 14:00 | 16 | 3:29 |
| EF7 | NPR | 1 | -85 | 1 | 12:00 | 16 | 3:29 |
| DI | NPR-H | OIL | 85 | 2 | 12:00 | 13 | 2:49 |
Dimisalkan yang menjadi time now penjadwalan ini adalah tanggal 4 Juni 2002.
Dari data pada Tabel 4 maka akan dilakukan penjadwalan pembuatan cetakan dengan menggunakan dua pola dan juga tiga pola cetakan.
5.1Penjadwalan Pembuatan Cetakan Dengan Menggunakan Dua Pola Cetakan
Dengan menggunakan dua pola cetakan maka jadwal pembuatan cetakan yang akan dihasilkan diperlihatkan pada Gambar 4.

Gambar 4 Penjadwalan Pembuatan Cetakan dengan Dua Pola Sebelum Digeser
Berikut ini akan diberikan penjelasan penjadwalan pada event pertama dan kedua .
1. Event 1 (t = due date charge EF1 dan EF2 = pukul 18.00)
Yang menjadi event pertama ini adalah due date dari charge yang terjadwal paling akhir. Pada event 1 ini terdapat 2 charge dan 3 mesin yang dapat menjadi alternatif karena charge belum dijadwalkan dan mesin cetak sedang menganggur. Pada event 1 ini dapat terjadi beberapa iterasi sebagai berikut:
Iterasi I :
Charge yang dapat menjadi alternatif yaitu : charge EF1 dan EF2.
Charge EF1 dan EF2 memiliki due date yang sama yaitu pukul 16.00 dan waktu pembuatan cetakan yang sama yaitu 3 jam 29 menit. Karena due date dan waktu
pembuatan cetakan kedua charge sama maka kedua charge memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh mesin cetak. Proses pemilihan akan dilakukan secara random.
Mesin yang dapat menjadi alternatif yaitu: M1, M2, dan M3 dengan waktu menganggur masing-masing = 0 jam. Karena semua mesin memiliki waktu menganggur yang sama besar maka ketiga mesin cetak akan memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh charge. Proses pemilihan akan dilakukan secara random.
Fungsi pengambilan keputusan oleh koordinator:
Koordinator akan meloloskan kandidat-kandidat yang cocok baik dari mesin cetak maupun dari charge. Pada iterasi I ini koordinator menerima kandidat:
Dari charge:
EF1 memilih M2
EF2 memilih M1
Dari mesin cetak:
M1 memilih EF1
M2 memilih EF1
M3 memilih EF2
Oleh karena itu koordinator akan meloloskan charge EF1 untuk dijadwalkan di M2.
Karena pada iterasi I masih terdapat alternatif charge yang belum terjadwal yaitu charge EF2 dan masih terdapat alternatif mesin yang dapat dipilih yaitu M1 dan M3 maka masih pada event yang sama akan dilakukan iterasi II.
Iterasi II:
Charge yang dapat menjadi alternatif yaitu: charge EF2. Mesin yang dapat menjadi alternatif yaitu: M1 dan M3, dengan waktu menganggur masing-masing mesin = 0 jam. Karena waktu menganggur kedua mesin cetak sama besar maka kedua mesin memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh charge EF2.
Kandidat mesin cetak oleh charge:
EF2 memilih M3
Kandidat charge oleh mesin cetak:
M1 memilih EF2
M3 memilih EF2
Fungsi pengambilan keputusan oleh koordinator:
Koordinator akan meloloskan kandidat-kandidat yang cocok baik dari mesin cetak maupun dari charge. Oleh karena itu koordinator akan meloloskan charge EF2 untuk dijadwalkan di M3.
Meskipun masih terdapat alternatif mesin yang menganggur pada event 1 ini yaitu M1 tetapi sudah tidak terdapat alternatif charge yang bisa dipilih karena charge EF1 dan EF2 telah dijadwalkan di mesin cetak yang bersesuaian. Oleh karena itu proses pengambilan keputusan akan bergerak ke event selanjutnya.
2. Event 2 (t = due date charge EF3 dan EF4 = pukul 16.00)
Pada event ini charge yang dapat menjadi alternatif yaitu charge EF3 dan EF4. Charge EF3 dan EF4 memiliki due date yang sama yaitu pukul 16.00 dan waktu pembuatan cetakan yang sama yaitu 3 jam 29 menit sehingga kedua
charge ini memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh mesin cetak. Proses pemilihan akan dilakukan secara random.
Mesin cetak yang dapat menjadi alternatif yaitu M1, karena hanya mesin cetak 1 yang sedang menganggur pada event ini. Pada event ini, kedua pola yang tersedia sedang digunakan oleh charge EF1 dan EF2. Sehingga pada event ini obyek charge dan mesin cetak tidak dapat melakukan proses pengambilan keputusan untuk memilih kandidat. Oleh karena itu proses pengambilan keputusan akan bergerak ke event terdekat berikutnya.
Demikian cara penjadwalan pembuatan cetakan dilakukan seterusnya dan proses pengambilan keputusan akan berhenti sampai semua charge telah terjadwal di mesin cetak.
Karena terdapat jadwal yang lewat time now maka jadwal tersebut harus digeser ke sebelah kanan time now.

Gambar 5 Penjadwalan Pembuatan Cetakan dengan Dua Pola Setelah Digeser (Sebelum Cek Pola)
Proses pergeseran jadwal akan dilakukan secara forward. Oleh karena itu charge EF7 akan digeser ke sebelah kanan time now yaitu pukul 07.30 tanggal 5 Juni 2002. Karena di sebelah kanan charge EF7 terdapat charge EF5 dan charge EF5 overlap dengan charge EF7 maka charge EF5 akan digeser ke event di mana charge EF7 selesai dikerjakan yaitu pukul 10.59. Demikian pula halnya dengan charge EF4 yang terletak tepat di sebelah kanan charge EF5, karena charge EF4 overlap dengan charge EF5 maka charge EF4 juga akan digeser ke event di mana charge EF5 selesai dikerjakan yaitu pukul 14.28.
Setelah melakukan pergeseran charge yang jadwal pembuatan cetakannya melewati time now ke sebelah kanan time now, maka harus dilakukan pengecekan pola untuk mengetahui status ketersediaan pola. Pada Gambar 6 dapat dilihat hasil penjadwalan pembuatan cetakan dengan dua pola setelah dilakukan pengecekan pola.

Gambar 6 Penjadwalan Pembuatan Cetakan dengan Dua Pola Setelah Digeser (Setelah Cek Pola)
Proses pengecekan pola akan dimulai dari event pertama yaitu pukul 07.30. Dari event pertama sampai event keenam, pola selalu tersedia sehingga tidak perlu dilakukan pergeseran charge. Tetapi pada event ketujuh terdapat dua alternatif charge vang akan menggunakan nomor pola yang sama yaitu charge EF1 dan EF2. padahal pada event ini pola yang tersedia hanya satu karena sedang digunakan oleh charge EF4. Oleh karena itu salah satu dari charge EF1 dan EF2 harus digeser. Karena charge EF2 terjadwal di mesin yang memiliki waktu menganggur minimum maka charge EF2 akan digeser ke event di mana pola telah selesai digunakan yaitu pukul 17.57. Pembuatan cetakan untuk charge EF2 melebihi akhir hari kerja, oleh karena itu sisa pembuatan cetakan charge EF2 akan dipindahkan ke satu hari setelahnya.
5.2 Penjadwalan Pembuatan Cetakan dengan Menggunakan Tiga Pola Cetakan
Dengan menggunakan tiga pola cetakan maka jadwal pembuatan cetakan yang akan dihasilkan diperlihatkan pada Gambar 7.

Gambar 7 Penjadwalan Pembuatan Cetakan dengan Tiga Pola
1. Event 1 (t = due date charge EF1 dan EF2 = pukul 18.00)
Yang menjadi event pertama ini adalah due date dari charge yang terjadwal paling akhir. Pada event 1 ini terdapat 2 charge dan 3 mesin yang dapat menjadi
alternatif karena charge belum dijadwalkan dan mesin cetak sedang menganggur. Pada event 1 ini dapat terjadi beberapa iterasi sebagai berikut:
Iterasi I:
Charge yang dapat menjadi alternatif yaitu: charge EF1 dan EF2. Charge EF1 dan EF2 memiliki due date yang sama yaitu pukul 16.00 dan waktu pembuatan cetakan yang sama yaitu 3 jam 29 menit sehingga kedua charge ini memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh mesin cetak. Karena due date dan waktu pembuatan cetakan kedua charge sama maka kedua charge memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh mesin cetak.
Mesin yang dapat menjadi alternatif yaitu: M1, M2, dan M3 dengan waktu menganggur masing-masing = 0 jam. Karena semua mesin memiliki waktu menganggur yang sama besar maka ketiga mesin cetak akan memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh charge.
Pada iterasi I ini koordinator menerima kandidat :
Dari charge:
EF1 memilih M2
EF2 memilih M1
Dari mesin cetak:
M1 memilih EF2
M2 memilih EF2
M3 memiih EF1
Oleh karena itu koordinator akan meloloskan charge EF2 untuk dijadwalkan di M1.
Karena pada iterasi I masih terdapat alternatif charge yang belum terjadwal dan masih terdapat alternatif mesin yang dapat dipilih maka masih pada event yang sama akan dilakukan iterasi II.
Iterasi II:
Charge yang dapat menjadi alternatif yaitu: charge EF1. Mesin yang dapat menjadi alternatif yaitu: M2, dan M3, dengan waktu menganggur masing-masing mesin = 0 jam. Karena waktu menganggur kedua mesin cetak sama besar maka kedua mesin memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh charge EF1.
Pada iterasi II ini koordinator menerima kandidat dari charge dan dari mesin cetak:
Dari charge:
EF1 memilih M3
Dari mesin cetak:
M2 memilih EF1
M3 memilih EF1
Oleh karena itu koordinator akan meloloskan charge EF1 untuk dijadwalkan di M3.
Meskipun masih terdapat alternatif mesin yang menganggur pada event 1 ini yaitu M2 tetapi sudah tidak terdapat alternatif charge yang bisa dipilih karena charge EF1 dan EF2 telah dijadwalkan di mesin cetak yang bersesuaian. Oleh karena itu proses pengambilan keputusan akan bergerak ke event selanjutnya.
2. Event 2 (t = due date charge EF3 dan EF4 = pukul 16.00)
Pada event ini charge yang dapat menjadi alternatif yaitu charge EF3 dan EF4. Charge EF3 dan EF4 memiliki due date yang sama yaitu pukul 16.00 dan waktu pembuatan cetakan yang sama yaitu 3 jam 29 menit sehingga kedua charge ini memiliki peluang yang sama untuk dipilih oleh mesin cetak.
Mesin cetak yang dapat menjadi alternatif yaitu M2, karena hanya mesin cetak 2 yang sedang menganggur pada event ini.
Kandidat mesin cetak oleh charge:
EF3 memilih M2
EF4 memilih M2
Kandidat charge oleh mesin cetak:
M2 memilih EF4
Fungsi pengambilan keputusan oleh koordinator:
Koordinator akan menerima kandidat dari charge dan mesin cetak. Oleh karena itu koordinator akan meloloskan EF4 untuk dijadwalkan pada M2.
Pada event ini masih terdapat charge yang belum terjadwal yaitu charge EF3, tetapi sudah tidak terdapat alternatif mesin yang dapat dipilih sehingga proses pengambilan keputusan akan bergerak ke event berikutnya.
Demikian cara penjadwalan pembuatan cetakan dilakukan seterusnya dan proses pengambilan keputusan akan berhenti sampai semua charge telah terjadwal di mesin cetak. Contoh tampilan yang diperlihatkan oleh prototype program aplikasi dapat dilihat pada Gambar 8. Pemodelan program aplikasi dilakukan dengan berdasarkan pada konsep pemodelan berorientasi obyek [4][5][6].
Gambar 8 Tampilan Peta Gantt pada Program Aplikasi
6. KESIMPULAN
Sistem penjadwalan pembuatan cetakan dirancang berdasarkan konsep Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri dengan memberikan otonomi pada charge dan mesin cetak sebagai elemen produksi untuk melakukan penjadwalan pembuatan cetakan.
Algoritma penjadwalan pembuatan cetakan dirancang untuk menambah kecerdasan setiap obyek yang terdapat dalam sistem penjadwalan sehingga dapat meningkatkan fleksibilitas sistem dalam menghadapi perubahan dinamis dan mampu menghasilkan penjadwalan yang baik.
Penambahan fungsi pergeseran jadwal secara forward untuk menyelesaikan jadwal yang tidak memenuhi batasan waktu dapat dilakukan dengan relatif mudah yaitu dengan menambahkan kemampuan pada masing-masing obyek untuk pelaksanaan pergeseran jadwal yang tidak memenuhi batasan waktu tersebut.
Jumlah pola minimum yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembuatan cetakan adalah dua pola, dengan konsekuensi untuk kasus-kasus spesifik (seperti yang terdapat pada studi kasus 2) due date charge ada yang tidak terpenuhi.
Penjadwalan pembuatan cetakan dapat mengubah penjadwalan rencana cor yang telah ada karena kendala jumlah pola yang digunakan dalam melakukan penjadwalan pembuatan cetakan.
经保证 经股份
7. Pustaka
- [1] Iskandar Andrianto. Perancangan Algoritma Penjadwalan Rencana Cor Dengan Meminimasi Jumlah Order Terlambat Dan Waktu Earliness Untuk Mendukung Konsep Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri. Skripsi Jurusan Teknik Industri, FTI Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, 2001.
- [2] Martawirya Yatna Yuwana, Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri. Modul Sistem Produksi, Departemen Teknik Mesin, FTI ITB, Bandung, 1998.
- [3] Martawirya Yatna Yuwana, Pengenalan Fungsi Penjadwalan Kembali. Modul Sistem Produksi, Departemen Teknik Mesin, FTI ITB, Bandung, 1998.
- [4] Booch Grady, Object Oriented Analysis and Design with Applications, 2<sup>nd</sup> Edition. The Benjamin/Cummings Publishing Company Inc, Santa Clara, California, 1994.
- [5] Martawirya Yatna Yuwana, Pengenalan Metode Pemrograman Berorientasi Obyek. Modul Sistem Produksi, Departemen Teknik Mesin, FTI ITB, Bandung, 1998.
- [6] Martawirya Yatna Yuwana, Teknik Pemodelan Berorientasi Obyek. Modul Sistem Produksi, Departemen Teknik Mesin, FTI ITB, Bandung, 1998.
