M E S I N
Jurnal Teknik Mesin Vol. 20, No. 2, Oktober 2005 No. ISSN: 0852-6095
Diterbitkan oleh : Departemen Teknik Mesin, FTI
Institut Teknologi Bandung
Surat ijin : STT No. 964/DIT-JEN/PPG/STT/1982.
DAFTAR ISI
| Studi Numerik Pengaruh Jumlah dan Puntiran Swirler Vanes pada Aliran | |
|---|---|
| Masuk Tabung | |
| I Gede Parwatha, Firman Hartono, Hisar M. Pasaribu, | |
| Djoko Sardjadi dan Aryadi Suwono | 40 |
| Analysis of Using Alternative Refrigerants for Energy Saving in Design Framework of Air-Conditioning System | |
| I Made Astina, Prihadi Setyo Darmanto, Warsito and Edwin Adryanto | 49 |
| Pengembangan Metode Simulasi Sistem Pengkondisian Udara Energi Surya Agus Hermanto, Aryadi Suwono, Abdurrachim dan Ari D. Pasek | 58 |
| Measuring and Compensating for Off-Line to Running Machinery Movement Phan Anh Tuan, Zainal Abidin and Komang Bagiasna | 68 |
| Analisis Frekuensi pada Uji Tak Merusak Ultrasonik | |
| Amoranto Trisnobudi | 73 |
M E S I N
Jurnal Teknik Mesin
Vol. 20, No. 2, Oktober 2005
I Gede Parwatha<sup>(1)</sup>, Firman Hartono<sup>(1)</sup>, Hisar M. Pasaribu<sup>(1)</sup>, Djoko Sardjadi<sup>(1)</sup> dan Aryadi Suwono<sup>(2)</sup>
Departemen Teknik Penerbangan Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10, Bandung 40132
Ringkasan
Medan aliran pada sisi masukan ruang pembakaran akibat variasi konfigurasi swirler vanes dikaji secara komputasional. Medan aliran swirl isotermal yang terjadi di dalam tabung diamati untuk memprediksi kestabilan pembakaran. Dari hasil simulasi diperoleh bahwa, bilangan swirl yang sama dapat dicapai dengan karakteristik medan aliran yang berbeda. Selain itu, adanya komponen kecepatan swirl menginduksikan gaya sentrifugal di dalam aliran. Gaya ini mempengaruhi puncak distribusi kecepatan, distribusi tekanan statik, serta daerah resirkulasi.
1. PENDAHULUAN
Aliran putar (swirling flow) di dalam tabung adalah aliran yang memiliki komponen kecepatan swirl. Kombinasi antara komponen kecepatan aksial dan swirl tersebut mempengaruhi pencampuran dua atau lebih jenis fluida yang mengalir di tabung tersebut. Dalam reaksi pembakaran, aliran swirl mempengaruhi kestabilan nyala api (flame stability). Hal ini dikarenakan berhubungan dengan proses pencampuran antara bahan bakar dan udara. Untuk mengkuantifikasi intensitas aliran swirl, didefinisikan bilangan swirl yang merupakan perbandingan antara momentum rata-rata aliran swirl terhadap momentum arah aksial.
Studi numerik tentang karakteristik nyala api pada kondisi transien dilakukan oleh Christiansen [1]. Pengendalian kestabilan pembakaran menggunakan pemodelan turbulen Large Eddy Simulation (LES) dilakukan oleh Schluter [2]. Penelitian lain berkenaan dengan pemodelan LES, juga dilakukan Schluter dengan mengintegrasi pemodelan LES dengan pemodelan Reynold Average Navier Stokes (RANS) untuk dapat mensimulasikan aliran di dalam mesin turbin gas secara keseluruhan [3]. Simulasi numerik tentang aliran swirl dalam pipa yang dilengkapi semburan arah tangensial, dilakukan oleh Chen [4].
Simulasi numerik aliran swirl menggunakan pemodelan LES untuk mengamati pengaruh aliran swirl masukan terhadap reaksi pembakaran dilakukan oleh Stone [5]. Pemodelan reaksi pembakarannya menggunakan formula G-equation flamelet. Hasil penelitian Stone menegaskan bahwa pada bilangan swirl yang lebih rendah, flame mengalami pergerakan pada arah aksial yang lebih cepat daripada bilangan swirl yang lebih tinggi. Selain itu, flame lebih stabil pada bilangan swirl yang lebih tinggi. Peningkatan kestabilan flame ditandai dengan turunnya fluktuasi letak flame dan fluktuasi tekanan. Pemodelan numerik yang serupa dengan Stone, dilakukan oleh Shinjo [6]. Dalam penelitian ini, dua model tabung pembakaran disimulasikan. Satu menggunakan aliran swirl sebagai penstabil reaksi pembakaran dan yang lain menggunakan flame holder. Flame holder merupakan komponen di daerah masukan untuk membangkitkan efek bluff body wake. Simulasi numerik tersebut memperlihatkan bahwa pembakaran yang tidak stabil dipengaruhi oleh paduan antara resonansi akustik, fluktuasi kecepatan dan temperatur, serta konsentrasi campuran.
Mengingat pentingnya peran aliran swirl dalam mempengaruhi proses dan hasil reaksi pembakaran, dilakukan studi numerik untuk mengamati pengaruh konfigurasi swirler vanes terhadap karakteristik aliran swirl pada sisi masukan tabung. Swirler vanes merupakan susunan sudu pengarah statis untuk membangkitkan aliran swirl di dalam tabung. Simulasi numerik aliran dalam tabung pada variasi jumlah vanes dan besar sudut pengarah dilakukan dengan menggunakan software Fluent 5.2. Pada akhirnya, pemahaman tentang pengaruh konfigurasi swirler vanes ini digunakan untuk memilih konfigurasi yang dapat menghasilkan bilangan swirl tertentu.
2. PEMODELAN NUMERIK
Medan aliran disimulasikan pada tabung berdiameter 94 mm dan panjang 400 mm. Pada masukan dipasang suatu konfigurasi swirler vanes, dengan lebar 10 mm. Swirler vanes terdiri dari sejumlah vanes yang dipasang pada sebuah silinder pangkal atau hub dengan diameter luar 10 mm. Di tengah hub terdapat lubang berdiameter 3 mm sebagai saluran semburan bahan bakar. Geometri model secara umum dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Pandangan isometri, pandangan depan, dan pandangan samping geometri tabung
Vanes divariasikan dengan jumlah 10, 20, 40, dan 60. Sudut pengarah (stagger) divariasikan pada 30°, 45°, dan 60° terhadap arah aksial. Distribusi sudut pengarah dibuat seragam dan juga divariasikan pada arah radial. Variasi sudut dibuat dengan memberikan puntiran ke arah pangkal dan juga puntiran ke arah ujung. Puntiran dilakukan untuk memperoleh besar maksimum sudut pengarah vanes pada bagian pangkal ataupun bagian ujung. Arti kode konfigurasi yang disimulasikan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kode konfigurasi swirler vanes
| Kode | Jumlah | Sudut Pangkal | Sudut Ujung | Variasi |
|---|---|---|---|---|
| 10a30 | 10 | 30° | 30° | seragam |
| 20a30 | 20 | 30° | 30° | seragam |
| 40a45 | 40 | 45° | 45° | seragam |
| 60a60 | 60 | 60° | 60° | seragam |
| 10tu30 | 10 | 30° | 0° | linier |
| 20tu30 | 20 | 30° | 0° | linier |
| 40tu45 | 40 | 45° | 0° | linier |
| 60tu60 | 60 | 60° | 0° | linier |
| 10td30 | 10 | 0° | 30° | linier |
| 20td30 | 20 | 0° | 30° | linier |
| 40td45 | 40 | 0° | 45° | linier |
| 60td60 | 60 | 0° | 60° | linier |
Model didiskritisasi menjadi sekitar 270000 elemen heksahedral. Pada bagian masukan didefinisikan kecepatan aksial sebesar 30 m/s dan bagian keluaran didefinisikan kondisi batas outflow. Kondisi batas outflow mensyaratkan fluks difusif pada daerah ini sama dengan nol untuk segala arah. Untuk penelitian kali ini, semburan bahan bakar tidak didefinisikan sebagai suatu masukan tertentu untuk memperoleh medan aliran isotermal.
Pemodelan numerik aliran [7] dilakukan dengan menggunakan persamaan konservasi massa (kontinuitas) dan persamaan konservasi momentum dalam bentuk integral dan kondisi stasioner.
Persamaan Kontinuitas
\[\oint \rho \underline{u} \cdot d\underline{A} = 0\] (1)
Persa maan Momentum
\[\oint \rho \underline{u}\underline{u} \cdot d\underline{A} = -\oint pd\underline{A} + \oint \underline{\underline{\tau}} \cdot d\underline{A} + \int_{V} \underline{F} dV\] (2)
dengan
\(\rho\) = densitas fluida u = vektor kecepatan
\(\underline{A}\) = vektor normal bidang batas
p = tekanan
\(\tau_{ij}\) = matriks tegangan geser fluida
\[\tau_{ij} = \left[\mu \left(\frac{\partial u_i}{\partial x_j} + \frac{\partial u_j}{\partial x_i}\right)\right] - \frac{2}{3}\mu \frac{\partial u_i}{\partial x_i}\delta_{ij}\](3)
\(\underline{F}\) = faktor body forces dalam fluida
Kedua persamaan tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan transport.
\[\oint \rho \phi \underline{u} \cdot d\underline{A} = \oint \Gamma_{\phi} \nabla \phi \cdot d\underline{A} + \int_{V} S_{\phi} dV \tag{4}\]
Untuk persamaan kontinuitas, faktor skalar \(\phi\) berharga 1 dan \(\Gamma_{\phi}\) berharga 0. Sedangkan untuk persamaan konservasi momentum, \(\phi\) merupakan vektor kecepatan dan koefisien \(\Gamma_{\phi}\) merupakan koefisien viskositas fluida \((\mu)\). Suku S merupakan rangkuman dari gaya konservatif \((body\ forces)\) dan kontribusi kecil dari tegangan viskos \((viscous\ stress)\). Suku yang mengandung faktor gradien tekanan akan dikaitkan dengan metode \(velocity\ pressure\ coupling\).
Aliran turbulen ditandai dengan hadirnya medan aliran yang berfluktuasi. Fluktuasi ini memiliki sifat mencampur besaran yang mengalami proses transpor seperti momentum. Untuk itu, pada persamaan atur aliran harus ditambahkan fungsi time-averaged. Dengan menambahkan fungsi tersebut, akan muncul besaran baru hasil dari pemodelan fluktuasi tersebut. Proses ini dinamakan pemodelan turbulen. Dalam penelitian ini digunakan pemodelan turbulen RNG \(k-\varepsilon\).
\[\rho \frac{Dk}{Dt} = \frac{\partial}{\partial x_i} \left( \alpha_k \mu_{eff} \frac{\partial k}{\partial x_i} \right) + G_k + G_b - \rho \varepsilon - Y_M\] \[\rho \frac{D\varepsilon}{Dt} = \frac{\partial}{\partial x_i} \left( \alpha_\epsilon \mu_{eff} \frac{\partial \varepsilon}{\partial x_i} \right) + C_{1\varepsilon} \frac{\varepsilon}{k} \left( G_k + C_{3\varepsilon} G_b \right) - C_{2\varepsilon} \rho \frac{\varepsilon^2}{k} - R\] (5)
\[k(t) = K + k\] \[K = \frac{1}{2} \left( U^2 + V^2 + W^2 \right)\] \[k = \frac{1}{2} \left( \overline{u'^2} + \overline{v'^2} + \overline{w'^2} \right)\] (6)
dengan
G<sub>k</sub> = faktor pembentukan energi kinetik turbulen akibat gradien kecepatan rata-rata
\(G_b\) = faktor pembentukan energi kinetik turbulen akibat buoyancy
\(Y_M\) = faktor kontribusi dilatasi fluktuatif dalam aliran turbulen kompresibel pada disipasi keseluruhan
\(\alpha_k\), \(\alpha_{\varepsilon}\) = bilangan Prandtl efektif untuk k dan \(\varepsilon\)
\(C_{1\varepsilon} = 1,42\) \(C_{2\varepsilon} = 1,68\)\(C_{3\varepsilon} = 0,2\)
R = faktor kontribusi tambahan akibat pengaruh laju regangan (strain rate)
Dari harga k dan \(\varepsilon\) tersebut, dihitung suatu besaran \(\mu_t\), koefisien viskositas turbulen, yang menyatakan difusi turbulen.
\[\mu_{t} = \rho C_{\mu} \frac{k^{2}}{\varepsilon} \tag{7}\] dengan \(C_{\mu} = 0.0845\)
Persamaan-persamaan atur di atas didiskritisasi menggunakan skema upwind orde pertama dengan menyertakan metode SIMPLE (Semi Implicit Pressure Linked Equation) untuk coupling tekanan dan kecepatan. Simulasi setiap konfigurasi diiterasi hingga mencapai nilai residu maksimum \(10^{-3}\) untuk kecepatan, tekanan, dan turbulen k-\(\varepsilon\).
3. HASIL DAN DISKUSI
Semua besaran properti aliran dievaluasi pada daerah 2,25 mm di belakang keluaran vanes. Hal ini dimaksudkan agar dapat memahami efektivitas konfigurasi vanes dalam membangkitkan aliran swirl masukan.
3.1 Distribusi Kecepatan
3.1.1 Pengaruh Jumlah Vanes
Pengaruh jumlah vanes pada distribusi kecepatan aksial dan swirl 2,25 mm dari sisi masukan tabung ditunjukkan pada Gambar 2, 3 dan 4 masing-masing untuk kasus sudut vanes seragam, vanes dipuntir di pangkal dan vanes dipuntir di ujung.

Gambar 2. Pengaruh jumlah vanes pada kecepatan aksial dan swirl, distribusi sudut vanes konstan 60°, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl
Hasil simulasi pada Gambar 2.a menunjukkan, distribusi kecepatan aksial semakin berimpit dengan bertambahnya jumlah vanes. Distribusi kecepatan aksial akan cenderung konstan ketika jumlah vanes 20 atau lebih. Ini berarti jumlah vanes minimum untuk mendapatkan kecepatan aksial konstan (tidak tergantung jumlah vanes) adalah 20.
Berbeda dengan distribusi kecepatan aksial, distribusi kecepatan swirl tergantung pada jumlah vanes. Gambar 2.b menunjukkan, semakin banyak vanes, kecepatan swirl di daerah ujung semakin rendah. Kecenderungan yang berbeda tampak pada kasus jumlah vanes 10. Perbedaan ini tampaknya terjadi karena pada jumlah vanes 10, kondisi aliran aksisimetrik belum tercapai.

Gambar 3. Pengaruh jumlah vanes pada kecepatan aksial dan swirl, distribusi sudut vanes bervariasi linier 45° di pangkal dan 0° di ujung, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl
Gambar 3.a memperlihatkan distribusi kecepatan aksial kasus vanes dipuntir di pangkal. Ditinjau dari tingkat keseragaman distribusi kecepatan aksial, tampak bahwa, serupa dengan kasus distribusi sudut vanes seragam, jumlah vanes minimum untuk mendapatkan distribusi kecepatan aksial konstan adalah 20.
Mengacu pada Gambar 3.b, kecepatan swirl di daerah pangkal turun dengan bertambahnya jumlah vanes. Kecenderungan ini serupa dengan kasus sudut vanes seragam. Perbedaannya, pada kasus ini perubahan distribusi kecepatan swirl terhadap perubahan jumlah vanes tidak memiliki pola yang teratur.
Distribusi kecepatan aksial dan swirl kasus vanes dipuntir diujung masing-masing ditunjukkan oleh Gambar 4.a dan 4.b. Dari kedua gambar tersebut, tampak bahwa semakin banyak vanes, kecepatan aksial dan kecepatan swirl di daerah ujung semakin tinggi. Perubahan distribusi kecepatan terhadap jumlah vanes memiliki pola yang teratur.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan berikut.
- Setelah mencapai 20 vanes, distribusi kecepatan aksial tidak dipengaruhi jumlah vanes. Hal ini tampaknya terjadi karena dua alasan, yaitu distribusi kecepatan aksial harus selalu memenuhi persamaan kontinuitas dan tambahan vanes tidak berpengaruh terlalu besar pada perubahan kecepatan swirl.
- Pada kasus sudut vanes seragam dan vanes dipuntir di pangkal, kecepatan swirl turun dengan bertambahnya jumlah vanes. Hal ini tampaknya berkaitan dengan efektifitas vanes dalam membangkitkan aliran swirl. Secara
vanes dalam membangkitkan aliran swirl. Secara teoritis, semakin banyak vanes, semakin efektif vanes membelokkan aliran. Pada kenyataannya, terdapat jumlah vanes optimal. Setelah jumlah
optimal tercapai, efektifitas vanes dalam membelokkan aliran turun dengan naiknya jumlah vanes. Fenomena ini tampaknya berkaitan dengan efek blockage, yaitu turunnya luas efektif karena pertumbuhan lapisan batas. Dalam kasus ini, efek blockage terasa setelah jarak antar vanes kurang dari 3 mm. Jarak antar vanes naik dengan bertambahnya jari-jari.
Pada kasus vanes dipuntir di ujung, kecepatan swirl naik dengan bertambahnya jumlah vanes. Jarak antar vanes pada kasus ini lebih dari 3 mm bahkan pada jumlah vanes 60. Hal ini menyebabkan, pada semua konfigurasi, vanes masih efektif dalam membelokkan aliran.

Gambar 4. Pengaruh jumlah vanes pada kecepatan aksial dan swirl, distribusi sudut vanes bervariasi linier 0° di pangkal dan 30° di ujung, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl.
3.1.2 Pengaruh Sudut Vanes
Telah diketahui bahwa jumlah vanes minimum untuk mendapatkan distribusi kecepatan aksial konstan adalah 20. Untuk meneliti pengaruh sudut vanes pada distribusi kecepatan aksial dan swirl, simulasi dilakukan dengan jumlah vanes 20.
Hasil simulasi dapat dilihat pada Gambar 5, 6 dan 7 masing-masing untuk kasus distribusi sudut vanes konstan, vanes dipuntir di pangkal dan vanes dipuntir di ujung.

Gambar 5. Pengaruh sudut vanes pada kecepatan aksial dan swirl sisi masukan; kasus: distribusi sudut vanes seragam, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl
Gambar 5. menunjukkan pengaruh besar sudut terhadap distribusi kecepatan aksial dan swirl kasus distribusi sudut vanes seragam. Kecepatan swirl akan semakin bertambah ketika sudut vanes semakin besar. Hal ini dapat dipahami dengan mudah karena semakin besar sudut vanes, aliran akan dibelokkan lebih jauh. Distribusi kecepatan aksial tampak mengalami hal yang serupa, namun dengan anggapan bahwa kecepatan aksial konstan karena prinsip kontinuitas maka penambahan kecepatan aksial bukan akibat pembelokan vanes.
Penambahan ini terjadi akibat pengaruh gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh aliran swirl. Sehingga, puncak distribusi kecepatan aksial terdesak ke arah luar dan besarnya bertambah sesuai persamaan kontinuitas. Karena kecepatan swirl bertambah seiring pertambahan sudut vanes, gaya sentrifugal yang timbul semakin besar ketika sudut vanes semakin besar.

Gambar 6. Pengaruh sudut vanes pada kecepatan aksial dan swirl sisi masukan; kasus: vanes dipuntir di pangkal, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl

Gambar 7. Pengaruh sudut vanes pada kecepatan aksial dan swirl sisi masukan; kasus: vanes dipuntir di ujung, (a) kecepatan aksial, (b) kecepatan swirl
Memperhatikan Gambar 6 dan 7, dan membandingkannya dengan kasus distribusi sudut vanes seragam (Gambar 5), tampak bahwa perubahan sudut vanes memberikan pengaruh yang sama, yaitu:
- semakin besar sudut puntiran, kecepatan swirl naik, kecepatan aksial relatif konstan
- semakin besar sudut puntiran, puncak distribusi kecepatan aksial dan swirl semakin terdesak kearah luar
Gambar 5, 6 dan 7 juga menunjukkan, distribusi kecepatan swirl merupakan fungsi distribusi puntiran. Pada kasus vanes dipuntir di pangkal, puncak distribusi kecepatan swirl di daerah pangkal. Pada kasus vanes dipuntir di ujung, puncak distribusi kecepatan swirl di daerah ujung. Pada kasus distribusi sudut vanes seragam, kecepatan swirl pada sudut rendah relatif seragam. Semakin besar sudut vanes, distribusi kecepatan swirl semakin tidak seragam dengan puncak semakin terdesak ke arah luar karena pengaruh gaya sentrifugal.
3.2 Bilangan Swirl
Bilangan swirl menyatakan perbandingan antara momentum rata-rata aliran swirl dengan momentum aksial. Formulasi matematis bilangan swirl ditunjukkan pada persamaan (8).
\[S = \frac{\int_{0}^{R} r^{2} \overline{uw} dr}{\overline{R} \int_{0}^{R} r u^{2} dr}\] (8)
dimana,
S = bilangan swirl
R = jari-jari tabung pembakaran
r = posisi radial
u = komponen kecepatan aksial
w = komponen kecepatan swirl
Hasil perhitungan bilangan swirl pada sisi masukan tabung ruang pembakaran akibat pengaruh konfigurasi vanes ditampilkan pada Gambar 8, 9 dan 10.

Gambar 8. Bilangan swirl pada distribusi sudut vanes seragam

Gambar 9. Bilangan swirl pada distribusi sudut vanes terpuntir di pangkal

Gambar 10. Bilangan swirl pada distribusi sudut vanes terpuntir di ujung
Mengacu pada gambar, bilangan swirl yang sama dapat diperoleh pada konfigurasi swirler vanes yang berbeda. Sebagai contoh, untuk memperoleh bilangan swirl sekitar 0,7 dapat digunakan konfigurasi swirler vanes 20a45 dan 20td60. Kedua konfigurasi tersebut, meskipun pada bilangan swirl sama, memiliki karakteristik medan aliran yang berbeda.
Secara umum, bilangan swirl yang dibangkitkan menjadi semakin besar akibat penambahan sudut vanes. Di samping itu, penurunan efektivitas pembangkitan aliran swirl terjadi ketika jumlah vanes mencapai lebih dari 20.
Hal ini berhubungan dengan penurunan kecepatan swirl yang dihasilkan ketika jarak antar vanes lebih kecil dari harga tertentu (blockage effect).
Pada kasus vanes dipuntir di pangkal, diperoleh bilangan swirl yang kecil karena pengaruh faktor \(\int_0^R r^2 \overline{uw} dr\) dalam
perhitungan bilangan swirl menjadi kecil.
Untuk penelitian secara eksperimen, dibutuhkan konfigurasi swirler vanes yang dapat membangkitkan aliran dengan bilangan swirl 0,33; 0,67 dan 1. Dengan asumsi hubungan bilangan swirl dengan sudut vanes bersifat linier, interpolasi dilakukan untuk memperoleh sudut vanes seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Pemilihan konfigurasi bilah untuk eksperimen
| bilangan swirl | konfigurasi |
|---|---|
| 0,33 | 20a26 |
| 20td35 | |
| 0,67 | 20a43 |
| 20td55 | |
| 1 | 20a60 |
3.3 Daerah Resirkulasi
Seperti yang dapat dilihat pada geometri pangkal vanes, terdapat bluff body dengan diameter sekitar 10 mm yang membuat terbentuknya suatu wake vortex ketika tidak ada semburan bahan bakar. Vortex ini akan menginduksikan suatu kecepatan di daerah sumbu utama. Bila kecepatan induksi yang dihasilkan berharga negatif, maka akan terjadi resirkulasi. Keberadaan gaya sentrifugal akibat aliran swirl juga mempengaruhi keberadaan vortex ini. Secara tidak langsung, gaya tersebut juga mempengaruhi karakteristik daerah resirkulasi yang diinduksi.
Keberadaan wake vortex akibat pengaruh distribusi sudut vanes ditampilkan dalam Gambar 11. Gaya sentrifugal akibat aliran swirl membuat pasangan wake vortex bergerak ke arah luar. Pergerakan ini membuat daerah resirkulasi pada Gambar 11.a, 11.b, dan 11.c terlihat melebar ke arah radial. Pelebaran ini menginduksikan kecepatan aksial seperti yang ditunjukkan Gambar 12.a. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa, semakin dekat jarak pasangan vortex, kecepatan aksial yang diinduksi semakin negatif. Semakin jauh jaraknya, daerah resirkulasi semakin terdorong ke belakang dengan intensitas semakin berkurang.
Posisi pasangan vortex tersebut tidak semata-mata bergantung pada bilangan swirl aliran. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 11.d – 11.i. Untuk distribusi kecepatan swirl daerah pangkal lebih besar daripada daerah ujung, posisi pasangan vortex akan mengikuti seperti anggapan sebelumnya. Untuk distribusi kecepatan swirl daerah ujung lebih besar daripada daerah pangkal, posisi pasangan vortex tidak terpengaruh oleh bilangan swirl. Begitu pula dengan kecepatan aksial di daerah sumbu utama yang diinduksi, seperti yang ditampilkan pada Gambar 12.b dan 12.c. Dari pengamatan ini dapat diambil sebuah anggapan bahwa
gaya sentrifugal akibat aliran swirl dipengaruhi oleh besar kecepatan swirl lokal.
(e)

Gambar 11. Posisi wake vortex akibat pengaruh besar dan distribusi sudut vanes, (a) 20a30, (b) 20a45, (c) 20a60, (d) 20tu30, (e) 20tu45, (f) 20tu60, (g) 20td30, (h) 20td45, (i) 20td60

Gambar 12. Distribusi kecepatan aksial pada sumbu utama tabung akibat pengaruh besar dan distribusi sudut vanes
3.4 Distribusi Tekanan Statik
Distribusi tekanan statik pada arah radial ditampilkan pada Gambar 13. Dari gambar tersebut tampak bahwa tekanan statik dipengaruhi oleh gaya sentrifugal lokal. Pada Gambar 13.b, peningkatan tekanan statik tampak lebih curam pada daerah radius kecil. Pada Gambar 13.c terlihat kenaikan tekanan statik hanya pada daerah ujung.
0.05
Gambar 13. Distribusi tekanan statik pada arah radial akibat pengaruh besar dan distribusi sudut vanes
4. KESIMPULAN
Pengamatan medan aliran di belakang swirler vanes secara numerik telah dilakukan. Pada sudut vanes tertentu, menaikkan jumlah vanes mengubah distribusi kecepatan aksial dan swirl. Pengaruh jumlah vanes terhadap distribusi kecepatan aksial tidak terlalu dominan, terutama setelah jumlah vanes mencapai 20. Berbeda dengan distribusi kecepatan aksial, pada kasus sudut vanes seragam dan dipuntir di pangkal, kecepatan swirl turun dengan bertambahnya vanes. Pada kasus vanes dipuntir diujung, kecepatan swirl naik dengan bertambahnya vanes. Tampaknya hal ini berkaitan dengan efektifitas vanes dalam membelokkan aliran.
Pada jumlah vanes tertentu, menaikkan sudut vanes relatif tidak mempengaruhi distribusi kecepatan aksial. Sebaliknya, pada semua kasus, kecepatan swirl selalu naik dengan naiknya sudut vanes.
Keberadaan komponen kecepatan swirl menimbulkan gaya sentrifugal pada medan aliran. Namun, distribusi kecepatan swirl pada arah radial juga mempengaruhi distribusi gaya sentrifugal. Gaya tersebut mempengaruhi letak puncak distribusi kecepatan aksial serta posisi pasangan vortex dari bluff body wake. Perubahan posisi pasangan wake vortex tadi menginduksi intensitas dan posisi terjadinya daerah resirkulasi di sumbu utama tabung.
Dengan memiliki distribusi kecepatan swirl lebih besar di daerah pangkal vanes, diperoleh bilangan swirl yang kecil karena pengaruh faktor \(\int_{-r}^{R} r^2 \overline{uw} dr\) dalam perhitungan
bilangan swirl. Namun distribusi kecepatan swirl yang dekat dengan wake vortex dapat menginduksikan terjadinya daerah resirkulasi yang lebih luas. Selain itu, gaya sentrifugal juga dapat menambah tekanan statik di daerah tertentu pada arah radial.
Untuk langkah selanjutnya, akan dilaksanakan penelitian serupa secara eksperimental. Eksperimen akan dilakukan dengan mengamati medan aliran dalam tabung dengan bilangan swirl 0,33; 0,67 dan 1. Dengan metode yang sama, diprediksi bilangan swirl tersebut akan diperoleh dengan konfigurasi seperti yang ditampilkan dalam Tabel 2.
5. DAFTAR PUSTAKA
- E.W. Christiansen, S.D. Tse, C.K. Law, A Computational Study of Oscillatory Extinction of Spherical Diffusion Flames, Combustion and Flame, vol. 134, 327-337, 2003.
- J.U. Schluter, Large-Eddy Simulations of Supression of Combustion Oscillation by Static Control, AIAA 2002-3283, 1-9,2002
- 3. J.U. Schluter, S. Shankaran, S. Kim, H. Pitsch, J.J. Alonso, P. Moin, Integration of RANS and LES Flow Solvers for Simultaneous Flow Computations, AIAA 2003-0085, 1-8, 2003
- J. Chen, B.S. Haynes, D.F. Fletcher, A Numerical and Experimental Study of Tangentially Injected Swirling Pipe Flows. 2<sup>nd</sup> International Conference in the Minerals and Process Industry, 485-490, December 1999.
- C. Stone, and S. Menon, Dynamics and Analysis of Vortex-Flame Interaction in Swirling Combustion Flows, 2<sup>nd</sup> International Symposium on Turbulent and Shear Flow Phenomena.
- J. Shinjo, Y. Mizobuchi, and S. Ogawa, Numerical Analysis of Flame Behavior in Gas Turbine Combustors Using LES.
- 7. Fluent Manual, Fluent Inc, 2001
