1. Home
  2. Archives
  3. Vol 22 (2007) Issue 1
  4. Articles

Pembuatan Dan Pengujian Sensor Ultrasonik Sebagai Feedback Pada Sistem Kendali Otomatik Pitch Attitude Hold

Abstract

Standard altimeter, i.e. static tube, does not work accurate enough for vehicle flying several meters from the ground. One alternative for measuring altitude in this case is using ultrasonic range-meter. This idea is brought further by using two range-meters to measure pitch attitude. Laboratory experiments were conducted to study this idea statically by constructing them in an inclined moving bar and dynamically by arranging them in a Pitch Attitude Hold control system.

M E S I N

Jurnal Teknik Mesin Vol. 22, No. 1, April 2007 ISSN 0852-6095

Diterbitkan oleh : Program Studi Teknik Mesin,

Fakultas Teknologi Industri - ITB

Surat ijin : STT No. 964/DIT-JEN/PPG/STT/1982.

DAFTAR ISI

Pengaruh
waktu
austenitisasi
pada
proses
pelarutan
karbida
baja
mangan
austenitik.
Bambang
Widyanto
dan
Achmad
Sambas
1-8
Optimasi
pelapisan
material
peredam
viskoelastik
pada
struktur
pelat
elastik
I
Wayan
Suweca
dan
Mokhamad
Nuriman
Yusuf
9-20
Karakteristik
aerodinamis
dua
silinder
teriris
type
1
yang
tersusun
side
by
side
pada
bilangan
Raynolds
subkritis.
Indra
Herlamba
Siregar
dan
Abdul
Muis
21-28
Kaji
numerik
dan
eksperimental
penyerapan
energi
tabung
aluminium
bergalur
dengan
beban
aksial.
Bambang
K.
Hadi,
Ichsan
S.
Putra,
David
Basuki
dan
Yanyan
Tedy
S.
29-34
Pembuatan
dan
pengujian
sensor
ultrasonik
sebagai
feedback
pada
sistem
kendali
otomatik
pitch
attitude
hold.
U.M.
Zaeny,
T.
Indriyanto
dan
H.
Muhammad
35-43

M E S I N

Jurnal Teknik Mesin

Vol. 22, No. 1, April 2007 ISSN 0856-6095

U.M. Zaeny, T. Indriyanto dan H. Muhammad

Kelompok Keahlian Fisika Terbang, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung E-mail: t.indriyanto@ae.itb.ac.id

Ringkasan

Untuk wahana yang terbang beberapa meter dari suatu permukaan, alat ukur standar pengindera tinggi terbang yaitu static tube tidak bekerja dengan cukup akurat. Muncul suatu ide untuk menggunakan sensor jarak ultrasonik sebagai alternatif. Ide ini dilanjutkan dengan pemanfaatan sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut sikap pitch dengan menggunakan dua sensor tinggi terbang ultrasonik di kedua ujung wahana tersebut. Ide ini diuji secara statik dengan menggunakan batang yang dimiringkan dan secara dinamik dengan merangkaikannya pada sistem kendali otomatik Pitch Attitude Hold skala laboratorium.

1. LATAR BELAKANG DAN RUMUSAN MASALAH

Kebutuhan akan informasi tinggi terbang yang cukup akurat pada sebuah wahana yang terbang sangat rendah (beberapa meter dari permukaan daratan di bawahnya) tidak dapat diperoleh melalui alat pengindera tinggi terbang standar pesawat udara yaitu static tube dan GPS. Radio altimeter, walaupun cukup akurat, namun tidak cukup efisien untuk dipakai pada wahana terbang yang kecil maupun tanpa awak [1]. Dengan demikian, diperlukan peralatan alternatif untuk memenuhi kebutuhan ini. Ide yang dimunculkan di sini adalah dengan memanfaatkan sensor jarak berbasis ultrasonik sebagai pengindera tinggi terbang (altimeter), (Gambar 1). Ide ini muncul dari implementasi pengukur jarak ultrasonik yang telah dikembangkan sebelumnya [2].

10

Gambar 1. Sketsa pemasangan altimeter ultrasonik pada wahana terbang [1]

Ide penggunaan altimeter ultrasonik ini selanjutnya berkembang lagi, yaitu dengan menjadikannya sebagai sensor sudut sikap wahana dengan menggunakan dua buah sensor tinggi terbang ultrasonik di kedua ujung wahana (Gambar 2).

0

Gambar 2. Sketsa pemasangan sensor sudut ultrasonik pada wahana terbang [1]

Untuk itu perlu dilakukan pengujian untuk melihat apakah kebutuhan informasi tinggi terbang dan sudut sikap wahana dapat dipenuhi dengan menerapkan ide ini.

Dalam tulisan ini dijelaskan proses pembuatan sensor sudut pitch ultrasonik serta pengujiannya secara statik dan dinamik. Pengujian statik altimeter ultrasonik dilakukan dengan menempatkan sensor pada jarak tertentu dari lantai, sedangkan pengujian sensor sudut pitch ultrasonik dilakukan dengan batang uji yang memiliki kemiringan terhadap lantai. Pengujian dinamik dilakukan dengan menjadikan sensor ultrasonik sebagai feedback sensor pada sistem kendali otomatik penjaga sudut sikap pitch (Pitch Attitude Hold/PAH) skala laboratorium. Blok diagram sistem kendali PAH ini ditampilkan pada Gambar 3.

4

Gambar 3. Blok diagram sistem kendali otomatik penjaga sudut sikap (Pitch Attitude Hold/PAH)

2. Pembuatan Altimeter Ultrasonik

Prinsip kerja suatu altimeter ultrasonik dapat dijelaskan melalui blok diagram pada Gambar 4.

8

Gambar 4. Diagram blok rangkaian altimeter ultrasonik

Blok diagram tersebut terdiri atas:

  • 1. Oscillator 40kHz
  • 2. Penguat Tx (transmitter)
  • 3. Transmitter ultrasonik
  • 4. Receiver ultrasonik
  • 5. Penguat Rx (receiver)
  • 6. Digital counter
  • 7. Display

Masing-masing blok dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Oscillator 40 kHz

Rangkaian altimeter yang dibuat pada paper ini dirancang untuk dapat mengindera jarak antara 1 sampai 7 m dengan resolusi 1 cm. Pada temperatur 20°C kecepatan rambat gelombang ultrasonik adalah 343,5 m/s, sehingga waktu yang diperlukan gelombang ultrasonik untuk menempuh jarak 10 m bolak-balik adalah:

\[\Delta t_{max} \approx \frac{20 \text{ m}}{343.5 \text{ m/s}} \approx 0.058 \text{ s} \tag{1}\]

Dengan demikian, satu siklus proses perhitungan jarak minimal dilakukan setiap 0,058 s. Di sini \(\Delta t_{max}\) yang digunakan adalah 0,065 s dengan menggunakan IC 555 dengan lebar pulsa 1 ms (Gambar 5).

23

Gambar 5. Pulsa periodik setiap satu siklus perhitungan 65 ms dengan lebar pulsa 1 ms [3]

Untuk membuat pancaran gelombang ultrasonik diperlukan oscillator pembangkit gelombang kotak dengan frekuensi 40 kHz agar transducer dapat beresonansi (Gambar 6).

26

Gambar 6. Gelombang ultrasonik 40 kHz

Kedua oscillator ini digabungkan untuk menghasilkan sinyal 40 kHz selama 1 ms setiap 65 ms (Gambar 7).

29

Gambar 7. Sinyal ultrasonik 40 kHz selama 1 ms setiap 65 ms

2. Penguat Transmitter

Penguatan ini berupa pengkalian amplitudo sinyal sebesar 2 kali sebelum ditransmisikan (Gambar 8).

Gambar 8. Penguat sinyal kirim [3]

3. Transmitter Ultrasonik

Transmitter gelombang menggunakan transducer piezzo elektrik ultrasonik 40 kHz (Gambar 9).

Gambar 9. Transducer ultrasonik [1]

4. Receiver Ultrasonik

Receiver gelombang ultrasonik yang digunakan adalah transducer ultrasonik yang sama dengan transmitter ultrasonik.

5. Penguat Receiver

Gelombang yang diterima receiver sangat kecil sehingga perlu diperkuat agar dapat menjadi suatu sinyal trigger yang dapat menghentikan counter. Penguatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 10).

Gambar 10. Rangkaian penguat receiver [3]

Sinyal ultrasonik yang diterima diperkuat tegangannya sebesar 1000 kali (60 dB), dengan penguatan 1000 kali sinyal pantul yang diterima cukup kuat menjadi trigger penghenti counter. Pada referensi [2] penguatan yang dipilih adalah penguatan secara 2 tahap: pertama diperkuat 100 kali (40 dB), kemudian diperkuat lagi 10 kali (20 dB) melalui rangkaian OpAm. Sinyal yang diterima ini kemudian diproses lebih lanjut pada rangkaian detektor (Gambar 11) sebagai tanda untuk menghentikan counter.

16

Gambar 11. Rangkaian detektor [3]

6. Digital Counter

Untuk menampilkan besarnya jarak pada bagian display diperlukan digital counter yang memiliki frekuensi sama dengan 1/2 kali kecepatan gelombang ultrasonik. Sebagai contoh ketika gelombang ultrasonik menempuh jarak 2 m (atau 1 m dari benda pemantul) maka counter menunjukkan angka 100, yang artinya 100 cm. Rangkaian oscillator counter ini dapat dilihat pada Gambar 12 dengan frekuensi yang dihasilkan sebagai berikut:

\[f_C = \frac{1}{2.2 \ C \ R} \tag{2}\] di mana

\(f_c\) = frekuensi counter

C = kapasitansi kapasitor

R = resistansi resistor

Gambar 12. Oscilator digital counter [1]

7. Display

Hasil tinggi terbang yang diperoleh digital counter selanjutnya ditayangkan dalam bentuk display digital menggunakan seven-segment LED. Display altimeter ultrasonik tersebut dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Display seven-segment LED [1]

3. PEMBUATAN SENSOR SUDUT ULTRASONIK

Sensor sudut ultrasonik dibuat dari dua altimeter ultrasonik yang diintegrasikan pada sebuah mikrokontroler. Sudut sikap pitch dapat diperoleh untuk dua kasus berikut ini:

Kasus 1: sensor selalu mengarah ke bawah, tidak tergantung sudut pitch wahana (Gambar 14).

1

Gambar 14. Kondisi dimana sensor selalu mengarah ke bawah [1]

Dalam hal ini:

\[\theta = \sin^{-1} \left( \frac{dh_{\sin}}{L} \right)\] dengan

\[dh_{sin} = h_{1sin} - h_{2sin} \tag{3}\]

Pendekatan deret Taylor untuk arc sinus adalah [5]:

\[\sin^{-1}(x) \approx x + \frac{1}{6}x^3 + \frac{3}{40}x^5 + \dots\] (4)

sehingga

\[\theta \approx \frac{dh}{L} + \frac{1}{6} \left(\frac{dh}{L}\right)^3 + \frac{3}{40} \left(\frac{dh}{L}\right)^5 + \dots\] (5)

Kesalahan yang timbul dalam pendekatan arc sinus dalam persamaan (5) di atas ditunjukkan dalam Gambar 15 untuk pemakaian 1, 2 dan 3 suku yang pertama. Terlihat bahwa makin banyak suku yang terlibat, makin kecil kesalahan yang dihasilkan.

12

Gambar 15. Kesalahan pada pendekatan arcus sinus [1]

Kasus 2: sensor selalu menempel pada wahana (Gambar 16)

15

Gambar 16. Kondisi dimana sensor menempel pada wahana [1]

Dalam hal ini:

\[\theta = tan^{-1} \left( \frac{dh_{tan}}{L} \right)\] dengan

\[dh_{tan} = h1_{tan} - h2_{tan} \tag{6}\]

Pendekatan deret Taylor untuk arc tangen adalah [5]:

\[tan^{-1}(x) \approx x - \frac{1}{3}x^3 + \frac{1}{5}x^5 - \dots\] (7)

sehingga

\[\theta \approx \frac{dh}{L} - \frac{1}{3} \left(\frac{dh}{L}\right)^3 + \frac{1}{5} \left(\frac{dh}{L}\right)^5 - \dots\] (8)

Kesalahan yang timbul dalam pendekatan arc tangen dalam persamaan (8) di atas ditunjukkan dalam Gambar 17 untuk pemakaian 1, 2 dan 3 suku yang pertama. Terlihat bahwa makin banyak suku yang terlibat, makin kecil kesalahan yang terjadi.

26

Gambar 17. Kesalahan pada pendekatan arcus tangen [1]

Kedua kasus tersebut sama-sama memiliki suku dengan pangkat 3 dan pangkat 5, namun karena keterbatasan mikrokontroler [4] yang digunakan sebagai pemroses data (AT89C2051), maka digunakan pendekatan sampai pada suku pertama saja yaitu:

\[\theta = \frac{dh}{I} \tag{9}\]

Pada proses pemancaran gelombang ultrasonik, terdapat satu keterbatasan, yaitu ketika sinyal yang dipancarkan memantul pada dinding yang tidak tegak lurus.

Di sini akan terjadi kesalahan pengukuran seperti diilustrasikan pada Gambar 18.

Gambar 18. Kesalahan pengukuran akibat kemiringan bidang pantul [1]

Teknik yang digunakan untuk mengatasi kesalahan tersebut adalah dengan memasang dua transducer receiver dan dua transducer transmiter paralel namun diletakkan terpisah pada jarak tertentu (Gambar 19).

4

Gambar 19. Pemasangan transducer paralel [1]

4. PEMBUATAN SIMULATOR GERAK

Simulator gerak dibuat untuk memperagakan dinamika gerak pitch suatu wahana terbang tertentu berdasarkan model matematikanya. Simulator gerak yang dibuat dapat dilihat pada Gambar 20.

Simulator ini terdiri dari 5 komponen yaitu:

  • 1. Model fisik
  • 2. Komputer (PC)
  • 3. Joystick
  • 4. Mikrokontroler PAH
  • 5. Sensor sudut ultrasonik

Masing-masing komponen dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Model fisik

Model fisik ini memodelkan body wahana yang dapat menunjukkan sikap pitch wahana tersebut. Material yang digunakan adalah kayu balsa karena (i) penggunaan simulator gerak ini hanya dalam skala laboratorium dan (ii) massa jenisnya yang rendah berimplikasi pada servo penggerak yang diperlukan cukup menggunakan servo standar.

2. Komputer (PC)

Komputer berfungsi memodelkan gerak wahana secara numerik berdasarkan model matematiknya. Input yang diperlukan adalah data defleksi elevator, sedangkan output yang dihasilkan PC adalah angka dan grafik gerak matra longitudinal (u, α, θ, q, dh).

Teknik seperti ini dapat mengatasi hilangnya sinyal kirim akibat kemiringan bidang pantul, namun kekurangannya adalah hanya berlaku untuk interval ketinggian tertentu saja.

Model matematika yang digunakan adalah persamaan diferensial linier diskrit menggunakan pendekatan Runge-Kutta orde-4 [5]. Dari output tersebut, data θ diteruskan pada hardware (model fisik) agar bergerak sesuai gerak pitch yang disimulasikan komputer. Transfer data yang digunakan adalah komunikasi serial port.

3. Joystick

Joystick digunakan sebagai input kendali wahana ketika dalam mode open loop. Dengan input joystick maka simulator dapat bergerak sesuai dengan sudut pitch wahana yang mendapat input defleksi elevator.

4. Mikrokontroler PAH

Mikrokontroler ini bertindak sebagai feedback gain pada sistem kendali otomatik PAH. Komponen ini mendapat input \(\theta\) dari komputer langsung atau dari sensor ultrasonik yang mengindera sudut pitch \(\theta\). Outputnya adalah perintah kendali untuk menggerakan elevator sesuai dengan perkalian antara \(\theta\) dengan gain \(K_{\theta}\) yaitu:

\[\delta_e = \theta K_\theta \tag{10}\]

5. Sensor sudut ultrasonik

Sensor sudut ultrasonik yang telah dibuat ditempelkan secara permanen pada model fisik agar dapat mengindera gerak sudut pitch model wahana.

5. PENGUJIAN

Pengujian sensor ultrasonik dilakukan dalam dua tahap yaitu:

  • 1. Pengujian statik
    • Pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera tinggi terbang
    • b. Pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut pitch
  • 2. Pengujian dinamik
    • a. Pengujian simulator gerak dengan sistem kendali otomatik PAH
    • b. Pengujian sensor ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH

Pengujian tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pengujian statik

Sensor ultrasonik sebagai pengindera tinggi terbang

Pengujian dilakukan dengan menempatkan sensor ultrasonik pada beberapa ketinggian dari lantai, kemudian angka yang ditampilkan dicatat. Ilustrasi pengujian ditampilkan pada Gambar 21 dan hasilnya dapat dilihat pada Gambar 22 dan 23.

Gambar 21. Pengujian altimeter ultrasonik [1]

Analisis:

Dari Gambar 22 terlihat bahwa sensor jarak ultrasonik dapat mengukur tinggi dengan baik mulai tinggi 60 cm sampai 700 cm dalam keadaan tegak lurus bidang pantul yang datar (lantai).

23

Gambar 22. Hasil pengujian altimeter ultrasonik secara tegak lurus [1]

Gambar 23 menunjukkan terjadinya perbedaan hasil pengukuran pada tinggi yang sama dengan simpangan maksimal yang bervariasi, simpangan di bawah 5 cm terjadi pada tinggi 55 cm sampai 400 cm, sedangkan pada tinggi kurang dari 55 cm atau lebih dari 400 cm simpangan yang terjadi melebihi 5 cm. Kesalahan yang terjadi tidak linier dengan tinggi terbang yang diukur. Persentase kesalahan yang terjadi pada ketinggian rendah sangat besar (sekitar 9%), sedangkan pada ketinggian sekitar 400 cm cukup kecil (sekitar 1,25%) Hal ini mungkin disebabkan adanya noise pada penerimaan sinyal sensor ultrasonik selama proses pengukuran.

26

Gambar 23. Pengujian altimeter ultrasonik dengan kemiringan terhadap bidang pantul [1]

Kemiringan maksimal dimana sensor ultrasonik masih dapat digunakan untuk mengukur tinggi terbang dengan benar (kesalahan di bawah 3 cm) berada kemiringan sekitar 25 derajat ke kanan dan 25 derajat ke kiri, pada posisi tinggi 60 cm sampai 150 cm. Pada posisi tinggi lebih dari 150 cm kemiringan maksimal menurun sampai posisi tinggi 400 cm. Pada posisi tinggi lebih dari 400 cm sensor jarak ultrasonik hanya dapat mengukur pada keadaan tegak lurus bidang pantulnya. Hal ini disebabkan pola kekuatan pancaran gelombang ultrasonik cenderung searah dengan arah pancarannya dan melemah pada arah lainnya.

b. Pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut pitch

Pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut pitch dilakukan pada sebuah batang puji yang dimiringkan. Ilustrasi dan hasil pengujian dapat dilihat pada Gambar 24 dan 25.

2

Gambar 24. Pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut pitch [1]

4

Gambar 25. Hasil pengujian sensor ultrasonik sebagai pengindera sudut pitch [1]

Analisis:

  • Sensor sudut ultrasonik secara umum mampu mengikuti kemiringan batang uji, namun masih terdapat kesalahan pengukuran.
  • Kesalahan maksimal yang terjadi sekitar 3 derajat. Angka ini cukup besar untuk sebuah alat pengukur sudut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperbaiki kekurangan ini.

2. Pengujian Dinamik

a. Pengujian simulator gerak dengan sistem kendali otomatik PAH

Pengujian simulator gerak melibatkan komputer sebagai model dari gerakan wahana yang disimulasikan. Model matematika yang digunakan pada simulasi ini adalah sebagai berikut [6]:

Persamaan tingkat keadaan:

\[\dot{x} = Ax + Bu \tag{11}\]

Atau

dimana:

\[A = \begin{bmatrix} -0.0326 & -0.0909 & -0.2803 & 0 & 0 \\ -0.5607 & -3.3108 & -0.0495 & 7.9938 & -0.0105 \\ 0 & 0 & 0 & 7.9938 & 0 \\ 0 & -3.4688 & -0.5838 & -14.9674 & -0.0076 \\ 0 & 51.4 & -51.4 & 0 & 0 \end{bmatrix}\] \[B = \begin{bmatrix} 0 \\ -0.1815 \\ 0 \\ -3.3386 \\ 0 \end{bmatrix}\] (13)

Model sistem kendali otomatik lingkar tertutup yang digunakan diberikan pada Gambar 26, dimana \(K_t = -3\).

19

Gambar 26. Blok diagram sistem kendali otomatik PAH [6]

Ilustrasi dan hasil pengujian dapat dilihat pada Gambar 27 dan 28.

Gambar 27. Pengujian dinamika sistem kendali otomatik PAH skala laboratorium [1]

Analisis:

Hardware sistem kendali otomatik PAH yang dibuat mampu meredam simpangan sudut pitch yang terjadi pada t = 4 detik

0

Gambar 28. Hasil pengujian simulator gerak dengan sistem kendali otomatik PAH [1]

  • o Pada simulasi closed loop untuk t > 4 terjadi fluktuasi kecil pada sudut pitch yang terus menerus hal ini karena sistem kendali otomatik PAH selalu mengoreksi secara aktif setiap saat.
    • b. Pengujian sensor ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH

Pengujian ini sama dengan pengujian 2a di atas, dengan penambahan feedback yang digunakan bukan berupa data sudut pitch dari komputer melainkan data sudut pitch dari sensor sudut ultrasonik yang dipasang pada model fisik simulator gerak. Ilustrasi dan hasil pengujian dapat dilihat pada Gambar 29 dan 30.

Gambar 29. Pengujian sensor ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH [1]

Analisis:

o Sudut pitch masih berada di sekitar nol derajat. Meskipun demikian, fluktuasi yang terjadi masih sangat besar (sekitar 20 derajat), sehingga dapat dikatakan bahwa sensor sudut ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH belum mampu meredam simpangan sudut pitch dengan baik. Hal ini bisa terjadi akibat kekurangakuratan sensor ultrasonik dalam mengindera sudut sikap wahana pada simulator gerak. Kesalahan ini mungkin juga diakibatkan oleh akumulasi distorsidistorsi yang terjadi pada masing-masing unit hardware yang belum sempurna.

9

Gambar 30. Hasil pengujian sensor ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH [1]

o Terlihat juga fenomena seperti bang-bang controller karena defleksi bidang kendali elevator terlihat berubah dari sudut maksimal (25 derajat) ke sudut minimal (-25 derajat) secara berulang ulang. Hal ini bisa diakibatkan oleh gain yang terlalu besar, sehingga perlu dilakukan percobaan tambahan dengan gain feedback yang lebih kecil.

Pada riset ini telah dicoba penggunaan gain 1/4 kali dari gain semula, yaitu dengan mengalikan input defleksi elevator yang diterima software simulator gerak pada PC dengan angka 1/4. Selain itu, batas maksimal defleksi bidang kendali elevator dikurangi menjadi -10 derajat sampai +10 derajat. Hasilnya ditampilkan dalam Gambar 31.

Analisis:

  • o Pada percobaan tambahan ini terlihat bahwa sensor ultrasonik dengan feedback gain Kt = 0,75 mampu meredam simpangan sudut pitch yaitu 4 derajat di awal gangguan dan 1 derajat setelah gangguan awal.
  • o Pada simulasi ini terlihat juga sensor ultrasonik mampu mempertahankan tinggi terbang di sekitar harga referensi (hreff=3m), namun dengan simpangan yang masih cukup besar yaitu 2 m di awal gangguan dan di bawah 1 m setelah gangguan awal.
16

Gambar 31. Hasil pengujian sensor sudut ultrasonik sebagai feedback pada sistem kendali otomatik PAH dengan Kt = -0,75 [1]

6. KESIMPULAN

  • 1. Sensor tinggi terbang berbasis ultrasonik telah dapat dibuat dengan hasil penginderaan sebagai berikut:
    • a) Kemampuan mengukur jarak minimal 55 cm, maksimal sekitar 700 cm tegak lurus bidang pantul. Kurang dari 55 cm atau lebih dari 700 cm altimeter ultrasonik tidak mampu mengindera dengan cukup akurat.
    • b) Satuan terkecil 1 cm merupakan batasan tampilan yang dibuat.
    • c) Kesalahan rata-rata pada rentang 55 sampai 400 cm adalah 3 cm. Untuk rentang jarak 500 sampai 700 cm rata-rata kesalahan adalah 16 cm atau sekitar 3%.
    • d) Sensor ultrasonik hanya dapat mengukur pada bidang pantul dengan kemiringan maksimal 20 derajat pada rentang 60 sampai 200 cm. Kemiringan maksimal ini berkurang sampai 0 derajat pada tinggi 400 cm.
  • 2. Sensor sudut sikap berbasis ultrasonik telah dapat dibuat dengan hasil penginderaan sudut dalam keadaan statis sebagai berikut:
    • a) Kemampuan mengindera pada rentang -30 sampai 30 derajat.
    • b) Dalam kasus ini dengan L = 1 m, dan input data tinggi dari altimeter ultrasonik memiliki satuan terkecil 1 cm menyebabkan satuan display sudut terkecil 1 derajat.
    • c) Kesalahan rata-rata sebesar 1,17 derajat. Kesalahan ini tidak linier terhadap besar sudut dan terjadi merata pada setiap sudut.
    • d) Kesalahan maksimal 3 derajat belum dapat dikatakan baik karena noise pengukuran cukup besar akibat keterbatasan komponen transducer ultrasonik dalam mengindera sinyal pada bidang pantul yang miring.
  • 3. Pengujian sensor sudut ultrasonik sebagai feedback pada simulator gerak sistem kendali otomatik PAH telah dilakukan dengan hasil sebagai berikut:

  • a) PC yang dipakai dapat menjalankan simulasi dan mengolah data input menjadi output dalam 0,1 detik.
  • b) Simulator gerak dapat memperagakan gerak pitch antara -35 derajat sampai +35 derajat dengan akurasi 1 derajat.
  • c) Selama simulasi, sudut pitch berada di sekitar nol dengan simpangan di bawah 25 derajat. Hal ini menunjukkan bahwa sensor sudut ultrasonik belum mampu menjadi feedback yang baik bagi sistem kendali otomatik PAH karena kesalahan sebesar 25 derajat akan dapat mengakibatkan lintas terbang wahana menyimpang cukup jauh.
  • d) Pada percobaan tambahan dengan nilai Kt 1/4 harga Kt sebelumnya dan batas maksimal defleksi elevator dikurangi menjadi -10 derajat sampai 10 derajat, terlihat bahwa sensor sudut pitch ultrasonik mampu meredam gangguan dengan simpangan sudut pitch 5 derajat di awal gangguan dan 1 derajat setelah gangguan awal. Terlihat juga simpangan tinggi terbang sebesar 2 m di awal gangguan dan kurang dari 1 m setelah gangguan awal.

References

  1. U.M. Zaeny, Pembuatan dan Pengujian Sensor
  2. Ultrasonik sebagai Feedback pada Sistem Kendali
  3. Otomatik Pitch Attitude Hold, Thesis, Teknik
  4. Penerbangan ITB, 2006.
  5. M.N. Syaefullah, Perancangan dan Implemen-tasi
  6. Proximity Meter Berbasis Mikrokontroler
  7. At89c2051, Tugas Akhir, Fisika, FMIPA ITB, 2003.
  8. http://www.interq.or.jp/japan/se-inoue/esrm.htm,
  9. Circuit explanation of Ultrasonic Range Meter Unit,
  10. Maret 2003.
  11. A.E. Putro, Belajar Mikrokontroler AT89C51/52/ 55
  12. Teori dan Aplikasi, Gava Media Yogyakarta, 2000.
  13. E. Kreyzig, Advanced Engineering Mathematics, 8th
  14. Edition, John Wiley & Son Inc, 1999.
  15. S.D. Jenie, Catatan Kuliah Teknik Kendali Terbang
  16. , Teknik Penerbangan, ITB, 1991.