1 Pendahuluan
Dalam analisis struktur laik tabrak kendaraan darat, dimana selama tabrakan struktur kendaraan umumnya mengalami deformasi secara dinamik, diperlukan data sifat mekanik material pada laju regangan 1 s<sup>-1</sup> hingga 105 s<sup>-1</sup> [1] agar mendapatkan hasil prediksi respon struktur dengan tingkat akurasi yang baik. Pengujian sifat material hingga laju regangan 100 s<sup>-1</sup> dapat dilakukan menggunakan mesin uji hidrolik sedangkan untuk laju regangan yang lebih tinggi biasanya digunakan sistem Split Hopkinson Bar [2]. Makalah ini melaporkan uji tarik uniaksial material Mild Steel St37 dan High Strength Steel CR420LA guna mendapatkan sifat mekanik kedua material tersebut pada laju regangan hingga 100 s<sup>-1</sup>. Tiap material diuji pada kondisi kuasi-statik (laju regangan menengah, yaitu 0.1 s<sup>-1</sup>, 1 s<sup>-1</sup>, 10 s<sup>-1</sup>, dan 100 s<sup>-1</sup>, untuk mengkaji efek laju regangan terhadap sifat mekanik dua material tersebut.
Semua uji tarik dilakukan di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Korea Selatan. Uji kuasi-statik dilakukan menggunakan INSTRON STATIC UTM 5583 dengan kapasitas beban maksimum 150 kN dan kecepatan cross head maksimum 8.3 mm s-1 , sedangkan uji tarik dinamik dilakukan menggunakan High Speed Material Testing Machine (HSMTM) milik Computational Solid Mechanics and Design (CSMD) Laboratory dengan kapasitas beban maksimum 30 kN dan kecepatan crosshead maksimum 7800 mm s-1 .
2 Kurva Tegangan-Regangan dan Laju Regangan
Beberapa material memiliki sensitivitas terhadap laju regangan, yaitu menunjukkan respon yang berbeda ketika dibebani secara dinamik dengan laju regangan berbeda. Gambar 1 menunjukkan kurva tegangan-regangan hasil uji tekan untuk material yang sensitif terhadap laju regangan (titanium) dan yang tidak sensitif (aluminum). Perbedaan respon ini disebabkan oleh adanya slip yang muncul akibat gerak dislokasi dimana mekanisme ini dominan untuk aliran plastis pada material logam [3]. Jika pengaruh laju regangan tidak dimasukkan dalam analisis, maka prediksi kinerja struktur kendaraan yang didesain menjadi tidak akurat. Akibatnya penyerapan energi jika terjadi tabrakan tidak seperti yang telah dirancang dan dapat membahayakan penumpang kendaraan.

Gambar 1 Kurva tegangan (ksi)-regangan hasil uji tekan dinamik untuk: (a) Titanium 6A1-4V dan (b) Aluminum 6061-T6 [4].
3 Prosedur Pengujian
3.1 Spesimen
Ukuran spesimen uji tarik yang digunakan ditunjukkan pada Gambar 2. Spesimen dibuat mengikuti standar geometri yang dikembangkan oleh CSMD [5,6]. Ketebalan spesimen St37 adalah 1.15 mm dan untuk CR420LA 1.5 mm. Pada tiap laju regangan, pengujian dilakukan menggunakan 3 spesimen, kecuali pengujian material St37 pada laju regangan 10 s-1 yang menggunakan 6 spesimen. Pada awalnya semua spesimen dibuat di Indonesia, namun spesimen St37 kemudian dibuat ulang di Korea Selatan karena geometri spesimen St37 yang dibuat di Indonesia kurang baik dan dapat mempengaruhi hasi pengujian.

Gambar 2 Ukuran spesimen uji tarik [5].

Gambar 3 Mesin uji tarik kuasi-statik.
3.2 Uji Tarik Kuasi-Statik
Gambar 3 menunjukkan setup eksperimen dimana spesimen dipasang pada grip atas dan bawah mesin uji tarik. Untuk mendapat laju regangan 0.001 s-1 , upper
head digerakkan ke atas dengan kecepatan 0.03 mm s-1 . Data gaya tarik dideteksi menggunakan load cell yang terpasang pada mesin, sedangkan pertambahan panjang spesimen diukur menggunakan INSTRON 25 mm Strain Gauge Extensometers yang dipasang di bagian tengah spesimen. Data gaya dan perpindahan kemudian diproses menjadi kurva engineering stress-engineering strain.
3.3 Uji Tarik Dinamik
Setup uji tarik dinamik ditunjukkan pada Gambar 4. Kecepatan crosshead mesin uji tarik diatur berdasarkan besar laju regangan dan geometri spesimen. Data beban terhadap waktu direkam menggunakan load cell yang terdapat pada mesin uji dan dicuplik dengan sampling rate yang cukup. Data perpindahan terhadap waktu diperoleh menggunakan kamera kecepatan tinggi Photron FASTCAM SA4. Untuk mengolah data perpindahan menjadi regangan, digunakan metode Korelasi Citra Digital (KCD). Untuk itu spesimen uji tarik dinamik dicat dengan latar belakang putih dan speckles hitam. Sebuah komputer digunakan untuk merekam dan mensinkronkan data beban dan kamera. Tabel 1 menunjukkan kecepatan, laju sampling data dan kecepatan kamera pada tiap pengujian.
Data regangan terhadap waktu diperoleh dengan cara mengubah video menjadi gambar-gambar menggunakan perangkat lunak Phantom 630 dilanjutkan dengan menganalisa kumpulan gambar tersebut menggunakan perangkat lunak ARAMIS v6.3.0. Data tegangan terhadap waktu diperoleh dari data gaya tiap saat dibagi dengan penampang spesimen. Dengan melakukan sinkronisasi waktu terhadap data tegangan dan regangan, maka didapat kurva tegangan-regangan. Data yang didapat dari setiap proses yang dilakukan diilustrasikan oleh Gambar 5.
Tabel 1 Pengaturan kecepatan, sampling rate data gaya dan kamera.
| Laju regangan (s-1 ) | Kecepatan (mm s-1 ) | Load cell (data s-1 ) | Kamera (FPS) |
|---|---|---|---|
| 0.1 | 3 | 1000 | 125 |
| 1 | 30 | 10000 | 1000 |
| 10 | 300 | 100000 | 5000 |
| 100 | 3000 | 500000 | 12500 |
Gambar 4 (a) Mesin uji tarik dinamik dan (b) spesimen uji yang diberi speckles.

Gambar 5 Urutan data dalam proses pembuatan kurva tegangan-regangan.
4 Hasil dan Diskusi
Uji tarik dilakukan untuk semua spesimen hingga putus. Gambar 6 menunjukkan spesimen St37. Pada posisi paling kiri ditunjukkan contoh salah satu spesimen sebelum pengujian dan di sebelahnya semua spesimen setelah pengujian pada berbagai laju regangan. Gambar 7 menunjukkan hal yang sama untuk spesimen CR420LA. Dapat dilihat bahwa lokasi putus spesimen terjadi di daerah yang berbeda-beda.
Tabel 2 dan 3 menunjukkan luas penampang setiap spesimen yang didapat berdasarkan pengukuran lebar dan tebal spesimen pada 3 posisi: atas (U), tengah (M), dan bawah (L) menggunakan jangka sorong. Perbedaan penampang spesimen aktual terhadap penampang spesimen rata-rata untuk St37 adalah maksimum 1.6% dan untuk CR402LA maksimum 4.6%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas geometri spesimen cukup baik dan dapat diterima.

Gambar 6 Spesimen St37 setelah uji tarik.
Tabel 2 Luas penampang dan daerah putus spesimen St37.
| NI. | Ci | \(A \text{ (mm}^2)\) | Daerah | ||
|---|---|---|---|---|---|
| No. | Spesimen | U | М | L | Putus |
| 1 | MS-QS-1 | 6.90 | 6.90 | 6.88 | M |
| 2 | MS-QS-2 | 6.90 | 6.84 | 6.85 | M |
| 3 | MS-QS-3 | 6.94 | 6.95 | 6.95 | M |
| 4 | MS-D0.1-1 | 6.95 | 6.96 | 6.96 | M |
| 5 | MS-D0.1-2 | 6.79 | 6.81 | 6.79 | M |
| 6 | MS-D0.1-3 | 6.84 | 6.88 | 6.88 | M |
| 7 | MS-D1-1 | 6.79 | 6.83 | 6.84 | M |
| 8 | MS-D1-2 | 6.89 | 6.90 | 6.90 | M |
| 9 | MS-D1-3 | 6.93 | 6.88 | 6.89 | U |
| 10 | MS-D10- | 6.93 | 6.96 | 7.02 | U |
| 11 | MS-D10-1 | 6.90 | 6.90 | 6.90 | U |
| 12 | MS-D10-2 | 6.95 | 6.97 | 7.03 | L |
| 13 | MS-D10-3 | 6.97 | 6.96 | 6.97 | L |
| 14 | MS-D10-4 | 6.84 | 6.84 | 6.84 | L |
| 15 | MS-D10-5 | 6.83 | 6.89 | 6.90 | U |
| 16 | MS-D100-1 | 6.91 | 6.89 | 6.90 | L |
| 17 | MS-D100-2 | 6.90 | 6.89 | 6.89 | L |
| 18 | MS-D100-3 | 6.89 | 6.90 | 6.89 | M |
Penampang yang paling kecil untuk tiap spesimen ditandai dengan font tebal. Lokasi penampang minimum pada tiap spesimen kemudian dibandingkan dengan lokasi putusnya spesimen, dimana lokasi putus yang sesuai dengan lokasi penampang minimum dituliskan dengan font tebal. Terlihat bahwa
spesimen putus tidak selalu pada lokasi dengan penampang minimum. Untuk St37, hanya 6 dari 18 spesimen yang putus di daerah penampang minimum dan 12 sisanya tidak. Hal ini kemungkinan terjadi akibat pengaruh faktor lain seperti cacat mikroskopik, dudukan spesimen, atau pemasangan spesimen pada mesin uji. Untuk CR420LA, penampang spesimen lebih seragam seperti terlihat pada Tabel 3. Proses pemesinan spesimen CR420LA lebih baik daripada St37. Hal ini bisa menjelaskan lebih banyak kesesuaian antara lokasi putus dengan lokasi penampang minimum. 11 dari 15 spesimen putus di daerah minimum.

Gambar 7 Spesimen CR420LA setelah uji tarik.
Tabel 3 Luas penampang dan daerah putus spesimen CR420LA.
| No | Kode Spesimen | A (mm2 | Daerah | ||
|---|---|---|---|---|---|
| U | M | L | Putus | ||
| 1 | HSS-QS-1 | 9.05 | 9.06 | 9.05 | M |
| 2 | HSS-QS-2 | 9.03 | 9.03 | 9.03 | M |
| 3 | HSS-QS-3 | 9.02 | 9.05 | 9.05 | M |
| 4 | HSS-D0.1-1 | 9.03 | 9.03 | 9.03 | M |
| 5 | HSS-D0.1-2 | 9.05 | 9.03 | 9.03 | M |
| 6 | HSS-D0.1-3 | 9.03 | 9.03 | 9.03 | M |
| 7 | HSS-D1-1 | 9.06 | 9.06 | 9.06 | L |
| 8 | HSS-D1-2 | 9.06 | 9.05 | 9.05 | L |
| 9 | HSS-D1-3 | 9.02 | 9.03 | 9.05 | M |
| 10 | HSS-D10-1 | 8.65 | 8.71 | 8.76 | U |
| 11 | HSS-D10-2 | 9.03 | 9.03 | 9.03 | L |
| 12 | HSS-D10-3 | 9.03 | 9.03 | 9.02 | L |
| 13 | HSS-D100-1 | 9.05 | 9.03 | 9.05 | L |
| 14 | HSS-D100-2 | 9.06 | 9.06 | 9.05 | L |
| 15 | HSS-D100-3 | 9.05 | 9.05 | 9.05 | L |
Tidak semua pengujian menghasilkan data yang dapat diolah. Untuk spesimen St37 terdapat 4 spesimen yang datanya tidak dapat terekam akibat kegagalan perekaman video, kegagalan perekaman data gaya dan data yang jauh berbeda dibandingkan dengan data lainnya (out-liar). Untuk spesimen CR420LA, terjadi kegagalan perekaman video pada uji tarik dengan laju regangan 1 s-1 sehingga data untuk laju regangan ini tidak didapat.
Kurva engineering stress-strain untuk kondisi kuasi-statik dan dinamik ditunjukkan pada Gambar 8 dan 9. Dari kurva yang untuk uji kuasi-statik, sifat dasar mekanik material St37 dan CR420LA dapat ditentukan, sebagaimana ditunjukkan berturut-turut pada Tabel 4 dan 5. Kedua tabel menunjukkan bahwa untuk kedua material didapat dua yield strength, upper (yu) dan lower (yl). Nilai yield strength yang lebih rendah dipilih sebagai acuan untuk mendapatkan prediksi respon struktur yang lebih konservatif. Kedua tabel juga menunjukkan bahwa sifat mekanik kedua material yang diperoleh konsisten, kecuali Modulus Young (E) yang agak berbeda antara satu dengan lainnya. Untuk material St37, dengan merujuk pada data St37 hasil penelitian Santosa [7], didapat perbedaan Modulus Young antara 5%-20% dan perbedaan yield strength antara 5%-9%. Untuk CR420LA, perbedaan Modulus Young dengan referensi antara 12%-55% dan perbedaan yield strength antara 10%-12%.

Gambar 8 Engineering stress-engineering strain material St37 pada berbagai laju regangan.
Selanjutnya, dengan membuat plot harga yield strength kedua material terhadap laju regangan (dalam skala logaritmik), dapat dilihat pada Gambar 10 dan 11 bahwa yield strength material semakin tinggi dengan meningkatnya laju
regangan. Kenaikan yield strength untuk St37 terlihat lebih besar dibandingkan dengan kenaikan yield strength CR420LA.

Gambar 9 Engineering stress-engineering strain material CR420LA pada berbagai laju regangan

Gambar 10 Yield strength St37 yang didapat pada berbagai laju regangan.

Gambar 11 Yield strength CR420LA yang didapat pada berbagai laju regangan.
Tabel 4 Sifat mekanik St37 (kuasi-statik).
| Spesimen E (GPa)σyu (GPa)σyl (GPa)σu (GPa)σf (GPa)εf (%) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| MS-QS-1 | 222 | 0.29 | 0.27 | 0.35 | 0.24 | 0.46 |
| MS-QS-2 | 240 | 0.29 | 0.27 | 0.35 | 0.25 | 0.40 |
| MS-QS-3 | 210 | 0.30 | 0.26 | 0.35 | 0.24 | 0.39 |
| RSt37 [7] | 200 | 0.25 |
Tabel 5 Sifat mekanik CR420LA (kuasi-statik).
| Spesimen | E (GPa)σyu (GPa)σyl (GPa)σu (GPa)σf (GPa)εf (%) | |||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| HSS-QS-1 | 309 | 0.49 | 0.47 | 0.57 | 0.40 | 0.31 |
| HSS-QS-2 | 223 | 0.48 | 0.47 | 0.57 | 0.42 | 0.28 |
| HSS-QS-3 | 250 | 0.50 | 0.46 | 0.57 | 0.40 | 0.28 |
| Ref | 200 | 0.42 |
5 Kesimpulan
Efek laju regangan terhadap kekuatan Mild Steel St37 and High Strength Steel CR420LA telah dievaluasi menggunakan uji tarik. Sifat mekanik kedua material sensitif terhadap laju regangan, dimana kekuatan kedua material semakin tinggi dengan meningkatnya laju regangan yang dialami kedua material tersebut.
Acknowledgement
Penelitian ini terselenggara berkat dukungan dana dari Direktorat Jendral Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia melalui program Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi 2015-2016. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Prof. Hoon Huh dari Computational Solid Mechanics and Design Laboratory-Korea Advanced Institute of Science and Technology (CSMD Lab-KAIST) yang telah memfasilitasi pengujian tarik kuasi-statik dan dinamik.
