1 Pendahuluan
Buku pada Gambar 1 yang diterbitkan pada awal tahun 2017 merupakan kumpulan dari enam makalah, yang ditulis dari tahun 1991 sampai dengan 2016, dengan judul yang berkaitan dengan pendidikan teknik, penelitian, pengembangan insinyur profesional, penguasaan teknologi, dan otonomi perguruan tinggi. Semua makalah tersebut dipilih dan dihimpun menjadi satu karena masalah yang dibahas merupakan informasi yang berkaitan dengan pembinaan modal insani (SDM), baik di perguruan tinggi maupun industri, penguasaan teknologi, pengembangan kemampuan penelitian dan hal lain yang berkaitan dengan pertumbuhan industri. ITB sebagai perguruan tinggi teknologi tentu saja bercita-cita untuk terus berkontribusi pada pembangunan industri di tanah air tercinta
ini. Oleh karena itu, judul buku tersebut kemudian kami namakan sebagai Bagian dari Strategi Menghindari Middle Class Trap atau Middle Income Trap. Sebenarnya isi buku tersebut tidak mudah untuk dicerna oleh mereka yang tidak berada di dunia pendidikan teknik (khususnya Teknik Mesin), di dunia riset atau berkarier sebagai insinyur profesional. Namun, gambaran secara menyeluruh perlu diketahui supaya cita-cita tinggi Melampaui Jebakan Pendapatan Menengah ini bisa dilaksanakan.
Gambar 1 Buku Kontribusi ke ITB (2017)
- 1. Penyiapan Sumber Daya Manusia untuk Penguasaan dan Pengembangan Teknologi (1991)
- 2. How Should We Educate Our Engineers? (1995)
- 3. Toward Research University (2007)
- 4. Masa Depan Pendidikan Teknik Mesin di Indonesia (2008)
- 5. Pendidikan Tinggi Teknik dan Pengembangan Industri; Ultra-Marathon menuju 17000 US Dollar per Kapita (2016)
- 6. Otonomi Perguruan Tinggi—Suatu Perspektif (2001)
Tantangan untuk bisa Melampaui Jebakan Pendapatan Menengah memang kompleks dan rumit, tetapi harus dihadapi dengan optimis, kepala tegak, serta dua kaki tetap menginjak bumi. Kita semua harus
berkontribusi bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dengan semangat tidak henti membangun negeri. Kontribusi bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya menulis makalah atau buku, melakukan diskusi via media sosial, ataupun dengan memberikan contoh tindakan nyata dalam profesi atau pekerjaan di bidang masing-masing. Kata kuncinya adalah fokus dan mutu.
2 Proyeksi Pendapatan Per Kapita
Mendiskusikan Pendapatan Menengah sudah barang tentu akan berkaitan dengan pendapatan per kapita dari penduduk suatu negara serta berkorelasi dengan standar Pendapatan Rendah atau Tinggi yang telah dipublikasikan oleh institusi seperti Bank Dunia atau IMF. Gambar 2 adalah ilustrasi proyeksi pendapatan per kapita sampai dengan tahun 2045 yang diperoleh dari data ekonomi Indonesia. Tim Bappenas (2018) membuat dua skenario proyeksi, skenario dasar dan tinggi. Kurva dari Bappenas cukup dekat dengan proyeksi yang pernah kami hitung (D. Suharto et al., 2017). Kami menggunakan "perkiraan teknik" (engineering judgment) dan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti lingkungan, penyediaan energi, dampak perkembangan teknologi, konektivitas negara kepulauan, demografi, tingkat pendidikan, serta budaya kita. Proyeksi dibuat dengan asumsi pertumbuhan moderat dan beberapa simplifikasi yang logis dan tentu saja berbeda dengan proyeksi tim Bappenas yang menggunakan model lebih lengkap.

Gambar 2 Proyeksi Pendapatan per Kapita Indonesia (dari berbagai sumber)
Membuat proyeksi pengembangan ekonomi jangka panjang tidaklah mudah dan kita juga tidak bisa mendahului kehendak Allah Swt. Proyeksi perkembangan ekonomi hanyalah suatu media untuk perencanaan ke depan yang mengilustrasikan tantangan untuk lebih maju dan sejahtera. Data pendapatan per kapita aktual di tahun 2014 sampai dengan 2017 dari Bank Dunia (titik bulat hijau) memang mendekati kurva proyeksi dari Bappenas dan hasil perhitungan kami, tetapi 5, 10, 20, dan 25 tahun yang akan datang banyak hal bisa berubah termasuk kemungkinan krisis yang harus diantisipasi dan dihindari.
Mengacu pada proyeksi dari Bappenas dan batas pendapatan kelas menengah dari Bank Dunia (garis putus-putus-12.500 US Dollar) terlihat bahwa Indonesia mungkin bisa masuk Pendapatan Tinggi pada kurun waktu 2035 sampai dengan 2040 atau kira-kira 20 tahun lagi. Memang menarik untuk melihat kecenderungan tersebut. Kami juga memperoleh data dari perhitungan proyeksi PricewaterhouseCoppers (PwC) yang memasukkan faktor Power Purchasing Parity (PPP). Dengan menggunakan faktor PPP, terlihat bahwa saat ini pun pendapatan per kapita kita sudah mendekati Pendapatan Tinggi karena ada faktor pengali PPP sekitar tiga kali. Apa pun ukurannya, kami optimis Indonesia suatu saat bisa lebih sejahtera. Dalam berbagai kesempatan, kami menyatakan bahwa Indonesia memang sudah masuk kategori negara yang tidak miskin, tetapi belum kaya. Tantangan ke depan adalah menuju pendapatan antara terlebih dahulu, 7.000 sampai dengan 8.000 US Dollar (nominal) per kapita atau dua kali PDB saat ini. Target antara ini pun tidak mudah untuk dicapai apabila melihat suasana perkembangan ekonomi dunia akhir-akhir ini. Perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan Cina, masalah penyediaan energi, pembangunan infrastruktur, pelestarian lingkungan, perkembangan teknologi, demografi, serta arsitektur pendidikan yang tepat untuk generasi muda Indonesia merupakan faktor-faktor yang tentu saja sangat berpengaruh untuk perkembangan ekonomi di masa depan.
3 Pemerataan Pendapatan dan Perubahan Pola Pikir
Seperti telah dikemukakan dalam pengantar, masalah yang mendasar sebenarnya bukan ukuran pendapatan per kapita saja. Ketimpangan kekayaan dan pendapatan di Indonesia merupakan isu yang perlu mendapat perhatian. Sebagai contoh, walaupun berada di negara kapitalis dan merupakan pencetus banyak usahawan teknologi yang telah berhasil membangun perusahaan bernilai pasar jutaan atau miliar dolar, Massachusetts Institute of Technology/MIT, universitas swasta yang terkenal di Amerika Serikat, ternyata juga merupakan teladan dalam berbagi ilmu dan teknologi via kuliah daring dan penganjur falsafah Copy Left.
Dalam ilmu ekonomi, koefisien Gini digunakan sebagai ukuran ketimpangan. Dalam laporan PwC tahun 2017 (halaman 46) dinyatakan bahwa koefisien Gini Indonesia (data tahun 1980 dan 2015) lebih tinggi daripada Jerman dan Inggris. Hal ini bisa dipahami karena kedua negara tersebut adalah penganut falsafah sosial demokrat. Data yang lain, koefisien Gini Indonesia lebih tinggi daripada India dan Amerika Serikat, masih perlu diverifikasi lebih lanjut. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dalam tiga tahun terakhir, terjadi penurunan koefisien Gini di Indonesia dari 0,393 (2016) ke 0,391 (2017) dan akhirnya ke 0,389 pada tahun 2018. Usaha penurunan Koefisien Gini dari pemerintah ini pantas untuk dihargai. Untuk usaha pemerataan lebih lanjut, kelihatannya kita harus menerawang lebih jauh ke depan dan ikut memberikan saran supaya masalah ini ditangani dengan lebih fokus dan serius.
Sebenarnya ada suatu hal yang sangat menggembirakan dan membuat optimis. Masalah ketimpangan akan bisa ditangani dengan lebih baik apabila ada perubahan pola pikir. Salah satu alumnus Teknik Mesin ITB yang terhormat Bapak T.P. Rachmat dalam buku beliau, T.P. Rachmat On Excellence (Gambar 3), memberikan tema pada sampul depan bukunya "Less for self, more for others, and enough for everyone". Anjuran yang sangat mulia, tetapi tidak mudah dalam penerapannya.
Bapak T.P Rachmat, alumnus tahun 1961, adalah salah satu pendiri serta pengembang perusahaan Astra. Beliau juga termasuk orang terkaya di Indonesia dan saat ini juga menjadi anggota kehormatan Majelis Wali Amanat ITB. Kontribusi dari Bapak T.P. Rachmat dalam pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sudah tidak terhitung lagi. ITB baru saja memberikan penghargaan doktor kehormatan kepada beliau. Anjuran beliau apabila diterapkan akan berdampak sangat luas serta akan menurunkan koefisien Gini serta merupakan implementasi nyata dari Sila ke-5 Pancasila.
Anjuran ini juga merupakan jawaban dari kritik yang dikemukakan oleh Prof. Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda, salah satu anggota penasihat pemerintah Jepang yang diperbantukan kepada Presiden Megawati (Kompas, 24 Mei, 2002). Kritik Prof. Kinoshita cukup tajam dan terbuka. Beliau menyatakan sebagai berikut:
Gambar 3 Tema Buku Bapak T.P Rachmat
"Masyarakat Indonesia hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berpikir panjang. Hal ini menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan Cina dan negaranegara Asia lain dalam perebutan investasi, percaturan ekonomi, dan perdagangan global. Karakteristik seperti ini bukan hanya terlihat di kalangan masyarakat dari semua lapisan, melainkan juga politisi dan pejabat pemerintahnya".
Selanjutnya Prof. Kinoshita juga memberikan kritik tajam untuk pembangunan insani (SDM) di Indonesia:
"Dibandingkan dengan Cina dan sejumlah negara Asia lain, sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonominya. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Dalam beberapa hal, pemerintah juga dinilai lamban dalam membuat kemajuan".
Sebagai penutup dari tulisan ini, kami menyimpulkan bahwa tantangan kita dalam kurun waktu 10 tahun mendatang adalah menaikkan pendapatan per kapita serta mengurangi ketimpangan pendapatan dan kekayaan pada komunitas kita. Dalam tulisan selanjutnya akan dibahas tiga topik besar, yaitu pembangunan modal insani (SDM), cara menumbuhkan iklim inovasi, khususnya dalam inovasi teknologi, dan pengelolaan atau manajemen finansial yang lebih cerdik.
4 Referensi
- [1] Goestiandi, E. & Berny Gomulya, T.P. Rachmat, Excellence, Jakarta: Gramedia Pusaka Utama, 2018.
- [2] Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dalam paparan: Indonesia 2045, Berdaulat, Maju, Adil, dan Makmur, 2018.
- [3] Kinoshita T., Masyarakat Indonesia Tidak Pernah Berpikir Panjang, Berita Kompas (24 Mei 2002).
- [4] PricewaterhouseCoopers LLP, The Long View: How Will the Global Economic Order Change by 2050? www.pwc.com, February 2017.
- [5] Suharto, D. (Budiman, B.A., editor), Sumbangan Pemikiran: Pendidikan Teknik, Penelitian, Pengembangan Insinyur Profesional, Penguasaan Teknologi, dan Otonomi Perguruan Tinggi; Bagian dari Strategi Menghindari Middle Class Trap. Bandung: Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Maret 2017.
- [6] World Bank National Accounts Data, http:data.worldbank.org (diakses pada tanggal 21 Januari 2019).
