1. Pendahuluan
Kota Medan terletak ±80 km dari garis patahan aktif strike-slip Sumatera dan juga ±300 km dari bidang pertemuan 2 lempeng besar tektonik bumi, Indo-Australia dan Eurasia. Tidak ditemukan patahan aktif yang melintasi kota ini. Namun demikian intensitas getaran yang dirasakan, kejadian demi kejadian, menunjukkan tren peningkatan yang signifikan (USGS, 2005). Sumber permasalahan ini kemungkinan berasal dari gelombang berperioda tinggi yang dihasilkan oleh gempa jauh yang bersumber dari patahan besar Sumatera dan zona subduksi Sumatera, dimana tercatat pernah terjadi gempa raksasa berkekuatan Mw=9.0 pada tahun 1833 (Newcomb dan McCann, 1987; Zachariasen dkk., 2000) dan gempa Aceh tahun 2004 (Gambar 1).
Sejarah telah mencatat bahwa gempa berkekuatan MS=8,1 dari jarak 350 km mampu memporakporandakan hampir seluruh bangunan bertingkat di kota Mexico City secara dramatis pada tahun 1985 akibat amplifikasi respon tanah yang tinggi (Campillo dkk., 1989). Kerusakan-kerusakan pada sejumlah bangunan rumah juga pernah terjadi di Kota Medan pada abad ke-20, yaitu tepatnya tahun 1936, dimana gempa berkekuatan MS=7,2 muncul dari kawasan Kutacane, yang berjarak ±135 km dari Kota Medan (Soetardjo dkk., 1985). Catatan gempa di Sumatera yang tidak lengkap dalam 200 tahun terakhir ini masih belum dapat memberikan informasi bahwa Kota Medan aman dari gempa jauh. Sehingga sejauh mana gempa jauh akan menghasilkan getaran ke Kota Medan dan mempengaruhi bangunan-bangunan yang ada sudah sangat perlu untuk diperkirakan. Untuk itu

Gambar 1. Keadaan tektonik dan rangkuman gempa Sumatera (Faisal, 2005)
studi ini akan mencoba menentukan skenario gempa terburuk dalam hal magnituda gempa, jarak terdekat sumber gempa dan riwayat waktu percepatan sintetik untuk mengetahui spektrum respon percepatan pada beberapa lokasi di Kota Medan dan membandingkannya dengan respon spektrum rencana SNI-1726-2003.
2. Tinjauan Tentang Kegempaan Daerah Kota Medan
2.1 Skenario gempa
Bahaya gempa maksimum yang mungkin dihadapi oleh Kota Medan didefenisikan sebagai skenario gempa yang pernah dirasakan secara maksimal pada radius ≤500 km dari Kota Medan berdasarkan studi pustaka. Secara umum penentuan skenario gempa ini didasarkan kepada metode tertentu atau metode DSHA (Deterministic Sesimic Hazard Analysis).
2.2 Gelombang sintetik gempa
Gelombang sintetik gempa berdasarkan gempa patahan strike-slip dan subduksi diperoleh dari database percepatan gempa nyata milik PEER University of California at Berkeley (http://peer.berkeley.edu/ smcat). Gelombang sintetik batuan dasar di Kota Medan akibat gempa subduksi jauh diasumsikan relatif memiliki frekwensi yang rendah dan berdurasi panjang, sedangkan gempa-gempa strike-slip memiliki frekwensi yang lebih tinggi dan durasi lebih pendek. Riwayat waktu gelombang gempa ini dipilih berdasarkan metode yang ditawarkan Bommer dan Acevedo (2004) yaitu magnituda (M), jarak hiposenter (R), kesesuaian terhadap klasifikasi lokasi dan mekanisme gempa.
Sebanyak 21 rekaman gempa yang dipilih adalah berasal dari gempa di kawasan-kawasan subduksi Michoacan (Meksiko), Valparaiso (Cili), Peru, Alaska dan gempa dari kawasan-kawasan patahan strike-slip San Andreas (California) dan Anatoli Utara (Turki). Daftar rekaman-rekaman gempa yang dipilih ini dibuat pada Tabel 1.
2.3 Percepatan puncak batuan dasar
Atenuasi percepatan di batuan dasar Kota Medan diperoleh melalui hubungan Youngs dkk. (1997) dan hubungan Youngs dkk (1997) dimodifikasi oleh Petersen dkk. (2004) untuk percepatan yang bersumber dari gempa-gempa subduksi interface, sedangkan untuk gempa strike-slip akan digunakan Campbell (2003). Hubungan Youngs dkk. (1997) digunakan untuk gempa subduksi interface yang memiliki jarak ke lokasi R <200 km, sedangkan hubungan Youngs dkk. (1997) dimodifikasi Petersen dkk (2004) untuk gempa subduksi dengan R>200km.
Sudut tukik subduksi yang dipakai sebesar 17° (Kertapati, 1999) yaitu pada zona subduksi Wadati (megathrust). Batuan dasar di Kota Medan diasumsikan memiliki kecepatan gelombang geser (Vs) sebesar 750 m/det atau NSPTrata-rata=60 pada kedalaman 30 m. Kedalaman ini dipilih berdasarkan batas kedalaman uji penetrasi yang dilakukan pada data sampling.
2.4 Kecepatan gelombang geser tanah
Kategori tanah yang ditinjau pada lokasi-lokasi di Kota Medan diambil berdasarkan klasifikasi SNI (2003) ditambah dengan BSSC (2001) dan Rodriguez-Marek dkk. (2000), seperti pada Tabel 2 dan 3. Untuk masing-masing lokasi hanya dipilih data-data NSPT yang memberikan nilai yang paling kritis untuk ketiga kategori di atas. Fungsi hubungan NSPT dan kecepatan gelombang geser tanah (Vs) yang digunakan dalam studi ini adalah fungsi Imai dan Yoshimura (1990):
\[V_s = 76 N_{SPT}^{0,33}\].
Dimana fungsi korelasi ini dihasilkan di Jepang melalui pengujian terhadap seluruh jenis tanah menggunakan uji penetrasi standar dan metode seismic.
2.5. Respon tanah
Untuk melihat respon tanah yang terjadi akibat sebuah gempa, beberapa data-data dari 3 lokasi di Kota Medan dianalisa secara satu dimensi berdasarkan metode Schnabel dkk. (1972) dengan asumsi material
tanah berperilaku nonlinear. Simulasi respon tanah ini dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak NERA (Bardet dan Tobita, 2001). Data masuk yang dibutuhkan oleh program ini adalah:
- Getaran gempa (beda waktu antar rekaman percepatan, percepatan puncak dan rekaman riwayat waktu percepatan)
- Properti lapisan tanah (jenis tanah, tebal lapisan, berat isi total, kecepatan gelombang geser dan kedalaman muka air tanah)
- Properti dinamis tanah (rasio redaman kritis; modulus geser dan rasio redaman yang diambil dari Seed dan Idriss (1970), Seed dan Sun (1989), Idriss (1990), Schnabel (1973) dan Vucetic dan Dobry (1991)).
Data keluar yang diberikan program ini berupa perioda alami, kecepatan gelombang geser rata-rata, riwayat waktu percepatan (beserta percepatan puncak) pada setiap lapisan tanah, rasio amplifikasi, spektrum Fourier dan spektrum respon percepatan. Pada studi ini, hasil akhir spektrum respon percepatan dibuat dalam bentuk nilai rata-rata ditambah dengan simpangan bakunya (mean +1s) untuk setiap lokasi sampling dan skenario gempa.
2.6. Prosedur kajian
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan studi ini menggunakan sejumlah prosedur yang diilustrasikan pada Gambar 2.
Tabel 1. Rekaman gempa yang dipilih sebagai getaran sintetik gempa Sumatera
| Nama gempa | Tanggal | Kawasan | Magnituda | Stasiun perekam getaran gempa | |
|---|---|---|---|---|---|
| Peru | 17/10/1966 | Subduksi Peru | Mw=8,0 | Instituto Geofisico del Peru N08E | |
| Peru | 17/10/1966 | Subduksi Peru | Mw=8,0 Instituto Geofisico del Peru N82W | ||
| Alaska | 30/07/1972 | Subduksi Alaska Mw=7,5 Sitka | |||
| Alaska | 12/02/1979 Subduksi Alaska Mw=7,3 | Ici Bay | |||
| Chile | 03/03/1985 | Mw=7,8 | Valparaiso | ||
| Michoacan | Subduksi Cili 19/09/1985 Subduksi Meksiko | Mw=8,1 | Caleta De Campos | ||
| Michoacan | 19/09/1985 | Subduksi Meksiko Mw=8,1 OCTT | |||
| Nisqually | 28/02/2001 Subduksi Cascadia | Mw=6,8 | Anacortes Fire Station | ||
| Nisqually | 28/02/2001 Subduksi Cascadia | Mw=6,8 | Chief Joseph Dam | ||
| Imperial Valley | 18/05/1940 Patahan SAF* | Mw=6,5 | El Centro | ||
| Imperial Valley | 19/05/1940 | Patahan SAF* | Mw=6,9 | El Centro | |
| Kern County | 21/07/1952 | Patahan SAF* | Mw=7,5 | Pasadena-Athenaeum | |
| Borrego Mountain | Patahan SAF* 09/04/1968 Mw=6,5 | Pasadena-Athenaeum | |||
| San Fernando | Patahan SAF* 09/02/1971 Mw=6,6 | Pasadena-Athenaeum | |||
| Loma Prieta | Patahan SAF* 18/10/1989 | Mw=7,0 | Los Gatos | ||
| Landers 17/06/1992 | Patahan SAF* | Mw=7,3 | Amboy | ||
| Landers 17/06/1992 | Patahan SAF* Mw=7,3 | Poppet-Silent Valley | |||
| Northridge | Patahan SAF* 17/01/1994 Mw=6,9 Arcadia | ||||
| Izmit-Kocaeli 17/08/1999 | Patahan NAF** | Mw=7,4 Maslak | |||
| Izmit-Kocaeli | 17/08/1999 Patahan NAF** Mw=7,4 | Mecidiyekoy | |||
| Duzce | 12/11/1999 | Patahan NAF** | Mw=7,1 | Arcelik | |
*) SAF = patahan strike-slip San Andreas, California
**) NAF = patahan strike-slip Anatoli Utara, Turki
Tabel 2. Kategori lokasi menurut NEHRP 2000 (BSSC, 2001)
| Kategori | Deskripsi | Kecepatan geser tanah rata-rata sampai kedalaman 30 m |
|---|---|---|
| A | Hard rock | > 1500 m/det |
| B | Firm to hard rock | 760 – 1500 m/det |
| C | Dense soil, soft rock | 360 – 760 m/det |
| D | Stiff soil | 180 – 360 m/det |
| E | Soft clays | < 180 m/det |
| F | Special study soils, e.g., liquefiable soils, sensitive clays, organic soils, soft clays > 36 m thick |
3. Analisa Bahaya Gempa
3.1. Gempa-gempa yang mempengaruhi Kota Medan
Gempa-gempa yang dirasakan penduduk adalah Gempa Nias 16 Februari 1861, gempa Renun 01 April 1921, Gempa Tripa 09 September 1936, yang diambil berdasarkan Soetardjo dkk. (1985), Sieh dan Natawidjaja (2000), serta Sun dan Pan (1995). Kemudian ditambah dengan gempa-gempa terkini yaitu Gempa Aceh 26 Desember 2004 dan Gempa Nias 28 Maret 2004.
3.2. Skenario gempa terburuk untuk Kota Medan
Dalam menentukan skenario gempa terburuk, Kota Medan dianggap terletak pada koordinat 98,67°BT dan 3,38°LU. Untuk skenario terburuk gempa patahan strike-slip, parameter jarak terdekat ke pusat gempa (R) yang pernah terjadi dipilih berdasarkan gempa 1921 di Renun (MS=7,0, R=112,5km dan H=25km), gempa 1936 di Tripa (Mb=7,2, R=141km dan H=25km) dan gempa 1936 di Tripa (MS=7,2, R=71km dan H=25km). Sedangkan magnituda skenario terburuk gempa patahan strike-slip diambil berdasarkan data geometri bidang runtuhan permukaan segmen patahan Tripa sebesar 180 km dan segmen patahan Renun sebesar 220 km (Sieh dan Natawidjaja, 2000; Natawidjaja dkk., 2004). Jarak terdekat ke bidang runtuh (Rr) segmen Tripa dan Renun ke Kota Medan diperkirakan sebesar 71 km (Gambar 3), diukur berdasarkan peta tektonik Sieh dan Natawidjaja (2000) dan memiliki kedalaman H=25km. Studi ini mengasumsikan bahwa segmen Tripa juga dapat memproduksi gempa sebesar Mw=7,8, walaupun berdasarkan hubungan Wells dan Coppersmith (1994) magnituda gempa segmen patahan Tripa (Mw=7,7) lebih kecil dari gempa segmen Renun (Mw=7,8).
Skenario gempa segmen Tripa/Renun ini juga diambil berdasarkan asumsi bahwa gempa yang terjadi pada segmen patahan Angkola, yang hanya memiliki panjang reruntuhan segmen dan rata-rata slip tahunan lebih kecil dari segmen Renun, mampu mencapai Ms=7,7 di tahun 1892. Gempa ini bisa jadi merupakan efek samping dari pergerakan subduksi pada gempa interface Mw=9,0 tahun 1833 di kawasan Mentawai dan gempa Mw=8,5 di kawasan Nias tahun 1861. Posisi segmen Angkola ini berada di sekitar arah timur kawasan pertemuan reruntuhan gempa subduksi Mentawai tahun 1833 dan gempa Nias tahun 1861, sebuah kawasan yang analog dengan kawasan segmen Tripa/Renun diantara kawasan reruntuhan gempa subduksi Aceh 2004 dan Nias 2005.
Untuk kasus gempa subduksi pemilihan skenario gempa terburuk didasarkan kepada beberapa hal berikut ini:
Tabel 3. Kategori lokasi berdasarkan kondisi geoteknik (Rodriguez-Marek dkk., 2001)
| Kategori | Deskripsi geoteknik | Aproksimasi perioda pada lokasi (det) | Penjelasan | |
|---|---|---|---|---|
| A | Hard rock | ≤ 0.1 | Batuan dasar Crystalline, Vs ³ 1500 m/det | |
| B | Competent bedrock | ≤ 0.2 | Vs ³ 600 m/det atau kedalaman <10 m. Kebanyakan batuan California unweathered. | |
| C1 | Weathered rock | ≤ 0.4 | Vs ≈ 300 m/det sampai dengan > 600 m/det, 10 m < weathering zone < 30 m | |
| C2 | Shallow stiff soil | ≤ 0.5 | 10 < kedalaman tanah < 30 m | |
| C3 | Intermediate depth Stiff soil | ≤ 0.8 | 30 < kedalaman tanah < 60 m | |
| D1 | Deep stiff holocene soil | ≤ 1.4 | 60 < kedalaman tanah < 200 m | |
| D2 | Deep stiff pleistocene soil | ≤ 1.4 | 60 < kedalaman tanah < 200 m | |
| D3 | Very deep stiff soil | ≤ 2.0 | kedalaman tanah > 200 m | |
| E1 | Medium thickness soft clay | ≤ 0.7 | Tebal lapisan tanah lempung lunak 3-12 m | |
| E2 | Deep soft clay | ≤ 1.4 | Tebal lapisan tanah lempung lunak > 12 m | |
| F | Potentially liquefiable sand | Pasir lepas Holocene dengan muka air tanah | ||
| yang tinggi (Zw ≤ 6 m) | ||||

Gambar 2. Skema prosedur kajian yang dilaksanakan

Gambar 3. Skenario gempa dangkal patahan aktif untuk Kota Medan (dimodifikasi dari Sieh dan Natawidjaja (2000))
- 1. Gempa-gempa interface signifikan yang pernah terjadi di kawasan Nias dan Seulimeum (Aceh) selama 200 tahun terakhir seperti gempa 1861 di Nias (Mw=8,5, R=283km dan H=30km), gempa 2004 di Aceh (Mw=9,0–9,3(USGS dan Caltech), R=300km dan H=30km), gempa 2005 di Nias (Mw=8,7, R=225km dan H=30km).
- 2. Gempa di kawasan Nias dapat saja meningkat kekuatannya di masa depan, seperti gempa Mw=8,5 tahun 1861 menjadi Mw=8,7 pada tahun 2005. Kemudian posisi gempa Nias tahun 1861 dekat dengan Gempa Aceh 2004 dan belum ada bukti jelas yang menyatakan runtuhan gempa Nias 1861 tidak mencapai kawasan runtuhan gempa Aceh 2004.
- 3. Titik lokasi gempa susulan berpeluang menjadi tempat terjadinya gempa utama subduksi interface. Untuk itu dengan memakai pembeda gempa utama dan gempa susulan Gardner dan Knopoff (1974), yaitu 4,0<Mw<8,4 dalam 30 km<radius<94 km, diambil skenario jarak terdekat gempa subduksi ke Kota Medan melalui jarak terdekat gempa subduksi yang pernah terjadi dikurangi 30 km (Gambar 4).
- 4. Zachariasen dkk., (2000) menyatakan bahwa kawasan subduksi Sumatera telah memproduksi gempa maksimum mencapai Mw=9,2 setiap 265 tahun.
- 5. Nilai magnituda gempa Aceh 2004 yang diestimasi Caltech Mw=9,3 berdasarkan hasil penyelidikan geologi coral microatoll (lihat Sieh dan Natawidjaja, 2000; Zachariasen dkk., 2000) lebih besar dibanding dengan yang dikeluarkan USGS (Mw=9,0).
Dari ketiga pertimbangan ini menunjukkan bahwa gempa subduksi raksasa berkekuatan Mw³9,0 cukup logis dapat terjadi di kawasan Nias seperti yang terjadi di kawasan Simeuleu (Aceh), sehingga nilai Mw=9,3 dan jarak terdekat runtuhan ke Kota Medan Rr=195 km dipilih sebagai skenario gempa subduksi terburuk.
3.3. Estimasi PGA batuan dasar Kota Medan
Hasil estimasi percepatan puncak (PGA) untuk Kota Medan ditunjukkan pada Tabel 4 dimana tampak gempa Nias 28/03/2005 memberikan PGA lebih besar dibanding gempa Aceh 26/12/2005. Namun demikian skenario terburuk gempa subduksi interface Mw=9,3 pada jarak R=195km menghasilkan percepatan hampir dua kali lipat dari gempa Nias 28/03/2005. Hasil yang diperoleh untuk skenario terburuk gempa strike-slip dari kawasan segmen patahan Tripa/Renun menghasilkan sebuah PGA batuan dasar mencapai dua kali lipat dari nilai PGA gempa MS=7,0 di Renun pada 01/04/1921.
Hasil-hasil yang diperoleh tersebut tampak lebih kecil dibandingkan dengan PGA=0,150g dari SNI (2003), dan PGA=0,250g dari Petersen dkk. (2004). Perlu diketahui bahwa hubungan atenuasi dalam menentukan PGA yang digunakan di SNI (2003) adalah Crouse (1991) dan Youngs dkk. (1997) untuk gempa-gempa subduksi interface serta Fukushima dan Tanaka (1990) untuk gempa-gempa patahan aktif strike-slip. Sedangkan Petersen dkk. (2004) menggunakan hubungan atenuasi Sadigh dkk. (1997) untuk gempa strike-slip dan memodifikasi hubungan Youngs dkk. (1997) untuk gempa subduksi.
Hasil akhir PGA pada SNI (2003) dan Petersen dkk. (2004) dibuat melalui rata-rata sejumlah analisa probabilitas bahaya gempa (probabilistic seismic hazard
Gambar 4. Penentuan jarak terdekat gempa subduksi interface menggunakan asumsi radius gempa susulan Gardner dan Knopoff (1974)
| PGA (g) | ||||
|---|---|---|---|---|
| No. | \(\rm M_w, R_f, H\) | Youngs dkk. (1997) | Youngs dkk. (1997) modif | Campbell (2003) |
| 1. | Gempa Aceh 26/12/2004 Mw=9,0; R=322 km; H=30 km | _ | 0.0313 | - |
| 2. | Gempa Nias 28/03/2005 Mw=8,7; R=225 km; H=30 km | _ | 0.0531 | - |
| 3. | Skenario terburuk gempa subduksi di Nias Mw=9,3; R=195 km; H=30 km | 0,1002 | I | |
| 4. | Gempa Renun 01/04/1921 Ms=7,0; Mw=7,1; R=112,5 km; H=25 km | _ | _ | 0,0713 |
| 5. | Skenario terburuk gempa di segmen Tripa/Renun Mw=7,8; R=71 km; H=25 km | _ | _ | 0,1420 |
Tabel 4. Percepatan puncak (PGA) batuan dasar di Kota Medan akibat sejumlah skenario gempa
analysis) yang menggunakan persentase peluang kemunculan 10% untuk bangunan yang memiliki umur layan 50 tahun. Sebagai tambahan, bila hubungan Fukushima dan Tanaka (1990) digunakan secara langsung kepada skenario gempa terburuk \(M_w\)=7,8 dan R=71 km dari segmen Tripa/Renun akan menghasilkan PGA=0,1506g, nilai yang nyaris sama dengan SNI (2003). Ini menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh dari studi ini melalui metode DSHA dapat dianggap memenuhi.
3.4 Analisa respon dinamik tanah setempat
Lokasi tanah setempat yang ditinjau untuk sampling terletak di Jl. Zainul Arifin, Jl. Menteng Raya dan Jl. Medan-Tanjung Morawa. Lokasi-lokasi ini terletak di pusat kota dan bagian selatan Kota Medan, seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Kondisi tanah pada lokasi ini sampai rata-rata kedalaman 4,5 meter umumnya terdiri dari tanah lempung berpasir berkadar air sedang dengan warna abu-abu dan coklat serta plastisitas sedang. Di bawah lapisan ini terdapat pasir halus berlempung dan berlanau dengan kadar air rendah dan tidak plastis serta berwarna coklat dan sangat lepas sampai kedalaman 15-20 meter. Di bawah lapisan tanah tersebut terdapat pasir halus ke sedang dan pasir sedang ke kasar berwarna abu-abu tua yang berbatuan karang muda dan batuan apung yang memiliki kadar air yang rendah dan kepadatan yang tinggi sampai kedalaman kurang lebih 30 meter. Ketiga tanah tersebut adalah tergolong kepada Tanah Sedang menurut SNI (2003), atau Tanah Kategori D (stiff soil) menurut NEHRP 2000 (BSSC, 2001), atau Tanah Kategori C2 dan C3 (shallow-intermeditae stiff soil) menurut Rodriguez-Marek dkk. (2001).
Kecepatan gelombang geser rata-rata dan perioda alami ketiga lokasi yang ditinjau pada studi ini adalah \(V_{\rm S}\)=215m/detik dan T=0,57 detik (Jl. Zainul Arifin), \(V_{\rm S}\)=219m/detik dan T=0,46 detik (Jl. Menteng Raya ) dan \(V_S\)=225m/detik dan T=0,54 detik (Jl. Medan-Tanjung Morawa). Karakter kecepatan gelombang geser setiap lapisan tanah hasil simulasi dengan NERA ditunjukkan pada Gambar 6.
Jumlah total respon tanah yang dihasilkan adalah sebanyak 153 respon spektrum dengan menggunakan 9 rekaman gempa subduksi (Peru, Alaska, Michoacan, Chile dan Cascadia) dan 12 rekaman gempa patahan strike-slip (Elcentro, Kern, Borrego, San Fernando, Loma Prieta, Landers, Northridge, Izmit-Kocaeli, dan Duzce). Untuk setiap lokasi yang ditinjau dihasilkan 27 respon akibat gempa subduksi dan 24 respon akibat gempa strike-slip. Sehingga respon tanah masingmasing lokasi akibat skenario terburuk gempa Sumatera merupakan hasil mean+1s dari 51 spektrum respon. Pada Gambar 7 dan 8 ditunjukkan respon permukaan tanah terhadap seluruh rekaman gempa yang mewakili keadaan gempa di kawasan patahan aktif strike-slip segmen Tripa/Renun dan subduksi Nias. Garis tebal hitam dan garis terputus-putus tebal hitam pada gambar tersebut mewakili nilai mean dan mean+1s respon tanah di ketiga lokasi.
Nilai puncak dari mean respon percepatan dari ketiga lokasi ini mencapai RSA=0,480 g pada T=0,44 detik. Nilai puncak yang hampir sama juga terjadi pada

Gambar 5. Sketsa lokasi sampling tanah sedang di Kota Medan

Gambar 7. Respon percepatan tanah simulasi di beberapa lokasi di Medan akibat skenario gempa terburuk: a) patahan strike-slip, dan b) subduksi Sumatera

Gambar 8. Respon tanah sedang simulasi di beberapa lokasi di Kota Medan akibat skenario gempa terburuk: a) patahan strike-slip, dan b) subduksi Sumatera
perioda T=0,68 detik yaitu sebesar RSA=0,477 g. Pada kondisi mean+1σ nilai puncak respon justru terjadi pada perioda 0,68 detik sebesar RSA=0,748 g, berbeda 0,1 g dengan nilai respon yang terjadi pada perioda T=0,44 detik.
Bentuk selubung respon rata-rata (mean dan mean+1s) secara umum dipengaruhi oleh respon tanah di lokasi kawasan Jl. Menteng Raya. Rekaman gempa yang paling dominan mempengaruhi nilai puncak respon tanah adalah rekaman gempa Nisqually 21-02-2001 dari stasiun pencatat Chief Joseph Dam yaitu pada lokasi kawasan Jl. Menteng Raya mencapai 1,24 g pada perioda 0,15 detik. Nilai puncak rata-rata respon tanah terhadap rekaman gempa subduksi mencapai RSA=0,335 g pada T=0,21 detik. Nilai ini jauh di bawah nilai puncak spektrum Tanah Sedang Wilayah 3 SNI (2003). Sedangkan untuk kondisi mean+1σ, nilai puncak respon tanah yang diperoleh adalah sebesar 0,512 g pada perioda yang tidak sama dengan kondisi mean yaitu T=0,32 detik.
Selubung respon tanah (mean) akibat gempa subduksi di lokasi kawasan Jl. Zainul Arifin yang memiliki bentuk bukit lebih langsing dari selubung respon tanah lainnya (sama langsing seperti akibat gempa strikeslip) tampak mendominasi mulai dari perioda 0,25 detik sampai perioda berikutnya. Hal ini sedikit berbeda dengan respon tanah akibat gempa subduksi yang mulai mendominasi pada perioda 0,20 detik. Bentuk selubung respon spektrum mean dan mean+1σ tampak sangat jelas terpengaruh oleh selubung spektrum uniform respon tanah di lokasi kawasan Jl. Menteng Raya dan Jl. Zainul Arifin.
Secara jelas tampak pada Gambar 9 bahwa respon spektrum akibat rekaman gempa subduksi masih dapat terwakili oleh spektrum Tanah Sedang Wilayah 3 SNI (2003) dan begitupula halnya dengan nilai mean respon tanah akibat gempa patahan aktif strike-slip.
Keadaan yang ekstrim justru terjadi pada kasus respon tanah kondisi mean+1s akibat gempa patahan aktif strike-slip yang hampir pada seluruh perioda waktu 0,05-3,00 detik spektrum percepatannya melampaui spektrum Tanah Sedang Wilayah 3 SNI (2003). Nilai puncak respon tanah pada kasus ini hampir mencapai spektrum Tanah Lunak Wilayah 3 SNI (2003) yaitu mencapai RSA=0,748 g.
4. Kesimpulan
Studi ini pada umumnya merupakan sebuah simulasi skenario terburuk gempa jauh Sumatera yang dikenakan terhadap 3 lokasi di Kota Medan guna mengetahui seberapa jauh tanah di lokasi ini merespon getaran gempa jauh tersebut. Secara prinsip studi ini menggunakan metode DSHA (metode tertentu). Untuk mendapatkan hasil yang mewakili keadaan sebenarnya

Gambar 9. Respon tanah sedang di Kota Medan hasil simulasi akibat skenario gempa terburuk subduksi dan patahan strike-slip
studi ini meninjau sejumlah rekaman gempa yang pernah terjadi di belahan dunia lain dan sejumlah hubungan atenuasi juga ditelusuri. Tinjauan ini dibuat berdasarkan kepada keadaan di sumber gempa, magnituda dan jarak gempa Sumatera ke lokasi yang akan ditinjau.
Hasil studi menunjukkan bahwa skenario terburuk gempa jauh Sumatera secara metode DSHA dapat mencapai Mw=9,3 di kawasan Nias dan Mw=7,8 di kawasan segmen patahan aktif Tripa/Renun. Jarak terdekat ke bidang runtuhan sumber gempa untuk skenario terburuk ini mencapai Rf=195 km untuk gempa subduksi di Nias dan Rf=71 km untuk gempa patah aktif strike-slip segmen Tripa/Renun.
Hubungan atenuasi yang diangap sesuai untuk Kota Medan akibat kasus gempa Sumatera adalah hubungan Youngs dkk. (1997), Youngs dkk. dimodifikasi oleh Petersen dkk. (2004) untuk percepatan puncak atau PGA akibat gempa subduksi interface di kawasan Nias. Sedangkan untuk PGA akibat gempa di patahan aktif segmen Tripa/Renun dipilih hubungan Campbell (2003). Hasil PGA maksimum pada batuan dasar yang diperoleh untuk Kota Medan (0,140 g) menunjukkan perbedaan 1% dengan SNI (2003).
Dari hasil studi terhadap jenis Tanah Sedang di tiga lokasi yang berlainan yaitu Jl. Zainul Arifin, Jl. Menteng Raya dan Jl. Medan-Tanjung Morawa menunjukkan bahwa amplifikasi spektrum terjadi dengan cukup tinggi. Namun demikian spektrum respon tanah di ketiga lokasi terseut pada umumnya masih dapat terwakili oleh SNI (2003). Kecuali spektrum respon kondisi mean+1s (kondisi ini umumnya dipakai untuk spektrum disain) di lokasi kawasan Jl. Menteng Raya akibat skenario gempa patahan aktif strike-slip segmen Tripa/Renun yang nilai puncak percepatannya melampaui 0,1 g dari spektrum
disain SNI (2003) untuk Tanah Sedang Wilayah 3. Kemudian selubung spektrum respon tanah kondisi ini juga memiliki perioda waktu yang sangat signifikan dalam melampaui spektrum Tanah Sedang Wilayah 3 SNI (2003) yaitu mencapai kurang lebih 2 detik. Rentang perioda waktu tersebut jelas akan lebih mempengaruhi struktur-struktur bangunan yang berada di atas tanah tersebut.
5. Ucapan Terima Kasih
Tulisan ini dibuat berdasarkan laporan-laporan hasil penelitian yang didanai oleh Research Grant Technological and Professional Skills Development Sector Project (TPSDP) Batch III ADB Loan 1792-INO tahun 2004 kontrak nomor: 011/C/RG/SPMU-TPSDP-UMSU/08.04 dan Dosen Muda DP2M Ditjen Dikti kontrak nomor: 06/D3/O/2005, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih. Penulis juga berterima kasih atas komentar dan saran dari para penilai/pembahas.
