1. Pendahuluan
Letak geografis wilayah Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama; lempeng Indo -Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Philipina, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki potensi aktivitas seismik cukup tinggi dan rawan terhadap bahaya gempa. Beberapa gempa bumi besar tercatat yang pernah melanda Aceh dan Sumatera Utara mengakibatkan porak-porandanya bangunanbangunan serta menimbulkan gelombang tsunami yang datang beberapa saat kemudian, yang menyebabkan ribuan manusia meninggal seketika. Gempa Sumatera-Andaman (M<sub>w</sub>=9,0) terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, berjarak 259 km dari kota Banda Aceh. Epicenter gempa tersebut berada 3,316° LU dan 95,854° BT pada kedalaman 30 km di bawah dasar laut. Setahun setelah kejadian itu, 28 Maret 2005, terulang lagi gempa dengan magnitude (M<sub>w</sub>) 8,7 yang berpusat di sekitar kepulauan Nias, pada koordinat 2,076° LU dan 97,013° BT dengan kedalaman 30 km di bawah dasar laut. Pertanyaan yang muncul setelah
kejadian-kejadian gempa tersebut adalah berhubungan dengan distribusi sumber gempa pada suatu wilayah serta seberapa besar dampak kerusakan terhadap bangunan yang diakibatkan oleh goncangan tanah itu.
Disebabkan oleh cukup tingginya potensi aktivitas seismik di wilayah pesisir barat pulau Sumatera ini, mengharuskan perencanaan bangunan memperhitungkan aspek-aspek kegempaan, disamping tinjauan aspek-aspek pembebanan lainnya. Perkiraan besarnya beban atau percepatan gempa yang handal dalam perencanaan masih dapat dikaji secara lebih mengingat sangat mendalam. penting berpengaruhnya hal tersebut baik melingkupi aspek keamanan maupun efisiensi suatu desain bangunan, tanpa meninggalkan atau bahkan memungkinkan dapat melengkapi atau mengevaluasi peraturan-peraturan standar yang ada.
Secara umum, properti dari goncangan tanah dipelajari dalam studi ini melalui analisis hazard kegempaan untuk daerah kajian Provinsi Sumatera Barat yang direfleksikan dalam peta deagregasi hazard kegempaan untuk menjembatani kebutuhan pembangunan sarana infrastuktur dan potensi aktivitas seismik yang cukup tinggi pada wilayah ini.
2. Tinjauan Seismotektonik
Dalam kajiannya tentang hazard kegempaan, perlu diidentifikasikan secara geologi dan seismologi adanya beberapa zona sumber gempa aktif yang memiliki potensi dan kontribusi seismik signifikan terhadap wilayah Provinsi Sumatera Barat seperti zona subduksi Sumatera dan zona patahan Semangko.
Zona patahan Semangko merupakan jalur patahan yang terbentuk akibat tabrakan lempeng Indo-Australia yang bergerak dengan kecepatan relatif 50 hingga 60 mm/ tahun terhadap lempeng Eurasia yang relatif diam. Keberadaan patahan ini juga berpotensi untuk menyebabkan sejumlah gempa bumi dangkal yang bersifat merusak.
3. Parameter Hazard Kegempaan
Parameter hazard kegempaan dapat menunjukkan aktifitas kegempaan pada suatu wilayah. Sebelum melakukan analisis hazard kegempaan, terlebih dahulu perlu dilakukan evaluasi terhadap seluruh data kejadian
gempa yang pernah terjadi. Selanjutnya dilakukan pengolahan data gempa; pembuatan model zona sumber gempa, perhitungan parameter a-b, penentuan magnitude maksimum, serta pemilihan fungsi atenuasi.
3.1 Pengumpulan dan pengolahan data gempa
Data-data kejadian gempa historis diperoleh dari data preliminary National Earthquake Information Centre-USGS (NEIC-USGS), International Seismological Centre (ISC) dan EHB (Engdahl, van der Hilst and Buland, 1998) untuk periode 1900-2007. Data-data yang berasal dari katalog gempa tersebut perlu dikoreksi dan diproses dengan menggunakan prinsipprinsip statistik sebelum digunakan dalam analisis untuk mengurangi bias dan mendapatkan hasil yang optimal. Pemisahan kejadian gempa utama dan gempa susulan dilakukan dengan menggunakan kriteria empiris yang diajukan oleh Gardner dan Knopoff (1974). Untuk analisis kelengkapan data gempa digunakan metoda yang diusulkan oleh Stepp (1973). Kejadian gempa dari gabungan katalog tersebut meliputi area mulai 90° BT hingga 112° BT dan 10° LU hingga 8° LS (Gambar 1), dan data gempa lengkap dengan magnitude lebih besar atau sama dengan 5 mulai tahun 1973 hingga 2007 dengan kedalaman gempa bumi maksimum 200 km.

Gambar 1. Sebaran sumber gempa periode 1900-2007 (Gabungan Katalog NEIC, ISC dan EHB)
3.2 Zona sumber gempa dan pemodelannya
Pada studi ini, zona sumber gempa terbagi atas zona gempa-gempa dangkal dan gempa-gempa dalam di sekitar subduksi Sumatera serta zona seismisitas patahan Sumatera di daratan pulau Sumatera. Data kejadian gempa yang dianggap berpengaruh pada seismisitas di suatu lokasi dalam wilayah kajian diambil dalam suatu zona gempa yang berada pada bentang radius 500 km dari lokasi kajian.
Pemodelan zona sumber gempa ditentukan dengan menganalisa sudut penunjaman pertemuan lempeng yang ditujukan untuk memisahkan sumber gempa yang berbeda jenis mekanismenya yang terletak pada area yang sama. Pola penyebaran titik-titik hypocenter gempa di sepanjang pola tektonik dapat diperkirakan dengan membagi zona sumber gempa tersebut menjadi beberapa segmen dan mengambil potongan melintang distribusi epicenter sumber gempa pada setiap segmen tersebut.
Parameter a-b didapatkan dari pengelompokan data berdasarkan area sumber gempa dan jenis mekanismenya, dan ditentukan dengan menggunakan model Guttenberg-Richter recurrent relationship (Gutenberg dan Richter, 1944) dan dengan model Maximum Entropy Principle (Dong et al., 1984).
Pada zona gempa-gempa dangkal di sekitar subduksi Sumatera terhitung sejumlah 91 buah kejadian gempa utama dengan Mw > 5,0 dalam rentang mulai dari tahun 1973 hingga 2007. Kejadian gempa dengan magnitude terbesar (Mw9,0) terjadi di wilayah perairan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, yang juga menimbulkan gelombang tsunami yang memporakporandakan wilayah daratan di pesisir pantai wilayah Aceh dan sekitarnya. Dari 2 model perhitungan parameter a-b diatas, diperoleh nilai rata-rata b-value sebesar 0,64 untuk zona ini.
Untuk zona gempa-gempa dalam di sekitar subduksi Sumatera didapatkan sejumlah 130 buah kejadian gempa utama dengan Mw > 5,0 dalam rentang mulai dari tahun 1973 hingga 2007. Kejadian gempa dengan magnitude terbesar (Mw7,0) pada rentang tahun pengamatan itu juga terjadi di wilayah Aceh pada bulan April 1983. Nilai rata-rata sebesar 1,03 didapatkan untuk memperkirakan b-value pada zona ini.
Zona patahan Sumatera tidak seproduktif zona subduksi Sumatera dalam menghasilkan gempa-gempa yang signifikan. Dalam zona ini diperoleh 58 buah kejadian gempa utama dengan Mw > 5,0 dalam rentang mulai dari tahun 1973 hingga 2007. Nilai magnitude terbesar pada rentang tahun pengamatan itu adalah Mw7,2 dan nilai b-value diperkirakan sebesar 0,75 didapatkan dari perhitungan regresi.
Gambar 2 memperlihatkan distribusi data pengamatan kejadian gempa utama pada masing-masing segmen zona sumber gempa terhadap mekanisme gempanya. Nilai rate untuk masing zona sumber gempa dapat diketahui yaitu 2,17, 3,10 dan 1,38 untuk sumber gempa megathrust, benioff dan shallow crustall secara berturut-turut.
Pemodelan sumber gempa (Gambar 3) pada zona subduksi Sumatera dilakukan berdasarkan zona rupture pada perairan barat Sumatera (Briggs, 2007). Magnitude maksimum diambil berdasarkan kejadian gempa Aceh (2004) yaitu sebesar Mw9,0. Sedangkan, pemodelan sumber gempa pada zona patahan Sumatera dilakukan dengan mengasumsikan kejadian gempa dengan magnitude maksimum Mw7,9 dapat terjadi dimana saja di sepanjang patahan. Permodelan pada zona patahan ini mengikuti segmen-segmen patahan berdasarkan hasil penelitian Sieh dan Natawidjaja (2000).

Gambar 2. Frekuensi kejadian gempa kumulatif

Gambar 3. Pemodelan sumber gempa (Delfebriyadi, 2009)
3.3 Fungsi atenuasi
Beberapa fungsi atenuasi telah dipublikasikan oleh sejumlah peneliti berdasarkan rekaman percepatan gempa yang pernah terjadi dan kondisi site kajiannya. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada fungsi atenuasi yang penelitiannya dikhususkan pada kondisi geologi dan seismotektonik untuk wilayah Indonesia, sehingga dalam analisis hazard kegempaan yang dilakukan, digunakan fungsi atenuasi yang diperoleh dari wilayah lain yang memiliki kemiripan tektonik dan geologi dengan wilayah Indonesia. Fungsi atenuasi yang dipakai pada studi ini adalah persamaan yang dikemukakan oleh Young et al (1997) untuk jenis sumber gempa pada area subduksi dan persamaan yang dikemukakan oleh Boore et al (1997) untuk jenis gempa strike slip pada area shallow crustal.
4. Analisis Hazard Kegempaan
Analisis hazard kegempaan dimulai dengan mengembangkan model matematik yang akan digunakan untuk memperkirakan kemungkinan kejadian gempa dalam level skala magnitude atau intensitas tertentu pada interval periode ulang untuk suatu daerah tertentu. Analisis ini menghasilkan parameter desain seismik seperti percepatan maksimum dan kecepatan maksimum yang dapat terlampaui untuk probabilitas serta periode ulang tertentu. Pada studi ini, percepatan gempa di batuan dasar diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan dengan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) menggunakan program EQRISK (McGuire, 1976) yang telah dimodifikasi.
Probabilitas bahwa suatu \(ground\ motion\ a\) melebihi suatu nilai tertentu \(a^*\) dihitung untuk suatu potensi gempa pada suatu lokasi sumber gempa tertentu dan kemudian dikalikan dengan probabilitas bahwa suatu gempa dengan magnitude tertentu akan terjadi pada lokasi tersebut. Dengan mengasumsikan bahwa magnitude M dan jarak D adalah variabel acak independen yang kontinus, maka probabilitas terlampaui dapat dituliskan dalam bentuk integrasi persamaan berikut:
\[P_{(a \ge a^*)} = \int_M \int_D P_{(a \ge a^*; m, d)} f_{M(m)} f_{D(d)} dddm \tag{1}\]
dimana
f<sub>M</sub> = fungsi distribusi dari magnitude
f<sub>D</sub> = fungsi distribusi dari jarak
\(P(a \ge a^*;m,d)\) = probabilitas berkondisi dari intensitas a yang sama atau lebih besar dari intensitas \(a^*\) di suatu lokasi dengan kekuatan gempa m dan jarak sumber d yang diperoleh dari fungsi atenuasi
Jika site yang ditinjau berada dalam suatu daerah dengan beberapa sumber gempa (\(N_s\)) dimana setiap sumber memiliki rate untuk threshold magnitude sebesar \(v = exp[\alpha-\beta.m_o]\), maka total kejadian gempa tahunan terlampaui untuk daerah tersebut adalah:
\[\lambda(a \ge a^*) = \sum_{i=1}^{Ns} v_i . P(a \ge a^*)\] (2)
Periode ulang dari parameter goncangan tanah terlampaui adalah sebanding dengan perbandingan terbalik dari total kejadian gempa tahunan terlampaui. Logic tree digunakan untuk menentukan pembobotan pada masing-masing parameter yang dipergunakan dan untuk untuk mengatasi nilai ketidak-pastian pada analisis hazard kegempaan dengan menggunakan metode probabilitas. Untuk kasus ini digunakan distribusi magnitude dengan metode least square dan maximum entropy density, dan satu nilai magnitude maksimum dari masing-masing sumber gempa yang dipertimbangkan untuk kebutuhan analisis. Pembobotan tiap parameter dari masing-masing sumber gempa ditetapkan dan terlihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.

Gambar 4. Formulasi logic tree untuk sumber gempa Subduksi

Gambar 5. Formulasi logic tree untuk sumber gempa Shallow Crustal
Gambar 6 dan 7 berturut merupakan hasil dari analisis hazard kegempaan berdasarkan studi yang telah dilakukan dengan menggunakan bantuan program EQRISK yang telah dimodifikasi yang ditampilkan ke dalam bentuk peta spektral percepatan dengan periode spektral yang beragam.
5. Analisis Deagregasi Hazard Kegempaan
Analisis untuk kemungkinan magnitude dan jarak dari site ke sumber gempa yang akan memberikan hazard terbesar pada site tidak terlihat dengan jelas dalam PSHA. Dengan deagregasi ini, maka PSHA menjadi lengkap dengan menambahkan informasi magnitude (M) dan jarak (D) yang dominan dan tunggal dalam desain gempa. Dengan satu magnitude (M) dan satu jarak dari site ke sumber gempa (D) yang dominan, hazard akibat gempa dapat diekspresikan dalam satu fungsi, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Konsep ini ditujukan pada deagregasi seismik (McGuire, 1995) yang dapat memberikan gambaran umum tentang ukuran gempa dan jarak untuk sumber gempa tertentu, yang kemungkinan besar destruktif terhadap site.
Deagregasi dapat dikarakterisasi dengan suatu rata-rata magnitude dan jarak. Nilai rata-rata ini adalah suatu fungsi periode ulang gempa terhadap periode spektral seperti yang diperlihatkan pada Gambar 8. Dengan melakukan plotting seperti ini, maka perbedaan hazard dalam suatu bentang magnitude untuk suatu periode spektral akan dapat terlihat.
Gempa bumi yang dominan dalam memberikan kontribusi hazard terhadap wilayah Provinsi Sumatera Barat kemudian bisa dilihat dari peta degregasi hazard seperti yang ditampilkan pada Gambar 9 hingga Gambar 14. Dengan mengacu kepada masing-masing pasangan gambar yang menunjukkan rata-rata nilai
magnitude dan jarak epicenter ke sumber gempa tersebut, akan diperoleh informasi akan pemilihan data riwayat waktu gempa bumi dengan karakteristik berdasarkan kriteria jarak dan magnitude yang memberikan kemungkinan hazard terbesar pada site dimaksud. Kombinasi parameter jarak dan magnitude ini adalah dasar pertimbangan dalam mengambil rekaman data riwayat waktu kejadian gempa bumi yang pernah terjadi untuk digunakan selanjutnya dalam analisa performa respons struktur terhadap pembebanan gempa ataupun respons dari suatu deposit tanah terhadap pembebanan gempa.
6. Kesimpulan
- 1. Indonesia telah mengimplementasikan peta hazard kegempaan kedalam peraturan perencanaan bangunan tahan gempa SNI 03-1726-2002, akan tetapi peta spektral percepatan dari beberapa periode spektral (sebagai contoh; T=0,2 detik dan T=1,0 detik) dapat dikembangkan untuk mengkondisikan peraturan-peraturan baru yang dikembangkan belakangan ini dalam cakupan internasional.
- 2. Informasi jarak epicenter sumber gempa dan magnitude gempa yang ditampilkan dalam suatu peta deagregasi hazard pada studi ini adalah merupakan bagian informasi penting dalam pemilihan karakteristik suatu data riwayat waktu gempa untuk suatu site di wilayah Provinsi Sumatera Barat.
- 3. Dengan berpedoman kepada masing-masing pasangan gambar yang menunjukkan rata-rata nilai magnitude dan jarak epicenter ke sumber gempa tersebut, akan diperoleh dasar pertimbangan dalam mengambil rekaman data riwayat waktu kejadian gempa bumi yang pernah terjadi untuk digunakan selanjutnya dalam analisa performa respons struktur ataupun respons dari suatu deposit tanah terhadap pembebanan gempa.

Gambar 6. Peta Spektral Percepatan periode 0,2 detik di batuan dasar pada periode ulang 500 tahun wilayah Provinsi Sumatera Barat (Delfebriyadi, 2009)

Gambar 7. Peta Spektral Percepatan periode 1,0 detik di batuan dasar pada periode ulang 500 tahun wilayah Provinsi Sumatera Barat (Delfebriyadi, 2009)

(a) T = 0,2 detik

(b) T = 1,0 detik Gambar 8. Kontribusi hazard terhadap kota Padang dari sumber gempa subduksi dan shallow-crustal untuk periode ulang 500 tahun

Gambar 9. Peta deagregasi hazard periode spektral 0,2 detik untuk sumber gempa zona megathrust pada periode ulang gempa 500 tahun

Gambar 10. Peta deagregasi hazard periode spektral 0,2 detik untuk sumber gempa zona benioff pada periode ulang gempa 500 tahun

Gambar 11. Peta deagregasi hazard periode spektral 0,2 detik untuk sumber gempa zona shallow crustal pada periode ulang gempa 500 tahun

Gambar 12. Peta deagregasi hazard periode spektral 1,0 detik untuk sumber gempa zona megathrust pada periode ulang gempa 500 tahun

Gambar 13. Peta deagregasi hazard periode spektral 1,0 detik untuk sumber gempa zona benioff pada periode ulang gempa 500 tahun

Gambar 14. Peta deagregasi hazard periode spektral 1,0 detik untuk sumber gempa zona shallow crustal pada periode ulang gempa 500 tahun
