1. Home
  2. Archives
  3. Vol 20 (2013) Issue 2
  4. Articles

Analisis Wilayah Tergenang dan Perilaku Banjir pada Simulasi Kegagalan Bendungan Ciawi

Abstract

Abstrak. Paper ini menyajikan hasil analisis wilayah yang berpotensi terkena genangan banjir apabila Bendungan Ciawi mengalami kegagalan dan membuat peta daerah bahaya bencana banjir. Analisis wilayah tergenang dan perilaku banjir dalam studi ini menerapkan program ZhongXing HY-21 untuk membuat hidrograf aliran keluar dari bendungan, menganalisis tinggi genangan dan cepat rambatan banjir serta mengetahui sebaran wilayah yang terkena genangan. Selanjutnya dari parameter tersebut akan dilakukan analisis resiko genangan dengan penentuan klasifikasi resiko bencana untuk daerah hilir bendungan ditinjau dari tinggi genangan dan penduduk terkena resiko bencana. Debit outflow maksimum terjadi pada rekahan akibat keruntuhan Bendungan untuk skenario kasus piping yaitu 83690,9 m3/s (pada waktu ±0,52 jam saat proses keruntuhan). Jumlah wilayah terbesar yang terkena dampak genangan mencapai 21 Kecamatan dari 6 Kabupaten untuk skenario kasus overtopping. Klasifikasi tingkat resiko untuk daerah hilir Bendungan Ciawi secara umum termasuk dalam kategori dengan nilai 3 (Tingkat Resiko Menengah) dan kategori Daerah Bahaya Bencana 3 (tinggi genangan > 2 m). Abstract. This paper presents the area potentially affected by flood inundation in case of Ciawi Dam failure and to make a map of the flood hazard areas. Analysis of the flood inundation and its behavior in this study were done by application of the ZhongXing HY-21 program. The application of software resulted some paramteres, i.e: the outflow hydrograph through the dam, analyzing the water level, flood travel time and determining the distribution of the affected areas by inundation. Further more from these parameters will be analyzed to determine the risk of inundation by determining the downstream hazard classification in term of water level and risk recipient population. Dam failure due to piping case scenario has the largest discharge outflow which is 83690,9 m3/s (± 0.52 hours at the process of the failure). The largest number of areas affected by inundation reached 21 Sub-districts of 6 Districts to overtopping case scenario. The classification of Ciawi Dam downstream hazard generally included in the category with a value of 3 (Intermediate Risk Level) and category 3 of Disaster Hazard Areas (water level > 2 m).

Keywords

1. Pendahuluan

Bencana banjir di DKI Jakarta telah banyak menyebabkan kerugian. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir telah terjadi tiga kejadian bencana banjir besar yang menimpa DKI Jakarta. Guna meningkatkan faktor kemampuan (capacity) untuk meminimalisir resiko bencana banjir, Pemerintah Daerah DKI Jakarta berencana membangun infrastruktur pengendali banjir, salah satunya adalah Bendungan Ciawi.

Bendungan selain dapat berperan sebagai faktor yang dapat meningkatkan kemampuan (capacity) dalam

menurunkan resiko terhadap bencana, bendungan dapat pula menjadi sebuah faktor ancaman bencana (hazard) baru. Bencana banjir besar dapat menjadi sebuah bencana baru bila sebuah bendungan mengalami keruntuhan. Air yang tertampung oleh bendungan akan mengalir menuju hilir bendungan dengan karateristik debit yang sangat besar serta kecepatan yang tinggi. Bila kapasistas tampung alur sungai tidak mampu menampung aliran maka air akan meluap ke arah kanan dan kiri dari alur sungai dan dapat menggenangi daerah hilir bendungan yang umumnya padat penduduk. Analisis tentang sebaran wilayah tergenang, tinggi muka air genangang, dan cepat rambat aliran banjir (flood travel time) menjadi suatu yang diperlukan. Dengan analisis tersebut maka dapat diketahui resiko bencana pada wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana.

Berdasarkan uraian di atas, maka studi tentang analisis wilayah tergenang dan perilaku banjir pada simulasi kegagalan Bendungan Ciawi perlu dilakukan, mengingat untuk menindak lanjuti rencana pembangunan Bendungan Ciawi dan mengantisipasi ancaman bahaya kegagalan dari bendungan tersebut. Untuk mengetahui sebaran wilayah yang terkena dampak dari kegagalan Bendungan Ciawi dan perilaku banjir yang terjadi pada daerah hilir bendungan maka dalam studi ini dilakukan simulasi dengan menggunakan bantuan software ZhongXing – HY 21 yang dikeluarkan oleh Sinotech Engineering Consultant, Taiwan.

2. Persamaan Pengatur

Pada software ZhongXing – HY 21, konservasi massa dan momentum arah aliran dalam pemodelan diatur dengan persamaan (governing equation) 2 dimensi gelombang air dangkal atau 2D Shallow Water Equation yang berasal dari persamaan 3D Navier-Stokes dengan membuat beberapa asumsi tertentu dan persamaan rata – rata kedalaman aliran.

Secara umum persamaan kontinuitas dari persamaan 2 dimensi gelombang air dangkal adalah sebagai berikut (Sinotech Engineering Group, 2011):

\[\frac{\partial h}{\partial t} + \frac{\partial p}{\partial x} + \frac{\partial q}{\partial y} = S^h \tag{1}\] atau

\[\frac{\partial Q}{\partial t} + \frac{\partial F}{\partial x} + \frac{\partial G}{\partial y} = S \tag{2}\]

Dan persamaan momentum untuk masing – masing arah (x, y) sebagai berikut :

a. Momentum arah X:

\[\frac{\partial p}{\partial t} + \frac{\partial}{\partial x} \left( \frac{p^2}{h} + \frac{gh^2}{2} \right) + \frac{\partial}{\partial y} \left( \frac{pq}{h} \right) = -gh \frac{\partial z_b}{\partial x} + \Omega q + \frac{(\tau_x^s - \tau_x^b)}{\rho} + \frac{1}{\rho} \left[ \frac{\partial}{\partial x} (h \tau_{xx}^e) + \frac{\partial}{\partial y} (h \tau_{xy}^e) \right] - \frac{h}{\rho} \frac{\partial P_a}{\partial x} + S^p\] (3)

b. Momentum arah Y:

\[\begin{split} \frac{\partial q}{\partial t} + \frac{\partial}{\partial x} \left( \frac{q^2}{h} + \frac{gh^2}{2} \right) + \frac{\partial}{\partial y} \left( \frac{pq}{h} \right) &= -gh \frac{\partial z_b}{\partial y} + \Omega q + \\ \frac{\left( \tau_y^s - \tau_y^b \right)}{\rho} + \frac{1}{\rho} \left[ \frac{\partial}{\partial x} (h \tau_{xy}^e) + \frac{\partial}{\partial y} (h \tau_{yy}^e) \right] - \frac{h}{\rho} \frac{\partial P_a}{\partial y} + S^q \end{split}\] \[(4)\] dengan:

\[Q = \begin{bmatrix} h \\ hu \\ hv \end{bmatrix}; F = \begin{bmatrix} h \\ hu^2 + 0.5gh^2 \end{bmatrix}; G = \begin{bmatrix} h \\ huv \\ hv^2 + 0.5gh^2 \end{bmatrix};\] \[S = \begin{bmatrix} 0 \\ ghS_{0x} - ghS_{fx} \\ ghS_{0y} - ghS_{fy} \end{bmatrix}\]

dimana u dan v masing — masing menunjukan kecepatan dalam arah x dan y, h adalah kedalaman air, g merupakan percepatan gravitasi, \(S_{ox}\) dan \(S_{oy}\) merupakan kemiringan dasar untuk arah x dan y, dan \(S_{fx}\) dan \(S_{fy}\) masing — masing merupakan kemiringan dasar untuk arah x dan y.

2.1 Model turbulensi

Untuk pemodelan turbulensi pada program ini menggunakan konsep Boussinesq'sEddy Viscocity dan persamaannya adalah sebagai berikut (Sinothech, 2011):

\[\frac{h\tau_{ij}^e}{\rho} = v_t \left[ \frac{\partial (hu_j)}{\partial x_j} + \frac{\partial (hu_j)}{\partial x_j} \right] - \frac{2}{3} kh \delta_{ij}\] (5)

2.2 Solusi metode numerik

Persamaan konservative pada pemodelan ini adalah sebagai berikut (Sinothech, 2011):

\[\frac{\partial Q}{\partial t} + \frac{\partial F}{\partial x} + \frac{\partial G}{\partial y} = \frac{\partial F_v}{\partial x} + \frac{\partial G_v}{\partial y} + H\] (6)

dengan

\[Q = \begin{bmatrix} h \\ p \\ q \end{bmatrix}; F = \begin{bmatrix} p \\ hu^2 + 0.5gh^2 \\ huv \end{bmatrix}; G = \begin{bmatrix} q \\ huv \\ hv^2 + 0.5gh^2 \end{bmatrix};\] \[F_v = \begin{bmatrix} 0 \\ \frac{h\tau_{xxy}^e}{\rho} \\ \frac{h\tau_{xxy}^e}{\rho} \end{bmatrix}; G_v = \begin{bmatrix} 0 \\ \frac{h\tau_{xy}^e}{\rho} \\ \frac{h\tau_{yy}^e}{\rho} \end{bmatrix};\] \[H = \begin{bmatrix} S^p - gh \frac{\partial Z_b}{\partial x} + \Omega q + \frac{(\tau_x^s - \tau_x^b)}{\rho} - \frac{h}{\rho} \frac{\partial P_a}{\partial x} \\ S^q - gh \frac{\partial Z_b}{\partial y} + \Omega q + \frac{(\tau_y^s - \tau_y^b)}{\rho} - \frac{h}{\rho} \frac{\partial P_a}{\partial y} \end{bmatrix}\]

Solusi metode numerik yang digunakan pada software ZhongXing HY – 21 adalah Metode Volume Hingga (Finite Volume Method) dengan persamaan aliran dalam bentuk integral-diffrential adalah sebagai berikut (Sinothech, 2011):

\[\frac{\partial}{\partial t} \int_{\Omega} Q \, d\Omega + \int_{\partial \Omega} (E - E_{\nu}) ds = \int_{\Omega} H \, d\Omega \tag{7}\]

dimana E dan E<sub>v</sub> dalam arah normal :

\[E = Fn_x + Gn_y \tag{8}\]

\[E_{v} = F_{v} n_{x} + G_{v} n_{y} \tag{9}\]

2.3 Waktu integrasi

Persamaan metode garis yang digunakan pada software ini adalah sebagai berikut (Sinothech, 2011):

\[\frac{\partial}{\partial t} (QV)_{c} = \sum_{l=1}^{nedge} (E^{N} - E_{v}^{N})_{c}^{l} + (HV)_{c}\] (10)

Dimana untuk metode implisit vang digunakan untuk menyelesaikannya menggunakan LUSSOR (Lower-Upper Symmetric Successive Over-Relaxation) sedangkan metode eksplisit menggunakan 1st order atau 2<sup>nd</sup> order Runge-Kutta.

3. Metodologi

Tahapan - tahapan yang dilakukan pada studi keruntuhan bendungan, agar diperoleh informasi resiko bencana pada daerah yang terkena dampak dari kegagalan Bendungan Ciawi adalah sebagai berikut:

a. Analisis Hidrologi

Analisis hidrologi dimaksudkan untuk menentukan hidrograf banjir inflow ke waduk berupa debit Banjir Maksimum BolehJadi (PMF) yang mengakibatkan bendungan mengalami overtopping. Input debit PMF berdasarkan dari hasil analsis studi terdahulu yang telah dilakukan oleh BBWS Ciliwung - Cisadane tahun 2006 dalam laporan hidrologi Detail Desain Waduk Ciawi Tahap III.

b. Analisis Spasial

Analisis spasial dimaksudkan untuk menganalisis peta DEM (Digital Elevation Model) dan Rupa Bumi Indonesia (RBI) Digital sebagai inputan dalam simulasi kegagalan bendungan dan juga sebagai batasan wilayah studi yaitu DAS Ciliwung.

c. Analisis Penelusuran Hidrodinamik Banjir Akibat Keruntuhan Bendungan

Analisis penelusuran hidrodinamik banjir menggunakan software ZhongXing - HY 21, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh keruntuhan bendungan terhadap daerah hilir sehingga prilaku banjir di daerah hilir dapat diketahui antara lain: sebaran wilayah tergenang, cepat rambat aliran banjir (flood travel time). Dari hasil analisis akan diperoleh peta genangan banjir pada daerah hilir bendungan. Untuk simulasi keruntuhan Bendungan Ciawi akan dilakukan dua skenario, yaitu keruntuhan akibat overtopping dan piping.

Pada proses simulasi, parameter yang digunakan sebagai inputan software ZhongXing - HY 21 adalah debit PMF, data teknis bendungan, peta Digital Elevation Model dan peta RBI Digital. Sedangkan mesh yang digunakan yaitu untuk kerapatan mesh keseluruhan (Global Triangle Constraints) adalah \(area(m^2) < 1.000.000\) dan untuk kerapatan mesh regional (Regional Triangle Constraints) adalah berkisar area(m<sup>2</sup>) < 250.000 sampai dengan area(m<sup>2</sup>) < 750.000.

d. Analisis Sebaran Wilayah Genangan dan Resiko

Analisis sebaran wilayah genangan dan resiko dimaksudkan untuk mengetahui kondisi pada wilayah genangan, mengetahui parameter resiko genangan pada lokasi tinjauan yaitu meliputi tinggi genangan, jarak lokasi genangan dari as bendungan dan subjek terkena resiko bencana yaitu penduduk. Selanjutnya parameter tersebut akan dikuantifikasi menjadi tingkatan indeks resiko bencana

Berikut pada Tabel 1 di bawah akan dijelaskan tiga skenario kasus keruntuhan yang akan disimulasikan:

4. Analisis dan Pembahasan

4.1 Analisis hidrologi

Hasil analisis hidrologi yang telah dilakukan oleh BBWS Ciliwung – Cisadane tahun 2006 dalam laporan hidrologi Detail Desain Waduk Ciawi Tahap III menunjukan bahwa puncak hidrograf debit PMF yang terjadi adalah 1904 m<sup>3</sup>/detik dengan waktu puncak pada jam ke-8, berikut pada Gambar 1 akan disajikan gambar hidrograf banjir bendungan ciawi.

Tabel 1. Skenario kasus keruntuhan Bendungan Ciawi

TipeBentuk
Skenario
Elevasi muka air
awal di waduk (m)
Elevasi
Terjadinya
Rekahan
(m)
Elevasi Akhir
Rekahan
(m)
Lebar
Rekahan
(m)
Waktu Rekahan
(detik)
Kasus 1Overtopping+ 570.5+ 570.5+ 490.53603600
Kasus 2Piping dengan inflow QPMF+ 570.5+ 510.5+ 490.53603600
Kasus 3Piping tanpa inflow QPMF+ 570.5+ 510.5+ 490.53603600
1

Gambar 1. Grafik hidrograf banjir Bendungan Ciawi

(Sumber : BBWS Ciliwung – Cisadane, 2006)

4.2 Analisis spasial

Hasil analisis spasial memperlihatkan bahwa DAS Ciliwung memiliki topografi (-0) – >2000 m, dimana bila dibagi berdasarkan 3 segementasi wilayah DAS (hulu, tengah, hilir) maka topografi DAS Ciliwung adalah sebagai berikut :

a. Hulu : elevasi berkisar 300 – >2000 meter b. Tengah : elevasi berkisar 80 – 300 meter c. Hilir : elevasi berkisar (-0) – 80 meter

Selain itu terdapat beberapa percabangan alur sungai disekitar Sungai Utama (Ciliwung) yang terhubung langsung maupun tidak langsung dengan Sungai Ciliwung.

4.3 Analisis keruntuhan bendungan

Pada kasus keruntuhan Bendungan Ciawi akibat overtopping, debit limpasan maksimum yang terjadi adalah 31901,9 m3 /s pada jam ke ±0,78 atau 2810,58 detik disaat proses keruntuhan. Pada jam ke-3 terjadi peningkatan debit limpasan hal ini karena adanya debit inflow (QPMF) ke dalam waduk.

Untuk kasus keruntuhan Bendungan Ciawi akibat piping (dengan inflow), debit limpasan maksimum yang terjadi adalah 83690,9 m3 /s pada jam ke ±0,52 atau 1886,59 detik disaat proses keruntuhan. Pada jam ke-5 terjadi peningkatan debit limpasan hal ini karena adanya debit inflow (QPMF) ke dalam waduk.

Sedangkan untuk keruntuhan Bendungan Ciawi akibat piping (tanpa inflow), debit limpasan maksimum yang terjadi adalah 75503,2 m3 /s pada jam ke 0,548 atau 1972,8 detik disaat proses keruntuhan.

4.4 Analisis penelusuran hidrodinamik banjir

Pada kasus keruntuhan Bendungan Ciawi akibat overtopping,terdapat 21 Kecamatan dan 6 Kabupaten yang terkena dampak genangan banjir. Sedangkan Untuk kasus keruntuhan akibat piping (dengan inflow), terdapat 9 Kecamatan dan 2 Kabupaten dan untuk kasus keruntuhan akibat piping (tanpa inflow), terdapat 20 Kecamatan dan 6 Kabupaten yang terkena dampak genangan banjir. Daftar nama Kecamatan dan Kabupaten yang terkena dampak dari keruntuhan Bendungan Ciawi akan disajikan pada Tabel 2.

Pada kasus overtopping kecepatan aliran banjir rata-rata pada alur Sungai Ciliwung adalah 1,02 m/s, sedangkan untuk kasus piping (dengan inflow) dan piping (tanpa inflow) kecepatan aliran banjir rata-rata pada alur Sungai Ciliwung masing – masing 1,20 m/s dan 0,42 m/ s.

Dan untuk hasil analisis waktu tiba banjir dan tinggi genangan maksimum yang terjadi pada masing – masing wilayah tergenang akan disajikan pada Tabel 3 di bawah ini.

4.5 Analisis sebaran wilayah genangan dan resiko

Hasil penelusuran hidrodinamik banjir memperlihatkan bahwa sebaran wilayah genangan yang terjadi baik pada skenario kasus keruntuhan akibat overtopping maupun piping tidak hanya berada pada wilayah DAS Ciliwung akan tetapi hingga mencapai daerah di luar wilayah DAS Ciliwung.

Berdasarakan tinjauan lokasi dengan peta DEM (Digital Elevation Model), peta kontur, peta jaringan sungai dan penampang melintang profil lahan daerah lokasi genangan, daerah genangan yang terjadi di luar wilayah DAS Ciliwung berada pada elevasi +330 – 140 meter dengan karakteristik kontur yang tidak terlalu rapat dan kemiringan lereng yang relative seragam. Demikian hal ini menyebabkan sebagian aliran banjir yang terjadi masuk pada wilayah DAS Bekasi.

Selain itu terdapat beberapa percabangan alur sungai disekitar Sungai Utama (Ciliwung) yang terhubung langsung maupun tidak langsung dengan Sungai Ciliwung menyebabkan aliran banjir yang terjadi menyebar hingga keluar wilayah DAS Ciliwung hingga masuk pada sebagian wilayah DAS Cisadane. Seperti yang telah diperlihatkan pada Gambar 2 dan Gambar 3 sebagian wilayah genangan yang terjadi hingga masuk pada wilayah DAS Bekasi dan DAS Cisadane.

Tabel 2. Sebaran wilayah tergenang genangan banjir

NoNama Kabupaten/KotaNama KecamatanTipe Skenario Kasus Keruntuhan
NoNama KecamatanKasus 1Kasus 2Kasus 3
1Megamendung\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)
2Bojonggede\(\sqrt{}\)
3V-l DCibinong\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)
4Kab. BogorCiawi\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)
5Kedunghalang\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)
6Semplak\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)
7Bogor SelatanVV
8Kota BogorBogor Timur\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)\(\checkmark\)
9Bogor Utara\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)\(\checkmark\)
10Tanah Sereal\(\sqrt{}\)-
11PancoranmasVV-
12DepokBeji\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
13Sukmajaya\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
14Jaga KarsaV\(\sqrt{}\)-
15Tebet\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
16Jakarta SelatanPasar Minggu\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
17Pancoran\(\sqrt{}\)\(\checkmark\)-
18Setia Budi\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
19Jakarta TimurPasar ReboVV-
20Intronto DugatMenteng\(\sqrt{}\)\(\sqrt{}\)-
21Jakarta PusatTanah Abang\(\sqrt{}\)--

Ket : \(\sqrt{\ }\) = Lokasi terkena dampak genangan pada tipe skenario kasus keruntuhan

Tabel 3. Cepat rambat aliran banjir (flood travel time)

LokasiWaktu Tiba Banjir (jam)Tinggi Genangan Maksimum
(m)
Kasus 1Kasus 2Kasus 3Kasus 1Kasus 2Kasus 3
Kec. Megamendung0.370.230.5715,0419.4419.60
Kec. Ciawi0.470.330.6015,6221.5820.94
Daerah Katulampa0.670.500.6314,4617.5617.51
Kec. Bogor Selatan0.670.500.6717,7620.6620.39
Kec. Bogor Timur0.800.600.703,406,005,87
Kec. KedungHalang0.970.700.7010,398.0210.38
Kec. Bogor Utara1.130.870.971,951.991.99
Kec. Tanah Sereal1.331.071.2320,9519.8019.81
Kec. Semplak1.731.471.7312,1211.0911.10
Kec. Bojonggede1.871.602.0324,4924.1624.16
Kec. Cibinong2.031.83-20,5020.50-
Kec. Beji13.1313.43-12,8612.84-
Kec. Jaga Karsa15.9016.27-12,8512.81-
Kec. Pasar Rebo28.0329.37-7,667.61-
Kec. Pasar Minggu27.9029.17-17,0917.09-
Kec. Pancoran49.6053.33-7,897.88-
Kec. Tebet73.9077.63-3,353.35-
Kec. Setia Budi76.3380.07-5.025.02-
Kec. Menteng77.2781.00-5,065.02-
Kec. Tanah Abang80.53--2,30--

Gambar 2. Tampak atas profil 3 dimensi peta DEM (Digital Elevation Model) DAS Ciliwung dan sekitarnya

3

Gambar 3. Peta kontur dan alur sungai tinjauan lokasi genangan

Percabangan alur sungai di luar daerah DAS Ciliwung yang menerima debit banjir dari simulasi keruntuhan Bendungan Ciawi diantaranya: Sungai Cisadane, Sungai Cikeas, Kali Baru, Ci Tanggul, Ci Teureup, Kali Palayang, Kali Baru 2, Kali Caringin Bawah, Kali Caringin dan Kali Pesanggrahan.

Selain itu jika ditinjuan berdasarkan kondisi fisik (penampang melintang profil lahan dan muka air banjir) pada daerah genangan di dalam dan di luar sekitar DAS Ciliwung, profil muka air banjir yang terjadi telah melewati atau melebihi punggung – punggung bukit sebagai batas antara DAS Ciliwung dengan DAS Bekasi. Dimana elevasi punggung bukit yang menjadi batas antara DAS Ciliwung dengan DAS Bekasi berada pada ketinggian + 350 meter sedangkan elevasi muka air banjir yang terjadi lebih besar dari elevasi punggung bukit ( ± 355 meter). Pada Gambar 4 di bawah ini memperlihatkan kondisi muka air banjir yang terjadi melewati batas antara DAS Ciliwung dan DAS Bekasi.

Berdasarkan analisis penelusuran banjir pada lokasi tinjauan terjadinya limpasan hingga keluar dari DAS Ciliwung, limpasan terjadi pada waktu 0,667 jam setelah terjadinya keruntuhan Bendungan Ciawi dengan kecepatan maksimum aliran banjir yang terjadi adalah 9,23 m/s. Berikut pada Tabel 4 di bawah ini akan dijelaskan hubungan kecepatan aliran banjir dengan muka air banjir pada saat terjadi limpasan keluar DAS Ciliwung.

1

Gambar 4. Penampang melintang profil lahan daerah genangan di dalam dan di luar DAS Ciliwung

Tabel 4. Hubungan kecepatan aliran banjir dengan muka air banjir saat terjadi limpasan keluar DAS Ciliwung

WaktuElevasi Profil LahanElevasi Muka Air BanjirTinggi Muka Air BanjirKecepatan Aliran
(jam)(m)(m)(m)Banjir (m/s)
0,6344,19344,190,000,00
0,63344,19344,190,000,00
0,67344,19354,6510,464,81
0,7344,19355,1410,956,33
0,73344,19355,9411,757,37
0,77344,19356,7112,528,18
0,8344,19357,3913,208,63
0,83344,19357,9513,768,96
0,87344,19358,3914,209,16
0,9344,19358,6214,439,23
0,93344,19358,6514,469,21
0,97344,19358,4814,299,10
1344,19358,1413,958,88
1,03344,19357,6813,493,30
1,07344,19357,1112,922,84
1,1344,19356,4812,292,25
1,13344,19355,9111,721,72
1,17344,19355,3911,201,29
1,2344,189354,8710,681,00
1,23344,189354,3010,110,83
1,27344,189354,9110,720,70
1,3344,189354,5910,400,61

4.6 Analisis luas area dan genangan

Dari hasil analisis simulasi keruntuhan Bendungan Ciawi untuk skenario kasus overtopping untuk waktu simulasi 84 jam atau 3,5 hari diperoleh total akumulasi luas area genangan adalah 8905,02 Ha dan total volume genangan 132.329.971,7 m³. Puncak akumulasi untuk luas total area genangan dan untuk akumulasi volume total genangan terjadi pada jam ke 84 atau 302400 detik.

Sedangkan untuk skenario kasus piping (dengan inflow) untuk waktu simulasi 84 jam atau 3,5 hari diperoleh total akumulasi luas area genangan adalah 8367,94 Ha dan total volume genangan 132.434.494,19 m³. Puncak akumulasi untuk luas total area genangan dan untuk akumulasi volume total genangan terjadi pada jam ke 84 atau 302400 detik

Dan untuk skenario kasus piping (dengan inflow) untuk waktu simulasi 33,7 jam atau 1,4 hari diperoleh total akumulasi luas area genangan adalah 4927,91 Ha dan total volume genangan 44.968.012,63 m³. Puncak akumulasi luas total area genangan terjadi pada jam ke 2,33 atau 8400 detik dan untuk puncak akumulasi volume total genangan terjadi pada jam ke 2,27 atau 8160 detik

4.7 Analisis resiko genangan

4.7.1 Klasifikasi daerah bahaya bencana berdasarkan tinggi genangan

Pada analisis daerah bahaya bencana untuk setiap lokasi (kecamatan) yang terkena dampak bencana keruntuhan Bendungan Ciawi parameter yang akan dijadikan acuan klasifikasi resiko adalah berdasarkan tinggi genangan banjir yang terjadi disetiap lokasi. Dalam hal ini sistem klasifikasi Daerah Bahaya akan dibagi menjadi 3 kategori yaitu sebagai berikut:

Tabel 5. Sistem klasifikasi daerah bahaya berdasarkan tinggi genangan banjir akibat keruntuhan bendungan

NoTinggi Genangan
Banjir (m)
Klasifikasi Daerah
Bahaya
10 - 0,501
20,50 - 2,002
3> 2,003

Sumber: Dirjen Sumber Daya Air, 2010

Berikut pada Tabel 6 akan disajikan hasil analisis klasifikasi daerah bahaya bencana pada setiap lokasi genangan akibat keruntuhan Bendungan Ciawi secara umum dan keseluruhan.

Tabel 6. Klasifikasi daerah bahaya pada wilayah tergenang

LokasiRata-rata Tinggi Genangan Banjir (m)Klasifikasi Daerah Bahaya
Kec. Megamendung> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Ciawi> 2,0Daerah Bahaya 3
Daerah Katulampa> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Bogor Selatan> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Bogor Timur> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. KedungHalang> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Bogor Utara> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Tanah Sereal> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Semplak> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Bojonggede> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Cibinong> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Pancoranmas> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Beji> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Sukmajaya> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Jaga Karsa> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Pasar Rebo> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Pasar Minggu> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Pancoran> 2,0Daerah Bahaya 3
Kec. Tebet0.5 - 2,0Daerah Bahaya 2
Kec. Setia Budi0.5 - 2,0Daerah Bahaya 2
Kec. Menteng0.5 - 2,0Daerah Bahaya 2
Kec. Tanah Abang0.5 - 2,0Daerah Bahaya 2

Hasil analisis pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa sebagian besar daerah genangan di dominasi oleh tinggi genangan banjir melebih 2 meter ( > 2 meter). Demikian dapat disimpulkan bahwa daerah hilir Bendungan Ciawi termasuk kategori Daerah Bahaya 3.

4.7.2 Klasifikasi tingkat resiko bencana berdasarkan penduduk terkena resiko

Dalam hal ini sistem klasifikasi tingkat resiko bencana akan dibagi menjadi 5 kategori tingkat resiko bencana yaitu sebagi berikut:

  • 1) Tingkat Resiko Rendah (Tingkat 1)
  • 2) Tingkat Resiko Sedang (Tingkat 2)

  • 3) Tingkat Resiko Menengah (Tingkat 3)
  • 4) Tingkat Resiko Tinggi (Tingkat 4)
  • 5) Tingkat Resiko Sangat Tinggi(Tingkat 5)

Klasifikasi tingkat resiko bencana berupa hubungan antara jarak pemukiman dengan jumlah kumulatif KK dan klasifikasi tingkat resiko bencana atau bahaya berdasarkan tinggi genangan banjir dapat dilihat pada Tabel 7.

Berikut pada Tabel 8 akan disajikan hasil analisis tingkat resiko bencana pada setiap lokasi genangan dengan mengambil sampel pada skenario kasus keruntuhan overtopping sebagai kasus keruntuhan yang menghasilkan area genangan terbesar.

Tabel 7. Sistem klasifikasi resiko bencana berdasarkan jumlah penduduk di daerah resiko banjir akibat keruntuhan bendungan

Jumlah KK
Kumulatif
Jarak dari As Bendungan
(km)
(KK)*0 – 50 – 100 - 200 - 300 - > 30
011111
1 – 20032211
201 – 5.00044332
5.001 – 20.00055433
20.001 – 250.00055444
> 250.00055555

*Asumsi : 1 KK = 1 rumah;1 KK = 5 orang

Sumber : Colen Power Consulting, 1997 dalam Dirjen Sumber Daya Air, 2010

Tabel 8. Klasifikasi tingkat resiko bencana akibat kegagalan Bendungan Ciawi

LokasiJarak Dari
Bendungan
Penduduk Terkena ResikoTingkat Resiko
(Km)JiwaKK
Kec. Megamendung0,9828175634
Kec. Ciawi2,52701914044
Kec. Bogor Selatan5,532393447874
Kec. Bogor Timur6,724631192625
Kec. KedungHalang8,311005620114
Kec. Bogor Utara11,34113840227684
Kec. Tanah Sereal14,912307546153
Kec. Semplak19,5917223442
Kec. Bojonggede21,0277201154403
Kec. Cibinong21,702693953883
Kec. Pancoranmas30,783460069203
Kec. Beji35,021195423912
Kec. Sukmajaya35,10831716632
Kec. Jaga Karsa37,81112845225694
Kec. Pasar Rebo42,732145042902
Kec. Pasar Minggu44,3951222102443
Kec. Pancoran48,512737554753
Kec. Tebet50,8374056148113
Kec. Setia Budi54,064742094843
Kec. Menteng56,434466889343
Kec. Tanah Abang58,831350127002
Total780321156064

Hasil analisis pada Tabel 8 memperlihatkan bahwa tingkat resiko pada daerah genangan bervariasi mulai dari Tingkat Resiko Sedang (2) hingga Tingkat Resiko Sangat Tinggi (5). Namun bila dilihat secara keseluruhan sebagian besar daerah genangan di dominasi oleh Tingkat Resiko dengan nilai 3. Demikian dapat disimpulkan bahwa daerah hilir Bendungan Ciawi termasuk kategori Tingkat Resiko Menengah.

5. Kesimpulan

Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Jumlah wilayah yang terkena dampak genangan pada skenario kasus overtopping; piping dengan inflow; dan piping tanpa inflow untuk masing – masing kasus adalah 21 Kecamatan dari 6 Kabupaten; 20 Kecamatan dari 6 Kabupaten; dan 9 Kecamatan dari 2 Kabupaten.
  • 2. Total Penduduk Terkena Resiko (Penris) Bencana terbesar untuk skenario kasus overtopping diperkirakan sebanyak 7.80.321 jiwa atau sebanyak 1.56.064 KK.
  • 3. Klasifikasi bahaya bencana untuk daerah hilir Bendungan Ciawi secara umum termasuk dalam kategori dengan nilai 3 (Tingkat Resiko Menengah) dan kategori Daerah Bahaya Bencana 3 (tinggi genangan > 2 m).
  • 4. Debit outflow maksimum pada saat terjadi rekahan akibat keruntuhan Bendungan Ciawi untuk skenario kasus overtopping; piping dengan inflow; dan piping tanpa inflow masing masing adalah 31901,9 m³/s (pada waktu ±0,78 jam saat proses keruntuhan); 83690,9 m³/s (pada waktu ±0,52 jam saat proses keruntuhan); dan 75503,2 m³/s (pada waktu ±0,548 jam saat proses keruntuhan).

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

7
Citations
0.84
FWCIfield-weighted
86th
Percentilevs same year + field
Article
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20221
20212
20202
20171
20161

Semantic Profile AI-classified research signals

Physics 0.65
level 0
Forestry 0.44
level 1
Geography 0.28
level 0

Institution Network

References

  1. BBWS Ciliwung - Cisadane; 2006; Laporan Penunjang Volume I : Pekerjaan Penyusunan Detail Desain Waduk Ciawi Tahap III. Departemen Pekerjaan Umum Dirjen Sumber Daya Air. Jakarta
  2. Colenco Power Consulting; 1997; Guidelines for Downstream Hazard Clasification; Dam Safety Project.
  3. Dirjen Sumber Daya Air; 2010; Laporan Penunjang Perhitungan DBA dan Klasifikasi Hazard; Penyusunan Rencana Tindak Darurat (Emergency Action Plan) Bendungan Tempuran. Kementrian Pekerjaan Umum. Jakarta.
  4. Sinotech Engineering Group; 2011; ZhongXing - HY 21; Step By Step Manual. Sinotech Engineering
  5. Group