1. Pendahuluan
Kegiatan operasi dan kegiatan pemeliharaan merupakan kegiatan utama untuk mempertahankan prasarana sumber daya air agar dapat berfungsi dan memberikan manfaat sampai dengan umur teknis bangunan habis, dan merupakan kegiatan pasca pembangunan yang menentukan keberlanjutan sumber daya air.Kegiatan operasi adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian serta penyediaan air dan sumber air untuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air, dan kegiatan pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat guna menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air (UU RI No 7, 2004). Kegiatan pemeliharaan prasarana sumber daya air
terdiri atas: (1) kegiatan pencegahan kerusakan dan/ atau penurunan fungsi prasarana sumber daya air serta, (2) perbaikan kerusakan prasarana sumber daya air (PP RI No 42, 2008).
Pendanaan untuk kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemen (OP&M) berhubungan erat dengan kemampuan sarana prasarana untuk mencapai kinerja yang tinggi. Pada saat ada keterbatasan dana, makaakan mengakibatkan satu atau beberapa kegiatan tidak dapat dilaksanakan, danpengelola harus memilih prioritas kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemen yang akan dilakukan. Setiap Pengelola sumber daya air mempunyai pertimbangan masingmasing di dalam menentukan prioritas kegiatan.
Demikian juga, komponen dan rincian biaya untuk kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemen di setiap pengelola adalah berbeda-beda.
Berdasarkan Undang-undang Sumber daya Air Nomor 7 tahun 2004, sumber dana untuk operasi, pemeliharaandan managemen dapat berupaanggaran pemerintah, anggaran swasta dan/atauhasil penerimaan biaya jasa pengelolaan sumber daya air (UU RI No 7, 2004).
Biaya jasa pengelolaan sumber daya air (BJP-SDA), adalahbiaya yang ditarik dari para penerima manfaat untuk melakukan pengelolaan agar sumber daya air dapat didayagunakan secara berkelanjutan. Sedangkan penerima manfaat berhubungan erat dengan tujuan dari pengembangan sumber daya air tersebut, yang pada umumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air baku, pertanian, ketenagaan, industri, pertambangan, perhubungan, kehutanan, olah raga, rekreasi dan pariwisata. Untuk itu diperlukan identifikasi dan penjelasan siapa saja penerima manfaat layanan air yang diharapkan ikut menanggung biaya pengelolaan sumber daya air.
Sebagai sumber dana operasi, pemeliharaan dan managemen, kontribusi jasa pengelolaan sumber daya air pada umumnya masih rendah. Rendahnya kontribusi ini antara lain karena ketidak jelasan hubungan antara kontribusi biaya pengelolaan dengan alokasi dana untuk kegiatan-kegiatan proyek (Easter dan Liu, 2005) dan kriteria pembagian beban kontribusi. Besarnya beban BJP-SDA kepada masing-masing penerima manfaat
tidak ditentukan hanya berdasarkan volume atau debit air saja, melainkan banyak faktor lain seperti luas daerah layanan, biaya operasi, biaya pemeliharaan, managemen dan nilai manfaat air (Sangkawati, 2010).
Untuk pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana sumber daya air, dapat dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah atau pengelola sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. Dalam hal prasarana sumber daya air yang dibangun oleh badan usaha, kelompok masyarakat, atau perseorangan, pelaksanaannya menjadi tugas dan tanggung jawab pihak-pihak yang membangun (UU RI No 7, 2004). Mengingat kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemensarana prasarana sumber daya air akan melibatkan masyarakat, maka diperlukan identifikasi faktor-faktor pengaruh kecukupan dana operasi, pemeliharaan dan managemen melalui pendapat publik.
2. Rancangan Studi
2.1 Proses studi
Studi ini ditujukan untuk mendapatkan deskripsi dan gambaran kegiatan OP&M sumber daya air, sehingga studi dilakukan dengan metode deskriptif. Hasil studi diharapkan berguna untuk melengkapi koleksi data atau informasi pada saat identifikasi biaya dan pemulihan biaya operasi, pemeliharaan dan manajemen. Proses studi ditunjukkan dalam Gambar 1, dengan teknik studi menggunakan kuesioner.
2.2 Lokasi studi
Studi dilaksanakan pada tahun 2012 di dua wilayah sungai, dengan wilayah sungai tersebut dipilih secara purposive berdasarkan kriteria:
- 1. Wilayah sungai yang sudah dikelola secara mandiri. Wilayah sungai yang dipilih adalah Wilayah Sungai Brantas dengan sungai utama Sungai Brantas.
- 2. Wilayah sungai yang mempunyai prospek secara ekonomi, dan diperkirakan dapat mandiri setelah mencapai tingkat perkembangan tertentu. Pola pengelolaan wilayah sungai ini dapat dilaksanakan oleh lembaga korporasi (Sjarief, 2002). Wilayah sungai yang dipilih adalah Wilayah Sungai Jratunseluna, dengan sungai utama Sungai Serang-Lusi-Juana.
2.3 Pengumpulan data
Studi didasarkan pada penilaiaan obyektif terhadap permasalahan oleh para pihak yang mempunyai kepentingan dengan menjawab secara tertulis terhadap formulir survai (kuesioner). Dalam studi ini digunakan desainfixed sampling design, karena sampel yang dibentuk mengikuti aturan tertentu dan tidak berubah-ubah selama proses penarikan sampel berlaku (Churchman et al., 1961 dalam Nazir, 2003).
Jumlah dan jenis responden yang diambil dari unit elementer ditentukan secara purposive sampling, dalam hal ini responden dipilih yang mampu memberikan pendapat dan pemikiran yang berkaitan dengan profesi atau kepakarannya, dengan batasan tertentu, yaitu:
- 1. Para pakar yang mampu memberikan pendapat atau jawaban yang tepat dan obyektif terhadap permasalahan pengelolaan sumber daya air (Loveridge, 2005 dalam Mulyono, 2007).
- 2. Seorang yang mampu memberikan justifikasi atau pendapat terhadap solusi masalah karena memiliki pengalaman bekerja pada bidang yang terkait langsung dengan permasalahan pengelolaan sumber daya air. (Chakraborty, 2001; Drausfield et al, 2000 dalam Mulyono, 2007).
Berdasarkan batasan karakter tersebut, jumlah pakar yang menjadi responden adalah 203 responden, dengan rinciandi DAS Brantas 99 orang dan di DAS Seluna 104 orang.
Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disampaikan secara langsung kepada responden, sedangkan jawaban responden dikirim kembali melalui jasa pos.
2.4 Kuesioner
Sebagai alat pengumpulan data digunakan daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan (kuesioner) dirancang menjadi dua bagian:
- 1. Biaya operasi, pemeliharaan dan manajemen.
- 1) Rincian persentasi dana kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemen berdasarkan kegiatan.
- 2) Persentasi biaya operasi, pemeliharaan dan managemen berdasarkan kategori.
- 3) Prioritas kegiatan operasi, pemeliharaan dan managemen apabila terdapat keterbatasan dana.
- 4) Prioritas kategori pembelanjaan operasi, pemeliharaan dan managemen apabila terdapat keterbatasan dana.
- 2. Biaya jasa pengelolaan sumber daya air.
- 1) Siapa saja penerima manfaat yang menanggung biaya pengelolaan.
- 2) Faktor-faktor apa yang menentukan dalam pembagian beban biaya jasa pengelolaan sumber daya air.
2.5 Analisis dan penafsiran data
Formulir berisi pertanyaan kepada responden untuk memberikan penilaian terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan OP&M. Penilaian dinyatakan dalam, (1) persentasi dana kegiatan OP&M, (2) peringkat 1, 2, ..n kegiatan OP&M, (3) pilihan faktor-faktor BJP-SDA.
Jawaban dari responden diproses dengan tabulasi data yang dipindahkan langsung ke dalam tabel. Jawaban tersebut diolah dengan pendekatan statistik deskriptif sehingga dapat diketahui proporsi antara jawaban. Analisis tersebut tidak melakukan reduksi maupun seleksi variabel. Penafsiran data yang tidak dapat dipisahkan dari análisis disusun untuk menjelaskan secara rinci tentang arti dari variabel sehingga, menghasilkan suatu konsep yang bersifat menerangkan.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Responden
Dari 203 kuesioner yang dikirim, responden yang mengisi dan mengirimkan kembali kuesioner adalah 157, dengan jumlah terbesar adalah responden dari kelompok pengelola yaitu 50,96% dan terbesar kedua dari kelompok pengguna yaitu 35,03% (Gambar 2).

Gambar 2. Persentasi jumlah respoden
Berdasarkan tingkat pendidikan responden yang mengisi dan mengembalikan kuesioner, jumlah terbesar adalah responden dengan jenjang pendidikan magister (Gambar 3) yaitu 48,95% dan sarjana yaitu 30,07%.

Gambar 3. Pendidikan respoden
Jumlah jawaban dari responden untuk masing-masing kuesioner adalah sebagai berikut:
- 1) Kuesioner 1 = 111 jawaban.
- 2) Kuesioner 2 = 105 jawaban.
- 3) Kuesioner 3 = 110 jawaban.
- 4) Kuesioner 4 = 113 jawaban.
- 5) Kuesioner 5 = 125 jawaban.
- 6) Kuesioner 6 = 120 jawaban.
3.2 Pengeluaran berdasarkan kegiatan
Pada studi/penyelidikan melalui pendapat umum ini, kegiatan operasi, pemeliharaan dan manajemen dibedakan menjadi lima kegiatan yaitu kegiatan operasi, pemeliharaan, manajemen air yang efisien, sistem keamanan dan kegiatan lain.
Kegiatan "manajemen air yang efisien" adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan operasi, sedangkan kegiatan "sistem keamanan" antara lain kegiatan tak terduga untuk kondisi darurat. Kegiatan pemeliharaan dibedakan menjadi pemeliharaan saluran, pemeliharaan bangunan dan pemeliharaan sungai.
Termasuk dalam "kegiatan lain" menurut jawaban responden adalah kegiatan-kegiatan; rapat, koordinasi, sosialisasi, informasi, data hidrologi, pemberdayaan masyarakat, capasity building, low enforcement, P3A dan GP3A.
Persentasi rata-rata pengeluaran berdasarkan kegiatan diberikan dalam Gambar 4, dengan persentasi terbesar dialokasikan untuk pemeliharaan yaitu 57,55%.
Hampir seluruh responden (92%) memberikan alokasi belanja untuk pemeliharaan ≥40%, dengan rataratabelanja 60,64%. Sedangkan responden yang memberikan alokasi belanja operasi ≥40% hanya 2% (22 responden) dengan rata-rata belanja 49% (Tabel 1).
Apabila pemeliharaan dibedakan menjadi tiga komponen, alokasi terbesar adalah untuk pemeliharaan saluran yaitu 21,29%, kemudian pemeliharaan bangunan 19,21%, dan terkecil pemeliharaan sungai yaitu 17,05% (Gambar 4).
Tabel 1. Persentasi belanja operasi, pemeliharaan dan manajemen berdasarkan kegiatan
| Operasi, pemeliharaan dan manajemen berdasarkan kegiatan (111 jawaban) | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Rincian persentasi belanja | Operasi | Pemeliharaan | Manajemen air yang efisien | Sistim Keamanan | Lainnya | ||
| Rata-rata | 25,09% | 57,55% | 7,08% | 5,67% | 4,61% | ||
| Alokasi pemelihaaan rata-rata ≥40% | 22,53% | 60,64% | 7,30% | 5,77% | 3,76% | ||
| Alokasipemeliharaan rata-rata<40% | 54,05% | 22,59% | 4,57% | 4,57% | 14,22% | ||
| Alokasi operasi rata-rata ≥40% | 49,00% | 37,94% | 5,88% | 4,92% | 2,23% | ||
| Alokasioperasi rata-rata<40% | 19,17% | 62,40% | 7,37% | 5,86% | 5,20% | ||
| Maksimum | 100% | 100% | 25% | 20% | 26% | ||
Gambar 4. Rincian persen belanja kegiatan masing-masing kelompok responden
Kecenderungan penilaian kelompok responden dalam alokasi biaya kegiatan operasi, pemeliharaan dan manajemen adalah identik (Gambar 5) kecuali dari responden pengguna pada kegiatan lain. Dalam hal ini kegiatan lain lebih besar apabila dibandingkan dengan kegiatan manajemen air yang efisien dan kegiatan sistim keamanan.
3.3 Pengeluaran berdasarkan kategori
Persentasisesuai kategori pengeluaran ditujukan untuk mengetahui berapa besar pengeluaran untuk gaji, bahan habis dan kegiatan dengan kontrak. Persentasi pengeluaran operasi, pemeliharaan dan manajemen berdasarkan kategori dari responden bervariasi. Dari 105 jawaban, persentasibesar diberikan untuk pengeluaran gaji yaitu 28,06% dan kegiatan dengan kontrak 21,86%. Apakah pengeluaran untuk gaji/upah besar atau lebih besar untuk kontraktor, dengan rinci ditunjukkan dalam Tabel 2.
Lebih dari setengah dari total jawaban kuesioner (53,33%) memberikan alokasi gaji ≥25%, dengan ratarata alokasi belanja gaji 39,43%. Namun hanya 34,29%
responden yang mengalokasikan kegiatan kontrak ≥25%, dengan rata-rata alokasi belanja 43,31%.
Ketiga kelompok responden juga memberikan alokasi belanja dengan kecenderungan yang identik, kecuali pengeluaran pada kategori lainnya dari kelompok pengguna yang lebih besar dari pengeluaran untuk tiga kategori lainnya (Gambar 6).
Beberapa kategori yang masuk ke dalam kategori lainnya menurut responden adalah: koordinasi dengan masyarakat, overhead, administrasi, biaya tak terduga, rehabilitasi, PPn, bahan bakar, perjalanan dinas, informasi, pengolahan data.
3.4 Prioritas pengeluaran
Kuesioner juga menyelidiki penyesuaian apa yang akan dilakukan untuk pengeluaran operasi, pemeliharaan dan manajemen jika ada keterbatasan dana. Jawaban dari 110 responden, 89 jawaban memberikan prioritas teringgi pada sistem operasi rutin. Prioritas tinggi juga diberikan pada kegiatan pemeliharaan.

Gambar 5. Kecenderungan penilaian responden pada biaya kegiatan
Tabel 2. Persentasi belanja operasi, pemeliharaan dan manajemen berdasarkan kategori
| Operasi, pemeliharaan dan manajemen berdasarkan kategori | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Rincian persentasi belanja | Gaji | Utilitas/ bahan habis | (105 jav Penggantian perlengkapan | Kontrak | Sewa, leasing, dll | Lainnya | |
| Rata-rata | 28,06% | 19,64% | 15,93% | 21,86% | 8,16% | 6,35% | |
| Membelanjakan ≥25% untuk gaji | 39,43% | 20,78% | 13,50% | 16,08% | 6,81% | 3,39% | |
| Membelanjakan <25% untuk gaji | 15,05% | 18,35% | 18,71% | 28,47% | 9,69% | 9,73% | |
| Kontrak ≥25% | 20,09% | 13,58% | 12,86% | 43,31% | 6,31% | 3,85% | |
| Kontrak <25% | 32,21% | 22,81% | 17,53% | 10,67% | 9,12% | 7,65% | |

Gambar 6. Kecenderungan penilaian responden pada kategori pengeluaran

Gambar 7. Prioritas tertinggi kegiatan jika terdapat keterbatasan dana

Gambar 8. Prioritas kedua kegiatan jika terdapat keterbatasan dana
Rangking tertinggi prioritas pada kegiatan pemeliharaan berturut-turut adalah pemeliharaan saluran, pemeliharaan bangunan dan pemeliharaan sungai sebagai ditunjukkan dalam Gambar 7, dan prioritas kedua dalam Gambar 8.
Persentasi terhadap 110 responden yang menilai bahwa prioritas pertama kegiatan apabila ada keterbatasan dana operasi, pemeliharaan dan manajemen pengelolaan sumber daya air adalah sebagai berikut:
| 1. | Operasi | 80,91% |
|---|---|---|
| 2. | Pemeliharaan sungai | 16,36% |
| 3. | Pemeliharaan bangunan | 23,64% |
| 4. | Pemeliharaan saluran | 29,09% |
| 5. | Manajemen air yang efisien | 12,73% |
| 6. | Sistem keamanan | 7,27% |
| 7. | Lainnya | 3,64% |
Prioritas pertama pembelanjaan berdasarkan kategori adalah gaji/upah dan kedua adalah bahan habis pakai (Tabel 3). Penilaian kelompok responden menunjukkan kecenderungan yang sama sebagai ditunjukkan dalam Gambar 9.
Persentasi jawaban prioritas berdasarkan kategori pembelanjaan apabila ada keterbatasan dana operasi, pemeliharaan dan manajemen pengelolaan sumber daya air terhadap 113 jawaban adalah sebagai berikut:
| 1. | Gaji | 65,49% |
|---|---|---|
| Utilitas/ bahan habis | 27,43% | |
| 3. | Penggantian perlengkapan | 23,01% |
| 4. | Kontrak | 11,50% |
| 5. | Sewa, leasing, dll | 3,54% |
3.5 Biaya jasa pengelolaan sumber daya air
Untuk terselenggaranya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, penerima manfaat layanan air pada prinsipnya wajib menanggung biaya pengelolaan sesuai dengan manfaat vang diperoleh (UU Nomor 7 Tahun 2004), melalui biaya jasa pengelolaan sumber daya air.
Biaya jasa pengelolaan sumber daya air merupakan salah satu bentuk pemulihan biaya pengelolaan air. yang berkaitan erat dengan biaya, nilai air dan harga air. Roger et all. (2002) dan Shatanawi (2011) memberikan definisi biaya, nilai dan harga air sebagai berikut:
- 1. Biava untuk memberikan lavanan air didefinisikan sebagai biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana, opportunity cost, economic externalities dan environmental externalities
- 2. Nilai air adalah besaran yang dinilai dari segi manfaat, dari para penerima manfaat dan meliputi nilai manfaat air, benefits from returned flows, indirect benefits dan intrinsic values.
- 3. Harga air adalah biaya yang dipungut dari penerima manfaat layanan air dan ditentukan oleh suatu menyangkut yang aspek kebijakan sosial, pemerataan dan keberlanjutan serta tidak termasuk subsidi.
Biaya jasa pengelolaan sumber daya air tersebut melibatkan para-pihak, sehingga dilakukan identifikasi awal melalui pendapat publik tentang siapa saja
Tabel 3. Prioritas kategori pembelanjaan apabila terdapat keterbatasan dana
| Jumlah jawaban (113 responden) | Gaji | Utilitas/ bahan habis | Penggantian perlengkapan | Kontrak | Sewa, leasing, dll |
|---|---|---|---|---|---|
| Peringkat pertama | 74 | 31 | 26 | 13 | 4 |
| Peringkat kedua | 20 | 46 | 29 | 18 | 1 |

Gambar 9. Kecenderungan penilaian kelompok responden pada kategori pembelanjaan jika terdapat keterhatan dana
penerima manfaat layanan air yang bisa dipungut dan faktor yang diperkirakan dapat mempengaruhi besarnya pungutan.
3.5.1 Penerima manfaat yang menanggung biaya pengelolaan.
Jawaban pertanyaan siapa saja penerima manfaat yang diharapkan ikut menanggung biaya pengelolaan sumber daya air menunjukkan bahwa penerima manfaat untuk air baku, industri, irigasi dan tenaga air mendapatkan penilaian tinggi (Gambar 10). Penerima manfaat pengelolaan sumber daya air untuk air baku adalah perusahaan air minum, dan penerima manfaat untuk industri adalah penggunaan air baku untuk industri.
Persentasi jawaban dari 125 responden terhadap siapa saja penerima manfaat yang menanggung biaya pengelolaan sumber daya air adalah sebagai berikut:
| 1. Air baku | 76,0% |
|---|---|
| 2. Industri | 68,0% |
| 3. Irigasi | 66,4% |
| 4. Tenaga air | 66,4% |
|---|---|
| 5. Pengendalian banjir | 32,8% |
| 6. Pengendalian kualitas air | 30,4% |
| 7. Lainnya | 15,2% |
Termasuk dalam penerima manfaat "lainnya" menurut responden adalah:
- 1. Usaha pemancingan
- 2. Pengguna air baku untuk memcuci mesin pabrik
- 3. Pariwisata
- 4. Perkebunan
- 5. Pengguna air tanah
Dilihat dari kelompok responden pengguna, penerima manfaat industri mendapatkan penilaian tertinggi, sedangkan dari kelompok pengelola, penggunaan air baku untuk air minum mendapatkan penilaian tertinggi. Sebaliknya kelompok akademisi, memberikan penilaian yang sama untuk penggunaan air baku untuk air minum dan untuk industri (Gambar 11).

Gambar 10. Penerima manfaat yang menanggung biaya pengelolaan

Gambar 11. Penerima manfaat yang menanggung biaya pengelolaan berdasarkan kelompok responden
3.5.2 Indikator pembebanan biaya
Beban biaya jasa pengelolaan sumber daya air kepada penerima manfaat tergantung beberapa faktor penting antara lain: (1) Kebijakan pemulihan biaya pengelolaan yang akan diterapkan, (2) penerima manfaat dan (3) nilai manfaat yang diperoleh masing-masing penerima manfaat (Sangkawati, 2009).
Biaya jasa pengelolaan sumber daya air untuk satu penerima manfaat yang sudah berjalan dibeberapa Daerah Irigasi Indonesia adalah dalam bentukiuran layanan irigasi. Bentuk iuran tersebut antara lain Iuran Pelayanan Air Irigasi (IPAIR) dan iuran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).Besarnya iuran ditentukan per hektar. Salah satu contoh pengeluaran petani di sistem irigasi Kalibawang Yogjakarta (Arief, 2002) per hektar adalah IPAIR Rp 13.000 – Rp 15.000; iuran P3A antara Rp 5.500 – Rp 46.300; gotong royong antara Rp 33.600 – Rp 132.000 dan total pengeluaran per hektar adalah Rp 75.000 -172.000.
Penyediaan dana pengelolaan irigasi sebagai biaya operasi, pemeliharaan dan menagemen dari pemerintah juga ditentukan berdasarkan luas daerah irigasi (per hektar). Penyediaan dana pengelolaan irigasi di Indonesia tahun 2006-2009 dari pemerintah pusat sebesar Rp.12,836 milyar, dari provinsi Rp.45,695 milyar dan dari kabupaten Rp.254,175 milyar sehingga alokasi rata-rata hanya sebesar Rp 46.675,- per hektar, sedangkan kebutuhan biaya operasi dan pemeliharaan irigasi sebesar Rp150.000 - Rp250.000 per hektar, atau sekitar 25% dari kebutuhan (Supardi, 2009).
Kuesioner ditujukan untuk mengetahui pendapat publik tentang indikator dalam penentuan besarnya beban biaya jasa pengelolaan sumber daya air. Dari 120 jawaban responden terhadap pertanyaan: "komponen atau faktor apa saja yang dapat dijadikan indikator untuk menentukan beban biaya pengelolaan
sumber daya air dari penerima manfaat", tiga indikator mendapatkan prioritas tinggi, yaitu debit atau volume, luas daerah irigasi dan biaya operasi, pemeliharaan dan manajemen.
| 75,83% |
|---|
| 60,83% |
| 51,67% |
| 36,67% |
| 31,67% |
| 28,33% |
| 1. Debit / volume air 2. Luas daerah irigasi 3. Biaya operasi, pemeliharaan dan manajemen 4. Harga / nilai manfaat 5. Jumlah prasarana 6. Panjang sarana (saluran) |
7. Nilai aset sarana dan prasarana 13,33%
Jumlah jawaban prioritas indikator untuk menentukan beban biaya jasa pengelolaan sumber daya air ditunjukkan dalam Gambar 12.
4. Kesimpulan
- 1) Pengeluaran biaya OP&M terbesar berturut-turut adalah untuk kegiatan pemeliharaan saluran dan bangunan yaitu 40,5% dan untuk kegiatan operasi 25,06%, sehingga sumber biaya untuk kedua kegiatan ini perlu ditingkatkan.
- 2) Berdasarkan kategori, pengeluran untuk gaji 28,06% dan untuk kontraktor 21,86%. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan dengan sistem kontrak masih cukup besar.
- 3) Hampir seluruh responden menyatakan biaya OP&M masih di bawah biaya yang dibutuhkan. Apabila ada keterbatasan dana 80,91% menjawab bahwa prioritas pertama adalah kegiatan operasi, dan prioritas kedua adalah pemeliharaan saluran (39,09%) dan pemeliharaan bangunan (38,18%).

Gambar 12. Jumlah jawaban pada indikatoruntuk menentukan beban biaya jasa pengelolaan sumber daya air
- 4) Pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan SDA sudah memahami bahwa biaya menjadi tanggung jawab bersama. Hal ini tampak pada empat penerima manfaat mendapatkan penilaian tinggi, yaitu: air baku untuk air minum, air baku industri, irigasi dan tenaga air.
- 5) Dari tujuh indikator untuk menentukan besarnya beban BJP-SDA, nilai aset sarana dan prasarana mendapatkan penilaian terendah (13,33%), sehingga pemulihan biaya pengelolaan SDA yang diharapkan oleh responden terutama adalah pemulihan biaya OP&M.
5. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Dinas Pengairan Provinsi Jawa Tengah, Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas, Perum Jasa Tirta I atas ijin dan dukungannya dalam studi ini.
