1. Pendahuluan
Pengunaan material perkerasan jalan baik yang berasal dari lapis permukaan, dikenal dengan Reclaimed Asphalt pavement (RAP) dan material yang berasal dari lapis pondasi, dikenal dengan Reclaimed Aggregate Material (RAM) dan distabilisasi dengan semen untuk diaplikasikan kembali sebagai lapis pondasi yang dikenal dengan campuran Cement Treated Recycling Base (CTRB) pada konstruksi perkerasan jalan, merupakan salah satu teknologi yang efektif untuk mengantisipasi permasalahan kelangkaan material baik aspal maupun agregat, juga dalam rangka penghematan biaya konstruksi (Nantung et al., 2011; Deniz et al., 2009; Halsted, 2007). Chappat and Bilal (2003) menyatakan, penggunaan teknologi daur ulang campuran dingin, lebih ramah lingkungan karena mengkonsumsi energi yang relatif kecil dibandingkan dengan campuran perkerasan konvensional. Namun demikian, terbatasnya kinerja struktural dari perkerasan ini serta berbagai kendala antara lain tidak meratanya karakteristik dari material daur ulang, membatasi penggunaan metode ini untuk diaplikasikan pada konstruksi perkerasan jalan (Puppala et al., 2011; Goonam and Wilburn, 1998).
Material pozolan, baik pozolan alam maupun pozolan buatan, adalah material yang dapat ditambahkan pada campuran semen (supplementary cementing materials, SCMs) karena sifatnya yang seperti semen jika dicampur dengan kapur padam dan air. Tras sebagai material pozolan alam adalah merupakan salah satu material yang memiliki sifat-sifat tersebut (Tanujaya et al., 2000; Indrawati and Manaf, 2011). Yetgin and Cavdar (2006) menyatakan, bahwa penambahan atau substitusi material pozolan (tras) terhadap semen dalam campuran sekalipun mengakibatkan berkurangnya kekuatan campuran pada awal umur campuran, tetapi dengan bertambahnya umur campuran kekuatan campuran ikut meningkat pula. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh substitusi tras terhadap semen pada peningkatan sifat-sifat mekanik yaitu kuat tekan dan daya dukung dari campuran CTRB.
2. Tinjauan Pustaka
Daur ulang material lapis permukaan (RAP) dan material lapis pondasi (RAM) perkerasan jalan yang distabilisasi dengan semen untuk diaplikasikan sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan adalah teknologi yang sudah berkembang, baik untuk rekonstruksi maupun rehabilitasi konstruksi perkerasan jalan di Indonesia (Setyawan et al., 2013; Widayat dan Nono, 2009). Aplikasi dari teknologi ini pada konstruksi perkerasan jalan, adalah merupakan suatu bentuk kepedulian dari para peneliti dan praktisi perkerasan jalan terhadap masalah keterbatasan sumber daya alam dan isu-isu lingkungan yang menjadi perhatian dunia (Fwa, 2010). Teknologi ini menggunakan material agregat dari lapis permukaan jalan yang sudah terbungkus aspal yaitu dikenal dengan reclaimed asphalt pavement (RAP) dan juga material agregat lapis pondasi yang tidak mengandung aspal yaitu dikenal dengan reclaimed aggregate material (RAM) dan menggunakan material stabilisasi yaitu semen (Yuan et al., 2011; Guthrie et al., 2002; Taha et al., 2002). Penelitian yang dilakukan oleh Guthrie et al. (2007) menganjurkan, kadar RAP yang dapat digunakan untuk campuran yang distabilisasi dengan semen 1%-2% adalah diantara 50%-75%. Penggunaan material RAP dan RAM untuk diaplikasikan kembali sebagai lapis pondasi pada perkerasan jalan disamping dapat menghemat biaya konstruksi, juga sebagai bentuk konservasi lingkungan dengan mengurangi terbentuknya daerah quarry karena penggunaan material agregat baru (virgin aggregate) serta mengurangi sampah padat yang berasal dari material jalan yang rusak.
Penambahan material semen dalam campuran ini selain bermaksud untuk meningkatkan karakteristik mekanik dari campuran, juga untuk meningkatkan karakteristik fisik dari campuran yang mengandung RAP dan RAM (Guthrie et el., 2007; Brown, 2006). Namun demikian, sebagaimana sifat dari campuran semen yang mudah retak, penambahan semen pada campuran ini juga dapat mengakibatkan keretakan (Guthrie et al., 2002; Scullion, 2000). Oleh karena itu, penambahan kadar semen dalam campuran perlu dilakukan seefektif mungkin atau perlu ditambahkan bahan stabilisasi lain, selain semen untuk meningkatkan karakteristik fisik dan mekanik dari campuran ini (Wirtgen, 2004). Tras adalah material pozolan alam yang dihasilkan dari pelapukan material hasil erupsi gunung berapi. Material ini dapat bersifat seperti semen (cement like) jika dicampur dengan air dan kapur padam yang terkandung dalam semen. Mindess and Young (1981) menyatakan bahwa, proses hidrasi semen menghasilkan calcium silicate hydrate (C3S2H3) yang terbentuk dari:
Tricalcium silicate dengan air sebagai berikut:
\[2C_3S + 6H - C_3S_2H_3 + 3CH\]
Dicalcium silicate dengan air sebagai berikut:
\[2C_2S + 4H - C_3S_2H_3 + CH\]
Calcium silicate hydrate (C3S2H3 atau CSH) merupakan senyawa yang memperkuat beton, sedangkan kapur padam (CH) adalah senyawa yang poros dan melemahkan beton. ASTM (1993) mensyaratkan bahwa material yang memiliki komposisi kimia SiO2, Fe2O3 dan Al2O3 ≥ 70% dapat digunakan sebagai mineral tambahan pada campuran semen. Disamping itu, substitusi tras terhadap semen dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan semen dalam industri konstuksi agar supaya secara tidak langsung dapat mengurangi polusi udara yang diakibatkan oleh produksi semen (Bentur, 2002). Berdasarkan data hasil pemeriksaan kimia, tras yang berasal dari manado, yang digunakan dalam penelitian ini, memenuhi persyaratan sebagaimana yang dinyatakan oleh ASTM (ASTM C618-93).
Jongpradist et al. (2010) dan Paya et al. (1997) menyatakan bahwa dengan menghaluskan material pozolan (fly ash) dapat meningkatkan specific surface dari material tersebut dan peningkatan specific surface dapat meningkatkan karakteristik campuran bila ditambahkan atau disubstitusikan dalam campuran semen. Pegujian kuat tekan terhadap campuran beton atau campuran semen pada umumnya dilakukan untuk melihat pengaruh beberapa variabel terhadap kekuatan campuran. Penggunaan pengujian ini untuk campuran beton maupun campuran perkerasan jalan yang distabilisasi dan campuran stabilidasi tanah dengan semen terbukti sangat efektif karena murah serta mudah dalam pelaksanaannya (Indrawati and Manaf, 2011; Miller et al, 2007; Sengul and Tasdemir, 2009). Adapun pengujian CBR dilakukan untuk melihat daya dukung campuran CTRB terutama akibat pengaruh dari meningkatnya kepadatan campuran karena adanya substitusi tras terhadap semen. Li et al. (2008) melaporkan, hasil pengujian yang dilakukan terhadap material perkerasan yang didaur ulang dan diaplikasikan sebagai lapis pondasi, menunjukkan peningkatan nilai CBR dan resilien modulus (Mr) karena adanya fly ash dan secara langsung mempengaruhi kinerja perkerasan serta waktu pelayanan. Studi yang dilakukan oleh Baugh dan Edil (2008) terhadap material RAP dan RAM yaitu agregat beraspal dan limestone dari lapis pondasi yang distabilisasi dengan cement kiln dust (CKD) menghasilkan nilai CBR 6-9 kali lebih tinggi dari pada campuran RAP dan RAM tanpa bahan stabilisasi setelah umur campuran mencapai 7 hari.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penambahan atau substitusi tras terhadap semen pada kepadatan campuran CTRB yang secara langsung dapat mempengaruhi kekuatan tekan (qu) dan daya dukung (CBR) dari campuran ini.
4. Material yang Digunakan
4.1 RAP dan RAM
Material RAP yang digunakan dalam penelitian ini adalah berasal dari campuran aspal beton, lapis permukaan ruas jalan M.T. Haryono di Jakarta dan ruas jalan Dawuan di Cikampek, Jawa barat sedangkan
material RAM diambil dari lapis pondasi ruas jalan Dawuan di Cikampek dan Cidangpinggan-Palimanan di Cirebon, Jawa barat.
4.2 Material semen (semen dan tras)
Semen yang digunakan dalam penelitian ini adalah semen portland tipe 1 dengan specific gravity (Gs) = 3,14. Adapun tras yang digunakan dalam penelitian ini adalah berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Ketika diambil dari quarry, tras berupa bongkahan-bongkahan dan bergradasi kasar, sehingga perlu dihaluskan. Dalam penelitian ini, setelah dihaluskan tras dijemur selama kurang lebih 2 (dua) hari untuk menggurangi kadar air sehingga mencapai ± 5%, kemudian tras diayak dengan saringan no. 325 (0,045 mm) hingga ≥ 95 % lolos saringan tersebut. Specific gravity (Gs) tras setelah dihaluskan dan lolos saringan no.325 adalah 2.42 dan strength activity indexnya adalah 79% (curing time 7 hari) dan sebesar 85% (curing time 28 hari).
5. Prosedur Pengujian
Dalam penelitian ini, pengujian sifat-sifat fisik dari RAP dan RAM adalah meliputi pengujian analisa saringan (SNI 03-1968-1990), pengujian berat jenis dan absorpsi (SNI 03-1969-2008). Khusus untuk material RAM dilakukan pengujian abrasi dan pengujian Batas-Batas Atterberg (SNI 03-2417-2008 dan SNI 03- 1967-1990). Pengujian sifat-sifat Semen dan tras yang dilakukan dalam penelitian ini adalah meliputi pengujian specific grafity (ASTM C 311-96a), gradasi (ASTM C 311-96a) dan strength activity index (ASTM C 311-96a). Setelah itu dilakukan pengujian pemadatan untuk menentukan kadar air optimum (OMC) dan kepadatan kering maksimum (MDD) untuk kedua variasi RAP dan RAM serta semua variasi kadar semen dan tras dalam campuran. Variasi perbandingan RAP dan RAM serta kadar semen dan tras dalam campuran CTRB adalah sebagaimana dinyatakan dalam Tabel 1. Pengujian kepadatan campuran ini mengikuti prosedur standar SNI 03-1742-1989. Setelah mendapatkan kadar air optimum (OMC) dan kepadatan kering maksimum (MDD) untuk semua variasi campuran, selanjutnya dibuat benda uji untuk pengujian kuat tekan dan CBR berdasarkan OMC dan MDD yang diperoleh dari pengujian pemadatan. Pelaksanaan pengujian kuat tekan dilakukan setelah benda uji berumur 6 hari, 13 hari dan 27 hari dan masing-masing ditambah 1 hari direndam dalam air. Pengujian ini mengikuti standar pengujian Kuat Tekan Beton Campuran SNI 03-1964-2008 dengan jumlah sampel masing-masing 54 untuk 3x pengulangan pada setiap curing time, sehingga jumlah sampel total untuk pengujian UCS adalah 162 sampel. Sedangkan pengujian CBR dilakukan mengikuti standar SNI-03- 1744-1989, dengan jumlah total sampel 54 untuk 3x pengulangan.
Tabel 1. Komposisi campuran CTRB
| RAP :Agg | Civ(%) | Tw(%) Trass Content | Curing | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Base | Cement | Time | |||
| (%) | Content | (days) | |||
| 40 : 60 60 : 40 | 2; 4; 6 (by weight of total RAP and aggre- gate base | 0; 15; 30 (by weight of cement) | 7; 14; 28 | ||
Gambar 1. Alat uji unconfined compressive test
6. Hasil Pengujian
Hasil pengujian sifat-sifat fisik RAP dan RAM serta gradasi campuran 40% RAP: 60% RAM dan gradasi campuran 60% RAP: 40% RAM adalah sebagaimana tercantum dalam Tabel 2. dan Gambar 3. Hasil pengujian sifat-sifat kimia dari tras adalah seperti yang dinyatakan dalam Tabel 3. Data hasil pengujian indeks plastis menunjukkan bahwa kedua jenis RAM bersifat non platis, sedangkan hasil analisa saringan menunjukkan bahwa agregat RAP lebih halus dari pada agregat RAM. Hasil analisa saringan terhadap gabungan dari kedua komposisi RAP dan RAM menunjukkan adanya perbedaan gradasi, dimana komposisi campuran yang mengandung 40% RAP: 60% RAM bergradasi lebih kasar dibandingkan dengan gradasi campuran yang mengandung 60% RAP: 40% RAM dan diklasifikasi-kan sebagai material klas C, sedangkan campuran yang mengandung 60% RAP: 40% RAM termasuk dalam klasifikasi klas A berdasarkan spesifikasi gradasi lapis pondasi yang distabilisasi dengan semen (AASHTO, 1972).
Perbedaan gradasi dari kedua campuran ini disebabkan karena komposisi RAP dan RAM yang berbeda serta sumber dari RAP dan RAM yang berbeda pula. Data yang terlihat pada Tabel 2. dan Gambar 1. juga menunjukkan bahwa kedua campuran, masing-masing dengan perbandingan 40% RAP: 60% RAM dan 60% RAP: 40% RAM, termasuk dalam klasifikasi material Well-Graded Gravel berdasarkan standar spesifikasi AASHTO (AASHTO, 2004) dan termasuk dalam klasifikasi material A-1-a berdasarkan standar spesifikasi Unified Soil Clasification System (ASTM, 2008). Tabel 2. juga menunjukkan bahwa agregat RAM yang terkandung dalam campuran 40% RAP: 60% RAM memiliki penyerapan yang lebih besar dibandingkan dengan penyerapan agregat RAM yang terkandung dalam campuran 60% RAP: 40% RAM.
Gambar 2. Alat uji California Bearing Ratio
Tabel 2. Pengujian sifat fisik RAP dan RAM
| No. | Jenis | RAM | RAP | Metode | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Pengujian | Dawulan | Cirebon | Dawulan | M.T. Haryono | Pengujian | |||||
| 1. | Abrasi 20.00 | 29 | 29,1 | SNI 03-2417-2008 | ||||||
| Halus | Kasar | Halus | Kasar | Halus | Kasar | Halus | Kasar | |||
| 2. | Berat Jenis Bulk | 2,70 | 2,54 | 2,29 | 2,22 | 2,48 | 2,57 | 2,47 | 2,46 | SNI 03-1969-2008 |
| 3. | Berat Jenis SSD | 2,73 | 2,61 | 2,40 | 2,36 | 2,54 | 2,63 | 2,50 | 2,52 | SNI 03-1969-2008 |
| 4. | Berat Jenis Apparent | 2,79 | 2,73 | 2,57 | 2,58 | 2,63 | 2,74 | 2,56 | 2,62 | SNI 03-1969-2008 |
| 5. | Berat Jenis Efektif | 2,75 | 2,63 | 2,43 | 2,40 | 2,55 | 2,66 | 2,51 | 2,54 | SNI 03-1969-2008 |
| 6. | Berat Jenis Apparent | s Apparent 40% RAP : 60% RAM | 2,58 | |||||||
| 0. | (gabungan) 60% RAP : 40% I | 6 RAM 2,64 | ||||||||
| 7. | Penyerapan Air | 1,16 | 2,70 | 4,74 | 6,25 | 2,23 | 2,37 | 1,38 | 2,63 | SNI 03-1970-2008 |
| 8. | Analisa Saringan | Gam | ıbar 1. | bar 1. | SNI 03-1968-1990 | |||||
| 9. | Indeks Plastisitas (PI) | N | IP | N | IP | - | _ | _ | SNI 03-1967-1990 | |

Gambar 3. Gradasi gabungan 40% RAP : 60% RAM dan 60% RAP : 40% RAM
Hasil pengujian sifat-sifat kimia dari tras sebagaimana ditampilkan pada Tabel 3, menunjukkan bahwa tras yang berasal dari Manado memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh ASTM dan dapat digunakan sebagai mineral tambahan pada campuran semen sebagaimana dinyatakan dalam ASTM C618-93 (Tabel 4).
Hasil pengujian pemadatan dari campuran CTRB yang mengandung 40% RAP : 60% RAM serta campuran yang mengandung 60% RAP : 40% RAM adalah sebagaimana terlihat pada Gambar 4. Gambar 4a. adalah grafik yang menyatakan kadar air optimum
(OMC) dari kedua campuran CTRB dan Gambar 4b. adalah grafik yang menyatakan kepadatan kering maksimum (MDD) dari kedua campuran CTRB tersebut. Dari Gambar 4a. terlihat bahwa kadar air optimum (OMC) dari campuran yang mengandung 40% RAP cenderung lebih tinggi dari pada campuran yang mengandung 60% RAP dan hal ini berlaku pada hampir semua variasi semen-tras. Sedangkan dari Gambar 4b. terlihat bahwa MDD dari campuran CTRB yang mengandung 60% RAP lebih tinggi dari pada campuran CTRB yang mengandung 40% RAP.
Tabel 3. Kandungan unsur kimia tras dari Manado
| Si02 | Al2O3 | Fe2O3 | CaO | MgO | SO3 | LOI | Na2O | K2O | Total | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Tras | 69.99 | 18,61 | 0,17 | 7,06 | 3,16 | - | - | 0,21 | - |
Tabel 4. Standar spesifikasi untuk fly ash dan material pozolan sebagai bahan tambahan campuran semen (ASTM C618-93)
| Si02+Al2O3+ Fe2O3 (%) | MgO % | SO3 % | Los in Ignition % | 7th Day Flexural strength (Mpa) | 7th Day compressive strength (Mpa) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| TS 25 | >70.00 | <5.00 | <3.00 | <10.00 | >1.00 | >4.00 |
| Natural Pozolan | 82.93 | 0.62 | - | 7.23 | 4.45 | 11.00 |

Gambar 4. OMC (a) dan MDD campuran CTRB (b)
Gambar 5 adalah Hasil pengujian Kuat tekan (qu) dari campuran CTRB yang mengandung 40% RAP : 60% RAM (Gambar 5a, 5c, 5e) dan yang mengandung 60% RAP : 40 % RAM (Gambar 5b, 5d, 5f). Dari gambar ini terlihat bahwa qu dari kedua campuran CTRB meningkat seiring dengan meningkatnya kadar semen dalam campuran. Pada campuran yang mengandung 40% RAP (Gambar 5a, 5c, 5e) adanya substitusi 15% tras terhadap semen tidak mengakibatkan penurunan qu, dan seiring dengan bertambahnya waktu, kekuatan campuran terus meningkat hingga melampaui campuran yang distabilisasi dengan semen saja. Sedangkan adanya substitusi 30% tras terhadap semen mengakibatkan terjadinya penurunan qu. Pada campuran yang mengandung 60% RAP, qu meningkat secara signifikan pada kadar semen yang relatif tinggi (6%) dan adanya penambahan atau substitusi tras terhadap semen dalam campuran mengakibatkan penurunan qu. Namun seiring dengan bertambahnya waktu, qu berangsur-angsur meningkat pula. Bahkan pada substitusi 15% tras, qu campuran ini dapat menyamai qu dari campuran yang distabilisasi dengan semen saja.
Gambar 6 adalah hasil pengujian CBR dari campuran CTRB yang mengandung 40% RAP : 60% RAM dan yang mengandung 60% RAP : 40% RAM. Dari gambar ini terlihat bahwa campuran yang mengandung 60% RAP memiliki nilai CBR lebih tinggi dari pada campuran yang mengandung 40% RAP. Hasil pengujian CBR dari kedua campuran ini melampaui 100% untuk semua variasi kadar material semen (semen + tras), terkecuali pada substitusi tras yang besar (30%) terhadap kadar semen yang kecil (2%).
7. Pembahasan
7.1 Hasil pengujian pemadatan
Rendahnya nilai OMC dari campuran yang mengandung RAP yang besar (60%), disebabkan karena
besarnya kandungan RAP (60%) dalam campuran, dimana adanya aspal yang membungkus permukaan agregat ini menghalangi penyerapan air ke dalam poripori agregat RAP, dan mengakibatkan kurangnya kadar air yang dibutuhkan untuk proses pemadatan. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Guthrie (2007); Kim and Lobuz (2007). Sebaliknya, pada campuran CTRB yang mengandung 40% RAP, besarnya kandungan RAM (60%) dalam campuran mengakibatkan besarnya penyerapan air oleh agregat RAM, sehingga meningkatkan nilai OMC dari campuran ini. Disamping itu tingkat penyerapan air dari material RAM yang terkadung dalam campuran yang mengandung 40% RAP : 60% RAM ini, cukup tinggi dibandingkan dengan material RAM yang terkandung pada campuran yang mengandung 60% RAM, yaitu sebesar 4,74% (agregat halus) dan 6,25% (agregat kasar).
Pengaruh penambahan semen dalam campuran, mengakibatkan penurunan OMC pada kedua campuran CTRB, sedangkan substitusi tras terhadap semen mengakibatkan sedikit peningkatan nilai OMC pada kedua campuran CTRB. Hal ini disebabkan karena, penambahan material tras mengakibatkan peningkatan kebutuhan pasta (semen dan air) dalam campuran, namun demikian besarnya kebutuhan air karena adanya penambahan tras tidaklah sebesar penambahan tras dalam campuran. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Yetgin and Cavdar (2006); Monkman and Shao (2006); Jongpradist et al. (2010), dimana hal ini menjadi suatu keuntungan dari adanya substitusi tras terhadap semen, dimana tras membantu mengurangi kebutuhan akan air yang berlebihan (Camacho and Afif, 2002).
Gambar 2b. menunjukkan bahwa kepadatan kering maksimum (MDD) dari campuran yang mengandung 60% RAP sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan campuran CTRB yang mengandung 40% RAP. Hal ini disebabkan karena kadar aspal yang terkadung dalam

Gambar 5. Grafik hubungan antara qu dengan kadar semen dan tras

Gambar 6. Grafik hubangan antara CBR dengan kadar semen dan tras
campuran yang mengandung 60% RAP cukup besar, dimana aspal tersebut berperan sebagai pelumas selama proses pemadatan dan berpengaruh positif pada peningkatan kepadatan campuran. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Bang et al. (2012) bahwa semakin besar kadar RAP dalam campuran semakin padat campuran tersebut hingga pada batas tertentu. Disamping itu, gradasi dari campuran CTRB yang mengandung 60% RAP, lebih halus dari pada gradasi campuran yang mengandung 40% RAP. Itulah sebabnya campuran CTRB yang mengandung 60% RAP lebih padat dari pada campuran yang mengandung 40% RAP. Adapun pengaruh penambahan kadar material semen (semen + tras) terhadap campuran CTRB yang mengandung 40% RAP mengakibatkan peningkatan MDD, yaitu pada substitusi 15% Tras terhadap semen. Sedangkan pada substitusi 30% tras terhadap semen mengakibatkan sedikit penurunan nilai MDD. Hal ini disebabkan karena kandungan material RAM yang cukup besar dalam campuran dapat diikat dengan mudah oleh semen, tetapi adanya substitusi tras terhadap semen mengakibatkan berkurangnya kadar semen dalam campuran sehingga mengurangi kandungan kalsium yang dapat bereaksi dengan tras dan berakibat pada penurunan kepadatan campuran.
Pengaruh penambahan semen pada campuran CTRB yang mengandung 60% RAP, mengakibatkan peningkatan kepadatan (MDD) campuran. Adanya substitusi tras terhadap semen mengakibatkan peningkatan MDD, baik pada substitusi 15% maupun 30% tras terhadap semen. Hal ini disebabkan karena penambahan tras dalam campuran ini, selain mengakibatkan terjadinya reaksi pozolanik antara semen dan tras, juga tras yang tersisa dari reaksi pozolanik karena tidak dapat bereaksi dengan semen menjadi filler yang mengisi rongga dalam campuran sehingga meningkatkan kepadatan campuran. ACI, 2001 menyatakan, kandungan silika aktif (amorphous silica glass) yang terkandung dalam pozolan alam hanya 50%-60% dari total silika yang terkandung di dalamnya, dan selebihnya adalah crystal silica yang tidak dapat bereaksi dengan semen, sehingga tras yang tersisa dari reaksi pozolanik berfungsi sebagai filler yang mengisi rongga dalam campuran dan mengakibatkan kepadatan campuran meningkat.
7.2 Hasil pengujian kuat tekan
Pada campuran CTRB yang mengandung 40% RAP : 60% RAM (Gambar 3a, 3c, 3e), pencapaian kekuatan (qu) terjadi karena adanya semen dalam campuran dan semakin besar kadar semen, semakin meningkat qu. Pada campuran ini, pengaruh penambahan semen dalam campuran dapat meningkatkan kekuatan campuran pada kadar semen yang relatif rendah. Hal ini disebabkan karena material RAM dalam campuran dapat dengan mudah diikat oleh semen, sehingga
mengakibatkan kekuatan campuran dapat terjadi pada kadar semen yang relatif rendah. Adapun pengaruh substitusi tras terhadap semen dalam campuran ini, mengakibatkan penurunan kekuatan campuran, akibat berkurangnya kadar semen karena adanya substitusi tras. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kandungan kalsium hidroksida dalam campuran. Disamping itu, kandungan amorphous silica glass yang kecil dalam tras mengakibatkan kurangnya reaksi pozolanik yang dapat terjadi antara semen dan tras, sehingga mempengaruhi pencapaian kekuatan dari campuran ini. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hasil pengujian strength activity index (SAI) dari tras atau pozzolanic activity Index (PAI) yaitu sebesar 79% dan 85% masing-masing pada curing time 7 hari dan 28 hari. ACI Committee (2001) menyatakan bahwa Pozzolan alam (tras) hanya memiliki 50%-60% amorphous silica glass dari total silika yang terkandung didalamnya. Hal ini mengakibatkan reaksi pozolanik yang dapat terjadi antara semen dengan tras terbatas dibandingkan dengan reaksi pozolanik yang dapat terjadi antara semen dengan fly ash. Kurangnya reaksi pozolanik yang terjadi antara semen dengan tras dan berpengaruh pada ikatan antara agregat dengan material semen, menunjukkan bahwa pada campuran dimana kandungan RAMnya cukup besar, semen sangat berpengaruh pada pencapaian kekuatan campuran. Pada campuran ini, kadar material semen (semen + tras) yang menghasilkan kuat tekan sebagaimana yang disyaratkan dalam Spesifikasi khusus CTRB dan CTRSB yaitu 35 Kg/Cm2 adalah pada kadar semen 4% -6% dengan substitusi 15% tras terhadap semen.
Pada campuran yang mengandung 60% RAP : 40% RAM (Gambar 3b, 3d, 3f), pencapaian kekuatan campuran yang signifikan terjadi pada kadar semen 6%. Hal ini disebabkan karena sebagian besar material dalam campuran ini adalah RAP, dimana material RAP telah terbungkus aspal dan menghalangi ikatan yang dapat terjadi antara RAP dengan semen sehingga mengakibatkan pencapaian qu yang signifikan dari campuran ini baru terjadi pada kadar semen yang relatif tinggi. Hal ini juga diungkapkan oleh Brown et al. (2006) dan Yuan et al. (2011) yaitu peningkatan qu dari campuran yang mengandung RAP tergantung pada besarnya kadar semen dalam campuran. Adapun pengaruh substitusi tras terhadap semen dalam campuran, mengakibatkan sedikit penurunan qu karena semakin berkurangnya kadar semen dalam campuran, dan penurunan yang utama terjadi pada kadar semen 6%. Namun, seiring dengan bertambahnya curing time, penurunan qu yang terjadi berangsur-angsur meningkat hingga melampaui 35 kg/cm2 pada curing time 14 - 28 hari, baik pada substitusi 15% maupun 30% tras terhadap semen. Dengan demikian, untuk campuran CTRB yang mengandung 60% RAP, campuran yang memenuhi persyaratan spesifikasi CTRB adalah campuran yang mengandung kadar semen 6% dengan substitusi 15%-30% tras.
7.3 Hasil pengujian California Bearing Ratio
Tingginya nilai CBR dari campuran yang mengandung 60% RAP menunjukkan besarnya daya dukung dari campuran ini dibandingkan dengan campuran CTRB yang mengandung 40% RAP. Hal ini disebabkan karena besarnya kadar aspal yang terkandung pada agregat RAP yang berpengaruh positif pada peningkatan kepadatan campuran. Hal ini sejalan dengan apa yang dinyatakan oleh Guthrie et al. (2007) dan Bang et al. (2012), bahwa besarnya aspal dalam campuran hingga pada batas tertentu, berpengaruh positif dalam meningkatkan kepadatan campuran. Disamping itu gradasi dari campuran yang mengandung 60% RAP ini lebih halus sehingga lebih mudah dipadatkan. Gabr and Cameron (2012) menyatakan bahwa daya dukung atau nilai CBR dari suatu lapis perkerasan sangat dipenguruhi oleh kepadatan campuran perkerasan tersebut. Adanya substitusi tras terhadap semen yang berpangaruh positif pada peningkatan kepadatan campuran sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, mengakibatkan besarnya daya dukung dari campuran CTRB yang mengandung 60% RAP. Berdasarkan spesifikasi khusus CTRB dan CTRSB daya dukung campuran yang memenuhi syarat adalah ≥ 100% (Bina Marga, 2006). Dengan demikian, daya dukung campuran CTRB yang mengandung 40% RAP maupun yang mengandung 60% RAP yang memenuhi persyaratan spesifikasi tersebut adalah pada kadar semen 2%, 4% dan 6% dengan substitusi tras sebesar 15%-30%. Hasil ini menunjukkan bahwa substitusi tras terhadap semen dalam campuran yang mengandung RAP yang cukup besar, berpengaruh positif pada peningkatan kepadatan campuran yang berimplikasi pada peningkatan daya dukung campuran CTRB.
8. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, beberapa kesimpulan dapat diambil yaitu:
- 1. Hasil pengujian Kuat Tekan menunjukkan, pada campuran CTRB yang mengandung 40% RAP, besarnya kadar semen yang menghasilkan kekuatan ≥ 35 kg/Cm2 adalah ≥ 4%, sedangkan pada campuran yang mengandung 60% RAP, besarnya kadar semen yang efektif dan menghasilkan kekuatan ≥ 35 Kg/ Cm2 adalah sebesar 6%.
- 2. Pada Campuran CTRB yang mengandung 40% RAP, substitusi tras yang menghasilkan kuat tekan ≥ 35 Kg/Cm2 adalah sebesar 15%, sedangkan pada campuran yang mengandung 60% RAP, kadar tras yang menghasilkan Kuat Tekan seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi khusus CTRB adalah sebesar 15%-30%.
- 3. Hasil pengujian CBR menunjukkan, bahwa baik pada campuran CTRB yang mengandung 40% RAP
- maupun yang mengandung 60% RAP, besarnya kadar semen yang menghasilkan daya dukung ≥ 100% adalah pada kadar semen 2%, 4% dan 6%.
- 4. Pada kedua campuran CTRB (yang mengandung 40% RAP dan 60% RAP), substitusi tras terhadap semen yang menghasilkan daya dukung yang memenuhi persyaratan spesifikasi adalah pada substitusi 15%-30% terhadap kadar semen 2%, 4% dan 6%.
- 5. Substitusi tras terhadap semen dalam campuran CTRB terutama pada campuran yang mengandung RAP yang besar berpengaruh positif pada peningkatan kapadatan serta kekuatan (qu) dan daya dukung (CBR) campuran CTRB.
