1. Home
  2. Archives
  3. Vol 23 (2016) Issue 1
  4. Articles

Kajian Konsep Kebijakan Infrastruktur Strategis untuk Pengendali Banjir Jakarta (Studi Kasus Giant Sea Wall dan Multi Purpose Deep Tunnel)

Abstract

Abstrak. Banjir merupakan agenda yang harus dihadapi pemerintah. Namun, terbangunnya infrastruktur pengendali banjir belum mengatasi banjir di Jakarta. Penelitian ini membahas rencana dan konsep kebijakan penanganan banjir dengan infrastruktur sea wall dan deep tunnel, simulasi pengambilan keputusan dalam organisasi dengan teori kebijakan publik: The Garbage Can Model of Organizational Choice. Penelitian bersifat komparatif, penulis membandingkan kedua infrastruktur tersebut dalam aspek teknis, ekonomi, lingkungan, sosial, dan politik, melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui aspek yang paling berpengaruh. Analisa data diolah dengan metode Analytical Hierarchy Process, Expert Choice dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam pertimbangan pengambilan keputusan pemilihan infrastruktur sea wall dan deep tunnel. Dari simulasi pemilihan kedua jenis infrastruktur dengan menggunakan metode AHP, Expert Choice serta analisis kuisioner, infrastruktur pilihan adalah deep tunnel. Dalam analisis terlihat bahwa aspek politik dianggap sebagai aspek yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan infrastruktur. Hal tersebut menjadi tidak tepat ketika sebuah solusi dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan teknis namun politik menjadi pertimbangan utama. Sehingga solusi menjadi kurang relevan. Ini dibuktikan dengan simulasi model pengambilan keputusan dengan teori Garbage Can Model of Organizational Choice, dimana hasil simulasi menunjukkan bahwa solusi yang diperoleh karena adanya pengawasan lebih banyak dibandingkan dengan solusi yang diperoleh karena adanya resolusi bersama. Abstract. Floods is a-must to be faced agenda by the government. However, the development of flood control infrastructure has not overcome floods in Jakarta. This study discusses the concept of policy plans and flood management infrastructure of sea wall and deep tunnels, simulation of decision-making in organizations with public policy theory: The Garbage Can a Model of Organizational Choice. Using comparative study, authors compare both infrastructure in the technical aspects, economic, environmental, social, and political, through qualitative and quantitative approaches to determine the most influential aspects. Analysis processed by the Analytical Hierarchy Process, Expert Choice and SPSS. The results showed difference in the consideration of the decision-making infrastructure. From the simulation of both types of infrastructure elections by using AHP, Expert Choice questionnaire and analysis, selected infrastructure is deep tunnel. In the analysis appears that the political aspect is regarded as the most influential aspect in decision making infrastructure. Which is not appropriate when a solution is needed to solve technical issues but politics was the main consideration and make solution becomes less relevant. This is proved by the simulation model of decision-making with a Garbage Can Theory of Organizational Choice models, where the simulation results show that the obtained solution for their supervision more than the obtained solution for their joint resolution.

Keywords

1. Pendahuluan

Banjir menjadi masalah bagi Jakarta sejak dahulu, jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Dikelilingi oleh 13 sungai, menjadikan wilayah ini rawan terhadap banjir (DPU Jakarta, 2009). Sejak 1918, Jakarta telah membangun infrastruktur pengendali banjir, namun banjir tetap menggenangi Jakarta tiap tahunnya. Terbangunnya beberapa infrastruktur pengendali banjir belum mampu mengatasi banjir di Jakarta (Pemprov DKI, 2010).

Citra Jakarta sebagai ibukota negara sekaligus barometer ekonomi Indonesia memburuk akibat banjir yang kerap terjadi di wilayahnya. Kerugian yang dialami mencapai nilai triliunan. Dalam paparan NCICD : From Masterplanning to Implementation (Kemenko Perekonomian, 2014) disebutkan pada 2002 Jabodetabek mengalami kerugian Rp.9,8 T, pada 2007 mencapai Rp.5,16 T, Tahun 2013 sebesar Rp. 20 T, dan di awal 2014 mencapai Rp.12 T. Kerugian tersebut meliputi perumahan dan permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial budaya, dan lintas sektoral.

Kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir membuat pemerintah sebagai Public Service Obligatior (PSO) berkewajiban menyediakan infrastruktur sumber daya air yang memadai. Bagaimanapun, ketersediaan infrastruktur yang memadai erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (Kodoatie dan Sjarief, 2006). Namun, adanya ketimpangan kemampuan pembiayaan dan kebutuhan akan infrastruktur membuat pemerintah harus memprioritaskan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi, baik dalam pembangunannya, maupun dalam kerangka kebijakan regulasi dan investasi.

Giant Sea Wall (GSW) dan Multi Purpose Deep Tunnel (MPDT) adalah dua contoh usulan penanganan banjir Jakarta yang akan dikomparasi dalam aspek teknis, ekonomi, lingkungan, sosial, dan politik. Dari komparasi tersebut akan diketahui aspek mana yang paling berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan, sehingga akan terlihat pertimbangan apa saja yang menjadi prioritas para pengambil keputusan dalam simulasi ini.

Secara umum pengambilan keputusan dalam organisasi adalah upaya untuk menyelesaikan masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada. Pada level organisasi keputusan yang dibuat umumnya tidak berasal dari satu manajer tapi merupakan kombinasi keputusan yang melibatkan seluruh manajer pada suatu organisasi (Robbins, 2008). Salah satu proses pengambilan keputusan pada level organisasi adalah The Garbage Can Model, model ini menggambarkan bagaimana alur setiap keputusan dibuat dalam organisasi secara keseluruhan, dan sering digunakan untuk menggambarkan pengambilan keputusan dalam organisasi pemerintahan.

Sedangkan kebijakan publik menurut Anderson (1994) adalah kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh lembaga atau pejabat pemerintah. Islamy (2000) lebih lanjut menyimpulkan bahwa kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat.

Dalam pengambilan keputusan, para pengambil keputusan kerap kali didukung oleh sistem pendukung keputusan yang mendukung seluruh tahap pengambilan keputusan mulai dari mengidentifikasi masalah, memilih data yang relevan, menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif.

Ketika keputusan yang akan diambil bersifat kompleks dengan risiko yang besar seperti perumusan kebijakan, pengambil keputusan sering memerlukan alat bantu dalam bentuk analisis yang bersifat ilmiah, logis, dan terstruktur/konsisten. Analitycal Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Saaty (1993). Model pendukung keputusan ini menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahan akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.

2. Metodologi

Penelitian ini bersifat komparatif. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis dengan metode AHP dan Expert Choice, simulasi pemodelan teori The Garbage Can Model of Organizational Choice (aplikasi Net Logo v5.05), serta dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

2.1 Analitycal Hierarchy Process (AHP)

Dalam penelitian, analisis pengambilan keputusan pemilihan infrastruktur dengan metode proses hierarki analitik (AHP). Metode AHP mempunyai 3 (tiga) prinsip utama dalam pemecahan masalah (Saaty, 1980) yaitu Decomposition, Comparative Judgement, dan Logical Concistency. Sehingga secara garis besar prosedur AHP meliputi tahapan berikut :

a. Dekomposisi masalah

Dekomposisi masalah adalah langkah dimana suatu tujuan (Goal) yang telah ditetapkan selanjutnya diuraikan secara sistematis kedalam struktur yang menyusun rangkaian sistem hingga tujuan dapat dicapai secara rasional.

Dalam penelitian ini dilakukan dekomposisi menjadi beberapa unsur kriteria yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan pemilihan jenis infrastruktur.

3

Sumber : Hasil Analisis

Gambar 1. Diagram AHP

b. Pembobotan untuk membandingkan elemenelemen

Pada tahap ini dilakukan pembobotan pada tiap hierarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya. Dalam penelitian ini dilakukan pembobotan berdasarkan perbandingan penilaian hasil kuisioner.

c. Penyusunan matriks dan uji konsistensi

Penyusunan matriks perbandingan antar kriteria

Tabel 1. Matriks perbandingan kriteria

KriteriaC1C2C3C4C5JmlBobot
C1C11C12C13C14C15C1C1/C
C2C21C22C23C24C25C2C2/C
C3C31C32C33C34C35C3C3/C
C4C41C42C43C44C45C4C4/C
C5C51C52C53C54C55C5C5/C
JumlahC

Dari perhitungan tersebut dicari eigenvector sehingga nilai bobot berjumlah 1.

Menentukan Nilai CR (Consistency Ratio):

\[CR = \frac{CI}{RI} \tag{1}\] dengan :

CR = Consistency Ratio

RI = Random Index

Nilai CR ≤ 0.1 = diterima

Consistency Index (CI) :

\[CI = \frac{\lambda \max - n}{n - 1} \tag{2}\] dengan :

CI = Consistency Ratio

λ max = Nilai eigen terbesar dari matrix berordo n

Random Index (RI) diperoleh dari tabel berikut :

Tabel 2. RI untuk menghitung rasio konsistensi

N12345678910
R.I0,000,000,580,901,121,241,321,411,461,49

Sumber : Saaty, 1980 Catatan: n = matriks order

R.I = Indeks Inkonsistensi Random n = 10

d. Penetapan prioritas pada masing-masing hierarki

Tabel 3. Matriks perbandingan alternatif

AltA1A2JmlBobot
A1A11A12A1A1/A
A2A21A22A2A2/A
JumlahA

e. Sintesis dan prioritas

Sintesis dan prioritas diaplikasikan pada skala rasio guna menciptakan suatu skala unidimensional untuk merepresentasikan keluaran menyeluruh, dengan menggunakan pembobotan tambahan.

f. Pengambilan keputusan

Dilakukan setelah perhitungan matematis dan mengintegrasikan masing masing hierarki yang ada.

2.2 AHP dengan Expert Choice 2000

Selain tahapan-tahapan tersebut dalam penelitian ini dilakukan juga analisis dengan bantuan perangkat lunak Expert Choice 2000. Yaitu sebuah aplikasi yang digunakan sebagai alat bantu implementasi model-model dalam Decision Support System (DSS), dan dapat digunakan untuk menentukan keputusankeputusan yang sulit untuk diputuskan oleh pengambil keputusan.

Tabel 4. Skala banding berpasangan

NilaiDefinisi
1Sama pentingnya
3Agak lebih penting yang satu atas lainnya
5Cukup Penting
7Sangat penting
9Kepentingan yang ekstrim
2,4,6,8Nilai tengah diantara dua keputusan yang
berdekatan
BerbalikanYang lebih tinggi dari aktivitas j maka j
mempunyai nilai berbalikan ketika
dibandingkan dengan i
RasioRasio yang didapat dari rasio pengukuran

Sumber : Saaty (1993)

Aplikasi ini bekerja sesuai tahapan-tahapan dalam metode AHP. Pada analisis ini dilakukan comparative judgement berdasarkan data-dari penelitian literatur yang menyangkut aspek teknis, ekonomi, lingkungan, sosial, dan politik. Skala yang digunakan adalah skala kepentingan perbandingan secara berpasangan (pairwise) menurut Saaty (1993) (Tabel 4).

2.3 Pendekatan kuantitatif dan kualitatif

Pendekatan kuantitatif diawali dengan menggunakan asumsi-asumsi berdasarkan teori-teori yang ada dan berkaitan dengan topik penelitian. Kemudian dibuat dalam bentuk variabel-variabel yang akan diukur dengan menggunakan kuesioner, dan hasilnya diolah dengan metode statistic (Sugiyono, 2011). Sedangkan pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan setelah melihat hasil analisa data dari sampel penelitian yang kemudian dibuat kesimpulan, dan dikaitkan dengan kerangka pemikiran serta teoriteori yang digunakan.

Dalam penelitian ini, penulis mengukur 100 orang responden dari berbagai level jabatan (staff hingga Kasubid) pada institusi Kementerian PU, BAP-PENAS, Dinas PU, Tenaga Ahli serta Mahasiswa terhadap aspek teknik, ekonomi, lingkungan, sosial, dan politik dalam penanganan banjir Jakarta dengan mengambil contoh alternatif penanganan banjir dengan infrastruktur pengendali banjir, yaitu Giant Sea Wall (GSW) dan Multi Purpose Deep Tunnel (MPDT).

Alat ukur yang digunakan berupa kuisioner yang nantinya berisi pernyataan mengenai aspek teknik, ekonomi, lingkungan, sosial dan politik dalam pertimbangan pengambilan keputusan pemilihan infrastruktur. Untuk memperoleh nilai kualitatif digunakan skala likert. Teknik sampel yang dipilih adalah Cluster Sampling. Pengujian Alat ukur (kuesioner) dilakukan menggunakan metode Validitas Korelasi Sperman's, metode Reliabilitas Cronbach's Alpha dan metode analisa item diskriminasi. Dari hasil kuesioner diperoleh nilai kuantitatif, dari data tersebut dilakukan analisis data yaitu dengan pengolahan statistik deskriptif dan dengan menggunakan metode statistik berupa program SPSS dengan uji Friedman. Hasil dari analisa tersebut ditarik kesimpulan tentang aspek yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan.

Tabel 5. Kisi-kisi kuisioner

InfrastrukturAspekNo.Kisi‐Kisi
1Hidrologi
DEEP TUNNEL2Debit, Hidrolika
3Tata guna lahan
Aspek4Kapasitas saluran
Teknik5Geologi, Kontur Tanah
SEA WALL6Landsubsidence
7Sistem pompa
8Tata guna lahan
9Nilai ekonomis
DEEP TUNNEL10Aspek bisnis
11Investasi
Aspek12Ekonomi rakyat
Ekonomi13Ekonomi rakyat
SEA WALL14Investasi
15Aspek bisnis
16Ekonomi rakyat
17Ekosistem
DEEP TUNNEL18Lahan
19Cadangan Air
Aspek20Kerusakan lingkungan
Lingkungan21Ekosistem
22Ekosistem
SEA WALL23Kerusakan lingkungan
24Ekosistem
25Konflik sosial
26Golongan masyarakat
DEEP TUNNEL27Golongan masyarakat
Aspek28Lingkungan masyarakat
Sosial29Golongan masyarakat
SEA WALL30Golongan masyarakat
31Konflik sosial
32Konflik sosial
33Pertimbangan politis
DEEP TUNNEL34Pertimbangan politis
35Pertimbangan politis
Aspek36Dominasi partai
Politik37Pertimbangan politis
38Pertimbangan politis
SEA WALL39Pertimbangan politis
40Dominasi partai

Penilaian responden terhadap 6 (enam) alternatif jawaban ditujukan agar responden tidak cenderung memilih kategori tengah, sehingga informasi yang diperoleh lebih pasti.

Tabel 6. Penilaian kuisioner

Skor Item
Alternatif Jawaban(+)(-)
a.Sangat Setuju / Sangat Berpengaruh61
b.Setuju / Berpengaruh52
c.Cenderung Setuju / Cenderung Berpengaruh43
d.Cenderung Tidak Setuju / Cenderung Tidak Berpengaruh34
eTidak Setuju / Tidak Berpengaruh25
f.Sangat Tidak Setuju / Sangat Tidak Berpengaruh16

2.4 Simulasi the garbage can model of organizational choice

Kingdon, et al. (1995) mendeskripsikan bahwa pengambilan keputusan publik merupakan sebuah proses yang berkarakter anarkis-terorganisir. Sejalan dengan hal tersebut, Cohen, et al. (1972) melihat bahwa organisasi merupakan susunan anarkis, dimana dalam organisasi tersebut arus yang melewati organisasi terbagi menjadi 4: masalah, solusi, peserta, dan pilihan/ kesempatan yang masing-masing mempunyai jalannya sendiri.

Dalam penelitian, digunakan simulasi dengan program Net Logo v5.05, dengan pemodelan The Garbage Can Model of Organizational Choice yang dikembangkan tahun 2008 oleh Giudo Fioretti dan A. Lomi (University of Bologna). Giudo Fioretti dan koleganya menafsirkan GCM sebagai model berbasis agen di mana para peserta, peluang, solusi dan masalah merepresentasikan 4 jenis agen. Peserta dilambangkan dengan orang berwarna kuning, Peluang ditandai dengan kotak oranye. Solusi ditandai dengan lingkaran merah, sedangkan masalah ditandai dengan segitiga violet.

GCM dapat dilihat sebagai semacam reaktor kimia dimana peserta (pembuat keputusan), peluang pilihan, solusi dan masalah telah dikumpulkan. Melalui pertemuan acak dari unsur-unsur inilah, keputusan akan dibuat.

Masalah terselesaikan jika peserta memiliki kemampuan yang cukup dan solusi yang cukup efisien sehingga produk (pemikiran) yang dihasilkan lebih besar atau sama dengan kesulitan masalah. Ketika masalah ini diselesaikan, GCM menyatakan bahwa keputusan dibuat oleh "resolusi".

3. Hasil Simulasi

3.1 Perbandingan infrastruktur

Infrastruktur pengendali banjir Jakarta yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah Giant Sea Wall (GSW/Sea Wall) dan Multi Purpose Deep Tunnel (MPDT/ Deep Tunnel).

Gambar 2. Lokasi infrastruktur rencana

Tabel 7. Tinjauan aspek sea wall

AspekDeskripsi
-P = 35 Km, A=50 Km2
-40% wilayah Jakarta di bawah permukaan
Teknislaut, land subsidence
-Melindungi dari banjir Rob
-Reklamasi pantai
-Investasi : US$ 2 M (stage A), US$ 16 M
(Stage B), USD$ 29,4 M (Stage B
terintegrasi)
Ekonomi-Makro : Pemerintah kehilangan investasi
untuk pelabuhan dan fasilitas yang akan
ditutup, serta mempengaruhi pendapatan
nelayan
-Belum terselesaikanya AMDAL
-Keluaran Limbah
Ling-Perubahan Wetland Jakarta Utara
kungan(Ecosystem Migratory Bird)
-Perubahan ekosistem estuary Teluk
Jakarta
-≥ 18.000 nekayan dan keluarganya terkena
imbas enutupan pelabuhan
Sosial-Reklamasi akan menghalangi air di teluk,
yang menyebabkan banjir di wilayah
pemukiman nelayan
-Reklamasi akan menghalangi air di teluk,
yang menyebabkan banjir di wilayah
Politikpemukimam nelayan
-Nilai investasi yang besar, rawan dengan
kepentingan politis dan bisnis
perseorangan.

a. Giant Sea Wall

Gambar 3. Peta rencana sea wall

b. Multi Purpose Deep Tunnel

Gambar 4. Peta rencana deep tunnel

Tabel 8. Tinjauan aspek deep tunnel

AspekDeskripsi
-\(P=\pm 22Km\), \(d=\pm 16m\), \(v=\pm 5-6\) juta \(m^3\),
pada kedalaman (-)30 hingga 60/65 m.
-Mereduksi banjir dari hulu
Teknis-Fungsi lain : Jalan tol, pengolahan
limbah, Utility shaft
-Membawa air 250 m3/s, menampung 5-6
juta m3, kap. Pompa 50 m3/s
-Investasi: 17T (2008), OP=± Rp. 159 M/
th
Elsonomi-Skema pembiayaan yang tepat, agar
EKOHOHHlayak secara finansial
-Makro: mendukung transportasi massal -
> efesiensi waktu & biaya
-Pembuangan tanah hasil pengeboran?
Ling--Kestabilan tanah dan struktur diatasnya
kungan-Sedimentasi
-Pengaruh struktur terhadap lingkungan
-Sosialiasi masyarakat yang berlokasi di
Sosialatas struktur
-Relokasi masyarakat tergusur
-Infrastruktur DT juga rawan dengan
Politikkepentingan politis, namun kurang ber-
nilai bisnis, sehingga cenderung ditolak
SosialSkema pembiayaan yang tepat, agar layak secara finansial Makro: mendukung transportasi massal -> efesiensi waktu & biaya Pembuangan tanah hasil pengeboran? Kestabilan tanah dan struktur diatasnya Sedimentasi Pengaruh struktur terhadap lingkungan Sosialiasi masyarakat yang berlokasi di atas struktur Relokasi masyarakat tergusur Infrastruktur DT juga rawan dengan kepentingan politis, namun kurang ber-

3.2 Analytical Hierarchi Process (AHP)

a. Dekomposisi masalah

5

Gambar 5. Dekomposisi masalah pemilihan infrastruktur

Pembobotan untuk membandingkan tiap elemen, nilai yang digunakan adalah penilaian responden.

Tabel 9. Pembobotan nilai perbandingan kriteria per aspek

TeknikEkonomiLingkunganSosialPolitik
4,484,244,444,184,74

Tabel 10. Pembobotan nilai perbandingan kriteria utama

TeknikEkonomiLingkunganSosialPollitik
DTSWDTSWDTSWDTSWDTSW
1,001,011,001,221,000,901,001,001,001,01

b. Penyusunan matrix perbandingan

\[A' = \begin{cases} 5.00 & 5.29 & 5.36 & 5.05 & 4.73 \\ 4.73 & 5.00 & 5.07 & 4.77 & 4.47 \\ 4.66 & 4.93 & 5.00 & 4.71 & 4.41 \\ 4.96 & 5.24 & 5.31 & 5.00 & 4.69 \\ 5.29 & 5.59 & 5.67 & 5.33 & 5.00 \end{cases}\] \[0.20301\] \[0.19188\] \[Eigenvector : 0.18932\] \[0.20119\] \[0.21461\] \[1.00000\] \[\text{[rumus tidak dapat ditampilkan dengan baik — lihat PDF asli]}\] \[0.19188\] \[Eigenvector : 0.18932\] \[0.20119\] \[0.21461\] \[1.00000\]

c. Nilai CR

Tabel 11. Nilai CR per aspek

TeknisEkonomiSosialLingkunganPolitik
0,200,200,200,200,20
0,190,190,190,190,19
0,190,190,190,190,19
0,200,200,200,200,20
0,210,210,210,210,21
1,001,001,001,001,00
0,20
0,19
0,19
0,20
0,21
0,20 0,20 0,19 0,19 0,19 0,19 0,20 0,20 0,21 0,210,20 0,20 0,20 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,20 0,20 0,20 0,21 0,21 0,210,20 0,20 0,20 0,20 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,19 0,20 0,20 0,20 0,20 0,21 0,21 0,21 0,21

Tabel 12. Perhitungan nilai CR Global

TotalAverageConsistency
Measure
1,020,2035,00
0,960,1925,00CI=0,00
0,950,1895,00RI=1,12
1,010,2015,00CR=0,00
1,070,2155,00

Diketahui nilai CR = 0.00 < 0.1(10%), maka perhitungan dapat diterima.

d. Penetapan prioritas hirarki

1,00

TEKNISSOSIAL
GSW MPDTGSW MPDT
GSW 1,00 1,01GSW 1,00 0,67
MPDT 0,99 1,00MPDT 1,50 1,00
EKONOMIPOLITIK
GSW MPDTGSW MPDT
GSW 1,00 1,22GSW 1,00 1,01

MPDT

0,99

1,00

LINGKUNGAN
GSWMPDT
GSW1,000,90
MPDT0,821,00
O 11 '11.77

Sumber: hasil perhitungan

0,82

MPDT

e. Penarikan kesimpulan

0,500,550,400,470,500,203
0,500,450,600,530,50x0,192
0,189
0,201
0,215

Dari perkalian matriks diperoleh :

GSW = 48,59% MPDT = 51,41%

Aspek yang berpengaruh serta bobotnya :

  • a. Aspek Politik (21,5%), MPDT = SW
  • b. Aspek Teknis (20,3%), MPDT = SW
  • c. Aspek Lingkungan (20,1%), MPDT > GSW
  • d. Aspek Ekonomi (19,2%),GSW > MPDT
  • e. Aspek Sosial (18,9%), MPDT > GSW

3.3 AHP dengan Expert Choice 2000

Pada prinsipnya, perhitungan dengan software ini sama dengan perhitungan manual, namun dalam analisis ini, comparative judgement yang digunakan berdasarkan data perbandingan literatur.

3.3.1 Penyusunan matriks

[Best Fit]EkonomiLingkSosialPolitik
Teknik÷ 3.03.03.04.0
Ekonomi4.04.03.0
Lingk`2.02.0
Sosial71.0

Gambar 6. Tampilan matriks perbandingan dalam Expert Choice 2000

Tabel 13. Nilai CR hasil perhitungan Expert Choice

No.Perbandingan yang diukurNilaiHasil
CR
1.Per Aspek0,07Diterima
2.Perkriteria infrastruktur
- Aspek Teknis SW/DT0,00Diterima
- Aspek Ekonomi SW/DT0,00Diterima
- Aspek Lingkungan SW/DT0,00Diterima
Aspek Sosial SW/DT0,00Diterima
Aspek Politik SW/DT0,00Diterima

Hasil perhitungan Consistency Ratio (CR) pada masingmasing aspek :

a. Aspek teknis

20

b. Aspek ekonomi

22

c. Aspek lingkungan

24

d. Aspek sosial

26

e. Aspek politik

28

Gambar 7. Perhitungan CR aspek Teknik, Ekonomi, Lingkungan, Sosial, Politik (a-e)

Setelah dilakukan penilaian perbandingan berpasangan (pairwise), maka diperoleh nilai pembobotan hasil pengolahan data :

31

Gambar 8. Hasil analisis pembobotan

1

Gambar 9. Diagram hasil analisis pembobotan

Dari hasil analisis Expert Choice diketahui infrastruktur yang dipilih adalah deep tunnel dengan bobot (54,4%). Sedangkan sea wall 45,6%.

4

Gambar 10. Hasil analisis Expert Choice pada aspek politik

Aspek yang paling berpengaruh dalam pengambilan keputusan adalah:

  • a. Aspek Politik (32,2%), GSW > MPDT
  • b. Aspek Lingkungan (27,7%), MPDT > GSW
  • c. Aspek Sosial (23,6%), MPDT > GSW
  • d. Aspek Teknik (10,2%), GSW > MPDT
  • e. Aspek Ekonomi (6,3%), GSW > MPDT

3.4 Analisis hasil kuisioner

a. Uji validitas

Hasil uji validitas diperoleh menggunakan metoda korelasi Spearman's, dengan bantuan SPSS 20. Hasil uji validitas yang dilakukan menyatakan bahwa data yang diuji adalah valid.

Tabel 14. Hasil uji validitas Spearman's

AspekSig.hitungΑKeterangan
Teknik0,0000,05Valid
Ekonomi0,0000,05Valid
Lingkungan0,0000,05Valid
Sosial0,0000,05Valid
Politik0,0000,05Valid

Sumber : Hasil perhitungan

Kriteria validitas dapat ditentukan dengan melihat nilai Sig.(2-tailed). Untuk validitas data dengan kepercayaan 95% (α=0,05), maka nilai Sig.(2-tailed) ≤0.05.

b. Uji Realibilitas

Analisis uji reliabilitas dengan menggunakan metode cronbach alpha, dengan kriteria koefisien Guilford.

Tabel 15. Hasil uji reliabilitas

Reliability Statistics
AspekCronbach's
Alpha
N of
Items
Kategori
Guilford
Teknik0.8098Tinggi
Ekonomi0.5328Sedang
Lingkungan0.6568Sedang
Sosial0.5528Sedang
Politik0.7988Tinggi

Berdasarkan hasil analisis diketahui ada 2 aspek yang masuk dalam kriteria reliabilitas tinggi, yaitu aspek teknik dan aspek politik. Sedangkan 3 aspek lainnya (ekonomi, sosial, lingkungan) bernilai reliabilitas sedang. Hal ini mungkin terjadi karena soal sulit difahami ataupun responden kurang memahami soal terkait, sehingga responden memberikan penilaian yang kurang meyakinkan.

c. Analisa item

Analisa ini dilakukan untuk menguji baik tidaknya/ layak tidaknya suatu item. Pada penelitian ini digunakan metode item diskriminasi, dengan mengkorelasikan item dengan jumlah total. Item yang baik adalah item yang dapat meningkatkan nilai cronbach's alpha. Hal ini dapat dilihat pada nilai corrected item-total correlation yang nilainya ≥0.3. Apabila ada item dengan nilai ≤ 0.3, maka dapat dikatakan item tersebut kurang baik dan harus dibuang, untuk menaikkan derajat reabilitasnya.

Hasil analisa yang dilakukan menunjukkan ada beberapa item yang harus dibuang karena mempunyai nilai koreksi yang rendah.

Tabel 16. Hasil analisis item

Nilai Koreksi
AspekMinMaxItem dibuang
Teknis0,4060,698Tidak
Ekonomis-0,0660,530Ya
Lingkungan-0,0660,779Ya
Sosial0,0130,502ya
Politik0,3480,725tidak

Setelah item/pertanyaan dengan nilai koreksi rendah dibuang/dihilangkan, dilakukan uji ulang analisis item dengan program SPSS.

Tabel 17. Hasil analisis ulang item

Nilai Koreksi
AspekMinMax
Teknis0,4060,698
Ekonomis0,6240,683
Lingkungan0,5560,903
Sosial0,4470,559
Politik0,3480,725

Naiknya nilai koreksi item menyebabkan nilai reabilitas per aspek naik, hal ini terjadi karena item yang kurang baik dihilangkan, sehingga instrumen penelitian mempunyai nilai realibilitas yang lebih baik.

Tabel 18. Hasil uji ulang reliabilitas

Reliability Statistics
AspekCronbach's
Alpha
N of
Items
Kategori
Guilford
Teknik0.8098Tinggi
Ekonomi0.8203Tinggi
Lingkungan0.8654Tinggi
Sosial0.7143Tinggi
Politik0.7988Tinggi

d. Statistik deskriptif

Untuk mengetahui dimana posisi pengambilan keputusan terhadap Aspek Teknik, Ekonomi, Lingkungan, Sosial, dan Politik, maka dibuatkan Norma. Dalam penelitian ini dipilih Penilaian Acuan Norma (PAN) yaitu penilaian yang membandingkan hasil nilai suatu tes terhadap hasil dalam kelompoknya, menggunakan kurva normal.

6

Gambar 11. Kurva normal

Dari nilai rerata dan standar deviasi per aspek dibuat kurva normal, yang kemudian dibagi menjadi beberapa kriteria penilaian.

Tabel 19. Statistik deskriptif infrastruktur deep tunnel

Infrastruktur/AspekDeep
Tunnel
Kriteria
Rata-rata4,47Cukup
TeknikStd.dev0,65berpengaruh
Rata-rata4,01Cukup
EkonomiStd.dev0,96berpengaruh
Rata-rata4,68
LingkunganStd.dev0,86Berpengaruh
Rata-rata5,02
SosialStd.dev0,70Berpengaruh
Rata-rata4,72Cukup
PolitikStd.dev0,87berpengaruh

Tabel 20. Statistik deskriptif infrastruktur sea wall

Infrastruktur/AspekDeep
Tunnel
Kriteria
Rata-rata4,50
TeknikStd.dev0,61Berpengaruh
Rata-rata4,65
EkonomiStd.dev0,48Berpengaruh
Rata-rata4,39Cukup
LingkunganStd.dev0,49berpengaruh
Rata-rata3,79Kurang
SosialStd.dev0,86Berpengaruh
Rata-rata4,76
PolitikStd.dev0,86Berpengaruh

e. Uji Friedman

Hasil uji Friedman per aspek yang dilakukan pada penelitian ini adalah :

Tabel 21. Hasil uji friedman

TeknikEkonomiLingkunganSosialPolitik
N6262626262
Chi‐
Square
84,504168,2463,635296,4129,026
Df77777
A symp.
Sig
0,0000,0000,0000,0000,000

Analisa Hipotesis :

Ho = Tidak ada perbedaan pertimbangan pada aspek teknik / ekonomi/ lingkungan / social / politik dalam pengambilan keputusan pemilihan infrastruktur sea wall / deep tunnel.

H1 = Ada perbedaan pertimbangan pada aspek teknik / ekonomi / lingkungan / social / politik dalam pengambilan keputusan pemilihan infrastruktur sea wall/deep tunnel.

Pengambilan keputusan :

Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak

Dari hasil tersebut diketahui bahwa ada perbedaan pertimbangan pada pada aspek teknik / ekonomi / lingkungan / sosial / politik dalam pengambilan keputusan infrastruktur sea wall/deep tunnel.

3.5 Pembahasan hasil kuisioner

a. Berdasarkan uji hipotesis

Dari uji hipotesis terlihat bahwa pada aspek teknis, meskipun MPDT (cukup berpengaruh) dan GSW (berpengaruh) namun selisihnya kecil (0,03) sehingga aspek teknis pada kedua infrastruktur ini dianggap seimbang.

Pada aspek ekonomi, MPDT (3,82/cukup berpengaruh) dan GSW (4,65/ berpengaruh), perbedaan ini mengindikasikan bahwa pengambil keputusan lebih memilih sea wall apabila dipandang dari sisi ekonomi karena dianggap lebih menguntungkan.

Aspek lingkungan pada MPDT mempunyai nilai 4,68 (berpengaruh), dan nilai GSW adalah 4,21 (cukup berpengaruh). Sedangkan pada aspek sosial, MPDT mempunyai nilai 5,02 (berpengaruh) dan GSW sebesar 3,79 (kurang berpengaruh). Hal ini dapat diartikan bahwa dalam pengambilan keputusan, dampak aspek sosial pada GSW kurang mendapat perhatian seperti halnya pada infrastruktur MPDT.

Pada aspek politik, nilai MPDT sebesar 4,72 (cukup berpengaruh), dan GSW sebesar 4,76 (berpengaruh). Pertimbangan aspek politik pada kedua jenis infrastruktur diyakini memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan pemilihan jenis infrastruktur, dan dalam simulasi ini diketahui bahwa nilai aspek politik pada infrastruktur sea wall lebih besar dibandingkan dengan deep tunnel, dimana ada perbedaan pertimbangan dari para responden sebagai pengambil keputusan yang menganggap sea wall lebih bernilai politis dibandingkan dengan deep tunnel.

b. Berdasarkan prosentase

Dalam simulasi pengambilan keputusan infrastruktur, aspek-aspek yang berpengaruh dalam pertimbangan adalah :

Tabel 22. Prosentasi nilai per-aspek tiap kelompok

Aspek
InstansiTeknisEkonomiLingkunganSosialPolitik
DITJEN SDA20,60%19,16%20,26%18,82%21,16%
PUSAIR20,52%19,17%20,18%18,66%21,48%
DINAS PU19,84%19,13%20,49%19,13%21,41%
BAPPENAS19,75%19,41%19,97%18,95%21,92%
Mahasiswa20,90%19,10%19,40%20,00%20,60%
Tenaga Ahli20,00%20,00%20,00%18,87%21,13%

Tabel 23. Pemilihan infrastruktur oleh Kelompok

InstansiInfrastruktur
deep tunnelsea wall
DITJEN SDA51,43%48,57%
PUSAIR51,43%48,87%
DINAS PU51,39%48,61%
BAPPENAS52,00%48,00%
Mahasiswa50,85%49,15%
Tenaga Ahli51,04%48,96%

Dari hasil tersebut diketahui bahwa semua responden sepakat bahwa deep tunnel adalah infrastruktur yang dipilih sebagai salah satu alternatif untuk mengendalikan banjir Jakarta, meski selisih nilai antara kedua jenis infrastruktur itu sedikit (1,71% - 3,99%). Hal ini menggambarkan adanya independensi masing masing responden,yang dapat terjadi berdasarkan informasi dan pengetahuan yang dimiliki responden dalam menentukan pendapat mereka terkait pemilihan infrastruktur.

3.6 Simulasi teori The Garbage Can of Organizational Choice

Pada simulasi berbasis agen ini, input yang dimasukkan berkaitan dengan kemampuan para agen (peserta, solusi, kesempatan, dan masalah), input situasi, serta input kondisi dimana para agen berinteraksi dalam proses pengambilan keputusan.

Kemampuan para agen dalam pengambilan keputusan akan menentukan berhasil/tidaknya dicapai suatu resolusi. Peserta (participants) ditandai dengan kemampuan dalam memecahkan masalah. Solusi (solutions) dicirikan oleh efisiensi. Kesempatan (opportunity) dicirikan oleh jumlah kesempatan terbentuk, dan Masalah (problem) ditandai dengan tingkat kesulitan. Pada Gambar 12, 13, 14, 16 berikut terlihat perubahan pergerakan model pada iterasi ke-n dalam simulasi pemodelan The Garbage Can Model of Organizational Choice

15

Gambar 12. Tampilan model pada iterasi-0

17

Gambar 13. Model pada iterasi ke-10 dan ke-50

Gambar 14. Iterasi ke-100 dan iterasi ke-200

Gambar 15. Iterasi ke-300 dan iterasi ke-350

participantsopportunitiesDecisions by OversightDecisions by Resolution
5005026
solutionsproblemsFlights by PostponementFlights by Buck-Passing
102000
Blocked DecisionsPostponed Problems
0
Passed Problems
0
Life Blocked DecisionsLife Postponed Problems
0
Life Passed Problems
0
Deja-vu OppoDeja-vu SolutionsDeja-vu Problems
0.613601230.54780733285406180.6195022161609274

Gambar 16. Hasil simulasi pemodelan

7

Gambar 17. Hasil simulasi keputusan

9

Gambar 18. Hasil simulasi keseimbangan

Tabel 24. Hasil output simulasi pengambilan keputusan dalam GCM

ParameterNilaiKeterangan
Participant500Semua peserta turut mempunyai
andil dalam pengambilan kepu
tusan
Opportunities50Terdapat 50 kali kesempatan
dalam pengambilan keputusan
Solution10Terdapat 10 jenis solusi dalam
Problems20Terdapat 20 jenis permasalahan
Decision by
oversight
26Ada 26 jenis keputusan yang
kurang sesuai dalam
menyelesaikan permasalahan,
yang diambil karena adanya
pengawasan
Decision by
Resolution
1Ada 1 jenis keputusan yang
diambil atas dasar hasil resolusi
Deja-vu
Opportunities
0,6136Ada 61,36% kesempatan yang
terulang dari pertemuan
pertemuan para agen/peserta
Deja-vu
Solution
0,5478Ada 54,78% solusi yang terus
dikemukakan dari semua solusi
yang ditawarkan
Deja-vu
Problems
0,6195Ada 61,95% permasalahan yang
selalu ditemui dari semua
permasalahan yang ada

Sumber : Hasil perhitungan

Kesimpulan yang dapat diambil dalam The Garbage Can Model of Organizational Choice adalah :

  • a. Sebagian besar keputusan dibuat oleh pengawasan, beberapa masalah yang diselesaikan dan yang ditunda masih tersebar pada ruang simulasi.
  • b. Sejumlah penundaan tidak menyebabkan pengambilan keputusan.
  • c. Penundaan yang menghasilkan keputusan oleh pengawasan lebih banyak dari penundaan yang menghasilkan keputusan dari resolusi.
  • d. Peluang yang paling penting cenderung memecahkan masalah daripada peluang yang paling tidak penting.

4. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada kedua rencana infrastruktur tersebut, dapat disimpulka :

  • 1. Belum ada kajian yang memadai seberapa besar pengaruh infrastruktur dalam mereduksi banjir Jakarta dan aspek operasi serta pemeliharaannya, kajian tentang lingkungan hidup strategis (KHLS), kajian skema pendanaan, serta kajian dampak sosial infrastruktur tersebut.
  • 2. Dalam simulasi Analitycal Hierarchy Process (AHP) Deep tunnel menjadi infrastruktur pilihan
  • dengan nilai 51,41% dan Sea Wall 48,58%, dengan aspek yang paling berpengaruh adalah Aspek politik (21,5%) dan kurang berpengaruh adalah Sosial (18,9%). Hal ini sejalan dengan simulasi Expert Choice, infrastruktur yang dipilih adalah Deep Tunnel dengan prosentase sebesar 54,4%, dengan aspek yang paling berpengaruh adalah Aspek politik (32.2%) dan kurang berpengaruh adalah Ekonomi (6,3%).
  • 3. Pada simulasi teori The Garbage Can Model Semua peserta (participant) turut dalam pengambilan keputusan, dan keputusan yang diambil karena adanya pengawasan lebih banyak dibandingkan dengan keputusan hasil resolusi, artinya solusi yang ditawarkan kurang efektif dalam menyelesaikan persoalan atau participant kurang memaksimalkan perannya dalam pengambilan keputusan.
  • 4. Dari analisis kuisioner diketahui bahwa ada perbedaan pertimbangan pada masing masing aspek. Dalam hal ini, Sea Wall (GSW) dianggap lebih menguntungkan dalam aspek ekonomi dan lebih bernilai politis dan Deep Tunnel (MPDT) lebih mendapat perhatian dalam aspek sosial. Keduanya dianggap akan mengakibatkan terjadinya perubahan lingkungan dan ekosistem.

Research Intelligence

Data from OpenAlex ↗

Metrics

4
Citations
Paratext
Work type
Open Access

Citation Trend

Citation Timeline

YearCitations
20231
20222
20211

Semantic Profile AI-classified research signals

Humanities 0.50
level 1
Flood myth 0.44
level 2
Physics 0.42
level 0

Institution Network

References

  1. Anderson, 1994, Teori Kebijakan Publik, Yogyakarta: Diktat Kuliah Universitas Gadjah Mada.
  2. Cohen, M.D., March, J.G., dan Olsen, J.P., 1972, Organizational Decision Making. Net-Logo Dinas Pekerjaan Umum Provinsi DKI Jakarta, 2009, Penyusunan Master Plan Pengendalian Banjir dan Drainase DKI Jakarta.
  3. Expert Choice 2000 Manual, 2000, Expert Choice 2000 The Decision Making Process, Pittsburgh - PA: Expert Choice Inc.
  4. Fioretti, G., Lomi, A., 2008, An Agent-Based Representation of The Garbage Can Model of Organizational Choice.
  5. Islamy, 2000, Teori Kebijakan Publik, Yogyakarta: Diktat Kuliah Universitas Gadjah Mada.
  6. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2014, NCICD: from Master Planning to Implementation, Jakarta.
  7. Kingdon, J.W., 1995, Agendas, Alternatives, and Public Policies. Second Edition, New York: Longman.
  8. Kodoatie, R.J., dan Sjarief, R., (Ed), 2006.
  9. Pengelolaan Bencana Terpadu, Jakarta: Penerbit Yarsif Watampone
  10. Pemprov DKI Jakarta, 2010, " Mengapa Jakarta Banjir? Pengendalian Banjir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta" . Jakarta: PT. Mirah Sakethi.
  11. Robbins, S.P., and Timothy, A.J., 2008, Perilaku Organisasi, Edisi 12. Terjemahan. Salemba Empat, Jakarta.
  12. Saaty, T.L., 1993, Teori Pengambilan Keputusan, Bandung: Diktat Kuliah ITB MPSDA.
  13. Saaty, T.L., 1980, The Analytic Hierarchy Process, McGraw Hill International
  14. Sugiyono, 2011, Statistik untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta.
  15. Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta.